Showing posts with label news. Show all posts
Showing posts with label news. Show all posts

Tuesday, March 24, 2009

Kok Bisa Yaaa ... ?


Kebetulan saja lagi tinggi hasrat bergosipnya hari ini.

Kebetulan kemarin abis bangun pagi instead of mandi, aku leyeh-leyeh dulu di kasur sambil nonton TV. No particular channel or program sih yang dilihat. Just flipping through channels.

Nah, kebetulan saja pas di salah satu kanal, sedang ada gossip selebriti a.k.a. acara infotainment. Sebenarnya pas baru liat orang yang dijadikan pembahasan, sempat males ngelanjutin nontonnya. Tapi entah kenapa saat itu I stay put. Dan kabar yang kemudian kudengar, membuatku sangat terkejut (alias shocking news!).

Ternyata si selebriti mediocre (untuk tidak menyebut dirinya artis, karena ya emang menurutku ga pantes aja, sebab sepanjang pengetahuanku yang bersangkutan ga ada kemampuan art-nya sama sekali) yang sedang dikerubutin wartawan ini lagi diinterview untuk sebuah prestasinya (tumben banget). Biasanya sih, si selebriti mediocre ini kan dirubung wartawan gossip kalau ada kasus (negatif) baru yang menyeret maupun membawa-bawa namanya.
Masih pada ingat dong, sebelumnya si selebriti mediocre ini sempat ”kondang” lagi namanya di infotainment lewat skandal tersebarnya foto-foto yang bersangkutan di bawah shower sedang telanjang bul-bul bersama her sister (sempat dikomentari oleh seorang ”pakar” telematika berinisial R.S. sebagai foto aseli bukan rekayasa) sambil berpose sensual dan terbuka. Persisnya bagaimana, silahkan googling sendiri saja ya.

Ternyata untuk kali ini aku keliru sungguh.
Si selebriti ini kembali masuk radar pemberitaan infotainment, karena dia baru saja diwisuda dan resmi memegang gelar Sarjana Ilmu Politik dari Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Paramadina.
Tak tanggung-tanggung, skripsinya yang mengulas hubungan diplomatik Republik Indonesia dengan Timor Leste terkait kerjasama perbatasan, berhasil mengantarkan sang selebriti lulus dengan nilai akhir tiga koma empat tujuh.
Yap, betul sekali. Kamu tidak salah baca. IPK-nya benar 3.47. Artinya, nyaris mendekati limit minimal untuk lulus dengan pujian (cum laude).

Sempat aku bertanya-tanya, apakah selama ini aku terlalu memandang rendah si selebriti terkait tingkat intelektualitasnya?
Berhubung aku pernah bekerjasama dengan si selebriti ini, dan dari hasil perbincanganku dengan salah satu teman dekat yang adalah juga saudara sepupunya si selebriti, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya dia relatif kurang tanggap dalam soal keilmuan (ini adalah eufemisme). Mungkin karena dia susah atau kurang berkonsentrasi saja selama ini (sekali lagi, eufemisme). Itulah sebabnya, mendengar kabar infotainment kalau yang bersangkutan lulus nyaris cum laude, bagiku benar-benar menjadi surprise yang shocking.

Wow! Masih bisa kuingat, beberapa orang teman yang aku tahu persis otaknya berlabirin banyak alias pintar banget, sempat dibuat jungkir balik di almamater untuk bisa meraih IPK tiga koma empatpuluhan.
Aku sendiri juga sempat dibuat tidak bisa tidur demi nilai rata-rata tiga koma empat sekian itu. Dan mendengar si selebriti yang bisa meraih indeks prestasi kumulatif lebih tinggi daripada yang kudapatkan ketika lulus, rasanya hati ini dibakar rasa iri dan tak bisa menerima keampuhan otak orang lain. Huh! Kok bisa-bisanya ya dia?

Dari awalnya rasa iri, kemudian malah jadi timbul kecurigaan (namanya juga lagi niat berghibah yang kebetulan bisa diakomodir habis-habisan di sini), sebenarnya bagaimanakah standar penilaian mahasiswa di Universitas Paramadina, apabila dibandingkan dengan almamater teman-teman?
Rasanya pertanyaan ini harus kuajukan kepada seorang teman yang pernah menjadi staff pengajar di perguruan tinggi tersebut, dan kebetulan merupakan jurusan yang sama seperti yang diambil sang selebriti.

Korek-korek info dulu aaahh ...

Friday, January 2, 2009

Beli-beli & Baca-baca



Lebih dari satu dekade lalu, seorang Menteri Pendidikan di era Orde Baru pernah menolak mentah-mentah permintaan dari banyak penerbit, agar pajak atas kertas diturunkan atau kalau perlu dihapuskan saja, sehingga tidak memberatkan para penerbit dan bisnis percetakan.
Diharapkan, dengan diturunkannya pajak kertas, akan berdampak pada kebangkitan kembali bisnis perbukuan (dan majalah serta perkoranan, pokoknya media cetak lah) yang telah lama lesu akibat harga kertas yang tinggi. Dengan berkurang/dihapuskannya pajak kertas, otomatis akan berpengaruh pada turunnya harga buku-buku (bermutu) dan berbagai media cetak lainnya, sehingga akan memudahkan pencapaian tujuan untuk meningkatkan minat baca bangsa ini, yang tentunya berimplikasi pada upaya-upaya mencerdaskan bangsa. Langkah ini sesuai dengan amanat yang termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Masih kuingat kala itu, sempat aku kaget saat membaca respon Bapak Menteri yang terhormat atas pertanyaan wartawan terkait permintaan penurunan pajak kertas. Beliau malah menganalogikan buku dengan kaset (jaman itu CD lagu masih mahal banget, dan lagu-lagu format .mp3 masih berupa mimpi masa depan yang bahkan banyak orang tak bisa membayangkan), bahwa orang-orang yang suka musik dan menggemari artis tertentu, semahal apapun albumnya tetap akan dibeli. Jadi dengan pe-de-nya si Bapak Menteri meminta orang-orang maklum dan nrimo saja harga kertas (dan buku serta majalah) yang tinggi itu.
Perhaps, in other words, secara ekstrem ini sama saja dengan mengatakan kepada orang banyak, “Jangan bawel deh elo-elo semua, beli aja kalo emang pengen baca buku! Kalo emang ga sanggup beli, ya jangan berisik!” (minta ditonjok nih kayanya).

Melompat kita ke masa kini, sekitar belasan tahun berlalu sejak Bapak itu tidak lagi menjadi seorang Menteri Kabinet Pembangunan. Aku sudah tidak mengikuti lagi kabar soal pajak-pajakan, jadi tidak tau persis apakah harga kertas sudah benar-benar turun signifikan atau tidak.
Yang jelas, belakangan ini, setidaknya berdasarkan pengamatan sudut pandang seorang awam, dunia penerbitan dan perbukuan di negeriku ini sudah mengalami peningkatan positif. Semakin banyak orang yang gemar membaca, meskipun tentu saja, kondisinya masih bisa lebih baik lagi daripada yang sekarang.
Ada banyak buku, baik yang isinya serius maupun tidak, yang mengalami cetak ulang hingga puluhan kali dan terjual ratusan ribu bahkan jutaan kopi, dan bahkan begitu populernya sampai-sampai diangkat ke layar lebar, dan mencetak rekor fantastis untuk jumlah penonton film nasional (semua pasti tahu, film “Ayat-Ayat Cinta” dan “Laskar Pelangi” yang sukses bikin Bapak Presiden SBY dan Wapres JK menangis).
Yang lebih menggembirakan lagi, aktivitas membaca buku bermutu mulai mendapatkan porsi yang relatif lebih besar di media televisi, seperti yang bisa kita lihat dalam program Kick Andy di Metro TV.

Tapi sebenarnya, betul sudah semakin baikkah tingkat minat baca bangsa kita? Bagi mereka yang hadir di Pesta Diskon Gramedia untuk menandai pembukaan Toko Buku Gramedia terbesar di Indonesia, yang berlokasi di West Mall Grand Indonesia, jawabannya sudah pasti: YA.
Sebagai gambaran, dapat kuceritakan apa yang kualami sendiri pada saat aku mencoba mencari Kamus Indonesia-Inggris kondang karya John Echols dan Hassan Shadilly, pada hari Sabtu tanggal 20 Desember.
Suasana hari itu sudah seperti lautan manusia yang nyaris chaos! Bisa jadi dalam satu kurun waktu tertentu saat itu, ada ratusan orang berjubel di kedua lantai toko tersebut. Semua berdesak-desakan, bolak-balik aku harus menyenggol dan menyikut orang lain saat melewati tumpukan ataupun rak buku tertentu. Belum lagi anak-anak kecil yang kehilangan orang-tuanya, maupun ibu-ibu yang berteriak-teriak memanggil-manggil nama anaknya yang hilang dari pandangan (tertutup padatnya manusia). Dan penyejuk ruangan di Grand Indonesia yang biasanya dingin menggigit, saat itu sama sekali tidak terasa saking berjubelnya pengunjung. Hanya setengah jam lebih sedikit aku menghabiskan waktu di dalam toko, tapi ketika keluar, sudah dalam kondisi lecek seperti habis keluar-masuk pasar tradisional. Tentu saja, minus lumpur dan becek dan bau amis ikan dan daging.
Menurut dugaan kasarku saja, setidaknya dalam satu hari ketika aku berkunjung itu saja, transaksi pembelian yang dicatatkan Gramedia Grand Indonesia mencapai ratusan juta rupiah. Dan ini adalah angka perkiraan yang pesimistis.
Jadi ternyata, bukan hanya tingkat minat baca orang-orang Indonesia saja yang meningkat, melainkan juga daya belinya, khususnya untuk memenuhi kebutuhan non-primer. Ini sungguh merupakan sebuah kabar baik bagi semua pihak, bukan?




Friday, October 10, 2008

Nobel Peace Prize Winners, Made in Indonesia


Petang itu baru saja aku signed out dari akun surat elektronik Yahoo! –ku, yang akan secara otomatis mengembalikan pengguna ke halaman muka situs Yahoo!, ketika pandanganku tertumbuk pada laman terbarunya yang mencantumkan headline berikut : “Nobel Peace Prize Winner has been announced”. Foto yang menyertai headline itu memperlihatkan seorang pria Kaukasia tua. Unrecognizable. Karena penasaran, segera kuklik link-nya.

Aku diarahkan ke satu laman artikel yang dengan cepat kubaca. Artikel tersebut memberitakan, bahwa baru beberapa jam sebelumnya, Komite Nobel Norwegia mengumumkan siapa sosok peraih penghargaan Nobel Perdamaian untuk tahun ini.

Namanya, Martti Ahtisaari, mantan Presiden Finlandia.
Salah satu alasan Komite memilih Bapak Ahtisaari sebagai pemenang, adalah karena kerja keras beliau yang hasilnya sangat memuaskan dalam mewujudkan kesepakatan perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka dengan pemerintah RI, yang dinilai berhasil dan sukses mengakhiri konflik senjata yang telah berlangsung selama lebih dari tiga dekade.

Selamat untuk Bapak Ahtisaari.

Namun seharusnya, penghargaan bagi Bapak Ahtisaari ini lebih dipandang sebagai tamparan telak bagi bangsa kita. Karena ini menjadi kali kedua nama Indonesia kembali disebut oleh Komite Nobel sebagai alasan yang mendasari penganugerahan penghargaan paling prestisius ini, dan keduanya untuk alasan yang tidak mengenakkan. Baru 12 tahun sebelumnya, Uskup Timor-Timur (dulu) Carlos Felipe Ximenes Belo dan tokoh Fretilin, José Ramos Horta, diumumkan sebagai peraih penghargaan serupa atas upaya-upaya mereka untuk mewujudkan perdamaian di daerah Timor-Timur (sekarang Timor Leste) yang terus bergejolak.

Itu artinya, dalam dua kali kesempatan penghargaan yang berselisih duabelas tahun ini, nama Indonesia disebutkan dalam konteks cenderung negatif dan tidak pantas dibanggakan oleh Komite Nobel. Adalah militer Indonesia yang brutal dan opresif lah yang menjadi “tokoh antagonis” dan penyebab utama ketiga tokoh di atas meraih Nobel Perdamaian.

Andai saja Bapak Pramoedya Ananta Toer yang kabarnya berulang-kali masuk bursa nominasi penghargaan betul-betul berhasil meraih Nobel Sastra sebelum akhirnya dijemput ajal, lengkaplah sudah wajah bengis keantagonisan militer Indonesia. Bagi para penikmat karya-karya Bapak Pram, demikian beliau biasa dipanggil di masa hidupnya, tentu mengerti betul alasannya.

Dan jika saja pemerintah Republik ini, atau elemen-elemen tertentu yang terkait dan memang relatif memiliki power, terus saja melakukan ketidakadilan dan kekerasan di negara ini, bisa jadi di masa yang akan datang kembali lahir peraih penghargaan Nobel berikutnya, made in Indonesia.

Friday, July 18, 2008

What If?


What about having some nice espresso brownies and vanilla latte or decaf cappuccino at Starbucks? What if you opened your papercup lid to cool your cappuccino faster, so when you drink it its froth stayed on your upper lip forming a white mustache? You still look cute with that silly soup-strainer and you made me laugh by making faces until my eyes watered.

What about kissing your tender lips inside the car while we’re in the parking lot? I was whistling “Young Folks” when you whispered my nickname in such husky voice I turned around and stopped, lips still mouthing O. Your sexy thoughts flashed in your eyes I can see you burning inside. What if I told you that only by looking at your wet cherry lips I knew that all I want to do was kissing you right there at that moment?

What about lying together side by side on this white beach sands eyes gazing at the blue cloudless sky? The sun just rose the wind brought the salty taste of ocean air. Turning my head looking at you, sleeping soundlessly your smile widened. What if it was not me who was running around in your dream would you tell me that honestly when you wake later on?

What about your promise to be back here by my side to celebrate your birthday privately, just the two of us? You knew too well I can not cook anything but instant noodles, yet I tried hard to prepare your favorite pasta just to make you happy, to see you smile cheerfully. Because no matter what others may say about it being tacky, all I want to do in this world is to make you feel happiness with me.

What if I never let you go to your office that day?
What about staying in bed and cuddling for a little bit longer that day?
What if I made love to you in the shower which would definitely make you to arrive late to your meeting?
What about taking alternative routes just like what you usually did everyday so you wouldn’t be stuck in the daily traffic on that highway?
What if you forgot to bring your cellular phone which you left on the coffee table, and then you return just to pick it up?

You would still be here beside me.
I would never felt this kind of shocked watching that news.
You would still call me at noon just to make sure whether I already had lunch or not.
I would still find you in our place waiting for me to return home after working way until late.
You would still need me to go with you to bookstores and coffeehouses on weekends; “Just for the atmosphere,” like you always said.

I would still have you, you would still love me, I would hugged and kissed you a lot, you would still demanding more.

We would still have – and love – each other.

Friday, June 20, 2008

It's Very Hard Out There for Refugees


Is there a time for keeping your distance
A time to turn your eyes away
Is there a time for keeping your head down
For getting on with your day


Setiap tanggal 20 Juni, kita diajak mengingat nasib para pengungsi. Hal ini karena Perserikatan Bangsa-Bangsa, melalui Resolusi Majelis Umum pada tahun 2000, menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Pengungsi Sedunia - World Refugee Day. Menurut Wikipedia, tanggal 20 Juni sebelumnya diperingati sebagai Hari Pengungsi Afrika di sejumlah negara di benua tersebut. Dan masih menurut sumber yang sama, penduduk Inggris Raya memperingati World Refugee Day ini sebagai bagian dari Minggu Pengungsi – Refugee Week, yaitu sebuah festival berskala nasional yang ditujukan untuk meningkatkan pemahaman terhadap dan merayakan kontribusi budaya dari para pengungsi. Menarik.

Barangkali bagi banyak orang di sekitarku, persoalan pengungsi adalah satu masalah yang tidak nyata. Karena para pengungsi dipersepsikan sebagai sekumpulan orang bernasib sial yang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka yang entah bagaimana kondisi sebelumnya – karena memang tidak pernah didatangi secara langsung oleh ‘pihak pengamat’ – menuju tempat lain yang juga tidak begitu jelas kondisinya (bagi ‘pengamat’ ybs.). Or perhaps, we’re simply being ignorant.
Atau barangkali media massa yang seringkali mengekspos penderitaan para pengungsi ini juga bisa jadi penyebabnya. Mengingatkanku pada penggambaran dalam salah satu cerpen Jhumpa Lahiri di dalam bukunya yang meraih penghargaan Pulitzer, The Interpreter of Maladies. Penderitaan para korban perang India melawan Pakistan di daerah pengungsian pada awalnya menjadi topik utama berita malam, yang disaksikan oleh satu keluarga imigran India ini di layar televisi saat menikmati makan malam. Seiring perjalanan waktu, porsi berita tersebut makin bergeser ke segmen berikutnya, hingga akhirnya menghilang sama sekali dari berita malam karena dimasukkan ke dalam berita larut malam yang penontonnya tidak banyak. Alasannya gampang, pemirsa yang sebelumnya memiliki interest tinggi mulai bosan disuguhi berita konflik yang itu-itu saja.
Keadaan yang mirip juga terjadi dulu ketika TVRI adalah satu-satunya stasiun televisi negeri ini yang berhak memproduksi siaran berita. Masih kuingat ketika itu aku masih duduk di sekolah dasar, dan berita TVRI dari international desk mereka baru dipancarluaskan pukul 21.00 WIB. Waktu itu beberapa kali tugas dari sekolah adalah menonton berita malam untuk kemudian dilaporkan ulang dalam pelajaran bahasa. Berhubung aku masihlah seorang anak kecil dan selalu makan makanan dengan teratur dan sehat – tidak mengandung banyak gula yang membuat orang cenderung hiperaktif akibat “overdosis” gula (sugar high) – jadinya jam 9 malam sudah terkantuk-kantuk saja. Meskipun demikian, tetap dipaksakan untuk menonton berita malam dengan ditemani Bapak yang asyik membaca koran, semata-mata agar keesokan harinya tidak dihukum berdiri di depan kelas karena tidak mengerjakan tugas laporan.
Masa itu adalah ketika Republik Yugoslavia bentukan mendiang Tito pecah menjadi negara-negara kecil yang sepertinya – kalau ingatanku tidak keliru – kebanyakan dibentuk berdasarkan basis mayoritas etnisitas penghuni kawasan geografis tertentu. Pokoknya masa itu peta seluruh dunia mendadBosnia-ak kedaluarsa, seiring terbentuknya negara-negara baru seperti Serbia, Bosnia-Herzegovina, Montenegro, Macedonia dan entah apalagi. Lalu di antara negara-negara ini mulai sibuk saling memerangi satu dengan yang lain. Yang masih kuingat, sepanjang tahun, mas-mas dan mbak-mbak pembaca berita TVRI (say hello to the legendary Tengku Malinda !) mengakrabkan pemirsa dengan nama-nama Balkan, serta tragedi kemanusiaan yang membuatku ngeri sendiri untuk membayangkannya. Setiap malam, yang terlihat selalu tentara berbaris, deretan tank, senjata yang meletus, gedung-gedung hancur tak berbentuk atau habis dilalap api dengan asap membubung tinggi. Juga orang-orang tua, ibu-ibu dan anak-anak bermuka cemong berbaju rombeng sedang menangis. Menyedihkan, tapi entah mengapa, saat itu bagiku mereka terasa kurang nyata. Mungkin karena semuanya terjadi di belahan bumi yang berbeda, atau bisa jadi karena warna kulit kami yang tidak sama.
Kesan yang kurang-lebih mirip juga masih kudapatkan saat “berkenalan” untuk pertama kalinya dengan Christianne Amanpour, jurnalis CNN yang melaporkan langsung dari Goma. Dengan logat bahasa Inggrisnya yang kental, mungkin aksen Mediterania, setiap hari layar televisi keluarga kami disesaki oleh gerombolan manusia berkulit hitam, para pengungsi etnis Hutu yang melarikan diri dari ancaman genosida di Rwanda. Sepanjang jalan, yang diperlihatkan kepada kami adalah ribuan manusia berbaris berjalan kaki dengan memanggul barang apapun semampu mereka, atau puluhan tentara yang sedang menyandang senjata dengan muka bengis dan tatapan beringas, atau gelimpangan mayat yang berserakan di mana saja seperti ratusan lalat yang menemui ajalnya akibat disemprot insektisida lantas bangkai-bangkainya dibiarkan begitu saja di tempat mereka jatuh dari langit. Tidak beraturan. Mengerikan, karena sepertinya tidak ada seorangpun yang merasa berkepentingan untuk membereskan semuanya hingga menguburkan seluruh mayat tersebut. Saat itulah, dan barangkali seiring pertambahan usia juga, aku mulai mengerti seutuhnya betapa sangat tidak enaknya hidup sebagai pengungsi. Dan sepertinya sejak saat itu respon otakku adalah secara otomatis memblokade pemikiran-pemikiran tentang penderitaan para pengungsi, sehingga rasa simpati terhadap penderitaan manusia lainnya itu menghilang entah ke mana.

Hingga satu ketika, saat aku masih di tahun ketiga universitas. Hari itu aku kebetulan mengunjungi sebuah pameran buku, dan mataku tertuju pada salah satu buku fotografi yang didiskon, kompilasi foto-foto pemenang penghargaan World Press Photo tahun 1990-an. Di dalamnya, untuk bagian foto berita – yaitu serangkaian foto dari satu topik yang sama – mataku kembali melihat mereka, para pengungsi Rwanda. Salah satu foto yang kemudian sukar kulupakan memperlihatkan orang-orang dewasa yang berlarian dan dua orang bocah hitam yang meringkuk menangis dengan wajah sangat ketakutan. Teks yang menyertai foto tersebut menjelaskan bahwa foto diambil ketika tentara Tutsi menyerbu masuk kamp pengungsi dan menembaki mereka secara membabi-buta. Usai membaca teks tersebut mataku kembali terpaku pada ekspresi kedua bocah tersebut. Entah bagaimana persis terjadinya, tapi kuingat saat itu mataku berkaca-kaca, dan aku harus buru-buru mendongak sambil mengerjapkan kelopak mata beberapa kali, berpura-pura seolah mataku perih akibat kebanyakan membaca, padahal sebenarnya ingin mencegah agar jangan sampai orang-orang tahu aku sangat tersentuh melihat foto itu. So as not to let my softer side shows.

Akan tetapi, foto-foto peraih penghargaan tersebut bisa jadi mewakili perasaan kebanyakan orang mengapa mereka – dan aku juga – mengalihkan pandangan dan pikiran dari penderitaan para pengungsi. Karena foto-foto tersebut seakan mengingatkan kita pada betapa rapuhnya hidup ini. Karena foto-foto tersebut bisa membuat kita merasa tidak nyaman akan kenikmatan hidup yang sedang kita rayakan, sementara kita tahu dan sadar sepenuhnya bahwa pada saat yang sama, di belahan bumi yang lain, ada orang-orang yang bahkan belum tentu bisa makan tiga kali sehari karena mereka tidak memiliki apapun selain pakaian yang melekat di badanm karena mereka terpaksa menjadi pengungsi, dan karena terbuang dari tempat tinggal mereka sendiri.


Is there a time for kohl and lipstick
A time for curling hair
Is there a time for high street shopping
To find the right dress to wear


Hidup sebagai pengungsi sudah pasti tidak enak. Barangkali itu menjadi sebab mengapa – mungkin – banyak orang di sekitar kita, dan barangkali diri kita sendiri, masih ‘bersyukur’ bahwa para pengungsi tersebut hadir dalam kehidupan kita melalui medium perantara.
Para pengungsi ini hanyalah sekumpulan orang-orang bernasib sangat sial yang tampil di foto-foto di koran dan majalah, atau terlihat lebih hidup lewat tayangan siaran berita. Kalau tidak suka melihat mereka, lempar saja korannya jauh-jauh, tutup dan singkirkan majalahnya, atau ganti channel televisinya. Begitu mudahnya untuk menyingkirkan mereka dari hidup kita. Para pengungsi ini menjadi tidak nyata karena kita tidak bisa lagi melihat mereka.


Is there a time to run for cover
A time for kiss and tell
Is there a time for different colours
Different names you find it hard to spell


Dulu saat masih kuliah dan sedang berkutat dengan ide-ide untuk diajukan sebagai topik penelitian skripsi, masih kuingat salah-satu topik yang kuajukan adalah mengenai masalah pengungsi Afghanistan.
Saat itu rejim Taliban masih berkuasa, dan mereka baru saja menghancurleburkan patung-patung raksasa Buddha tanpa menghiraukan imbauan masyarakat internasional untuk membiarkan keberadaan warisan budaya dunia tersebut sebagaimana adanya. Ketika itu, sesiapapun yang berbicara tentang serbuan pasukan gabungan Amerika Serikat dan sekutunya masuk ke Afghanistan pasti akan dipandang sebagai seruan nabi palsu di tengah gersangnya padang gurun.
Alasan personal-ku memilih topik tersebut adalah karena kupikir seharusnya ini akan menjadi topik penelitian yang tidak terlalu sulit, cukup dengan membaca sumber-sumber sekunder: media massa. Memang saat itu aku sedang ingin mencari yang gampangnya saja, yang penting bisa tulis skripsi cepat agar bisa cepat sidang sehingga bisa cepat meraih gelar sarjana, yang artinya sukses memenuhi salah satu amanat orang tua.

Entah mengapa, saat itu aku benar-benar lupa bahwa dulu sekali, ketika aku masih kecil dan duduk di bangku sekolah dasar, keluargaku pernah menerima satu keluarga utuh, dalam artian kedua orang-tua berikut seluruh anaknya, untuk tinggal bersama kami. Keluarga ini sesungguhnya merupakan kerabat jauh. Mereka terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka akibat kerusuhan berbau agama yang merembet ke antarsuku, dan kabarnya saat itu sudah sampai memakan korban jiwa.
Malam sebelum menerima mereka, Bapak dan Ibu mengumpulkan kami semua di ruang tengah lantas memberikan wejangan-wejangan singkat yang intinya adalah melarang kami untuk menyebut mereka menumpang hidup di rumah kami, semata demi menjaga perasaan mereka. Meskipun kenyataannya, ya memang demikian keadaannya: mereka menumpang.
Aku tidak melihat bagaimana riuhnya saat mereka tiba, karena kejadiannya waktu aku masih di sekolah. Yang kuingat, sepulangnya dari sekolah dan saat baru turun dari bis sekolah, terlihat ada beberapa barang yang tergeletak di halaman rumah kami yang paginya saat aku berangkat sekolah, semua barang itu masih belum ada di sana. Mulai dari sepeda motor hingga antenna parabola!
Masuk ke dalam rumah, ada banyak orang tak kukenal. Lalu aku diperkenalkan kepada mereka. Entah siapalah, sekarang aku bahkan tidak bisa ingat wajah-wajah mereka, apalagi jika diminta menyebutkan namanya. Ada satu keluarga sedang duduk-duduk di ruang makan keluarga kami, lalu saat aku beranjak ke ruang tengah, ada juga dua orang anak kecil sedang menonton televisi. Katanya sih mereka berdua masih terhitung saudara sepupu jauhku. Membosankan, karena mereka tampak bukan jenis yang bisa asyik diajak main, sebab mereka berkulit gelap akibat terbakar matahari, dan seakan untuk menegaskan ‘kecurigaan’-ku itu, mereka memang berbau matahari.

Tidak butuh seminggu untuk membuatku kesal pada keberadaan mereka di antara kami.
Si Ayah doyan bersendawa di meja makan. Membuatku kesal karena justru Bapak sangat melarang keras kami membuat bebunyian ketika makan malam bersama, ya, bahkan sedapat mungkin harus meminimalisir bunyi sendok dan garpu yang beradu dengan piring keramik. Tapi dengan kerabat ini, Bapak diam saja melihat tingkah polahnya. Anak-anak mereka makan sambil berdecap dengan berisik, seolah tidak bisa makan sambil menutup mulut ketika mengunyah, ditambah kegemaran mereka mengaduk-aduk dan bermain dengan makanan di dalam piring di hadapan mereka.
Belum lagi saat menonton televisi, anak-anak ini akan berkeras untuk menonton program kesenangan mereka, sama sekali tidak mau mengalah pada anak tuan rumah. Menyebalkan. Mentang-mentang ”hosting tamu” masa otomatis harus menerima semua dengan lapang dada? Nonsense!
Lantas ada pula anaknya yang tertua, saat itu kira-kira seusia SMA tapi terpaksa tidak bersekolah dulu untuk sementara waktu karena sekolahnya ditutup akibat kerusuhan, mengomentari dengan nada negatif layar televisi kami yang kecil dan tidak memuaskan pandangan matanya, karena dia terbiasa menonton acara televisi di layar lebih lebar seperti yang ada di rumahnya. Semakin menyebalkan saja!
Aku tidak mengerti kenapa kedua orangtua ku bisa bersabar menghadapi tingkah-polah keluarga ini, karena aku tidak. Barangkali pertimbangan kedua orangtuaku saat itu adalah faktor kemanusiaan, karena sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk menolong orang lain yang sedang mengalami kesusahan. Terlebih lagi karena kami masih memiliki hubungan kekerabatan.

Namun bagi seorang anak kecil seperti diriku saat itu, mau ada hubungan saudara atau bukan, kalau sudah dipandang mengganggu dan masuk tahap menyebalkan yang perlu diberi pelajaran, ya ajak berantem aja sekalian! Tak memikirkan masalah kepekaan sama sekali. Biarlah itu menjadi urusan orang-orang dewasa saja.
Seingatku saat itu kurang lebih baru lewat satu minggu sejak mereka menjadi penghuni baru di rumah kami ketika akhirnya aku mulai bertengkar dengan anak-anak mereka yang kecil. Tidak sampai adu pukul berdarah-darah dan lebam-lebam, tapi sangat jelas memperlihatkan bibit konflik yang berpeluang meledak dalam skala lebih besar lagi.

Untung saja saat itu tanpa sepengetahuanku, kondisi keamanan mulai berangsur pulih sehingga tak lama kemudian keluarga ini bisa kembali ke rumah mereka dengan membawa serta tumpukan harta-benda mereka yang sempat memenuhi rumah dan halaman kami. Aku bisa bebas untuk kembali bermain dengan semua mainanku seperti sediakala tanpa diharuskan membaginya dengan para sepupu jauhku itu (such a spoiled egoistical little kid, ha! ha!) maupun mengajak mereka bermain bersama. Habisnya cara mereka bermain ga asyik dan ga imajinatif sih, masa main perang-perangan dengan tentara-tentaraan plastik tanpa disertai cerita asal-muasal latar-belakang penyebab terjadinya konflik bersenjata itu sendiri?
Waktu mereka masih tinggal di rumah kami, satu saat ketika ketidaksukaanku sudah nyaris mencapai titik kulminasi, aku bahkan sempat berharap ada orang Samaria yang baik hati kebetulan lewat di depan rumah kami dan lantas memutuskan bersedia menampung keluarga menyebalkan ini berikut segala kebawelan dan tingkah-laku ajaib setiap anggota keluarganya yang menjengkelkan itu. Biar sajalah aku menjadi orang Farisi yang terus berjalan lewat dan pura-pura tidak melihat. Untuk hal yang satu ini, aku yakin sanggup melakukannya dan jelas-jelas rela menanggung risikonya nanti, ketika dijadikan contoh tingkahlaku tidak baik.


Is there a time for first communion
A time for East Seventeen
Is there a time to turn to Mecca
Is there time to be a beauty queen


But now, everything has changed.
Even though I don’t know what changed me and when it happened exactly, but am pretty sure I’ve changed my position and opinion about this refugee issue. Barangkali terjadinya seiring pertambahan usia dan peningkatan kedewasaan jiwa. Atau karena melihat beberapa contoh orang-orang sukses dan ternama yang berprestasi, yang dalam perjalanan hidupnya sempat menjadi pengungsi.
Yang jelas, sekarang kalau lihat laporan berita tentang penderitaan para pengungsi, jadi sedih.
Meskipun jelas kalau sekedar sedih doang, tidak akan membantu mengurangi penderitaan para pengungsi tersebut. Sama seperti pesan layanan masyarakat yang dibintangi Angelina Jolie berikut ini.





Salah satu pengguna YouTube meninggalkan komentar menyindir, yang memang tepat dialamatkan untuk PSA ini. Kurang lebih katanya, “... just thinking of them won’t change anything.”; buat menanggapi closing statement dari Ms. Jolie. Well, I couldn’t agree more.
Yang dibutuhkan dalam situasi semacam ini adalah tindakan nyata, dan segera.
Namun terkadang, dalam kondisi tertentu, justru kesulitan memberikan bantuan itu dikondisikan sendiri secara sengaja oleh sekelompok manusia berjudul pemerintah. Ingat saja para korban badai Nargis di Myanmar, atau yang baru-baru ini kubaca dari laporan majalah Time, bahwa Presiden Zimbabwe sengaja membiarkan rakyatnya menderita dan mati perlahan namun pasti – sedangkan bagi mereka yang bernasib lebih baik akan eksodus ke negara-negara tetangga seperti Afrika Selatan. Membuatku tidak habis pikir, kok ada ya pemerintah yang setega itu? Tapi bisa jadi hal ini tidak ada kait-mengait dengan masalah perasaan tega. Barangkali justru karena masalah politik semata. Mengerikan memang manusia bisa tega kepada sesamanya justru karena dia punya akal pikiran untuk melakukannya.


Is there a time for tying ribbons
A time for Christmas trees
Is there a time for laying tables
And the night is set to freeze