Showing posts with label smile. Show all posts
Showing posts with label smile. Show all posts

Saturday, February 26, 2011

The Moment, and You




Your transparent brown eyes. Beautiful.
The peeled off painting on the wall as your background. Blistered.
The faint smell of steel. Cold and rusty.
Dust, flying aimlessly, visible under bright rays of the sun. Strange.
The birds chirping outside the window. Unidentified.
This black coffee in a blue mug on the table. Getting cold.

Your body. Leaning forward.
Your face. A little drip of sweat. Smiling.
Your trembling fingers. I noticed a ring.

The memories of adventure on the rocky beach.
Flashy images of naked bodies. Lying. Sunbathing.
An unforgettable image of you.

The beads of sweat dripping from your forehead.
The silently mouthed words.

The decision. The shortest prayer I have ever said.
The stillness of the moment.

The silence. You.

Thursday, April 1, 2010

Mereka yang Ditaklukkan


Masih kuingat pagi itu udara sedikit berkabut. Jarum panjang jam baru bergerak menuju angka satu. Hampir pukul enam lewat lima. Sekali dua terdengar celotehan ayam dari halaman tetangga sebelah, saat aku melangkahkan kaki keluar pagar bergegas menuju wartel dekat kos. Rencananya, pagi ini aku mau menelepon Ibu.

Ruangan di dalam wartel itu sendiri agak gelap karena lampu-lampunya sudah dimatikan. Barangkali agar menghemat tagihan listrik, pikirku. Si akang yang bertugas jaga pagi itu sedang sibuk menyapu lantai dengan sapu ijuk butut yang sudah terlihat botak. Sejak pertama kali menggunakan jasa wartel ini hampir dua tahun lalu, sepertinya sapu itu tak pernah berganti. Dengan sapu sebutut itu dan lampu yang sudah dimatikan, bagaimana mungkin dia bisa betul membersihkan lantai semen telanjang tanpa tegel di wartel ini? Ah biarlah, dia pasti sudah tahu itu. Mungkin saja tujuannya bukan betul-betul untuk membersihkan, melainkan agar tubuhnya sedikit bergerak dan ada yang bisa dia lakukan. Pasti membosankan sekali pekerjaan menunggu wartel semacam ini setiap hari.

”A dead end job”, demikian istilah yang baru kudengar dari satu film Amerika yang cakram padat digitalnya kami sewa duaribu rupiah perkeping dari persewaan di dekat gerbang kampus. Artinya kurang lebih adalah pekerjaan membosankan yang tak butuh kemampuan intelektualitas mumpuni untuk bisa menyelesaikannya sehingga tak semua orang mau melakoninya, jikalau tidak karena terpaksa. Tapi apalagi yang bisa dilakukan penduduk asli sekitar sini selain ’melayani’ kami, para pendatang yang lebih beruntung dari mereka? Penduduk asli di sini tidak lebih dari sekelompok masyarakat agraris yang sudah lama ditaklukkan. Bidang-bidang tanah yang dulu mereka jadikan sumber pendapatan sudah lama berpindah tangan ke penguasa. Bidang tanah yang harus kuakrabi selama empat tahun agar beroleh selembar surat sakti yang kuharap dapat membukakan lebih banyak pintu peluang, demi bisa makan enak dan naik mobil mahal. Agar aku tidak berakhir sama seperti penduduk asli tempat ini yang cukup mengambil posisi jadi penonton di tepian, hanya bisa melongo melihat kemajuan melaju cepat meninggalkan mereka.

Hanya ada tiga bilik kecil di wartel itu. Bilik pertama dikhususkan untuk panggilan lokal. Pesawat teleponnya tak bisa dipergunakan untuk menelpon keluar kode wilayah nol-dua-dua, apalagi menghubungi telepon selular. Tak kumengerti mengapa diatur demikian. Padahal kalau bilik pertama itu difungsikan sama seperti dua bilik lainnya, tentu akan lebih besar pemasukan yang diterima. Bilik kedua ternyata ada orangnya. Karena pintunya hanya kaca transparan, bisa kulihat jelas seorang perempuan muda sedang menunduk, kepalanya ditumpukan di telapak tangan. Kulihat angka tarif yang terus bergerak bertambah banyak di depan perempuan itu. Wah, sudah lebih dari tigapuluhribu rupiah. Pasti dia sudah lama tersambungkan, paling tidak limabelas menit. Anehnya, tak kudengar perempuan itu berkata sepatahpun. Mungkin dia sedang diminta menunggu oleh lawan bicaranya.

Bilik ketiga kosong, langsung aku masuk dan memutar nomer telepon rumah. Dinding pelapis yang memisahkan setiap bilik dibuat hanya dari selembar triplek menjadikan pembicaraan apapun yang terjadi di bilik sebelah, bisa terdengar jelas. Meskipun begitu, masih tak kudengar suara dari situ. Namun aku memang sedang berkonsentrasi pada nada panggil di teleponku. Lama sekali tak ada jawaban, karenanya kukembalikan gagang telepon itu ke tempatnya.

Baru pada saat itulah aku mendengar suara aneh di bilik sebelah. Suaranya sedikit mendesah. Lamat-lamat seperti orang sedang menangis. Ah, tak mungkin, batinku. Baru jam enam pagi dan sudah menangis sesedih itu? Ada anggota keluarga yang berpulang, barangkali? Pasti hidupnya sepanjang sisa hari itu akan terasa menyesakkan. Kasihan. Tapi sesungguhnya aku tak ikhlas bersimpati. Soalnya tak kukenal perempuan itu. Setidaknya, bagian belakang tubuhnya yang sempat kulihat itu tak kukenali.

Perempuan itu terdengar begitu susah berbicara. Barangkali karena dia harus menelan tangisnya sebelum bisa mengucap kata, itu pun masih ada isakan-isakan menjeda. ”Kamu kok bisa-bisanya begitu sama aku?” ... hiks ... ”Padahal ...” hiks hiks ”padahal kan aku sudah penuhin semua mau kamu ...” hiks sroot terdengar bunyi ingus yang disedot kembali ke liang hidung hiks lagi ... ”Kamu harusnya ngerti posisi aku juga dong. Gak bisa ...” hiks hiks ”gak bisa kayak gini terus.”

Satu tanganku yang sudah kembali menempelkan gagang telepon di telinga dan satu lagi yang sedang memencet-mencet nomor telepon rumah mendadak berhenti. Wah! Pagi-pagi sudah drama! Ini pasti salah satu kisah asmara yang sedang dilanda prahara. Buset, bahasaku tujuhpuluhan banget ya. Karena terlalu berkonsentrasi dengan suara-suara haru-biru di bilik sebelah, sejenak aku lupa kalau nomor telepon yang kutuju belum kugenapi. Artinya, belum selesai kutekan seluruhnya. Sampai tahun jadi tigabelas bulan juga tak bakal panggilan itu tersambungkan.

Kucoba mengulangi urutan nomor telepon Ibu, sambil telingaku yang bebas difokuskan untuk menguping. Lalu tiba-tiba ...

”Halo?”

Ah, Ibu!

”Hai hoi. ... bla bla bla”, langsung aku mencerocos. Kebiasaanku memang seperti itu setiap kali menelepon ke rumah. Tak kuanggap perlu memperkenalkan diri. Tugas orang-tua lah untuk mengenali suara anak-anaknya. Kali itu pembicaraanku dengan Ibu hanya berlangsung sebentar. Saat kuletakkan kembali gagang telepon, tarif panggilan yang harus kubayarkan tak lebih dari sepuluhribu rupiah. Saat keluar dari bilik nomor tiga itu, kulihat bilik sebelah masih diisi sosok perempuan yang sama, masih dengan pose duduk yang sama. Melihatnya, seolah waktu sempat berhenti, atau jalannya pelan sekali. Bedanya, kali ini tarif bicara yang harus dia bayarkan sudah lebih dari limapuluhribu. Buset, cewek ini pasti sedang menghubungi nomor telepon selular. Pemborosan luar biasa, kalau dia justru nyaris tak berbicara, lebih banyak diam dengan selingan isakan yang ditahan.

Usai melunasi kewajiban pada si akang penjaga wartel, kulangkahkan kaki keluar dan melihat ke kiri kanan. Biasanya ada akang penjual bubur ayam yang lewat membawa pikulannya jam segini. Ah, sayang sekali sosoknya belum kelihatan. Barangkali aku kepagian? Kalau begitu aku balik saja dulu ke kamarku dan tidur lagi. Kuliah hari ini baru mulai jam sepuluh, masih ada waktu untuk kembali menodai bantalku dengan tetesan air liur dari mulutku yang membuka kala tidur. Hah! Jorok? Biarin!

Sembari berjalan kembali pikiranku tertuju pada sosok yang kutemui di wartel pagi itu. Bukan, bukan si perempuan. Sejujurnya, aku tak terlalu peduli padanya. Membuka hati agar bisa ditaklukkan cinta, tentu ada akibatnya. Sakit hati, terluka dan patah hati adalah resiko yang harus siap ditanggung kalau berani menjalin hubungan asmara. Istilahnya, kalau takut jatuh dan luka, jangan mencoba naik sepeda. Berjalan kaki saja terus, dan jadilah penonton saat kehidupan melaju cepat meninggalkanmu.

Yang kupikirkan adalah si akang itu. Pikiran yang diselubungi rasa curiga. Bisa jadi, sebenarnya saat sedang menyapu lantai itu, dia sedang berpura-pura sibuk agar tak kentara sedang mencuri dengar pembicaraan perempuan di bilik nomor dua. Bisa jadi, pembicaraan-pembicaraan semacam itu menjadi selingan, memberi warna beda dalam hidupnya yang monokrom kala menjaga wartel. Bisa jadi, setelah menutup wartel malam itu dan kembali bertemu keluarganya, si akang akan punya cerita untuk dituturkan sembari menyeruput kopi tubruk dan mengisap sebatang rokok kretek. Ah, sebuah gambaran hidup yang terlalu klise, tapi sepertinya cocok dengan si akang. Bisa jadi, di usianya yang mungkin hanya bertaut kurang dari satu windu denganku, pintu-pintu peluang sudah lama tertutup rapat baginya. Dan bisa jadi, pintu-pintu yang masih bisa dia buka dengan leluasa hanyalah pintu-pintu wartel yang punya tiga bilik telepon itu. Pintu-pintu yang hanya kami, para mahasiswa pendatang seperti aku, buka kala hendak berbagi cerita pada keluarga dan kerabat, atau ketika menuturkan rencana dan mimpi-mimpi kepada para sahabat. Hanya sisa-sisa napas dan aroma keringat kami saja yang akan bisa dirasakan si akang ketika membuka pintu-pintu itu. Sedangkan semua cerita dan mimpi yang sempat terucap kami bawa pergi bersama langkah-langkah kami kala meninggalkan wartel dengan tiga bilik itu. Sempat tergelitik imajinasiku untuk bertanya pada si akang penjaga wartel, ”Bagaimana rasanya menjalani hidup sebagai penonton mimpi-mimpi orang lain?” Tapi kuyakin dia akan tergeragap, tak akan dia bisa berikan jawaban atas pertanyaanku itu.

Saat berjalan kaki pulang menuju kos, aku berpapasan dengan seorang bapak tua bercaping dan berpakaian lusuh kotor, sedang memikul cangkul yang terlihat sama tuanya dengan keriput di wajahnya. Dengan basa-basi kuanggukkan kepala dan kupajang seulas senyuman di wajah saat berselisih jalan dengan bapak itu. Satu suara kecil namun tajam berkelebat di dalam benak, ”Ini dia satu lagi orang yang sudah ditaklukkan. Bahkan mungkin dia menggunakan cangkul tuanya itu untuk mengubur mimpi-mimpinya satu persatu.”





Illustration image courtesy of Sam Luce

Friday, March 20, 2009

Pizza a la Zanzibar


Lagi pengen berbagi cerita iseng di hari Jumat pagi. Berhubung sudah weekend, jadi topiknya yang ringan dan santai aja, seperti nyiur melambai di tepi pantai. Ssaaahhh ...

Kebetulan (again?) tadi sempat menonton program jalan-jalan wisata yang diproduksi oleh sebuah stasiun televisi Inggris. Sepertinya seru sekali. Ceritanya si host yang adalah seorang laki-laki yang tampaknya in his early thirties (and yes, he has English teeth) sedang berkunjung ke benua Afrika.

Diperlihatkan kepada para pemirsa, bahwa si host sedang berada di Zanzibar, dan mengunjungi sebuah pasar tradisional yang katanya khas sana. Waktu kuamati, malah yang kepikiran, kok mirip banget dengan pasar-pasar tradisional nan becek berlumpur dan bau di negara kita ya?

Sambil menatap ke kamera dan nyengir tersungging, si host mengajak para pemirsa, ”Ayo kita makan Pizza Zanzibar!”
Lalu diperlihatkan tayangan close up bagaimana cara mengolah bahan-bahan dan memasaknya menjadi Pizza Zanzibar. Lapisan semacam ’kulit’ seperti pangsit besar dikembangkan melebar lantas digoreng di alas penggorengan rata dengan minyak panas. Di atasnya, dicampur segala macam bahan dan bumbu untuk menyedapkan rasa, lalu ’kulit’ tersebut dilipat sambil terus digoreng.
Aku sempat penasaran melihat proses memasaknya, karena terlihat cukup familiar. ”Kayanya aku bisa kebayang deh bentuk jadinya,” demikian batinku saat itu.

Setelah matang, si host langsung memakan pizza yang dihidangkan di atas piring plastik murahan dengan mempergunakan tangan, tanpa sendok garpu.
”How barbaric!” demikian komentar terlontar bagi mereka yang makan dengan cara tersebut, demikian menurut cerita-cerita dari Inggris Raya era Perang Dunia II karya Enid Blyton.

Yang membuat aku tertawa terbahak-bahak, adalah melihat ekspresi ”maknyus” dan ”ajib” yang terlihat di wajah si host.
Karena ternyata, yang disebutnya Pizza Zanzibar itu ternyata sama persis dengan martabak telor di Indonesia. Ha! Ha! Ha!

Jadi teringat ’kasus’ Indomie yang jadi makanan pokok aseli Nigeria.


Tuesday, December 9, 2008

From Yesterday



I see you coming from Yesterday
Still looking as graceful as I remembered you from your youth
Radiant skin gleaming smiles
And beautiful bangs of hair framed your freckled face

How could I ever forget our first kiss ?
Your lips sweet and wet
But probably it was your perfect lip gloss I tasted

How are you doing now, Darling,
The girl who just arrived from Yesterday ?

Friday, November 21, 2008

OH @ a Hotel’s Lobby


Di suatu siang yang relatif panas akibat garangnya terik sinar matahari untuk standar suhu bulan November yang seharusnya lebih adem daripada saat ini, tapi semua itu tidak terasa sama sekali di area lobby berpenyejuk ruangan sentral di sebuah hotel berbintang lima di seputaran Jakarta Pusat.

Terlihat di salah satu sofa duduklah seorang lelaki yang tampak matang usia dan ramah karena selalu tersenyum dan beberapa kali terdengar tawanya pecah, sedang asyik berbincang dengan seorang perempuan berambut pendek sebahu yang mengenakan pakaian serbahitam, tapi pastinya kalau dinilai dari bentuknya bukan seragam dari kantor manapun.

Lelaki : Eh, jadi nih kita ke Warung Kopi kondang itu?
Perempuan : Ya sudah, hayu’ atuh.
Lelaki (sambil bangkit berdiri dari sofa) : Tapi bentar dulu ya. Gue kebelet pipis nih.
Perempuan (ikut-ikutan bangkit dari sofa) : Oh, kalau gitu kita barengan aja. Kebetulan gue haus nih.
Lelaki (berhenti mendadak) : ... ... Eh ?!?! (lalu tawanya kembali meledak)



Twitterer lazim menyebut pengutipan semacam ini
– dalam versi yang lebih singkat – dengan akronim OH.







Friday, November 14, 2008

menggumam pelan

dan ketika kubuka mataku pagi tadi tak lagi kutemukan dirimu terlelap di sampingku membuatku sadar bahwa hari-hari itu telah silam dan harusnya tak lagi kuharap kembali tapi entahlah mungkin aku sudah terlalu terbiasa menatap senyummu yang menghiasi wajah meskipun aku tahu pikiranmu sedang berkelana dan kuyakin sudah lama hal itu kamu ketahui dari caraku menatapmu setiap kali kita bertatap pandang yakinlah bahwa aku masih sayang.

Saturday, October 18, 2008

At The Section of Forgotten Toys



At the section of forgotten toys
There is a lonely plastic doll in the form of a little girl
Standing alone inside its original wrapping
Still smiling even though its box are covered with dust and its colors gradually fading

It has been abandoned for almost all of its shelf life
Nobody wants any business with it but a little crippled girl
Who once visited the big toy store along with other similar looking children
Has only one arm, or one leg, or simply can not walk and has to be pushed away in wheelchairs

The little crippled girl picked the box with the plastic little girl doll standing alone inside
Her face gleamed with happiness and smile
“Hey, little pretty doll, how are you doing today?”
“My name is Molly and from now on, I want you to be my friend.”

But a grown up woman’s hand picked the box up from Molly’s hands
And return the plastic little girl doll to the shelf along with other plastic toys,
“Not this one, Molly. Because you are allowed to have a more beautiful doll than this.”
And ushered the little crippled girl away

The lonely plastic doll can not remember how long it stays on its shelf
Until one day a big hairy hand grabbed its box and throw it into the small steely cart
Where it stuck on the top and piled up with other deformed boxes of toys
And pushed away into the little dark room where the lights are seldom switched on
And there’s no blowing breeze from the air condition
Where the lonely little plastic girl doll remains untouched
For days, months and eventually, years

At the section of forgotten toys
There is a lonely plastic doll in the form of a little girl
Standing alone and yet it keeps smiling
Because it still remembers Molly,
The little crippled girl who hand-picked and kissed her box
And told her that she wanted to be her friend
Before she was ushered away

Wednesday, September 10, 2008

Diskoneksi, Miskomunikasi.


Paling males kalau di kantor diadakan aktivitas yang katanya "Meeting Koordinasi".

Nama ini terlalu cantik (sinisme dibutuhkan dalam memaknai kata sifat barusan) untuk forum sekedar ngobrol-ngobrol dan ajang cur-col (ini singkatan baru, secara dibentuk dari istilah curhat yang adalah singkatan curahan hati ditambah dengan colongan).
Ditambah lagi biasanya posisi dudukku dapat jatah di depan blower AC. Ini namanya dobel cari penyakit. Sakit fisik karena kena tiupan angin dari blower AC selama meeting berlangsung (yang minimal durasi rata-rata 90 menit), dan sakit perasaan karena sudah sadar-sesadar-sadarnya bahwa segalam macam omongan dan kesepakatan di forum ini akan berlalu bersama bubarnya semua orang dari ruangan rapat.
Buktinya, ternyata topik permasalahan yang sama muncul lagi dan lagi padahal kata anak-anak yang sudah tahunan kerja di kantor, setiap tahun masalahnya pasti yang sama, itu lagi itu lagi (bukan Cindy lagi Cindy lagi, ... di bagian lelucon ini mungkin banyak yang kurang mudeng), yaitu perusahaan komunikasi dengan personil yang saling miskomunikasi.

Jadi solusinya, setidaknya buatku pribadi, tetap kembangkan senyuman ramah ekspresi wajah ceria tatapan mata bersahabat – alias, kenakan topeng! – tapi pastikan seluruh syaraf dan pikiran didiskoneksikan terlebih dahulu agar segala keluhan yang dimuncratkan ke forum dan aura negatif yang terpancar dari anggota barisan sakit hati tidak menginfiltrasi pikiranku yang masih polos dan murni ini, jadi hidup (di kantor) tetap terasa seru dan mengasyikkan!



Catatan kaki:
Ya, ya. Aku juga tahu kok kalau anak-anak di kantor bisa membaca tulisan ini. Terus kenapa?
Ada masalah? Semuanya bisa dikomunikasikan kok, aku juga di sini tidak dalam konteks mencari musuh.
Marilah kita bijak belajar berkomunikasi efektif saja. Karena sesungguhnya, selalu ada (setidaknya) dua sisi dari setiap cerita (baca: permasalahan).
Setuju kan, teman?!



Wednesday, August 6, 2008

Orange Suede Shoes


I once read from a fashion magazine that a man is measured by the shoes he’s wearing.

What if that guy is wearing orange suede shoes with synthetic leather-like brownish sidelines and interlacing red and green stripes on the soles?

“Simply gay,” said William, while supporting a big grin on his oval plumpy face.

Being a gay guy himself, whatever judgement William made, we as his friends need to listen. Though this time I don’t think I’d listen and ‘obey’ his suggestion. Because it was me who wore the shoes described above in our monthly get-together. They were gift. And everyone knows how much I love getting gifts. Haha!




*image above is just an illustration to the article

Friday, July 18, 2008

What If?


What about having some nice espresso brownies and vanilla latte or decaf cappuccino at Starbucks? What if you opened your papercup lid to cool your cappuccino faster, so when you drink it its froth stayed on your upper lip forming a white mustache? You still look cute with that silly soup-strainer and you made me laugh by making faces until my eyes watered.

What about kissing your tender lips inside the car while we’re in the parking lot? I was whistling “Young Folks” when you whispered my nickname in such husky voice I turned around and stopped, lips still mouthing O. Your sexy thoughts flashed in your eyes I can see you burning inside. What if I told you that only by looking at your wet cherry lips I knew that all I want to do was kissing you right there at that moment?

What about lying together side by side on this white beach sands eyes gazing at the blue cloudless sky? The sun just rose the wind brought the salty taste of ocean air. Turning my head looking at you, sleeping soundlessly your smile widened. What if it was not me who was running around in your dream would you tell me that honestly when you wake later on?

What about your promise to be back here by my side to celebrate your birthday privately, just the two of us? You knew too well I can not cook anything but instant noodles, yet I tried hard to prepare your favorite pasta just to make you happy, to see you smile cheerfully. Because no matter what others may say about it being tacky, all I want to do in this world is to make you feel happiness with me.

What if I never let you go to your office that day?
What about staying in bed and cuddling for a little bit longer that day?
What if I made love to you in the shower which would definitely make you to arrive late to your meeting?
What about taking alternative routes just like what you usually did everyday so you wouldn’t be stuck in the daily traffic on that highway?
What if you forgot to bring your cellular phone which you left on the coffee table, and then you return just to pick it up?

You would still be here beside me.
I would never felt this kind of shocked watching that news.
You would still call me at noon just to make sure whether I already had lunch or not.
I would still find you in our place waiting for me to return home after working way until late.
You would still need me to go with you to bookstores and coffeehouses on weekends; “Just for the atmosphere,” like you always said.

I would still have you, you would still love me, I would hugged and kissed you a lot, you would still demanding more.

We would still have – and love – each other.

Wednesday, January 16, 2008

Under The Darkly Night Sky




I have been walking lonely down this empty street tonight
I don’t know what is wrong with me
I have sung Fix You for myself to hear
But this voice trembled harder long before the end
The clouds cover up this darkly starless night sky
I don’t know what is left of me
Somehow I just don’t know what is right with me

Tried to keep my distance
That is what I have done lately
I have besmirched all our memories
But there will always be a trace of you inside me

I still remember some ups we had
You and me laughing at Spongebob and Patrick and the peculiar inhabitants of Bikini Bottom
You tried impersonating their quirky voices just to make me laughed harder
But the ones that tickled me much were your innocent childish smile
And those deep wells on both sides of your cheeks shown each time

And I fell in love with your calm assuasive clear eyes
How they led my battered and bruised self found the serenity within your soul
I will never forget how you pulled me towards you hugged me closely saved me from walking carelessly too close to the edge of sanity
And catered me security
And made me confessed indirectly that it was with you that I fell so much in love of this kind for the very first time

And then you whispered in your sweet husky voice,
“Don’t leave now. Because I need you just as polar bears need Arctic’s ice.”
“Let me in. Because I want to share this warmth within me so that you’ll never again feel that winter in your soul.”
“Hold my hand. Because you’re too precious to ever let go.”
“Stay with me. Because I love you as the night loves being accompanied by the stars and the moon.”
And each time I cried inside, you just knew
“Hush now. I don’t want you shed your precious little diamonds.”

I believe God sent you all the way from His beautiful Garden
As a true sign that He loves me that much
And how I felt so much blessed

But maybe those darkly starless night skies were changing you
Nights before we could ever met for the first time
And even though they put radiant diamonds in your eyes for me to admire at nights before I fall asleep
I will never understand why the same darkly starless night skies gradually changed your heart
To be as cold as those stones on the bank of the solitude lake we visited last monsoon

And I always thought we were going to make this through
You love me love you what else do we need?
“Nothing, just the two of us,” that was your answer the first and also the last time I asked

Yet still I wonder naively,
What things will hold together the loose knots of our relationship?
How I wanted to hear if first from you before holding my hand and lead us walking our life
If in the end you me go,
How many days am I going to regret you?
How many tears am I going to shed for you?

And how vast those darkly starless night skies I am going to look up to and not thinking of you?