Showing posts with label blog. Show all posts
Showing posts with label blog. Show all posts

Tuesday, August 25, 2009

Kebetulan Yang Tak Menyenangkan


Saat semua penonton tercekam oleh kebengisan dan ketidakmanusiawian Esther dalam menghabisi para korbannya dengan sistematis dan penuh presisi, pikiranku justru diliputi oleh kekalutan, karena alam bawah sadarku mengirimkan sinyal-sinyal bahwa aku sesungguhnya tahu jawaban dari misteri di balik sosok gadis kecil yatim piatu tersebut.

Dan betul saja! Ketika terungkap siapa Esther sesungguhnya, hatiku justru melenyos.

Karena plot yang mirip dengan mengandalkan kondisi fisik khusus sang karakter antagonis sebagai trik ”tipuan” sudah pernah kupikirkan sejak beberapa bulan lalu! Bedanya, saat itu aku masih belum menemukan apa istilah kedokteran untuk menjelaskan kondisi fisik khusus tersebut; dan sialnya, kini jawabannya justru kutemukan dalam film Orphan.

Hiks hiks, artinya kerangka cerita thriller yang sempat kukembangkan dalam pikiran dan pernah dipaparkan secara sangat singkat dalam salah satu entry blog-ku, terpaksa disingkirkan jauh-jauh untuk selamanya.

Damn you, Alex Mace!

Tuesday, June 2, 2009

To Blog, Or To Nap? That's The Question



A friend asked me in private message sent through Facebook, why I stopped updating my blog.
I told him I didn’t. I just put my entries up on hold. They’re all there, lining up chronologically in “Draft” section.
The reason why it seemed I was in hiatus is because I was pretty much busy with my work. (Do I hear someone yelled, “Booo! Lame excuse!”?) But hey, that’s true.
My works were pretty tight up choking me, and if I do have some time to spare, I’d used it for ... sleeping. Yes, I read somewhere that by sleeping, one can burn more calories than sitting behind his/her office desk and running his/her fingers on the keyboards, i.e. typing. My belly is getting rounder by day, so I guess I’d just sleep it off.
If you hear some strange purring noise near my office desk after lunch time, please not to worry. Probably that was just me snoring while napping.

Oh and about the hiatus thingy, actually I did create some short writings. They’re what others labeled as microblogging. If you don’t know what I mean, check my Twitter account.
And somehow I just know that this friend of mine in no time upon hearing my reason would certainly asked me: is microblogging count as regular blogging?

Thursday, November 27, 2008

Menikmati M*



Pernah kubaca entah di mana, seseorang yang kulupa entah siapa, mengatakan bahwa menulis blog itu sama saja dengan bermasturbasi dengan pikirannya.

Oops !
Menurut hematku pribadi, pendapat yang diparafrasekan kembali di atas itu lumayan vulgar. Dan terasa tidak pada tempatnya. Bisa jadi – ini berdasarkan kecurigaan tak berdasar semata – karena yang mengeluarkan pendapat itu cuma asal bunyi saja, sekedar cetusan mencari sensasi belaka.
Ibarat kata, biar happening aja gitu.
(Menggunakan idiom ”ibarat kata” barangkali akan membuat sementara pihak menduga kalau aku terinspirasi oleh Dewi Perssik kala dirinya sedang diinterview oleh para wartawan infotainment)

Soalnya, apa perbedaan nyata antara aktivitas menulis blog dengan menulis diary, selain medium yang dipergunakannya ?
Menulis blog jelas-jelas ditujukan untuk konsumsi khalayak – karena kalau tidak, buat apa dipasang di wilayah yang terkategorikan sangat umum karena bisa diakses oleh sejuta umat. Benar demikian, bukan ? Sedangkan menulis diary jelas-jelas termasuk dalam ranah pribadi, karena rasa-rasanya tidak ada yang melakukannya dengan tujuan untuk kemudian sengaja diekspos/dipublikasikan kepada masyarakat luas.
Tapi tak pernah kudengar ada pendapat yang mengatakan kalau rajin menulis diary berarti gemar bermasturbasi (masih “dengan pikirannya”, ingat dong embel-embel yang ini jangan sampai lupa). Padahal kegiatan menulis diary kan cenderung dilakukan kala si penulis sedang sendirian di dalam sebuah ruangan, saat dirinya merasa rileks dan nyaman serta bisa berkonsentrasi penuh pada aktivitas yang ingin dilakukannya. Bedanya apa coba dengan kondisi yang memungkinkan seseorang bermasturbasi ?

Nah, apabila kembali lagi ke premis yang mendasari tulisan ini, yaitu untuk mengomentari pendapat di atas, rasanya jadi agak semakin membingungkan. Bila dikatakan ”target” pembaca blog itulah yang menjadi dasar pembentukan pendapat itu tadi, berarti bisa jadi ”tuduhan” sesungguhnya adalah bahwa penulis blog itu eksibisionis dong. Secara ”masturbasi” dengan tujuan bisa dinikmati oleh orang lain. [*euw*]

Barangkali hanya aku saja yang jadinya berpendapat begini : si pencetus pendapat itu tadi malah terkesan pervert yah. Seperti si kakek cabul di Dragon Ball, yang memiliki kecenderungan (baca: fetish) berbeda dengan mayoritas orang lainnya, tapi malah menganggap kelompok mayoritas lah yang memiliki kekeliruan. Hhhmm ...

Ngomong-ngomong nih, mengapa lebih banyak orang Indonesia yang tidak mengetahui bahwa padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk masturbasi adalah ”merancap” ?
Entah apa akar katanya, dan aku belum sempat mencoba mencari referensi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, apa bentuk kata dasarnya; apakah ’ancap’ atau ’rancap’.

Barangkali ada yang bisa membantu memberikan pencerahan ?

Monday, November 3, 2008

“I Just Wanna Say, ‘You’re Such an Arrogant Biatch!’”


Terkadang sukar rasanya untuk menentukan, apakah pelaku industri kreatif negeri ini terlalu pintar sehingga bisa mendikte pasar, atau mayoritas konsumen di negeri ini yang terlalu sederhana pikiran dan seleranya – untuk tidak mengatakan bodoh dan berselera buruk – sehingga bisa diatur dan dikendalikan oleh para pemilik modal.

Lihat saja kondisinya masa kini (yang sedikit banyak sesungguhnya merupakan warisan masa silam). Tontonan konyol bernama sinetron remaja / keluarga dengan aksesori mata melotot teriakan kencang dan bolak-balik berkenalan antar para tokoh lewat peristiwa ditabrak mobil mewah masih saja menjadi jualan laris dan merajai jam tayang utama di berbagai stasiun televisi. Bioskop semakin dibanjiri film-film dengan ide dan alur cerita yang sepertinya diciptakan sambil menunggu buang air besar di pagi hari (meskipun terkadang tak bisa dipungkiri, inspirasi untuk hal-hal brilliant bagi umat manusia didapatkan ketika melakukan ‘ritual pagi’). Penerbitan buku-buku baru belakangan ini lebih berupa kumpulan curhatan dari blog seseorang ketimbang cerita yang diharapkan lebih bisa mencerahkan dan memperkaya khazanah jiwa seseorang (ini mah, rada beuradth ...!)

Lantas bagaimana dengan industri musik tanah air?
Yang jelas, aku tidak akan memberikan komentar soal pembajakan CD/kaset yang makin susah dikendalikan. Juga tidak tentang fenomena Kangen Band dan gaya bermusik dengan inspirasi irama melayu. Apalagi untuk mengomentari balik komentar seorang juri Indonesian Idol terhormat, yang kebetulan beristrikan seorang diva-yang-bertransformasi-menjadi-dewi (hah?!), yang menilai seorang kontestan Idol jadi layak diragukan kelelakiannya karena menyanyikan lagu masa kini yang menye-menye (secara mayoritas lagu-lagu penyanyi pria masa kini yang ngetop selalu tentang ditinggal kekasih atau jadi korban perselingkuhan ... plus patut diingat, bukankah tempo hari juri ini pernah tampil di hadapan khalayak ramai dengan rambut rebonding a la boyband F4 ??).

Beberapa tahun lalu, ketika Naif merilis lagu “Towal-Towel” yang liriknya hanya terdiri dari kata-kata “towal towel jangan mere-mere”, semua orang menganggap ini adalah satu lagi keunikan band unik asal Bandung ini, dan lagu tersebut dapat diterima dengan cukup baik.




Tapi ketika Potret melakukan come back lewat original soundtrack sebuah film komedi remaja, Chika, dengan lagu berjudul dan berlirik full bahasa Inggris, agak aneh rasanya melihat lagu tersebut bisa ngetop dan diterima mayoritas pendengar dan konsumen musik di Nusantara.
Lagu yang kumaksudkan berjudul “I Just Wanna Say I Love You”. Jika ada yang beralasan liriknya yang full English itu yang membuat lagunya terkenal, well, think again. Dari awal sampai akhir, Melly Goeslaw cuma mengucapkan I Just Wanna Say I Love You dengan bermacam gaya dikali sekian puluh kali until fade. Musiknya pun hanya tang-teng-tong dengan sebaris lirik yang sepertinya paling pantas untuk program indoktrinasi cuci otak di kamp konsentrasi para Hippie.
Aku benar-benar bingung dibuatnya. Apa karena Melly bersama group Potret sebegitu pintarnya membaca selera pasar sehingga bisa menghasilkan lagu sedemikian norak tapi bisa ngetop habis-habisan, atau karena konsumen negeri ini cara berpikirnya ’terlalu sederhana’ ya?

Awalnya kupikir arogan sekali Melly Goeslaw dengan lagunya yang berlirik sederhana itu, tapi ternyata aku keliru. Tidak lama setelah itu, muncullah videoklip terbaru dari group musik Dewa 19 yang punya judul eksotis nan fantastis, ”Perempuan Paling Cantik di Negeriku Indonesia”.
Pada awalnya ketika membaca judul lagu tersebut dalam template tayangan, aku berpikir, dan bisa jadi banyak banget orang lainnya juga berpikiran serupa, bahwa lewat lagu ini Ahmad Dhani wants to pay tribute to Mulan Jameela. Ternyata di kemudian hari dalam salah satu wawancara, kata Dhani lagu ini dipersembahkan bagi perempuan-perempuan negeri ini yang terkenal cantik luar dalam.
Bukan soal 'tribute to ...' -nya yang menarik untuk dikupas, melainkan justru latar-belakang / background dari videoklip ini yang terlihat seperti bendera Merah-Putih tapi ditempeli (dijahit) dengan logo bintangnya Dewa (atau Republik Cinta, aku kurang jelas tapi pokoknya bintang segi delapannya itulah).
Please do correct me if I'm wrong, tapi bukankah tindakan itu bisa dikategorikan sebagai perbuatan desakralisasi dan pelecehan terhadap lambang negara ya? Kenapa juga koq bisa ga ada satu manusia pun di negeri ini yang berkomentar dan protes ya? Bisa jadi besok-besok Dhani akan pasang logo mirip Burung Garuda yang dikreasikan dikit terus ditempel di depan selangkangannya, lalu di-shooting close-up untuk videoklip dari sebuah lagu ciptaannya yang berjudul ”Burung Paling Gagah Perkasa di Negeriku Indonesia”.

Ya ampun, Ahmad Dhani. Dirimu itu memang "luar biasa" dan ada-ada saja, sibuk cari-cari sensasi atas nama kreatifitas. Pantas saja engkau tak menolak ketika sebuah majalah lifestyle lisensi asing terbitan lokal menggelarimu sebagai Makhluk Tuhan Paling Arogan.

Simply because YOU ARE.

Wednesday, September 17, 2008

Pikiranku, Petang Ini


petang ini kubuka lagi lembar demi lembar laman blog-mu
sudah lama tak kau perbarui dengan cerita canda dan lirik lagu

termenung kumenatapnya senyumku mengambang tanpa kumengerti mengapa
teraduk hati dari larutan emosi tapi tak lagi bisa ku merasa

kau yang dulu menjadi inti pusaran kehidupanku
kini tak lebih dari deretan foto usang pengingat masa lalu

tapi aku tahu perlunya berterima kasih padamu
sebab dengan sikap ketidakpedulian dan kekerasan hatimu

telah terbuka mata hati
telah bangkit kesadaran jiwa ini

bahwa untuk meraih kebahagiaan itu tidaklah mudah
bahwa cinta itu tidak selamanya indah

bahwa hidup bersamamu, mungkin bukan hal yang terbaik untukku.

Friday, August 1, 2008

Surmounting The Blanks, Here Comes The Parodies


Kalau sedang tidak ada entry baru di blog ini dalam waktu yang relatif lama, belum tentu juga berarti kreatifitasku sedang jalan di tempat. Bisa jadi saat-saat tersebut aku sedang tidak ada akses bagus dan suasana kondusif yang mampu membangkitkan mood untuk menulis blog, misalnya ketika sedang berlibur di rumah orangtuaku. Ketika sedang berada di sana, rasanya malas banget buka laptop. Pengennya bermain-main sama anjing-anjing yang begitu banyak, atau makan homemade cooking sebanyak-banyaknya yang memang khusus dipersiapkan Ibuku.

Meskipun pada kenyataannya, dalam banyak kesempatan, memang ketiadaan entry baru di Life in The Time of Butterflies lebih dikarenakan alasan yang pertama kali disebutkan di atas, haha!
Atau ..., nah ini adalah penjustifikasian lain, ketiadaan entry baru merupakan akibat kesibukan yang amat sangat terkait tanggungjawab pekerjaan, yang memang 99,99% melibatkan aktivitas menulis kreatif. Jadi energi untuk berpikir kreatifnya sudah disedot banyak untuk menyelesaikan pekerjaan utama.

Misalnya sebagai contoh adalah naskah berikut. Pengerjaan naskah ini sempat menghantui kesejahteraan liburan akhir pekanku karena harus disubmit first thing on the following Monday morning. Kebayang dong bagaimana bingungnya, karena sejak assignment ini diberikan pada hari Kamis pagi, di Minggu siangnya aku masih blank points – Punkt Punkt Punkt – ga ada ide apapun mau menulis apa.

Tapi memang ide kreatif suka datang seperti maling, atau dalam analogi yang lebih ekstrem, seperti maut. Mendadak pada Senin remang-remang tanah sudah ada gambaran apa yang mau kutulis, dan ketika jemari ini menari di atas tuts keyboard, idenya semakin lama semakin jelas dan, ... voila!

Tidak perlu berkomentar lebih panjang kali lebar kali tinggi di sini, lebih baik Anda baca – dan nilai se-”kreatif” apa – sendiri.

Happy reading!


* * *


Sketsa: Launching Product Canister
Tema: Parodi film Ghost
Durasi: max. 10’ (incl. video produk)


Bcaksound: intro. LeAnn Rymes – "Unchained Melody".

Pria: Wah, sebentar lagi calon mertua ulang tahun nih. Bawa kado apa ya? Hhmm, biar terasa lebih spesial dan bisa merebut hati mertua, kadonya kubikin sendiri saja ah. Kebetulan banget nih, calon mertuaku kan suka kerajinan tangan gitu, jadi aku mau bikinin vas bunga sajalah. Pasti dia makin suka padaku, terus si Demi pacarku itu akan disuruh buru-buru kawin sama aku. Hehehe ... (menggosok-gosok tangan lalu berjalan mendekati meja dengan vas)

Lagu ”Unchained Melody” versi LeAnn Rymes masih terus terdengar di background.

Pria (ambil ancang-ancang): Eh tapi tunggu dulu! Lagunya masih salah nih! (backsound mendadak stop dengan bunyi screeching) Harusnya kan lagunya yang ini nih! Muusik! (cue to ”Unchained Melody” versi The Righteous Brothers, OST ”Ghost”).

Backsound: The Righteous Brothers - "Unchained Melody".

Pria mulai bergerak-gerak jenaka/lebay sedang membentuk vas tanah liat, mengikuti alunan lagu ”Unchained Melody”. Seorang perempuan (mengenakan wig rambut pendek sebahu) muncul on stage dan mendekati pria dari belakang, lalu kedua tangannya ikut memegang vas dengan lembut (benchmark scene film “Ghost”), durasi lagu ± 30”

Pria (menoleh ke belakang): Lho?! (kaget; backsound berhenti) Siapa kamu?! Kamu bukan pacarku, Demi Mor! Kamu kok lebih mirip Dora The Explorer!!

Wanita (logat British a la Cinta Laura): Aduuuh, honey, ini memang aku, pacarmu, Demi Mor. Cuma tadi pas kesini, tiba-tiba di tengah jalan turun hujan, jalan becheck, terus ga ada ojhek. Jadinya aku terpaksa jalan kaki dech. Badanku jadi basah, dan rambutku jadi lephek. (sambil memegang-megang rambutnya) Uugh, bete!

Pria: Wah, kamu kehujanan ya sayang? Aduh kasihan, pasti sekarang kamu kedinginan. Ayo sini, Bang Petrik peluk biar jadi hangat. (sambil mencoba memeluk Demi Mor)

Wanita: Aduuuh, Bang Petrik jangan kecentilan dong ach! Kan bukan muhrimnya. Lagian malu lho, banyak Ibu-ibu di sini ngeliatin kita semua …

Pria (ekspresi malu tersipu-sipu): Oh iya ya, kamu benar juga. Maaf ya Ibu-ibu. Saya lupa kalo Demi Mor ini masih belum jadi istri saya. Sudah ga ku-ku nih, jadi bawaannya pengen ngejoss aja!

Wanita: Eh, ngomong-ngomong, honey, kamyu lagi bikhin apa? Kok kayanya busy busy banget gitchu?

Pria: Iya nih sayang. Aku kan mau coba bikin vas bunga. Ceritanya sih biar jadi kado bikinan sendiri buat Mama kamu pas ulangtahunnya nanti. Siapatau dengan kado spesial dariku ini, Mama kamu jadi luluh hatinya, dan segera merestui hubungan kita. Terus kita bisa cepat-cepat menikah deh.

Wanita: Ooh, honey, kamu itu care banget dech. Tapi, my Mom itu lebih suka yang praktis-praktis ajha. Buktinya, sejak Demi masih kechil, pergi kemana-mana my Mom always bawa Tupperware. Waktu kita holiday ke Jerman buat ketemu keluarga Papa, my Mom juga bawain oleh-oleh rendang yang disimpan dalam wadah Tupperware.

Pria: Ondeh mandeh, Demi. Ternyata kamu keturunan Padang juga ya? Sampai bawa oleh-oleh rendang segala waktu bertandang ke Jerman.

Wanita: Iya dong. Soalnya keluarga Papa di Jerman, meskipun boule-boule, tapi suka makanan spicy khas Indonesia. Demi kasitau ya, kalau disimpan di dalam canister Tupperware, rasa dan aroma rendangnya tetap terjaga lho, meskipun disimpan lumayan lama. Itu sebabnya my family selalu pilih Tupperware. Pokoknya, ogah pindah ke yang lain. No way, dude!

Pria: Pantes saja waktu kemarin ke sini, kamu bawain aku makan malam di dalam canister Tupperware. (berjalan ke meja untuk ambil Canister Baseline) Ini dia, canister Tupperware-nya. Eh, tapi apa ya tipe canister ini? Aku kok lupa.

Wanita: Duh, honey. Kamu kok pelupa banget sich orangnya. Itu namanya Canister Baseline. Selain buat bawain makanan untuk kamu, Canister Baseline ini punya banyak manfaat lho. Kalau kamu, juga Ibu-ibu yang ada di sini mau tahu apa saja kegunaan dan keunggulan Canister Baseline ini, yiuk kita lihat tayangan berikut ini. (cue to penayangan klip video produk Canister Baseline)

Penayangan klip video produk Canister Baseline; durasi to be confirmed.

Pria (sambil applause): Waah, bagus banget ya Canister Baseline ini. Kalau gitu, aku ga jadi bikinin vas bunga buat Mama kamu ah. Aku ganti saja hadiahnya dengan Canister Baseline. Pasti Mama kamu langsung jatuh hati sama hadiah pilihanku ini. Terus Mama kamu langsung setujui deh hubungan kita untuk ke jenjang yang lebih serius lagi. Kita langsung nikah deh!

Wanita (bergaya manja): Naah, gitu dong. My boyfriend harus smart, kaya akyu!

Pria: Eh, tapi ngomong-ngomong. Gaya bicara kamu kok seperti artis sinetron kondang itu sih. Siapa namanya? Cincha-cincha gitu deech …

Wanita (bergaya merajuk): Aach, honey. Kok kamu ngomongnya gitu sich.

Pria (nada membujuk): Hehehe … Maaf deh, sayang. Aku kan cuma becanda. Kamu jauh lebih cantik kok daripada dia. (masuk bridging part instrumental The Changcuters - ”I Love You, Bibeh”; lagu jelang 1’ terakhir) Bahkan waktu lagi cemberut kaya gini, kamu juga tetap cantik lho. Itulah makanya aku cinta kamu, Demi. Pokoknya, I love you, Bibeh deh ... (langsung masuk ”I Love You, Bibeh”; part ± 1’ terakhir dengan lirik repetitive until fade)

Pria dan wanita silam sambil bergandengan tangan.

MC muncul, beri komentar seputar klip video Canister Baseline dan sketsa parodi Ghost. MC announce bahwa Canister Baseline akan menjadi attendance gift bagi seluruh Manager yang hadir malam itu.



* * *


Sketsa: Launching & Canister Baseline + Extra Conference Gift (Cool Cube Baseline)
Tema: Parodi Batman & Robin
Durasi: max. 15’ (incl. video produk)

Intro. Opening Theme serial Batman versi 1960-an.
Batman berlari masuk ke stage lalu ngedance disko jadul mengikuti irama lagu opening theme Batman.


Batman (ketika musik berhenti): Ah, gila juga ya itu si Joker. Malam-malam kaya gini bikin ulah. Padahal gue sudah ada janji dugem sama Catwoman. Jadinya batal deh. Mudah-mudahan aja Catwoman ngerti dan bisa terima jadi nomer dua. Kalo ga, ntar ribut lagi. Apes deh gue! (berjalan menuju meja) Sebelum mulai dinas, ngemil dulu ah, biar ada tenaga buat kejar Joker.


Batman (celingukan di dekat meja): Lho?! ... Lho?! Aneh. Perasaan si Alfred biasanya nyiapin camilan di sini. Sengaja disimpan dalam canister baseline, katanya biar camilanku tetap enak dan tahan lama. Tapi jangankan camilanku, canisternya juga hilang? Ah, Alfred pasti lupa nih. Sudah pikun. Maklum, faktor U. Tapiii … kalau kelaparan kaya gini, gimana bisa nanti ngejar Joker ya? Bete nih!


Insert backsound: Jikustik – "Selamat Malam Dunia".

Robin muncul on stage sambil ngedance. Batman melihat aksi Robin sambil terbengong-bengong.


Batman (buru-buru menghampiri Robin): Astaganaga, Robin! Kenapa lo? (menggoncang-goncang badan Robin) Sadar, nak, sadar!


Robin (berhenti ngedance): Aah, payah lo sob! Gitu aja kok ga’ tau sih? Eh, Batman, ... Si Polan sibuk nyangkul ...


Batman: Apa tuh artinya?


Robin: Jadi Batman kok ga gaul?! Ha! Ha! Ha! ... Eh, sob, gue kan tadi lagi ngedance tuh. You know lah, malam ini kita kan mau party! Woohoo !!


Batman: Ah, reseh lo! Gue kirain tadi itu lo kesurupan. Sudah ah, ga usah ingetin gue lagi soal party-party itu. Bete nih gue, gara-gara ulah Joker, bisa-bisa Catwoman ntar pundung lagi sama gue. Eh, ngomong-ngomong, lo liat canister baseline gue ga? Biasanya sih Alfred letakinnya di sini. Tapi barusan kok ga ada ya?


Robin: Ooh, canister ya? (sambil melangkah menjauh perlahan) Yang warnanya hijau muda gitu ya? Yang ada diisi Alfred keripik jengkol ya? Ehem ... (melangkah mundur hingga jarak dengan Batman ± 2m lalu merogoh tas yang dipegangnya dari tadi) Sori ya sob. Tapi tadi canister lo gue ambil, abis lucu sih. Terus kripik jengkolnya sudah gue habisin tadi waktu nonton kontes nyanyi “Mamalia”. Ini nih canisternya ... (Robin ambil canister baseline dari dalam ransel)


Batman: Apaaa?! Kripik jengkol favorit gue lo abisin? Canister baseline gue juga mau lo embat?! Sini, balikin!!


Robin (menyerahkan canister ke Batman): Aduuuh, sori dori mori deh, sob. Abis canister lo keren-keren semua sih. Gue sampai jadi klepto gitu deh pas ngeliatnya. Pengen punya juga sih ... Tapi, Batman, lo kan sudah punya banyak canister Tupperware. Kalo gue, kan baru mau mulai koleksi. Bagi gue dong, satuuu aja. Ntar abis lo balik nih dinas malam, gue pijitin deh. Mau kan yaaa, pleaaseee ... (Robin mulai memijit pundak Batman)


Batman (nada seperti orang keenakan): Aaah, ya ya, disitu, bener, aaah ... enak! (Batman geliat-geliat, lalu tersadar tiba-tiba lantas bergerak menjauhi Robin) Eh, enak aja ya! Canister yang lo ambil tadi kan sebenarnya ada pasangannya, satu set penuh gitu. (sambil meletakkan canisternya ke meja bersama set baseline lainnya) Jadi kalau satu aja yang ilang, jadi ga lengkap dong koleksi gue!


Robin: Uh, Batman, pelit banget sih lo. Ya sudah, gue ga mau temenin lo kejar Joker malam ini. Biar aja lo ntar minta bantuan sama hansip-hansip sini. Gue mo balik aja deh, pengen nonton ”Mamalia”. (berjalan menjauh)


Batman: Eh, nanti dulu, Robin! Bukan begitu maksud gue. (menghampiri Robin) Gini aja deh, gimana kalau gue minta lo nonton dulu yang satu ini, barengan seluruh Manager Tupperware di sini. Nanti lo bisa ngerti kenapa canister baseline ini begitu spesial buat gue.


Robin: Yawdah. Mana dia yang harus gue tonton?


Batman: Ini nih! (cue to penayangan video canister baseline)


Penayangan klip video Canister Baseline; durasi to be confirmed.


Robin (usai video): Wow! Keren banget nih Canister Baseline!


Batman: Ya iyalah! Masa ya iya dong. Tupperware gitu loooh ... Semua Ibu-ibu di sini juga pasti sudah pada hapal kalau Tupperware itu ga ada saingannya.


Robin: Tapi, sob, teteup aja kan gue cuma bisa ngiler doang, cuma bisa ngeliatin doang. Uh! (merajuk)


Batman: Ga gitu, man! Justru sekarang karena lo udah ngeliat gimana kerennya Canister Baseline tadi, pastinya lo sekarang udah tau dong betapa besarnya manfaat canister ini buat seorang Batman. (sambil berjalan menghampiri meja) Tapi berhubung gue ngerti banget kalau lo juga pengen punya Tupperware, ini nih, gue berikan set Canister Baseline gue. Tapi ingat! Lain kali lo harus beli sendiri ya, kan Catwoman sering tuh bikin party Tupperware di rumahnya.


Robin: Wah! Beneran, sob? Lo beri gue Canister Baseline punya lo? Ini beneran ikhlas kan?


Batman: Udah deh, saking ikhlasnya nih ya, gue juga berikan tambahan Cool Cube Baseline yang imut-imut ini. Biar koleksi Tupperware lo yang pertama komplet plet plet!


Robin: Waah! Tengkyu banget, sob! Lo emang sobat sejati gue deh! Eh, tapi masa sih Ibu-ibu Manager yang ada di sini ga kebagian?


Batman: Nah, ini nih buktinya lo belum kenal sama Tupperware! Malam ini, seluruh hadirin yang ada di sini juga akan mendapatkan Canister Baseline buat ngelengkapin koleksinya, dan ... tentu saja masih ditambah lagi dengan Cool Cube Baseline!


Backsound: intro instrumental The Changcuters – ”Racun Dunia” (atau yang berirama upbeat sejenis)


Robin: Cihuuy! Keren banget! ... Eh, Batman ...?


Batman: Ada apa lagi sih?


Robin: Achmad Dhani perlu dijewer ...


Batman: Hah? Maksudnya??


Robin: ... Yang bisa begini, cuma Tupperware !!


Batman (jeda sesaat): Ha! Ha! Bisa aja lo, sob! Udah ah, yuk kita mulai dinas malam ini. Si Joker pasti udah bertanya-tanya, kenapa kita berdua masih belum keliatan batang hidungnya jam segini ...


Robin: Iya ya. Yuk ah!


Batman dan Robin berjalan berdampingan meninggalkan panggung.


Backsound: ”Racun Dunia” fade out (before Tria’s vocal)
.


End Note from writer:
Corny? You bet! Ha! Ha! But wait until
you read the other two parodies, which
are even cornier. Ha! Ha! Haha! *LOL-ing*

Friday, June 20, 2008

Story Behind The Creation

Couples of years ago, from various sources of international online news services, I read that writing blog is the new trend in IT sphere. It was said that blogging regularly have many advantages. By blogging, you can improve your writing ability (of course!), make more friends, and in more recent cases, even helping out your career!

Well, at least I personally know someone who told me that he landed on his first job in Jakarta with such an unexpected help from his own blog. Even some big companies in U.S. of A. already admitted that blogging improved their brand image and boasted up sales, while at the same time they can get in touch personally with their consumers.
That was why all top executives in those companies go blogging, responding to every comment posted by their customers and people who visited their blog. Even Bill Gates, one of the very richest persons in the world, writes his own blog!

That’s why I started blogging in 2005, using then recently launched blog service from Friendster. Since I thought I have deep passion for creative writing, I didn’t see any damage could be done by posting my writings online. At least, I found a new medium to justify my narcissist-self. Ha! Ha!

Blogging was fun, until later in June of the same year, someone told me that some of my postings has stirred some gossips around The Neighborhood. People started talking, asking questions behind my back.

“Does he …?”
“But I thought …”
“Is he …?”
“That means for all this time he was …”

Even a friend from the buzzing Neighborhood felt some kind of obligation to ask me about the real meaning behind my writings posted on my blog.

“People are talking, you know. About you and what you’ve posted. They asked me whether I could confirm any of them. They’re curious. Because they thought for all this time you and I were into something.” (yeah, right! *rolling eyes*)

“Oh really? That’s good. That’s the reason I blogged. Even though at first I don’t think anyone would ever read them. But you know what? I feel quite happy now you’ve told me that. I mean, my writings are ‘that good’, right? That’s actually my intention posting them online. They were written and posted for one’s reading,” replied I (*compiled answers*). However I thought I just sounded defensive, didn’t I?

Munching the Mexican-style spicy grilled chicken breast, I tried to keep an emotionless face even though my mind was thinking hard. “That means I have to write more, but in a calmer tone. Gosh, I can’t wait!”

But then what was really happened back then was that I spent doing everything I could but write new materials and posted them online. Until one time near midnight when I was hanging around The Neighborhood with Bradley.

“I read your blog,” he said. “And I was wondering, why on earth you could be so open about you and still relax. I mean, you seem don’t have any hesitation revealing everything about you online. Because if I were you, I won’t be able to do things like that. I mean, with all those folks around this Neighborhood. I just won’t feel comfortable after posting things like the ones you wrote.”

He kept talking about me and my blog, trying hard to convince me that I’m that obvious, unlike his discreet personality; but all he said failed to catch my attention. My mind seemed automatically shut itself off of this topic.
“You’re not listening”, he protested. I just laughed, which made him stood and left me.

About a week later, Mr. Talent Guy of The Neighborhood, on a lunch gathering, suddenly asked me about my blog’s content. Since I don’t expect him as someone who’ll read my blog, it was like setting off an alarm to me.

“That’s it. They’re circulating some stories about me among them. Somehow, it makes me feel uneasy. Maybe I should quit writing anything that’ll bring up some issues on me.”

That was why I stopped blogging, and even went further by deleting the whole blog, yanked it off online.

Until Bradley brought it up again. “Why did you stop writing? I thought you enjoyed it. Thought we shared the same passion, that is writing.”

And others, I thought, but hey, that’s another story!

And he surely made me think: “I shouldn’t let anyone stop me from writing. I shouldn’t listen to them, to whatever they said about me. I love writing creatively. If I let anyone ever stand in my way like I did these past months, I won’t be able to enjoy the rest of my life.”

Which led to the creating of Life in The Time of Butterflies. This blog, that is.

Saturday, August 18, 2007

Push the Button

At last.

My so-called first two blog entries since ages.

I already deleted MySpace account, deactivate Multiply and leave Friendster’s Blog dormant.

Perhaps now is the (right) time to re-actualize (again) myself in this virtual jungle where everybody has the same equal right to be narcissistic. Or not.

Well, my N5700 XpressMusic just *beep!* with another update from yet another Kevin Cupp’s updates in my Twitteriffic account.

Do I really need another blog if I already have the more challenging tightly-limited 140 characters only in my Twitter account?

As you can see, I need something to put up some more thoughts. Longer versions.

So here I am with my first two entries in this new blog of mine.

It All Started With a Phone-call


Last Thursday (April 14th) while I was in a break of shooting between episodes of "Your Face or Mine?" game show, suddenly my 'official' cellphone (i.e. one of my three handsets) rang. Thought it was from someone at the office, regarding its caller ID (the number).
Well, it was true from someone at the office, but my previous one.
The headquarter office of a national TV station, famous with it's variety show, the one with "that gay guy of arisan!", and a stripping sitcom featuring a bajaj-driver with his salon-owner wife and a witty-old mother-in-law.

He (my friend who called me, that was) asked me some updates on my life (which has nothing new, beside a confusing (miss- ?) communication with a flight attendant-slash-freelance model-slash-new friend, which of course I would not mention at that time), and I told him everything was fine indeed.

Then he asked me to write more, because according to him, he likes to read what I wrote. Funny, since I wrote in such 'places' that I'm sure he does not have access to (such as my alumni restricted mailing-list).

Yeah, anyway, he asked me to start writing a blog of my own. On Friendster's blog.
Well, it did not mean that I had not think about it previously. In fact, many times.

But my own very personal reason is that I don't have enough time to write stuffs regularly.
And I don't really feel into things regularly. I get bored often. And quite fast.
That's why I never finished the 1000 pieces puzzle my sister gave for Christmas present which I started rearranging two months ago.

Also "The English Patient" novel Astrid brought me from Perth which I started reading four years ago. And who knows for how long I will (or can ?) maintain this so called Friendster blog of mine ?

Let's see, because I myself am so curious to find it out.

So, Chip, thanks for your call and that hilarious chit-chat we had. Because of those sincere attention, I started this blog from today.

And for you, guys and girls (*trying not to sound sexist*), friends, if you have any slightest interest in me or just like to read ANYTHING that I feel like to write down in this blog, I wish you "Happy Reading!", and enjoy !!


[Mampang Prapatan, South Jakarta. Originally posted in MarkO's Friendster's blog, April 20th, 2005. 6:47 PM]