Showing posts with label book. Show all posts
Showing posts with label book. Show all posts

Wednesday, September 2, 2009

You Are What You Read of 2009


I know it’s only September, and the end of 2009 is still 3+ months away. But when a friend tagged me in one of her notes – which I copied and pasted below, but obviously changed her answers with my very own first – I was tempted to give it a shot.

The rules are simple: you have to answer these following questions using only book-titles which you have read in 2009. You are also expected not to repeat the titles.

Piece of cake, right? And now, you can read my answers. Here they go!

* * *

Describe yourself: The Great Gatsby (F. Scott Fitzgerald)

How do you feel: Possible Side Effects (Augusten Burroughs)

Describe where you currently live: Ghost World (Daniel Clowes)

If you could go anywhere, where would it be: The Mysteries of Pittsburgh (Michael Chabon)

Your favorite pastime: Sex After Dugem – Catatan Seorang Copywriter (Budiman Hakim)

Your favorite form of transportation: The White Tiger (Aravind Adiga)

Your best friend is: Spring-Heeled Jack (Philip Pullman)

You and your friends are: The Three Robbers (Tomi Ungerer)

What's the weather like: Silence (Shusaku Endo)

You fear: The Catcher in The Rye (J. D. Salinger)

What is the best advice you have to give: Almost Everything (Joelle Jolivet)

Thought for the day: More About Nothing (Wimar Witoelar)

The most precious thing in your life: Egg in The Hole (Richard Scarry)

How you would like to die: When You Are Engulfed in Flames (David Sedaris)

Your soul's present condition: Dan Damai di Bumi! (Karl May)

* * *

Not only very easy, this is also fun. Don't you think so? So why don’t you give it a try?

Wednesday, August 19, 2009

Alfonso, Alfonso.


Untuk ‘merayakan’ hari berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-64, di minggu hari merdeka kuputuskan untuk membaca satu buku yang kunilai cukup mewakili semangat kebangsaan dan nasionalisme. Judulnya Kopi Merah Putih Obrolan Pahit Manis Indonesia, karya sekumpulan orang yang menamakan diri mereka Indonesia Anonymous.

Berhubung judulnya saja sudah ‘obrolan’, isi buku ini ya semacam rangkuman dari perbincangan iseng ngalor-ngidul tentang hal-hal yang (seharusnya) menjadi isu penting di negeri ini. Namun ternyata, selain topik tentang listrik dan pendidikan, mayoritas pembahasan tidak terlalu menarik perhatianku. Yah, namanya saja ‘obrolan’, tidak memberikan lebih daripada saran-saran ideal. Kurang menarik lah kalau ”cuma” begini doang, pikirku.

Lalu tiba-tiba aku tersentak. Kaget! Bukan karena content buku itu, melainkan oleh benakku yang baru saja mengingatkan bahwa tadi sore buku ini diendus-endus dan dijilat-jilat sampai basah oleh Alfonso. Wedew! Langsung poseku yang tadinya santai membaca sambil tengkurap, bangun dan refleks melempar Kopi ke lantai. Meskipun kemudian, ketika aku teringat satu fakta ilmiah bahwa seharusnya mulut Alfonso lebih bersih daripada mulutku sendiri, dengan perlahan kupungut lagi buku itu dan kembali membalik halaman-halamannya untuk mulai kembali melanjutkan membaca.

Pertanyaan sekarang: Siapakah Alfonso?

Jawaban: seekor anjing golden retriever berusia 8 bulan yang bertugas menjaga Oakwood Plaza, bergiliran dengan seekor doberman dan seekor rotweiller.

Si Alfonso ini lucu sekali! Dia selalu tampak diam-diam saja atau sambil mengendus-endus jalan yang dilaluinya saat dibawa oleh petugas keamanan yang memegang talinya. Tapi begitu bagian kepala dan belakang telinganya digaruk-garuk sambil ditepuk-tepuk, dia akan mulai memperlihatkan sifat aslinya yang lucu. Tidak bisa diam dan minta diajak bermain. Pertama kali kuajak dia bermain saat itu, lenganku digigit-gigit sampai basah berlumuran liurnya. Mungkin karena lengan bawahku terlalu kurus, mirip tulang. Saat hendak kutinggalkan, Alfonso tampaknya malah protes dan mencoba melompat ke tubuhku hingga ia berdiri dengan kedua kaki belakangnya. Aduh lucunya! Alangkah menggemaskannya!

Mendadak jadi pengen punya anjing golden retriever milik sendiri yang bisa diajak main kapan saja aku suka. Tapi setelah dipikir-pikir, anjing ras macam ini butuh modal lumayan untuk membuatnya tetap lucu dan menggemaskan. Jangan sampai karena diberi makan nasi padang seperti kesukaan majikannya, lantas bulu-bulunya rontok. Kasihan dia nanti.

Selain Alfonso si golden retriever, aku juga sempat berkenalan dengan si rotweiller. Tapi dia begitu pemalu, selalu mencoba menjauh setiap kali kucoba membelai dan menepuk kepalanya. Entah karena takut, atau ada alasan psikologis keanjingan lainnya? Yang jelas, tidak seru rasanya mengajak seekor anjing bermain, atau minimal bersalaman, apabila semakin didekati dia malah semakin menjauh.

Alfonso dan teman-temannya mulai bertugas menjaga Oakwood Plaza belum terlalu lama. Kalau tidak salah, sekitar 2-3 minggu setelah serangan bom di Ritz-Carlton dan J.W. Mariott Hotel. Berhubung lokasinya yang berdekatan, kurang-lebih hanya 100 meter dari tempat kejadian perkara, pihak management Oakwood Plaza sepertinya tidak mau mengambil resiko, dan memilih untuk meningkatkan pengamanan hingga berlapis-lapis. Bayangkan saja, berdasarkan pengamatan sederhana dan perhitungan kasar, paling tidak selalu ada 12-14 orang security guard yang bertugas menjaga dan mengawasi setiap pintu masuk dari area luar (tidak termasuk petugas keamanan yang berjaga di setiap pintu masuk ke dalam setiap establishments). Masing-masing empat orang petugas di area keluar-masuk kendaraan, dan dua orang untuk setiap area keluar-masuk pejalan kaki.

Terlalu berlebihan? Tidak juga. Ini penting mengingat Oakwood Plaza memiliki Loewy, yang menjadi salah satu tujuan favorit bersenang-senang orang-orang asing / ekspatriat di Ibukota. Dan Loewy ini, jujur saja, tanpa pengamanan ketat dari para security guards, akan terlalu terbuka dan rentan untuk menjadi target serangan para bajingan pengecut yang mimpi masuk surga itu. I love hanging out at this place, not only at Loewy, but in the place as a whole. Oleh karena itulah, selalu kuusahakan untuk tidak merasa keberatan dan terganggu setiap kali harus membuka tas di hadapan para petugas pengamanan itu, dan selalu tersenyum setiap kali mereka selesai memeriksa tasku dan mengucapkan terima kasih. Mereka – dengan menyadari segala resiko pekerjaannya – sedang menjalankan tugasnya untuk menjaga keamanan dan kenyamanan para pengunjung Oakwood Plaza. Dan tentunya, bekerja dengan tekun termasuk ibadah, bukan?

Hhmh, jadi pengen bermain-main dengan Alfonso lagi.

Monday, June 1, 2009

This Summer's Good Reader


It’s June already!
Don’t you think its quite funny how time flies?

I woke up lazily this morning, June 1st, and clicked on the TV to find a talkshow segment in tvone about the Pussycat Dolls concert in Jakarta, scheduled for tomorrow night. These sexy cats and dolls arrived last night straight from Down Under. Even though I won’t watch PCD live on stage, somehow watching them smile and all to the cameras made me feel a bit relaxed and strangely relieved. So I guess Indonesia is now officially out and off of the travel warning list by the U.S. of A.!

On the sidelines, June also marks the beginning of the sunny months. It’s summer, people! Welcome the warm and more often than not, hot days!

Summer is also the time to attach myself with one of my favorite activity: reading of as many books as possible, before the monsoon begins and then it’s much more tempting to sleep under my thick blanket than reading any (good) books.

I’ve already finished my first novel of this summer; it’s “The Catcher in The Rye” by J.D. Salinger. I believe you know what it was all about, so I’d rather not say anything. Looking at my short bookshelf this morning that is now over-occupied by too many books, somehow I really get excited about months to come.

I plan to finish “More About Nothing” by Wimar Witoelar tonight. He’s my best friend’s father in law. I saw in his Facebook profile this morning that he’s going to be a guest at Pagi Jakarta next Thursday. Mark the calendar. I’m curious whether he can beat Erwin Parengkuan again this time at his own show, just like the last one when they talked about Citizen Journalism.

There are also some children’s books I just bought from a sale in Grand Indonesia yesterday; ranging from “Spring-Heeled Jack” by Philip Pullman, to some Astrid Lindgren’s. These books are going to be my summer reads, obviously. Summers are intended for pop and leisure and fun, aren’t they?

What about you, friends? What books are going to be on your bedside table? How about in your beach bag? And what about the one(s) you’re going to bring with you on vacation? How many books do you think you can finish before the monsoon begin?

Let’s challenge ourselves! Be one of this summer’s avid book readers!



Wednesday, April 1, 2009

I Just Don't ...


... celebrate April Fool’s Day.

Bukan karena hari ini berawal dari tradisi Yahudi, seperti yang diyakini sepenuh hati oleh seorang teman yang sangat membenci orang-orang Yahudi tapi ternyata bertemu dengan seorang pun saja belum pernah.
Dan bukan juga karena April Fool’s Day seringkali hanya diperingati oleh orang-orang yang tingkat kedewasaannya pantas diragukan, karena ternyata tipu-muslihat yang dibuat seringkali dipikirkan dan dirancang secara matang dan seserius mungkin oleh para pelakunya yang sudah sangat dewasa dan matang dalam kehidupan sehari-hari.

What’s the reason then, you may ask.

Alasannya, adalah karena aku sudah sering mengerjai dan mengolok-olok teman-temanku hampir setiap hari. Tidak perlu menunggu datangnya satu hari khusus dalam setahun untuk bisa ngisengin orang.
Meskipun katanya, para korban April Fool’s Day tidak boleh marah-marah setelah tau kalau dirinya dikerjain. Kalau memang begitu, terus apa dong bedanya dengan para selebriti yang dikerjain Ashton Kutcher dalam acara Punk’d?

Oh well, tapi buatku pribadi, justru karena sering ngerjain teman itulah makanya jadi malas untuk mendedikasikan satu hari ini khusus untuk hal-hal iseng.
Rasanya akan jauh lebih baik dan bermanfaat apabila aku mengisi waktu dengan melanjutkan baca novel Michael Chabon yang jadi 'My Personal Book of April'.

Monday, March 2, 2009

The Life of Me


Time never waits for you. It just never stops.

It was just last night when it suddenly dawned on me that it’s already March of 2-0-0-9; and I haven’t write a single page of the first draft of my so called adult novel. I can make a list of reasons why I failed to compose at least a paragraph, but hardly able to consider it as serious barrier to even make a start. Simply put, I was just too lazy.

I should have take lessons from the movie which I watched last night, “Das Leben der Anderen”. The writers of then East Germany faced constant scrutiny from the secret police, Stasi. Yet, the most rebellious of the league always tried to put down in words whatever they had in mind, and found ways for it to be published. Even if their writings can cost them their dearly lives.

While I spend most of my times sit in this comfortably air-conditioned room, listen to any songs I like, and read any books or papers I can lay my hands on, not even a single page I produced for the past couple of months. Yet, I constantly remind myself that my mind is still ripe with these brilliant ideas that can be turned into literary gold. And that translates into best selling novels.

Talk about procrastinating. The only person I disappointed with this laziness is me.

Friday, January 23, 2009

"Maaf, Pak. Ada kartu lain?"



Ini adalah kejadian memalukan pertama, dan mudah-mudahan juga menjadi yang terakhir, yang kualami kemarin ketika mencoba berbelanja dengan menggunakan kartu debit “yang itu” (tidak menyebutkan nama bank yang mengeluarkan, karena rasanya tidak perlu dan memang kurang relevan dengan cerita yang ini).

Jadi ceritanya, kartu debit “yang itu” sebenarnya mengandalkan isi rekening tempat gajiku ditransfer setiap bulannya. Dan lazimnya yang kulakukan pada akhir bulan adalah, begitu gaji bulan berjalan ditransfer, isinya langsung didistribusikan lagi ke rekening bank milikku yang lain.

The problem is, sejak awal bulan ini aku sudah agak-agak mulai menyadari, sepertinya terjadi kesalahan pendistribusian gaji dan bonus bulan Desember 2008 lalu. Meskipun kesadaran ini datangnya relatif terlambat. Ada beberapa pos pengeluaran ekstra yang tidak kuperhitungkan sebelum mendistribusikan ke rekening yang lain. Akhirnya bisalah dikatakan, saldo yang disisakan di dalam rekening “yang itu” kurang memadai untuk men-support kehidupan bujangan metropolis pencinta mall ini.

Sebenarnya, kalau mengingat resolusi awal tahun ini untuk hidup lebih sederhana lagi, well, masih bisa aja sih survive dengan duit sekedarnya, mengikuti jumlah yang tersisa di dalam rekening. Namun seperti kata pepatah, manusia boleh berencana, tapi yang menentukan sih, lain lagi pihaknya. Inilah penuturan tentang pencobaan itu, yang menghantamku dengan keras kemarin banget, ketika lagi iseng-iseng selesai kerja malah kelayapan di Ritz Carlton Pacific Place.

Saat itu, sambil menunggu si Dia datang buat penuhi janji dinner bareng, aku memilih untuk keluyuran di aksara bookstore. Sebenarnya sih saat masuk ke dalam toko itu, tak ada niat sedikit pun buat beli buku apapun, sekali lagi, karena ingat pada isi dompet yang sangat terbatas.

Akan tetapi memang namanya nasib sering berkata lain, ya. Saking kelamaannya menunggu si Dia tiba di mall extra mahal ini, aku mulai melangkah ke rak-rak literature dan fiksi. Saat itulah aku dikejutkan ketika melihat label merah kecil menempel di cover belakang begitu banyak novel popular, maupun yang menang atau sekedar dinominasikan buat penghargaan literature bergengsi. Dan yang membuatku terkaget-kaget itu adalah, angka yang tertera di label merah kecil itu : 50.000. Hah?!?!

Dengan perasaan skeptis dan tak percaya, kutanyakan pada salah satu penjaga toko buku yang sedang asyik memindah-mindahkan setumpuk buku hard cover dari meja pajangan (pasti berat, siah!), apakah memang benar label harga merah itu bukan sebuah kekeliruan?

Dan coba tebak, si penjaga toko itu bilang bahwa harganya memang betul diturunkan jadi cuma 50.000 saja !! Mendapatkan jawaban afirmatif ini, langsung dengan penuh kesigapan, semua buku yang memang tampak menarik kutarik dari raknya untuk sekedar mengecek label harganya.

Saat aku mulai dijangkiti euphoria setelah menemukan banyak buku menarik seharga masing-masing hanya 50.000, tiba-tiba saja si Dia menepuk pundakku dari belakang. Quite a perfect timing, secara kalau tidak, bisa jadi akan ada setumpuk novel berbagai ukuran memenuhi pelukanku saat itu. Jadi teringat waktu QB World Bookstore closing sale, langsung saja membuatku mendadak kalap! Yaiyalah, secara semua buku didiskon 70%. Yabiiessh ... !!

Anyway, berkat petunjuk dan arahan dari si Dia (agar tidak boros dan malah membeli buku lebih banyak daripada yang bisa aku baca – ini hal yang sudah lazim banget terjadi padaku, a true bibliophiliae), akhirnya kuputuskan untuk memilih judul-judul berikut : “The Virgin Suicides”, “Ghost World”, “The Mysteries of Pittsburgh”, “Everything is Illuminated”, “Darkmans”, “Memories of My Melancholy Whores”, dan “My Mistress’s Sparrow is Dead”. Khusus untuk judul terakhir, berhubung cetakan hardcover jadi harganya lebih mahal daripada yang enam judul lainnya (IDR 100.000), tapi itu pun sebenarnya masih relatif murah dibandingkan harga aselinya (± IDR 275.000).

Lantas dengan penuh percaya diri aku berjalan menuju kasir dan menyerahkan setumpuk tebal buku-buku pilihanku tersebut berikut kartu debit “yang itu”. Sambil menunggu proses pembayaran, aku ngobrol dengan Dia. Saat tengah asyik berbincang-bincang, lelaki yang bertugas di kasir menyela percakapan kami dengan suara agak pelan dan terdengar sedikit ragu, “Maaf, Pak. Kartunya ada yang lain, ga? Yang ini di reject, katanya insufficient fund.”

Dan langit mendadak terasa runtuh menimpa kepalaku. Apaaaa … ?!?!?!

Saldo di rekening “yang itu” tidak mencukupi untuk belanja buku senilai IDR 400 ribu ?!?! Hastaga, malu banget rasanya. Apalagi kejadiannya di depan pacar sendiri. Si Dia sih dengan sigap langsung mengeluarkan dompet dan mencoba mengangsurkan salah satu kartu kredit gold-nya untuk melunasi pembayaran.

Meskipun aku tahu persis kalau si Dia tak akan pernah mempermasalahkan pembayaran yang cuma beberapa ratus ribu ini di kemudian hari, apalagi karena pengeluaran tersebut buat pacarnya sendiri. Tapi tetap dong, aku harus bisa menjaga gengsi pribadi. Apalagi kalau bukan persoalan ego dan harga diri seorang lelaki. Hehehe ... (*yang berkomentar nyinyir siap-siap ditonjok!*)

Tentu saja, sambil mengambil kembali kartu debit ”yang itu” dan mencegah si petugas menerima kartu kredit si Dia, dengan tegas kujawab, ”Oh, ga apa-apa. Bayarnya cash aja.” Dan untung bangetlah, saat itu uang tunai yang terselip di dalam dompetku yang mulai robek karena mulai uzur itu masih lebih dari mencukupi untuk melunasi transaksi semua buku tersebut (dan masih ada lebihannya untuk makan malam bareng Dia).

Setelah melunasi pembayaran, kami berdua pun melangkahkan kaki keluar dari aksara, dan aku setengah menulikan telinga dari beberapa pertanyaan bernada khawatir dari Dia terkait kondisi keuanganku sat itu.

Walk with pride, boy! Biarkan masalah hari ini menjadi masalah hari ini, dan yang besok pun demikian. Kurang lebih itulah salah satu kalimat bijak yang pernah kubaca di dalam kitab suci.

Pesan moral dari pengalaman memalukan ini adalah : ”Woy !! Ingat-ingat tuh Resolusi 2009 –mu !! Baru juga 3 minggu berlalu sejak Resolusi itu dibuat. Jangan sampai bikin malu lagi, ah !”



Friday, January 2, 2009

Beli-beli & Baca-baca



Lebih dari satu dekade lalu, seorang Menteri Pendidikan di era Orde Baru pernah menolak mentah-mentah permintaan dari banyak penerbit, agar pajak atas kertas diturunkan atau kalau perlu dihapuskan saja, sehingga tidak memberatkan para penerbit dan bisnis percetakan.
Diharapkan, dengan diturunkannya pajak kertas, akan berdampak pada kebangkitan kembali bisnis perbukuan (dan majalah serta perkoranan, pokoknya media cetak lah) yang telah lama lesu akibat harga kertas yang tinggi. Dengan berkurang/dihapuskannya pajak kertas, otomatis akan berpengaruh pada turunnya harga buku-buku (bermutu) dan berbagai media cetak lainnya, sehingga akan memudahkan pencapaian tujuan untuk meningkatkan minat baca bangsa ini, yang tentunya berimplikasi pada upaya-upaya mencerdaskan bangsa. Langkah ini sesuai dengan amanat yang termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Masih kuingat kala itu, sempat aku kaget saat membaca respon Bapak Menteri yang terhormat atas pertanyaan wartawan terkait permintaan penurunan pajak kertas. Beliau malah menganalogikan buku dengan kaset (jaman itu CD lagu masih mahal banget, dan lagu-lagu format .mp3 masih berupa mimpi masa depan yang bahkan banyak orang tak bisa membayangkan), bahwa orang-orang yang suka musik dan menggemari artis tertentu, semahal apapun albumnya tetap akan dibeli. Jadi dengan pe-de-nya si Bapak Menteri meminta orang-orang maklum dan nrimo saja harga kertas (dan buku serta majalah) yang tinggi itu.
Perhaps, in other words, secara ekstrem ini sama saja dengan mengatakan kepada orang banyak, “Jangan bawel deh elo-elo semua, beli aja kalo emang pengen baca buku! Kalo emang ga sanggup beli, ya jangan berisik!” (minta ditonjok nih kayanya).

Melompat kita ke masa kini, sekitar belasan tahun berlalu sejak Bapak itu tidak lagi menjadi seorang Menteri Kabinet Pembangunan. Aku sudah tidak mengikuti lagi kabar soal pajak-pajakan, jadi tidak tau persis apakah harga kertas sudah benar-benar turun signifikan atau tidak.
Yang jelas, belakangan ini, setidaknya berdasarkan pengamatan sudut pandang seorang awam, dunia penerbitan dan perbukuan di negeriku ini sudah mengalami peningkatan positif. Semakin banyak orang yang gemar membaca, meskipun tentu saja, kondisinya masih bisa lebih baik lagi daripada yang sekarang.
Ada banyak buku, baik yang isinya serius maupun tidak, yang mengalami cetak ulang hingga puluhan kali dan terjual ratusan ribu bahkan jutaan kopi, dan bahkan begitu populernya sampai-sampai diangkat ke layar lebar, dan mencetak rekor fantastis untuk jumlah penonton film nasional (semua pasti tahu, film “Ayat-Ayat Cinta” dan “Laskar Pelangi” yang sukses bikin Bapak Presiden SBY dan Wapres JK menangis).
Yang lebih menggembirakan lagi, aktivitas membaca buku bermutu mulai mendapatkan porsi yang relatif lebih besar di media televisi, seperti yang bisa kita lihat dalam program Kick Andy di Metro TV.

Tapi sebenarnya, betul sudah semakin baikkah tingkat minat baca bangsa kita? Bagi mereka yang hadir di Pesta Diskon Gramedia untuk menandai pembukaan Toko Buku Gramedia terbesar di Indonesia, yang berlokasi di West Mall Grand Indonesia, jawabannya sudah pasti: YA.
Sebagai gambaran, dapat kuceritakan apa yang kualami sendiri pada saat aku mencoba mencari Kamus Indonesia-Inggris kondang karya John Echols dan Hassan Shadilly, pada hari Sabtu tanggal 20 Desember.
Suasana hari itu sudah seperti lautan manusia yang nyaris chaos! Bisa jadi dalam satu kurun waktu tertentu saat itu, ada ratusan orang berjubel di kedua lantai toko tersebut. Semua berdesak-desakan, bolak-balik aku harus menyenggol dan menyikut orang lain saat melewati tumpukan ataupun rak buku tertentu. Belum lagi anak-anak kecil yang kehilangan orang-tuanya, maupun ibu-ibu yang berteriak-teriak memanggil-manggil nama anaknya yang hilang dari pandangan (tertutup padatnya manusia). Dan penyejuk ruangan di Grand Indonesia yang biasanya dingin menggigit, saat itu sama sekali tidak terasa saking berjubelnya pengunjung. Hanya setengah jam lebih sedikit aku menghabiskan waktu di dalam toko, tapi ketika keluar, sudah dalam kondisi lecek seperti habis keluar-masuk pasar tradisional. Tentu saja, minus lumpur dan becek dan bau amis ikan dan daging.
Menurut dugaan kasarku saja, setidaknya dalam satu hari ketika aku berkunjung itu saja, transaksi pembelian yang dicatatkan Gramedia Grand Indonesia mencapai ratusan juta rupiah. Dan ini adalah angka perkiraan yang pesimistis.
Jadi ternyata, bukan hanya tingkat minat baca orang-orang Indonesia saja yang meningkat, melainkan juga daya belinya, khususnya untuk memenuhi kebutuhan non-primer. Ini sungguh merupakan sebuah kabar baik bagi semua pihak, bukan?




Friday, November 28, 2008

Ini yang Katanya Piawai ?



Kalau ditanya, pos belanja apa yang paling disesali dalam bulan ini, jawabanku bisa jadi adalah, mengeluarkan uang sebanyak Rp. 32.500,- untuk membeli “Telaga Fatamorgana”. Ini adalah sebuah buku yang berisikan himpunan cerita pendek karangan Happy Salma.

Kalau ditanya kenapa bisa membeli buku ini, jawabnya, adalah karena rasa penasaran sehabis baca blurb-nya. Plus, fakta bahwa buku kumpulan cerita pendek Nona Salma sebelum ini yang merupakan debutnya di ranah sastra Indonesia berhasil mengantarkannya menjadi nominator Khatulistiwa Literary Award untuk kategori Penulis Muda Berbakat.

Awalnya ketika membaca bagian kata pengantar yang dijuduli ‘Menulis Sebagai Hidup’, sempat terbersit rasa heran karena dengan jujur Nona Salma mengungkapkan bahwa ada beberapa judul cerpennya yang ditolak untuk diterbitkan oleh beberapa publikasi / majalah karena dinilai kurang sesuai dengan visi media yang bersangkutan.

Namun setelah membaca lebih dari separuh isi "Telaga Fatamorgana", yang muncul dalam pikiran justru pertanyaan, jangan-jangan tujuh cerita pendek pertama dari duabelas yang dikumpulkan dalam buku ini adalah rejected short stories, karena menurut hematku, sungguh tidak ada satu pun yang berkualitas baik untuk dipublikasikan bagi konsumsi publik literasi. Bingung rasanya mencari-cari dimana letak kepiawaian menulis seorang Nona Salma yang diklaim demikian di bagian belakang sampul buku himpunan ini.

Mau ga mau meskipun enggan terlihat seperti orang sinis dan / atau nyinyir, aku jadi sedikit curiga dan bertanya-tanya, apakah buku ini dinilai penerbitnya layak terbit menurut hitung-hitungan bisnis lebih karena faktor nama pengarangnya yang sudah dikenal khalayak luas semata?

Anda pun bisa turut menentukannya, karena dengan senang hati akan aku pinjamkan buku ini. Silahkan mendaftar dalam kolom yang tersedia.

Wednesday, June 25, 2008

A Little Extra Attention is Very O.K. !

Menjelang ulang-tahunku yang ke … - hmm, sebaiknya tidak perlu disebutkan di sini biar tetap (berkesan sok) misterius – di awal tahun ini, beberapa orang menyempatkan diri untuk bertanya apa yang kuinginkan sebagai hadiah.

Secara bercanda kukatakan bahwa sayang sekali aku bukanlah anggota keluarga kerajaan Inggris Raya, karena kalau iya, aku tentu akan memberikan mereka daftar hadiah-hadiah yang diinginkan untuk merayakan ulang-tahunku, sort of my wishlist.
Waktu didesak lebih lanjut, kukatakan pada mereka bahwa aku menerima hadiah apa saja. Seikhlas orang yang mau memberi.

Kecuali pada R. Waktu dia menelpon untuk bertanya hadiah ulang tahun macam apa yang kuinginkan kali ini, secara jujur terbuka dan apa adanya kuceritakan padanya bahwa waktu lagi mengantarkan teman-teman perempuan berburu baju-baju murah meriah di ITC beberapa waktu lalu, aku sempat melihat boneka beruang lucu. Bentuknya sangat sederhana dan dibuat dari bahan kain berwarna coklat susu, dengan motif daun dan bunga yang seakan memberikan aksen pada kulitnya. Tangan dan kakinya bisa digerakkan 360° karena dihubungkan ke tubuh boneka dengan semacam engsel yang dibuat dari benda yang mirip potongan batok kelapa berukuran sebesar koin 100 rupiah lama. Untuk boneka beruang berukuran sedang, harganya hanya 80 ribu perak dan itupun kemungkinan besar masih bisa ditawar.
Waktu itu meskipun kepengen banget, tapi aku malu membelinya untuk diri sendiri. Sebab perempuan-perempuan itu pastinya akan bertanya-tanya untuk siapa boneka beruang lucu itu kubelikan. Karena mereka tahu saat itu aku sedang tidak berhubungan asmara dengan siapapun yang rasanya pantas diberi hadiah selucu dan menggemaskan itu.
Jadilah hanya kepada R aku mengadu. Loh, kok kedengarannya jadi seperti lirik lagu cengeng ya? Anyway, dia berjanji akan mencoba melakukan apapun yang dia bisa. Maklumlah, dia kan tidak tinggal di negara ini.

Haha! Aku pasti terdengar sangat konyol ya, menceritakan hal sesepele itu kepada orang lain.
Sebenarnya aku pengennya ada orang yang begitu baiknya kepadaku lalu memberikan hadiah laptop canggih dan keren, serta harus enteng sehingga bisa gampang masuk tas dan dibawa kemana-mana. Seperti yang diterima Sarah Sechan sebagai hadiah ulang-tahun. Tapi itu tentu tidak bisa dicontoh apalagi diharapkan. Soalnya yang memberikan hadiah itu kepadanya adalah ... suaminya sendiri! Hehehe ...

Lalu seorang kolega bertanya, hadiah macam apa yang kumau untuk ulang-tahunku kali ini. Mungkin dia masih merasa tidak enak karena beberapa waktu sebelumnya aku memberikan hadiah buku ensiklopedi untuk anaknya yang masih kecil. Harganya sih memang beberapa ratus ribu. Waktu itu kupikir harga hadiah dariku barangkali tidak akan semahal hadiah dari orang-orang lain. Sampai waktu acara ulang tahun si bocah, ternyata ... well. Ya gitu deh.
Bukannya mau sombong sih di sini, dan memang tidak pada tempatnya juga mengungkit-ungkit harga hadiah yang kita berikan untuk orang lain. Itu tidak pada tempatnya, dan artinya ga ikhlas juga memberi. Setidaknya itulah pendapatku pribadi.
Kembali ke cerita, akhirnya si ibu ini bercerita, sehari sebelumnya saat dia sedang berada di aksara Kemang, dia teringat untuk membelikan hadiah buku untukku. Biar lebih gampang aja, katanya. Namun kemudian saat keluar toko, ternyata dia batal membeli apapun.
Karena saat melihat deretan rak penuh berisi buku, dia malah jadi bingung sendiri dan takut malah membelikan buku yang aku tidak suka atau malah sudah punya atau sudah baca.
Lalu kukatakan padanya, harusnya lihat dari account goodreads-ku saja. Di situ aku membuat satu shelf – istilah mereka untuk pengklasifikasian buku sesuka hati menurut selera si pemilik akun – khusus berjudul ”wishlist”.




Tinggal buka section itu dan, voila! Terbukalah di hadapannya alternatif hadiah yang kuinginkan. tinggal pilih apa judulnya. Karena memang semuanya buku.
Tapi tentu saja buat kolegaku ini, usulanku itu sama sekali tidak praktis.
Lantas yang dilakukannya adalah menggratiskan celana panjang khaki yang tempo hari dia jahitkan untukku. Lumayan banget, secara waktu itu dia bilang harganya, termasuk bahan, kurang-lebih 175 ribu. Padahal itu celana sudah jadi dan kupakai sejak sekitar 3 bulan sebelumnya. Aku sih hepi-hepi saja diberi celana panjang gratis dan bagus pula. Ha! Ha! Orang yang ga mau rugi banget ya.

Tapi sebenarnya untuk yang beginian aku paling sering merasa parno sendiri. Seringkali merasa ga enakan. Dan takut kalau sampai dicap matre gara-gara pengennya dapat hadiah-hadiah mahal.
Padahal, kenyataannya aku paling jarang menilai hadiah dari price tag nya. Hampir selalu memberikan perhatian lebih besar pada keunikan dan manfaat hadiah tersebut. Serta niat yang memberi. Semakin tulus dan tanpa dikaitkan dengan maksud-maksud terselubung, semakin baik. Karena siapa sih orang yang tidak senang mendapatkan perhatian dari orang lain?
Seperti hadiah tote bag bergambar spaniard dari Indra yang dibelinya di Bangkok. Dia cuma bilang harganya murah tanpa menjadi lebih spesifik. Dan kuingat waktu itu dia agak malu dan sedikit ragu pas memberikannya. Barangkali dia pikir aku akan kecewa diberi oleh-oleh seperti itu. Tapi dia salah besar, karena aku suka. Simpel dan unik. Just like me. *wink!*

Tuesday, November 13, 2007

This Guy is ...

pretty much occupied with these ...





Widget_logo

Friday, October 5, 2007

"I do not love you ..."

I do not love you as if you were salt-rose, or topaz,
or the arrow of carnations the fire shoots off.
I love you as certain dark things are to be loved,
in secret, between the shadow and the soul.

I love you as the plant that never blooms
but carries in itself the light of hidden flowers;
thanks to your love a certain solid fragrance,
risen from the earth, lives darkly in my body.

I love you without knowing how, or when, or from where.
I love you straightforwardly, without complexities or pride;
so I love you because I know no other way

than this: where I does not exist, nor you,
so close that your hand on my chest is my hand,
so close that your eyes close as I fall asleep.



I do not love you ... is a poem written around 1950s by Chilean poet, Pablo Neruda, as the 17th Love Sonnets in his Cien Sonetos de Amor.

As far as I can remember, I never really like or understand any poem, not even my own which I wrote when I was still in middle school as a part of Bahasa Indonesia class’ assignment (mine was about an insomniac guy who suffered from chronic depression and decided to hang himself to die – reminiscing of it now, well, no wonder I hate it back then, and even still).

However, things changed after I watched Il Postino, an Italian movie set in the 1950s when Pablo Neruda was exiled to a small island in Italy and befriended with a local guy name Mario Ruoppolo who became his personal postman – thus came the title of this beautiful movie.
Neruda tried his best to explain what poems are all about – as similes and metaphors – to his new friend : by explicating to him that that’s where the beauty of them lay, on not in the literary meaning but in the comparisons of things.

I browsed the web searching for Pablo Neruda after watching this movie, and found the sonnet cited above. Originally he wrote it in Spanish, and I didn’t find any piece of information as who translated it into English. However, the 17th Love Sonnet still mesmerized me; it captured my attention and was so absorbed by it, I wrote a copy of it in my scrapbook which I always bring everywhere when I was still studying in university.

I could say for sure that I fell in love with that specific sonnet, not knowing that it was also used in a movie.

Inspired by what Mario did with one of Neruda’s poems he found in the poet's house – he used one it to attract a beautiful girl he loves long before Neruda set foot upon the tiny Italian fishing village – I did almost the same.

Almost, because I wasn’t quite sure that I love this girl who lives in a boarding house a couple of blocks away from mine, but was very curious to find out what would happened if I pretend to her and her friends that I like her.
Out of sheer curiosity.
Perhaps, this insincere act I am about to tell you below was driven solely by all of her friends whom told me that she had a crush on me.

Knowing that her 20th birthday is just around the corner, I called her pretending that I wanted to talk about some things. Later before we ended that conversation, she invited me to come over to her room the next evening.
So I prepared an Il Postino novel, written by Antonio Skármeta, and inserted a small Harvest card on which I wrote the “I do not love you ...” sonnet.

We chatted for about an hour before I presented her my gift. She was surprised and seemed very contented with the book, telling me that she just watched the movie she and her friends rented on VideoEzy the weekend before. Of course, I deliberately failed to mention that it was supposed to be an ahead of time birthday gift instead of a casually surprise one.
Flipping through the pages, she eventually found the card and read it. I noticed how her expression changed while reading it but unable to guess what she felt that moment. All I can say was that I sensed everything was gradually changed into an awkward situation. To make the long story short, my visit ended in half an hour later.

I held myself from contacting her until a week after her birthday, pretending I forgot it. When I finally met her that particular evening, she looked and acted normal to me, as if nothing awkward ever happened a fortnight ago. During our brief met-up, she never mentioned anything about that night. And when I finally asked her if she already read or even finished the book, she told me she got loads of assignment from her professors and couldn’t find time to read it. And then we just continued talking about everything else but that book. Especially not that small card written with Neruda’s 17th Love Sonnet.

It has been almost eight years since that particular night. I haven’t heard anything from her after I moved into Jakarta four years ago. But last year when I met Renee, one of her closest friend which also happened to be mine, she told me that when she met that girl a year before, she still asked about my wellbeing. And from the way she talked to me, I even sensed that Renee also knew about that particular card which I gave to her friend.

I didn’t understand her (reaction) back then. And now I know that I still do.

All I know for sure is that I still wish that someday I will find a special someone that I love much to whom I can read that 17th Love Sonnet in our special moments, and to feel its true intended meaning each day, and to share its beauty together in our lives.