Showing posts with label money. Show all posts
Showing posts with label money. Show all posts

Thursday, April 1, 2010

Mereka yang Ditaklukkan


Masih kuingat pagi itu udara sedikit berkabut. Jarum panjang jam baru bergerak menuju angka satu. Hampir pukul enam lewat lima. Sekali dua terdengar celotehan ayam dari halaman tetangga sebelah, saat aku melangkahkan kaki keluar pagar bergegas menuju wartel dekat kos. Rencananya, pagi ini aku mau menelepon Ibu.

Ruangan di dalam wartel itu sendiri agak gelap karena lampu-lampunya sudah dimatikan. Barangkali agar menghemat tagihan listrik, pikirku. Si akang yang bertugas jaga pagi itu sedang sibuk menyapu lantai dengan sapu ijuk butut yang sudah terlihat botak. Sejak pertama kali menggunakan jasa wartel ini hampir dua tahun lalu, sepertinya sapu itu tak pernah berganti. Dengan sapu sebutut itu dan lampu yang sudah dimatikan, bagaimana mungkin dia bisa betul membersihkan lantai semen telanjang tanpa tegel di wartel ini? Ah biarlah, dia pasti sudah tahu itu. Mungkin saja tujuannya bukan betul-betul untuk membersihkan, melainkan agar tubuhnya sedikit bergerak dan ada yang bisa dia lakukan. Pasti membosankan sekali pekerjaan menunggu wartel semacam ini setiap hari.

”A dead end job”, demikian istilah yang baru kudengar dari satu film Amerika yang cakram padat digitalnya kami sewa duaribu rupiah perkeping dari persewaan di dekat gerbang kampus. Artinya kurang lebih adalah pekerjaan membosankan yang tak butuh kemampuan intelektualitas mumpuni untuk bisa menyelesaikannya sehingga tak semua orang mau melakoninya, jikalau tidak karena terpaksa. Tapi apalagi yang bisa dilakukan penduduk asli sekitar sini selain ’melayani’ kami, para pendatang yang lebih beruntung dari mereka? Penduduk asli di sini tidak lebih dari sekelompok masyarakat agraris yang sudah lama ditaklukkan. Bidang-bidang tanah yang dulu mereka jadikan sumber pendapatan sudah lama berpindah tangan ke penguasa. Bidang tanah yang harus kuakrabi selama empat tahun agar beroleh selembar surat sakti yang kuharap dapat membukakan lebih banyak pintu peluang, demi bisa makan enak dan naik mobil mahal. Agar aku tidak berakhir sama seperti penduduk asli tempat ini yang cukup mengambil posisi jadi penonton di tepian, hanya bisa melongo melihat kemajuan melaju cepat meninggalkan mereka.

Hanya ada tiga bilik kecil di wartel itu. Bilik pertama dikhususkan untuk panggilan lokal. Pesawat teleponnya tak bisa dipergunakan untuk menelpon keluar kode wilayah nol-dua-dua, apalagi menghubungi telepon selular. Tak kumengerti mengapa diatur demikian. Padahal kalau bilik pertama itu difungsikan sama seperti dua bilik lainnya, tentu akan lebih besar pemasukan yang diterima. Bilik kedua ternyata ada orangnya. Karena pintunya hanya kaca transparan, bisa kulihat jelas seorang perempuan muda sedang menunduk, kepalanya ditumpukan di telapak tangan. Kulihat angka tarif yang terus bergerak bertambah banyak di depan perempuan itu. Wah, sudah lebih dari tigapuluhribu rupiah. Pasti dia sudah lama tersambungkan, paling tidak limabelas menit. Anehnya, tak kudengar perempuan itu berkata sepatahpun. Mungkin dia sedang diminta menunggu oleh lawan bicaranya.

Bilik ketiga kosong, langsung aku masuk dan memutar nomer telepon rumah. Dinding pelapis yang memisahkan setiap bilik dibuat hanya dari selembar triplek menjadikan pembicaraan apapun yang terjadi di bilik sebelah, bisa terdengar jelas. Meskipun begitu, masih tak kudengar suara dari situ. Namun aku memang sedang berkonsentrasi pada nada panggil di teleponku. Lama sekali tak ada jawaban, karenanya kukembalikan gagang telepon itu ke tempatnya.

Baru pada saat itulah aku mendengar suara aneh di bilik sebelah. Suaranya sedikit mendesah. Lamat-lamat seperti orang sedang menangis. Ah, tak mungkin, batinku. Baru jam enam pagi dan sudah menangis sesedih itu? Ada anggota keluarga yang berpulang, barangkali? Pasti hidupnya sepanjang sisa hari itu akan terasa menyesakkan. Kasihan. Tapi sesungguhnya aku tak ikhlas bersimpati. Soalnya tak kukenal perempuan itu. Setidaknya, bagian belakang tubuhnya yang sempat kulihat itu tak kukenali.

Perempuan itu terdengar begitu susah berbicara. Barangkali karena dia harus menelan tangisnya sebelum bisa mengucap kata, itu pun masih ada isakan-isakan menjeda. ”Kamu kok bisa-bisanya begitu sama aku?” ... hiks ... ”Padahal ...” hiks hiks ”padahal kan aku sudah penuhin semua mau kamu ...” hiks sroot terdengar bunyi ingus yang disedot kembali ke liang hidung hiks lagi ... ”Kamu harusnya ngerti posisi aku juga dong. Gak bisa ...” hiks hiks ”gak bisa kayak gini terus.”

Satu tanganku yang sudah kembali menempelkan gagang telepon di telinga dan satu lagi yang sedang memencet-mencet nomor telepon rumah mendadak berhenti. Wah! Pagi-pagi sudah drama! Ini pasti salah satu kisah asmara yang sedang dilanda prahara. Buset, bahasaku tujuhpuluhan banget ya. Karena terlalu berkonsentrasi dengan suara-suara haru-biru di bilik sebelah, sejenak aku lupa kalau nomor telepon yang kutuju belum kugenapi. Artinya, belum selesai kutekan seluruhnya. Sampai tahun jadi tigabelas bulan juga tak bakal panggilan itu tersambungkan.

Kucoba mengulangi urutan nomor telepon Ibu, sambil telingaku yang bebas difokuskan untuk menguping. Lalu tiba-tiba ...

”Halo?”

Ah, Ibu!

”Hai hoi. ... bla bla bla”, langsung aku mencerocos. Kebiasaanku memang seperti itu setiap kali menelepon ke rumah. Tak kuanggap perlu memperkenalkan diri. Tugas orang-tua lah untuk mengenali suara anak-anaknya. Kali itu pembicaraanku dengan Ibu hanya berlangsung sebentar. Saat kuletakkan kembali gagang telepon, tarif panggilan yang harus kubayarkan tak lebih dari sepuluhribu rupiah. Saat keluar dari bilik nomor tiga itu, kulihat bilik sebelah masih diisi sosok perempuan yang sama, masih dengan pose duduk yang sama. Melihatnya, seolah waktu sempat berhenti, atau jalannya pelan sekali. Bedanya, kali ini tarif bicara yang harus dia bayarkan sudah lebih dari limapuluhribu. Buset, cewek ini pasti sedang menghubungi nomor telepon selular. Pemborosan luar biasa, kalau dia justru nyaris tak berbicara, lebih banyak diam dengan selingan isakan yang ditahan.

Usai melunasi kewajiban pada si akang penjaga wartel, kulangkahkan kaki keluar dan melihat ke kiri kanan. Biasanya ada akang penjual bubur ayam yang lewat membawa pikulannya jam segini. Ah, sayang sekali sosoknya belum kelihatan. Barangkali aku kepagian? Kalau begitu aku balik saja dulu ke kamarku dan tidur lagi. Kuliah hari ini baru mulai jam sepuluh, masih ada waktu untuk kembali menodai bantalku dengan tetesan air liur dari mulutku yang membuka kala tidur. Hah! Jorok? Biarin!

Sembari berjalan kembali pikiranku tertuju pada sosok yang kutemui di wartel pagi itu. Bukan, bukan si perempuan. Sejujurnya, aku tak terlalu peduli padanya. Membuka hati agar bisa ditaklukkan cinta, tentu ada akibatnya. Sakit hati, terluka dan patah hati adalah resiko yang harus siap ditanggung kalau berani menjalin hubungan asmara. Istilahnya, kalau takut jatuh dan luka, jangan mencoba naik sepeda. Berjalan kaki saja terus, dan jadilah penonton saat kehidupan melaju cepat meninggalkanmu.

Yang kupikirkan adalah si akang itu. Pikiran yang diselubungi rasa curiga. Bisa jadi, sebenarnya saat sedang menyapu lantai itu, dia sedang berpura-pura sibuk agar tak kentara sedang mencuri dengar pembicaraan perempuan di bilik nomor dua. Bisa jadi, pembicaraan-pembicaraan semacam itu menjadi selingan, memberi warna beda dalam hidupnya yang monokrom kala menjaga wartel. Bisa jadi, setelah menutup wartel malam itu dan kembali bertemu keluarganya, si akang akan punya cerita untuk dituturkan sembari menyeruput kopi tubruk dan mengisap sebatang rokok kretek. Ah, sebuah gambaran hidup yang terlalu klise, tapi sepertinya cocok dengan si akang. Bisa jadi, di usianya yang mungkin hanya bertaut kurang dari satu windu denganku, pintu-pintu peluang sudah lama tertutup rapat baginya. Dan bisa jadi, pintu-pintu yang masih bisa dia buka dengan leluasa hanyalah pintu-pintu wartel yang punya tiga bilik telepon itu. Pintu-pintu yang hanya kami, para mahasiswa pendatang seperti aku, buka kala hendak berbagi cerita pada keluarga dan kerabat, atau ketika menuturkan rencana dan mimpi-mimpi kepada para sahabat. Hanya sisa-sisa napas dan aroma keringat kami saja yang akan bisa dirasakan si akang ketika membuka pintu-pintu itu. Sedangkan semua cerita dan mimpi yang sempat terucap kami bawa pergi bersama langkah-langkah kami kala meninggalkan wartel dengan tiga bilik itu. Sempat tergelitik imajinasiku untuk bertanya pada si akang penjaga wartel, ”Bagaimana rasanya menjalani hidup sebagai penonton mimpi-mimpi orang lain?” Tapi kuyakin dia akan tergeragap, tak akan dia bisa berikan jawaban atas pertanyaanku itu.

Saat berjalan kaki pulang menuju kos, aku berpapasan dengan seorang bapak tua bercaping dan berpakaian lusuh kotor, sedang memikul cangkul yang terlihat sama tuanya dengan keriput di wajahnya. Dengan basa-basi kuanggukkan kepala dan kupajang seulas senyuman di wajah saat berselisih jalan dengan bapak itu. Satu suara kecil namun tajam berkelebat di dalam benak, ”Ini dia satu lagi orang yang sudah ditaklukkan. Bahkan mungkin dia menggunakan cangkul tuanya itu untuk mengubur mimpi-mimpinya satu persatu.”





Illustration image courtesy of Sam Luce

Monday, April 6, 2009

Is Now The Time To Move On ?


I need to move on with my life.
I don’t want to be stuck here forever, the place which started to feel like a comfort zone.
Do I have to change my job?
Looking at things which happened these latter days, the answer is probably: Yes.
But the future might be bleak, having no money and living by yourself here in this cruel city that reserve no sympathy for people who has no money or resources.
And I don’t want to beg for job to my friends or relatives, and definitely, NOT money, from anyone.
Do I have guts to follow the path of one of my best friend, who resigned from her promising position in her office, and follow her dreams of becoming a writer?
The answer for this time is probably: No.
Gosh, I am oh so confused now.

Monday, January 12, 2009

Unlike Others



“Do you like my cock?”

David asks me for what seems like the millionth time since we slept together for the very first time. And it was only four months ago. Tonight is no difference from our previous dates.

He stands in front of the ceiling-to-floor mirror, admiring his lean-and-chiseled looks. The body of a professional surfer; which he’s everything but.
While I am lying on the bed, stripped down from my formal dinner wear to my birthday suit. Cuddling a fluffy white pillow, half-covering my lower part, looking at his arse.

“Hhmm ...,” is my only response, before trying to change the subject by asking, “Don’t you think this room is too cold?”

David took me to his penthouse in City Central after having dinner at The Bistro with the Smith-Kleins. The look of this unit really fit in with his bachelor lifestyle.
The impressionist paintings, the handwoven foreign-made rugs, the personal gym-corner, his large two one-seater couches – a couple of Lazy Boys, my guess – facing this huge plasma TV. His home theatre set.
I simply could not imagine him living in a nice house in suburb with a family of his own. He just does not fit in for such picture.

What I think does not match with this whole picture of his bachelor style apartment is, surprisingly, ... his bed. It surely feels comfortable enough to lie all day and cuddle with him on it. It’s the linens that keep bothering my mind. As if he borrowed them from any expensive hotels around town. Have you ever noticed that all hotel linens are always bleached white, no matter where you go?

“No. It’s just fine with me. You know well I can’t stand heat.”

“But it’s just last weekend we went to the beach and there you were soaking yourself under the sun.”

“Well, that’s different. What else you’re gonna do on sunny beaches?”

“Hhmm ...,” is the only voice comes out of my mouth.

“You haven’t answered my question, dear. Do you like it? Do you like my cock?”
His left hand touching his lower part.

“Oh, yes,” I whispered in such a low voice, yet adding some adjectives to please him. “It’s so straight and beautiful and pink and warm in my hand.”

“You want it, don’t you? You know it can give you pleasure, don’t you think?”
He walks closer to bed. I almost feel like he intentionally wants to shove his cock in front of my face. So I raise my head, now supporting it on my left hand. My head tilt a bit lower and I smile.

I want to shake him out of his consciousness. I want to stare him straight in the eyes and ask: Why do you always ask that question? Why do you need, constantly, of my approval? You’re a successful businessman. You have the power to move millions with a single phonecall. You are one of the most sought after bachelor in this state. Why, then, is my opinion of your penis so important that you must ask me about it twelve times in half an hour?

“Oh, yes. That’ll be fantastic.” My hands start to become busy giving him the job, something that David said I have a talent of.

What talent? Can you say jacking off someone until he comes is talent?
Ask any teenage boy. He would definitely laugh at the mere thought of it.

“You know my thick warm cock would feel so good inside you, fucking you for hours, until I cum on you,” his breath is getting harsh, which is a good sign for me. I’m hoping for speed on this one, simply so that we can be done with all the cock-talk, and I can finally rest. The dinner we had hours ago somehow drained me out of vitality. Must be because all of the political pep-talks.

He reaches and pulls me upward. He has this habit of pulling me way to close as he gets excited, so that it feels like he breathes on my face. Somehow, the way he does it, always exarcebates my irritation. “Oh you know damn well I’d fuck you for hours.”

Splendid!
I believe he surely thinks that’s the only thing I want in this world right now.

“Oh, yes. That would feel so great,” I say, starting to calculate how long will it take for me to get up, get dress, take the elevator down to the lobby, and ask the concierge to get me a cab and leave, once this is all said and done. But it’s Friday night. It should take him longer to hail a cab for me. The concierge, not David.

“Slow down, darl. I don’t wanna come yet …”

Damn!
“Oh, no. I don’t want you to come yet, either. Your cock feels so good …”

The hands of the clock on his bedside table show it’s almost midnight. How time flies!

David and I have seen each other for about four months or so now. And each time what he did overwhelmed me. We go out to dinner at least once a week at some fancy restaurants and then up to his plush penthouse. Even though I’m not into him physically, the conversations and experiences are enjoyable enough that overall I’m glad to be in his company.
It’s a pretty interesting, consistent, house-free free gig. Besides, David seems pretty serious about “taking care of my future”, whatever that means to him.
But on the contrary, I am not greedy enough to accept such a thing, even if I could. However, when he keeps looking deeply into my eyes, telling me how smart and talented I am, I realize that I’m falling into the pattern of seeing him as a walking ATM rather than a person. And how I hate that.
Deep down, I know that at least part of my irritation with him is really irritation with the person I’m becoming when I’m around him.

Almost an hour later.
I stand at the window looking down at the scenery. The city lights always impress me, who spent earlier childhood at backwater area. Noting how different the City looks from way up here, as if I’m in a different city. This place of skyscrapers, grouping into close proximities, almost like competing to dominate each other. Or like the pecking order I often saw back then in grandma’s farm.

This City of orderly lined skyscrapers of endless white linens. The one I learn to love. Which is a hard task.
It’s David’s city, and of people not unlike him, a city of the kind of money that I can’t even imagine that they throw around like that they throw around like Monopoly’s money.
Looking down at their City, and feel like a complete crap that is trying to climb the social ladder. Or mountaineering, as once I and David heard of being in use in that period movie, when an old English lady referred to Becky Sharp.

David gets a bit fussy when I gather my things and starting to leave. But I really need to get out of here.
The last time we had a quarrel about me refusing to stay over, I ended up spending the next two following nights at his place. Which turned out ugly, as I barely sleep when he’s around. And when I’m staying at his place, he simply refuses to leave the unit, choosing to work from home.
That was a mistake. For me.
It made me feel trapped in a golden cage. And now when he expects me to do it again, I back out, giving him hundreds of excuses.
Staying over is not something I plan on repeating often.

After one single moment of fussiness though, David walks me to the elevator door. He kisses my cheek, whispers, “You know I’m going to Paris this weekend. But I’m going nuts thinking that I might leave you behind.”

“Don’t worry,” I say, forcing a wide smile. “I can wait.”
The elevator entrance tinged open, I stepped in.

“See you soon, darling.”

Thursday, January 1, 2009

Tantangan Itu Bernama : "Resolusi 2009"



Sudah jamak memang apabila menjelang setiap tutup tahun, orang-orang di seluruh dunia beramai-ramai membuat resolusi yang ditekadkan untuk dilaksanakan pada tahun berikutnya. Entah kemudian resolusi itu sungguh-sungguh dikerjakan sepanjang tahun, atau hanya sekedar mimpi utopis untuk menyenang-nyenangkan hati si pembuatnya, yang kemudian menguap entah ke mana bahkan sebelum tanggal 31 Januari – atau lebih parah lagi, bahkan sebelum dampak hangover akibat pesta mabuk-mabukan saat New Year’s Eve hilang – sehingga tak bisa terlaksana hingga tiba di penghujung tahun yang berjalan dan tiba lagi saatnya untuk membuat resolusi yang lebih baru lagi.

Setidaknya, kondisi semacam yang dijelaskan terakhir itu kualami berkali-kali, sehingga bisalah dengan fasih aku bertutur seperti di atas. Niatnya mengurangi berat badan yang sudah melebihi standar normal, tapi apa daya angka timbangan tidak pernah bergerak turun barang sekilo dua kilo. Tekadnya akan lebih ramah dan tidak negative thinking pada sesiapapun, tapi ternyata masih saja gemar menyilet perasaan orang lain dengan ketajaman lidah dalam bertutur-kata yang tetap bisa memberikan kenikmatan khas pada hati ini. Rencananya akan lebih banyak beramal dan berbuat baik tanpa pamrih, apa daya saat kesempatan itu tiba, keengganan untuk mau repot ditambah rasa malas yang luar biasa mengalahkan segalanya.

Tapi namanya manusia ya, sudah tabiat alamiahnya untuk tidak pernah merasa puas. Kali ini pun, aku tetap mencoba membuat resolusi untuk menyambut tibanya tahun 2009. Setelah sempat dilanda kebimbangan dan dihantam gelombang keraguan – soalnya niatnya kali ini serius ingin dilaksanakan, maklumlah sudah semakin tua artinya sudah saatnya untuk semakin bisa mengatur dan mengendalikan diri sendiri – akhirnya kuputuskanlah bahwa pada tahun 2009 ini, aku akan mencoba untuk ”hidup lebih sederhana dan bersahaja”, serta lebih ”down-to-earth dan humble dalam bersikap dan bertutur kata” (meskipun yang terakhir ini merupakan pengulangan resolusi beberapa waktu silam, tapi karena yang tempo hari gagal ya dicoba lagi tahun ini).

Bagi mereka yang mengenaliku secara personal dan tahu persis kepribadianku, bisa jadi akan tersenyum-senyum belaka saat membaca resolusi keduaku, yaitu untuk menjadi lebih “down-to-earth and humble” itu. Because I am everything but that. Seringkali kesan pertama yang muncul tentang diriku saat kenal dengan orang baru dan masuk dalam lingkungan baru, adalah bahwa aku itu sombong dan belagu. Dan biasanya sih, aku tak pernah menegasikannya. Tidak pernah mau bersusah-payah untuk mencoba. Biar saja orang berkata apa, why should I give a damn?
Sebenarnya ini kurang-lebihnya adalah karena mengikuti falsafah seorang teman dekat, (yang di sini kusebut saja sebagai Bugs Bunny), yang dengan sejuta kepedeannya pernah beberapa kali mengatakan bahwa dalam hidup ini kita tak akan pernah bisa membuat semua orang senang dan menyukai kita. Jadi terimalah dirimu apa adanya. (Tidak persis seperti itu sih ucapan dan makna yang dia sampaikan, tapi kurang-lebihnya sudah mirip lah).

Nah, pertanyaan berikutnya adalah, mengapa aku sampai memutuskan untuk ”hidup lebih sederhana dan bersahaja” menjadi resolusi utamaku di tahun 2009 ini?
Alasannya sebenarnya sederhana. Percaya atau tidak, dampak krisis keuangan global ini terasa sampai ke dompetku juga.
Berhubung klien-klien kantorku mayoritas adalah lembaga keungan dan badan usaha lainnya yang memang berakar serta memiliki markas besar di luar negeri, tak urung pengaruh krisis tersebut pasti terasa hingga perusahaan-perusahaan subsidiary –nya di Indonesia. Hingga saat ini kabarnya masih terus saja terjadi banyak pemotongan anggaran dan penundaan berbagai proyek. Itu artinya, pekerjaan untuk kantorku berkurang secara sangat signifikan, padahal kebutuhan hidup mendasar sebagai seorang lajang metropolitan yang harus tetap bisa tercukupi tidak ikut-ikutan berkurang.

Sebenarnya, kata kuncinya di sini adalah ’cukup’.
Masih bisa kuingat dengan jelas dulu pada masa-masa awal mulai bekerja, dengan gaji a la kadarnya untuk standar ibukota, ternyata masih bisa dicukup-cukupkan untuk menutupi semua ongkos. Indekosnya sengaja dipilih di kamar yang sangat seadanya, makannya pun cukup di warung saja.
Seiring perjalanan waktu dan hidup semakin kekinian, bertambahnya nilai nominal gaji ternyata malah membuat pengeluaran ikut-ikutan meningkat. Begitu terus sampai sekarang, ketika kemana-mana maunya (minimal) naik taksi dan tiap hari makan di mall berpenyejuk udara. Disesuaikan dengan kebutuhan dan selaras dengan kemampuan.
Implikasinya, gaji sekarang dengan nominal sekian, tetap terasa ’cukup-cukup saja’. Suatu hal yang seharusnya patut disyukuri, karena toh kondisinya sampai sekarang hidupku masih bebas dari hutang.
Kecuali, mungkin, hutang balas budi pada kedua orang-tuaku yang sudah membiayai semuanya sampai aku bisa seperti ini sekarang. Meskipun tidak sampai sukses luar-biasa dan tersohor kemana-mana, tetapi juga tidak malu-maluin seperti beberapa anak kerabat lainnya (obviously, I won’t give names).
Bisa dikatakan, hidupku saat ini serba berkecukupan lah. Sekali lagi, ini merupakan satu hal yang sungguh sangat patut disyukuri.

Kembali ke perihal resolusi utama tahun 2009 untuk bisa ”hidup lebih sederhana dan bersahaja”, sebenarnya masih ada satu hal yang masih agak mengganjal di dalam pikiran.
Aku punya target personal untuk bisa (jauh) lebih hemat lagi, agar di tahun 2009 ini dapat memenuhi salah satu impian pribadiku, yaitu untuk membeli Macbook hitam seperti yang dipergunakan oleh Sidney Young ketika ia menulis artikel tentang Vincent Lepak.
That thing definitely looks smart, tech-savvy, classy and elegant at the same time.

Tapi, ...
Apakah target personal ini masih sesuai dengan prinsip “hidup sederhana dan bersahaja”, sebagaimana resolusi 2009 –ku?
Terus satu lagi, dan ini merupakan pertanyaan paling penting, duitnya dari mana ya?
Bingung nih.




Thursday, October 30, 2008

About Losing


Losing one of my personal stuff will make me peevish for days
Losing my creativity obviously means that I will lose my job
Losing my virginity, I never complained about
Losing money would not worry me more than

Losing a lover,
because it will unquestionably break my heart,
yet

Losing a best friend will definitely shattered me in pieces

Monday, October 6, 2008

Imajinasi Tingkat Tinggi



Bisa jadi masih belum banyak penduduk negeri ini yang tahu dan sadar, bahwa sejak beberapa bulan lalu sampai awal tahun depan, adalah masa kampanye politik jelang Pemilu 2009. Barangkali karena masa kampanye kali ini sangat panjang apabila dibandingkan masa-masa sebelumnya yang hanya dalam hitungan tiga bulanan, jadi masih banyak partai politik yang seolah-olah testing the water dan cenderung mengambil sikap menunggu, menanti partai mana yang akan melakukan start duluan dan dengan cara apa. Mayoritas partai-partai politik ini belum lagi kencang menghambur-hamburkan dana untuk berpromosi, apalagi menggebrak dengan kampanye yang bersifat massive dan sensasional.

Barangkali baru sejak medio Agustus lah mulai ramai bermunculan berbagai spanduk, umbul-umbul, billboard dan bentuk-bentuk media luar ruang lainnya, yang mengusung nama, logo maupun wajah yang mewakili partai politik tertentu, menghiasi (atau mengotori ?) berbagai tempat strategis di seantero Jakarta dan sekitarnya. Sudah jamak memang apabila pesan politik disampaikan lewat berbagai media yang bisa mengakomodasinya, dengan titik-titik sentuh bersifat langsung dengan olahan seefektif mungkin (masih ingat kampanye Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pada Pemilu 2004 dengan slogan ”Moncong Putih” ?).

Salah satu medium penyampaian pesan politik yang paling diminati sejak dulu hingga kini, sudah tentu adalah lewat tayangan iklan di televisi. Belakangan ini, dua muka lama mulai rajin menyambangi layar kaca kita : Prabowo Subianto dari Partai Gerindra, dan Wiranto dari Partai Hanura. Sejujurnya buatku pribadi, agak seram melihat kedua sosok ini bangkit lagi di masa kini, mengingat track record keduanya yang tidak bisa dikatakan bersih dari pelanggaran hak azasi manusia pada masa keduanya masih menjadi pimpinan militer di era Orde Baru.
Namun yang juga menarik untuk dicermati adalah kemunculan dua wajah baru yang berusaha mengimbangi dua muka lama tadi, yaitu Soetrisno Bachir dari Partai Amanat Nasional, serta Rizal Mallaranggeng.
Khusus untuk nama yang disebut terakhir ini cukup memancing rasa penasaranku, karena beliau yang mengaku dalam iklan satu halamannya di harian Kompas, mengklaim dirinya tidak disokong oleh partai politik manapun dalam upayanya memperkenalkan diri ke publik. Plus, kata adik kandung penasihat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini, dirinya juga bukanlah seorang pengusaha. Intinya adalah, beliau menyatakan dirinya sebagai calon presiden independen yang berangkat dari jalur perseorangan.
Hal ini jelas-jelas di kemudian hari menimbulkan tanda tanya besar : darimanakah beliau mendapatkan dana untuk menjalankan kampanye politiknya? Terlebih kalau melihat billboard ekstrabesar dua sisi yang memasang wajahnya di seputaran Jembatan Semanggi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Sekali lihat, pasti langsung terbayang gelontoran dana yang harus dikucurkan untuk mengisi kedua sisi billboard tersebut dengan wajah bapak berkumis tebal ini. Belum lagi, sekian banyak jenis dan versi iklan politik beliau. Perhitungan kasar pun memunculkan angka milyaran rupiah.
Sayangnya, menurut hasil polling yang kulihat bulan lalu di acara politik tvone, berbagai iklan politik beliau masih belum memberikan dampak nyata di tataran political awareness rakyat negeri ini. Barangkali karena rakyat negeri ini masih belum terbiasa dengan kampanya multi-media a la Barack Obama.

Sedangkan menurut pendapatku pribadi, memasang iklan politik di area sepanjang jalan Gatot Soebroto, Sudirman dan Thamrin, itu sudah biasa.
Yang menjadi luar biasa, barangkali apabila memasang iklan di beberapa tempat yang lebih lazim dipergunakan sebagai medium promosi niaga, seperti billboard aktif yang ada di dekat gedung BEI, di depan Pusdiklat Deplu, atau memblok area dinding luar salah satu mall terkenal di kawasan Senayan, yang seingatku pertamakali dilakukan oleh MRA Media untuk mempromosikan majalah Esquire Indonesia edisi perdana kurang-lebih satu tahun lalu, yang terbukti cukup sukses menggoyang pasar majalah khusus pria dewasa di negeri ini.




Setidak-tidaknya, dalam imajinasiku, kalau aku memiliki uang dalam jumlah besar untuk dihambur-hamburkan, aku pun ingin menampilkan wajahku dengan cara yang kurang-lebih serupa.
Apalagi kalau pemotretannya dilakukan oleh fotografer kelas dunia, seperti Annie Leibovitz atau David LaChappelle atau Mario Testino.
Lantas dicetak dalam ukuran raksasa dan dipajang di mall tadi.
Cukuplah memajangnya selama empat minggu, dengan empat versi berbeda yang berganti setiap minggunya; dijamin setidak-tidaknya akan ada beberapa juta pasang mata yang akan melihat poster raksasa itu selama kurun waktu tersebut, yang kemudian diharapkan akan dapat memancing rasa penasaran mereka untuk mencari tahu lebih banyak lagi.
Niscaya langkah ini tentu akan berhasil meningkatkan awareness atas diriku, suatu hal yang kata William sudah relatif berhasil kulakukan di beberapa situs jejaring sosial bersifat pertemanan (i.e. Friendster dan Facebook), berkat foto-foto pribadiku yang (kuharap bisa memberikan kesan) artistik.

Ngayal berlebihan, sekali-sekali boleh dong?





Thursday, September 25, 2008

Tiga Seribu


Ini bukanlah cerita tentang barang murahan produksi Republik Rakyat Cina yang dijual dengan harga yang luar biasa sangat amat murah, jenis barang-barang yang biasa digelar oleh para pedagang kaki lima di pasar-pasar tradisional, atau diasongkan di lampu-lampu merah, di dalam bis-bis kota maupun terminal-terminal.

Ini adalah pengalaman sejatiku (nadanya lebay!) yang terjadi persis kemarin, Rabu, 24 September 2008. Berikut ini adalah penuturan langsung dariku, tentang serangkaian kebetulan yang tampaknya terlalu kebetulan sehingga rasanya jadi kurang wajar. Rangkaian kejadian yang pada awalnya terlihat tidak memiliki interkoneksitas, tapi setelah ditelaah lebih mendalam lagi, ternyata semuanya terkait dengan bilangan ’TIGA’.

Siang hari sekitar pukul duabelasTIGApuluh, sehabis makan siang dengan Presiden Direktur dan Kepala Divisi kantorku.
Saat itu, Sang Presiden Direktur sedang meledak, meluapkan segala emosinya yang sudah terlalu lama ditahan selama ini. Kami berdiri berTIGA di lapangan parkir sebuah rumah makan di kawasan Casablanca, di bawah panasnya terik matahari yang menyengat.
Meskipun sebenarnya aku dan si Kepala Divisi bukanlah objek yang dimarahi, karena Sang Presiden Direktur sedang menumpahkan kekesalannya tentang kondisi politik kantor, tapi tetap saja rasanya tidak nyaman karena orang-orang yang melintas di jalan raya Casablanca dan melihat bahasa tubuh kami bertiga, tentu akan menduga aku dan si Kepala Divisi itulah yang sedang dimarahi habis-habisan.
Padahal, sebenarnya tidak.
Cuma memang kejadian ini lumayan bikin stress dan pusing, secara kami jadinya berdiri lama di bawah siraman terik cahaya mentari Jakarta yang menyengat. Saat itu aku yakin kalau suhu kota ini sedang berada di angka TIGApuluhan derajat Celcius.
Lalu kulihat seorang pengendara sepeda motor yang hendak mengeluarkan motornya dari parkiran, tanpa sengaja ketika merogoh saku celana panjangnya, menjatuhkan beberapa lembar uang seribuan yang terlipat rapi. Awalnya hendak kupanggil si mas pengendara motor, memberitahunya kalau dia baru saja menjatuhkan uang. Tapi melirik ekspresi wajah Sang Presiden Direktur, kuurungkan niatku. Sebaiknya jangan cari gara-gara dengan seseorang yang sedang marah-marah murka besar, apalagi kalau orang tersebut adalah orang yang menggajimu. Haha!
Beberapa menit kemudian dan kami bertiga masih belum lagi beranjak dari tempat tersebut. Kulihat TIGA orang anak kecil yang tadi sempat menawarkan jasanya menyemir sepatu pada kami bertiga ketika sedang santap siang, berkumpul di dekat jatuhnya uang itu. Pikiranku segera teralih, mengamati mereka bertiga, menduga-duga siapa yang akan pertama kali melihat uang tersebut dan mengambilnya. Tapi anehnya, sampai bosku Sang Presiden Direktur mengakhiri sesi emosionalnya dan kami berpisah dan menuju kendaraan masing-masing, tak ada satupun dari ketiga anak itu yang mengambil jatuhan uang tadi. Aku bingung, rasanya tidak mungkin uang itu hanya fantasiku saja.

Sore hari menjelang berbuka puasa. TIGA orang personil Media Relations kantor bersiap-siap beranjak. Ada janji buka puasa bersama TRI-partit: kantorku, kantor klien, dan stasiun televisi yang menyiarkan program klien kantorku. Aku diajak ikut serta dan meramaikan acara, secara makan-makan gratis, tapi entah mengapa rasanya malas lantas kutolak ajakan tersebut. Kebetulan teringat, ada TIGA jenis cake di dalam lemari pendingin kantor yang dikirimkan pihak supplier yang menunggu untuk disantap. Haha!

Ternyata hujan turun dengan derasnya tak lama setelah adzan maghrib berkumandang. Siyal! Aku terperangkap di kantor. Bengong ga tau mau ngapain. Akhirnya sambil tiduran di sofa kucoba membaca The Great Gatsby yang sudah TIGA minggu lalu kubeli dari Kinokuniya. Edisi Wordsworth, harganya TIGApuluhsaturibu rupiah.
Belakangan ini mood membacaku sedang hancur-hancurnya, berada di titik terendah. Bayangkan saja, novel setipis ini sudah tiga minggu berlalu sejak kubaca kata pertamanya, tapi aku baru sampai di halaman TIGAbelas. Mungkin pengaruh cuaca juga, mood membaca tidak muncul-muncul juga, lantas aku mencoba tidur.

Kurang-lebih TIGA jam kemudian, hujan sedikit mereda menjadi gerimis. Teman-teman personil Media Relations baru saja tiba kembali di kantor. Tak lama berselang, TIGA orang personil divisi event juga tiba. Senangnya, suasana kembali riuh dan ceria. Lalu kulihat di salah satu kaki meja, ada uang seribuan yang terlipat rapi tergeletak. Pasti ada seseorang yang tanpa sengaja menjatuhkannya. Berbeda dengan tadi siang, kali ini seorang teman kantorku melihat lantas memungutnya, dan kemudian berteriak mengumumkan, bertanya siapa yang merasa kehilangan uang seribuan yang jumlahnya mencapai sepuluh ribu rupiah. Anehnya, tidak ada satupun yang mengaku merasa kehilangan. Akhirnya, uang ribuan tersebut diputuskan untuk dimasukkan ke dalam celengan plastik murahan yang kami namai celengan dugem, sebuah celengan yang dikonsepkan sebagai dana bersama yang nantinya setelah terisi penuh akan kami manfaatkan untuk acara bergaul malam hari. Biasanya sih penggunaannya kalau tidak untuk karaoke bareng, ya minum-minum alkohol lah sedikit.

Jam dinding memperlihatkan waktu baru saja lewat pukul sembilanTIGApuluh malam. Hujan sudah reda, saatnya untuk pulang ke kos. Berjalan kaki lah, seperti biasa.
Tapi sebelumnya aku mau mengantarkan seorang teman perempuan dulu dan menemaninya di pinggir jalan, menantikan taksi untuk mengantar dia pulang. Biasanya malam-malam sehabis hujan deras, ditambah suasananya menjelang libur Lebaran, sudah tradisinya susah memesan taksi Blue Bird lewat telepon. Harus menunggu di pinggir jalan, karena biasanya lebih cepat dan lebih mudah. Apalagi jam segini belum terlalu larut, pasti masih banyak taksi berseliweran.
Betul sih, masih banyak taksi yang lewat di depan kami, tapi semuanya penuh, lagi narik. Untung kami berdua tidak perlu menanti terlalu lama. Setelah teman ini mendapatkan taksi, aku pun beranjak dari tempat tersebut.

Kakiku melangkah, menyeberangi jalan raya yang ramai.
Kondisi jarak antara kos dan kantor yang tidak terlalu jauh, dan kondisi lalu-lintas yang terlalu ramai, membuat pilihan moda transportasi bagiku untuk dari dan ke kantor sangat terbatas. Hanya ada satu opsi: kedua kakiku.
Untung saja sejak adanya jalur busway di jalan raya ini, membuat proses menyeberang jalan jadi sedikit lebih mudah. Lebar jalan yang dipadati kendaran jadi berkurang, karena ada dua ruas jalan yang diblok untuk armada ”mobilnya Sutiyoso” ini. Di tengah-tengah jalan yang diblok untuk busway ini, kondisinya hampir selalu sepi, terlebih lagi malam-malam seperti sekarang. Jadi memudahkan bagi pejalan kaki untuk melintas, meskipun tetap ada bahaya dari kendaraan yang tiba-tiba mencuri masuk lewat jalur busway dan kemudian melintas dan ngebut kencang.
Ketika sedang melangkah menyusuri jalur busway itulah, mataku kembali melihat lembaran uang seribuan. Tergeletak pasrah dan basah oleh siraman air hujan, pasti tanpa sengaja dijatuhkan oleh seseorang yang melintas hari ini, demikian pikirku saat itu.

Lalu kemudian muncullah pemikiran iseng yang mengingatkanku, ini adalah kejadian keTIGA hari ini, di mana aku melihat uang seribuan yang tergeletak begitu saja tanpa ada yang mengakui mengklaim sebagai miliknya.
Tapi aku tetap urung memungutnya. Masih teringat petuah orangtua saat aku masih kecil dulu. ”Kalau menemukan uang terjatuh dan kamu mengambilnya, segeralah dibelanjakan,” demikian kata ibuku. ”Kalau tidak, dan kamu memilih untuk menyimpannya, suatu saat kamu akan kehilangan sepuluh kali lipat daripada jumlah uang yang kamu temukan.”
Dulu aku menganggapnya sebagai sebuah takhyul tolol – sejak kecil pikiranku sudah menjurus kepada kekurangajaran, memang – sampai suatu ketika aku menemukan selembar duit limaratusperak dan menyimpannya untuk dibelanjakan kemudian, kalau sudah dapat ide mau dipakai untuk membeli apa. Masa itu, komik Donal Bebek masih berharga seribulimaratus rupiah. Kebayang dong jadinya, saat itu duit gopek masih lumayan berharga.
Seperti yang bisa ditebak, aku lupa tentang petuah itu dan peristiwa penemuan duit tersebut, sampai suatu hari beberapa tahun kemudian, aku kehilangan uang persis sejumlah limaribu perak, uang jajanku selama seminggu. Dan petuah yang dulu kuremehkan tiba-tiba saja terlintas di kepala. Barangkali memang kedua kejadian tersebut tidak ada hubungannya, hanyalah kebetulan yang dibumbui takhayul belaka, tapi tetap saja ada semacam beban pikiran menggelayuti alam bawah sadarku sejak saat itu hingga kini.
Itulah barangkali yang menjadi satu sebab utama mengapa aku membiarkan uang-uang itu begitu saja di tempat aku melihatnya. Biar saja orang lain yang mengambil dan memanfaatkannya, batinku.

Setibanya di kos, kulihat tumpukan mug sendok dan mangkuk bekas sarapan tadi pagi yang belum kucuci masih tergeletak di meja. Setengah malas setengah terpaksa, kuberanjak menuju keran dan mencuci semuanya. Untung saja tidak sampai disemutin, atau malah mengundang reptil (cecak) dan serangga lainnya (kecoa) untuk merubung bekas-bekas sarapan tersebut. Meskipun kutahu pasti, I will never know for sure. Siapalah yang tahu apa yang terjadi tadi siang saat tak ada seorang pun di dalam kamar. Haha!
Saat mug melaminku kubasuh, tanpa sengaja mug tersebut tergelincir dan terlepas dari genggaman, lantas jatuh terbanting. Pecah. Damn!
Tiba-tiba kuteringat, siyal! Ini adalah mug melamin keTIGA yang kupecahkan tahun ini. Dua mug sebelumnya pecah tak sengaja karena kejadian yang nyaris sama, terlepas dari tanganku saat sedang dicuci. Rugi pisan, euy.
Dengan gelondongan kesebalan kuselesaikan mencuci alat-alat makan lainnya dan kukeringkan, lalu kulihat pisang Cavendish yang kubeli hari Minggu kemarin masih ada. Kubuka plastik penyimpanannya, dan kuputuskan untuk menyudahi riwayatnya segera. Dari aromanya tercium kalau dibiarkan lebih lama lagi, let’s say sekitar dua hari lagi, pisang-pisang ini akan segera membusuk. Segera kusantap semua sampai habis.
Saat tanganku membuka kulit pisang terakhir, baru pikiranku tersadar, ini adalah buah pisang keTIGA !

Pasti ada kebetulan-kebetulan yang aneh dengan hari tersebut. Serangkaian peristiwa kebetulan yang agak sukar dijelaskan, meskipun sebetulnya tidak ada sesuatu hal mendesak yang membuatnya harus bisa dijelaskan.
Tapi tetap saja karena belakangan ini pikiranku sedang tidak disibukkan oleh urusan pekerjaan, hal-hal (yang tampaknya) remeh semacam ini justru lebih asyik untuk ditelaah lebih dalam dan direka-reka penjelasan logisnya. Bahkan sampai kurasa perlu untuk dituangkan ke dalam tulisan, dan dengan demikian terciptalah tulisan ini.

Namun sungguh, sampai sekarang aku masih tidak habis pikir, mengapa dan bagaimana bisa ya, sampai semua kejadian tersebut terkait dengan bilangan TIGA.
Padahal tanggal hari itu kan 24, bukan 23?!