Showing posts with label Iraq. Show all posts
Showing posts with label Iraq. Show all posts

Monday, December 29, 2008

Shoe-ing That Insult


Why do you hate President Bush and his aides,
while he and his Republican peers couldn’t care any less?
That's why when you threw that shoe and missed,
he just laughed it off and not a second looked pissed.

Friday, December 5, 2008

Tak Kulihat Dia Bertanya, “Mengapa?”


Bisa dikatakan, aku termasuk suka menonton ”Oprah”.
Meskipun tidak bisa disebut penggemar berat, tapi terkadang kalau sedang ada topik-topik menarik yang dibahas dalam satu episode tertentu, aku bisa menghentikan segala aktivitas hanya untuk bisa menyimak dengan baik episode tersebut.

Seperti dalam salah satu episodenya yang paling terkenal yang dipancarteruskan beberapa tahun lalu, yang kemudian diliput oleh berbagai media di seluruh dunia, termasuk Kompas. Dalam episode itu, Oprah Winfrey memperkenalkan kepada audience di studio dan para pemirsanya, apa-apa saja ”Most Favorite Things” –nya pada tahun tersebut.
Yang membuat episode itu menjadi buah bibir dan sukses di mana-mana, adalah karena masing-masing penonton yang hadir di studio – semuanya merupakan guru-guru dari seluruh negara bagian Amerika Serikat – berhak atas setiap jenis produk favorit Oprah. Termasuk mobil ! Bisa jadi, hari itu adalah salah satu hari terbaik dalam hidup setiap guru tersebut.
Jadi sudah sepantasnya lah kalau dalam episode itu, semua penonton berteriak-teriak kencang, histeris, bahkan menangis sesenggukan karena begitu gembiranya. Aku sendiri yakin kalau saja saat itu aku juga merupakan salah satu dari para penonton di studio yang mendapatkan Blackberry dengan masa berlangganan gratis 3 bulan, puluhan voucher bernilai total (yang kalau dikonversikan bisa mencapai) puluhan juta rupiah, barang-barang elektronik, dan sebuah mobil; aku pun pasti akan menangis dan sujud syukur mencium tanah.
Ini seperti menang dalam”The Price is Right” tapi tanpa harus merasakan deg-degan takut, karena dalam game show itu, alih-alih bisa mendapatkan home appliances, mobil dan paket liburan ke Kepualuan Bahama, bisa jadi malah pulangnya bawa sebuah sepeda saja.

Anyway, kembali ke awal maksud dan tujuan tulisan ini, salah satu episode Oprah yang tidak menyenangkan untuk dilihat disiarkan pada tahun 2004. Betul sekali, sudah relatif lamaaa ...
Kepada para pemirsa, diperlihatkan bagaimana Oprah berinteraksi dengan beberapa tentara dan perwira dari angkatan bersenjata Amerika Serikat yang ditugaskan di Iraq saat Operation Iraqi Freedom, yang seperti kita semua tahu, berakhir dengan tumbangnya rejim Saddam Hussein.
Dalam perbicangannya dengan para ”pahlawan” perang Amerika itu – mayoritas terluka dalam tugas, bahkan ada yang sampai diamputasi kakinya – Oprah selalu memuji-muji keberanian mereka yang telah rela berjuang demi pembebasan rakyat Irak.
Tapi yang kuperhatikan sepanjang perbincangannya dengan para tentara dan perwira tersebut, tak pernah sekalipun dia mempertanyakan, mengapa secara pribadi, mereka – ratusan prajurit dan perwira ini – setuju maju berperang di negeri yang jauhnya separuh keliling bumi dari tempat asal mereka, melawan orang-orang yang tak pernah sekalipun menyakiti mereka maupun orang-orang yang mereka kenal, apalagi mereka cintai.
Tentu saja, jawaban yang kuharapkan di sini bukanlah karena rantai komando militer mewajibkan para bawahan patuh pada semua keputusan atasan, dalam hal ini, pucuk tertinggi komando berada di tangan Commander-in-Chief sekaligus Presiden Amerika Serikat sendiri, George W. Bush.
Bagiku, keseluruhan perbincangan dalam episode tersebut jadi terasa begitu bias, aneh dan menggelikan. Toh sepertinya seluruh penduduk dunia di luar Amerika Serikat yakin seyakin-yakinnya, bahwa Operation Iraqi Freedom itu dilancarkan oleh duet Bush-Cheney dengan didasarkan pada begitu banyak alasan serta hal-hal lain, dan ”untuk membebaskan rakyat Irak dari rejim opresif Saddam Hussein” tidak termasuk salah satu alasan utama, meskipun di depan media tentu saja mereka berkata lain.

Dengan segala hormat pada segala kapabilitas personal yang Anda miliki, Miss Winfrey, rasanya akan lebih bagus bagi Anda untuk menghindari membahas hal-hal strategis semacam Perang Irak. Biarkanlah tamu-tamu Anda yang lebih profesional dalam bidang tersebut, seperti Anderson Cooper dan Christiane Amanpour, yang melakukannya bagi rakyat Amerika.



Tuesday, October 14, 2008

Tapi, ... Tipu !


Jaman dahulu kala, bahkan ketika angka tahun masih ribuan tahun lamanya sebelum Masehi, berdasarkan catatan dalam kitab suci agama-agama Abrahamic, tersebutlah kisah tentang seorang perempuan, istri dari seorang pejabat di kerajaan Mesir, yang memfitnah seorang lelaki gagah nan ganteng yang menolak untuk menghampirinya (bahasa halus untuk tidur bersama / melakukan hubungan badan). Perempuan yang katanya memiliki kecantikan jasmaniah itu ternyata tidak terima “suguhan gula-gulanya” diemohi oleh this hunk, formerly known as her husband’s slave. Merasa terhina dengan penolakan tersebut, dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya, dia melakukan pembalasan nan keji, dengan melaporkan kepada suaminya apa yang menurut dia telah dicoba dilakukan oleh si lelaki: pemerkosaan. Tak perlulah kusebutkan nama sesiapapun di sini, Anda pasti bisa dengan mudah menebak orangnya.

Mari kita fast forward ke sekian millennium kemudian.
What was supposed to be one of the oldest trick in the book(s) – in this case, the books referred to are Torah, Bible and Koran – yaitu pernyataan / kesaksian palsu (alias fitnah) ternyata masih lazim dipraktekkan dalam kehidupan nyata untuk merusak reputasi dan menjatuhkan seseorang, meskipun bisa jadi dengan maksud dan alasan yang berbeda jauh dari contoh di atas. Terkadang, pernyataan palsu ini menimbulkan akibat yang begitu mengerikan, seperti pembantaian massal di Rosewood dan penyerangan pasukan Sekutu pimpinan Amerika Serikat atas Irak.

Apabila kemudian kita mencoba membahas dampak negatif perbuatan hina ini dari sudut pandang ketidaknyataan, alias fiktif, salah satu contoh yang harus disebutkan adalah To Kill a Mockingbird, ketika desakan mayoritas penduduk Maycomb, Alabama, membuat seorang lelaki Afro-Amerika yang dituduh memperkosa seorang gadis kulit putih terpaksa menemui ajal.

Dalam tataran fiktif terkait konteks geografis Indonesia, ada kisah tentang Titian Serambut Dibelah Tujuh, sebuah film klasik dari tahun 1959 karya sutradara Asrul Sani yang di-remake oleh Chaerul Umam di tahun 1982.
Dikisahkan, seorang guru muda yang berupaya mengubah cara berpikir dan sistem pendidikan yang masih kolot (i.e. sangat menekankan aspek agamis) di sebuah desa yang sangat kuat akar keagamaannya, mendapat tentangan sangat kuat dari kalangan yang lebih mapan dan diuntungkan oleh kondisi status quo desa tersebut, salah satunya adalah istri dari si guru tua. Berbagai cara dilakukan untuk menyingkirkan si guru muda, termasuk dengan intrik-intrik keji, yaitu memfitnah si guru muda melakukan perundungan seksual terhadap seorang perempuan. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah si guru muda mencoba memberikan bantuan nafas buatan (CPR) setelah menyelamatkan si perempuan yang nyaris tenggelam. Alhasil, penduduk desa ramai-ramai memusuhi si guru muda dan memintanya angkat kaki dari desa mereka tersebut.

Kita coba fast forward lagi ke sekian dekade kemudian.
Dalam sinetron Cinta Maia yang saat artikel ini ditulis masih ditayangkan di jam prime time salah satu stasiun televisi swasta nasional, dikisahkan seorang perempuan culas yang rela melakukan apa saja agar bisa merebut hati seorang lelaki muda, kaya-raya dan naïf (cliché!), berpura-pura tenggelam agar diselamatkan oleh si lelaki muda, kaya-raya, naïf, DAN pemberani serta jago renang.
Dikarenakan suatu kebetulan yang sangat amat kebetulan sekali, si gadis cantik, baik hati, jujur, pemaaf dan tertindas serta menderita (another cliché, which obviously translated as the protagonist-main role-titular character) yang menaruh hati pada si lelaki, menyaksikan kejadian penyelamatan itu. Dan sesuai harapan si perempuan culas (dan produser, sutradara serta penulis scenario), si gadis cantik lantas mempersepsikan apa yang dilihatnya persis seperti yang dirancang-harapkan oleh sih perempuan culas. Si gadis cantik yang predikatnya harus ditambah dengan ‘bodoh’ itu kemudian menganggap bahwa lelaki muda pujaan hatinya itu bermain air (karena jelas-jelas nyemplung ke kolam renang) dengan perempuan lain. Itu artinya, tipu-tipu si perempuan culas, berhasil gemilang !

Ternyata, ribuan tahun setelah bangsa Israel melepaskan diri dari penjajahan Firaun di tanah Mesir, tipu-muslihat dan fitnah dengan bumbu seks, masih saja menjadi trik yang manjur bin mustajab diterapkan untuk merusak reputasi seseorang (atau subjek plural lain).

Manusia memang paling susah belajar dari pengalaman (dan sejarah).




Bagi para pembaca kritis yang benar-benar mengenal sosok penulis, pasti akan bertanya-tanya, apa yang tidak sedang kulakukan sehingga bisa-bisanya malah membuang waktu dengan menonton sinetron ga penting.