Showing posts with label Twitter. Show all posts
Showing posts with label Twitter. Show all posts

Tuesday, June 2, 2009

To Blog, Or To Nap? That's The Question



A friend asked me in private message sent through Facebook, why I stopped updating my blog.
I told him I didn’t. I just put my entries up on hold. They’re all there, lining up chronologically in “Draft” section.
The reason why it seemed I was in hiatus is because I was pretty much busy with my work. (Do I hear someone yelled, “Booo! Lame excuse!”?) But hey, that’s true.
My works were pretty tight up choking me, and if I do have some time to spare, I’d used it for ... sleeping. Yes, I read somewhere that by sleeping, one can burn more calories than sitting behind his/her office desk and running his/her fingers on the keyboards, i.e. typing. My belly is getting rounder by day, so I guess I’d just sleep it off.
If you hear some strange purring noise near my office desk after lunch time, please not to worry. Probably that was just me snoring while napping.

Oh and about the hiatus thingy, actually I did create some short writings. They’re what others labeled as microblogging. If you don’t know what I mean, check my Twitter account.
And somehow I just know that this friend of mine in no time upon hearing my reason would certainly asked me: is microblogging count as regular blogging?

Thursday, March 12, 2009

Geoddicted


Lagi bosen tanpa kesibukan berarti di kantor, jadinya ’ngewarnet’ aja. Maksudnya, memanfaatkan fasilitas koneksi internet ’gratis’ di kantor untuk hal-hal hiburan. Mulai dari menonton videoklip dari YouTube, melihat update kabar terkini teman-teman maya di Twitter, dan tentu saja, menjelajahi facebook. Kalau ”abusing office facilities” buat mengunduh porn stuff, itu sih ‘jatah’-nya temanku. *telltale* Hehehe.

Situs jejaring sosial yang disebut terakhir ini paling oke diakses kalau sedang mati gaya, have no idea mau ngapain, tapi sangat beruntung karena sedang ada akses koneksi internet yang lincah (artinya, lancar jaya seperti sedang melaju di jalan tol yang sepi dari kendaraan).

Biasanya, sejak mengenal aplikasi baru bernama Playfish di facebook ini, hampir setiap hari aku setidaknya menghabiskan waktu nyaris satu jam untuk memainkan ragam games Playfish app, mulai dari “Who Has The Biggest Brain?” (jawabannya: not me, mos def!), “Mini Golf” (jadi ingat farewell tiga tahunan lalu di Putt Putt Senayan), "Word Challenge" (a little bit of spelling bee mixed with scrabble, d'oh!), sampai “Geo Challenge”.

Yang disebut terakhir ini, entah kenapa bisa bikin aku ketagihan. Padahal sebenarnya permainan ini cukup sederhana: sang pemain diminta untuk mencocokkan setiap bendera dengan nama negara ataupun union-nya, selanjutnya diminta untuk mencocokkan peta buta suatu negara dengan nama negaranya, dan dua babak terakhir adalah menunjukkan letak kota-kota serta landmarks dengan jarum di sebuah peta dunia. Awalnya kelihatan membingungkan sih memang, tapi selanjutnya kalau sudah ingat, jadi sangat gampang. Seharusnya sih. Cuma berhubung ingatanku kurang mendukung untuk bisa menghapal nama-nama, tetap saja keliru terus jadinya.

Eh tapi setelah bolak-balik main sampai lebih dari duapuluhlima kali mencoba, aku berhasil masuk 10 besar di dalam lingkaran teman-teman facebook-ku. Sempat bangga sedikit, sampai kemudian rasa bangga itu hancur berkeping-keping beberapa menit kemudian setelah melihat rekor skor untuk level Indonesia.

Hah?!?! Masa skorku yang dicapai dengan susah-payah itu ternyata hanya beberapa belas persen dari skor tertinggi untuk para pemain asal Indonesia?

Dan yang lebih bikin shock lagi adalah ... ternyata skorku itu bahkan ga sampai sepuluh persennya dari tiga besar top skorer para kontestan dari seluruh dunia!

Parah parah parah ... Hiks hiks. Tapi ...



Main lagi aaah ... (penjustifikasian rasa malas yang diisi dengan aktivitas ‘kurang’ penting).

Wednesday, March 4, 2009

“The First Outfit I Tried on Today”


johncmayer Why not wear the first outfit you try on today?
about 2 hours ago from TwitterBerry


Well, it is so true. John has a point there.
(ciee … sok akrab bener manggilnya with his first name)

Terkadang rasanya memang teramat sukar untuk menemukan outfit yang pas untuk dipakai keluar rumah, yang cocok dengan occasion dan kondisi cuaca saat itu.

Pernah suatu ketika, saat kukira di kantor hari itu tidak ada skedul bertatap muka dengan klien jadinya iseng pakai t-shirt belel, celana cargo sedikit di bawah lutut dan flip-flop kumal ke kantor, ternyata salah satu calon klien baru minta bertemu sore harinya. Terpaksa balik to my crib hanya untuk berganti pakaian yang lebih pantas dan tentunya, representatif.

Di kesempatan lain, saat akan menghadiri party di club milik salah seorang sahabat, hampir setengah jam habis kupergunakan untuk membongkar isi lemari hanya untuk menemukan outift yang terlihat pantas rapi dan keren tanpa terlalu menonjolkan ‘kemajuan’ my belly (ha!ha!).
Dan di tengah kesibukan yang diliputi kebingungan itu, si Dia hanya tertawa saja karena menganggap I looked so cute in the middle of my confusion. (Emangnya dahi berkerenyit dan bibir manyun gitu lucu ya?)
Hah! Tentunya aku harus bisa mengimbanginya malam itu agar si Dia tidak terlihat over-dress sementara pacarnya ini sendiri tampak under-dress (meski tentunya, bukan hanya memakai ‘under-garment’ doang !) di tengah party yang dihadiri upper-class people itu.

Pernah kubaca saran bagus dari salah seorang pengamat mode yang mengatakan, “it’s better to look over-dress than under-dress”.
Tapi kalau kemudian munculnya malah seperti seorang pria di butik (x).s.m.l. yang kulihat beberapa bulan lalu – dia memakai trucker cap Guess?, kaos berkerah Burberry, celana jins Versace, belt DSquared, dan sepatu Gucci – kurasa jatuhnya malah jadi sama sekali tidak berselera dan jauh dari keren.
Help! I just saw a walking mannequin!
Kira-kira apa yang ada di dalam benak lelaki itu sebelum dia keluar dari dalam kamarnya hari itu?
“Wow, I looked so phat!”
Prolly that was it.

Jadi teringat pacarnya William yang berprofesi sebagai penyanyi latar itu. Dia paling sering menolak keluar dari apartemen William kalau tidak tampil lengkap.
Versi lengkapnya adalah: rambut ditata spikey dengan gel, cincin dan kalung bling-bling, belt dengan gesper besar, dan sepatu yang bersih cenderung mengkilap.
Padahal, William hanya mau mengajak orang itu makan malam di area food court di kompleks apartemen tersebut.
Alasan pacarnya William adalah (dan ini sumpah bikin ketawa terbahak-bahak), “Aku kan kerjanya di entertain. Kalau nanti ada yang ngeliat aku lagi biasa banget kaya kamu, apa kata mereka?”
I bet he thinks Paris Hilton thinks the same about herself, always put in mind what others may say as her first and utmost concern before deciding what to wear before going out to those trendy-cool-and-hip parties.

Ketika salah seorang teman memberikan questioner profile untuk diisi, dan salah satu pertanyaan dalam questioner itu adalah “How do you define your fashion-style?”, dengan penuh percaya diri aku mencontreng pilihan “preppy-look”.
Menurut penilaianku sendiri, penampilan seperti anak sekolah baik kalem dan polos begitu paling pantas untuk ‘menipu’ orang-orang dengan harapan bisa menyamarkan keculasan hatiku. Ha!Ha!

Dan meskipun hari ini aku tidak terlihat sesuai dengan pilihan style ideal ku yang preppy-look itu, tapi dengan mengenakan kaus berkerah warna marun cream-colored chino sepatu mokasin coklat serta tas selempang biru tua sebagai outfit ke kantor hari ini, aku benar-benar memakai “the first outfit I tried on today”. Just like what John suggested some couple of hours ago.




Friday, November 21, 2008

OH @ a Hotel’s Lobby


Di suatu siang yang relatif panas akibat garangnya terik sinar matahari untuk standar suhu bulan November yang seharusnya lebih adem daripada saat ini, tapi semua itu tidak terasa sama sekali di area lobby berpenyejuk ruangan sentral di sebuah hotel berbintang lima di seputaran Jakarta Pusat.

Terlihat di salah satu sofa duduklah seorang lelaki yang tampak matang usia dan ramah karena selalu tersenyum dan beberapa kali terdengar tawanya pecah, sedang asyik berbincang dengan seorang perempuan berambut pendek sebahu yang mengenakan pakaian serbahitam, tapi pastinya kalau dinilai dari bentuknya bukan seragam dari kantor manapun.

Lelaki : Eh, jadi nih kita ke Warung Kopi kondang itu?
Perempuan : Ya sudah, hayu’ atuh.
Lelaki (sambil bangkit berdiri dari sofa) : Tapi bentar dulu ya. Gue kebelet pipis nih.
Perempuan (ikut-ikutan bangkit dari sofa) : Oh, kalau gitu kita barengan aja. Kebetulan gue haus nih.
Lelaki (berhenti mendadak) : ... ... Eh ?!?! (lalu tawanya kembali meledak)



Twitterer lazim menyebut pengutipan semacam ini
– dalam versi yang lebih singkat – dengan akronim OH.







Monday, November 17, 2008

Era Baru Komunikasi Politik Indonesia



Bagiku pribadi, yang menarik disimak dari kemenangan telak kandidat Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Barack Obama, atas kandidat dari Partai Republik, John McCain, adalah terkait metode kampanye yang dipergunakan oleh President-elect Obama ini.

Bahkan sejak waktu pertama kali beliau terjun untuk menjadi calon kandidat dari Partai Demokrat – yang antara lain harus bersaing menghadapi Senator Hillary Clinton, sepak terjang Obama sangat diperhatikan karena ia sangat memanfaatkan dan mengandalkan kekuatan dunia virtual alias media internet.
Hampir semua situs jejaring sosial terkemuka dimanfaatkan oleh tim sukses beliau untuk berkampanye. Hingga akhirnya beliau memang kemudian menang dalam pemilihan dan terpilih dalam Konvensi Partai Demokrat untuk maju sebagai calon Presiden dari Partai Demokrat.

Penggunaan situs jejaring sosial secara maksimal oleh tim sukses Barack Obama bukan tidak diperhatikan dengan teliti oleh para pesaingnya. Dalam salah satu pidatonya ketika berkampanye, si ‘Bapak Tua yang Ketinggalan Jaman’ alias John McCain, menyindir saingannya dengan menyatakan betapa rajinnya Barack Obama menghabiskan waktu untuk tweeting dan apakah dia pernah bertemu dengan sesama fellow Twitterer, istilah yang dipergunakan oleh para pengguna layanan Twitter ketika meng-update informasi tentang diri mereka.

Sebagai salah satu pengguna setia (alias Twitterer) sejak lebih dari satu tahun belakangan ini, aku sempat merasa geli sendiri pada ketertinggalan zaman si Bapak Tua McCain. Dia membuat dirinya sendiri tampak bodoh di mata para pemilih muda yang sangat akrab dengan teknologi informasi alias internet (mereka yang dapat juga disebut sebagai "Generasi Mac", bukan karena mereka mendukung McCain, tapi karena merupakan generasi yang sangat akrab dengan teknologi dan menjadi konsumen loyal dari produk-produk Apple).

Dan sebagaimana yang akhirnya telah kita semua ketahui bersama, semua upaya dan kerja keras tim sukses Obama membuahkan hasil gemilang dengan kemenangan mutlak Obama atas McCain.

Yang kemudian menjadi fenomena menarik yang patut disimak adalah, metode kampanye Barack Obama ini bukan tidak mungkin akan ditiru oleh para aspirant calon pemimpin di seluruh dunia.
Ini adalah taktik yang juga sudah mulai diadopsi oleh Bapak Rizal Mallaranggeng (yang punya blog dan akun Facebook), dan secara terbuka diakui beliau memang diinspirasikan oleh metode kampanye Mr. Obama.




Mengingat bahwa penetrasi internet (alias melek internet) di negeri ini sedang sangat digalakkan (ingat rangkaian iklan Telkom seri "Internet Masuk Desa" ?), bukan tidak mungkin dengan semakin meningkatnya suhu politik nasional menjelang Pemilu bulan April 2009 (mohon dikoreksi bila aku keliru), mulai awal tahun depan kampanye calon presiden Republik Indonesia juga akan menyerbu dunia virtual yang selama belasan tahun ini relatif steril dari siapapun kandidat pemimpin negeri ini.

Bisa jadi, bukan hanya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saja yang rajin menyapa rakyat negeri kita lewat kiriman SMS massal, tapi juga para kandidat pemimpin lainnya. Belum lagi belakangan ini diberitakan luas bahwa salah satu partai besar sudah menyatakan akan meninggalkan metode kampanye melalui pengumpulan massa. Barangkali mereka masih tidak bisa melupakan salah satu foto yang pernah tampil di Kompas pada tahun 2003, memperlihatkan satu orang pria yang sama yang ikut dalam kampanye tiga partai politik berbeda (sayang, aku tidak bisa mendapatkan foto itu). Kita lihat saja apakah komitmen partai ini benar-benar dilaksanakan atau tidak tahun depan.

Yang jelas, marilah kita tetap bersemangat menyambut datangnya era baru komunikasi politik di Indonesia!


Saturday, August 18, 2007

Push the Button

At last.

My so-called first two blog entries since ages.

I already deleted MySpace account, deactivate Multiply and leave Friendster’s Blog dormant.

Perhaps now is the (right) time to re-actualize (again) myself in this virtual jungle where everybody has the same equal right to be narcissistic. Or not.

Well, my N5700 XpressMusic just *beep!* with another update from yet another Kevin Cupp’s updates in my Twitteriffic account.

Do I really need another blog if I already have the more challenging tightly-limited 140 characters only in my Twitter account?

As you can see, I need something to put up some more thoughts. Longer versions.

So here I am with my first two entries in this new blog of mine.