Showing posts with label religion. Show all posts
Showing posts with label religion. Show all posts

Thursday, January 28, 2010

Those Three Months, I Remember



As I was walking down this narrow lane of Perugia
Stepping slowly on cobblestones that were set centuries ago
When all of the sudden I was almost ran down by this blue Vespa
Shocked and surprised, I screamed out foul words until this old Italian lady yelled, “Silenzio!”

She made gesture as if flicking a lamp’s switch off
Continued with another sign :
Sliding her thumb and forefinger across her lips as if shutting a zipper

I definitely got the message, didn’t need to ask her
That was a simple gesture I learned in kindergarten over 25 years ago
When our teacher wanted us to shut up and sit down quietly
Before starting the ritual of saying Lord’s Prayer

Instead I waved my left hand that wasn’t holding the brown umbrella
“Mi scusi, Signora,” said I, and walked away hurriedly
Surprised by my own ashamed feeling of having no guts to face this stern old Italian lady
Oh, I haven’t told you it was raining drizzly that day, eh?

A little trivia : I turned 30 that year
So I decided to give myself a birthday present
It was a 3 months vacation to Italy
The country that gave birth to a grand man
That millenniums later is known universally as an operation technique he was named after

It was surely the most amazing 3 months of my life
Good time partying with young people, citizen of the world
Strolling down traditional market, pocketful of loose changes with no idea what to buy
Flirting using sign language with a beautiful girl whose sad face framed with auburn locks,
Because she doesn’t speak English, and deaf ever since five

I can guarantee you, what a feat it was
Intellectually challenging, such a test to patience
Yet we could still find ways to communicate and
To share this love that knows no boundaries of races, religions or political views

It was the most amazing 3 months in my life
Because I could forget all my worries back home
Leaving them behind, and only have tomorrows to look upon
It was the time when horizon seems far enough, yet within reach

It was still a jolly good time when the last day finally arrived
As I sat down on Leonardo da Vinci airport’s cold steel bench
These random thoughts passing through my mind like cold wind blown from the sea,
“Hope I can return to this magnificent country, which cities are as old as civilization itself,”
“Hope that when I return, I will fall in love all over again with the beautiful life Italy has to offer ..."

“Oh, shoot! Hope I didn’t impregnate that beautiful deaf girl!”

Ah, questa dolce Vita!






Photo illustration courtesy of C.G. Salon in Fayetteville, Georgia, U.S.A.
Used for non-commercial purpose without permission.

Friday, December 19, 2008

Salaam, Saudaraku



Ada yang perlu dicermati secara khusus tentang pelaksanaan kerukunan antarumat beragama di negeri ini, ketika ...

Perusahaan-perusahaan besar berlomba-lomba membuat iklan khusus dan memasangnya dalam jumlah ratusan spot yang bernilai milyaran rupiah di berbagai stasiun televisi, dengan bertemakan toleransi antarumat beragama - yang entah mengapa seringkali memperlihatkan pengadeganan mereka yang menganut agama bukan mayoritas di Nusantara dengan sukarela mengulurkan tangan membantu temannya dari agama mayoritas untuk menunaikan ibadah.

Ini merupakan jenis tema iklan yang sebenarnya akan lebih menyentuh sanubari dan membanggakan lagi, andai saja yang kemudian terjadi adalah ...

Munculnya versi 'balasan', di mana giliran si penganut agama mayoritas yang sebelumnya dibantu dalam melancarkan penunaian ibadahnya oleh si penganut agama minoritas, gantian mengulurkan tangan dengan tulus membantu ketika menjelang dan selama perayaan hari besar agama-agama minoritas lainnya yang berlangsung di lingkungannya.

Dan ketika justru hal ini tidak terjadi, lalu ...

Bagaimana mungkin toleransi tercipta dan kerukunan terjaga, apabila ego yang lebih berkuasa?

Saturday, November 22, 2008

"Muslimah" yang Tidak Islami



Penghentian penayangan program “Empat Mata” di Trans 7 setelah menayangkan episode kontroversial yang menampilkan aksi Sumanto memakan kodok hidup-hidup barangkali memenuhi asas keadilan mayoritas pemirsa televisi negeri ini. Aku sendiri kebetulan tidak menyaksikannya, karena memang jarang menonton televisi. Namun setelah mendengarkan deskripsi dari seorang rekan betapa vulgarnya gambar-gambar yang dipancarteruskan oleh Trans 7, terus terang aku sendiri jadi sangat mengerti dan memahami serta menyetujui dihenti-tayangkannya “Empat Mata” sampai waktu yang belum ditentukan.

Peristiwa ini lantas mengingatkanku pada satu kejadian yang sangat mengganggu pikiran dan nurani, terkait penayangan sebuah sinetron religi. Kalau misalnya kita berbicara betapa buruknya kualitas mayoritas sinetron Indonesia, sudahlah, pasti akan menjadi obrolan panjang kali lebar tanpa ujung. Namun khusus untuk satu ini, aku sungguh berharap Komisi Penyiaran Indonesia memperhatikan dengan sangat serius serta memberikan peringatan keras kepada rumah produksi yang memproduksi, serta Indosiar sebagai stasiun televisi yang menayangkan sinetron berjudul “Muslimah” (tayang setiap hari antara jam 18.00 s.d. 19.00 WIB).

Bayangkan saja, dalam salah satu episode-nya yang tayang pada tanggal 28 Oktober 2008, sungguh membuat aku bertanya-tanya dan tidak habis pikir, sesungguhnya apa yang ada di dalam kepala si penulis cerita, sutradara, para aktor dan aktris hingga produser sinetron “Muslimah”, karena bisa-bisanya menghasilkan suatu tayangan sebusuk ini.

Kebetulan pada saat itu aku hanya menonton satu segmen – yang kurang lebih berdurasi 8-10 menit, tapi dari hanya satu segmen itu sudah berhasil membuatku jijik dan mual habis-habisan. Sekedar informasi, episode yang tayang tanggal 28 Oktober tersebut merupakan satu-satunya episode “Muslimah” yang kusaksikan.

Bayangkan saja, dalam satu segmen tersebut, pertama kali yang kulihat adalah seorang perempuan (yang sepertinya tokoh antagonis) sedang mengintai si tokoh protagonist (Titi Kamal dengan peran bernama Muslimah, the titular character), yang sepertinya sedang dirawat inap dalam sebuah kamar di rumah sakit. Kebetulan sekali saat itu lewatlah seorang perempuan petugas cleaning service yang memergoki si tokoh antagonis. Dasar sial, si perempuan petugas cleaning service dipukul kepalanya sampai tak sadarkan diri oleh si tokoh antagonis, lalu baju seragamnya dicopot untuk dipakai si tokoh antagonis menyamar. Ini artinya, si perempuan petugas cleaning service dibiarkan terbaring hanya mengenakan pakaian dalam.
Adegan berikutnya berganti dengan memperlihatkan dua orang cewek yang terlibat dalam cekcok mulut yang begitu intens, lalu salah satu cewek itu menampar cewek lainnya, yang dibalas dengan tonjokan di wajah cewek pertama, tapi perkelahian mereka tak berlanjut karena terdengar bunyi bel pintu.
Adegan selanjutnya berganti lagi menjadi sebuah ruangan lain. Seroang perempuan dengan emosi mengambil seorang bayi dari dalam boks tempat tidurnya, lantas berteriak-teriak keras dengan mata melotot-lotot tajam ke si bayi, membuat si bayi menangis dengan keras.
Berikutnya adegan kembali ke awal segmen, ketika si perempuan antagonis yang sudah menyamar sebagai petugas cleaning service sudah berada di dalam kamar dan sedang berusaha menikamkan pisau dapur panjang ke tubuh Muslimah untuk membunuhnya, sambil menjambaknya keras hingga jilbab Muslimah copot.

Persis di adegan tersebut, aku berhenti menonton. Tak sanggup rasanya.

Benar-benar gila !! Ini sih tindakan pembodohan tingkat luar biasa yang dilakukan secara sadar dan sengaja, yang entah mengapa bisa dipancarteruskan dengan leluasa, bahkan menempati jam tayang utama, ketika anak-anak masih bisa bebas menyaksikannya !!

Yang membuat aku betul-betul sedih, adalah karena sinetron “Muslimah” ini, yang memang awal produksinya untuk menyambut bulan Ramadhan tempo hari, ‘menjual’ semua kekerasan dan ketidakmanusiawian itu dalam bungkusan agama Islam. Padahal masih ada begitu banyak jalan lain yang lebih cantik dan santun untuk menyiarkan pesan-pesan agama, tanpa perlu menampilkan adegan-adegan kekerasan secara eksesif seperti yang kudeskripsikan di atas. Andaikan aku seorang Muslim, pastinya tak bisa kuterima agama yang kupercayai ditampilkan dengan cara demikian, dan dikait-kaitkan dengan tindakan kekerasan yang tidak berperikemanusiaan.

Satu harapanku kepada teman-teman yang membaca tulisan ini, khususnya apabila teman-teman sudah memiliki anak, agak menjaga betul anak-anak Anda. Sedapat mungkin, jauhkan dari berbagai tayangan televisi, terutama dari sinetron kita yang aku yakin, minimal 90 % -nya mengandung content yang tidak akan memberikan manfaat apapun bagi pemirsa.

Sayangi keluarga Anda, lindungi anak-anak Anda, boikot tayangan-tayangan tidak bermoral di televisi kita.



Thursday, September 18, 2008

Menyoal Iman



Ada yang keliru tentang pemahaman agama di negeri ini.

Ketika setiap group musik / band maupun penyanyi-penyanyi solo berlomba-lomba merilis album ataupun melepas single bernuansa Islami saat tiba Ramadhan, lengkap dengan kekerapan intensitas kemunculan di berbagai media sambil mengenakan baju koko dan peci atau baju kurung dan selendang menutupi sebagian kepala, sambil membahas aktivitas ke-‘artis’-annya selama menjalankan ibadah puasa.

Ketika setiap media infotainment saling berlomba membahas group musik / band mana yang merilis album atau single Islami baru setibanya bulan Ramadhan dan band mana yang tidak melakukannya; dan lebih sibuk menyoal band yang sudah berusia relatif lama namun belum pernah sekalipun melepaskan lagu-lagu bernafaskan keagamaan untuk menyambut ketibaan Ramadhan maupun menjelang hari raya Idul Fitri.

Ketika semua stasiun televisi berlomba menayangkan sinetron-sinetron berbingkai religi di jam-jam tayang utama, atau menampilkan pertunjukan komedi slapstick menjelang sahur maupun saat berbuka tiba; dua jenis tayangan yang patut diragukan nilai-nilai agamis dan makna ibadahnya.

Ketika seorang aktor maupun aktris diidolakan berkat perannya sebagai karakter protagonis yang tetap rajin beribadah dan pasrah meskipun bolak-balik dizholimi dengan tata-cara yang semakin lama semakin brutal dan tak masuk akal dalam sinetron yang dibintanginya.

Ketika kelompok organisasi massa tertentu menyerbu tempat-tempat makan di pinggir jalan yang dikelola secara swadaya dan swadana oleh para pengusaha mikro, saat hari masih siang, di bulan Ramadhan, dengan alasan mengajak orang berbuat mungkar.

Ketika kelompok organisasi massa tertentu menganggap hanya agama dengan tata-ibadah yang mereka anut adalah yang paling benar dan paling tinggi, sedangkan penganut agama yang sama dengan tata-ibadah yang berbeda adalah orang-orang keliru yang tak layak di mata Tuhan.

Ketika dengan alasan diprovokasi, anggota-anggota organisasi massa tertentu yang mengusung panji-panji agama beramai-ramai menyerang dan mengeroyok seorang lelaki dari kelompok yang dianggap musuh hingga terluka parah.
Bukankah di bulan suci ini haruslah mampu menahan emosi, dan mereka yang bisa menahan dan menerima cobaan dengan tabah – sebagaimana yang hendak dikotbahkan dalam sinetron-sinetron berbingkai religi itu – adalah mereka yang berhak atas “Kemenangan” ketika saat itu tiba?

Ada yang keliru tentang pemahaman agama di negeri ini ketika tingkat keimanan seseorang diukur hanya dari apa yang tampak dari luar belaka.