Showing posts with label mystery. Show all posts
Showing posts with label mystery. Show all posts

Monday, March 16, 2009

Darimana Datangnya Ilham?


Yang namanya ilham, bisa datang di mana saja dan kapan saja. Bagi yang kerjanya di bidang industri kreatif, pasti paham betul hal ini dan mengamininya. Oleh karena itulah, manusia yang lagi cari ilham – atau sebetulnya tidak dalam kondisi ’looking for, but who knows ...’ – haruslah selalu bersiap untuk menangkap ilham yang siapatau kebetulan melintas dan menghampiri.

Seperti baru-baru ini, lagi suntuk di satu petang pada suatu akhir pekan, dan merasa terganggu melihat celotehan tak lucu dari Komeng dan Adul di sebuah program ga penting di salah satu stasiun tivi swasta nasional, tiba-tiba aku terpikir satu hal.

Yaitu adalah, apa sebenarnya kondisi medis yang tepat untuk menganalisa dan menjelaskan keistimewaan fisik Adul? Tubuhnya kecil sepintas jadi mirip anak usia sekolah dasar, namun yang jelas umurnya sudah lebih dari batas minimal untuk memilih dalam pemilihan umum. Kalau dia memang menderita kondisi kretin, kenapa wajahnya tidak menua seperti Ucok Baba?

Terpancing rasa penasaran untuk temukan jawaban dan mengetahui kondisi medis si Adul ini, malah memunculkan ilham untuk menulis cerita seram, tentang seseorang yang tubuhnya tak pernah dewasa. Tentu saja bukan tentang seseorang yang darahnya dihisap oleh vampir ketika masih usia kanak-kanak, melainkan karena itu tadi, kondisi medis tertentu yang membuatnya demikian.

Jadi meskipun nantinya cerita khayalanku ini seram dan diduga mengandung unsur mistik dan klenik, namun sesungguhnya murni terkait kondisi psikologis dan fisiologis, serta dapat dijelaskan secara medis.

Kalau memang begitu halnya, cerita tersebut bisa disebut fiksi ilmiah tidak ya?

Terus, kira-kira judulnya yang cocok seperti apa ya?

Thursday, September 25, 2008

Tiga Seribu


Ini bukanlah cerita tentang barang murahan produksi Republik Rakyat Cina yang dijual dengan harga yang luar biasa sangat amat murah, jenis barang-barang yang biasa digelar oleh para pedagang kaki lima di pasar-pasar tradisional, atau diasongkan di lampu-lampu merah, di dalam bis-bis kota maupun terminal-terminal.

Ini adalah pengalaman sejatiku (nadanya lebay!) yang terjadi persis kemarin, Rabu, 24 September 2008. Berikut ini adalah penuturan langsung dariku, tentang serangkaian kebetulan yang tampaknya terlalu kebetulan sehingga rasanya jadi kurang wajar. Rangkaian kejadian yang pada awalnya terlihat tidak memiliki interkoneksitas, tapi setelah ditelaah lebih mendalam lagi, ternyata semuanya terkait dengan bilangan ’TIGA’.

Siang hari sekitar pukul duabelasTIGApuluh, sehabis makan siang dengan Presiden Direktur dan Kepala Divisi kantorku.
Saat itu, Sang Presiden Direktur sedang meledak, meluapkan segala emosinya yang sudah terlalu lama ditahan selama ini. Kami berdiri berTIGA di lapangan parkir sebuah rumah makan di kawasan Casablanca, di bawah panasnya terik matahari yang menyengat.
Meskipun sebenarnya aku dan si Kepala Divisi bukanlah objek yang dimarahi, karena Sang Presiden Direktur sedang menumpahkan kekesalannya tentang kondisi politik kantor, tapi tetap saja rasanya tidak nyaman karena orang-orang yang melintas di jalan raya Casablanca dan melihat bahasa tubuh kami bertiga, tentu akan menduga aku dan si Kepala Divisi itulah yang sedang dimarahi habis-habisan.
Padahal, sebenarnya tidak.
Cuma memang kejadian ini lumayan bikin stress dan pusing, secara kami jadinya berdiri lama di bawah siraman terik cahaya mentari Jakarta yang menyengat. Saat itu aku yakin kalau suhu kota ini sedang berada di angka TIGApuluhan derajat Celcius.
Lalu kulihat seorang pengendara sepeda motor yang hendak mengeluarkan motornya dari parkiran, tanpa sengaja ketika merogoh saku celana panjangnya, menjatuhkan beberapa lembar uang seribuan yang terlipat rapi. Awalnya hendak kupanggil si mas pengendara motor, memberitahunya kalau dia baru saja menjatuhkan uang. Tapi melirik ekspresi wajah Sang Presiden Direktur, kuurungkan niatku. Sebaiknya jangan cari gara-gara dengan seseorang yang sedang marah-marah murka besar, apalagi kalau orang tersebut adalah orang yang menggajimu. Haha!
Beberapa menit kemudian dan kami bertiga masih belum lagi beranjak dari tempat tersebut. Kulihat TIGA orang anak kecil yang tadi sempat menawarkan jasanya menyemir sepatu pada kami bertiga ketika sedang santap siang, berkumpul di dekat jatuhnya uang itu. Pikiranku segera teralih, mengamati mereka bertiga, menduga-duga siapa yang akan pertama kali melihat uang tersebut dan mengambilnya. Tapi anehnya, sampai bosku Sang Presiden Direktur mengakhiri sesi emosionalnya dan kami berpisah dan menuju kendaraan masing-masing, tak ada satupun dari ketiga anak itu yang mengambil jatuhan uang tadi. Aku bingung, rasanya tidak mungkin uang itu hanya fantasiku saja.

Sore hari menjelang berbuka puasa. TIGA orang personil Media Relations kantor bersiap-siap beranjak. Ada janji buka puasa bersama TRI-partit: kantorku, kantor klien, dan stasiun televisi yang menyiarkan program klien kantorku. Aku diajak ikut serta dan meramaikan acara, secara makan-makan gratis, tapi entah mengapa rasanya malas lantas kutolak ajakan tersebut. Kebetulan teringat, ada TIGA jenis cake di dalam lemari pendingin kantor yang dikirimkan pihak supplier yang menunggu untuk disantap. Haha!

Ternyata hujan turun dengan derasnya tak lama setelah adzan maghrib berkumandang. Siyal! Aku terperangkap di kantor. Bengong ga tau mau ngapain. Akhirnya sambil tiduran di sofa kucoba membaca The Great Gatsby yang sudah TIGA minggu lalu kubeli dari Kinokuniya. Edisi Wordsworth, harganya TIGApuluhsaturibu rupiah.
Belakangan ini mood membacaku sedang hancur-hancurnya, berada di titik terendah. Bayangkan saja, novel setipis ini sudah tiga minggu berlalu sejak kubaca kata pertamanya, tapi aku baru sampai di halaman TIGAbelas. Mungkin pengaruh cuaca juga, mood membaca tidak muncul-muncul juga, lantas aku mencoba tidur.

Kurang-lebih TIGA jam kemudian, hujan sedikit mereda menjadi gerimis. Teman-teman personil Media Relations baru saja tiba kembali di kantor. Tak lama berselang, TIGA orang personil divisi event juga tiba. Senangnya, suasana kembali riuh dan ceria. Lalu kulihat di salah satu kaki meja, ada uang seribuan yang terlipat rapi tergeletak. Pasti ada seseorang yang tanpa sengaja menjatuhkannya. Berbeda dengan tadi siang, kali ini seorang teman kantorku melihat lantas memungutnya, dan kemudian berteriak mengumumkan, bertanya siapa yang merasa kehilangan uang seribuan yang jumlahnya mencapai sepuluh ribu rupiah. Anehnya, tidak ada satupun yang mengaku merasa kehilangan. Akhirnya, uang ribuan tersebut diputuskan untuk dimasukkan ke dalam celengan plastik murahan yang kami namai celengan dugem, sebuah celengan yang dikonsepkan sebagai dana bersama yang nantinya setelah terisi penuh akan kami manfaatkan untuk acara bergaul malam hari. Biasanya sih penggunaannya kalau tidak untuk karaoke bareng, ya minum-minum alkohol lah sedikit.

Jam dinding memperlihatkan waktu baru saja lewat pukul sembilanTIGApuluh malam. Hujan sudah reda, saatnya untuk pulang ke kos. Berjalan kaki lah, seperti biasa.
Tapi sebelumnya aku mau mengantarkan seorang teman perempuan dulu dan menemaninya di pinggir jalan, menantikan taksi untuk mengantar dia pulang. Biasanya malam-malam sehabis hujan deras, ditambah suasananya menjelang libur Lebaran, sudah tradisinya susah memesan taksi Blue Bird lewat telepon. Harus menunggu di pinggir jalan, karena biasanya lebih cepat dan lebih mudah. Apalagi jam segini belum terlalu larut, pasti masih banyak taksi berseliweran.
Betul sih, masih banyak taksi yang lewat di depan kami, tapi semuanya penuh, lagi narik. Untung kami berdua tidak perlu menanti terlalu lama. Setelah teman ini mendapatkan taksi, aku pun beranjak dari tempat tersebut.

Kakiku melangkah, menyeberangi jalan raya yang ramai.
Kondisi jarak antara kos dan kantor yang tidak terlalu jauh, dan kondisi lalu-lintas yang terlalu ramai, membuat pilihan moda transportasi bagiku untuk dari dan ke kantor sangat terbatas. Hanya ada satu opsi: kedua kakiku.
Untung saja sejak adanya jalur busway di jalan raya ini, membuat proses menyeberang jalan jadi sedikit lebih mudah. Lebar jalan yang dipadati kendaran jadi berkurang, karena ada dua ruas jalan yang diblok untuk armada ”mobilnya Sutiyoso” ini. Di tengah-tengah jalan yang diblok untuk busway ini, kondisinya hampir selalu sepi, terlebih lagi malam-malam seperti sekarang. Jadi memudahkan bagi pejalan kaki untuk melintas, meskipun tetap ada bahaya dari kendaraan yang tiba-tiba mencuri masuk lewat jalur busway dan kemudian melintas dan ngebut kencang.
Ketika sedang melangkah menyusuri jalur busway itulah, mataku kembali melihat lembaran uang seribuan. Tergeletak pasrah dan basah oleh siraman air hujan, pasti tanpa sengaja dijatuhkan oleh seseorang yang melintas hari ini, demikian pikirku saat itu.

Lalu kemudian muncullah pemikiran iseng yang mengingatkanku, ini adalah kejadian keTIGA hari ini, di mana aku melihat uang seribuan yang tergeletak begitu saja tanpa ada yang mengakui mengklaim sebagai miliknya.
Tapi aku tetap urung memungutnya. Masih teringat petuah orangtua saat aku masih kecil dulu. ”Kalau menemukan uang terjatuh dan kamu mengambilnya, segeralah dibelanjakan,” demikian kata ibuku. ”Kalau tidak, dan kamu memilih untuk menyimpannya, suatu saat kamu akan kehilangan sepuluh kali lipat daripada jumlah uang yang kamu temukan.”
Dulu aku menganggapnya sebagai sebuah takhyul tolol – sejak kecil pikiranku sudah menjurus kepada kekurangajaran, memang – sampai suatu ketika aku menemukan selembar duit limaratusperak dan menyimpannya untuk dibelanjakan kemudian, kalau sudah dapat ide mau dipakai untuk membeli apa. Masa itu, komik Donal Bebek masih berharga seribulimaratus rupiah. Kebayang dong jadinya, saat itu duit gopek masih lumayan berharga.
Seperti yang bisa ditebak, aku lupa tentang petuah itu dan peristiwa penemuan duit tersebut, sampai suatu hari beberapa tahun kemudian, aku kehilangan uang persis sejumlah limaribu perak, uang jajanku selama seminggu. Dan petuah yang dulu kuremehkan tiba-tiba saja terlintas di kepala. Barangkali memang kedua kejadian tersebut tidak ada hubungannya, hanyalah kebetulan yang dibumbui takhayul belaka, tapi tetap saja ada semacam beban pikiran menggelayuti alam bawah sadarku sejak saat itu hingga kini.
Itulah barangkali yang menjadi satu sebab utama mengapa aku membiarkan uang-uang itu begitu saja di tempat aku melihatnya. Biar saja orang lain yang mengambil dan memanfaatkannya, batinku.

Setibanya di kos, kulihat tumpukan mug sendok dan mangkuk bekas sarapan tadi pagi yang belum kucuci masih tergeletak di meja. Setengah malas setengah terpaksa, kuberanjak menuju keran dan mencuci semuanya. Untung saja tidak sampai disemutin, atau malah mengundang reptil (cecak) dan serangga lainnya (kecoa) untuk merubung bekas-bekas sarapan tersebut. Meskipun kutahu pasti, I will never know for sure. Siapalah yang tahu apa yang terjadi tadi siang saat tak ada seorang pun di dalam kamar. Haha!
Saat mug melaminku kubasuh, tanpa sengaja mug tersebut tergelincir dan terlepas dari genggaman, lantas jatuh terbanting. Pecah. Damn!
Tiba-tiba kuteringat, siyal! Ini adalah mug melamin keTIGA yang kupecahkan tahun ini. Dua mug sebelumnya pecah tak sengaja karena kejadian yang nyaris sama, terlepas dari tanganku saat sedang dicuci. Rugi pisan, euy.
Dengan gelondongan kesebalan kuselesaikan mencuci alat-alat makan lainnya dan kukeringkan, lalu kulihat pisang Cavendish yang kubeli hari Minggu kemarin masih ada. Kubuka plastik penyimpanannya, dan kuputuskan untuk menyudahi riwayatnya segera. Dari aromanya tercium kalau dibiarkan lebih lama lagi, let’s say sekitar dua hari lagi, pisang-pisang ini akan segera membusuk. Segera kusantap semua sampai habis.
Saat tanganku membuka kulit pisang terakhir, baru pikiranku tersadar, ini adalah buah pisang keTIGA !

Pasti ada kebetulan-kebetulan yang aneh dengan hari tersebut. Serangkaian peristiwa kebetulan yang agak sukar dijelaskan, meskipun sebetulnya tidak ada sesuatu hal mendesak yang membuatnya harus bisa dijelaskan.
Tapi tetap saja karena belakangan ini pikiranku sedang tidak disibukkan oleh urusan pekerjaan, hal-hal (yang tampaknya) remeh semacam ini justru lebih asyik untuk ditelaah lebih dalam dan direka-reka penjelasan logisnya. Bahkan sampai kurasa perlu untuk dituangkan ke dalam tulisan, dan dengan demikian terciptalah tulisan ini.

Namun sungguh, sampai sekarang aku masih tidak habis pikir, mengapa dan bagaimana bisa ya, sampai semua kejadian tersebut terkait dengan bilangan TIGA.
Padahal tanggal hari itu kan 24, bukan 23?!



Friday, May 23, 2008

The Constant Gardener: Reviewed.




It was said that, from the onset of the first pages of John le Carré’s The Constant Gardener, experienced readers would know that they are in the familiar and always capable hands of le Carré. But being a new kid in the vast knowledgeable creative mind of Mr. le Carré’s, I tend to sort of making this one particular novel as my introduction to his many works. The reason why I chose The Constant Gardener which got mixed reviews was that I was very much impressed when watching the movie adaptation back in 2005, my last ‘date’ with Nina before she went on and married to another fellow M.D. and moved out of this country. But that, of course, is a wholly irrelevant story.

The Constant Gardener begins with a crisis when news of the violent murder of Tessa Quayle, a young and beautiful white relief worker in East Africa, reaches the assorted bureaucrats and spies who populate the British High Commission in Nairobi, Kenya, where Tessa’s husband, Justin, works as midlevel diplomat.

At first, her death appears to be one of those embarrassing incidents that governments involved, especially the British, hate to have happen in foreign countries. It’s scandalous. Just like the death of former British Airways’ cabin crew Lucie Blackman. Even though of course, Ms. Blackman was actually a real-life person.

Tessa was known for her radical views and involuntariness to muffle her idealism and outspokenness. At the time of her tragic death, while she was up-country near the boundary with Sudan, she had been traveling with a handsome black Congolese-descendant Belgian-citizen doctor who was widely assumed to be her secret lover, and who has inexplicably vanished from the jeep in which her naked, beaten and severed body was found.

Justin Quayle, her husband, an efficient, very polite and by-the-book Englishman then returns to Britain, looking to all the world like a beaten-down loser, a gray man who has been effectively widowed twice, the first time when he lost his wife's love and was too polite, and repressed, to understand why or even to admit it.

But this is le Carré, who oftentimes compared with Tom Clancy, and of course his readers should expect more of things to come. And their expectations, of course, contented. Things were really not as they seemed to be.

For Justin Quayle, of whom the title character – the constant gardener – derived from, it seems everything ends when he buried his wife on the graveyard near Kibera slum.

It turns out; this is actually the part where le Carré shifts this novel’s perspective, from Sandy Woodrow’s, the head of the chancery, to Justin, the first secretary cum gardening aficionado, just after about a hundred or so pages. For impatient readers, they’d probably stop reading this novel already. Their loss.

As controversies begin to loom about what Tessa was actually doing exactly in Nairobi, and how it fits in with a powerful pharmaceutical company heavily connected to a number of overtly and covertly corrupt governments in Africa and the West, Justin went AWOL from Her Majesty’s Foreign Service, defied his old-fashioned Etonian background and eventually goes on a crusade in such chivalrous quest for the truth, also to avenge his wife’s death.

This novel is dense and finely plotted and nourished with examinations of how things like loyalty, honesty, self-preservation, and memory, can become murkier the deeper you get entangled in something bigger than yourself. This was clearly depicted in the character of Sandy Woodrow, whom loyalties conflicted as the plot entwined yet unraveled at the same time. It also holds its own because of John le Carré’s deeply felt assurance and passion about the sins perpetrated by drug companies on developing countries.

However, the biggest significant problem about The Constant Gardener is that le Carré gives his game away too early. Somewhere in the first third part, the mystery surrounding Tessa’s death is solved. So does other related mysteries: the death and disappearance of the poor African woman and her brother whom Tessa befriended, the three white doctors in the maternity clinic, even the identity of the bad guys and their collaborators. Those, of course, immediately rob the rest of the book from the sort of suspense that can make this work, otherwise, so masterful. It is never a moment in this novel where its reader learns something that wholly changes the course of the book and quite literally takes their breaths away.

And as the last (random) thought, being a self-proclaimed kitschy sentimental person, I found the ending was as much heartbreaking as it was almost unbearably moving. The kind of ending that will leave you astounded. Guaranteed.


Wednesday, March 26, 2008

Birches, Willows, Sycamores and Rhododendron Shrubs



If many other fellow readers were fascinated with the mysteries comprised in tens of Agatha Christie’s novels – like who killed Roger Ackroyd, who committed homicide inside the snow-blocked Orient Express, or who killed the wealthy lady aboard a luxurious cruiser down the Nile – I was in to them for other reasons.

I still remember the first murder mystery novel written by Agatha Christie that I finished reading. It was Cat Among the Pigeons, which I borrowed from Sylvia. Actually it belongs to her older sister, and Sylvia lent me it without her sister’s knowing as a simple reward after I helped her with her history essay on Middle East’s ancient cultures (those of Assyrians and Mesopotamians).

Saat itu sebenarnya kami baru saja duduk di grade 7. Usiaku sendiri masih dalam minggu-minggu pertama menginjak 12 tahun – and I remember vaguely that I had just experienced my first wet dream (ha! ha! such an irrelevant confession) – tapi aku sudah mulai mencari-cari bacaan yang lebih seru, lebih mendebarkan dan lebih memacu adrenalin daripada serial petualangan Famous Five maupun Secret Seven-nya Enid Blyton yang kurasa sudah tidak cocok lagi dengan seleraku.
Apalagi jika menyebut serial yang ber-setting-kan sekolah asrama khusus putri seperti St. Clare dan Malory Towers, yang pastinya sudah dibiarkan tidak tersentuh lagi.
Rasanya sedikit malu untuk mengakui bahwa dulu, hanya beberapa tahun sebelumnya, aku bisa sangat menikmati cerita-cerita tentang kejenakaan dan kenakalan cewek-cewek Inggris yang mengerjai guru bahasa Prancis mereka dengan penuh niat (ditambah lagi kebingungan melafalkan istilah ‘Mademoiselle’ dan ‘Paris’ dengan bunyi r-r-r khas yang mengandalkan posisi lidah harus menempel di atas langit-langit mulut, huh!), serunya midnights’ pajamas parties di salah satu ruang kumpul bersama di salah satu menara, dan lomba lacrosse antarsekolah yang dideskripsikan begitu serunya tapi sebenarnya highly predictable karena sudah pasti kompetisi itu akan dimenangkan oleh tim dari sekolah si tokoh utama.
Pfuih! I need something more mature than these materials.

Pikiranku kembali melayang ke masa ketika aku masih berusia sedikit lebih muda daripada waktu itu, barangkali saat itu aku baru saja naik kelas ke grade 6 dan sedang dalam masa liburan kenaikan kelas. Karena didera kebosanan, lantas aku berusaha mencari kesibukan sendiri. Entah bagaimana awalnya, yang jelas saat itu kutemukan diriku sendiri sedang berdiri di dalam salah satu kamar yang dihuni oleh kakakku yang tertua, dan sedang mengintip ke dalam rak buku besar yang berada di salah satu sisi kamar itu. Rak buku itu penuh berisikan koleksi novel-novel untuk pembaca dewasa. Pandanganku saat itu lantas terfokus pada deretan novel bersampul hitam dengan nama pengarang Agatha Christie, yang terlihat berderet dalam jumlah relatif banyak dibandingkan dengan buku-buku lainnya. Hmmm... kira-kira novel tentang apa ya?, pikirku.
Jadilah kucomot satu buku secara acak. Desain cover-nya memperlihatkan sebuah boneka berwujud anak kecil berkulit hitam berambut keriting berbaju merah bercelana panjang hijau yang tampaknya seperti tergantung. Lantas kubaca judulnya, Sepuluh Anak Negro. Judul yang tidak biasa, pikirku saat itu.
Kulanjutkan dengan membaca synopsis di cover belakang. Ooh, yang ini berkisah tentang sepuluh orang yang terjebak di sebuah pulau terpencil tanpa akses komunikasi keluar pulau serta – nah, ini yang membuatku jadi sangat tertarik – tidak memiliki tempat untuk melarikan diri dari petaka kematian yang secara misterius menghampiri mereka satu demi satu.

Eh, tunggu dulu! Ini kan mirip cerita di satu film India jaman dulu, barangkali diproduksi di masa ketika Amitabh Bachchan masih brondong (ha! ha!), yang pernah aku tonton dari channel RTM2?
Film yang aku tak tahu judulnya ini bertutur tentang sekitar 10 orang yang menang undian berhadiah paket wisata. Namun dalam perjalanan, entah karena satu alasan apa yang kurang jelas buatku, pesawat terbang yang mereka naiki terpaksa melakukan pendaratan darurat di sebuah pulau. Dan ternyata saat mereka semua turun dari pesawat untuk melihat-lihat kondisi pulau tersebut, pesawat itu langsung lepas landas lagi! Perlahan mereka mulai menyadari bahwa ini semua adalah jebakan mengerikan, perangkap maut yang telah dipersiapkan dengan penuh perencanaan matang a la iblis untuk menghabisi mereka satu demi satu.
Ada beberapa hal yang masih kuingat dari film tersebut hingga kini, antara lain an unforgettable scene dimana sepasang muda-mudi berjoget sambil menyanyi di tengah siraman hujan deras (ah, Bollywood cliché!) di malam hari di antara deretan batu nisan di sebuah pekuburan tua yang sudah tidak terawat (wow! ini baru setting yang tidak biasa!), lalu ketika si perempuan menari sambil berputar-putar 360 derajat tanpa henti (and by doing so, beating Midori Ito and Tonya Harding decades before they were able to perform triple axel jumps in late ‘80s and early ‘90s respectively), tubuhnya menabrak salah satu teman seperjalanan mereka yang sedang dalam posisi terduduk kaku di antara deretan nisan di tengah pekuburan tersebut. Kaku bak arca karena sudah menjadi mayat. Si perempuan yang tadinya in a mental state of happy-happy joy-joy joget-joget bersama sang kekasih pujaan hati langsung menjerit ngeri (shrieking: "Nahiiin!").
Hingga kini aku masih penasaran dengan kelanjutan cerita film ini, karena saat menonton film itu waktu sudah hampir jam 10 malam, yang artinya sudah tiba saatku sebagai seorang bocah cilik berusia 9 tahun untuk tidur karena besoknya harus sekolah. Betul sekali, orang-tuaku cukup disiplin untuk hal satu ini. Huh, menjadi anak kecil itu memang lebih banyak tidak enaknya ya.*

Mari kita kembali ke diriku yang masih saja berdiri di depan rak buku di kamar kakakku. Jadilah Sepuluh Anak Negro yang sudah dalam genggaman tangan kuselipkan di balik baju seperti gaya anak sekolah menengah teknik yang pernah kulihat di pinggir jalan, lantas aku mengendap-endap keluar kamar.
Deg-degan.
Kakak-kakakku pasti akan marah dan langsung mengadu pada Ibu kalau mereka sampai tahu aku hendak mencuri baca novel dewasa mereka.

Sesampainya di dalam kamarku, hatiku bergembira.
Victory!
Kini novel itu sudah berada dalam genggaman kekuasaanku.
Persoalan berikutnya?
Bagaimana caranya agar aku bisa mulai membaca buku ini tanpa menimbulkan keramaian, alias ketahuan oleh kakak-kakakku.
Well, the only open option was to arrange some ‘mutual understandings’ with my brother Matthew, since we shared bedroom together. Aku sudah lupa apa isi kesepakatan kami yang berhasil dicapai saat itu, namun yang jelas, aku bisa mulai membaca Sepuluh Anak Negro malam itu tanpa harus bersembunyi di dalam tenda selimut dengan bantuan penerangan senter.

Misteri pertama yang kujumpai saat itu adalah, apa itu red herring? Kira-kira seperti apa ya bentuk ikan herring merah itu? Imajinasi yang kemudian terbentuk di dalam benakku saat itu adalah red herring fish merupakan sejenis ikan berukuran sedang yang lazim ditemukan di dalam kaleng sarden ABC, karena biasanya saat aku membelah tubuh ikan itu, akan terlihat dagingnya yang berwarna cenderung kemerahan. Hhmm ... sepertinya aku tidak akan suka memakan red herring, sama seperti aku tidak terlalu menyukai ikan sarden.
Anehnya, aku sama sekali tidak merasa penasaran dengan sosok asli U.N. Owen yang berhasil menjebak 10 orang malang itu di pulau terpencil itu untuk kemudian membunuhi mereka satu per satu. Sepertinya ini merupakan tanda-tanda awal bahwa aku tidak memiliki bakat investigatif sedikit pun. Ha! Ha!

Ternyata kebingunganku akan wujud red herring tidak bertahan lama, karena seperti yang begitu mudahnya diterka, aku ketahuan.
Kakak-kakakku mengomel-ngomel panjang lebar dan mengadu ke Ibu. But to my sisters’ surprise, Ibu sama sekali tidak marah dan justru hanya menasehati dengan nada bijak, bahwa aku harus menunggu hingga berusia 13 tahun terlebih dahulu agar bisa lebih memahami dunia penuh kekejian dan kekerasan semacam yang sedang coba kuselami lewat novel itu.
Mungkin maksudnya adalah, aku harus sedikit bersabar menunggu masa-masa pubertasku dimulai, sebagai isyarat alam bahwa aku sudah mulai beranjak dewasa, barulah aku diizinkan melangkah lebih jauh. Eh, tampak berbelit-belit ya? Not to worry, karena aku juga bingung apa maksudnya saat itu. Untuk lebih jelasnya dan sebagai perbandingan saja, aku masih ingat bahwa saat itu aku pun masih belum diperbolehkan menonton film-film komedi Warkop DKI meskipun sudah berulang-kali ditayangkan di stasiun televisi nasional. Whether you’re going to believe me or not, in our childhood, I and my brother were not allowed to watch any of Dono-Kasino-Indro movies, because my parents believed that they would give bad examples to us by simply exposing and exploiting women’s certain body parts just to create laughs and excitements.
Wrong decision, I guess. But that was another bit of an irrelevant story.

Kembali ke maksud semula tulisan ini, itulah sebabnya mengapa kemudian Kucing di Tengah Burung Dara dan bukan Sepuluh Anak Negro yang menjadi novel Agatha Christie pertama yang selesai aku baca. Barangkali ini menjadi semacam lelucon aneh bagiku, karena ternyata setting misteri pembunuhan dalam novel ini terjadi di sebuah sekolah asrama khusus putri, yang suasananya sedikit mengingatkanku pada St. Claire maupun Malory Towers.
Reputasi dan prestise sekolah yang harus dijaga membuat ibu kepala sekolah terpaksa meminta bantuan dari Scotland Yard, yang kemudian mengutus seorang agen detektif muda belia gagah lagi ganteng pula, Adam Eden (tentu saja, karena begitu tidak lazimnya, sudah pasti ini nama samaran), untuk menyelidiki kasus ini sembari menyamar sebagai tukang kebun sekolah. Ide iseng kemudian merasuk di kepalaku, jangan-jangan tukang kebun baru di tetangga sebelah itu juga seseorang yang menyamar untuk tujuan-tujuan tertentu? Eh, tapi setelah dipikir-pikir lagi, orang itu kok lebih mirip abang-abang tukang sayur yang sama sekali tidak tampak keren. Lantas kusimpulkan bahwa sudah barang tentu dia bukan agen detektif yang sedang menyamar.
Growing up in a place where deaths naturally come to those of elderly people or caused by traffic-accidents – which were very rarely happened, homicide cases in fiction-books always fascinates me.
Itulah sebabnya, sejak cerita tentang berlian yang disembunyikan di dalam gagang raket tennis itu berhasil kutamatkan, dalam hitungan beberapa tahun saja, sudah puluhan novel Miss Christie yang selesai kubaca. Aku pun berkenalan lebih intim lagi dengan berbagai karakter ciptaan beliau yang kerap muncul berulang di dalam cerita-cerita detektif itu, mulai dari Monsieur Hercule Poirot si detektif berkumis tebal dengan kepala bulat telur yang sangat mengandalkan sel-sel kelabu otaknya untuk menyelesaikan perkara, lanjut ke nenek tua lincah dan ceria Miss Jane Marple, terus ke si penulis novel detektif Ariadne Oliver yang sepertinya sedikit neurotic, hingga pasangan kocak Tommy dan Tuppence, to name a few.

Kembali lagi ke maksud awal tulisan ini, kegagalan terus-menerus untuk menebak dengan tepat siapa pelaku kejahatan sesungguhnya berdasarkan motif dan bukti-bukti yang tersedia yang dibeberkan kepada sidang pembaca, lama-lama membuatku menjadi tidak lagi termotivas untuk untuk mencoba peruntunganku menjadi seorang detektif. Biarlah ketekunanku dalam membaca saja yang akhirnya akan membawaku menemui sosok keji pelaku kejahatan yang sesungguhnya.

Bagiku, sudah cukup menarik apabila rasa ingin tahuku akan hal-hal berbau investigasi amatiran menemukan misteri-misteri kecil, trivialities, yang tidak kalah dapat membangkitkan kepenasaranan, yang jawaban-jawabannya baru kutemukan kemudian seiring perjalanan dan bertambahnya pengalaman dalam hidup.
Bahwa mentega cap gentong yang kucampurkan ke dalam adonan bolu ketika membantu Ibu mempersiapkan hidangan Natal ternyata menjadi barang mahal dan langka di masa Perang Dunia II, dan bahwa mentega ternyata memang memiliki rasa dan tekstur ketebalan yang berbeda dengan margarine dapur yang biasa kami pakai sehari-hari di rumah.
While attending farewell party being a senior in high school, I found out the real form, taste and smell of bacon, medium-cooked steak and mustard sauce.
Ketika baru mulai kuliah, seorang teman membelikan muffin coklat dengan imbuhan chocolate chips yang luar biasa lezat yang bisa jadi memiliki keempukan yang sama dengan yang dinikmati para tamu di Hotel Bertram.
Ternyata ikan salmon asap memiliki aroma yang agak aneh dan rasa yang sedikit menggelikan.
Red wine terasa lebih keras dan pahit dibandingkan white wine, meskipun belum lagi dicampur dengan sianida.
Dan bahwa motif karpet Persia yang terkena noda darah dari mayat yang disimpan di dalam peti Spanyol bisa jadi mirip dengan karpet berwarna dasar merah tua yang sudah usang di rumah mendiang nenekku.

Sekali lagi kembali ke maksud awal tulisan ini, bahwa sesungguhnya masih ada beberapa hal kecil lainnya yang hingga kini masih belum jelas bagiku.
Misalnya, seperti apakah sebenarnya wujud dari pohon birch, pohon willow, pohon sycamore dan semak-semak rhododendron?

Maybe I should consult Google or Wikipedia.





* Later on when consulting Wikipedia to support this writing, I found out that the aforementioned Indian movie was titled Gumnaam, and there were only seven passengers plus a flight attendant inside that airplane trapped on that remote island, instead of 10 persons like in the original source. The information on its loose reference to Agatha Christie’s Ten Little Niggers a.k.a. And Then There Were None is noted here, here and here.




- Original version of "Birches, Willows, Sycamores and Rhododendron Shrubs" was posted online on May 17, 2006 under the title "Birches, Willows and Rhododendron" -