Showing posts with label death. Show all posts
Showing posts with label death. Show all posts

Tuesday, September 1, 2009

"Isn't it ironic? Don't you think?"


"An old man turned ninety-eight
He won the lottery and died the next day"

Pada awalnya kupikir dua baris pertama lirik lagu Ironic, yang diciptakan sekaligus dinyanyikan sendiri oleh Alanis Morissette, semata adalah buah dari kejeniusannya dalam menulis lirik. Hingga lebih dari satu dekade kemudian, ketika dari aktivitas browsing iseng kutemukan kisah tentang Wayne Schenk.

Wayne Schenk adalah seorang pria Amerika yang berdomisili di negara bagian New York. Usia purnawirawan angkatan darat ini ‘baru’ 51 tahun ketika ajal menjemputnya, akibat sakit kanker paru-paru yang tak bisa disembuhkan.

Pada bulan Desember 2006, Wayne yang lima minggu sebelumnya didiagnosis kanker paru-paru stadium akhir dan divonis dokter hanya akan bertahan hidup kurang dari satu tahun lagi, membeli sebuah tiket lotere senilai US $ 5. Tanpa diduga oleh siapapun, apalagi olehnya sendiri, ia berhasil memenangkan hadiah utama lotere senilai US $ 1 juta! Mengetahui nilai kemenangannya, ia pun merencanakan untuk menggunakan hadiah uang tersebut untuk membayar biaya perawatannya di institusi khusus perawatan penderita kanker terbaik di New York.

Namun niat Wayne tersebut tak dapat diwujudkan, karena peraturan lotere menyatakan bahwa pemenang hadiah akan dibayar dalam 20 installment tahunan masing-masing senilai US $ 50.000 (dicicil selama 20 tahun). Sementara itu, penghasilan Wayne dari uang pensiun dan pendapatannya sebagai pemilik kedai minum lokal tak cukup memadai untuk menutupi biaya pengobatan di institusi kanker kelas atas yang ia inginkan. Terlebih lagi, Wayne Schenk ternyata tidak memiliki asuransi jiwa.

Meskipun uang kemenangannya dari lotere Negara Bagian New York tidak bisa ia dapatkan sekaligus sesuai rencana semula, setidaknya Wayne masih sempat mengambil satu langkah yang dianggapnya sangat penting : ia menikahi teman wanitanya sejak lama, Joan DeClerck, pada tanggal 4 April 2008, agar kelak uang hadiah lotere tersebut dapat diwariskan kepada orang yang benar-benar dikasihinya.

Kondisi tubuh Wayne di hari pemberkatan pernikahannya itu sudah sangat lemah, sehingga ia harus mengenakan tabung oksigen agar dapat terus bernapas. Di akhir bulan yang sama, hanya sekitar dua minggu setelah menikah, Wayne Schenk pun menutup mata untuk selamanya, kurang dari empat bulan setelah berhasil memenangkan lotere 1 juta dolar.

"And life has a funny way of helping you out when You think everything's gone wrong and everything blows up in your face

...

Life has a funny, funny way of helping you out
Helping you out"

Tuesday, July 21, 2009

Di Akhir Usia


Seorang teman memberikan link Catatan Pinggir-nya Bapak Goenawan Mohammad minggu ini, yang mengulas aksi teror peledakan bom di Hotel J.W. Marriott dan Ritz Carlton, Jakarta.

Dari sekilas membaca cepat artikel tersebut, pikiranku justru dibawa melayang pada sebuah adegan klimaks anime Metropolis karya sutradara kondang, Osamu Tezuka. Dalam film tersebut, digambarkan jelas ketika sebuah ledakan mahadahsyat meluluhlantakkan sebagian Metropolis, tak ada efek suara menggelegar memekakkan telinga layaknya yang lazim didengar oleh para penonton sebagaimana biasanya dalam film-film action khas Hollywood.

Sebagai gantinya, visual pengadeganan ledakan tersebut diiringi sebuah tembang lawas lembut memanja gendang telinga, suara mendiang Ray Charles menyanyikan I Can’t Stop Loving You. Anehnya, dampak yang ditimbulkan justru jauh lebih memukau dan menghanyutkan perasaan, jauh lebih efektif dalam menciptakan rasa haru-biru.

Karena barangkali ketika kematian tidak bisa lagi dielakkan, yang memang ingin benak kita ingat menjelang waktu di dunia berakhir, adalah kenangan-kenangan indah tentang tawa, cinta dan bahagia yang pernah kita rasa.

Atau barangkali aku saja yang kebetulan sedang terbawa suasana dan jadi sentimentil? Entahlah.

Monday, March 30, 2009

Wordless, Yet Shared

sadness and grief and pain of losing someone so dearly
deeply felt and shared through this picture

Wednesday, December 24, 2008

Menolak Untuk Melupakan Sejarah

Wajah perempuan itu terlihat begitu tua, kulitnya yang berwarna kecoklatan ditandai bintik-bintik hitam dengan guratan keriput pertanda rentang usia yang sudah begitu lama menghirup udara Nusantara. Giginya hanya tinggal beberapa, itu pun seringkali tersembunyi di balik katupan bibir yang dulunya pasti penuh dan merah, namun kini sudah ikut keriput juga. Dengan suara terbata-bata sambil sesekali mengusap air mata yang menggenangi pelupuk mata, perempuan tua itu bertutur tentang pengalamannya mencari suaminya yang sempat menghilang seharian. Suaminya yang kemudian dia temukan menjelang senja dalam kondisi sudah tak lagi bernyawa, tersungkur di sawah yang basah oleh air hujan bercampur darah manusia bersama puluhan mayat lainnya.

Nama perempuan tua itu, Wanti. Malam tadi kulihat dia dalam tayangan ”Nama dan Peristiwa” yang disiarkan oleh tvone. Wanti adalah salah satu janda korban pembantaian Rawa Gede, sebuah desa kecil yang terletak di Karawang, Jawa Barat.

Sekitar 61 tahun yang lalu, saat perundingan Renville terkait penentuan kedaulatan Indonesia baru dimulai satu hari sebelumnya, sepasukan tentara Belanda mengepung desa Rawa Gede, dalam upayanya mencari dan menangkap para tentara pejuang Indonesia yang diperkirakan bersembunyi di desa tersebut. Setiap rumah di Rawa Gede didobrak masuk dan digeladah untuk mencari senjata maupun para pejuang yang barangkali tinggal bersama penduduk.
Seluruh penduduk berjenis kelamin laki-laki di atas usia 15 tahun kemudian dikumpulkan dan digiring ke suatu tempat. Mereka semua dibariskan berjajar dan ditanyai tentang keberadaan para tentara Indonesia. Tak satu lelaki pun mengaku tahu, tak seorang pun bisa menjawab interogasi tentara Belanda itu.
Yang kemudian terjadi adalah, tanpa melalui prosedur pengadilan, tuntutan maupun pembelaan, seluruh lelaki itu diberondong dengan senapan mesin oleh para tentara Belanda. Mereka semua dibantai di tempat. Satu persatu tubuh para lelaki itu roboh ke bumi, meregang nyawa atau mati seketika. Beberapa mayat yang sudah saling menindih bahkan masih ditembaki beberapa kali, untuk meyakinkan bahwa mereka semua sudah mati.
Darah pun mengalir membasahi pertiwi.

Tidak cukup sampai di situ, tentara Belanda masih terus mencari jejak para lelaki yang diduga sempat melarikan diri. Mereka diburu seperti hewan liar, dikejar dengan bantuan anjing pelacak. Setiap lelaki dewasa yang ditemukan, ditembak mati di tempat. Hari itu, 9 Desember 1947, ratusan jiwa penduduk sipil melayang di Rawa Gede.

Malam tadi, menyaksikan penuturan Ibu Wanti tentang hari kelam 61 tahun yang lalu itu, membuat perih hati ini.
Dengan suaranya yang lirih dan semakin terbata-bata sambil terus mengusap air mata, Ibu Wanti bercerita bagaimana seorang tetangganya memberitahu bahwa suaminya tercinta tewas ditembak tentara Belanda. Dalam kondisi tengah hamil 9 bulan, Ibu Wanti ditemani oleh ibunya pergi mencari mayat suaminya. Di bawah derasnya hujan yang dicurahkan langit yang seakan turut menangisi kepergian ratusan lelaki Rawa Gede, Ibu Wanti bersama ibunya terpaksa harus mencari-cari di antara tumpukan mayat lelaki yang saling tumpang tindih di tengah sawah. Dua perempuan ibu dan anak ini, dalam kedukaan yang mendalam, tanpa lelah terus mencari lelaki yang mereka kasihi, bersama dengan puluhan perempuan Rawa Gede lainnya. Setelah mayat suaminya berhasil ditemukan, berdua bersama ibunya, Ibu Wanti harus bersusah payah membawa mayat tersebut kembali ke desa untuk dimakamkan secara Islam. Tak bisa kubayangkan betapa hancurnya hati Ibu Wanti dan ibunya senja itu, karena imam sekaligus pencari nafkah keluarga mereka telah pergi untuk selamanya.

Malam tadi, baru untuk pertama kalinya aku mengetahui ada peristiwa keji semacam ini terjadi di negeriku Indonesia. Tak habis pikir rasanya, mengapa kejahatan perang semacam ini tak pernah masuk dalam catatan peristiwa di buku-buku sejarah yang kupelajari semasa sekolah.
Apakah nyawa ratusan lelaki dari sebuah desa kecil di Karawang yang direnggut paksa tersebut tidak bermakna apapun juga?
Dan mengapa, berdasarkan beberapa wawancara yang ditayangkan dalam program acara malam tadi, Pemerintah kita – termasuk para anggota Dewan terhormat – seakan turut menutup mata dan tidak peduli, tak pernah secara serius memperhatikan nasib mereka dan mendukung upaya advokasi para korban untuk memperkarakan kejahatan perang ini di Mahkamah Internasional?

Apakah sebegitu tidak relevannya bagi bangsa ini, penderitaan yang harus ditanggung oleh para penduduk Rawa Gede yang hidupnya berubah drastis untuk seterusnya, sejak hari naas 9 Desember, 61 tahun yang lalu itu?

Apakah kita ’diharapkan’ lupa pada sejarah perjuangan bangsa ini – serta seluruh pengorbanan yang diserahkan oleh para pendahulu kita – saat berupaya mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Negara Indonesia?

Aku memilih untuk tetap ingat. Setidaknya dengan caraku sendiri.
Itulah sebabnya aku membuat tulisan ini.


Thursday, November 27, 2008

Duka Bagi Mumbai


ketika teror mengintai dari balik gelapnya bayangan
menantikan saat-saat kelengahan menjelang
lalu pada masanya
teror pun menyergap dengan tiba-tiba



kebuasan yang meradang dan menerjang
bangkit menyerang dari relung jiwa yang paling kelam
kini tak lagi ia pedulikan identitasmu
tak lagi ia perhatikan siapa dirimu



dalam kebuasan teror yang memberontak
meluncur kencang dari hati yang membusuk karena dendam
kini yang dicari dan dimintanya dari dunia hanyalah



kerusakan
penderitaan
kehancuran
kematian


empati dan duka mendalam bagi para korban aksi terorisme di Mumbai
semoga jiwa-jiwa yang tercerabut mendapatkan ketenangan dan kedamaian di lain dunia


Wednesday, November 12, 2008

Pilih Sendiri Cara Asyik Nyiapin Kematianmu!



Pernahkah kamu memperhatikan iklan-iklan Obituary yang kalau mau repot-repot dihitung, ternyata setiap harinya menyita cukup banyak space permilimeter kolom di koran-koran nasional? Lazimnya iklan-iklan semacam ini selalu menampilkan deretan nama mereka-mereka yang turut merasakan duka cita dengan meninggalnya sang subjek obituari, entah mereka ini dari kalangan ayah-ibu, suami-istri, anak-ipar, sepupu-keponakan, cucu-cicit, handai taulan-tetangga, dan seterusnya.

Anehnya, dalam beberapa iklan dapat diindikasikan bahwa ada anggota keluarga yang turut berduka cita justru telah terlebih dahulu berpulang daripada subjek yang di-obituari-kan. Padahal apabila menggunakan logika agama atau kepercayaan manapun, bukannya seharusnya para “pendahulu”-nya merasa senang ya, karena dengan wafatnya si subjek obituari, artinya sekarang bertambah lagi temannya untuk melewatkan waktu di alam lain sana?

Satu hal lain yang cukup menarik diperhatikan dalam iklan-iklan obituari ini, biasanya foto yang ditampilkan untuk mengidentifikasi mendiang/almarhum/-ah, adalah foto andalan di masa-masa keemasan yang bersangkutan. Meskipun banyak juga sih yang menampilkan foto-foto di kala sudah memasuki usia senior (untuk tidak mengatakan uzur). Ditengarai, ini bisa jadi adalah pas foto yang bersangkutan ketika mendaftarkan diri untuk pembuatan KTP seumur hidup.

Rada aneh memang. Padahal kan pepatah mengatakan, “In this world, nothing is certain but death and taxes.” Tidak ada yang pasti dalam hidup ini selain kematian dan pajak. Nah, berhubung kematian itu sudah pasti datang, kenapa tidak disiapkan selagi ada waktu luang dan dana ekstra ya? Tentu saja maksud hati bukan menyarankan untuk melakukan tindakan seperti mendiang Suzanna Martha Frederika van Osch, yang telah membeli kafan sekitar 8 tahun sebelum dia berpulang. Tapi kan masih ada hal-hal lain yang terkait.
Misalnya, kalau orang-orang bisa meluangkan waktu, tenaga, konsentrasi dan dana sedemikian banyak untuk bikin foto-foto prewedding, kenapa tidak sekalian menyiapkan foto-foto untuk menyambut momen kematian? Toh biasanya kalau sedang disemayamkan di rumah duka, akan dipajang dalam pigura foto yang bersangkutan, seolah-olah ingin menatap satu-persatu para pelayat. So this already prepared photo must come in handy.
Namun tentu saja ada catatan khusus, yaitu disarankan agar pose si yang meninggal di dalam foto tidak harus serius, atau lebih buruk lagi, malah sengaja diseram-seramkan (secara ada kemungkinan sangat besar yang bersangkutan bukan dari kalangan paranormal, kan?). Itu sih membosankan dan tidak menarik, dan niscaya membuat para pelayat tidak nyaman. Masa kalau pengen didoakan agar diampuni dosanya dan bisa masuk surga, masih nakut-nakutin orang sih?

Jadi teringat dalam salah satu adegan di film yang dibintangi di masa-masa awal karirnya (baca, ketika giginya masih gingsul), Tom Cruise pernah ditugaskan oleh dosennya di sekolah bisnis untuk menulis sendiri obituarinya. Penilaian utama diberikan berdasarkan content materi ”jualan” yang bersangkutan tentang dirinya sendiri di masa ketika masih hidup.
Hal ini sesungguhnya menarik untuk dicermati dan dilakukan di masa kini, apalagi bagi mereka-mereka yang sangat mementingkan citra positif di masa-masa semasih hidup, sampai tidak sungkan mengeluarkan dana superekstra untuk menghadiri acara-acara sosialita (minimal, gaun yang dikenakan di setiap acara harus beda) demi bisa terpajang di halaman Tatler, dewi maupun Prestige. Karena seperti kata pepatah, ”Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang”. Kalau manusia yang is dead? Ya tinggalkan citra diri yang positif dong.

Nah, barangkali yang bisa menjadi salah satu alternatif demi menjaga kelanggengan citra positif ini, misalnya kalau calon migran antar-alam maupun ahli warisnya punya dana super berlebih dan canggung meninggalkan gaya hidup bermewah-mewah yang terlanjur diakrabi, sembari mungkin berpikir panjang nantinya ingin memudahkan anak cucu cicit berziarah dengan nyaman, bisa pilih-pilih kapling di San Diego Hill Memorial Park and Funeral Homes. Bayangkan saja, tagline produk properti ini saja sudah sangat menjanjikan ketenangan dan eksklusifitas : “There is no other cemetery like this.” Mantap ya?!

Jadi artinya, tidaklah perlu sampai harus memaksa-maksa diberikan tempat peristirahatan terakhir di salah satu taman makam pahlawan yang tersebar di seluruh negeri ini kok, hanya demi sebuah branding nama besar / nama baik. Sekedar untuk dijadikan pembanding, almarhum Bung Tomo yang tersohor berkat ketegasan sikap dan kepemimpinannya dalam perang mempertahankan kemerdekaan Republik di Surabaya, 10 November 1945 saja, tidak mendapatkan gelar pahlawan nasional hingga tahun ini.

Nah, apalagi bagi mereka – mudah-mudahan saja bukan Anda – yang bayar pajak kepada negara ini secara jujur saja masih enggan, masa masih ingin mendapatkan perlakuan lebih istimewa? Nanti apa kata dunia?


Thursday, May 29, 2008

I Wish I Knew When I’m Gonna Have Mood to Watch You

Never before in my life, as a self-acclaimed movie-buff, had I intentionally skipped a motion picture that had won many awards and rave reviews from critics and moviegoers alike.
Until the arrival of Brokeback Mountain, hitting huge on big screens worldwide.
But I can assure you, it has nothing to do with its gay-themed issue.



Pertama kali aku menyaksikan trailer film ini di akhir tahun 2005, yang berdekatan waktunya dengan premiere-nya di Festival Film Venesia, deep in my heart langsung kuputuskan bahwa ini film pastinya sangat bagus, dan tidak boleh sampai terlewatkan olehku.

But I tell you what. It was years ago. Because until this very second, aku masih juga belum menontonnya. Even though practically everybody I know already did, even the straight ones.

Why? You may ask. Apa yang sebenarnya terjadi?

Okay, penyebab awal mulanya adalah seperti ini.
Bisakah kamu membayangkan ada satu orang tertentu, yang setiap bertemu dirinya, topik perbincangan dengan dirinya selalu tentang Britney Spears begini dan Britney Spears begitu, Britney Spears peed in the loo.
Yah, ga gitu banget sih sebenarnya maksudku …

It’s just, am not in the position of comparing Britney with Brokeback, though they were both cultural phenomena, at least in North America. Hanya ingin menganalogikan bagaimana rasanya kalau orang yang kebetulan intensitas frekwensi pertemuannya denganmu lumayan kerap, terus ngomongnya ituuuu melulu. Pengen nampar itu orang, ga lo?!

Jadi si orang ini ya, setiap kali bertemu dengannya dalam meeting di sebuah kantor BUMN yang berkantor pusat di Jl. Jenderal Sudirman, akan sempat-sempatnya menggeser kursinya sejenak menghampiri tempat dudukku, atau kalau misalnya ada waktu luang sebelum atau sesudah meeting dia akan secara khusus menghampiriku, lalu mengajak bicara tentang satu hal : “Gimana, Mas, sudah nonton Brokeback Mountain?”

Dan setiap kali jawabanku akan selalu sama: “Tidak, Pak. Belum sempat aja.”

Meskipun aku sudah berusaha menghindari beliau satu ini, dia akan tetap dengan gigihnya mencari peluang untuk menanyakan hal serupa yang itu-lagi itu-lagi. Yah seperti yang kutuliskan itu tadi di atas. Bahkan di tengah-tengah meeting dia sempat-sempatnya menghampiri cuma buat nanya satu hal itu doang. Penting banget ya?, batinku.
Dan kalau jawabanku masih saja negatif, dia akan terus mempromosikan dengan gencarnya. ”Saya nonton terus lho film ini tiap wiken sama istri di EX. Pokoknya saya akan nonton selama masih diputar di XXI” (istrinya ga bosen mampus apa ya?!). Bahkan ia sempat-sempatnya menawarkan untuk membelikan tiket buat nonton. Heh?!?! WTF?!

Andai saja Focus Feature tahu bagaimana gigihnya Bapak satu ini dalam menjualkan salah satu film rilisannya, pastilah mereka akan memberikan insentif sebagai ucapan terimakasih. Mungkin insentif yang pantas ya ketemu sama abang Jack dan mas Ennis.

Tapi terkadang ya, promosinya itu sampai di tahap gengges aja gitu buatku. Bahkan sepertinya rekan-rekan sekantornya, dan supervisorku juga, sampai took notice akan kelakuan si kucing garong ... bukan, maksudku, ya si Bapak itu.
Gila aja! Masa di kemudian hari ya, teman satu tim ku sambil senyum-senyum misterius begitu, mengusulkan diriku untuk secara khusus dihadapkan ke si Bapak ini kalau ingin mendapatkan project approval dari dirinya.

Ih, emangnya lo pikir gue apaan?!
Emang sih si Bapak itu judulnya adalah klien, tapi bukan berarti lantas situ bisa seenaknya nyodorin gue?!
And just for your information ya, gue itu selektif.
Plus, tarif gue tinggi!! (Ha! Ha! Ha! Teteubh!)

Anyway, mari kita kembali ke pokok inti perbincangan dari maksud tujuan utama disusunnya tulisan ini (belibet ngomongnya khas Pu-Ja).

Meskipun kemudian sekitar 1 tahun sudah berlalu sejak terakhir bertemu Bapak itu untuk urusan kerjaan, alias around year 2006, akhirnya aku tergoda juga buat beli DVD Brokeback Mountain (bajakan cap Ambassador, tentu saja!).
Tapi ternyata baru juga mulai nonton sedikit, ekspresi wajah berbinar si Bapak itu kembali terpampang jelas inside this picture of mind. Cengirannya yang khas sambil ngomong, ”Gimana, Mas, sudah nonton Brokeback Mountain?”
Langsung tombol Stop kutekan, lalu keping DVD di-eject dari player.
Am done with this. (And, perhaps) For good.

Bahkan ketika berita mengejutkan tentang kematian mendadak Heath Ledger tersiar ke seluruh dunia, dan semua penggemar film langsung mengenang kembali penampilan dramatis Heath di film ini, aku sama sekali tidak merasa tergelitik / terpancing buat menuntaskan menonton film western pertama Ang Lee ini.

Oho, jangan salah sangka. Am not homophobic at all. Hanya ya kembali ke soal itu tadi.
Kalau ngomongin soal Brokeback Mountain, jadi teringat lagi sama tingkah polah si Bapak itu, dan bagaimana begitu antusiasnya dia ‘berjualan’.

Barangkali, Bapak itu termasuk salah satu orang yang sangat berduka dan terpukul dengan kepergian Heath Ledger. Can’t blame him, sih. Namanya juga penggemar berat. Ya ga sih?

Eh, kebetulan malam ini lagi kosong.
Batal ketemuan dengan Bradley di Starbucks karena dia mau latihan choir dulu di St. Catherine (terus aku disuruh nunggu aja gitu? Whodoyouthinkyouwho?!).
Lagi males juga hang-out dengan Renata, Lesley, dan Fanny di Alessandro’s karena pasti nanti perbincangannya seputar le marriage, konsep yang masih jauuuuuuuhh aja gitu buatku.

Kayanya malam ini bisa nge-date dengan Michael nih? Sudah lama kubiarkan dia menunggu di kamar tanpa tersentuh sedikitpun.
Dan kalau pun mendadak malam ini masih teteup ga ada mood buat dia, ya nikmati saja penggantinya, Ian.

Yang jelas sih, I still could only wish the right time will eventually come when I really have the right mood to watch you, Jack and Ennis!


Friday, May 16, 2008

"Kueh Nastar Paling Enak di Kampung Sini"



"Terimakasih, sudah kenyang!", "Terimakasih, sudah kenyang!", demikianlah ucapan tersebut terdengar berulang-ulang dalam iklan margarin Blue Band versi Lebaran tahun ini. Adegannya memperlihatkan satu keluarga kecil yang terdiri dari ayah-ibu dan seorang anak lelaki kecil yang setiap kali ditawari makanan ringan dalam kunjungan silaturahmi Lebaran mereka selalu menolak dengan halus.

Kenapa eh kenapa, mereka selalu menolak tawaran makanan ringan itu? batinku memprotes.

Sebel banget, sementara tahun ini aku kan ga bisa berlebaran ke rumah siapapun, jadi ga bisa makan ketupat dan opor ayam, apalagi makan kueh-kueh kering berkalori tinggi favoritku!

Menu sehari-hariku saat libur Lebaran ini ya hanya berupa camilan ringan biskuit atau menu khas a la mahasiswa ngekost. Don't bother to tell, I know you can easily guess :-p

Eh, pas lagi pencet-pencet remote TV, kebetulan pas lagi ada Bajaj Bajuri. Episode spesial Lebaran.

Momennya pas banget kali ya. Jadinya malah teringat waktu menghabiskan tiga akhir pekan pertama bulan Ramadhan bersama Billy. Kita selalu berbuka bersama – meskipun aku tidak berpuasa – dengan makan kolak pisang buatannya sendiri sambil tertawa bersama melihat tingkah polah kocak dan kekonyolan khas sinetron Bajuri.
Sebenarnya kolak buatan Billy tidak pernah stabil rasanya. Kadang kala terlalu manis, terkadang nyaris hambar, karena saat mengolahnya, Billy selalu meminta aku yang mencicipinya. Semua masakannya saat aku di situ memang disesuaikan dengan seleraku. Dan “masalah”-nya, aku sendiri tidak pernah bisa yakin 100% dengan kemampuan indra pengecapku. Ha!
Yang pasti, rasa masakan Billy tidak boleh terlalu asin karena nanti bisa membuat aku minum terus sampai kembung untuk hilangkan rasa kering di lidah yang kemudian bisa mengakibatkan aku bolak-balik ke toilet dan mungkin akan mengganggu tidurnya pada malam harinya.
Tidak boleh juga terlalu manis karena sesudah menyantapnya aku akan menjadi hiperaktif, atau yang lebih parah, membuatku mengantuk dan tertidur hanya setengah jam setelah makan.
Apapun masakannya, tidak boleh terasa pedas, karena memang Billy tidak tahan rasa pedas (yang sebenarnya membuatku heran bagaimana cara dia waktu itu bisa bertahan hidup di India selama setahun dan kemudian di Meksiko selama nyaris 6 bulan).

Namun karena aku sudah hampir setahun ini selalu menghindari konsumsi gula, lidahku pun sudah beradaptasi untuk mengecap semua makanan bergula sebagai 'terlalu manis'.
Jadi ketika aku melihat perubahan ekspresi wajah Billy setelah menyuapkan sendok pertama kolak tersebut ke dalam mulutnya, saat itu juga aku sadar ada yang keliru dengan rasanya.
Kumasukkan suapan pertama ke dalam mulutku. Hmmm, memang tidak manis, kolak tanpa jejak rasa gula.
Aku langsung merasa malu dan meminta maaf, tapi dengan tersenyum manis Billy menghiburku, ga apa-apa kok, katanya, emang ga baik juga kalau mengkonsumsi terlalu banyak gula. Toh aku juga sudah siapkan teh manis untuk kita, katanya untuk menghiburku.
Lalu dia berjalan ke meja dapur dan mengambil dua buah mug berisikan teh dilmah yang masih mengepulkan asap, dan memberikan satu padaku.

Sudah pas kan manisnya rasa teh ini? tanya Billy. Sudah kok, jawabku. Sudah pas manisnya semanis senyum kamu.
Kulihat Billy jadi tersenyum malu. Kamu itu ya, suka banget menggoda aku, protesnya.
Melihat ekspresi malu-malu di wajahnya, aku cuma tertawa ha ha ha … namun saat itu pikiranku melayang pada Bradley yang pernah beberapa kali 'menuduhku' sebagai seorang "lelaki penggoda profesional". Atau bahkan, terkadang tanpa menyadarinya, sinyal-sinyal yang dipancarkan oleh gerakan tubuh dan ekspresi wajahku seakan menggoda lawan bicaraku. Tapi itu kata Bradley, yang meskipun merupakan salah satu sahabatku, terkadang ucapannya tidak bisa diandalkan.

Kembali ke cerita Bajaj Bajuri episode spesial Lebaran, Said dan Ucup yang ingin wisata boga selama Lebaran memutuskan mendatangi rumah Mpok Minah terlebih dahulu dalam rangkaian 'tur' mereka. Alasan utama mereka berdua sangatlah sederhana.
Lo kan tau sendiri, Cup, demikian Said, kalo kue nastarnya mpok Minah itu udah terkenal paling enak di kampung sini!
Lalu pergilah mereka berdua untuk berlebaran ke rumah Mpok Minah, dan kekocakan pun terjadi saat Said dan Ucup rebutan menghabiskan isi stoples kue nastar, sembari berpura-pura bersalaman dengan Mpok Minah untuk meminta maaf.

Kamu lg dmn &ngaps? Aku lg nontn Bajuri, crtny Said&Ucup rbutan nastar. Jd pengen nastar jg, tp lg ga ada yg bisa kukunjungi skrg. Kangen. [Message sent to Billy. Message delivered to Billy]

Mudah-mudahan KartuHalo-nya diaktifkan untuk roaming internasional, pikirku.
Semoga SMS-ku diterima Billy yang tentunya saat ini sedang berkumpul bersama keluarga besarnya di Penang, kepulangannya ke rumah orangtuanya untuk pertamakalinya setelah ayahnya meninggal empat tahun lalu.

[1 new message received]
Me 2. Ada nastar kok d rmh. Nxt wiken kamu datang yah. Hugz.

Aku tersenyum lebar. Billy juga tidak terlalu menggemari makanan ringan yang manis-manis. Merusak gigi, katanya. Selain itu dia berusaha untuk tidak menambah besar lingkar pinggangnya, dan itu artinya cuma satu: diet. Plus dia selalu senang jika melihat aku makan dengan lahap. Itu artinya, dia pasti akan membiarkan aku menghabiskan nastar miliknya. Hehehe …

"Terimakasih, sudah kenyang!" Ah, iklan itu lagi. Namun kali ini perhatianku tertuju pada bentuk-bentuk lucu kue kering yang terpampang di layar kaca. Ada yang berbentuk bintang, ada yang menyerupai bulan sabit.
Tapi tidak ada kue ulat, batinku sambil kembali tersenyum lebar.

Biasanya kue ulat favoritku dan saudaraku Matt baru tersedia di rumah dua minggu menjelang Natal. Ketika masih duduk di sekolah dasar, kami berdua selalu tidak sabar menanti datangnya Natal dan Tahun Baru, karena itu artinya datangnya masa-masa istimewa, bisa makan enak dan banyak.

Bolu sarang lebah. Lontong sayur. Agar-agar pelangi. Bolu pandan. Ayam kampung panggang.
Makanan yang sepertinya kini tampak sederhana namun di kala itu terasa begitu istimewa, karena memang hanya dihidangkan pada saat-saat istimewa bersama seluruh anggota keluarga.

Waktu itu menjelang akhir dekade 1980-an. Saat itu anggota keluarga kami masih lengkap dan punya tradisi untuk selalu berkumpul bersama di rumah menjelang Natal. Biasanya aku dan Matt dibiarkan Ibu bermain-main apa saja yang sedang kami ingin mainkan, dan biasanya kami bermain perang-perangan bersama anak-anak sekompleks. Sesekali ketika mulai merasa haus, aku atau Matt menyelinap masuk ke dapur untuk minum, sembari mata kami sibuk mencari-cari benda apa saja yang bisa dimakan.
Jika kami sedang beruntung, di atas meja di dalam loyang masih tersusun kueh-kueh kering yang baru selesai dipanggang. Biasanya kalau sudah melihat pajangan itu, aku dan Matt akan mencoba mengambil kueh-kueh tersebut langsung dari loyangnya, yang seringkali masih panas karena baru saja dikeluarkan dari dalam oven. Saat itu rasanya risiko jari melepuh sebanding dengan kenikmatan sepotong kueh kering.

Dan seperti biasanya salah-satu kakak atau malah Ibuku akan mengusir kami keluar dari dapur, memukul pelan tangan kami yang terulur meraup setumpuk kueh jika sempat, atau jika sedang tidak terlalu repot karena semua adonan kueh hari itu sudah selesai atau sedang dipanggang dan apabila sedang berbaik hati, kami akan diberi masing-masing dua potong kueh kering.
Bentuknya macam-macam dan lucu-lucu, tapi favoritku saat itu adalah kueh yang bentuknya memanjang dan seperti berbuku-buku, persis seperti keluarga ulat-ulatan yang pernah kami lihat dari siaran dokumenter TV2 Malaysia. Ulat putih yang lucu dan merayap di atas daun.

Aku tidak ingat lagi siapa di antara kami berdua yang memiliki ide cemerlang dan membaptiskan kueh berbentuk panjang berbuku-buku itu dengan nama yang tidak lazim, namun sejak saat itu kueh kering tersebut di keluarga kami dikenal sebagai kueh ulat.

Biasanya pada minggu-minggu awal bulan Januari ketika hendak memulai pelajaran agama, aku dan Matt berangkat ke sekolah sambil membawa bekal kueh-kueh dari rumah. Karena Ibuku memang gemar memasak dan saat itu beliau masih memiliki banyak "tenaga ahli" (yaitu, kakak-kakakku) yang siap membantunya di dapur, kami berdualah yang biasanya membawa kueh paling banyak dan paling beragam ke sekolah.
Sebelum pelajaran agama dimulai dengan menyanyikan lagu pujian dan doa pembuka, kami melakukan pertukaran kueh-kueh yang dibawa dengan sesama teman. Saling mencicipi dan mengomentari. Jika ada teman yang membawa kueh kering yang ternyata dibeli dari pasar swalayan dan bukan dibuat sendiri oleh keluarganya, biasanya kueh bawaannyalah yang paling terakhir habis.

Dengan sedikit senang dan bangga aku mengeluarkan sebungkus kueh kering dengan bentuk-bentuk lucu. Malam sebelumnya aku sudah berpesan kepada kakakku yang membantu membungkuskan kueh-kueh itu agar memasukkan lebih sedikit kueh ulat daripada kueh-kueh bentuk lainnya.
Ah, ini semua kan sama saja, demikian kata kakakku saat itu. Tapi aku tidak percaya dan bersikeras bahwa beda bentuknya berarti beda pula rasanya. Lalu bungkusan kueh kering bawaanku mulai kuedarkan berkeliling.

Ah, kebanyakan kue semprit, protes Robin sambil tangannya merogoh kantung kuehku dan mengambil kueh ananas.

Iya nih, semprit semua, sambung Jim, namun tangannya tetap masuk ke kantung dan meraup segenggam kueh kering plus dua potong bolu.

Kok kalian menyebutnya kueh semprit? tanyaku polos.

Iya, soalnya biarpun bentuknya macam-macam, kan semuanya dibuat dari satu adonan yang sama saja, jawab Jim si gembul sambil mulutnya sibuk mengunyah-ngunyah.

Sebenarnya bukan jawaban yang sesuai untuk pertanyaan yang aku ajukan, namun pada saat itu pikiranku tertuju pada potongan informasi yang baru saja kudapatkan.
Satu adonan yang sama? Ah, masa sih?

Sorenya sepulang sekolah, aku mencari Ibuku yang saat itu sedang berada di dapur sibuk menyiapkan makan malam.
Masih kuingat saat itu kulihat matanya tampak merah seperti habis menangis, namun aku menyangka matanya perih karena terkena asap dari wajan penggorengan.

Tadi temanku bilang kueh ulat dan kueh-kueh lainnya itu sebenarnya namanya kueh semprit. Masa bentuknya macam-macam tapi namanya sama? Kok bisa? tanyaku.

Dengan tersenyum manis, jenis senyuman yang di kemudian hari secara otomatis cenderung akan kita tiru dari orang-orang yang telah lebih dulu dewasa daripada kita, yang kemudian pada gilirannya terbiasa kita perlihatkan jika mendapatkan pertanyaan polos dan lucu dari seorang anak kecil, ibuku menjelaskan bahwa semua kueh yang berbeda-beda bentuknya itu sebenarnya memang hanya dari satu jenis adonan, karena memang bahan pembuatnya sama saja.

Jadi meskipun kamu lebih menyukai kueh ulat karena bentuknya yang lucu dan lebih menarik daripada bentuk kueh kering lainnya, tapi sebenarnya mereka semua sama saja karena memang terbuat dari bahan yang sama, jadilah mereka sama-sama kueh semprit. Tapi bukan namanya yang menjadi masalah sekarang, karena yang paling penting, rasa kuehnya enak dan kamu suka memakannya, demikian Ibuku mencoba memberikan penjelasan paling sederhana yang paling gampang dipahami oleh seorang bocah berusia tujuh tahun.

Lalu lanjutnya, Itu kurang-lebih sama seperti kamu dan Matt. Kalian berdua sama-sama anak lelakiku. Wajah kalian berbeda dan nama kalian pun berbeda. Tapi kalian berdua sama-sama dibuat Tuhan dari bahan yang sama dan diberikan kepada aku dan Bapakmu beberapa tahun lalu untuk dibesarkan dengan penuh kasih-sayang dan cinta.

Saat menjelaskan hal tersebut, Ibuku telah berlutut di hadapanku dan sambil menatapku melanjutkan penjelasannya, Dan karena kalian berdua sebenarnya sama, tidak ada satupun yang lebih disukai daripada yang lain. Kalian berdua sama-sama anak lelaki yang sangat aku sayangi, lalu ibuku meraih tubuhku dan membawanya ke dalam pelukannya yang selalu terasa hangat, nyaman dan menentramkan, dan diapun menangis.

Aku tidak pernah menyangka pertanyaan sepele tentang kueh kering bisa membuat seseorang begitu terharu hingga menitikkan air mata, namun saat itu aku merasa sangat menyesal mengajukan pertanyaan bodoh yang ternyata mampu melukai perasaan seseorang yang sangat aku kasihi, terlebih orang itu adalah Ibuku sendiri.

Namun sama seperti kesalahpahamanku tentang kueh kering itu, ternyata aku sudah keliru mengartikan tangisan Ibu.

Sore itu Bapak pulang dari kantor lebih cepat dari biasanya. Awalnya aku dan Matt merasa senang melihatnya sudah ada di rumah bahkan sebelum berita sore tayang di TV. Namun melihat ekspresi wajahnya, ditambah dengan semua gerakannya yang serba tergesa-gesa, belum lagi nada bicaranya yang jadi jauh lebih cepat daripada biasa, kami berdua tahu ada sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Aku dan Matt sempat merasa resah. Jangan-jangan ada kesalahan yang tanpa kami sadari telah kami perbuat. Tapi kok ya, kami belum juga dipanggil dan disuruh berdiri di hadapan Bapak dan Ibu? Ini benar-benar sesuatu yang tidak biasa.

Yang terjadi malah aku dan Matt disuruh menonton TV saja dan bukannya mengerjakan pe-er seperti kebiasaan kami setelah bangun dari tidur siang, sambil ditemani oleh salah seorang kakakku.

Malam harinya barulah kuketahui alasan sebenarnya, setelah salah satu Tante kami datang ke rumah untuk mengawasi aku dan Matt. Betul sekali, aku menolak menyebutnya sebagai baby sitter karena implikasi kata bayi padaku yang sudah berumur tujuh tahun terasa merendahkan dan memalukan.
Tante memberitahu kami berdua saat kamu sudah berada di dalam kamar dan bersiap untuk tidur, bahwa ibu dari Ibuku, yaitu nenekku yang tidak pernah aku kenal dan rasanya memang tidak pernah kutemui sebelumnya, telah meninggal dunia pagi itu.
Dan keberadaan si Tante yang baru tiba itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena dia akan bertugas sebagai pengawas dan wali kami selama kepergian kedua orangtuaku.
Sementara itu Bapak dan Ibu harus bergegas mengejar bis antarpropinsi yang berangkat malam itu menuju kota kecil tempat kelahiran Ibu, karena memang dari kota kami ke sana butuh waktu dua malam perjalanan dengan bis. Mereka akan pergi selama kurang-lebih seminggu. Sepanjang ingatanku, inilah kali pertama mereka berdua pergi meninggalkan kami anak-anaknya untuk waktu yang cukup lama.
Saat itu, begitu mengetahui kondisi yang akan kami hadapi selama satu minggu yang akan datang tersebut, aku mulai menangis, sedemikian keras sehingga harus dibujuk oleh Ibu. Dengan kata-kata lembut dia coba yakinkan kami berdua bahwa kepergian mereka kali ini bukanlah untuk bersenang-senang, namun situasilah yang mengkondisikannya menjadi demikian. Dan bahwa kami berdua tidak diajak serta dalam perjalanan ini karena kami harus bersekolah dan musim ujian sudah menjelang.

Hingga belasan tahun kemudian, kini ketika aku sendiri sudah hampir dua tahun tidak pernah lagi bertemu Ibu, aku masih tidak bisa melupakan saat itu ketika untuk pertama-kalinya aku melihat Ibu menangis di hadapanku.

Dan aku kira penyebabnya adalah karena pertanyaanku yang sepele tentang kueh kering berbentuk ulat.









* * *
"Kueh Nastar Paling Enak di Kampung Sini" pertama kali dipublikasikan online pada tanggal 10 November 2005. Tulisan di atas telah mengalami beberapa perubahan minor - khususnya pada pemenggalan paragraf dan penggunaan tanda baca - dari format original. Beberapa nama yang dicantumkan di atas juga telah mengalami perubahan untuk menghindari hal-hal tertentu di kemudian hari.