Showing posts with label history. Show all posts
Showing posts with label history. Show all posts

Thursday, January 28, 2010

Those Three Months, I Remember



As I was walking down this narrow lane of Perugia
Stepping slowly on cobblestones that were set centuries ago
When all of the sudden I was almost ran down by this blue Vespa
Shocked and surprised, I screamed out foul words until this old Italian lady yelled, “Silenzio!”

She made gesture as if flicking a lamp’s switch off
Continued with another sign :
Sliding her thumb and forefinger across her lips as if shutting a zipper

I definitely got the message, didn’t need to ask her
That was a simple gesture I learned in kindergarten over 25 years ago
When our teacher wanted us to shut up and sit down quietly
Before starting the ritual of saying Lord’s Prayer

Instead I waved my left hand that wasn’t holding the brown umbrella
“Mi scusi, Signora,” said I, and walked away hurriedly
Surprised by my own ashamed feeling of having no guts to face this stern old Italian lady
Oh, I haven’t told you it was raining drizzly that day, eh?

A little trivia : I turned 30 that year
So I decided to give myself a birthday present
It was a 3 months vacation to Italy
The country that gave birth to a grand man
That millenniums later is known universally as an operation technique he was named after

It was surely the most amazing 3 months of my life
Good time partying with young people, citizen of the world
Strolling down traditional market, pocketful of loose changes with no idea what to buy
Flirting using sign language with a beautiful girl whose sad face framed with auburn locks,
Because she doesn’t speak English, and deaf ever since five

I can guarantee you, what a feat it was
Intellectually challenging, such a test to patience
Yet we could still find ways to communicate and
To share this love that knows no boundaries of races, religions or political views

It was the most amazing 3 months in my life
Because I could forget all my worries back home
Leaving them behind, and only have tomorrows to look upon
It was the time when horizon seems far enough, yet within reach

It was still a jolly good time when the last day finally arrived
As I sat down on Leonardo da Vinci airport’s cold steel bench
These random thoughts passing through my mind like cold wind blown from the sea,
“Hope I can return to this magnificent country, which cities are as old as civilization itself,”
“Hope that when I return, I will fall in love all over again with the beautiful life Italy has to offer ..."

“Oh, shoot! Hope I didn’t impregnate that beautiful deaf girl!”

Ah, questa dolce Vita!






Photo illustration courtesy of C.G. Salon in Fayetteville, Georgia, U.S.A.
Used for non-commercial purpose without permission.

Friday, April 3, 2009

Sebelum Sekarang



I get bored quite easily.

Hal ini sudah kusadari sejak empat hingga lima tahun belakangan ini. Itulah sebabnya mengapa sepertinya berganti pekerjaan tiga kali dalam kurun waktu tiga tahun tidaklah menjadi suatu hal yang terlalu membuatku pusing kepala. Kecuali tentu saja, saat-saat tidak ada uang karena tidak punya pemasukan rutin dan stabil. Tapi itu adalah cerita lain.

Kalau mencoba melihat-lihat ke belakang, dalam kurun waktu empat hingga lima tahun ini pun, baru sekarang ini tercipta stabilitas dalam hubunganku.
Eh, hubungan apa dulu nih?
Itu lho, yang kalau dalam situs pergaulan statusnya mestilah dicantumkan, dengan pilihan beragam, mulai dari Single hingga Married atau Open Relationship. Jadi judulnya aku sekarang sudah In a Relationship.
(Hore! Sebentar lagi anniversary pertama lho!)
Boleh saja empat hingga lima tahun lalu aku berganti pasangan setiap melewatkan Ramadhan. Tapi bagaimana dengan sekarang? Time to move on, dude, pindah sajalah ke ’jalur lambat’.

Ya iyalah. Meskipun terkadang masih terngiang ucapan Marcella Zalianty dalam salah satu sinetronnya yang tayang 3 tahunan lalu, ”Cowok setia itu membosankan!”, tapi kalau mau jadi lelaki dewasa dan bertanggung-jawab, pilihannya hanya ada satu dan memang cuma yang satu itu saja: setia!

Sebagaimana yang tersurat dalam lirik puitis sebuah lagu dangdut (Meggy Z., wasn’t it?), “Semut pun kan marah jika diperlakukan begitu” (baca: dikhianati), apalagi seorang manusia ! (untuk lebih spesifik lagi, ego seorang lelaki) Makanya kuputuskan dengan tekad bulat, untuk yang kali ini, aku harus bisa setia.
Sudah cukup lah rasanya merasakan apa itu yang namanya pilihan alternatif (baik menjadikan maupun dijadikan). Saat usia sudah mendekati senja kala dua warsa, tentu saatnya telah tiba untuk menentukan sikap.

Oh, no. Wait a minute.
”It’s Complicated”, katamu? Hah, that was so 2005 ! Masa jaya-jayanya Friendster tuh. Dan maaf saja bung, era itu telah berlalu. Biar saja status tak jelas seperti itu jadi mainan mereka yang usianya lebih muda, ... yNg mSTi bLJr NuliS bNr dL bRu nGmNg sX.

Berbicara soal belajar menulis dengan benar (yap! Itulah maksud sepotong kalimat sandi di atas itu), sekitar empat tahunan lalu aku masih sangat bersemangat untuk meluapkan segala macam campur-adukan bleh ide dan pemikiran yang menumpuk membentuk isi kepala ini untuk menjadi deretan kalimat bermakna. Sampai sempat berniat belajar khusus dengan menodong seorang teman untuk membantu membuatkan dan mengajarkan caranya menulis blog.
Eh, ketika si teman tersebut sekitar satu setengah tahun silam sudah berhasil menelurkan – atau karena dia seorang perempuan, apakah lebih pantas disebut memberanakkan ? tapi ini bukan untuk diperdebatkan – sebuah buku yang sebenarnya adalah kompilasi dari beberapa entry yang dianggap paling ciamik dari blog-nya, aku justru malah merasa mandeg dan bosaaaaann dengan blog kupu-kupu ku ini.
Kalau diandaikan, bisa jadi tiga tahun lalu aku masih merasakan romantisme d’amor sampai termehe’-mehe’ dicampur semangat membara layaknya seorang pejuang kemerdekaan dalam tekad dan niat untuk terus senantiasa memperbarui konten blog, ...

Tapi kalau sekarang?

Jawabannya sebenarnya mudah banget.
Kan sudah diberikan di awal tulisan ini.
Coba di scroll lagi back to the top. Atau pencet tombol Page Up.

Get it ? ;-))

Monday, March 2, 2009

The Life of Me


Time never waits for you. It just never stops.

It was just last night when it suddenly dawned on me that it’s already March of 2-0-0-9; and I haven’t write a single page of the first draft of my so called adult novel. I can make a list of reasons why I failed to compose at least a paragraph, but hardly able to consider it as serious barrier to even make a start. Simply put, I was just too lazy.

I should have take lessons from the movie which I watched last night, “Das Leben der Anderen”. The writers of then East Germany faced constant scrutiny from the secret police, Stasi. Yet, the most rebellious of the league always tried to put down in words whatever they had in mind, and found ways for it to be published. Even if their writings can cost them their dearly lives.

While I spend most of my times sit in this comfortably air-conditioned room, listen to any songs I like, and read any books or papers I can lay my hands on, not even a single page I produced for the past couple of months. Yet, I constantly remind myself that my mind is still ripe with these brilliant ideas that can be turned into literary gold. And that translates into best selling novels.

Talk about procrastinating. The only person I disappointed with this laziness is me.

Friday, February 27, 2009

Pertanyaannya: Diwariskan atau Dijual, ya?


Bagi seseorang yang baru untuk pertama kalinya melihat kondisi meja kerjaku di kantor yang sekarang, tentu akan timbul pertanyaan, “Bagaimana mungkin ada orang yang bisa kerja apapun dengan meja seperti itu ya?”
Wajar saja sih sebenarnya bisa muncul pertanyaan seperti itu. Soalnya, aku pun sebenarnya pernah menanyakan hal serupa pada diriku sendiri, “Kok bisa-bisanya ya aku kerja di meja seberantakan ini?”

Kalau misalnya meja yang dipenuhi tumpukan kertas dan berkas dokumen doang sih, itu sudah biasa. Rasanya, mayoritas meja kerja di seluruh kantor di dunia akan kurang-lebih sama kondisi dan tampilannya. Akan tetapi, karena di kantorku tidak memakai sistem kubikel untuk membatasi area personal setiap pegawainya, jadilah setiap orang dari kami mencoba menciptakan area personal sendiri sebatas ukuran meja kerjanya masing-masing.
Kalau beberapa spesies binatang tertentu menandai wilayahnya dengan urine, tentu saja kami memilih cara yang lebih beradab dengan praktek-praktek yang dapat diterima semua kebudayaan di muka bumi.
Ada yang menghiasi meja kerjanya dengan foto keluarga dan orang terkasih, ada yang cukup konvensional dengan hanya meletakkan stationeries dan beberapa aksen dekorasi pembangkit semangat (seperti hiasan meja bertulisan“Yesterday was History, Tomorrow is Mystery, and Today is Gift. That’s Why We Call It Present”).

Bagaimana dengan mejaku sendiri?
Wilayah personalku tercipta lewat tumpukan tinggi kertas, bisa berupa print-out naskah dan proposal, sampai ke majalah-majalah koleksi pribadi (yang sumbernya memang dibeli dengan uang sendiri maupun minta dibelikan, hingga yang “ditemukan” di café dan rumah makan berkelas di seantero Jakarta lantas dibawa pulang) yang dibuat menumpuk di sisi kiri dan kananku seakan membentuk benteng (jadi ingat temanku dulu sewaktu masih duduk di bangku SMP yang membentengi dirinya dengan tumpukan buku, tas dan macam-macam lainnya saat sedang ulangan karena takut dicontek, yang ga penting juga secara waktu itu aku lebih pintar darinya, ha!ha!); serta sederet souvenir dari klien dan teman-teman dekat yang dijejer dengan sepantasnya di atas meja (such challenge, karena mejaku sudah terlanjur penuh oleh buku dan majalah dan berkas dokumen). Oh ya, dan ada satu botol Absolut Vodka sisa perayaan tahun baru 2008 yang masih berisi vodka asli 1/8-nya.
Selain botol Vodka yang nyasar di meja kerjaku, kalau sekali tebar pandangan, sebenarnya bisa ditemukan benda-benda lain yang tampaknya out of place. Obviously, bukan karena aku tidak sengaja meninggalkan grooming kit di atas meja, meskipun pernah kejadian selama beberapa waktu akibat kesibukan pekerjaan yang memaksaku menginap di kantor dan tidur di atas sofa yang lapisan kulit imitasinya sudah mulai berubah warna (euw!), tapi adalah beberapa bentuk benda plastik aneka bentuk yang semuanya berfungsi sebagai wadah. Mulai dari semacam stoples berbagai ukuran, hingga ceret plastik! Bayangkan saja, ukuran tiap wadah yang tidak sama jelas membuat penuh meja, karena harus pandai-pandai mengaturnya.
Kalau kamu bertanya kenapa sampai ada wadah-wadah tersebut di atas meja kerjaku, well, jawabannya adalah karena ini semua merupakan hadiah dari salah satu klien pendistribusi produk-produk rumah-tangga (baca: Tupperware), yang tidak muat disimpan di laci meja dan tak sudi kuletakkan di pantry kantor ini. Lantas kalau ditanya kenapa tidak dibawa pulang saja, well, itu karena di kamarku sendiri sudah ada banyak produk Tupperware lainnya dan sampai kini aku masih merasa belum membutuhkan ekstra wadah apapun (padahal aku sudah sempat memberikan beberapa canister kepada sanak saudara dan handai taulan karena tidak ingin melihat barang-barang plastik itu menumpuk di sekitarku). Biar tidak tampak terlalu memenuhi meja, akhirnya dengan kreatif dan ‘cerdik’-nya, satu-dua barang kuletakkan di kolong meja meski implikasinya adalah agak sedikit menghambat gerak kakiku.

Kalau sudah begini, aku jadi heran dan bertanya-tanya sendiri, koq bisa ya ada orang-orang yang sepertinya begitu menggila-gilai aneka rupa produk Tupperware itu, dan bahkan sampai mengoleksinya? (Jadi teringat cerita bosku tentang mertuanya)
Seberapa banyak canister, tumbler dan teko plastik sih yang dibutuhkan oleh seseorang sepanjang hidupnya? Karena rasa-rasanya, hanya dengan mengumpulkan gift dari klien ini saja, aku sudah punya stok aneka wadah plastik yang cukup hingga akhir hayat. Bahkan mungkin saja, agak lebih daripada umurku sendiri, karena sifat plastik yang nyaris tidak bisa didaur ulang secara alami, sehingga kalau bentuknya tidak rusak karena mengalami kecelakaan, rasanya canister berukuran dua liter ini kelak bisa kuwariskan kepada anak cucu.

Atau, ... Kalau aku tawarkan untuk dijual kepada siapapun (through e-Bay, perhaps?), kira-kira ada yang berminat tidak ya?

Wednesday, December 24, 2008

Menolak Untuk Melupakan Sejarah

Wajah perempuan itu terlihat begitu tua, kulitnya yang berwarna kecoklatan ditandai bintik-bintik hitam dengan guratan keriput pertanda rentang usia yang sudah begitu lama menghirup udara Nusantara. Giginya hanya tinggal beberapa, itu pun seringkali tersembunyi di balik katupan bibir yang dulunya pasti penuh dan merah, namun kini sudah ikut keriput juga. Dengan suara terbata-bata sambil sesekali mengusap air mata yang menggenangi pelupuk mata, perempuan tua itu bertutur tentang pengalamannya mencari suaminya yang sempat menghilang seharian. Suaminya yang kemudian dia temukan menjelang senja dalam kondisi sudah tak lagi bernyawa, tersungkur di sawah yang basah oleh air hujan bercampur darah manusia bersama puluhan mayat lainnya.

Nama perempuan tua itu, Wanti. Malam tadi kulihat dia dalam tayangan ”Nama dan Peristiwa” yang disiarkan oleh tvone. Wanti adalah salah satu janda korban pembantaian Rawa Gede, sebuah desa kecil yang terletak di Karawang, Jawa Barat.

Sekitar 61 tahun yang lalu, saat perundingan Renville terkait penentuan kedaulatan Indonesia baru dimulai satu hari sebelumnya, sepasukan tentara Belanda mengepung desa Rawa Gede, dalam upayanya mencari dan menangkap para tentara pejuang Indonesia yang diperkirakan bersembunyi di desa tersebut. Setiap rumah di Rawa Gede didobrak masuk dan digeladah untuk mencari senjata maupun para pejuang yang barangkali tinggal bersama penduduk.
Seluruh penduduk berjenis kelamin laki-laki di atas usia 15 tahun kemudian dikumpulkan dan digiring ke suatu tempat. Mereka semua dibariskan berjajar dan ditanyai tentang keberadaan para tentara Indonesia. Tak satu lelaki pun mengaku tahu, tak seorang pun bisa menjawab interogasi tentara Belanda itu.
Yang kemudian terjadi adalah, tanpa melalui prosedur pengadilan, tuntutan maupun pembelaan, seluruh lelaki itu diberondong dengan senapan mesin oleh para tentara Belanda. Mereka semua dibantai di tempat. Satu persatu tubuh para lelaki itu roboh ke bumi, meregang nyawa atau mati seketika. Beberapa mayat yang sudah saling menindih bahkan masih ditembaki beberapa kali, untuk meyakinkan bahwa mereka semua sudah mati.
Darah pun mengalir membasahi pertiwi.

Tidak cukup sampai di situ, tentara Belanda masih terus mencari jejak para lelaki yang diduga sempat melarikan diri. Mereka diburu seperti hewan liar, dikejar dengan bantuan anjing pelacak. Setiap lelaki dewasa yang ditemukan, ditembak mati di tempat. Hari itu, 9 Desember 1947, ratusan jiwa penduduk sipil melayang di Rawa Gede.

Malam tadi, menyaksikan penuturan Ibu Wanti tentang hari kelam 61 tahun yang lalu itu, membuat perih hati ini.
Dengan suaranya yang lirih dan semakin terbata-bata sambil terus mengusap air mata, Ibu Wanti bercerita bagaimana seorang tetangganya memberitahu bahwa suaminya tercinta tewas ditembak tentara Belanda. Dalam kondisi tengah hamil 9 bulan, Ibu Wanti ditemani oleh ibunya pergi mencari mayat suaminya. Di bawah derasnya hujan yang dicurahkan langit yang seakan turut menangisi kepergian ratusan lelaki Rawa Gede, Ibu Wanti bersama ibunya terpaksa harus mencari-cari di antara tumpukan mayat lelaki yang saling tumpang tindih di tengah sawah. Dua perempuan ibu dan anak ini, dalam kedukaan yang mendalam, tanpa lelah terus mencari lelaki yang mereka kasihi, bersama dengan puluhan perempuan Rawa Gede lainnya. Setelah mayat suaminya berhasil ditemukan, berdua bersama ibunya, Ibu Wanti harus bersusah payah membawa mayat tersebut kembali ke desa untuk dimakamkan secara Islam. Tak bisa kubayangkan betapa hancurnya hati Ibu Wanti dan ibunya senja itu, karena imam sekaligus pencari nafkah keluarga mereka telah pergi untuk selamanya.

Malam tadi, baru untuk pertama kalinya aku mengetahui ada peristiwa keji semacam ini terjadi di negeriku Indonesia. Tak habis pikir rasanya, mengapa kejahatan perang semacam ini tak pernah masuk dalam catatan peristiwa di buku-buku sejarah yang kupelajari semasa sekolah.
Apakah nyawa ratusan lelaki dari sebuah desa kecil di Karawang yang direnggut paksa tersebut tidak bermakna apapun juga?
Dan mengapa, berdasarkan beberapa wawancara yang ditayangkan dalam program acara malam tadi, Pemerintah kita – termasuk para anggota Dewan terhormat – seakan turut menutup mata dan tidak peduli, tak pernah secara serius memperhatikan nasib mereka dan mendukung upaya advokasi para korban untuk memperkarakan kejahatan perang ini di Mahkamah Internasional?

Apakah sebegitu tidak relevannya bagi bangsa ini, penderitaan yang harus ditanggung oleh para penduduk Rawa Gede yang hidupnya berubah drastis untuk seterusnya, sejak hari naas 9 Desember, 61 tahun yang lalu itu?

Apakah kita ’diharapkan’ lupa pada sejarah perjuangan bangsa ini – serta seluruh pengorbanan yang diserahkan oleh para pendahulu kita – saat berupaya mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Negara Indonesia?

Aku memilih untuk tetap ingat. Setidaknya dengan caraku sendiri.
Itulah sebabnya aku membuat tulisan ini.


Friday, October 24, 2008

Hargai Hidup, Nikmati Musik !


Mungkin saja apabila ada pihak-pihak tertentu yang kebetulan sedang mencari contoh dari sesiapa yang layak dikategorikan sebagai Generasi MTV, bisa jadi aku adalah salah satu sampel yang bisa diajukan. Meskipun sebenarnya, aku mengenal MTV baru sekitar akhir dasawarsa ‘80-an dan awal ’90-an, ketika MTV telah melewati usia 5 tahun dan aku sendiri berusia hampir dua kali lipatnya.

Saat itu, menonton MTV menjadi semacam “candu” hiburan yang bisa membuatmu betah duduk terpaku menonton selama berjam-jam. Padahal apabila mencoba kembali mengingat masa-masa itu, sulit rasanya membayangkan betapa aku bisa terpesona melihat penampilan band rock maupun group vocal dengan dandanan baju penuh warna dan kemerilip, pulasan make-up yang untuk standar sekarang hanya mungkin terlihat ketika akan menyambut Halloween, dan yang paling penting ... rambut megar bak surai singa!

Namun aktivitas menikmati musik dan lagu itu benar-benar menyenangkan. Siapa juga yang bisa menyangkalnya? Aku sendiri menjadi semakin teryakinkan tentang hal ini, ketika tadi pagi mengecek koleksi lagu di dalam PC, dan menemukan lebih dari 2600 track audio berupa lagu dan musik dari berbagai genre serta lintas generasi dan setidaknya mempergunakan empat bahasa, yang apabila diputar back-to-back tanpa putus (non-stop), akan membutuhkan waktu lebih dari 190 jam untuk memperdengarkan semuanya.

Barangkali, kesukaanku pada musik kurang lebih sama dan berakar pada manusia purba yang hidup belasan ribu lebih dulu daripada aku. Sebagaimana yang bisa dibuktikan dari temuan-temuan sejarah, musik dan lagu adalah salah satu bentuk kesenian yang paling awal diciptakan oleh manusia, bahkan jauh sebelum mereka mengenal aksara dan sistem perdagangan purba.

Terlepas dari beberapa resistensi yang dilakukan oleh sementara pihak terhadap perkembangan jenis musik dan lagu tertentu di berbagai era – generasi senior yang sekarang berusia di atas 50-an tahun di negeri ini tentu masih bisa mengingat bagaimana almarhum Presiden Soekarno di masa-masa jayanya pernah melarang peredaran dan dimainkannya musik ngak-ngik-ngok semacam The Beatles di seluruh Nusantara – tidak bisa dipungkiri kalau musik selalu berkembang pesat seiring perkembangan kebudayaan umat manusia.
Hingga hari ini, ada begitu banyak jenis ragam genre maupun subgenre yang telah diciptakan manusia, niscaya akan membuat pengkategorian dalam penghargaan musik harus lebih spesifik dan beragam apabila ingin merangkul semua aliran yang ada.

Kembali kepada diriku sendiri, susah rasanya menyebutkan jenis musik apa yang paling kugemari. Biasanya aku akan menjawab yang paling gampang : pop, tanpa bisa menyebut secara spesifik. Padahal kalau melihat koleksi musikku berupa kaset dan CD, bisa jadi akan sedikit membingungkan mereka yang ingin membuktikan pernyataanku ini. Barangkali tidak bisa dipungkiri betapa besar pengaruh MTV dalam menentukan selera musikku, khususnya terkait artis-artis dan musisi-musisi internasional.

Namun bagaimana dengan pengetahuan dan selera tentang artis dan musisi lokal? Bagi mereka yang pernah mengenal masa-masa jayanya TVRI sebagai satu-satunya saluran televisi nasional di era 1980-an, pasti sudah akrab dengan program Album Minggu Kita, Selekta Pop dan Aneka Ria Safari. Kedua program inilah yang bisa dinilai paling bertanggung jawab dalam membentuk selera musik seluruh penduduk nusantara. Sama seperti yang terjadi di keluarga kami. Tiap hari Minggu, kami sekeluarga ketika melakukan aktivitas apapun, cenderung memilih yang bisa dilakukan sembari menonton televisi. Terkadang, kami sekeluarga bahkan tidak melakukan apapun selain semuanya duduk di posisi masing-masing, Bapak dan Ibu di kursi, sedangkan anak-anaknya dalam berbagai pose, mulai dari ikut duduk di sofa sampai menggelesor di atas karpet, semua mata tertuju ke layar kaca, menikmati barisan penyanyi Indonesia yang muncul bergantian untuk berdendang dan bergoyang.

Masih bisa kuingat samar-samar kemunculan grup band yang kini legendaris, Slank, dengan lagu hit pertama mereka, “Suit Suit He He”. Saking terkagum-kagumnya dengan lagu itu, aku dan adikku sampai menulis surat untuk kakak kami yang paling tua yang baru saja masuk kuliah, surat pertama kami untuk anggota keluarga sendiri, dan kami berdua sampai mencantumkan judul lagu Slank itu di bagian akhir surat. Entah untuk tujuan apa, konyol juga rasanya bila diingat sekarang.

Siapa juga yang bisa lupa dengan grup rock asal negeri jiran, Search, dengan hit fenomenal, ”Isabella”? Lagu yang sempat dilarang peredarannya di negeri kita dengan alasan agama. Masih bisa kuingat bagaimana seorang teman sekelas di sekolah dasar, seorang anak perempuan yang tiap kali pelajaran kesenian ketika kami disuruh maju satu demi satu untuk menyanyi, dia akan menyanyikan ”Isabella” dengan penuh penghayatan hingga bercucuran air mata. Sesuatu yang bukan hanya bisa dilakukan oleh Kellie Pickler seorang.

Bagaimana dengan aku sendiri? Malu rasanya bila kini mengingat masa itu, repertoire andalanku ketika giliran menyanyi di depan kelas tiba, adalah lagu-lagunya Julius Sitanggang, mulai dari ”Danau Toba” hingga ”Maria”.

Ada sisi positif juga bertumbuh-kembang di dalam keluarga yang sangat menyukai musik. Keuntungan paling gampang adalah, bisa mendukung pekerjaanku sekarang. Tanpa bermaksud tepuk dada tanya selera (seperti rumah makan padang), aku jadi bisa tahu banyak lagu lintas generasi melebihi yang diketahui oleh atasanku. Bahkan pengetahuan tentang lagu-lagu dan artis-artis musisi yang kumiliki lebih ekstensif daripada petugas talent koordinator kantorku. Terkadang, dia malah jadi repot mencari contact person musisi yang dia belum pernah dengar karena aku yang minta untuk mendukung konsep acara rancanganku. Demikian juga ketika sedang menikmati masa-masa bersantai bersama Dia, entah itu di lounge maupun di nightclub tertentu. Acapkali Dia terkejut dan kagum karena aku tahu lagu apa yang sedang diputar di P.A. atau dimainkan langsung oleh penampil saat itu.

Dan karena selalu ada dua sisi dari setiap cerita, maka tentu saja ada sisi (agak) negatif dari hal ini. Salah satunya yang sempat membuatku malu, adalah ketika jajaran senior management dan direksi salah satu bank terbesar di Indonesia, atas usulan asal-asalan atasanku, memintaku menyanyikan satu-dua bagian dari lagu Dewi Perssik yang rencananya akan mereka jadikan main entertainer dalam acara mereka. Meskipun aku tahu persis lagu apa yang mereka ingin dengar, tapi tidak mungkin rasanya aku memenuhi permintaan yang satu itu. Alhasil saat itu suasana berubah menjadi sangat tidak enak dan kikuk sekali bagiku, ketika para bos itu menatapku menungguku bersuara dan berdendang, sedangkan saat itu dengan ketetapan hati kuputuskan tak akan ada kekuatan apapun di muka bumi ini yang bisa memaksa aku saat itu membuka mulut dan menyanyikan bait demi bait “Mimpi Manis”.

Hidup di dunia bisa jadi belum lengkap tanpa bisa menikmati musik. Namun ternyata, sebagaimana yang dibuktikan sendiri olehku, punya kemampuan yang relatif lebih dalam mengapresiasi musik tidak selamanya berbuah manis. Tapi apakah karena hal itu lantas membuatku kapok dan berhenti mendengarkan musik dan lagu? Jawabannya sudah pasti : tidak mungkin.

Karena bagiku, hidup tanpa musik bagaikan perkawinan tanpa seks.

Wednesday, October 15, 2008

Ironi Dalam Bungkus "Nasionalisme"

Hari ini seorang teman mem-posting-kan citra berikut di dalam akun Facebook-nya.


Sebagaimana yang bisa Anda baca dan simpulkan sendiri, citra yang di-posting-kan kembali ini merupakan sebuah undangan untuk menghadiri suatu acara sosial pada akhir pekan.

Yang sampai menggelitik perasaan ingin berkomentar, sehingga pada akhirnya menghasilkan tulisan iseng ini, adalah judul acaranya yang mencantumkan ejaan yang lama dan masih belum lagi mengalami penyempurnaan : “SERATOES PERSEN INDONESIA”.

Memberikan kesan bahwa pihak penyelenggara ingin membangkitkan lagi rasa nasionalisme di antara para undangan. Yang harusnya ditanggapi positif, andai saja tampilan dalam undangan tersebut benar-benar sesuai dengan semangat yang ingin diciptakannya.

Namun pada kenyataannya, kesan yang timbul setelah melihat citra tampilan undangan ini adalah sebaliknya. Sebab apabila memang ingin unjuk diri, busung dada, bangga hati, dan ingin memperlihatkan jati diri sebagai orang Indonesia yang 100 persen kadar keasliannya, kenapa body copy undangan ini seluruhnya justru malah mempergunakan bahasa asing ?

Padahal bahasa nasional kita jelas merupakan salah satu identitas bangsa, sebagaimana yang diikrarkan oleh para pemuda dan pemudi bangsa kita 80 tahun lalu dalam Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau yang kemudian lebih dikenal sebagai Kongres Pemuda II.

Kira-kira, apa ya komentar para pemuda dan pemudi Indonesia yang hadir 80 tahun lalu di dalam acara tersebut melihat bahwa kini bangsa yang pembentukannya sangat dicita-citakan itu lebih gemar bertutur dalam bahasa Inggris – dan bukan bahasa Belanda – ketimbang bahasa ibu sendiri?

Tuesday, October 14, 2008

Tapi, ... Tipu !


Jaman dahulu kala, bahkan ketika angka tahun masih ribuan tahun lamanya sebelum Masehi, berdasarkan catatan dalam kitab suci agama-agama Abrahamic, tersebutlah kisah tentang seorang perempuan, istri dari seorang pejabat di kerajaan Mesir, yang memfitnah seorang lelaki gagah nan ganteng yang menolak untuk menghampirinya (bahasa halus untuk tidur bersama / melakukan hubungan badan). Perempuan yang katanya memiliki kecantikan jasmaniah itu ternyata tidak terima “suguhan gula-gulanya” diemohi oleh this hunk, formerly known as her husband’s slave. Merasa terhina dengan penolakan tersebut, dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya, dia melakukan pembalasan nan keji, dengan melaporkan kepada suaminya apa yang menurut dia telah dicoba dilakukan oleh si lelaki: pemerkosaan. Tak perlulah kusebutkan nama sesiapapun di sini, Anda pasti bisa dengan mudah menebak orangnya.

Mari kita fast forward ke sekian millennium kemudian.
What was supposed to be one of the oldest trick in the book(s) – in this case, the books referred to are Torah, Bible and Koran – yaitu pernyataan / kesaksian palsu (alias fitnah) ternyata masih lazim dipraktekkan dalam kehidupan nyata untuk merusak reputasi dan menjatuhkan seseorang, meskipun bisa jadi dengan maksud dan alasan yang berbeda jauh dari contoh di atas. Terkadang, pernyataan palsu ini menimbulkan akibat yang begitu mengerikan, seperti pembantaian massal di Rosewood dan penyerangan pasukan Sekutu pimpinan Amerika Serikat atas Irak.

Apabila kemudian kita mencoba membahas dampak negatif perbuatan hina ini dari sudut pandang ketidaknyataan, alias fiktif, salah satu contoh yang harus disebutkan adalah To Kill a Mockingbird, ketika desakan mayoritas penduduk Maycomb, Alabama, membuat seorang lelaki Afro-Amerika yang dituduh memperkosa seorang gadis kulit putih terpaksa menemui ajal.

Dalam tataran fiktif terkait konteks geografis Indonesia, ada kisah tentang Titian Serambut Dibelah Tujuh, sebuah film klasik dari tahun 1959 karya sutradara Asrul Sani yang di-remake oleh Chaerul Umam di tahun 1982.
Dikisahkan, seorang guru muda yang berupaya mengubah cara berpikir dan sistem pendidikan yang masih kolot (i.e. sangat menekankan aspek agamis) di sebuah desa yang sangat kuat akar keagamaannya, mendapat tentangan sangat kuat dari kalangan yang lebih mapan dan diuntungkan oleh kondisi status quo desa tersebut, salah satunya adalah istri dari si guru tua. Berbagai cara dilakukan untuk menyingkirkan si guru muda, termasuk dengan intrik-intrik keji, yaitu memfitnah si guru muda melakukan perundungan seksual terhadap seorang perempuan. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah si guru muda mencoba memberikan bantuan nafas buatan (CPR) setelah menyelamatkan si perempuan yang nyaris tenggelam. Alhasil, penduduk desa ramai-ramai memusuhi si guru muda dan memintanya angkat kaki dari desa mereka tersebut.

Kita coba fast forward lagi ke sekian dekade kemudian.
Dalam sinetron Cinta Maia yang saat artikel ini ditulis masih ditayangkan di jam prime time salah satu stasiun televisi swasta nasional, dikisahkan seorang perempuan culas yang rela melakukan apa saja agar bisa merebut hati seorang lelaki muda, kaya-raya dan naïf (cliché!), berpura-pura tenggelam agar diselamatkan oleh si lelaki muda, kaya-raya, naïf, DAN pemberani serta jago renang.
Dikarenakan suatu kebetulan yang sangat amat kebetulan sekali, si gadis cantik, baik hati, jujur, pemaaf dan tertindas serta menderita (another cliché, which obviously translated as the protagonist-main role-titular character) yang menaruh hati pada si lelaki, menyaksikan kejadian penyelamatan itu. Dan sesuai harapan si perempuan culas (dan produser, sutradara serta penulis scenario), si gadis cantik lantas mempersepsikan apa yang dilihatnya persis seperti yang dirancang-harapkan oleh sih perempuan culas. Si gadis cantik yang predikatnya harus ditambah dengan ‘bodoh’ itu kemudian menganggap bahwa lelaki muda pujaan hatinya itu bermain air (karena jelas-jelas nyemplung ke kolam renang) dengan perempuan lain. Itu artinya, tipu-tipu si perempuan culas, berhasil gemilang !

Ternyata, ribuan tahun setelah bangsa Israel melepaskan diri dari penjajahan Firaun di tanah Mesir, tipu-muslihat dan fitnah dengan bumbu seks, masih saja menjadi trik yang manjur bin mustajab diterapkan untuk merusak reputasi seseorang (atau subjek plural lain).

Manusia memang paling susah belajar dari pengalaman (dan sejarah).




Bagi para pembaca kritis yang benar-benar mengenal sosok penulis, pasti akan bertanya-tanya, apa yang tidak sedang kulakukan sehingga bisa-bisanya malah membuang waktu dengan menonton sinetron ga penting.

Monday, June 16, 2008

Once Upon a Time, In The Galaxy Far Far Away


First time I heard that George Lucas has planned to release yet another Star Wars installment this summer, I was like, “Whoa?! Dude, can’t you make something else?”

I mean, ... seriously!

In my opinion, orang ini bahkan lebih parah daripada James Cameron yang sesudah menikmati sukses luar biasa – so-called artistic maupun komersil – lewat film legendaris Titanic, lantas tidak pernah menghasilkan satu produk film apapun that is worth to mention, ever since.

Bayangkan saja, sejak Star Wars pertama kali sukses menyerbu layar bioskop di seluruh dunia – yang kemudian entah karena aku yang terlalu bodoh untuk dapat memahaminya atau Lucas yang terlalu pintar (and too greedy?) untuk menggesernya jadi Episode IV: A New Hope – pada tahun 1977, His Excellency Lucas hanya menghasilkan Star Wars dan segala-macam derivatifnya (if you can’t say spin-offs) plus dapat credit untuk pembuatan Indiana Jones (and for this latter, he also did just the same pattern with Star Wars).

Bolehlah dulu banget aku kagum dengan ”kegilaan”-nya sehingga menghasilkan satu sub-culture baru yang sangat fenomenal, that is Star Wars. Tapi sekarang?!?

Di mataku, George Lucas tampaknya tidak lebih daripada seorang teman kakakku saat sekolah menengah yang diberi nilai 9 oleh guru Seni Rupa karena melukis gambar kucing dengan sangat bagusnya, dan sejak saat itu setiap ada tugas membuat lukisan, teman kakakku ini selalu mengulangi gambar kucingnya dengan pose yang sama. Bedanya cuma pada sentuhan warna atau beberapa detail kecil tidak signifikan yang ditambahkan ataupun dikurangi. Tujuannya jelas: biar bisa terus dapat nilai 9 sebagaimana lukisan kucingnya yang pertama.
Meskipun Mr. Lucas melakukannya dalam tataran yang jauh lebih besar dan luas daripada teman kakakku ini sehingga rasanya tidak pantas untuk dikomparasikan, tapi tetap saja mereka tampak sebelas-duabelas, alias mirip-mirip aja tuh.
Perbedaan mendasar palingan adalah karena George Lucas melakukan ini semua karena ketamakan, bayangkan saja berapa puluh (-ratus ?) juta dolar yang dihasilkannya dari lisensi dan franchise Star Wars ini?

Mungkinkah sebenarnya Mr. Lucas ini semacam Evil Genius in the Closet – atau Discreet Evil Genius – karena dengan kepiawaiannya mengolah konflik Star Wars, dia bisa meraup kekayaan sedemikian banyak yang kemudian bisa untuk membangun ranch superluas, perusahaan super besar, dan entah apa lagi.

Awalnya, kupikir hanya diriku saja yang menganggap trilogy Star Wars yang kemudian dijadikan prequel ini bagaikan steak dari daging kualitas jelek dan dimasak dengan cara yang salah lantas ditutupi dengan begitu banyak saos barbeque untuk menyarukan kehancuran rasa aslinya, sehingga lantas menonton film ini bagaikan penyia-nyiaan waktu dan sumberdaya lainnya, until I found this online article maupun dari responses terhadap article ini.
Whoa! That means I am totally not alone in sharing this idea. Ha! Ha! Ha!

Masih belum bisa dilupakan perasaan dongkol dan kesal seusai menonton Star Wars Episode III : Revenge of the Sith sekitar tiga tahun yang lalu. Bayangkan saja, legendary saga selama 3 dekade itu ternyata bermula dari sebuah mimpi atau penglihatan seorang Anakin Skywalker yang sesungguhnya tidak bisa diandalkan !!

Setelah merasa mual melihat adegan mesra-mesraan a la Bollywood di Episode II antara Anakin dan Amidala yang berlari-larian di padang rumput Tatooine dan berguling-gulingan mesra, rasanya sudah seharusnya penonton pintar mempersiapkan diri menyaksikan salah satu kisah cinta paling jelek yang pernah ditampilkan di film-film terbesar Hollywood !

Ada yang perhatikan bahwa ‘penglihatan’ Anakin Skywalker tentang Padme Amidala yang kesakitan pada saat melahirkan itu sebenarnya tidak pernah lengkap ?

Gosh! I mean, if I were him, yang akan kulakukan pertama kali setelah meyakini bahwa penglihatan tersebut bukan hanya sekedar bunga tidur adalah memasukkan Amidala ke dalam semacam perawatan intensif di klinik eksklusif.
Masa sih di galaxy far far away yang sudah mampu membuat robot dan pesawat luar angkasa secanggih itu, angka kematian ibu melahirkan tidak bisa dicegah dan ditekan menjadi nihil ??
Masa mereka tidak mengenal teknologi “jaman dulu” bernama bedah Caesar, yang must be performed jika ternyata proses persalinan normal dianggap akan membahayakan nyawa ibu dan atau bayi yang akan dilahirkannya ?
Jadi, jika saja Anakin berpikir lebih jernih dan bijaksana, maka sebenarnya ia bisa menyelamatkan nyawa istrinya, pujaannya, his center of universe, melalui teknologi bedah tercanggih yang jauh lebih oke dan menjanjikan daripada bedah Caesar yang pastinya telah dikuasai oleh para tenaga medis (robot maupun manusia) di sistem perbintangan yang telah mengenal teknologi yang jauh lebih modern daripada yang dikenal para penghuni galaksi Bimasakti, tanpa perlu terpengaruh bujukan syaitan Chauncellor Palpatine untuk masuk ke dalam pengaruh ‘dark side’ untuk menjadi Darth Vader, tanpa perlu mengakibatkan pemusnahan seluruh Orde Jedi, tanpa perlu memicu tragedi yang mengakibatkan penderitaan puluhan tahun in the galaxy far, far away …

Gosh ! Weren't we all being fooled for all this time by George Lucas ??

As for me now, Cher masih jauh lebih inovatif daripada George Lucas.
Setidaknya, selama kurang lebih empat decade berkarya di bidang entertainment, Cher mencetak paling sedikit satu album no.1 dan single no.1 di chart Billboard setiap 10 tahun, complete with her four different and distinctive looks. Not to mention kemampuan aktingnya yang berbuah Grammy, Oscar, Emmy (you see, politics are not so different than acting).
Perhaps, they should make Cher queen of this so-called galaxy far far away. Toh, selera fashion-nya sudah memadai untuk pergaulan standar intergalactic relations. Seperti yang terlihat di bawah ini.


See?! Cher already has all that!!

Nilai plus lainnya, telah terbukti bahwa Cher bisa mempertahankan eksistensinya (and in some specific moments, even domination!) di arena hiburan pop yang jauh lebih rentan terhadap perubahan mengikuti trend dibandingkan dunia politik.
Bayangkan saja sendiri, eksistensi dan "ketenaran" Cher selayaknya diperbandingkan dengan para 'aktor' dunia politik yang notabene dilabeli dikator, semacam Fidel Castro dan Moammar Khaddafi!

So what else do we have to say, other than ...

"Long live the Queen! Hail Cher!"