Showing posts with label salary. Show all posts
Showing posts with label salary. Show all posts

Monday, March 9, 2009

Because I Was



I started the first line of my last short story, "Unlike Others", in August of 2008, in the old given-by-my-boss Toshiba laptop in my old rented room. Don't ask me how I got the initial idea for such controversial opening line, because it just popped up into my mind. I was sitting on my bed in my thinly loosed boxer short, topless and sweating, because that room has no air-con. The only small green desk fan could not repel the sweltering Jakarta heat that seeped through the cracks on the wall and the windowsills. Don't you think it's some kind of mystery that you'd never know who lived in the rented room before you? That room was a bit like a crawl space, almost square-like and narrow. Three sides of its walls were duplex, so you can hear what others said or done in the room next to yours. And obviously, they too can hear yours. That rented room always smelled of dust, cold and itchy. In normal conditions, I would have used this kind of rented room for storage, but at that point in my life when I have to survive living in this vicious metropolis with the cruel unfunny joke called the microscopic scale of monthly salary, I just had no other choice. What kept me sane was a dream that one day my life here will pace up and the condition will eventually improve. I was optimistic, because the hope that lived in me was the sole power that kept me level-headed. I was right. The condition did improve. I don’t have to live in the status quo like the main character in that short story. Because I was unlike others.

Friday, January 23, 2009

"Maaf, Pak. Ada kartu lain?"



Ini adalah kejadian memalukan pertama, dan mudah-mudahan juga menjadi yang terakhir, yang kualami kemarin ketika mencoba berbelanja dengan menggunakan kartu debit “yang itu” (tidak menyebutkan nama bank yang mengeluarkan, karena rasanya tidak perlu dan memang kurang relevan dengan cerita yang ini).

Jadi ceritanya, kartu debit “yang itu” sebenarnya mengandalkan isi rekening tempat gajiku ditransfer setiap bulannya. Dan lazimnya yang kulakukan pada akhir bulan adalah, begitu gaji bulan berjalan ditransfer, isinya langsung didistribusikan lagi ke rekening bank milikku yang lain.

The problem is, sejak awal bulan ini aku sudah agak-agak mulai menyadari, sepertinya terjadi kesalahan pendistribusian gaji dan bonus bulan Desember 2008 lalu. Meskipun kesadaran ini datangnya relatif terlambat. Ada beberapa pos pengeluaran ekstra yang tidak kuperhitungkan sebelum mendistribusikan ke rekening yang lain. Akhirnya bisalah dikatakan, saldo yang disisakan di dalam rekening “yang itu” kurang memadai untuk men-support kehidupan bujangan metropolis pencinta mall ini.

Sebenarnya, kalau mengingat resolusi awal tahun ini untuk hidup lebih sederhana lagi, well, masih bisa aja sih survive dengan duit sekedarnya, mengikuti jumlah yang tersisa di dalam rekening. Namun seperti kata pepatah, manusia boleh berencana, tapi yang menentukan sih, lain lagi pihaknya. Inilah penuturan tentang pencobaan itu, yang menghantamku dengan keras kemarin banget, ketika lagi iseng-iseng selesai kerja malah kelayapan di Ritz Carlton Pacific Place.

Saat itu, sambil menunggu si Dia datang buat penuhi janji dinner bareng, aku memilih untuk keluyuran di aksara bookstore. Sebenarnya sih saat masuk ke dalam toko itu, tak ada niat sedikit pun buat beli buku apapun, sekali lagi, karena ingat pada isi dompet yang sangat terbatas.

Akan tetapi memang namanya nasib sering berkata lain, ya. Saking kelamaannya menunggu si Dia tiba di mall extra mahal ini, aku mulai melangkah ke rak-rak literature dan fiksi. Saat itulah aku dikejutkan ketika melihat label merah kecil menempel di cover belakang begitu banyak novel popular, maupun yang menang atau sekedar dinominasikan buat penghargaan literature bergengsi. Dan yang membuatku terkaget-kaget itu adalah, angka yang tertera di label merah kecil itu : 50.000. Hah?!?!

Dengan perasaan skeptis dan tak percaya, kutanyakan pada salah satu penjaga toko buku yang sedang asyik memindah-mindahkan setumpuk buku hard cover dari meja pajangan (pasti berat, siah!), apakah memang benar label harga merah itu bukan sebuah kekeliruan?

Dan coba tebak, si penjaga toko itu bilang bahwa harganya memang betul diturunkan jadi cuma 50.000 saja !! Mendapatkan jawaban afirmatif ini, langsung dengan penuh kesigapan, semua buku yang memang tampak menarik kutarik dari raknya untuk sekedar mengecek label harganya.

Saat aku mulai dijangkiti euphoria setelah menemukan banyak buku menarik seharga masing-masing hanya 50.000, tiba-tiba saja si Dia menepuk pundakku dari belakang. Quite a perfect timing, secara kalau tidak, bisa jadi akan ada setumpuk novel berbagai ukuran memenuhi pelukanku saat itu. Jadi teringat waktu QB World Bookstore closing sale, langsung saja membuatku mendadak kalap! Yaiyalah, secara semua buku didiskon 70%. Yabiiessh ... !!

Anyway, berkat petunjuk dan arahan dari si Dia (agar tidak boros dan malah membeli buku lebih banyak daripada yang bisa aku baca – ini hal yang sudah lazim banget terjadi padaku, a true bibliophiliae), akhirnya kuputuskan untuk memilih judul-judul berikut : “The Virgin Suicides”, “Ghost World”, “The Mysteries of Pittsburgh”, “Everything is Illuminated”, “Darkmans”, “Memories of My Melancholy Whores”, dan “My Mistress’s Sparrow is Dead”. Khusus untuk judul terakhir, berhubung cetakan hardcover jadi harganya lebih mahal daripada yang enam judul lainnya (IDR 100.000), tapi itu pun sebenarnya masih relatif murah dibandingkan harga aselinya (± IDR 275.000).

Lantas dengan penuh percaya diri aku berjalan menuju kasir dan menyerahkan setumpuk tebal buku-buku pilihanku tersebut berikut kartu debit “yang itu”. Sambil menunggu proses pembayaran, aku ngobrol dengan Dia. Saat tengah asyik berbincang-bincang, lelaki yang bertugas di kasir menyela percakapan kami dengan suara agak pelan dan terdengar sedikit ragu, “Maaf, Pak. Kartunya ada yang lain, ga? Yang ini di reject, katanya insufficient fund.”

Dan langit mendadak terasa runtuh menimpa kepalaku. Apaaaa … ?!?!?!

Saldo di rekening “yang itu” tidak mencukupi untuk belanja buku senilai IDR 400 ribu ?!?! Hastaga, malu banget rasanya. Apalagi kejadiannya di depan pacar sendiri. Si Dia sih dengan sigap langsung mengeluarkan dompet dan mencoba mengangsurkan salah satu kartu kredit gold-nya untuk melunasi pembayaran.

Meskipun aku tahu persis kalau si Dia tak akan pernah mempermasalahkan pembayaran yang cuma beberapa ratus ribu ini di kemudian hari, apalagi karena pengeluaran tersebut buat pacarnya sendiri. Tapi tetap dong, aku harus bisa menjaga gengsi pribadi. Apalagi kalau bukan persoalan ego dan harga diri seorang lelaki. Hehehe ... (*yang berkomentar nyinyir siap-siap ditonjok!*)

Tentu saja, sambil mengambil kembali kartu debit ”yang itu” dan mencegah si petugas menerima kartu kredit si Dia, dengan tegas kujawab, ”Oh, ga apa-apa. Bayarnya cash aja.” Dan untung bangetlah, saat itu uang tunai yang terselip di dalam dompetku yang mulai robek karena mulai uzur itu masih lebih dari mencukupi untuk melunasi transaksi semua buku tersebut (dan masih ada lebihannya untuk makan malam bareng Dia).

Setelah melunasi pembayaran, kami berdua pun melangkahkan kaki keluar dari aksara, dan aku setengah menulikan telinga dari beberapa pertanyaan bernada khawatir dari Dia terkait kondisi keuanganku sat itu.

Walk with pride, boy! Biarkan masalah hari ini menjadi masalah hari ini, dan yang besok pun demikian. Kurang lebih itulah salah satu kalimat bijak yang pernah kubaca di dalam kitab suci.

Pesan moral dari pengalaman memalukan ini adalah : ”Woy !! Ingat-ingat tuh Resolusi 2009 –mu !! Baru juga 3 minggu berlalu sejak Resolusi itu dibuat. Jangan sampai bikin malu lagi, ah !”



Thursday, January 1, 2009

Tantangan Itu Bernama : "Resolusi 2009"



Sudah jamak memang apabila menjelang setiap tutup tahun, orang-orang di seluruh dunia beramai-ramai membuat resolusi yang ditekadkan untuk dilaksanakan pada tahun berikutnya. Entah kemudian resolusi itu sungguh-sungguh dikerjakan sepanjang tahun, atau hanya sekedar mimpi utopis untuk menyenang-nyenangkan hati si pembuatnya, yang kemudian menguap entah ke mana bahkan sebelum tanggal 31 Januari – atau lebih parah lagi, bahkan sebelum dampak hangover akibat pesta mabuk-mabukan saat New Year’s Eve hilang – sehingga tak bisa terlaksana hingga tiba di penghujung tahun yang berjalan dan tiba lagi saatnya untuk membuat resolusi yang lebih baru lagi.

Setidaknya, kondisi semacam yang dijelaskan terakhir itu kualami berkali-kali, sehingga bisalah dengan fasih aku bertutur seperti di atas. Niatnya mengurangi berat badan yang sudah melebihi standar normal, tapi apa daya angka timbangan tidak pernah bergerak turun barang sekilo dua kilo. Tekadnya akan lebih ramah dan tidak negative thinking pada sesiapapun, tapi ternyata masih saja gemar menyilet perasaan orang lain dengan ketajaman lidah dalam bertutur-kata yang tetap bisa memberikan kenikmatan khas pada hati ini. Rencananya akan lebih banyak beramal dan berbuat baik tanpa pamrih, apa daya saat kesempatan itu tiba, keengganan untuk mau repot ditambah rasa malas yang luar biasa mengalahkan segalanya.

Tapi namanya manusia ya, sudah tabiat alamiahnya untuk tidak pernah merasa puas. Kali ini pun, aku tetap mencoba membuat resolusi untuk menyambut tibanya tahun 2009. Setelah sempat dilanda kebimbangan dan dihantam gelombang keraguan – soalnya niatnya kali ini serius ingin dilaksanakan, maklumlah sudah semakin tua artinya sudah saatnya untuk semakin bisa mengatur dan mengendalikan diri sendiri – akhirnya kuputuskanlah bahwa pada tahun 2009 ini, aku akan mencoba untuk ”hidup lebih sederhana dan bersahaja”, serta lebih ”down-to-earth dan humble dalam bersikap dan bertutur kata” (meskipun yang terakhir ini merupakan pengulangan resolusi beberapa waktu silam, tapi karena yang tempo hari gagal ya dicoba lagi tahun ini).

Bagi mereka yang mengenaliku secara personal dan tahu persis kepribadianku, bisa jadi akan tersenyum-senyum belaka saat membaca resolusi keduaku, yaitu untuk menjadi lebih “down-to-earth and humble” itu. Because I am everything but that. Seringkali kesan pertama yang muncul tentang diriku saat kenal dengan orang baru dan masuk dalam lingkungan baru, adalah bahwa aku itu sombong dan belagu. Dan biasanya sih, aku tak pernah menegasikannya. Tidak pernah mau bersusah-payah untuk mencoba. Biar saja orang berkata apa, why should I give a damn?
Sebenarnya ini kurang-lebihnya adalah karena mengikuti falsafah seorang teman dekat, (yang di sini kusebut saja sebagai Bugs Bunny), yang dengan sejuta kepedeannya pernah beberapa kali mengatakan bahwa dalam hidup ini kita tak akan pernah bisa membuat semua orang senang dan menyukai kita. Jadi terimalah dirimu apa adanya. (Tidak persis seperti itu sih ucapan dan makna yang dia sampaikan, tapi kurang-lebihnya sudah mirip lah).

Nah, pertanyaan berikutnya adalah, mengapa aku sampai memutuskan untuk ”hidup lebih sederhana dan bersahaja” menjadi resolusi utamaku di tahun 2009 ini?
Alasannya sebenarnya sederhana. Percaya atau tidak, dampak krisis keuangan global ini terasa sampai ke dompetku juga.
Berhubung klien-klien kantorku mayoritas adalah lembaga keungan dan badan usaha lainnya yang memang berakar serta memiliki markas besar di luar negeri, tak urung pengaruh krisis tersebut pasti terasa hingga perusahaan-perusahaan subsidiary –nya di Indonesia. Hingga saat ini kabarnya masih terus saja terjadi banyak pemotongan anggaran dan penundaan berbagai proyek. Itu artinya, pekerjaan untuk kantorku berkurang secara sangat signifikan, padahal kebutuhan hidup mendasar sebagai seorang lajang metropolitan yang harus tetap bisa tercukupi tidak ikut-ikutan berkurang.

Sebenarnya, kata kuncinya di sini adalah ’cukup’.
Masih bisa kuingat dengan jelas dulu pada masa-masa awal mulai bekerja, dengan gaji a la kadarnya untuk standar ibukota, ternyata masih bisa dicukup-cukupkan untuk menutupi semua ongkos. Indekosnya sengaja dipilih di kamar yang sangat seadanya, makannya pun cukup di warung saja.
Seiring perjalanan waktu dan hidup semakin kekinian, bertambahnya nilai nominal gaji ternyata malah membuat pengeluaran ikut-ikutan meningkat. Begitu terus sampai sekarang, ketika kemana-mana maunya (minimal) naik taksi dan tiap hari makan di mall berpenyejuk udara. Disesuaikan dengan kebutuhan dan selaras dengan kemampuan.
Implikasinya, gaji sekarang dengan nominal sekian, tetap terasa ’cukup-cukup saja’. Suatu hal yang seharusnya patut disyukuri, karena toh kondisinya sampai sekarang hidupku masih bebas dari hutang.
Kecuali, mungkin, hutang balas budi pada kedua orang-tuaku yang sudah membiayai semuanya sampai aku bisa seperti ini sekarang. Meskipun tidak sampai sukses luar-biasa dan tersohor kemana-mana, tetapi juga tidak malu-maluin seperti beberapa anak kerabat lainnya (obviously, I won’t give names).
Bisa dikatakan, hidupku saat ini serba berkecukupan lah. Sekali lagi, ini merupakan satu hal yang sungguh sangat patut disyukuri.

Kembali ke perihal resolusi utama tahun 2009 untuk bisa ”hidup lebih sederhana dan bersahaja”, sebenarnya masih ada satu hal yang masih agak mengganjal di dalam pikiran.
Aku punya target personal untuk bisa (jauh) lebih hemat lagi, agar di tahun 2009 ini dapat memenuhi salah satu impian pribadiku, yaitu untuk membeli Macbook hitam seperti yang dipergunakan oleh Sidney Young ketika ia menulis artikel tentang Vincent Lepak.
That thing definitely looks smart, tech-savvy, classy and elegant at the same time.

Tapi, ...
Apakah target personal ini masih sesuai dengan prinsip “hidup sederhana dan bersahaja”, sebagaimana resolusi 2009 –ku?
Terus satu lagi, dan ini merupakan pertanyaan paling penting, duitnya dari mana ya?
Bingung nih.




Monday, August 11, 2008

The Past-Midnight Caller


Terkadang, entah apa alasannya, Nino bisa bertingkah-laku sangat aneh dan menyebalkan.

Bayangkan saja, apapun dasar logikanya, rasanya tidak bisa membenarkan tindakan Nino yang menelponku hanya untuk menanyakan apakah aku tahu atau pernah mendengar Bright FM dan di mana lokasi kantor stasiun radio berada, … saat waktu masih pukul 2 dini hari!

Padahal saat aku terbangun tergeragap akibat nada dering yang mengagetkan lantas melihat jam di sebelah ranjang dan meraih telpon genggam yang terus berdendang kencang, benakku bertanya-tanya keadaan darurat macam apa yang membuat seseorang menelpon di jam kuntilanak sedang gentayangan mencari mangsa macam ini.
Saat melihat nama si penelepon, aku berpikir sejenak dan otakku berputar cepat, menduga-duga kondisi kritis macam apa yang sedang Nino alami dan apa respon terbaik yang bisa kuberikan di saat-saat semacam ini.

Dugaan kondisi kritis # 1: Nino lagi kegatelan lantas iseng mangkal di Lapangan Banteng. Sialnya, kebetulan malam itu lagi ada razia dan sukseslah dia digaruk Tramtib dan digelandang ke markas Polsek terdekat. Lantas Nino yang tentu saja ga pengen ibunya tahu aib tersebut mencoba menghubungi teman-temannya yang kira-kira bisa membantu mengeluarkan dia dari kantor polisi.
Respon terbaik: Pura-puranya saja aku lagi di rumah saudara di luar kota (Bandung, mungkin?) jadi tidak bisa membantu menjaminkan dirinya keluar dari tahanan.

Dugaan kondisi kritis # 2: Nino lagi kegatelan saat dugem di Stadium terus nemu yang sama gatelnya kaya dia, terus nyangkut deh mereka berdua di kos-kosan teman kencan kilatnya di daerah Karet. Berhubung dia sedang apes dan karena daerah itu memang sering jadi target Operasi Yustisi Polda Metro Jaya, mereka berdua tertangkap basah berduaan tanpa busana di dalam kamar lantas digelandang ke kantor Polsek terdekat. Jadi Nino butuh bantuan seorang teman yang bisa dipercaya untuk menebus dirinya keluar dari kantor polisi.
Respon terbaik: Kalau ada duit cukup buat nebus, ya ditolong (buset dah! kok kaya barang di Perum Pegadaian ya?), kalo tidak ada duit ya terpaksa membiarkan Nino nginap dulu barang sehari di dalam sel. Sekalian biar dapat pelajaran (mahal). Siapa juga yang mau bayar oknum-oknum polisi yang suka memeras itu? Apa mau dikata, kalo begini kondisinya, aku ga mungkin bisa maksa ngebantu dia.

Dugaan kondisi kritis # 3: Nino lagi apes, keluar dugem atau habis entertain klien terus asal naik taksi di pinggir jalan untuk pulang ke rumahnya di Cibubur. Dasar sial, akibat matanya burem kebanyakan minum alkohol jadi sembarangan pilih taksi, eh malah dirampok oleh sopir taksi abal-abal itu beserta komplotannya. Tau sendiri lah kriminalitas dalam taksi makin meresahkan saja belakangan ini, apalagi mengingat penampilan Nino yang blasteran netjis seringkali membuat orang-orang berpikir hidupnya tak pernah berkesusahan. Untungnya (ya, masih ada “untung” juga dalam kondisi apes macam itu), dia tidak dilukai dan handphone-nya tidak diambil. Jadilah dia menelpon teman yang bisa dipercaya untuk menjemput dia di manapun saat itu dia berada.
Respon seharusnya: Harus segera bangkit dari kasur dan bergegas mencarikan pertolongan, tak perduli masih subuh sekalipun. Ini adalah masalah perikemanusiaan yang adil dan beradab.

Dugaan kondisi kritis # 4: Nino horny. Eh, tapi kondisi ini seharusnya tidak ada sangkut-pautnya denganku ya? Lagipula aku juga tak akan mau menemani dia berburu kupu-kupu malam di Hayam Wuruk.
Respon seharusnya: Rasanya tidak perlu dijawab telpon ini.

But anyway, what really happened adalah aku tetap menekan tombol ”Yes”, mendekatkan handset telepon genggam ke telingaku, dan mendengarkan suaranya yang nyaring itu menyapa.

Namun ketika mendengarkan maksud dan tujuan dia sesungguhnya menelpon di malam buta sebagaimana yang telah disebutkan di awal tulisan ini, sempat emosiku meningkat memuncak dan aku nyaris membanting telepon. Tapi niat tersebut kuurungkan. Rugi banget merusak telpon genggam sendiri karena keanehan orang lain.
Tapi memang, sudah gila apa ya dia? Tidak berpikir dulu sebelum menelpon orang lain pada jam 2 pagi. Padahal, istilahnya, aku sudah bersiap untuk mendengarkan hal-hal terburuk darinya.

Siang hari berikutnya sehabis lunch, kepalaku terasa pusing, berat banget. Pasti proposal TV program baru itu salah satu biang keladinya. Bisa bikin trauma apabila bekerja dengan klien yang nyaris tidak memiliki sense of time-contingency plan. Kalau meeting suka berlama-lama, tapi esensinya tidak terlalu dalam dibahas, karena justru lebih terasa seperti ngobrol ngalor-ngidul di warung kopi. Memangnya klien cuma situ seorang?! Hhmmppff ...

Kucoba relax dengan memutar CD kompilasi lagu terbaik Diana Krall. Jadi ingat bulan depan dia akan perform live di sini. Sita sudah memintaku temani dia menonton sejak akhir Juli, dengan iming-iming dibelikan satu lembar tiket. Pasti bukan Diamond Class, but ...
Menarik juga sih tawarannya, tapi aku lebih cenderung memilih untuk tidak menerima tawaran tersebut. Menemani istri orang lain ke acara semacam itu bisa jadi berbuah persoalan di kemudian hari, terlebih lagi bila begitu banyak orang yang mengenal Sita tahu bahwa sang suami yang pengusaha ternama itu jelas-jelas sedang menunaikan tugas di luar negeri. Kalau sampai dipotret berduaan untuk lembar sosialita majalah manapun, bisa jadi perkara.

Berbicara tentang lembar sosialita, jadi ingat Daniel, yang lebih dikenal di antara teman-temannya sebagai The Tatler Darling.
The reason: because he always showed up multiple times in every edition of Tatler magazine.
Terkadang apabila bertemu dirinya dengan segala kesibukan dan kehebohannya yang khas, bisa membuat orang bertanya-tanya tentang profesi dia yang sebenarnya. Atau jangan-jangan dia dibayar Tatler untuk meliput acara-acara sosialita itu ya? Such a possible idea, until one look for his name di antara nama-nama anggota redaksi dan tidak menemukan nama Daniel di situ.

Lucunya, saat Daniel berkenalan dengan William, dia mengaku sebagai eksekutif di salah satu advertising agency terkemuka yang berkantor pusat di salah satu negara Eropa. Mungkin itu salah satu triknya untuk bisa mengakrabkan diri dengan William. Dan mungkin karena terlalu mudah percaya pada itikad baik orang lain, seperti Serena van der Woodsen, William percaya saja pada Daniel, until one day I met Daniel in a meeting and he was the one representing a famous local record label. Membingungkan. Tapi sepertinya bukan urusanku untuk mengkonfrontir Daniel. I don’t really care whether he was telling the truth to William or not. Would rather distance myself with this kind of issue.

Tapi kalau soal urusan telpon-menelpon di jam-jamnya Regular Joes sedang terlelap tidur, nah yang ini jelas aku tidak bisa mengambil sikap acuh. Seenaknya Nino menelponku jam 2 pagi. Harus kubalas! Tapi dengan apa ya? Rasanya setelah dipikir-pikir ulang, better not make a fuss about this one. Biar sajalah, siapatau memang pada saat itu Nino sedang dalam kondisi kebingungan menjurus panik, because I know he needs to find a job that pays well really soon.

Oh, darn! Talking about job that pays handsomely, jadi ingat kalau aku belum mengurus reimbursement transportasi bulan ini. Sekali jalan sih jumlahnya tidak banyak, tapi kalau diakumulasikan satu bulan, bisa setara dengan harga sebuah Zara Men’s bag. Jumlah yang lumayan banget kan.
Awalnya aku tidak terlalu peduli dengan urusan hitung-menghitung ganti ongkos transport ini, simply because I was too lazy collecting all data and receipts and calculate all those numbers, sampai ketika seorang teman yang bekerja sebagai kepala divisi marketing sebuah brand kosmetik premium dari luar negeri beralasan keterlambatannya datang ke acara ngopi-ngopi karena harus mengumpulkan semua tiket parkir, tol dan strook bensin dan mengurus reimbursement-nya ke divisi finance terlebih dahulu.
And this friend actually earns multi-millions more than what I make monthly.

Oh, well. The irony of life.