Showing posts with label heart. Show all posts
Showing posts with label heart. Show all posts

Monday, March 29, 2010

Love Gravity



I want to meet you in a place where we won’t feel wrapped underneath

Our skins that bleed and ached but they don’t hurt us like before

Inside our hearts there’s no empty room for sadness nor anguish
Our hands closed, admiring the delicateness of our souls, gravity of our lives

Feeling me, you, caressing the familiarity, adoring you me through all darkness

We are lost to each other now, wanting each other, saving you and me


Do I have to give any reason before kissing your soft lips?

Just come here, and let me show you my love once more.

Thursday, January 1, 2009

Tantangan Itu Bernama : "Resolusi 2009"



Sudah jamak memang apabila menjelang setiap tutup tahun, orang-orang di seluruh dunia beramai-ramai membuat resolusi yang ditekadkan untuk dilaksanakan pada tahun berikutnya. Entah kemudian resolusi itu sungguh-sungguh dikerjakan sepanjang tahun, atau hanya sekedar mimpi utopis untuk menyenang-nyenangkan hati si pembuatnya, yang kemudian menguap entah ke mana bahkan sebelum tanggal 31 Januari – atau lebih parah lagi, bahkan sebelum dampak hangover akibat pesta mabuk-mabukan saat New Year’s Eve hilang – sehingga tak bisa terlaksana hingga tiba di penghujung tahun yang berjalan dan tiba lagi saatnya untuk membuat resolusi yang lebih baru lagi.

Setidaknya, kondisi semacam yang dijelaskan terakhir itu kualami berkali-kali, sehingga bisalah dengan fasih aku bertutur seperti di atas. Niatnya mengurangi berat badan yang sudah melebihi standar normal, tapi apa daya angka timbangan tidak pernah bergerak turun barang sekilo dua kilo. Tekadnya akan lebih ramah dan tidak negative thinking pada sesiapapun, tapi ternyata masih saja gemar menyilet perasaan orang lain dengan ketajaman lidah dalam bertutur-kata yang tetap bisa memberikan kenikmatan khas pada hati ini. Rencananya akan lebih banyak beramal dan berbuat baik tanpa pamrih, apa daya saat kesempatan itu tiba, keengganan untuk mau repot ditambah rasa malas yang luar biasa mengalahkan segalanya.

Tapi namanya manusia ya, sudah tabiat alamiahnya untuk tidak pernah merasa puas. Kali ini pun, aku tetap mencoba membuat resolusi untuk menyambut tibanya tahun 2009. Setelah sempat dilanda kebimbangan dan dihantam gelombang keraguan – soalnya niatnya kali ini serius ingin dilaksanakan, maklumlah sudah semakin tua artinya sudah saatnya untuk semakin bisa mengatur dan mengendalikan diri sendiri – akhirnya kuputuskanlah bahwa pada tahun 2009 ini, aku akan mencoba untuk ”hidup lebih sederhana dan bersahaja”, serta lebih ”down-to-earth dan humble dalam bersikap dan bertutur kata” (meskipun yang terakhir ini merupakan pengulangan resolusi beberapa waktu silam, tapi karena yang tempo hari gagal ya dicoba lagi tahun ini).

Bagi mereka yang mengenaliku secara personal dan tahu persis kepribadianku, bisa jadi akan tersenyum-senyum belaka saat membaca resolusi keduaku, yaitu untuk menjadi lebih “down-to-earth and humble” itu. Because I am everything but that. Seringkali kesan pertama yang muncul tentang diriku saat kenal dengan orang baru dan masuk dalam lingkungan baru, adalah bahwa aku itu sombong dan belagu. Dan biasanya sih, aku tak pernah menegasikannya. Tidak pernah mau bersusah-payah untuk mencoba. Biar saja orang berkata apa, why should I give a damn?
Sebenarnya ini kurang-lebihnya adalah karena mengikuti falsafah seorang teman dekat, (yang di sini kusebut saja sebagai Bugs Bunny), yang dengan sejuta kepedeannya pernah beberapa kali mengatakan bahwa dalam hidup ini kita tak akan pernah bisa membuat semua orang senang dan menyukai kita. Jadi terimalah dirimu apa adanya. (Tidak persis seperti itu sih ucapan dan makna yang dia sampaikan, tapi kurang-lebihnya sudah mirip lah).

Nah, pertanyaan berikutnya adalah, mengapa aku sampai memutuskan untuk ”hidup lebih sederhana dan bersahaja” menjadi resolusi utamaku di tahun 2009 ini?
Alasannya sebenarnya sederhana. Percaya atau tidak, dampak krisis keuangan global ini terasa sampai ke dompetku juga.
Berhubung klien-klien kantorku mayoritas adalah lembaga keungan dan badan usaha lainnya yang memang berakar serta memiliki markas besar di luar negeri, tak urung pengaruh krisis tersebut pasti terasa hingga perusahaan-perusahaan subsidiary –nya di Indonesia. Hingga saat ini kabarnya masih terus saja terjadi banyak pemotongan anggaran dan penundaan berbagai proyek. Itu artinya, pekerjaan untuk kantorku berkurang secara sangat signifikan, padahal kebutuhan hidup mendasar sebagai seorang lajang metropolitan yang harus tetap bisa tercukupi tidak ikut-ikutan berkurang.

Sebenarnya, kata kuncinya di sini adalah ’cukup’.
Masih bisa kuingat dengan jelas dulu pada masa-masa awal mulai bekerja, dengan gaji a la kadarnya untuk standar ibukota, ternyata masih bisa dicukup-cukupkan untuk menutupi semua ongkos. Indekosnya sengaja dipilih di kamar yang sangat seadanya, makannya pun cukup di warung saja.
Seiring perjalanan waktu dan hidup semakin kekinian, bertambahnya nilai nominal gaji ternyata malah membuat pengeluaran ikut-ikutan meningkat. Begitu terus sampai sekarang, ketika kemana-mana maunya (minimal) naik taksi dan tiap hari makan di mall berpenyejuk udara. Disesuaikan dengan kebutuhan dan selaras dengan kemampuan.
Implikasinya, gaji sekarang dengan nominal sekian, tetap terasa ’cukup-cukup saja’. Suatu hal yang seharusnya patut disyukuri, karena toh kondisinya sampai sekarang hidupku masih bebas dari hutang.
Kecuali, mungkin, hutang balas budi pada kedua orang-tuaku yang sudah membiayai semuanya sampai aku bisa seperti ini sekarang. Meskipun tidak sampai sukses luar-biasa dan tersohor kemana-mana, tetapi juga tidak malu-maluin seperti beberapa anak kerabat lainnya (obviously, I won’t give names).
Bisa dikatakan, hidupku saat ini serba berkecukupan lah. Sekali lagi, ini merupakan satu hal yang sungguh sangat patut disyukuri.

Kembali ke perihal resolusi utama tahun 2009 untuk bisa ”hidup lebih sederhana dan bersahaja”, sebenarnya masih ada satu hal yang masih agak mengganjal di dalam pikiran.
Aku punya target personal untuk bisa (jauh) lebih hemat lagi, agar di tahun 2009 ini dapat memenuhi salah satu impian pribadiku, yaitu untuk membeli Macbook hitam seperti yang dipergunakan oleh Sidney Young ketika ia menulis artikel tentang Vincent Lepak.
That thing definitely looks smart, tech-savvy, classy and elegant at the same time.

Tapi, ...
Apakah target personal ini masih sesuai dengan prinsip “hidup sederhana dan bersahaja”, sebagaimana resolusi 2009 –ku?
Terus satu lagi, dan ini merupakan pertanyaan paling penting, duitnya dari mana ya?
Bingung nih.




Tuesday, December 2, 2008

Not Gonna (Give Up)


What’s good having you by my side
If your heart belongs to someone else?
But baby, I’m not gonna give you up easily
On that, you can count me on
I will make you fall in love with me all over again
Because remember baby, I’m not gonna give you up

Tuesday, October 28, 2008

His Pair of Angelic Eyes



We were taking a walk along the pond in the park
David and William and Michael and me
It was such a cloudy Sunday afternoon
The leaves on the trees moved and fell with the breezing wind
The birds were busy chirping on the branches of the trees
Yet we still filled the time with our cheerful chatter
When suddenly my gaze struck upon these two people
Standing face to face across the pond away from us

The moment I saw him again,
The one I used to know too well
I couldn’t stop my mind from the memories flowing back
How they hurt just to remember all the good times
Made me wonder whether he felt the same
Will the memories bring back the pain?

And that afternoon I clearly saw him
Holding hands together with this beautiful young girl
And the way he looked at her ...
Boy, it gave me shiver
Because he used to look at me that way

Probably I should walk right up to them and interrupt their conversation
And tell her, “Be careful, girl. It’s a game he likes to play.”

It was Michael who held my arm
Warned me by saying,
“Just don’t. Please.”
While David imbued,
“You have to get him out of your mind.”
And Michael added to it,
“You have to forget everything.”

I knew they had their point
Because once you set eyes upon his pair of angelic eyes
Just one look and you’re hypnotized
You will think you’re in paradise
But one day when you already went deep and it was all too late
You’ll find out for all those times he wears a very good disguise
While his only intention is to take your heart
In the end it’s you who have to pay the price

Still I managed to whisper to the wind
Hoping the breeze will carry it across the pond and drop it to her ear
And right in time she could hear
What I sincerely hope she would never do

“Girl, for whatever reason, just don’t look too deep into his pair of angelic eyes.”

Thursday, July 3, 2008

Love. At Any Cost.



Ku menatap langit malam mendung tanpa bintang

Namun hanya kamu yang ada dalam pikiranku, Sayang

Kubiarkan pikiranku bebas terbang melayang

Benakku bertanya kapan Cintaku datang

Dalam pelukan hangatku, kuingin dia pulang






all my love for R.
at any cost.





Post Script:
This love poem dated back to March 17, 2006,
when it was first published online in my previous blog,
LoveHateDreamsLifeWorkPlayFriendshipSex,
and dedicated to the one I once love so much,
my center of the universe,
R.

Wednesday, April 30, 2008

Fell In Love With Gorgeous


We were holding hands while walking down the lane together
People stared but we just did not care
Sometimes they talked in audible voices and sometimes they only whispered
But something like this had little importance to us so we did not consider it as burden to bear

Because I fell in love with a Gorgeous Guy
Fell in love once and almost completely
We are so much in love with this world,
But sometimes these feelings can be so misleading

He was standing near the window
Watching the city's nightscene, the lights were bright red and neon yellow
He turned to look at me sitting on the bed looking back at him and asked,
"Are you alright, dear?"
I smiled back and said,
"I must be fine because my heart's still beating."

Stood on a stony riverbank cutting through the valley
Stripped down to the skin, we jumped from the dock falling to the river's stream
The water felt icy cold but hugging Gorgeous Guy sparked the fire within
In a low husky voice he said,
"Come closer and kiss me. Amy says it's fine, she doesn't consider it cheating."

Jet black short hair with a curl, mellow roll for the flavor,
The eyes were peeping, white teeth shown between your parting lips glistening
Knew I can not keep away from this Gorgeous Guy
Oh, how these two sides of my brain need to have a meeting

Can't think of anything to do
My left brain knows that all love is fleeting
He is just looking for something new,
and I said it once before but it bears repeating

Don't go telling no more
Don't go telling no more lies on Amy

But I found it hard to face up

Because I fell in love with a Gorgeous Guy
Fell in love once and almost completely
We are so much in love with this world,
But sometimes these feeling can be inadvertently misleading




{mostly inspired and freely adapted from the lyrics of The White Stripe's "Fell in Love With a Girl"}

Monday, March 31, 2008

It’s The Heart That Matters Most



"Oh, take a look around you can see that it's true
It's like a river flowing inside of you

Everyone needs love, you need it too

So here's what you have got to do"



Rasanya sudah menjadi pengetahuan khalayak ramai bahwa akhir pekan di Bandung belakangan ini sudah tidak lagi menyenangkan, dalam artian lalu-lintasnya – khususnya di jalan-jalan protokol seperti di Dago dan sekitarnya – cenderung mengalami kemacetan total. Perpindahan dari satu titik ke titik lainnya yang biasanya dalam kondisi lalu-lintas hari biasa hanya memakan waktu maksimal 10 menit, di akhir pekan bisa berubah menjadi 1 jam. Terkadang bahkan lebih! Gila!

Apalagi sejak menjamurnya factory outlet di kota ini, semakin banyak wisatawan asal Jakarta maupun dari daerah lainnya, yang datang hanya untuk menghabiskan uang dengan shopping, shopping and more shopping.

Meskipun selalu bikin orang-orang yang lewat jadi sakit hati dan sakit kaki (khusus dialami oleh mereka yang menyetir), agak sedikit susah juga jika harus menuding para wisatawan pembelanja ini sebagai biang segala macam kerepotan yang ditimbulkan oleh kemacetan. Serba salah, karena bahkan dengan berhitung kasar dan rada asal-asalan pun, diperkirakan setiap akhir pekan terjadi transaksi senilai minimal ratusan rupiah hingga miliaran rupiah, itu hanya dari belanja fashion. Belum termasuk jajan makanan dan oleh-oleh serta tol.

Menurutmu hal ini bagus buat perekonomian Bandung? Tidak juga. Biaya ekonominya tinggi! Hitung saja pemborosan waktu dan bahan bakarnya. Belum lagi ‘sakit jiwa’ yang ditimbulkan akibat stress menghadapi kemacetan.

Oleh karena itu, apapun jenis hiburan yang bisa ditemukan sepanjang jalan saat tengah bete terkena macet, pastilah akan sangat menyenangkan dan membantu mengatasi kepenatan yang mendera.

Sebagaimana hari Sabtu terakhir di bulan Agustus lalu. Aku bersama dengan tiga orang teman lainnya sedang ‘rusuh’ karena terjebak kemacetan seusai menghadiri penyelenggaraan wisuda di universitas negeri dengan jumlah mahasiswa terbanyak di Jawa Barat. Saat itu, jalan-jalan benar-benar padat, sehingga jarak yang hanya kurang lebih 100 meter terpaksa ditempuh dalam waktu nyaris satu jam!

Macet akibat acara wisuda di kampus ini yang masih terletak di seputaran area Dago, ditambah macet akibat tumpukan kendaraan para wisatawan yang ingin berbelanja, menimbulkan neraka lalu-lintas kemacetan pangkat dua. Menyebalkan!

Untuk mengantisipasi rasa kesal yang mulai menumpuk dan sembari menantikan kemacetan ini mulai terurai, kami berempat ribut bercanda. Mulai dari gossip-gosip tidak penting sampai main tebak-tebakan yang juga sama tidak pentingnya.

Saat itulah aku melihat satu momen yang – setidaknya buatku pribadi – indah dan mengesankan.

Di antara deretan mobil berbagai jenis dan merk serta tahun produksi yang saling merapat nyaris bumper to bumper, di antara sekian banyak orang yang lebih memilih untuk turun dari angkutan kota dan berjalan kaki meski berisiko terpapar kepulan asap knalpot melewati barisan mobil yang entah sampai kapan baru akan bisa melepaskan diri dari neraka kemacetan ini, kami berpapasan dengan dua orang ibu yang sedang menaiki sebuah vespa.

Rasanya tidak akan ada yang istimewa pada dua sosok ibu tersebut, jika kita tidak memperhatikan pakaian yang mereka kenakan. Si ibu yang mengemudikan vespa memakai busana muslimah, jilbab yang tampak serasi dengan bajunya. Duduk membonceng di belakangnya, adalah seorang biarawati tua yang mengenakan kalung salib yang terlihat jelas menggantung di dadanya. Mereka berdua tampak mengobrol akrab sambil tersenyum-senyum, barangkali sedang membicarakan sesuatu hal yang lucu sekali bagi mereka.


"Spread a little hope, make the spirits rise
Do you see the wonder in their eyes

Time to speak of love, hold each other close

Cause it's the heart that matters most"



“Hey! Coba deh liatin kedua ibu itu!” kataku pada ketiga orang temanku yang saat itu tengah seru-serunya tertawa. Tawa mereka segera berhenti saat melihat kedua orang ibu tersebut, dan mereka bertiga terdiam sejenak.

Lalu kudengar Fitra menggumam pelan, “Wah, indah banget ya ...”

Saat itulah sempat kuperhatikan ketiga orang temanku sedang tersenyum ke arah kedua orang ibu tersebut, meskipun aku yakin mereka berdua tidak akan dapat melihat senyuman kami yang terhalang oleh lapisan film kaca mobil.

Karena masih belum bisa melewati deretan mobil yang seakan-akan tidak bergerak sama sekali, tampak si ibu biarawati kemudian turun dari jok belakang dan berjalan agak lambat ke depan untuk melihat situasi arus lalu lintas. Tangannya memberikan tanda kepada setiap pengemudi mobil yang ia lewati, seakan-akan meminta izin agar ia dan temannya diberikan kesempatan untuk lewat. Sedangkan si ibu berjilbab mencoba mendorong maju vespanya menyelip di celah antara mobil-mobil, berusaha mengikuti gerak langkah si ibu biarawati.

Sayang sekali, kami tidak sempat mengikuti dengan pandangan mata apakah mereka berdua berhasil melewati kemacetan tersebut, karena tiba-tiba saja mobil yang berada di depan kami mulai bergerak maju. Langsung saja Aryo ikut menjalankan kembali mobilnya mengikuti pergerakan lalu-lintas.

Saat itu kusadari bahwa kami berempat masih terdiam sejenak. Barangkali kami semua masih memikirkan kedua orang ibu tadi. Lalu kudengar Helen berkomentar pelan, “Coba ya kalau kita semua bisa begitu ...”

Aku tersenyum.
Bukankah kami sudah mencobanya?

Kami berempat berteman dekat. Tanpa memandang latar-belakang yang berbeda. Salah satu dari kami asli keturunan Jawa dengan silsilah keturunan ningrat. Satu lagi keturunan Palembang-Arab, meskipun dibesarkan di luar Indonesia. Yang lain keturunan Jawa-Sunda, sejak lahir hingga lulus sekolah menengah tinggal di Jakarta, jadilah salah satu impiannya adalah berjalan telanjang kaki di pematang sawah. Dan satu lagi adalah keturunan raja-raja Tapanuli bercampur sedikit darah Eropah, namun dilahirkan di ranah Melayu. Salah satu dari kami telah menunaikan rukun Islam kelima dengan naik haji ke Makkah. Dan yang lain memeluk agama Kristen.

Sebagai sekumpulan teman dekat, kami tentu pernah merasakan pahit-manisnya persahabatan. Namun kami tidak pernah menjadikan perbedaan di antara kami sebagai sumber perselisihan. Bisa jadi kami sesungguhnya memiliki persamaan pandangan dengan kedua orang ibu tadi.

Andai saja kita semua bisa mengikuti keteladanan persahabatan kedua orang ibu di atas vespa itu tadi, dengan menerima segara perbedaan yang ada di antara setiap individu, dan tidak menjadikannya sebagai satu masalah yang terkadang cenderung dibesar-besarkan, bukankah hidup ini akan jadi lebih baik?


"In time we come to learn
It's the heart that matters most"




- Ide penulisan It’s The Heart That Matters Most didapat ketika sedang terjebak kemacetan seusai upacara wisuda Universitas Padjadjaran, 30 Agustus 2003. Judul tulisan dan kutipan pendukung di dalamnya berasal dari lirik lagu Charlotte Church dengan judul yang sama -

Thursday, February 14, 2008

Selamat Tinggal ... Selamanya

Ada kalanya cintamu kurasakan

Ku takkan tergoyah, kini tak lagi gairah

Apakah harus usai cerita cinta hanya karena kita merasa jenuh berdua?
Mungkin baiknya aku mencoba untuk menjauh

Adakah dirimu masih inginkan aku?

Andai saja bisa kukatakan bahwa sejujurnya aku masih inginkan sayang

Wajahmu selalu ada dalam benakku,
Dengarkan jerit hatiku
Dengarkan pinta hatiku
Mungkin baiknya aku coba untuk menjauh

Adakah dirimu masih inginkan aku?

Ku tak mungkin membuatmu mencintai aku
Ku tak mungkin memaksa jika sudah tak ada
Ku tak mungkin bertahan bila semua t'lah hampa

Mungkin ini saatnya ucapkan selamat tinggal ...

... selamanya











[ As performed by Shanty; song & lyrics by Dewi Sandra and Boy Syaref -- Dedicated to MasaiLion I once love with all my heart and soul, wishing you'll have a wonderful St. Valentine's Day celebration ]

Thursday, November 1, 2007

Cinta, Di Titik Nol

Dapatkah seseorang hidup tanpa Cinta di dalam hatinya?

Entahlah. Rasanya tidak.
Karena hingga sampai hari ketika aku menuliskan ini, belum pernah sekalipun aku berjumpa dengan seseorang yang tidak memiliki Cinta, meskipun mungkin hanya sedikit, di dalam hatinya, dan memberikan kehangatan bagi jiwanya.

Atau pun jika pernah berjumpa, tapi aku tidak melihatnya, tidak menyadarinya. Karena di dalam lubuk hati ini aku selalu percaya, bahwa tanpa ada Cinta sesedikit apapun di dalam hati seseorang, meskipun barangkali hanya sebesar biji sesawi, maka sesungguhnya dia – jiwanya – tidaklah hidup.

Hingga tibalah suatu hari ketika aku menemukan kutipan berikut ini, di dalam salah satu novel karya Nawal el-Saadawi, Perempuan di Titik Nol.
Novel ini bertutur tentang seorang perempuan Mesir bernama Firdaus yang sejak masa kanak-kanaknya telah mengalami begitu banyak kegetiran hidup dan penderitaan. Ia tumbuh dalam kubangan lumpur kemiskinan. Cinta yang bertumbuh di dalam hatinya tidak pernah mendapat balas. Bukannya kebahagiaan, melainkan sakit yang seringkali ia terima. Bukan hanya sekali dia diperkosa. Dan tidak terhitung pula berapa kali tubuh dan jiwanya dianiaya. Menjadi pelacur pun terpaksa dilakoninya, demi untuk dapat bertahan hidup.
Hingga akhirnya liku-liku jalan kehidupan membawa Firdaus bertemu dengan seorang perempuan yang dengan bijak mencoba membantunya menemukan makna kehidupan. Dan juga Cinta, yang selama ini masih terus dicarinya karena belum pernah sekalipun ditemukannya.

Kutipan yang akan segera Anda baca berikut ini – meskipun tidak persis sama seperti teks aslinya – merupakan rangkaian dialog yang berlangsung di antara kedua perempuan tersebut, Wafeya dan Firdaus, yang sama-sama sedang berdiri di titik yang menentukan dalam perjalanan hidup mereka masing-masing. Perempuan yang satu dengan dan yang lainnya tanpa Cinta di dalam hatinya.


Wafeya: “Ada sesuatu di wajahmu yang memberi kesan, bahwa kau sedang jatuh cinta.”
Firdaus: “Tetapi tanda apa pada wajah seseorang yang dapat menimbulkan dugaan, bahwa orang itu jatuh cinta?”
Dia menggelengkan kepala dan berkata, “Aku tidak tahu. Tetapi aku merasa, bahwa kau khususnya, adalah orang yang tidak dapat hidup tanpa jatuh cinta.”
Firdaus: “Justru aku hidup tanpa cinta.”
Wafeya: “Jadi kau hidup di dalam dusta, atau sama sekali tidak hidup.”


Begitu kubaca jawaban Wafeya itu, sejenak kutertegun. Lantas bertanya pada diri sendiri: Adakah Cinta di dalam hatiku?

Aku yakin tentulah ada, meskipun barangkali hanya sebesar biji sesawi.
Karena hidup yang aku jalani jauh lebih bahagia daripada jalan kehidupan yang ditempuh Firdaus.
Dan kesadaran ini, sesuatu yang seharusnya sudah kuketahui tapi entah bagaimana tersembunyi di dalam benakku, membuatku kembali berpikir dalam-dalam, bahwa pendapat Wafeya sungguh sangat benar adanya.

Karena jika tidak ada Cinta di dalam hatiku, bisa jadi aku hidup di dalam dusta, atau sama sekali tidak hidup.




{ Cinta, Di Titik Nol pertama kali dipublikasikan online pada tanggal 7 Juni 2006 dengan judul Love, at Point Zero di dalam blog Friendster-ku yang kini sudah tidak aktif. Setelah mengalami beberapa penyesuaian kontekstual, tulisan yang aslinya didedikasikan “Untuk Cintaku, my Lovely Masai Lion, yang telah ‘memberi aku alasan untuk hidup’” ini kembali dapat Anda baca di sini }