Showing posts with label YouTube. Show all posts
Showing posts with label YouTube. Show all posts

Wednesday, August 12, 2009

The Pretty Face in Those Stupid YouTube Videos


I saw and walked past a strange looking guy this morning while walking to the office. He looked awful, uncombed hair, wore worn out clothes, has sunburned skin, and unshaven. Simply put, he’s a total mess. He bent down on the sidewalk and wrote on it with a piece of chalk “Effendy”. I don’t know whether he wanted to tell the passerbys his name or else, but obviously, I don’t want to find out.

I saw a strange video in YouTube this afternoon. There’s a young girl in it. Obviously, she recorded the video and uploaded it herself. She also looked like a mess, all teary and runny nose, awfully looking hair. However, one can see that she used to be pretty, even though her sandy colored hair made her look ugly and silly. She started lip-synching to Christina Aguilera’s “Hurt”, which made her cried even more. I noticed in an instant, who she really is. Her recent broke up with his boyfriend already made small ripples in tabloids and gossip shows.

Now, I don’t feel pity or sympathy to that “Effendy” guy, because my mind is too busy thinking about other things. It’s already cluttered with half-baked creative ideas for a pitch for a provider’s new campaign. And come to think of him again, I’m not even half sure that he’s a nut.

As to the the girl in the video? Why should one feel pity towards her? She knew exactly what would come upon her if public watched her videos, yet she still uploaded them to YouTube. The public love to judge others, especially performers and entertainers. And it certainly won’t help being a former child idol, a has been soap opera megastar like you. The public don’t have pity on your “kind”, who we judged as a has been, a used to be, the failed one. You know how much the public is consisted of harsh critics. So when you acting up all like that, we as the public, laughed hard. Everybody loves laughing at losers, your "kind", because that makes us feel better.

My simple advice to you, pretty face in those stupid YouTube videos: cheer up!

I still remember your - supposedly - killer looks while watching the premiere of Sex and The City The Movie, together with your friend Velove. What you really need to get through all this diminishing stardom and subsequent mental breakdown is Mariah Carey. Everyone knows how she had fallen hard from grace, and surprisingly, bounced and made a solid come back. Look at where she is now.

You see, life’s been treating you very well in your childhood and teenage years. Who knows what has been reserved for you in years to come? Just hang on there.

Oh, and one more thing. Never upload other silly videos like the ones you did before this. They’re plain stupid.



Disclaimer: The image above is not the person I'm referring to in this writing.

Thursday, March 12, 2009

Geoddicted


Lagi bosen tanpa kesibukan berarti di kantor, jadinya ’ngewarnet’ aja. Maksudnya, memanfaatkan fasilitas koneksi internet ’gratis’ di kantor untuk hal-hal hiburan. Mulai dari menonton videoklip dari YouTube, melihat update kabar terkini teman-teman maya di Twitter, dan tentu saja, menjelajahi facebook. Kalau ”abusing office facilities” buat mengunduh porn stuff, itu sih ‘jatah’-nya temanku. *telltale* Hehehe.

Situs jejaring sosial yang disebut terakhir ini paling oke diakses kalau sedang mati gaya, have no idea mau ngapain, tapi sangat beruntung karena sedang ada akses koneksi internet yang lincah (artinya, lancar jaya seperti sedang melaju di jalan tol yang sepi dari kendaraan).

Biasanya, sejak mengenal aplikasi baru bernama Playfish di facebook ini, hampir setiap hari aku setidaknya menghabiskan waktu nyaris satu jam untuk memainkan ragam games Playfish app, mulai dari “Who Has The Biggest Brain?” (jawabannya: not me, mos def!), “Mini Golf” (jadi ingat farewell tiga tahunan lalu di Putt Putt Senayan), "Word Challenge" (a little bit of spelling bee mixed with scrabble, d'oh!), sampai “Geo Challenge”.

Yang disebut terakhir ini, entah kenapa bisa bikin aku ketagihan. Padahal sebenarnya permainan ini cukup sederhana: sang pemain diminta untuk mencocokkan setiap bendera dengan nama negara ataupun union-nya, selanjutnya diminta untuk mencocokkan peta buta suatu negara dengan nama negaranya, dan dua babak terakhir adalah menunjukkan letak kota-kota serta landmarks dengan jarum di sebuah peta dunia. Awalnya kelihatan membingungkan sih memang, tapi selanjutnya kalau sudah ingat, jadi sangat gampang. Seharusnya sih. Cuma berhubung ingatanku kurang mendukung untuk bisa menghapal nama-nama, tetap saja keliru terus jadinya.

Eh tapi setelah bolak-balik main sampai lebih dari duapuluhlima kali mencoba, aku berhasil masuk 10 besar di dalam lingkaran teman-teman facebook-ku. Sempat bangga sedikit, sampai kemudian rasa bangga itu hancur berkeping-keping beberapa menit kemudian setelah melihat rekor skor untuk level Indonesia.

Hah?!?! Masa skorku yang dicapai dengan susah-payah itu ternyata hanya beberapa belas persen dari skor tertinggi untuk para pemain asal Indonesia?

Dan yang lebih bikin shock lagi adalah ... ternyata skorku itu bahkan ga sampai sepuluh persennya dari tiga besar top skorer para kontestan dari seluruh dunia!

Parah parah parah ... Hiks hiks. Tapi ...



Main lagi aaah ... (penjustifikasian rasa malas yang diisi dengan aktivitas ‘kurang’ penting).

Tuesday, March 3, 2009

Nanti, di April


Sebagaimana yang sudah diajarkan oleh orang-orang tuwa sejak jaman dahulu kala, alangkah baiknya untuk jangan menggantung harapan terlalu tinggi karena kalau nantinya tidak jadi terwujud malah akan bikin hati yang empunya harapan hancur berkeping-keping. Dan sakitnya itu lho, wuidiiiih ...

Nah, mungkin orang-orang tuwa yang hidup di jaman dulu itu sudah bolak-balik mengalami kekecewaan, dalam kadar dan kesempatan serta sebab yang berbeda-beda pula, jadinya ya begitu deh, beliau-beliau ini menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi hidup, karena memang kondisinya “memaksa” demikian. 

Meskipun tulisan ini tidak akan setajam sebuah artikel sebelumnya di masa silam yang menyindir seorang ‘aktris’ (disebut peraga adegan kayanya lebih pantes) sinetron yang menjabarkan secara spesifik karakter suami ideal yang diharapkannya, tapi setidaknya ada kemiripan tema pembahasan. Yaitu tentang harapan. Hope. Meskipun kalau dibandingkan dengan salah satu tema kampanyenya tim Barrack Hussein Obama tahun lalu, ‘harapan’ yang ini sih cetek banget. Trivialities lah.

Jadi ceritanya tadi saat makan siang bersama teman-teman kantor, salah seorang teman menginformasikan kepada kami semua dengan ekspresi mata berbinar-binar dan mimik muka penuh semangat, kalau Jamiroquai akan tampil di Jakarta bulan April mendatang. Wah, mendengar kabar ini, pastinya aku langsung semangat dong. 

Karena masih teringat betapa kerennya aksi panggung Jay Kay dalam potongan klip live performance mereka yang pernah kulihat di YouTube. Dan yang bikin lebih semangat lagi, si teman ini mengatakan kalau harga tiketnya hanya 500 ribu saja! Kalau “cuma” segitu doing sih, aku tak akan berpikir sampai dua kali untuk membelinya.

Sekembalinya dari makan siang tadi, aku kembali duduk menghadap laptop, dan mulai grusah-grusuh cari info kebenaran berita dari temanku tersebut. Hasil dari browsing kilat ku menunjukkan, ternyata betul adanya dan sudah dikonfirmasikan pula oleh pihak promotor di sini dan manajemen sang artis di Eropa sana, bahwa Jamiroquai akan tour ke Indonesia pada tanggal 8 April setelah tiga hari sebelumnya menggoyang Kuala Lumpur terkait pelaksanaan lomba balap Formula 1 Sepang.

Tapi kemudian ada bel berbunyi di alam bawah sadarku. Tanggal 8 April? Itu kan cuma satu hari sebelum pelaksanaan Pemilihan Umum Legislatif? Memangnya pihak kepolisian akan mengeluarkan izin keramaian di hari se-kritis dan sepenting itu? Jangan-jangan nanti ditunggangi oleh partai politik tertentu. Atau dimanfaatkan oleh provokator untuk bikin rusuh. Nah, ini sisi negatif dari kepribadianku yang mulai berbicara. Sebaiknya, untuk saat ini langkah terbaik adalah mengabaikannya dulu.

Anyway, jadi ceritanya nih saat aku lagi semangat-semangatnya memelototi poster biru bertuliskan kalimat berukuran besar “YES IT’S TRUE” dengan logo Jamiroquai manusia bertopi aneh yang tersohor itu, antusiasme ini langsung padam setelah melihat daftar harga karcisnya dicetak dalam angka-angka relatif kecil di bagian bawah. Buset dah, dua koma lima juta untuk kursi yang persis menghadap panggung ?! Dan harga karcis paling murah untuk kursi yang jaraknya sekian ratus meter dari panggung untuk kondisi normal price adalah tujuh ratus limapuluh ribu ? Harga ini bahkan lebih mahal daripada karcis kelas festival Bjork yang tidak pakai sesi penjualan early bird (dan saat itu harga kelas festival adalah yang paling mahal). Mulailah hati ini terperciki rasa kesal. Huh ! Kenapa sih pertunjukan musik yang seharusnya ditujukan untuk menghibur, seringkali malah bikin emosi karena harga-harga tiketnya seringkali seperti “cari perkara” ??

Actually, I can afford the ticket price, but somehow I just rather opted not to buy. 

Lebih baik uang sejumlah minimal lima ratus ribu dan maksimal dua koma lima juta rupiah itu disimpan dalam rekening buat nambah-nambahin bujet liburan merayakan ulang tahun si Dia sekaligus our anniversary di salah satu destinasi favorit dunia.

Jadinya, harapan yang sebelumnya sempat berantakan jadi kembali utuh, bahkan membuatku lebih bersemangat.

Can hardly wait for April !

Friday, October 24, 2008

Hargai Hidup, Nikmati Musik !


Mungkin saja apabila ada pihak-pihak tertentu yang kebetulan sedang mencari contoh dari sesiapa yang layak dikategorikan sebagai Generasi MTV, bisa jadi aku adalah salah satu sampel yang bisa diajukan. Meskipun sebenarnya, aku mengenal MTV baru sekitar akhir dasawarsa ‘80-an dan awal ’90-an, ketika MTV telah melewati usia 5 tahun dan aku sendiri berusia hampir dua kali lipatnya.

Saat itu, menonton MTV menjadi semacam “candu” hiburan yang bisa membuatmu betah duduk terpaku menonton selama berjam-jam. Padahal apabila mencoba kembali mengingat masa-masa itu, sulit rasanya membayangkan betapa aku bisa terpesona melihat penampilan band rock maupun group vocal dengan dandanan baju penuh warna dan kemerilip, pulasan make-up yang untuk standar sekarang hanya mungkin terlihat ketika akan menyambut Halloween, dan yang paling penting ... rambut megar bak surai singa!

Namun aktivitas menikmati musik dan lagu itu benar-benar menyenangkan. Siapa juga yang bisa menyangkalnya? Aku sendiri menjadi semakin teryakinkan tentang hal ini, ketika tadi pagi mengecek koleksi lagu di dalam PC, dan menemukan lebih dari 2600 track audio berupa lagu dan musik dari berbagai genre serta lintas generasi dan setidaknya mempergunakan empat bahasa, yang apabila diputar back-to-back tanpa putus (non-stop), akan membutuhkan waktu lebih dari 190 jam untuk memperdengarkan semuanya.

Barangkali, kesukaanku pada musik kurang lebih sama dan berakar pada manusia purba yang hidup belasan ribu lebih dulu daripada aku. Sebagaimana yang bisa dibuktikan dari temuan-temuan sejarah, musik dan lagu adalah salah satu bentuk kesenian yang paling awal diciptakan oleh manusia, bahkan jauh sebelum mereka mengenal aksara dan sistem perdagangan purba.

Terlepas dari beberapa resistensi yang dilakukan oleh sementara pihak terhadap perkembangan jenis musik dan lagu tertentu di berbagai era – generasi senior yang sekarang berusia di atas 50-an tahun di negeri ini tentu masih bisa mengingat bagaimana almarhum Presiden Soekarno di masa-masa jayanya pernah melarang peredaran dan dimainkannya musik ngak-ngik-ngok semacam The Beatles di seluruh Nusantara – tidak bisa dipungkiri kalau musik selalu berkembang pesat seiring perkembangan kebudayaan umat manusia.
Hingga hari ini, ada begitu banyak jenis ragam genre maupun subgenre yang telah diciptakan manusia, niscaya akan membuat pengkategorian dalam penghargaan musik harus lebih spesifik dan beragam apabila ingin merangkul semua aliran yang ada.

Kembali kepada diriku sendiri, susah rasanya menyebutkan jenis musik apa yang paling kugemari. Biasanya aku akan menjawab yang paling gampang : pop, tanpa bisa menyebut secara spesifik. Padahal kalau melihat koleksi musikku berupa kaset dan CD, bisa jadi akan sedikit membingungkan mereka yang ingin membuktikan pernyataanku ini. Barangkali tidak bisa dipungkiri betapa besar pengaruh MTV dalam menentukan selera musikku, khususnya terkait artis-artis dan musisi-musisi internasional.

Namun bagaimana dengan pengetahuan dan selera tentang artis dan musisi lokal? Bagi mereka yang pernah mengenal masa-masa jayanya TVRI sebagai satu-satunya saluran televisi nasional di era 1980-an, pasti sudah akrab dengan program Album Minggu Kita, Selekta Pop dan Aneka Ria Safari. Kedua program inilah yang bisa dinilai paling bertanggung jawab dalam membentuk selera musik seluruh penduduk nusantara. Sama seperti yang terjadi di keluarga kami. Tiap hari Minggu, kami sekeluarga ketika melakukan aktivitas apapun, cenderung memilih yang bisa dilakukan sembari menonton televisi. Terkadang, kami sekeluarga bahkan tidak melakukan apapun selain semuanya duduk di posisi masing-masing, Bapak dan Ibu di kursi, sedangkan anak-anaknya dalam berbagai pose, mulai dari ikut duduk di sofa sampai menggelesor di atas karpet, semua mata tertuju ke layar kaca, menikmati barisan penyanyi Indonesia yang muncul bergantian untuk berdendang dan bergoyang.

Masih bisa kuingat samar-samar kemunculan grup band yang kini legendaris, Slank, dengan lagu hit pertama mereka, “Suit Suit He He”. Saking terkagum-kagumnya dengan lagu itu, aku dan adikku sampai menulis surat untuk kakak kami yang paling tua yang baru saja masuk kuliah, surat pertama kami untuk anggota keluarga sendiri, dan kami berdua sampai mencantumkan judul lagu Slank itu di bagian akhir surat. Entah untuk tujuan apa, konyol juga rasanya bila diingat sekarang.

Siapa juga yang bisa lupa dengan grup rock asal negeri jiran, Search, dengan hit fenomenal, ”Isabella”? Lagu yang sempat dilarang peredarannya di negeri kita dengan alasan agama. Masih bisa kuingat bagaimana seorang teman sekelas di sekolah dasar, seorang anak perempuan yang tiap kali pelajaran kesenian ketika kami disuruh maju satu demi satu untuk menyanyi, dia akan menyanyikan ”Isabella” dengan penuh penghayatan hingga bercucuran air mata. Sesuatu yang bukan hanya bisa dilakukan oleh Kellie Pickler seorang.

Bagaimana dengan aku sendiri? Malu rasanya bila kini mengingat masa itu, repertoire andalanku ketika giliran menyanyi di depan kelas tiba, adalah lagu-lagunya Julius Sitanggang, mulai dari ”Danau Toba” hingga ”Maria”.

Ada sisi positif juga bertumbuh-kembang di dalam keluarga yang sangat menyukai musik. Keuntungan paling gampang adalah, bisa mendukung pekerjaanku sekarang. Tanpa bermaksud tepuk dada tanya selera (seperti rumah makan padang), aku jadi bisa tahu banyak lagu lintas generasi melebihi yang diketahui oleh atasanku. Bahkan pengetahuan tentang lagu-lagu dan artis-artis musisi yang kumiliki lebih ekstensif daripada petugas talent koordinator kantorku. Terkadang, dia malah jadi repot mencari contact person musisi yang dia belum pernah dengar karena aku yang minta untuk mendukung konsep acara rancanganku. Demikian juga ketika sedang menikmati masa-masa bersantai bersama Dia, entah itu di lounge maupun di nightclub tertentu. Acapkali Dia terkejut dan kagum karena aku tahu lagu apa yang sedang diputar di P.A. atau dimainkan langsung oleh penampil saat itu.

Dan karena selalu ada dua sisi dari setiap cerita, maka tentu saja ada sisi (agak) negatif dari hal ini. Salah satunya yang sempat membuatku malu, adalah ketika jajaran senior management dan direksi salah satu bank terbesar di Indonesia, atas usulan asal-asalan atasanku, memintaku menyanyikan satu-dua bagian dari lagu Dewi Perssik yang rencananya akan mereka jadikan main entertainer dalam acara mereka. Meskipun aku tahu persis lagu apa yang mereka ingin dengar, tapi tidak mungkin rasanya aku memenuhi permintaan yang satu itu. Alhasil saat itu suasana berubah menjadi sangat tidak enak dan kikuk sekali bagiku, ketika para bos itu menatapku menungguku bersuara dan berdendang, sedangkan saat itu dengan ketetapan hati kuputuskan tak akan ada kekuatan apapun di muka bumi ini yang bisa memaksa aku saat itu membuka mulut dan menyanyikan bait demi bait “Mimpi Manis”.

Hidup di dunia bisa jadi belum lengkap tanpa bisa menikmati musik. Namun ternyata, sebagaimana yang dibuktikan sendiri olehku, punya kemampuan yang relatif lebih dalam mengapresiasi musik tidak selamanya berbuah manis. Tapi apakah karena hal itu lantas membuatku kapok dan berhenti mendengarkan musik dan lagu? Jawabannya sudah pasti : tidak mungkin.

Karena bagiku, hidup tanpa musik bagaikan perkawinan tanpa seks.

Tuesday, September 9, 2008

"The Rainbow Connection"


Why are there so many songs about rainbows and what's on the other side?
Rainbows are visions, but only illusions, and rainbows have nothing to hide.
So we've been told and some choose to believe it.
I know they're wrong, wait and see.
Someday we'll find it, the rainbow connection.
The lovers, the dreamers and me.

Who said that every wish would be heard and answered when wished on the morning star?
Somebody thought of that and someone believed it.
Look what it's done so far.
What's so amazing that keeps us star gazing and what do we think we might see?
Someday we'll find it, the rainbow connection.
The lovers, the dreamers and me.

All of us under its spell. We know that it's probably magic.

Have you been half asleep and have you heard voices?
I've heard them calling my name.
Is this the sweet sound that called the young sailors?
The voice might be one and the same.
I've heard it too many times to ignore it.
It's something that I'm supposed to be.
Someday we'll find it, the rainbow connection.
The lovers, the dreamers and me.





For more information about "The Rainbow Connection", click here.

Friday, August 29, 2008

Your Last Goodbye



Somewhere in time we both know,
This is going to be the last time of the last times,
For you.

“No more”, you said,
“This is the end.”

You told us that once you were still not sure,
But I think you would feel just the same,
If you stay here longer,
It just has no point for you to remain here.





“I just don’t want this no more”.
Those were the last words you wrote on the pad you left on your desk.




So long, Adriani.
Wishing you all the best in your new workplace.

Friday, August 15, 2008

Semantics ..., or Just Gay?


Apabila kita berbicara tentang kepribadian seorang musisi kondang berinisial A.D., bisa jadi sifat yang seringkali mengemuka tentang dirinya adalah: Arogan. Seorang teman, meski tidak pernah bertatap muka secara langsung dengan beliau ini, ternyata memendam rasa tidak suka yang amat sangat hingga mencapai level kebencian mendalam. Memang kalau dirunut satu-persatu, bisa panjang daftar yang seakan membenarkan sifat arogansi seorang A.D. ini.

Rumor has it, A.D. dalam kapasitasnya sebagai pemimpin dua kelompok musik bentukannya, melarang semua anggota kelompok band T.R. maupun Dw. (yang saat ini entah masih dengan angka tertentu atau bukan, sebenarnya sama saja) untuk tampil enerjetik di mana saja dan kapan saja sejak beberapa bulan terakhir ini, misalnya dengan melompat-lompat saat perform.
Alasannya? Karena A.D. sudah membuncit (atau menggembrot, terserah pilih kata mana yang kamu suka), dan penampilan enerjetik akan menguras tenaganya dan terlalu melelahkan baginya (barangkali adalah juga karena keberatan jenggot). Buat yang berbadan besar karena timbunan lemak, tentu paham benar alasan ini.

Namun sejak beberapa waktu lalu, kasak-kusuk lain yang terdengar di kalangan tertentu justru menyoal apakah musisi kondang ini ternyata selama ini memiliki kecenderungan menikmati aktivitas seksual yang di luar dugaan banyak orang.

Sebagaimana kata pepatah: Tidak ada asap tanpa api.

Semuanya bermula dari lirik lagu dengan judul berinisial ”S.B.M. (S.M.A.)” yang ditulisnya untuk si hidung runcing M.J. dan kelompok vokal D.D., yang sekarang jumlah personilnya sama dengan jumlah gigi nenek yang sudah tua dalam lagu ”Burung Kakatua”.
Tidak cukup bagi seorang A.D. untuk menciptakan melodi lagu yang entah karena ”kebetulan yang tidak disengaja” sangat mengingatkan pendengar pada lagu kelompok Pussycat Dolls berjudul ”Dontcha” yang sekitar dua tahun lalu merajai tangga lagu dunia, A.D. bahkan juga secara khusus menuliskan lirik yang sangat kental beraromakan seks.

Dan bukan hanya seks ”yang lazim”, tapi ... anal seks.

Yap! Lirik lagu yang pada awalnya menggiring pendengar untuk menganggap lagu ini hanya becerita tentang sakitnya mengalami pengkhianatan (baca: perselingkuhan) ”biasa”, bila mendengarkannya berulang-kali niscaya akan menemukan ”keanehan” lain, karena liriknya justru terasa kurang marah-marah dan kurang emosional bagi seseorang yang diselingkuhi.

Di sinilah yang menjadi entry point untuk membuat pendengarnya berpikir lebih jauh lagi, bahwa lagu ini sebenarnya memiliki subtext sendiri, yang setelah ditelaah lebih luas, ternyata seakan lebih pas jika dilihat sebagai curahan hati seseorang tentang pengalaman pribadi yang traumatis: perihnya disodomi.

Tulisan ini jelas merupakan interpretasi bebas, dan very debatable jika Anda yang membacanya tidak suka. Tapi setidaknya, apabila Anda memiliki waktu luang lebih banyak, silahkan menilainya sendiri dari klip berikut ini.

Dan sebagaimana yang lazimnya diucapkan oleh para VJ MTV, ”Check this out!”



Sekarang, setelah Anda menyimak lirik lagu dari videoklip di atas dengan bersungguh-sungguh, ngerti banget dong poin apa yang kumaksudkan dengan posting di atas?

Now, do you think A.D. as the song composer is playing with semantics, or he is actually ... just plain gay?

Monday, July 28, 2008

"Semuuwa Menjeeeeriiiittt ... !!"


Membicarakan film-film horor Indonesia masa kini tentu harus beda perspektifnya dengan produksi sebelum dekade 1990-an. Dari sisi teknik produksi sinema, masa kini sudah tentu (dan memang seharusnya) jauh lebih canggih. Jadi hantu-hantu yang eksis di layar lebar harusnya juga lebih canggih dan lebih happening lagi dalam menampilkan diri. Tidak lagi mempergunakan teknik ”ting!” lalu hantu menghilang.
Ini trik yang lazim dipakai di film-film nasional waktu masih ada Departemen Penerangan. Biasanya sih aku menyebutnya trik Jinny oh Jinny, mengutip judul sinetron komedi yang dibintangi Sahrul Gunawan dan Diana Pungky yang berperan sebagai Jinny, sesosok jin perempuan pinpinbo (pinter-pinter bodoh) yang hidup di dalam cangkang kerang extra large, yang dalam sepakterjangnya selalu dan always pakai teknik on-off cam buat memunculkan atau menghilangkan barang maupun orang (disertai sound effect "ting!") dalam setiap episode serial ini.
Meskipun tentu saja, penyebutan ini tidak tepat karena teknik efek spesial cara ini telah dipergunakan sejak lamaaa sebelumnya. Bisa jadi malahan sudah dilakukan sejak dalam film Loetoeng Kasaroeng kali ya?

Kembali ke perbincangan seputar era kebangkitan kembali film Indonesia dari liang lahat – untungnya itu liang belum ditimbun jadi masih lebih mudah keluarnya daripada harus susah payah gali-gali sendiri, makin horor deh jadinya! – yang katanya ditandai dengan suksesnya film Petualangan Sherina, ada satu film lain yang kala itu kehadirannya cukup menghentak dunia hiburan negeri ini. Judulnya pun cukup memancing rasa ingin tahu dan kehororan: Jelangkung.
Yang jelas, happening banget deh pokoknya film Jelangkung ini, sampai ada urban legend yang katanya film ini memang beneran ada hantunya (kaya masa kini beli hape dibundel kartu perdana, nah ini film dibundel sama setannya), atau yang terpaksa disensor ulang lah karena terlalu seram sampai bikin orang kerasukan saat nonton, atau isunya bahkan ada satu baris dalam tiap gedung bioskop yang harus dikosongkan setiap pemutaran sebagai ”syarat” dari alam ghaib. Yang terakhir ini malah dijadikan premis untuk membuat sekuelnya, Jelangkung 3. Tapi film yang disebut terakhir ini paling kacau deh, katro abis. Belum lagi dialognya yang bikin ketawa ngakak, masa dua orang anak yang tinggal di rumah mewah dengan pembantu segala sampai bertengkar gara-gara rebutan Pop Mie! (Penting banget yak?!)


Nah, salah satu yang paling diingat dari film Jelangkung besutan Jose Poernomo dan Rizal Mantovani ini adalah diorbitkannya salah satu karakter utama film horor ini ke level legendary superstardom.
Halah! Tentu saja bukan karakter Roni Dozer yang tipikal gendud-bodoh atau Harry Panca yang sok jagoan-reckless-stupid, atau siapalah nama perempuan itu yang teriak-teriak ga penting melulu (minta ditampol!), dan juga bukan Winky Wiryawan yang takut-panik tetap manis-manis jambu air.
Yang paling happening dari film ini justru sosok Suster Ngesot yang entah mengapa tampilannya begitu mengerikan. Padahal kan dia ngesot-ngesot doang ya. Tendang aja kalo mendekat terus kabuuur! Sprint 3 menit juga kayanya sudah cukup, itu suster pasti udah ketinggalan jauh di belakang. Kan dia pasti capek ngesot-ngesot kesana-kemari. By the way sekedar trivia, sosok suster ngesot yang seram di film Jelangkung itu kan sebenarnya diperankan oleh seorang lelaki bernama Arief (Yap! Aku tahu pasti karena waktu itu mantengin sampai credit title saking penasarannya). Nah, jadi ga serem lagi kan pas udah tahu? He! He!
Lalu waktu itu lihat episode perdana Extravaganza yang sketsa terakhirnya ada suster ngesot diperankan oleh Aming, malah si suster tampil kocak dan lucu banget. Masa ngesot dari Terminal Kampung Rambutan sampai Studio 1 Trans TV di Tendean? Ga lecet-lecet dan berdarah-darah tuh bokong sampai betis? (sebagai catatan, kalau naik bis aja waktu tempuhnya bisa satu jam lebih lho! Bayangin aja kalo ngesot ...)
Terus waktu aku lihat episode perdana sinetron cupu Di Sini Ada Setan, eh kok ya hantunya suster ngesot lagi sih? Malah ceritanya di situ mengapa sampai ada suster yang ngesot-ngesot makin ga penting. Demikian seterusnya.

Bahkan kini, hampir satu dekade sejak dirilisnya film Jelangkung, sosok suster ngesot masih saja dieksploitasi. Ga ngerasa bosan apa ya? Segala macam alasan udah dipakai untuk menjustifikasi mengapa sampai tercipta aktivitas ngesot tersebut. Mostly karena seks. Dasar orang-orang Indonesia pikirannya kinky juga. Ternyata banyak yang memiliki fetish terhadap petugas-petugas berseragam.
Nah, sepanjang ingatanku, terakhir ya dengan dirilisnya dalam waktu hampir berdekatan, film Suster Ngesot yang dibintangi oleh Nia Ramadhani dan Suster N: Legenda Suster Ngesot yang antara lain dibintangi Wulan Guritno.
Parahnya waktu itu masih ingat banget, ketika aku bersama Ralph dan Bradley mau nonton 28 Weeks Later di Plaza Senayan, saat sedang berjalan menuju studio tempat akan diputarnya film tersebut, tiba-tiba di tengah-tengah jalan, kami sedikit terhadang kehebohan. Seorang perempuan menangis sesenggukan dengan histeris, dan seorang lelaki yang diduga kuat pacarnya sedang berusaha menenangkan dan membujuk perempuan tersebut. Sementara itu beberapa petugas PS XXI tampak bingung berdiri membego di seputar pasangan tersebut. Brad yang memang hobi gosip dan suka mau tau langsung mengorek-ngorek informasi kepada salah satu satpam yang berada di seputaran tempat kejadian perkara dan diduga mengetahui secara pasti kejadian ini. Ternyata oh ternyata, oleh pihak rumah produksi film itu, biar happening mereka mempergunakan talent suster bohongan dengan make-up putih a la hantu-hantuan buat ngesot dan ngagetin penonton yang sedang menonton film tersebut. Entah cara ini bisa dikatakan terlalu sukses atau malah gagal total – judging from what we saw – yang jelas ada kehebohan besar yang diakibatkannya.
My deepest sympathy to the couple. If I were them, pasti langsung bikin tuntutan dan memperkarakan ke meja hijau. Biar tahu rasa itu yang punya ide bikin suster-susteran ngesot dalam ruangan studio saat pemutaran film. Ide bodoh!

Sama seperti masih bodoh aja – setidaknya menurutku – kalau bikin film horror dengan sosok Suster Ngesot sebagai main horror talent-nya. Blah! Sooo last decade aja gitu! Itu karakter sudah habis dieksploitasi, kalau misalnya dianalogikan dengan sumur minyak ya sudah seharusnya diisi dengan air panas lalu ditutup dan ditinggalkan.
Nah, ini juga kejadian yang kurang lebih sama dengan tokoh pocong; mau pakai embel-embel angka 2 kek, 3 lah, 40 kek atau ditaliin sekalipun, ya tetap aja penampilannya guling pake muka kusut (jadi inget salah satu adegan di film Pocong 2 yang sebenarnya sudah ketebak banget what would happened next). Tapi emang betul sih, muka seram mah memang sudah jadi modal dasar buat jadi setan sukses. Makin rusak dan menjijikkan, makin eksis!


Tapi kalau kita melongok ke belakang, salah satu wujud karakter setan tersukses – dan paling legendaris – dalam sejarah panjang sinema Indonesia, kok ternyata wajahnya tidak ada rusak-rusaknya sama sekali ya? Justru malahan mulus putih (banget!) berkat perawatan teratur (yang mungkin) bak putri keraton. Dan ternyata saking iconic-nya karakter setan ini, tidak ada satu pun aktris – sejak tahun 1980an hingga saat ini – yang mampu mendekati – apalagi menyamai – keseraman akting aktris pemeran karakter hantu tersebut.
Sebagai catatan khusus, berkat salah satu adegan yang diperaninya jugalah, ia berhasil merevolusi cara pandang masyarakat Indonesia terhadap sate, hingga saat ini.

Hayo, buat yang baca dan emang suka film-film nasional, terutama yang lahir sebelum tahun 1990-an, tentu pada tahu dong hantu mana yang kumaksudkan di sini?
Ga perlu sampai penasaran (awas hati-hati nanti jadi arwah P...), karena potongan klip video berikut ini menampilkan jawabannya! Selamat menyaksikan ...




Jayalah Sinema (Horor) Indonesia!

Monday, July 7, 2008

"As Time Goes By"



This day and age we're living in
Gives cause for apprehension
With speed and new invention
And things like fourth dimension

Yet we get a trifle weary
With Mr. Einstein's theory
So we must get down to earth at times
Relax relieve the tension

And no matter what the progress
Or what may yet be proved
The simple facts of life are such
They cannot be removed




You must remember this
A kiss is just a kiss, a sigh is just a sigh
The fundamental things apply
As time goes by

And when two lovers woo
They still say, "I love you"
On that you can rely
No matter what the future brings
As time goes by

Moonlight and love songs
Never out of date
Hearts full of passion
Jealousy and hat
Woman needs man
And man must have his mate
That no one can deny

It's still the same old story
A fight for love and glory
A case of do or die
The world will always welcome lovers
As time goes by

Oh yes, the world will always welcome lovers
As time goes by







Music and words by Herman Hupfeld
© 1931 Warner Bros. Music Corporation, ASCAP

Friday, June 27, 2008

One More Time, One More Chance




I'm always searching for your figure to appear somewhere
On the opposite platform, in the windows off the street,
Even though I know you couldn't be at such a place
If my wish were to come true, I would go to your side right now
There would be nothing I couldn't do
I would put everything on the line and hold you tight

If I just wanted to avoid loneliness, anybody would have been enough
Because the night looks like the stars will fall, I cannot lie to myself
One more time, oh seasons, fade not
One more time, when we were messing around

I'm always searching for your figure to appear somewhere
At a street crossing, or in the midst of dreams
Even though I know you couldn't be at such a place
If a miracle were to happen here, I would show you right away
The new morning who I'll be from now on
And the words I never said: "I love you"

The memories of summer are revolving
The throbbing which suddenly disappeared

I'm always searching for your figure to appear somewhere
In the town at dawn, at Sakuragi-cho
Even though I know you wouldn't come to such place

If my wish were to come true, I would go to your side right now
There would be nothing I couldn't do
I would put everything on the line and hold you tight

I'm always searching for fragments of you to appear somewhere
In a stone during my travels, in the corner of a newspaper
Even though I know you couldn't be at such a place
If a miracle were to happen here, I would show you right away
The new morning who I'll be from now on
And the words I never said "I love you"

I always end up looking for your smile to appear somewhere
At the railroad crossing waiting for the express to pass
Even though I know you couldn't be at such a place
If our lives could be repeated, I would be at your side everytime
I would want nothing else
Nothing matters except for you




Friday, June 20, 2008

It's Very Hard Out There for Refugees


Is there a time for keeping your distance
A time to turn your eyes away
Is there a time for keeping your head down
For getting on with your day


Setiap tanggal 20 Juni, kita diajak mengingat nasib para pengungsi. Hal ini karena Perserikatan Bangsa-Bangsa, melalui Resolusi Majelis Umum pada tahun 2000, menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Pengungsi Sedunia - World Refugee Day. Menurut Wikipedia, tanggal 20 Juni sebelumnya diperingati sebagai Hari Pengungsi Afrika di sejumlah negara di benua tersebut. Dan masih menurut sumber yang sama, penduduk Inggris Raya memperingati World Refugee Day ini sebagai bagian dari Minggu Pengungsi – Refugee Week, yaitu sebuah festival berskala nasional yang ditujukan untuk meningkatkan pemahaman terhadap dan merayakan kontribusi budaya dari para pengungsi. Menarik.

Barangkali bagi banyak orang di sekitarku, persoalan pengungsi adalah satu masalah yang tidak nyata. Karena para pengungsi dipersepsikan sebagai sekumpulan orang bernasib sial yang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka yang entah bagaimana kondisi sebelumnya – karena memang tidak pernah didatangi secara langsung oleh ‘pihak pengamat’ – menuju tempat lain yang juga tidak begitu jelas kondisinya (bagi ‘pengamat’ ybs.). Or perhaps, we’re simply being ignorant.
Atau barangkali media massa yang seringkali mengekspos penderitaan para pengungsi ini juga bisa jadi penyebabnya. Mengingatkanku pada penggambaran dalam salah satu cerpen Jhumpa Lahiri di dalam bukunya yang meraih penghargaan Pulitzer, The Interpreter of Maladies. Penderitaan para korban perang India melawan Pakistan di daerah pengungsian pada awalnya menjadi topik utama berita malam, yang disaksikan oleh satu keluarga imigran India ini di layar televisi saat menikmati makan malam. Seiring perjalanan waktu, porsi berita tersebut makin bergeser ke segmen berikutnya, hingga akhirnya menghilang sama sekali dari berita malam karena dimasukkan ke dalam berita larut malam yang penontonnya tidak banyak. Alasannya gampang, pemirsa yang sebelumnya memiliki interest tinggi mulai bosan disuguhi berita konflik yang itu-itu saja.
Keadaan yang mirip juga terjadi dulu ketika TVRI adalah satu-satunya stasiun televisi negeri ini yang berhak memproduksi siaran berita. Masih kuingat ketika itu aku masih duduk di sekolah dasar, dan berita TVRI dari international desk mereka baru dipancarluaskan pukul 21.00 WIB. Waktu itu beberapa kali tugas dari sekolah adalah menonton berita malam untuk kemudian dilaporkan ulang dalam pelajaran bahasa. Berhubung aku masihlah seorang anak kecil dan selalu makan makanan dengan teratur dan sehat – tidak mengandung banyak gula yang membuat orang cenderung hiperaktif akibat “overdosis” gula (sugar high) – jadinya jam 9 malam sudah terkantuk-kantuk saja. Meskipun demikian, tetap dipaksakan untuk menonton berita malam dengan ditemani Bapak yang asyik membaca koran, semata-mata agar keesokan harinya tidak dihukum berdiri di depan kelas karena tidak mengerjakan tugas laporan.
Masa itu adalah ketika Republik Yugoslavia bentukan mendiang Tito pecah menjadi negara-negara kecil yang sepertinya – kalau ingatanku tidak keliru – kebanyakan dibentuk berdasarkan basis mayoritas etnisitas penghuni kawasan geografis tertentu. Pokoknya masa itu peta seluruh dunia mendadBosnia-ak kedaluarsa, seiring terbentuknya negara-negara baru seperti Serbia, Bosnia-Herzegovina, Montenegro, Macedonia dan entah apalagi. Lalu di antara negara-negara ini mulai sibuk saling memerangi satu dengan yang lain. Yang masih kuingat, sepanjang tahun, mas-mas dan mbak-mbak pembaca berita TVRI (say hello to the legendary Tengku Malinda !) mengakrabkan pemirsa dengan nama-nama Balkan, serta tragedi kemanusiaan yang membuatku ngeri sendiri untuk membayangkannya. Setiap malam, yang terlihat selalu tentara berbaris, deretan tank, senjata yang meletus, gedung-gedung hancur tak berbentuk atau habis dilalap api dengan asap membubung tinggi. Juga orang-orang tua, ibu-ibu dan anak-anak bermuka cemong berbaju rombeng sedang menangis. Menyedihkan, tapi entah mengapa, saat itu bagiku mereka terasa kurang nyata. Mungkin karena semuanya terjadi di belahan bumi yang berbeda, atau bisa jadi karena warna kulit kami yang tidak sama.
Kesan yang kurang-lebih mirip juga masih kudapatkan saat “berkenalan” untuk pertama kalinya dengan Christianne Amanpour, jurnalis CNN yang melaporkan langsung dari Goma. Dengan logat bahasa Inggrisnya yang kental, mungkin aksen Mediterania, setiap hari layar televisi keluarga kami disesaki oleh gerombolan manusia berkulit hitam, para pengungsi etnis Hutu yang melarikan diri dari ancaman genosida di Rwanda. Sepanjang jalan, yang diperlihatkan kepada kami adalah ribuan manusia berbaris berjalan kaki dengan memanggul barang apapun semampu mereka, atau puluhan tentara yang sedang menyandang senjata dengan muka bengis dan tatapan beringas, atau gelimpangan mayat yang berserakan di mana saja seperti ratusan lalat yang menemui ajalnya akibat disemprot insektisida lantas bangkai-bangkainya dibiarkan begitu saja di tempat mereka jatuh dari langit. Tidak beraturan. Mengerikan, karena sepertinya tidak ada seorangpun yang merasa berkepentingan untuk membereskan semuanya hingga menguburkan seluruh mayat tersebut. Saat itulah, dan barangkali seiring pertambahan usia juga, aku mulai mengerti seutuhnya betapa sangat tidak enaknya hidup sebagai pengungsi. Dan sepertinya sejak saat itu respon otakku adalah secara otomatis memblokade pemikiran-pemikiran tentang penderitaan para pengungsi, sehingga rasa simpati terhadap penderitaan manusia lainnya itu menghilang entah ke mana.

Hingga satu ketika, saat aku masih di tahun ketiga universitas. Hari itu aku kebetulan mengunjungi sebuah pameran buku, dan mataku tertuju pada salah satu buku fotografi yang didiskon, kompilasi foto-foto pemenang penghargaan World Press Photo tahun 1990-an. Di dalamnya, untuk bagian foto berita – yaitu serangkaian foto dari satu topik yang sama – mataku kembali melihat mereka, para pengungsi Rwanda. Salah satu foto yang kemudian sukar kulupakan memperlihatkan orang-orang dewasa yang berlarian dan dua orang bocah hitam yang meringkuk menangis dengan wajah sangat ketakutan. Teks yang menyertai foto tersebut menjelaskan bahwa foto diambil ketika tentara Tutsi menyerbu masuk kamp pengungsi dan menembaki mereka secara membabi-buta. Usai membaca teks tersebut mataku kembali terpaku pada ekspresi kedua bocah tersebut. Entah bagaimana persis terjadinya, tapi kuingat saat itu mataku berkaca-kaca, dan aku harus buru-buru mendongak sambil mengerjapkan kelopak mata beberapa kali, berpura-pura seolah mataku perih akibat kebanyakan membaca, padahal sebenarnya ingin mencegah agar jangan sampai orang-orang tahu aku sangat tersentuh melihat foto itu. So as not to let my softer side shows.

Akan tetapi, foto-foto peraih penghargaan tersebut bisa jadi mewakili perasaan kebanyakan orang mengapa mereka – dan aku juga – mengalihkan pandangan dan pikiran dari penderitaan para pengungsi. Karena foto-foto tersebut seakan mengingatkan kita pada betapa rapuhnya hidup ini. Karena foto-foto tersebut bisa membuat kita merasa tidak nyaman akan kenikmatan hidup yang sedang kita rayakan, sementara kita tahu dan sadar sepenuhnya bahwa pada saat yang sama, di belahan bumi yang lain, ada orang-orang yang bahkan belum tentu bisa makan tiga kali sehari karena mereka tidak memiliki apapun selain pakaian yang melekat di badanm karena mereka terpaksa menjadi pengungsi, dan karena terbuang dari tempat tinggal mereka sendiri.


Is there a time for kohl and lipstick
A time for curling hair
Is there a time for high street shopping
To find the right dress to wear


Hidup sebagai pengungsi sudah pasti tidak enak. Barangkali itu menjadi sebab mengapa – mungkin – banyak orang di sekitar kita, dan barangkali diri kita sendiri, masih ‘bersyukur’ bahwa para pengungsi tersebut hadir dalam kehidupan kita melalui medium perantara.
Para pengungsi ini hanyalah sekumpulan orang-orang bernasib sangat sial yang tampil di foto-foto di koran dan majalah, atau terlihat lebih hidup lewat tayangan siaran berita. Kalau tidak suka melihat mereka, lempar saja korannya jauh-jauh, tutup dan singkirkan majalahnya, atau ganti channel televisinya. Begitu mudahnya untuk menyingkirkan mereka dari hidup kita. Para pengungsi ini menjadi tidak nyata karena kita tidak bisa lagi melihat mereka.


Is there a time to run for cover
A time for kiss and tell
Is there a time for different colours
Different names you find it hard to spell


Dulu saat masih kuliah dan sedang berkutat dengan ide-ide untuk diajukan sebagai topik penelitian skripsi, masih kuingat salah-satu topik yang kuajukan adalah mengenai masalah pengungsi Afghanistan.
Saat itu rejim Taliban masih berkuasa, dan mereka baru saja menghancurleburkan patung-patung raksasa Buddha tanpa menghiraukan imbauan masyarakat internasional untuk membiarkan keberadaan warisan budaya dunia tersebut sebagaimana adanya. Ketika itu, sesiapapun yang berbicara tentang serbuan pasukan gabungan Amerika Serikat dan sekutunya masuk ke Afghanistan pasti akan dipandang sebagai seruan nabi palsu di tengah gersangnya padang gurun.
Alasan personal-ku memilih topik tersebut adalah karena kupikir seharusnya ini akan menjadi topik penelitian yang tidak terlalu sulit, cukup dengan membaca sumber-sumber sekunder: media massa. Memang saat itu aku sedang ingin mencari yang gampangnya saja, yang penting bisa tulis skripsi cepat agar bisa cepat sidang sehingga bisa cepat meraih gelar sarjana, yang artinya sukses memenuhi salah satu amanat orang tua.

Entah mengapa, saat itu aku benar-benar lupa bahwa dulu sekali, ketika aku masih kecil dan duduk di bangku sekolah dasar, keluargaku pernah menerima satu keluarga utuh, dalam artian kedua orang-tua berikut seluruh anaknya, untuk tinggal bersama kami. Keluarga ini sesungguhnya merupakan kerabat jauh. Mereka terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka akibat kerusuhan berbau agama yang merembet ke antarsuku, dan kabarnya saat itu sudah sampai memakan korban jiwa.
Malam sebelum menerima mereka, Bapak dan Ibu mengumpulkan kami semua di ruang tengah lantas memberikan wejangan-wejangan singkat yang intinya adalah melarang kami untuk menyebut mereka menumpang hidup di rumah kami, semata demi menjaga perasaan mereka. Meskipun kenyataannya, ya memang demikian keadaannya: mereka menumpang.
Aku tidak melihat bagaimana riuhnya saat mereka tiba, karena kejadiannya waktu aku masih di sekolah. Yang kuingat, sepulangnya dari sekolah dan saat baru turun dari bis sekolah, terlihat ada beberapa barang yang tergeletak di halaman rumah kami yang paginya saat aku berangkat sekolah, semua barang itu masih belum ada di sana. Mulai dari sepeda motor hingga antenna parabola!
Masuk ke dalam rumah, ada banyak orang tak kukenal. Lalu aku diperkenalkan kepada mereka. Entah siapalah, sekarang aku bahkan tidak bisa ingat wajah-wajah mereka, apalagi jika diminta menyebutkan namanya. Ada satu keluarga sedang duduk-duduk di ruang makan keluarga kami, lalu saat aku beranjak ke ruang tengah, ada juga dua orang anak kecil sedang menonton televisi. Katanya sih mereka berdua masih terhitung saudara sepupu jauhku. Membosankan, karena mereka tampak bukan jenis yang bisa asyik diajak main, sebab mereka berkulit gelap akibat terbakar matahari, dan seakan untuk menegaskan ‘kecurigaan’-ku itu, mereka memang berbau matahari.

Tidak butuh seminggu untuk membuatku kesal pada keberadaan mereka di antara kami.
Si Ayah doyan bersendawa di meja makan. Membuatku kesal karena justru Bapak sangat melarang keras kami membuat bebunyian ketika makan malam bersama, ya, bahkan sedapat mungkin harus meminimalisir bunyi sendok dan garpu yang beradu dengan piring keramik. Tapi dengan kerabat ini, Bapak diam saja melihat tingkah polahnya. Anak-anak mereka makan sambil berdecap dengan berisik, seolah tidak bisa makan sambil menutup mulut ketika mengunyah, ditambah kegemaran mereka mengaduk-aduk dan bermain dengan makanan di dalam piring di hadapan mereka.
Belum lagi saat menonton televisi, anak-anak ini akan berkeras untuk menonton program kesenangan mereka, sama sekali tidak mau mengalah pada anak tuan rumah. Menyebalkan. Mentang-mentang ”hosting tamu” masa otomatis harus menerima semua dengan lapang dada? Nonsense!
Lantas ada pula anaknya yang tertua, saat itu kira-kira seusia SMA tapi terpaksa tidak bersekolah dulu untuk sementara waktu karena sekolahnya ditutup akibat kerusuhan, mengomentari dengan nada negatif layar televisi kami yang kecil dan tidak memuaskan pandangan matanya, karena dia terbiasa menonton acara televisi di layar lebih lebar seperti yang ada di rumahnya. Semakin menyebalkan saja!
Aku tidak mengerti kenapa kedua orangtua ku bisa bersabar menghadapi tingkah-polah keluarga ini, karena aku tidak. Barangkali pertimbangan kedua orangtuaku saat itu adalah faktor kemanusiaan, karena sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk menolong orang lain yang sedang mengalami kesusahan. Terlebih lagi karena kami masih memiliki hubungan kekerabatan.

Namun bagi seorang anak kecil seperti diriku saat itu, mau ada hubungan saudara atau bukan, kalau sudah dipandang mengganggu dan masuk tahap menyebalkan yang perlu diberi pelajaran, ya ajak berantem aja sekalian! Tak memikirkan masalah kepekaan sama sekali. Biarlah itu menjadi urusan orang-orang dewasa saja.
Seingatku saat itu kurang lebih baru lewat satu minggu sejak mereka menjadi penghuni baru di rumah kami ketika akhirnya aku mulai bertengkar dengan anak-anak mereka yang kecil. Tidak sampai adu pukul berdarah-darah dan lebam-lebam, tapi sangat jelas memperlihatkan bibit konflik yang berpeluang meledak dalam skala lebih besar lagi.

Untung saja saat itu tanpa sepengetahuanku, kondisi keamanan mulai berangsur pulih sehingga tak lama kemudian keluarga ini bisa kembali ke rumah mereka dengan membawa serta tumpukan harta-benda mereka yang sempat memenuhi rumah dan halaman kami. Aku bisa bebas untuk kembali bermain dengan semua mainanku seperti sediakala tanpa diharuskan membaginya dengan para sepupu jauhku itu (such a spoiled egoistical little kid, ha! ha!) maupun mengajak mereka bermain bersama. Habisnya cara mereka bermain ga asyik dan ga imajinatif sih, masa main perang-perangan dengan tentara-tentaraan plastik tanpa disertai cerita asal-muasal latar-belakang penyebab terjadinya konflik bersenjata itu sendiri?
Waktu mereka masih tinggal di rumah kami, satu saat ketika ketidaksukaanku sudah nyaris mencapai titik kulminasi, aku bahkan sempat berharap ada orang Samaria yang baik hati kebetulan lewat di depan rumah kami dan lantas memutuskan bersedia menampung keluarga menyebalkan ini berikut segala kebawelan dan tingkah-laku ajaib setiap anggota keluarganya yang menjengkelkan itu. Biar sajalah aku menjadi orang Farisi yang terus berjalan lewat dan pura-pura tidak melihat. Untuk hal yang satu ini, aku yakin sanggup melakukannya dan jelas-jelas rela menanggung risikonya nanti, ketika dijadikan contoh tingkahlaku tidak baik.


Is there a time for first communion
A time for East Seventeen
Is there a time to turn to Mecca
Is there time to be a beauty queen


But now, everything has changed.
Even though I don’t know what changed me and when it happened exactly, but am pretty sure I’ve changed my position and opinion about this refugee issue. Barangkali terjadinya seiring pertambahan usia dan peningkatan kedewasaan jiwa. Atau karena melihat beberapa contoh orang-orang sukses dan ternama yang berprestasi, yang dalam perjalanan hidupnya sempat menjadi pengungsi.
Yang jelas, sekarang kalau lihat laporan berita tentang penderitaan para pengungsi, jadi sedih.
Meskipun jelas kalau sekedar sedih doang, tidak akan membantu mengurangi penderitaan para pengungsi tersebut. Sama seperti pesan layanan masyarakat yang dibintangi Angelina Jolie berikut ini.





Salah satu pengguna YouTube meninggalkan komentar menyindir, yang memang tepat dialamatkan untuk PSA ini. Kurang lebih katanya, “... just thinking of them won’t change anything.”; buat menanggapi closing statement dari Ms. Jolie. Well, I couldn’t agree more.
Yang dibutuhkan dalam situasi semacam ini adalah tindakan nyata, dan segera.
Namun terkadang, dalam kondisi tertentu, justru kesulitan memberikan bantuan itu dikondisikan sendiri secara sengaja oleh sekelompok manusia berjudul pemerintah. Ingat saja para korban badai Nargis di Myanmar, atau yang baru-baru ini kubaca dari laporan majalah Time, bahwa Presiden Zimbabwe sengaja membiarkan rakyatnya menderita dan mati perlahan namun pasti – sedangkan bagi mereka yang bernasib lebih baik akan eksodus ke negara-negara tetangga seperti Afrika Selatan. Membuatku tidak habis pikir, kok ada ya pemerintah yang setega itu? Tapi bisa jadi hal ini tidak ada kait-mengait dengan masalah perasaan tega. Barangkali justru karena masalah politik semata. Mengerikan memang manusia bisa tega kepada sesamanya justru karena dia punya akal pikiran untuk melakukannya.


Is there a time for tying ribbons
A time for Christmas trees
Is there a time for laying tables
And the night is set to freeze

Thursday, May 29, 2008

I Wish I Knew When I’m Gonna Have Mood to Watch You

Never before in my life, as a self-acclaimed movie-buff, had I intentionally skipped a motion picture that had won many awards and rave reviews from critics and moviegoers alike.
Until the arrival of Brokeback Mountain, hitting huge on big screens worldwide.
But I can assure you, it has nothing to do with its gay-themed issue.



Pertama kali aku menyaksikan trailer film ini di akhir tahun 2005, yang berdekatan waktunya dengan premiere-nya di Festival Film Venesia, deep in my heart langsung kuputuskan bahwa ini film pastinya sangat bagus, dan tidak boleh sampai terlewatkan olehku.

But I tell you what. It was years ago. Because until this very second, aku masih juga belum menontonnya. Even though practically everybody I know already did, even the straight ones.

Why? You may ask. Apa yang sebenarnya terjadi?

Okay, penyebab awal mulanya adalah seperti ini.
Bisakah kamu membayangkan ada satu orang tertentu, yang setiap bertemu dirinya, topik perbincangan dengan dirinya selalu tentang Britney Spears begini dan Britney Spears begitu, Britney Spears peed in the loo.
Yah, ga gitu banget sih sebenarnya maksudku …

It’s just, am not in the position of comparing Britney with Brokeback, though they were both cultural phenomena, at least in North America. Hanya ingin menganalogikan bagaimana rasanya kalau orang yang kebetulan intensitas frekwensi pertemuannya denganmu lumayan kerap, terus ngomongnya ituuuu melulu. Pengen nampar itu orang, ga lo?!

Jadi si orang ini ya, setiap kali bertemu dengannya dalam meeting di sebuah kantor BUMN yang berkantor pusat di Jl. Jenderal Sudirman, akan sempat-sempatnya menggeser kursinya sejenak menghampiri tempat dudukku, atau kalau misalnya ada waktu luang sebelum atau sesudah meeting dia akan secara khusus menghampiriku, lalu mengajak bicara tentang satu hal : “Gimana, Mas, sudah nonton Brokeback Mountain?”

Dan setiap kali jawabanku akan selalu sama: “Tidak, Pak. Belum sempat aja.”

Meskipun aku sudah berusaha menghindari beliau satu ini, dia akan tetap dengan gigihnya mencari peluang untuk menanyakan hal serupa yang itu-lagi itu-lagi. Yah seperti yang kutuliskan itu tadi di atas. Bahkan di tengah-tengah meeting dia sempat-sempatnya menghampiri cuma buat nanya satu hal itu doang. Penting banget ya?, batinku.
Dan kalau jawabanku masih saja negatif, dia akan terus mempromosikan dengan gencarnya. ”Saya nonton terus lho film ini tiap wiken sama istri di EX. Pokoknya saya akan nonton selama masih diputar di XXI” (istrinya ga bosen mampus apa ya?!). Bahkan ia sempat-sempatnya menawarkan untuk membelikan tiket buat nonton. Heh?!?! WTF?!

Andai saja Focus Feature tahu bagaimana gigihnya Bapak satu ini dalam menjualkan salah satu film rilisannya, pastilah mereka akan memberikan insentif sebagai ucapan terimakasih. Mungkin insentif yang pantas ya ketemu sama abang Jack dan mas Ennis.

Tapi terkadang ya, promosinya itu sampai di tahap gengges aja gitu buatku. Bahkan sepertinya rekan-rekan sekantornya, dan supervisorku juga, sampai took notice akan kelakuan si kucing garong ... bukan, maksudku, ya si Bapak itu.
Gila aja! Masa di kemudian hari ya, teman satu tim ku sambil senyum-senyum misterius begitu, mengusulkan diriku untuk secara khusus dihadapkan ke si Bapak ini kalau ingin mendapatkan project approval dari dirinya.

Ih, emangnya lo pikir gue apaan?!
Emang sih si Bapak itu judulnya adalah klien, tapi bukan berarti lantas situ bisa seenaknya nyodorin gue?!
And just for your information ya, gue itu selektif.
Plus, tarif gue tinggi!! (Ha! Ha! Ha! Teteubh!)

Anyway, mari kita kembali ke pokok inti perbincangan dari maksud tujuan utama disusunnya tulisan ini (belibet ngomongnya khas Pu-Ja).

Meskipun kemudian sekitar 1 tahun sudah berlalu sejak terakhir bertemu Bapak itu untuk urusan kerjaan, alias around year 2006, akhirnya aku tergoda juga buat beli DVD Brokeback Mountain (bajakan cap Ambassador, tentu saja!).
Tapi ternyata baru juga mulai nonton sedikit, ekspresi wajah berbinar si Bapak itu kembali terpampang jelas inside this picture of mind. Cengirannya yang khas sambil ngomong, ”Gimana, Mas, sudah nonton Brokeback Mountain?”
Langsung tombol Stop kutekan, lalu keping DVD di-eject dari player.
Am done with this. (And, perhaps) For good.

Bahkan ketika berita mengejutkan tentang kematian mendadak Heath Ledger tersiar ke seluruh dunia, dan semua penggemar film langsung mengenang kembali penampilan dramatis Heath di film ini, aku sama sekali tidak merasa tergelitik / terpancing buat menuntaskan menonton film western pertama Ang Lee ini.

Oho, jangan salah sangka. Am not homophobic at all. Hanya ya kembali ke soal itu tadi.
Kalau ngomongin soal Brokeback Mountain, jadi teringat lagi sama tingkah polah si Bapak itu, dan bagaimana begitu antusiasnya dia ‘berjualan’.

Barangkali, Bapak itu termasuk salah satu orang yang sangat berduka dan terpukul dengan kepergian Heath Ledger. Can’t blame him, sih. Namanya juga penggemar berat. Ya ga sih?

Eh, kebetulan malam ini lagi kosong.
Batal ketemuan dengan Bradley di Starbucks karena dia mau latihan choir dulu di St. Catherine (terus aku disuruh nunggu aja gitu? Whodoyouthinkyouwho?!).
Lagi males juga hang-out dengan Renata, Lesley, dan Fanny di Alessandro’s karena pasti nanti perbincangannya seputar le marriage, konsep yang masih jauuuuuuuhh aja gitu buatku.

Kayanya malam ini bisa nge-date dengan Michael nih? Sudah lama kubiarkan dia menunggu di kamar tanpa tersentuh sedikitpun.
Dan kalau pun mendadak malam ini masih teteup ga ada mood buat dia, ya nikmati saja penggantinya, Ian.

Yang jelas sih, I still could only wish the right time will eventually come when I really have the right mood to watch you, Jack and Ennis!