Showing posts with label photograph. Show all posts
Showing posts with label photograph. Show all posts

Wednesday, September 2, 2009

Rambut Lego


Semakin panjang rambutku, akan semakin lama waktu yang kubutuhkan di depan cermin setiap pagi, sebelum berangkat keluar rumah. Tujuannya, bukan sekedar kegenitan mematut-matut diri, tapi untuk merapihkan rambut, atau untuk mengaturnya agar tampak sesuai dengan kostum yang dikenakan hari itu. Maksudnya, kalau sekedar pakai t-shirt dan jeans doang, ya dibuat sedikit acak-acakan seperti orang yang baru bangun tidur langsung berganti baju dan keluar rumah, tak mengapa; tapi kalau sedang ada schedule khusus dan musti tampil rapi karena harus bertemu klien atau dinner di tempat-tempat eksklusif bersama pasangan, tentu saja penataannya juga harus disesuaikan.

Namun belakangan ini jarang sekali aku bisa mengatur tatanan rambut sesuai keinginan dengan cepat dan mudah. Masalah utama adalah karena kondisi rambutku yang kering dan kasar, sama sekali bukan tipe yang layak untuk dijadikan model iklan shampoo. Mungkin saja ini akibat pengaruh sejak zaman dahulu kala, selalu berpanas-panas nyaris tak pernah pakai topi ketika sedang melakukan aktivitas di luar ruangan, dan paling malas merawat rambut di salon, karena di kamar mandi pribadi saja benda yang namanya conditioner itu lebih sering tidak ada.

Jadi teringat salah satu foto jaman masih kanak-kanak dulu, rambutku yang ikal (curly & wavy) bila dibiarkan tumbuh panjang akan mengembang sedemikian rupa, sehingga apabila dilihat dari jarak jauh lebih mirip pentul korek api atau seorang anak yang sedang mengenakan helm. Bahkan di awal tahun sembilanpuluhan, ketika sedang berkunjung ke rumah Kakek dan Nenek, salah seorang kerabat jauh mengira bahwa anak kecil yang sedang ribut pukul-pukulan dengan seorang anak lainnya di hadapannya saat itu adalah seorang anak perempuan tomboy, berkat kondisi rambut yang megar mengembang membahana. Padahal anak kecil yang ribut itu aku. Ugh!

Tadi pagi, sebelum akhirnya berangkat menuju kantor, kuputuskan untuk mengatur rambut rapih saja, dengan belahan di samping kanan seperti anak sekolahan atau mereka yang bekerja di sektor formal lainnya, meskipun hari ini sebenarnya aku mengenakan t-shirt dan jeans dan sneakers. Sesungguhnya, a very casual look. Penataan rambut belah samping, sedikit berponi menutupi dahi dan teratur rapih yang seringkali kusebut sebagai model rambut Lego. Dan bila mengingat seperti apa warna aseli rambutku, tentunya gaya rambut seperti ini akan semakin membuatku tampak lebih tua lagi daripada umurku yang sesungguhnya.

Sigh.



Note: image courtesy of squarecircle.

Tuesday, June 9, 2009

Vulcan, on Earth

A typical Vulcan's scenery


The biggest surprise for me, while watching J.J. AbramsStar Trek, was not the sight of Winona Ryder as an old and wrinkles woman, but when looking at a glance of the Vulcan scenery (right before we could see Amanda Grayson and her beloved son, Spock, in a hallway).


The infamous Ryugyong Hotel


Boy, it sure reminded me of one of a few photographs of Ryugyong Hotel, and Pyongyang in a typical hot and dry summer days.


A typical summer in Pyongyang, viewed from Juche Tower.
Photograph courtesy of Adrian Tute.

Monday, April 27, 2009

Because I Always



I love it when we are together
when we do things that we both love

Talking under the big tree, enjoying the breeze
your head on my shoulder, I can smell the scent of your hair
Sitting on the couch, enjoying our lattes
you tell me stories about your recent trip to europe
Leafing through a magazine, discussing the photographs and the articles
you recount the days when you're still an intern in a high profile political magazine
Playing pingpong, try to outdone each other
you look sexy when your shirt begin to stain with sweats

I just don't want to let you go
I need to hold you tight in my arms

Because I always love it
when we're doing things that we really love together

Monday, March 30, 2009

Wordless, Yet Shared

sadness and grief and pain of losing someone so dearly
deeply felt and shared through this picture

Tuesday, March 24, 2009

Kok Bisa Yaaa ... ?


Kebetulan saja lagi tinggi hasrat bergosipnya hari ini.

Kebetulan kemarin abis bangun pagi instead of mandi, aku leyeh-leyeh dulu di kasur sambil nonton TV. No particular channel or program sih yang dilihat. Just flipping through channels.

Nah, kebetulan saja pas di salah satu kanal, sedang ada gossip selebriti a.k.a. acara infotainment. Sebenarnya pas baru liat orang yang dijadikan pembahasan, sempat males ngelanjutin nontonnya. Tapi entah kenapa saat itu I stay put. Dan kabar yang kemudian kudengar, membuatku sangat terkejut (alias shocking news!).

Ternyata si selebriti mediocre (untuk tidak menyebut dirinya artis, karena ya emang menurutku ga pantes aja, sebab sepanjang pengetahuanku yang bersangkutan ga ada kemampuan art-nya sama sekali) yang sedang dikerubutin wartawan ini lagi diinterview untuk sebuah prestasinya (tumben banget). Biasanya sih, si selebriti mediocre ini kan dirubung wartawan gossip kalau ada kasus (negatif) baru yang menyeret maupun membawa-bawa namanya.
Masih pada ingat dong, sebelumnya si selebriti mediocre ini sempat ”kondang” lagi namanya di infotainment lewat skandal tersebarnya foto-foto yang bersangkutan di bawah shower sedang telanjang bul-bul bersama her sister (sempat dikomentari oleh seorang ”pakar” telematika berinisial R.S. sebagai foto aseli bukan rekayasa) sambil berpose sensual dan terbuka. Persisnya bagaimana, silahkan googling sendiri saja ya.

Ternyata untuk kali ini aku keliru sungguh.
Si selebriti ini kembali masuk radar pemberitaan infotainment, karena dia baru saja diwisuda dan resmi memegang gelar Sarjana Ilmu Politik dari Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Paramadina.
Tak tanggung-tanggung, skripsinya yang mengulas hubungan diplomatik Republik Indonesia dengan Timor Leste terkait kerjasama perbatasan, berhasil mengantarkan sang selebriti lulus dengan nilai akhir tiga koma empat tujuh.
Yap, betul sekali. Kamu tidak salah baca. IPK-nya benar 3.47. Artinya, nyaris mendekati limit minimal untuk lulus dengan pujian (cum laude).

Sempat aku bertanya-tanya, apakah selama ini aku terlalu memandang rendah si selebriti terkait tingkat intelektualitasnya?
Berhubung aku pernah bekerjasama dengan si selebriti ini, dan dari hasil perbincanganku dengan salah satu teman dekat yang adalah juga saudara sepupunya si selebriti, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya dia relatif kurang tanggap dalam soal keilmuan (ini adalah eufemisme). Mungkin karena dia susah atau kurang berkonsentrasi saja selama ini (sekali lagi, eufemisme). Itulah sebabnya, mendengar kabar infotainment kalau yang bersangkutan lulus nyaris cum laude, bagiku benar-benar menjadi surprise yang shocking.

Wow! Masih bisa kuingat, beberapa orang teman yang aku tahu persis otaknya berlabirin banyak alias pintar banget, sempat dibuat jungkir balik di almamater untuk bisa meraih IPK tiga koma empatpuluhan.
Aku sendiri juga sempat dibuat tidak bisa tidur demi nilai rata-rata tiga koma empat sekian itu. Dan mendengar si selebriti yang bisa meraih indeks prestasi kumulatif lebih tinggi daripada yang kudapatkan ketika lulus, rasanya hati ini dibakar rasa iri dan tak bisa menerima keampuhan otak orang lain. Huh! Kok bisa-bisanya ya dia?

Dari awalnya rasa iri, kemudian malah jadi timbul kecurigaan (namanya juga lagi niat berghibah yang kebetulan bisa diakomodir habis-habisan di sini), sebenarnya bagaimanakah standar penilaian mahasiswa di Universitas Paramadina, apabila dibandingkan dengan almamater teman-teman?
Rasanya pertanyaan ini harus kuajukan kepada seorang teman yang pernah menjadi staff pengajar di perguruan tinggi tersebut, dan kebetulan merupakan jurusan yang sama seperti yang diambil sang selebriti.

Korek-korek info dulu aaahh ...

Monday, January 5, 2009

Gajah dan Semut (atau: Perhatikan Bajumu Biar Tak Malu !)


Ada yang tahu acara televisi bernama “John Pantau”?

Ini adalah semacam satu program berita ringan yang rutin dipancarluaskan oleh stasiun Trans TV setiap hari Sabtu dan Minggu petang.
Boleh dikatakan, acara ini punya cukup banyak penggemar setia, dan mendapatkan dukungan dari begitu banyak pemirsanya di seluruh kawasan Nusantara.
Setidaknya, itulah yang terekam dari berbagai komentar positif yang terpajang di profile Facebook dan Multiply-nya.
Berdasarkan catatan pada tanggal penulisan artikel ini, 5 Januari 2008, Situs Pantau di Multiply merekam 222 komentar dan 1.539 teman di Facebook.

Konsep acara “John Pantau” sendiri sih, seperti yang dideskripsikan secara singkat dan lugas dalam kolom Info di profile Facebook-nya, menyebut bahwa John Pantau memiliki pandangan politik “memantau penyimpangan dan pelanggaran masyarakat” serta meyakini “jaga perilaku biar ga malu” sebagai agamanya. Aktivitas si John ini adalah “memantau pelanggaran masyrakat Indonesia” (typo sengaja mengikuti apa yang tercantum dalam profile), dan ketika tiba saatnya untuk menjelaskan secara singkat siapa itu John Pantau, inilah yang tercantum:

“John yang suka iseng memantau penyimpangan dan pelanggaran di masyarakat. Ingat-ingat kalau mau melanggar ya, jangan ambil resiko... melanggar aturan bisa bikin bahaya untuk diri sendiri dan orang lain... belum lagi malunya kalau kepergok sama John.. Makanya... Jaga perilaku biar nggak malu !!”
(di-copy persis sama seperti yang tertulis di dalam profile John Pantau, pertanggal 5 Januari 2009)

Dalam episodenya kemarin, sebagaimana biasanya, John dengan gaya hiperaktifnya yang bagai ulat keked (ini bukan celaan) menangkap basah anggota-anggota masyarakat yang melakukan pelanggaran lalu-lintas, mulai dari remaja-remaja dan ibu-ibu pengajian yang menyeberang jalan di tempat yang jelas-jelas memajang rambu Dilarang Menyeberang, hingga mengulik-ulik informasi dari seorang bapak pengelola parkir motor tidak resmi – tapi anehnya mengantongi surat izin resmi (?) dari pemerintah kota Jakarta Selatan (surat tersebut di-laminating dan diperlihatkan kepada pemirsa) – di area seputar ITC Kuningan persis di bawah rambu Dilarang Parkir sebelum mencapai mall tersebut.

Sama seperti mayoritas pemirsa “John Pantau”, aku pun menonton acara ini karena ingin melihat bagaimana reaksi orang-orang yang ‘tertangkap basah’ melakukan pelanggaran tersebut. Syukur-syukur kalau ada bumbu drama berupa ‘keramaian’ (now that’s what I call “guilty pleasures”), seperti episode nge-gap seorang perokok di sebuah stasiun kereta api (tindakan melanggar Perda DKI Jakarta no. 75 Tahun 2005), yang aku lupa tayang tanggal berapa.

Tapi sebenarnya ada satu kelucuan yang terasa ironis pada karakter John Pantau ini. Mengingat betapa dirinya asyik-asyik memantau penyimpangan dan pelanggaran yang dilakukan anggota masyarakat, ternyata bung John ini sendiri melakukan penyimpangan dan pelanggaran yang serius ... dalam bidang fashion. Ayo kita ulik bersama, dimulai dengan memperhatikan foto-foto yang menyertai artikel ini. Lihatlah ‘seragam wajib’ si John: topi fedora, kemeja, jins (*ketat*, euw!), dilengkapi ikat pinggang dan suspender.



Apakah outfit John Pantau terlihat fashionable di mata Anda?
Jika jawaban Anda adalah “Ya”, justru di situlah ‘masalah’-nya.

Bagi mereka yang mengerti Men’s Fashion 101 – atau pengetahuan dasar tentang mode bagi pria, pasti akan tahu bahwa mengenakan ikat pinggang DAN suspender SEKALIGUS merupakan penyimpangan dalam gaya berpakaian yang baik dan benar dan seharusnya, serta merupakan pelanggaran serius terhadap aturan-aturan dasar fashion. Kedua item fashion itu tidak boleh digabungkan penggunaannya: hanya bisa memilih salah satu saja untuk dipergunakan dalam satu kesempatan. Memakai ikat pinggang dan suspender sekaligus sama salahnya dengan jalan-jalan bersama istri dan selingkuhan pada saat yang bersamaan: pebuatan dosa yang tidak dapat dijustifikasikan dengan alasan apapun.

Jadi, saranku untuk John Pantau, produser dan pihak-pihak yang bertanggung-jawab dalam produksi acara ini, sebaiknya benahi dulu karakter (baca: outfit) John Pantau sebelum dia dengan cengiran lebar khasnya itu memergoki anggota-anggota masyarakat yang melakukan pelanggaran. Meskipun tentu saja, memang lebih mudah dan lebih enak sih menunjukkan kesalahan orang lain daripada melihat kekeliruan di diri kita sendiri.
Sama seperti kata pepatah, “Gajah di pelupuk mata tak tampak, Semut di seberang lautan kelihatan”.




Saturday, December 27, 2008

The Picnic Picture



There was an old photograph on your refrigerator pinned with a magnetic pineapple
Its colors turned to yellowish, a sure sign of years it has gone through
When I first looked at it, I thought it was the picture of Jesus and His disciples having a picnic under a big leafy tree
Because everyone in it had thick shaggy beards long wavy hair and wore some kind of long dresses
Like the robes they used to wear back then in the early years of Our Lord


But when I first saw the photograph, it was not because of what it depicted
It was because I had to divert my gaze from the kitchen window overlooking your backyard
Since I saw you getting steamy with another guy, not far from the pool we once made love inside


I know you’re no longer mine, but hey
Was it wrong if I feel jealousy looking at that scene with my very own eyes?


Wednesday, November 12, 2008

Pilih Sendiri Cara Asyik Nyiapin Kematianmu!



Pernahkah kamu memperhatikan iklan-iklan Obituary yang kalau mau repot-repot dihitung, ternyata setiap harinya menyita cukup banyak space permilimeter kolom di koran-koran nasional? Lazimnya iklan-iklan semacam ini selalu menampilkan deretan nama mereka-mereka yang turut merasakan duka cita dengan meninggalnya sang subjek obituari, entah mereka ini dari kalangan ayah-ibu, suami-istri, anak-ipar, sepupu-keponakan, cucu-cicit, handai taulan-tetangga, dan seterusnya.

Anehnya, dalam beberapa iklan dapat diindikasikan bahwa ada anggota keluarga yang turut berduka cita justru telah terlebih dahulu berpulang daripada subjek yang di-obituari-kan. Padahal apabila menggunakan logika agama atau kepercayaan manapun, bukannya seharusnya para “pendahulu”-nya merasa senang ya, karena dengan wafatnya si subjek obituari, artinya sekarang bertambah lagi temannya untuk melewatkan waktu di alam lain sana?

Satu hal lain yang cukup menarik diperhatikan dalam iklan-iklan obituari ini, biasanya foto yang ditampilkan untuk mengidentifikasi mendiang/almarhum/-ah, adalah foto andalan di masa-masa keemasan yang bersangkutan. Meskipun banyak juga sih yang menampilkan foto-foto di kala sudah memasuki usia senior (untuk tidak mengatakan uzur). Ditengarai, ini bisa jadi adalah pas foto yang bersangkutan ketika mendaftarkan diri untuk pembuatan KTP seumur hidup.

Rada aneh memang. Padahal kan pepatah mengatakan, “In this world, nothing is certain but death and taxes.” Tidak ada yang pasti dalam hidup ini selain kematian dan pajak. Nah, berhubung kematian itu sudah pasti datang, kenapa tidak disiapkan selagi ada waktu luang dan dana ekstra ya? Tentu saja maksud hati bukan menyarankan untuk melakukan tindakan seperti mendiang Suzanna Martha Frederika van Osch, yang telah membeli kafan sekitar 8 tahun sebelum dia berpulang. Tapi kan masih ada hal-hal lain yang terkait.
Misalnya, kalau orang-orang bisa meluangkan waktu, tenaga, konsentrasi dan dana sedemikian banyak untuk bikin foto-foto prewedding, kenapa tidak sekalian menyiapkan foto-foto untuk menyambut momen kematian? Toh biasanya kalau sedang disemayamkan di rumah duka, akan dipajang dalam pigura foto yang bersangkutan, seolah-olah ingin menatap satu-persatu para pelayat. So this already prepared photo must come in handy.
Namun tentu saja ada catatan khusus, yaitu disarankan agar pose si yang meninggal di dalam foto tidak harus serius, atau lebih buruk lagi, malah sengaja diseram-seramkan (secara ada kemungkinan sangat besar yang bersangkutan bukan dari kalangan paranormal, kan?). Itu sih membosankan dan tidak menarik, dan niscaya membuat para pelayat tidak nyaman. Masa kalau pengen didoakan agar diampuni dosanya dan bisa masuk surga, masih nakut-nakutin orang sih?

Jadi teringat dalam salah satu adegan di film yang dibintangi di masa-masa awal karirnya (baca, ketika giginya masih gingsul), Tom Cruise pernah ditugaskan oleh dosennya di sekolah bisnis untuk menulis sendiri obituarinya. Penilaian utama diberikan berdasarkan content materi ”jualan” yang bersangkutan tentang dirinya sendiri di masa ketika masih hidup.
Hal ini sesungguhnya menarik untuk dicermati dan dilakukan di masa kini, apalagi bagi mereka-mereka yang sangat mementingkan citra positif di masa-masa semasih hidup, sampai tidak sungkan mengeluarkan dana superekstra untuk menghadiri acara-acara sosialita (minimal, gaun yang dikenakan di setiap acara harus beda) demi bisa terpajang di halaman Tatler, dewi maupun Prestige. Karena seperti kata pepatah, ”Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang”. Kalau manusia yang is dead? Ya tinggalkan citra diri yang positif dong.

Nah, barangkali yang bisa menjadi salah satu alternatif demi menjaga kelanggengan citra positif ini, misalnya kalau calon migran antar-alam maupun ahli warisnya punya dana super berlebih dan canggung meninggalkan gaya hidup bermewah-mewah yang terlanjur diakrabi, sembari mungkin berpikir panjang nantinya ingin memudahkan anak cucu cicit berziarah dengan nyaman, bisa pilih-pilih kapling di San Diego Hill Memorial Park and Funeral Homes. Bayangkan saja, tagline produk properti ini saja sudah sangat menjanjikan ketenangan dan eksklusifitas : “There is no other cemetery like this.” Mantap ya?!

Jadi artinya, tidaklah perlu sampai harus memaksa-maksa diberikan tempat peristirahatan terakhir di salah satu taman makam pahlawan yang tersebar di seluruh negeri ini kok, hanya demi sebuah branding nama besar / nama baik. Sekedar untuk dijadikan pembanding, almarhum Bung Tomo yang tersohor berkat ketegasan sikap dan kepemimpinannya dalam perang mempertahankan kemerdekaan Republik di Surabaya, 10 November 1945 saja, tidak mendapatkan gelar pahlawan nasional hingga tahun ini.

Nah, apalagi bagi mereka – mudah-mudahan saja bukan Anda – yang bayar pajak kepada negara ini secara jujur saja masih enggan, masa masih ingin mendapatkan perlakuan lebih istimewa? Nanti apa kata dunia?


Monday, October 6, 2008

Imajinasi Tingkat Tinggi



Bisa jadi masih belum banyak penduduk negeri ini yang tahu dan sadar, bahwa sejak beberapa bulan lalu sampai awal tahun depan, adalah masa kampanye politik jelang Pemilu 2009. Barangkali karena masa kampanye kali ini sangat panjang apabila dibandingkan masa-masa sebelumnya yang hanya dalam hitungan tiga bulanan, jadi masih banyak partai politik yang seolah-olah testing the water dan cenderung mengambil sikap menunggu, menanti partai mana yang akan melakukan start duluan dan dengan cara apa. Mayoritas partai-partai politik ini belum lagi kencang menghambur-hamburkan dana untuk berpromosi, apalagi menggebrak dengan kampanye yang bersifat massive dan sensasional.

Barangkali baru sejak medio Agustus lah mulai ramai bermunculan berbagai spanduk, umbul-umbul, billboard dan bentuk-bentuk media luar ruang lainnya, yang mengusung nama, logo maupun wajah yang mewakili partai politik tertentu, menghiasi (atau mengotori ?) berbagai tempat strategis di seantero Jakarta dan sekitarnya. Sudah jamak memang apabila pesan politik disampaikan lewat berbagai media yang bisa mengakomodasinya, dengan titik-titik sentuh bersifat langsung dengan olahan seefektif mungkin (masih ingat kampanye Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pada Pemilu 2004 dengan slogan ”Moncong Putih” ?).

Salah satu medium penyampaian pesan politik yang paling diminati sejak dulu hingga kini, sudah tentu adalah lewat tayangan iklan di televisi. Belakangan ini, dua muka lama mulai rajin menyambangi layar kaca kita : Prabowo Subianto dari Partai Gerindra, dan Wiranto dari Partai Hanura. Sejujurnya buatku pribadi, agak seram melihat kedua sosok ini bangkit lagi di masa kini, mengingat track record keduanya yang tidak bisa dikatakan bersih dari pelanggaran hak azasi manusia pada masa keduanya masih menjadi pimpinan militer di era Orde Baru.
Namun yang juga menarik untuk dicermati adalah kemunculan dua wajah baru yang berusaha mengimbangi dua muka lama tadi, yaitu Soetrisno Bachir dari Partai Amanat Nasional, serta Rizal Mallaranggeng.
Khusus untuk nama yang disebut terakhir ini cukup memancing rasa penasaranku, karena beliau yang mengaku dalam iklan satu halamannya di harian Kompas, mengklaim dirinya tidak disokong oleh partai politik manapun dalam upayanya memperkenalkan diri ke publik. Plus, kata adik kandung penasihat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini, dirinya juga bukanlah seorang pengusaha. Intinya adalah, beliau menyatakan dirinya sebagai calon presiden independen yang berangkat dari jalur perseorangan.
Hal ini jelas-jelas di kemudian hari menimbulkan tanda tanya besar : darimanakah beliau mendapatkan dana untuk menjalankan kampanye politiknya? Terlebih kalau melihat billboard ekstrabesar dua sisi yang memasang wajahnya di seputaran Jembatan Semanggi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Sekali lihat, pasti langsung terbayang gelontoran dana yang harus dikucurkan untuk mengisi kedua sisi billboard tersebut dengan wajah bapak berkumis tebal ini. Belum lagi, sekian banyak jenis dan versi iklan politik beliau. Perhitungan kasar pun memunculkan angka milyaran rupiah.
Sayangnya, menurut hasil polling yang kulihat bulan lalu di acara politik tvone, berbagai iklan politik beliau masih belum memberikan dampak nyata di tataran political awareness rakyat negeri ini. Barangkali karena rakyat negeri ini masih belum terbiasa dengan kampanya multi-media a la Barack Obama.

Sedangkan menurut pendapatku pribadi, memasang iklan politik di area sepanjang jalan Gatot Soebroto, Sudirman dan Thamrin, itu sudah biasa.
Yang menjadi luar biasa, barangkali apabila memasang iklan di beberapa tempat yang lebih lazim dipergunakan sebagai medium promosi niaga, seperti billboard aktif yang ada di dekat gedung BEI, di depan Pusdiklat Deplu, atau memblok area dinding luar salah satu mall terkenal di kawasan Senayan, yang seingatku pertamakali dilakukan oleh MRA Media untuk mempromosikan majalah Esquire Indonesia edisi perdana kurang-lebih satu tahun lalu, yang terbukti cukup sukses menggoyang pasar majalah khusus pria dewasa di negeri ini.




Setidak-tidaknya, dalam imajinasiku, kalau aku memiliki uang dalam jumlah besar untuk dihambur-hamburkan, aku pun ingin menampilkan wajahku dengan cara yang kurang-lebih serupa.
Apalagi kalau pemotretannya dilakukan oleh fotografer kelas dunia, seperti Annie Leibovitz atau David LaChappelle atau Mario Testino.
Lantas dicetak dalam ukuran raksasa dan dipajang di mall tadi.
Cukuplah memajangnya selama empat minggu, dengan empat versi berbeda yang berganti setiap minggunya; dijamin setidak-tidaknya akan ada beberapa juta pasang mata yang akan melihat poster raksasa itu selama kurun waktu tersebut, yang kemudian diharapkan akan dapat memancing rasa penasaran mereka untuk mencari tahu lebih banyak lagi.
Niscaya langkah ini tentu akan berhasil meningkatkan awareness atas diriku, suatu hal yang kata William sudah relatif berhasil kulakukan di beberapa situs jejaring sosial bersifat pertemanan (i.e. Friendster dan Facebook), berkat foto-foto pribadiku yang (kuharap bisa memberikan kesan) artistik.

Ngayal berlebihan, sekali-sekali boleh dong?





Wednesday, September 17, 2008

Pikiranku, Petang Ini


petang ini kubuka lagi lembar demi lembar laman blog-mu
sudah lama tak kau perbarui dengan cerita canda dan lirik lagu

termenung kumenatapnya senyumku mengambang tanpa kumengerti mengapa
teraduk hati dari larutan emosi tapi tak lagi bisa ku merasa

kau yang dulu menjadi inti pusaran kehidupanku
kini tak lebih dari deretan foto usang pengingat masa lalu

tapi aku tahu perlunya berterima kasih padamu
sebab dengan sikap ketidakpedulian dan kekerasan hatimu

telah terbuka mata hati
telah bangkit kesadaran jiwa ini

bahwa untuk meraih kebahagiaan itu tidaklah mudah
bahwa cinta itu tidak selamanya indah

bahwa hidup bersamamu, mungkin bukan hal yang terbaik untukku.

Monday, September 8, 2008

Where Art Thou, Angela?



Minggu sore kemarin aku dan Dia bertemu untuk makan malam bersama. Pilihan lokasinya adalah salah satu mall di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, karena Dia berencana exercise di gym terlebih dahulu sebelum kami bertemu.
Sebenarnya menurutku agak lucu saja, membakar kalori di pusat kebugaran, dilanjutkan setelahnya dengan makan malam dengan sama sekali mengabaikan perhitungan kalori. Bisa jadi, kalori yang masuk lebih besar daripada yang dibakar beberapa waktu sebelumnya. Ah, tapi Dia tentu sudah sangat tahu dan menyadari hal ini serta tidak membutuhkan aku untuk mengingatkannya.

Malam itu kita memutuskan makan malam dengan menu Italia.
Aku memesan spaghetti dengan saus pesto, sedangkan dia memilih pizza dengan banyak jalapeño serta saus pesto. Sebelumnya kita berbagi salad nicoise bersama, tapi Dia sempat sebal karena hanya ada satu anchovy di dalam salad itu dan aku yang kebetulan mendapatkannya. Tentu saja, Dia tidak sebal padaku, tapi pada tempat makan ini yang ”These guys are sooo cheapo!”, klaimnya.

Seusai santap malam, Dia bilang ingin cari makanan sehat dan mengajakku makan yoghurt di Sour Sally.
Aku tidak suka rasa susu dibasikan ini, dari brand apapun, jadi aku bilang saja, ”No thanks, but of course I will accompany you. It’s just I won’t order anything.”
Sebenarnya Dia sudah tahu ini, tapi dia pantang menyerah mengajakku makan makanan yang aku sama sekali tidak tertarik untuk mencobanya, antara lain sushi dan sasimi. Yang jelas-jelas kutahu, Dia bisa menghabiskan ratusan ribu rupiah dalam sekali makan di restoran Jepang.

Anyway, jadilah kami masuk ke Sour Sally.
Busyet, penuh banget! Orang-orang sampai membentuk antrian sangat panjang hanya untuk memesan yoghurt. Apa sih keistimewaannya?, batinku. Waktu itu Dia pernah memintaku mencoba mencicipi salah satu Sally’s specialty, dan hueks!, aku tak suka. Jadilah saat itu Dia mengantri sementara aku menikmati suasana ruangan.

Ada beberapa wajah yang cukup familiar sedang menikmati yoghurt-nya Sally. Dari spesies model yang wajah-wajahnya sering terpampang di berbagai majalah mode dan gaya hidup nasional.
Tapi saat itu aku lebih disibukkan dengan pemikiran, kenapa ya orang-orang jadi seperti mengantri sembako hanya untuk mendapatkan seporsi yoghurt? Lalu aku mencoba mengabadikan antrian tersebut dengan kamera telepon genggamku.
Dekorasi toko ini quite nice, didominasi warna putih dan hijau muda, memberikan kesan cerah dan bersemangat. Kalau saja tercium bau karbol di udara, aku pasti berpikir sedang berada di salah satu sudut di sebuah rumah sakit bertaraf internasional. Dindingnya yang sengaja dibuat beraksen tembok batu-bata yang tidak diplester cukup unik, termasuk deretan kata yang huruf-hurufnya ditempelkan timbul di tembok, jadi aksen menarik untuk desain interior sebuah toko di mall.
Desain karakter Sally yang berkepala seperti kentang gepeng juga sebenarnya cukup lucu dan menarik. Iseng kuraih salah satu selebaran dengan gambar Sally di counter, ternyata di baliknya terdapat kuesioner untuk feedback bagi para konsumer. Tak ada kerjaan, kuisi saja kuesioner itu buat mencari kesibukan sembari menunggu antrian yang mengingsut seperti siput. Toh, Dia masih di tengah-tengah antrian.

Selesai mengisi kuesioner baru kuperhatikan ternyata Sour Sally ini dibawa masuk ke Indonesia oleh group Mitra Adi Perkasa juga. Wow! Bisa jadi Sour Sally ini akan menjadi salah satu kisah sukses lagi bagi food and beverage franchise yang dikelola oleh MAP setelah Starbucks, Cold Stone Creamery, dan tentu saja, Burger King.

Kulihat Dia sudah akan mendapatkan giliran memesan, jadi kusiapkan lagi kamera telepon genggamku untuk merekam momen-momen ketika Dia sedang asyik memilih pesanan yoghurt-nya.
Saat sedang asyik memotret, kulihat gadis muda ini sedang memperhatikan keasyikanku memotret ke arah dirinya. Tapi aku tidak terlalu memperdulikannya, sampai beberapa detik kemudian kudengar dia dengan nada ketus berkata pada temannya, ”Yuk kita nungguin di luar aja. Males gue di sini.”
Dengan ekor mataku kulihat cewek itu menarik tangan temannya dan mereka bergegas keluar ruangan. Sempat tercetus dalam pikiranku, jangan-jangan cewek itu mengira aku sedang memotret dia diam-diam, lantas jadi bete atau marah (kenapa ya??) pada ketidaksopananku (ah, masa sih??) dan bergegas berlalu.
Karena merasa tidak melakukan hal apapun yang salah, aku sih tidak terlalu memedulikannya.
Lalu Dia yang sudah selesai bertransaksi menghampiriku, ”Hey, what’s up?” tanyanya. "Nothing,” jawabku.
Lalu kami menempati salah satu meja sambil menunggu yoghurt pesanan Dia selesai dibuat.

Tak lama kemudian salah satu pelayan di balik pick-up counter berteriak, ”Angela!” Jadi makin mirip suasana di apotik saat menebus obat, pikirku. Untung tidak ada bau karbol.
Lalu si pelayan berteriak lagi memanggil nama itu. Masih tidak ada yang menyahut.
Setelah panggilan keempat atau kelima, dengan heran si pelayan bertanya pada temannya, ”Ini yang mesan kemana?” Temannya yang sedang sibuk dengan cash register machine, menjawab dengan sambil lalu, ”Ga tau. Lagi keluar sebentar kali?”

Lalu nama Dia dipanggil. Kami melanjutkan obrolan sambil Dia menyantap yoghurt-nya yang tandas ludes dalam sekejap, barangkali hanya dalam waktu kurang dari 5 menit.
Saat kami beranjak meninggalkan Sour Sally, sempat kuperhatikan antrian pelanggan masih sepanjang seperti saat kami baru tiba tadi.
Lalu mataku tertuju pada pick-up counter dan kulihat satu papercup berisi yoghurt yang terlihat seperti sudah mulai mencair karena sudah terbiarkan cukup lama di udara terbuka.

Pasti punya cewek tadi, terdengar bisikan di dalam kepalaku. Dan karena dia merasa kau memotret dirinya tanpa izin maka dia memutuskan untuk pergi sebagai bentuk protes ketidaksukaan atas tindakanmu, demikian lanjut bisikan itu.
Hah? This doesn’t make any sense aja.

Orang-orang di Jakarta ini memang aneh-aneh, kadang tingkahnya sejuta dan yakin benar sendiri tanpa alasan logis yang jelas.
Well, in this case, let her be. By not picking up her order, that means it was her loss. Sudah bayar ini. Tapi heran saja, kok bisa ya dia pergi menghilang tanpa mengambil yoghurt-nya?

Sally must’ve been wondered ever since, where Angela went that evening after paying her order, leaving her yoghurt turned sourer on the pick up counter.


Monday, August 4, 2008

If The Photographs Worth Millions ...




















People and Hello! Magazine was widely reported has paid US $ 14 million in order to secure a deal for publication rights of first exclusive photographs of Vivienne Marcheline & Knox Léon Jolie-Pitt, the fraternal twins of ‘The Hollywood’s Sexiest Couple’, Brad Pitt and Angelina Jolie.

Those photographs later on were published in People’s first week of August 2008 special double edition issue. Looking at these family pictures which were spread in 19 pages, would give you a sense so sweet and ethereal, ones that definitely make you go Oohs and Aahs.

I’m sure you’ve heard all the buzz following these coveted celebrity babies’ photos before I posted this, but it turned out, before agreeing on giving the rights to People and Hello!, the Jolie-Pitt couple also successfully nailed an agreement with those two magazines to no longer refer to Jolie & Pitt as ‘Brangelina’. Nice move.
Or perhaps this was because Angeline never likes her name comes in second after Brad’s.

If only that amount of money paid by People and Hello! was invested in some businesses, or Angelina & Brad just deposited it all in a bank, Vivienne and Knox each would be worth more than what Paris Hilton will get from her inheritance.

But in reality, it was reported that all payment went for charity under Jolie-Pitt Foundation.
Imagine how many students could get free education from primary level until they graduate from college, if only Jolie-Pitt Foundation use that amount for scholarship in the Third World.
Obviously, I don’t know in what field this Foundation works in, but hopefully they really do use that money for helping others. Just like what their spokesperson said.

Tuesday, October 30, 2007

Karma Photograph

There were some certain things you would never see me doing.
Wearing a pair of leather pants, or coloring my finger and toe nails black (just like rock-stars), riding any motorcycle (because I can’t!), nor kissing my boss(-es) ass(-es), for instances.
There is a bigger chance for you to see me picking my nose on public places, or walking around naked in a room, than doing those things mentioned above.
Ha! Ha!

The list of Things I Wouldn’t Do grew longer each year because I added some new prohibited acts while I was still studying at the university. Included in it: confessing private stuffs to any member of my family (because he/she would use it against me while we argued, just like the one on scary nightmares prior to Christine’s death), lending any personal property to new friends I just knew (because that was how I lost my Dangerous Liaisons video and Great Expectations novel), and taking pictures with (any) actors, artists and celebrities.

Until I got my first job on a national TV station.
Friends and relatives often asked me why I didn't take pictures with the celebrities I’ve met, simply because I was working in show-business industry, which means there was a bigger chance to meet those so-called-artists (but-I-prefer-to-call-them-celebrities) regularly. Which was true, it happened on daily basis. In which I replied shortly, “I just don’t want to.”
The same questions popped up again these past weeks because they saw me on another national TV channel – broadcasted live weekly – sitting with some celebrities in this year Indonesian Idol contest.

Well, to tell you the truth, there was a personal reason for me to not doing so.
It’s because I was not really into the idea of idolatry, especially if those persons in concern were only working in show-business as performers.
I always keep in mind that: "Artis juga manusia!"
They become *special* only because people see them on television or movie screen. The ones you must give more respect are those who worked behind the scenes.
And the certain kind of celebrities I despised most are those who only showed up in gossip-shows and tabloids supporting scandalous shameful things I consider as personal stuffs you normally never want to disclose to others and would always fear other people find them out.

But here is a confession: the more personal reason that refrained me from taking pictures together with celebrities-cum-performers was the one that involved Tora Sudiro and Nadya Hutagalung, back in the time when I was still struggling to keep my first big job on that particular TV station.
The one I still remember as a bittersweet memory until today.

It was the first time ever I broke the 'anti-idolatry' belief I firmly hold on to before, in which during the course of events happened that particular week I ended up losing that first big job, even though the belief-crossing and job-losing actually had no positive correlation at all.
I just thought that that was my karma for crossing the said belief. Though I didn't (really) regret (much) the lost job (“it surely has other meaning which I didn’t realized back then”), but the one thing I kind of regret until now was the fact that I never had that “karma photograph” in my possession, the one in which we hugged so close acted as if we were both lovers, taken during breaks of shooting comedic sketches when I also acted as an extra talent in one segment.
One hilariously funny experience I will never forget.

As for now, I chose to take a more moderate position into the anti-idolatry issue.
And whenever there was any chance available, I would definitely seized it and took pictures together with certain famous people like Pramoedya Ananta Toer or Kylie Minogue or Cameron Crowe or Audrey Tatou.

Or Dian Sastrowardoyo. Not because I adore her that much, but simply because I just want to make my friends, and especially my brother, Matt, jealous and envy my luck.

Oh jolly cupcakes, on a second thought, will I ever call it luck?!



{ Original version of Karma Photograph was posted online under the title Karma Celebrities on my now defunct Friendster’s blog on June 22nd, 2005. Explanatory statement: at the moment of the original writing, Pramoedya Ananta Toer was still alive }