Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts

Thursday, January 28, 2010

Those Three Months, I Remember



As I was walking down this narrow lane of Perugia
Stepping slowly on cobblestones that were set centuries ago
When all of the sudden I was almost ran down by this blue Vespa
Shocked and surprised, I screamed out foul words until this old Italian lady yelled, “Silenzio!”

She made gesture as if flicking a lamp’s switch off
Continued with another sign :
Sliding her thumb and forefinger across her lips as if shutting a zipper

I definitely got the message, didn’t need to ask her
That was a simple gesture I learned in kindergarten over 25 years ago
When our teacher wanted us to shut up and sit down quietly
Before starting the ritual of saying Lord’s Prayer

Instead I waved my left hand that wasn’t holding the brown umbrella
“Mi scusi, Signora,” said I, and walked away hurriedly
Surprised by my own ashamed feeling of having no guts to face this stern old Italian lady
Oh, I haven’t told you it was raining drizzly that day, eh?

A little trivia : I turned 30 that year
So I decided to give myself a birthday present
It was a 3 months vacation to Italy
The country that gave birth to a grand man
That millenniums later is known universally as an operation technique he was named after

It was surely the most amazing 3 months of my life
Good time partying with young people, citizen of the world
Strolling down traditional market, pocketful of loose changes with no idea what to buy
Flirting using sign language with a beautiful girl whose sad face framed with auburn locks,
Because she doesn’t speak English, and deaf ever since five

I can guarantee you, what a feat it was
Intellectually challenging, such a test to patience
Yet we could still find ways to communicate and
To share this love that knows no boundaries of races, religions or political views

It was the most amazing 3 months in my life
Because I could forget all my worries back home
Leaving them behind, and only have tomorrows to look upon
It was the time when horizon seems far enough, yet within reach

It was still a jolly good time when the last day finally arrived
As I sat down on Leonardo da Vinci airport’s cold steel bench
These random thoughts passing through my mind like cold wind blown from the sea,
“Hope I can return to this magnificent country, which cities are as old as civilization itself,”
“Hope that when I return, I will fall in love all over again with the beautiful life Italy has to offer ..."

“Oh, shoot! Hope I didn’t impregnate that beautiful deaf girl!”

Ah, questa dolce Vita!






Photo illustration courtesy of C.G. Salon in Fayetteville, Georgia, U.S.A.
Used for non-commercial purpose without permission.

Tuesday, September 1, 2009

"Isn't it ironic? Don't you think?"


"An old man turned ninety-eight
He won the lottery and died the next day"

Pada awalnya kupikir dua baris pertama lirik lagu Ironic, yang diciptakan sekaligus dinyanyikan sendiri oleh Alanis Morissette, semata adalah buah dari kejeniusannya dalam menulis lirik. Hingga lebih dari satu dekade kemudian, ketika dari aktivitas browsing iseng kutemukan kisah tentang Wayne Schenk.

Wayne Schenk adalah seorang pria Amerika yang berdomisili di negara bagian New York. Usia purnawirawan angkatan darat ini ‘baru’ 51 tahun ketika ajal menjemputnya, akibat sakit kanker paru-paru yang tak bisa disembuhkan.

Pada bulan Desember 2006, Wayne yang lima minggu sebelumnya didiagnosis kanker paru-paru stadium akhir dan divonis dokter hanya akan bertahan hidup kurang dari satu tahun lagi, membeli sebuah tiket lotere senilai US $ 5. Tanpa diduga oleh siapapun, apalagi olehnya sendiri, ia berhasil memenangkan hadiah utama lotere senilai US $ 1 juta! Mengetahui nilai kemenangannya, ia pun merencanakan untuk menggunakan hadiah uang tersebut untuk membayar biaya perawatannya di institusi khusus perawatan penderita kanker terbaik di New York.

Namun niat Wayne tersebut tak dapat diwujudkan, karena peraturan lotere menyatakan bahwa pemenang hadiah akan dibayar dalam 20 installment tahunan masing-masing senilai US $ 50.000 (dicicil selama 20 tahun). Sementara itu, penghasilan Wayne dari uang pensiun dan pendapatannya sebagai pemilik kedai minum lokal tak cukup memadai untuk menutupi biaya pengobatan di institusi kanker kelas atas yang ia inginkan. Terlebih lagi, Wayne Schenk ternyata tidak memiliki asuransi jiwa.

Meskipun uang kemenangannya dari lotere Negara Bagian New York tidak bisa ia dapatkan sekaligus sesuai rencana semula, setidaknya Wayne masih sempat mengambil satu langkah yang dianggapnya sangat penting : ia menikahi teman wanitanya sejak lama, Joan DeClerck, pada tanggal 4 April 2008, agar kelak uang hadiah lotere tersebut dapat diwariskan kepada orang yang benar-benar dikasihinya.

Kondisi tubuh Wayne di hari pemberkatan pernikahannya itu sudah sangat lemah, sehingga ia harus mengenakan tabung oksigen agar dapat terus bernapas. Di akhir bulan yang sama, hanya sekitar dua minggu setelah menikah, Wayne Schenk pun menutup mata untuk selamanya, kurang dari empat bulan setelah berhasil memenangkan lotere 1 juta dolar.

"And life has a funny way of helping you out when You think everything's gone wrong and everything blows up in your face

...

Life has a funny, funny way of helping you out
Helping you out"

Thursday, August 27, 2009

Karena Tidak Semua Hal ...


Petang ini, Dia berangkat ke Singapura bersama sahabatnya, J.

Rencananya, mereka akan menghadiri reuni sekolah menengah atas, untuk merayakan satu dekade kelulusan. Beberapa sahabat Indonesianya yang lain sudah sejak beberapa hari – bahkan minggu – lalu berada di sana.

Sekitar satu jam lalu aku sempat menelpon Dia, yang ternyata masih berada di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta. Tampaknya penerbangannya di-delay, karena sepuluh menit sebelum jadwal keberangkatan, para penumpang masih belum diminta untuk boarding. Dia sedikit kesal, karena belum sempat makan malam dan sepertinya mulai merasakan lapar. Ketika kutanya mengapa Dia tidak makan terlebih dahulu tadi, jawabnya karena Dia sudah berjanji untuk makan malam bersama para sahabat setibanya di Singapura. Hhmm, meskipun sedikit kesal-kesal tak jelas, namun aku tak berkomentar lebih jauh.

Di tengah-tengah perbincangan yang kurang beresensi untuk mengisi waktu sebelum Dia boarding, kembali diutarakannya pertanyaan itu: oleh-oleh apa yang kuinginkan dari sana. Secara sembarangan kujawab saja, minuman keras! Dia langsung menggerutu dan menolak membawakan barang itu. Kukatakan padanya, tak perlu membawakanku buku apapun dari Borders, karena aku masih punya stok buku bacaan untuk dua tahun kedepan! Lalu Dia menawarkan coklat, tapi kutolak. Tetap kuminta: minuman keras! Namun sebenarnya, ini betul-betul permintaan sembarangan. Apabila Dia tak memenuhinya pun, tak apa.

Karena jika Dia pulang dengan selamat ke tanah air hari Senin depan dan bertemu lagi denganku lantas kami bisa kembali berpelukan erat, aku sudah sangat senang dan bersyukur. Karena aku masih percaya, tidak semua hal bisa diukur dengan kepemilikan materi.

Tuesday, July 21, 2009

Di Akhir Usia


Seorang teman memberikan link Catatan Pinggir-nya Bapak Goenawan Mohammad minggu ini, yang mengulas aksi teror peledakan bom di Hotel J.W. Marriott dan Ritz Carlton, Jakarta.

Dari sekilas membaca cepat artikel tersebut, pikiranku justru dibawa melayang pada sebuah adegan klimaks anime Metropolis karya sutradara kondang, Osamu Tezuka. Dalam film tersebut, digambarkan jelas ketika sebuah ledakan mahadahsyat meluluhlantakkan sebagian Metropolis, tak ada efek suara menggelegar memekakkan telinga layaknya yang lazim didengar oleh para penonton sebagaimana biasanya dalam film-film action khas Hollywood.

Sebagai gantinya, visual pengadeganan ledakan tersebut diiringi sebuah tembang lawas lembut memanja gendang telinga, suara mendiang Ray Charles menyanyikan I Can’t Stop Loving You. Anehnya, dampak yang ditimbulkan justru jauh lebih memukau dan menghanyutkan perasaan, jauh lebih efektif dalam menciptakan rasa haru-biru.

Karena barangkali ketika kematian tidak bisa lagi dielakkan, yang memang ingin benak kita ingat menjelang waktu di dunia berakhir, adalah kenangan-kenangan indah tentang tawa, cinta dan bahagia yang pernah kita rasa.

Atau barangkali aku saja yang kebetulan sedang terbawa suasana dan jadi sentimentil? Entahlah.

Monday, April 27, 2009

Because I Always



I love it when we are together
when we do things that we both love

Talking under the big tree, enjoying the breeze
your head on my shoulder, I can smell the scent of your hair
Sitting on the couch, enjoying our lattes
you tell me stories about your recent trip to europe
Leafing through a magazine, discussing the photographs and the articles
you recount the days when you're still an intern in a high profile political magazine
Playing pingpong, try to outdone each other
you look sexy when your shirt begin to stain with sweats

I just don't want to let you go
I need to hold you tight in my arms

Because I always love it
when we're doing things that we really love together

Friday, February 20, 2009

A city, for us.


I'm looking over from the wide window of
the forty-fourth floor to the vast landscape

It's the skyline of the city that
never stops breathing

Where little miracles happen to everyone
not only to the faithful and devout believers

The city that shines bright with neon lights
and produce strange loud noises from deep inside its lungs

A city that breathes in breathes out
signaling the fragility of lives

How happiness lives just next door to sorrow
and how death lurks in from every corner

Because we all need a place where we can go
where we feel safe and love and provide us shelter

A city for each and everyone of us.


Tuesday, January 27, 2009

Disco Will Not Be Here to Stay (Neither Will You)


This is where we’ve come to
After all these things we’ve gone through

This time I’m taking it away
It is you who have got a problem

I see you are lost in so many different ways
When the problems getting in the way

You told me they made you feel like being left out in darkness
Alone, by yourself
Where no one is around to help you
While in fact I was actually standing next to you, yet
Invisible
To your eyes

Do you know that love can easily come and pass you by ?
Do you realize that it can hit you hard and then you realize,
that it’s already slipping through your fingers out of your hands ?

But you just don’t understand

So this time I’m taking it away
So you won’t have to see the elevating pain,
As the hurt turns into hating

My mind’s done with you and everything about us

But still I have this one question burning inside,
“Since I’m here to stay, can I just throw you away?”

Saturday, December 27, 2008

The Picnic Picture



There was an old photograph on your refrigerator pinned with a magnetic pineapple
Its colors turned to yellowish, a sure sign of years it has gone through
When I first looked at it, I thought it was the picture of Jesus and His disciples having a picnic under a big leafy tree
Because everyone in it had thick shaggy beards long wavy hair and wore some kind of long dresses
Like the robes they used to wear back then in the early years of Our Lord


But when I first saw the photograph, it was not because of what it depicted
It was because I had to divert my gaze from the kitchen window overlooking your backyard
Since I saw you getting steamy with another guy, not far from the pool we once made love inside


I know you’re no longer mine, but hey
Was it wrong if I feel jealousy looking at that scene with my very own eyes?


Saturday, November 1, 2008

"Hardly"


Setiap kali tanggal hari ini, aku pasti akan teringat padanya. Meskipun tentu saja, seiring berjalannya waktu dan bergantinya angka tahun, intensitas ingatanku terhadap dirinya semakin berkurang. Karena kini, tempat di dalam hati dan pikiranku yang dulu diperuntukkan bagi dan tentang dirinya, sudah berganti kepemilikan dan dipindahtangankan kepada pemilik yang baru.

Tanggal hari ini setiap tahunnya adalah saat dirinya merayakan hari jadi. Sampai dengan setidaknya dua tahun lalu, dia masih menjadi seseorang yang teramat istimewa bagiku. Berkat dirinyalah, aku kembali belajar untuk mencintai, dan siap untuk kembali dicintai. Meskipun tentu saja, kini bukan dirinya – yang biasa kupanggil Love.R. – yang mengisi hari-hariku dengan cinta. Melainkan Dia, dengan siapa aku telah menjalin romansa selama enam bulan lamanya, dan semakin kuat seiring berlalunya hari demi hari.

Jika pada tanggal hari ini tahun lalu aku masih mengingatnya dengan perasaan campur-aduk yang cenderung menjadikan hatiku bagai diseliputi mendung tebal, namun tahun ini tidak lagi. Barangkali jika disamakan dengan serial televisi, saat ini sudah mulai season berikutnya dimana sang tokoh protagonis sudah mulai berubah nasibnya ke arah yang lebih baik. Tapi sama seperti pakem dalam serial televisi, masih ada beberapa kejadian di season lampau yang memiliki pengaruh signifikan di masa kini. Salah satunya adalah bahwa aku memutuskan untuk tidak akan pernah lagi mau menjalani hubungan jarak jauh.

Saat itu selama masih menjalin hubungan, kami mencoba untuk saling menguatkan meski ada jarak ribuan kilometer memisahkan kami. Namun entah karena berbagai cara yang bisa jadi kebetulan – meskipun terasa sangat aneh dan “terlalu kebetulan” yang membuatnya jadi cenderung sukar dipercaya – tidak hanya satu kali aku mendapati dirinya berselingkuh, bahkan hingga tidur dengan lelaki lain.

Waktu itu kusangka ketika dirinya sering mengakhiri pesan elektroniknya dengan ungkapan “hardly miss you”, adalah karena dirinya salah memilih terminologi. Bahwa ini hanyalah kesalahan diksi semata, dan yang sebenarnya hendak disampaikannya padaku adalah bahwa dirinya sedang kangen berat, kangen banget. Meskipun “hardly miss you” justru memiliki makna sebaliknya. Akan tetapi setelah tak bisa lagi menahan rasa keingintahuan, akhirnya kukonfirmasilah maksud dan tujuan dirinya menggunakan kata ‘hardly’ dalam pernyataan kangennya. Dugaanku ternyata benar, dia keliru memahami makna kata ‘hardly’ yang cenderung menegasikan maksud yang sebenarnya ingin disampaikan oleh dirinya. Sejak itu dirinya tak pernah lagi menggunakan ‘hardly’ dalam berbagai pesan elektroniknya, yang memang frekuensinya tidak lagi sekerap masa-masa sebelumnya.

Andai saja kala itu aku mengetahui jauh lebih banyak tentang hubungan tersebut dan bisa menyelami lebih dalam untuk mengetahui isi sesungguhnya dari hati dan pikirannya …

Probably I’d also gonna be hardly miss R..

Tuesday, October 28, 2008

His Pair of Angelic Eyes



We were taking a walk along the pond in the park
David and William and Michael and me
It was such a cloudy Sunday afternoon
The leaves on the trees moved and fell with the breezing wind
The birds were busy chirping on the branches of the trees
Yet we still filled the time with our cheerful chatter
When suddenly my gaze struck upon these two people
Standing face to face across the pond away from us

The moment I saw him again,
The one I used to know too well
I couldn’t stop my mind from the memories flowing back
How they hurt just to remember all the good times
Made me wonder whether he felt the same
Will the memories bring back the pain?

And that afternoon I clearly saw him
Holding hands together with this beautiful young girl
And the way he looked at her ...
Boy, it gave me shiver
Because he used to look at me that way

Probably I should walk right up to them and interrupt their conversation
And tell her, “Be careful, girl. It’s a game he likes to play.”

It was Michael who held my arm
Warned me by saying,
“Just don’t. Please.”
While David imbued,
“You have to get him out of your mind.”
And Michael added to it,
“You have to forget everything.”

I knew they had their point
Because once you set eyes upon his pair of angelic eyes
Just one look and you’re hypnotized
You will think you’re in paradise
But one day when you already went deep and it was all too late
You’ll find out for all those times he wears a very good disguise
While his only intention is to take your heart
In the end it’s you who have to pay the price

Still I managed to whisper to the wind
Hoping the breeze will carry it across the pond and drop it to her ear
And right in time she could hear
What I sincerely hope she would never do

“Girl, for whatever reason, just don’t look too deep into his pair of angelic eyes.”

Thursday, October 9, 2008

Loose Knots


I remember when
Both of us laughed
On the side of the road under the traffic light

Holding hands
You promised me that
You’d always stay the same

When those diamonds shone in your eyes
How could I not trust you?
How could I not believe in you?

Yet things did not go as we’ve planned together

Now all that is left behind is I who keep wondering

What it is that holds together the loose knots of our relationship?

Tuesday, September 23, 2008

It's Complicated


Awalnya, dalam hal ini duluuu sekali kurang-lebih sudah tiga tahun silam, aku merasa alangkah senangnya ketika melihat kolom status di Friendster menawarkan opsi “It’s Complicated” sebagai alternatif pilihan selain Status standar dan membosankan semacam ‘Single’, ‘In a Relationship’, dan ‘Married’.
Entah mengapa, bagiku seperti ada bumbu intrik yang begitu kental dengan status yang menyebut It’s Complicated tersebut.

Sejak minggu pertama kusadari ada opsi Status tersebut, langsung kotaknya kucontreng check-in.
Yes! Sekarang kehidupan asmara ku pun beraroma intrik dan terasa lebih sensual dan misterius. Setidaknya inilah ilusi dalam benakku saat itu.

Kalau ditanyakan kepada diriku sendiri, saat itu memang hubunganku dengan R sedang tidak jelas statusnya. Aku bersikukuh ingin mempertahankan hubungan yang sudah berjalan satu tahun ini. Namun sebagian dari diriku, barangkali bisa dikatakan alam sadarku, berulang-kali check-in dan meminta aku segera check-out dari hubungan kami tersebut.
Andai saja waktu itu aku lebih memperhatikan tanda dan penanda ..., well, tapi tentu saja bukan itu yang ingin kubahas saat ini.
Yang jelas, bagiku saat itu terminologi It’s Complicated merupakan status hubungan yang paling tepat untuk menggambarkan hubunganku dengannya.

Seiring perjalanan waktu dan panjangnya penjelajahan di situs jejaring sosial ini semakin kutemukan ada begitu banyak orang-orang tidak penting lainnya yang asal mencantumkan ”It’s Complicated” dalam pilihan statusnya. Dengan semakin banyak yang memilih untuk mencantumkannya di dalam profile mereka, semakin aku merasa bosan dengan terminologi tersebut dan semakin aku merasa eksklusifitas kerumitan hubunganku ternyata tidaklah sungguh-sungguh eksklusif menjadi pengorbananku seorang dalam menjalani sebuah hubungan.
Menyedihkan? I knew.

Hingga kemudian kulihat opsi It’s Complicated di Friendster tersebut kini mencantumkan tanda hak paten. TM. Membosankan dan menyebalkan. Sebegitu bernilai ekonomikah sebuah pernyataan status (ketidakjelasan) hubungan antarmanusia? Padahal ini bukan St. Valentine’s Day.

Sehingga akhirnya, saat itu meski terasa berat, kuputuskan untuk melepaskan R. Apapun alasannya, telah tiba saatnya untuk melangkah memasuki babak baru. Menjalani kehidupan sebagai seorang Single.

Meskipun sepertinya semua orang tentu tahu bahwa ketika di saat-saat menjelang puncak produktifitas masa muda terpaksa harus hidup membujang tanpa ikatan romantika, adalah suatu kondisi yang sangat tidak enak.
Tidak ada someone special untuk berbagi kisah sukses dan rasa bangga atas sebuah pencapaian. Bahkan tidak seorang sahabat pun bisa menggantikan posisinya.

Tapi yang justru kulakukan saat itu adalah, mengumumkan kepada dunia (virtual) bahwa hidupku baik-baik saja. Sampai ke tahap menyebut diriku sedang dalam sebuah hubungan, In a Relationship.
Betul sekali, box itu yang kucontreng check-in saat-saat aku sesungguhnya sedang Single.
Penipuan publik? Itu hanya istilah hiperbola yang diciptakan infotainment untuk menuduh para selebriti kelas B yang memalsukan status mereka.

Maknanya bagi diriku sendiri? Pahit.

Karena, tidak ada seorangpun yang sungguh-sungguh kutipu, selain diriku sendiri.

Wednesday, September 17, 2008

Pikiranku, Petang Ini


petang ini kubuka lagi lembar demi lembar laman blog-mu
sudah lama tak kau perbarui dengan cerita canda dan lirik lagu

termenung kumenatapnya senyumku mengambang tanpa kumengerti mengapa
teraduk hati dari larutan emosi tapi tak lagi bisa ku merasa

kau yang dulu menjadi inti pusaran kehidupanku
kini tak lebih dari deretan foto usang pengingat masa lalu

tapi aku tahu perlunya berterima kasih padamu
sebab dengan sikap ketidakpedulian dan kekerasan hatimu

telah terbuka mata hati
telah bangkit kesadaran jiwa ini

bahwa untuk meraih kebahagiaan itu tidaklah mudah
bahwa cinta itu tidak selamanya indah

bahwa hidup bersamamu, mungkin bukan hal yang terbaik untukku.

Tuesday, September 16, 2008

Gone


Sometimes,
My mind still wandered
Thinking about how our relationship used to be
Before our love is gone

We were so entwined in our lies,
Surrounded by this make believes

I should have known the road we chose would run out on us

Can you tell me now what are we supposed to do?
After all that you and I have been through,
When everything that once felt so right now turns wrong,
Now that our love is gone

Our relationships last for years, but
I didn’t really know what to call you,
And to me,
You didn’t know me at all

I know you feel so hurt inside,
As I do feel just the same,
But if you still want to go on,
We need to find another reason

We have got to find another reason to hold:

Is it ...
Love?

You always seem to know where to find me
Yet I’ll never really learn how to love you

There is nothing left between us to prove,
Don’t see any reason to deny this simple truth.
I can’t find any reasons to keep holding on,
Now that our love is gone

So I need you tell me,
How many ways can we stand there in playback?
How did we end up standing here,
While I stared at you crying underneath the clear blue sky?

There’s nothing left for us to say

It’s time to move and go separate way,
Now that our love is gone.


Friday, September 12, 2008

Dan Aku Pun Bertanya ...


Apakah Kata senafas dengan Perbuatan ?
Tahukah Tanah apa yang akan tumbuh di atasnya ?
Sanggupkah Benak mencerna semua Isyarat menjadi Bahasa ?
Mungkinkah Makna bisa dibatasi oleh Imajinasi ?
Harumkah Bunga tanpa ada yang membauinya ?
Mengapakah Hidup tak bisa menjadi lebih sederhana ?

Mampukah cinta menyatukan dua hati ...
selamanya?

Tuesday, August 26, 2008

Dear Pumpkin


Dear Pumpkin,
I really gotta know
Please tell me now
Should I stay or should I go?

Pumpkin, if you say
That I am yours
And you are mine
I will be here until the end of time

So Pumpkin, you gotta let me know
Should I stay or should I go?

If I stay you said there’ll be trouble
But if I go the trouble will double

Dear Pumpkin, please stop teasing me
Just come on and let me know
Should I stay or should I go?

Tuesday, August 12, 2008

This is You & I Now



Sitting here together for the first time in years
I can not understand why
It’s hard to remember how it felt before
How we felt before

Now I found the one that I love
Everything passes more comfortably
Life seems much easier to enjoy
Smiles show up easily

Things are getting right
For us both
This time

After all the obstacles we’ve tried to overcome
It’s good to see you now
With someone else
Loving
If not learning to love
Sharing things together with him
Holding hands while walking
Looking at each others eyes
Deep and meaningful glances exchange
Mutually understanding without changing any single word
Just like what we did back then

Back then we used to think “now” was hardly possible
But “now” all our worries gone untraced
Memories seem like so long ago
Shared sadness feels like non-existent
Time surely kills the pain

Do you remember the white beaches and the splashing waves
And the seagulls screaming above us under the bright cloudless sky?
The dreaming days were gone
Look at how we became
We have changed but we’re still the same

And now we’re hanging out with your new boyfriend
So far from where we have been
To me it’s such a miracle that
You and me are still good friends

After all that we’ve been through
Now, we are cool


Tuesday, July 29, 2008

The Most Beautiful Little Girl in The World

“You may find her look weird, but for me, she is the most beautiful little girl in the world.”



I was waiting for Gary at Plaza Senayan last Sunday evening because we want to catch up with one another latest details, i.e. sharing juicy gossips about people we know. Having no idea as where to go while waiting for him to arrive from his home at Wijaya, I decided to go browsing some new books at Kinokuniya.

Saat melewati salah satu rak yang khusus memajang buku-buku photography, pandangan mataku tertumbuk pada sebuah buku which boasting such a grand title: 100 Days in Photographs: Pivotal Events That Changed The World.
Berhubung sejak zaman masih berstatus anak sekolahan, mata pelajaran sejarah dunia entah mengapa seakan memiliki magnet tersendiri buatku, langsung saja buku tersebut kuambil dari rak dan kubuka.
Untungnya, buku tersebut tidak disegel dalam plastik kedap udara. Meskipun para pegawai Kinokuniya tidak pernah keberatan untuk membukakan segel plastik yang membungkus salah satu buku jualan mereka, tapi ada sekelumit rasa segan meminta tolong mereka membukakannya karena aku hanya iseng pengen lihat-lihat buku ini dan sudah pasti hampir pasti 99.99% tidak akan membelinya.

Paragraf pembuka di jaket buku bertutur tentang kekuatan foto yang mampu berbicara ketika mendokumentasikan sejarah manusia pertama yang mencoba berjalan menyeberangi Niagara Falls di atas seutas tambang – dan berhasil. Menarik sekali. Apalagi mengingat konteks sejarah terjadinya peristiwa mendebarkan ini yang lebih dari satu abad lalu.
Mulailah konsentrasiku terfokus untuk menyimak isi buku ini. Beragam banget entry-nya, semua disusun kronologis, mulai dari pembangunan Eiffel Tower, pembunuhan Abraham Lincoln, hijrah Gandhi demi mendobrak monopoli atas garam, korban bom atom Hiroshima, ... hingga satu halaman besar hitam-putih foto seorang pria yang sedang mendekap seorang anak kecil di dadanya.
Kalimat keterangan yang menyertai foto menyebutkan bahwa pria tersebut – dengan nama khas Rusia yang aku tidak bisa ingat lagi – adalah ayah dari seorang anak perempuan kecil yang dalam foto sedang dipeluknya dengan erat. Anak perempuan kecil itu lahir lebih dari satu dekade setelah bencana meledaknya reaktor nuklir Chernobyl.
Membaca kutipan ucapan pria tersebut ketika diwawancarai untuk artikel orisinil yang menyertai publikasi foto tersebut – yang kucoba tulis ulang berdasarkan kemampuan ingatanku di bagian pembuka tulisan ini – membuat seakan-akan jantungku naik ke tenggorokan dan hatiku terasa nyeri karena sakit.

Bayangkan saja, anaknya mengalami cacat permanent akibat terpapar efek radiasi nuklir sejak dalam kandungan, sehingga tidak akan pernah bisa duduk sendiri seumur hidupnya, let alone standing and walking. Tengkorak kepalanya membesar seperti anak-anak penderita hydrocephalus – yang beberapa kali menghiasi pemberitaan media nasional yang disebut-sebut sebagai dampak kelaparan akut negeri ini – dan tubuhnya tampak ringkih seakan-akan tidak bisa ia gerakkan sendiri. Dan terlepas dari segala kekurangan kondisi tubuh si anak perempuan kecil, kedua orang-tuanya, dengan kasih-sayang mereka yang begitu besar, benar-benar mencurahkan segalanya untuk merawat anak mereka itu.

Aku harus mencubit tanganku sendiri untuk mengalihkan terpaan gelombang kesedihan dan rasa haru ketika membaca tulisan tersebut.
You call me oversensitive? I am.

Karena sampai kini aku tidak bisa mengerti mengapa ada orang-tua yang tega melakukan kekerasan kepada anak kandung mereka, darah-dagingnya sendiri.
Waktu kecil, aku juga pernah sekali-dua dipukul oleh Bapak ataupun Ibu. Tapi itu juga karena memang diakibatkan oleh kenakalanku sendiri, misalnya menggunting gorden baru di ruang keluarga sehingga bolong-bolong, memecahkan kaca jendela karena terlalu seru bermain, atau karena ketahuan mencuri uang dari dompet Ibu karena lagi pengen belanja permen. Luapan emosi sesaat orang-tua, sesuatu yang aku anggap wajar saja. They’re no angels. Neither I am. Toh hanya sekali dua saja tangannya mendarat di tubuhku, tidak lebih. Besoknya juga sudah biasa lagi, dan tidak ada juga ’bekas gambar tangan’-nya di badan. Tidak sampai seperti yang belakangan sering diekspos oleh media massa, dimana ada anak yang disundut rokok atau tulangnya patah akibat hal-hal sesepele keisengan anak-anak. Dan syukurlah, apa yang aku alami ketika masih kecil sangat jauh bila dibandingkan dengan kesadisan seperti yang dialami almarhum Arie Hanggara.
All I can say, even when some shortcomings occurred once in awhile, that my childhood was very happy and pretty much content.

Dan mungkin bagi anak perempuan kecil yang berada di dalam dekapan ayahnya di dalam foto itu, hidup masa kecilnya barangkali adalah sebuah kehidupan yang berbahagia dan tidak berkekurangan.
Karena ada cinta dan kasih-sayang kedua orang-tuanya yang tercurah baginya.

If she is not the most beautiful little girl in the world by our “normal” standard, I sincerely hope she’s one of the happiest. By any standard.




Note from writer:
Images shown in this piece of writing are different
from the one which became the base of this writing

that was published in the 100 Days in Photographs book.

Friday, July 18, 2008

What If?


What about having some nice espresso brownies and vanilla latte or decaf cappuccino at Starbucks? What if you opened your papercup lid to cool your cappuccino faster, so when you drink it its froth stayed on your upper lip forming a white mustache? You still look cute with that silly soup-strainer and you made me laugh by making faces until my eyes watered.

What about kissing your tender lips inside the car while we’re in the parking lot? I was whistling “Young Folks” when you whispered my nickname in such husky voice I turned around and stopped, lips still mouthing O. Your sexy thoughts flashed in your eyes I can see you burning inside. What if I told you that only by looking at your wet cherry lips I knew that all I want to do was kissing you right there at that moment?

What about lying together side by side on this white beach sands eyes gazing at the blue cloudless sky? The sun just rose the wind brought the salty taste of ocean air. Turning my head looking at you, sleeping soundlessly your smile widened. What if it was not me who was running around in your dream would you tell me that honestly when you wake later on?

What about your promise to be back here by my side to celebrate your birthday privately, just the two of us? You knew too well I can not cook anything but instant noodles, yet I tried hard to prepare your favorite pasta just to make you happy, to see you smile cheerfully. Because no matter what others may say about it being tacky, all I want to do in this world is to make you feel happiness with me.

What if I never let you go to your office that day?
What about staying in bed and cuddling for a little bit longer that day?
What if I made love to you in the shower which would definitely make you to arrive late to your meeting?
What about taking alternative routes just like what you usually did everyday so you wouldn’t be stuck in the daily traffic on that highway?
What if you forgot to bring your cellular phone which you left on the coffee table, and then you return just to pick it up?

You would still be here beside me.
I would never felt this kind of shocked watching that news.
You would still call me at noon just to make sure whether I already had lunch or not.
I would still find you in our place waiting for me to return home after working way until late.
You would still need me to go with you to bookstores and coffeehouses on weekends; “Just for the atmosphere,” like you always said.

I would still have you, you would still love me, I would hugged and kissed you a lot, you would still demanding more.

We would still have – and love – each other.

Thursday, July 3, 2008

Love. At Any Cost.



Ku menatap langit malam mendung tanpa bintang

Namun hanya kamu yang ada dalam pikiranku, Sayang

Kubiarkan pikiranku bebas terbang melayang

Benakku bertanya kapan Cintaku datang

Dalam pelukan hangatku, kuingin dia pulang






all my love for R.
at any cost.





Post Script:
This love poem dated back to March 17, 2006,
when it was first published online in my previous blog,
LoveHateDreamsLifeWorkPlayFriendshipSex,
and dedicated to the one I once love so much,
my center of the universe,
R.