Showing posts with label dark. Show all posts
Showing posts with label dark. Show all posts

Monday, March 29, 2010

Love Gravity



I want to meet you in a place where we won’t feel wrapped underneath

Our skins that bleed and ached but they don’t hurt us like before

Inside our hearts there’s no empty room for sadness nor anguish
Our hands closed, admiring the delicateness of our souls, gravity of our lives

Feeling me, you, caressing the familiarity, adoring you me through all darkness

We are lost to each other now, wanting each other, saving you and me


Do I have to give any reason before kissing your soft lips?

Just come here, and let me show you my love once more.

Friday, August 28, 2009

Of Feelings & Things



As I was walking down the nearly empty city streets
Which were wet again because of the heavy rain
When the skies above this city turned into the usual cloudy and grey
The rainwater pooled on the cracks of the pavement faded into dark

I kept walking searching for some place I can call my comfort zone
A simple place I can call my own, and ours
Where time and space will pass us by when we see eye to eye
Where happiness and love are everywhere, surrounding us
Where you will give me the reasons to live,

And to recognize the whole mutual feelings we share and things we have as love.


Thursday, June 11, 2009

My Lost Mobile Phone, Remembered


Kemarin malam salah satu stasiun televisi nasional kembali menayangkan-ulang House of Wax. Film horor yang meskipun kata para kritikus dan pencinta film, adalah sebuah remake yang unworthy and trashy, tapi memiliki makna khusus buatku. Benar-benar khusus, meskipun kalau orang lain tahu kenapa, kesannya akan jadi ga’ penting banget. Haha!

Ehm, memang makna khususnya masih punya kaitan dengan Paris Hilton. Bukan, ini tidak ada kena-mengenanya dengan hubungan antara ’idola’ dan ’penggemar’. Tapi lebih pada karakternya Paris, yaitu Paige Edwards.

Jadi beginilah ceritanya.

Dalam salah satu adegan yang intense, Carly Jones (diperankan Elisha Cuthbert) mencoba menghubungi Paige, yang saat itu sedang asyik-masyuk bercumbu dengan kekasihnya. Tapi namanya kalau birahi sedang memuncak ke ubun-ubun, langsung lupa sama yang lain. Termasuk, mengabaikan panggilan telepon yang masuk.



Hayo, pada ngaku, kalau sedang panas-panasnya foreplay, ga’ peduli anjing menggongong kencang, telepon ribut berdering krang-kring-krang-kring, PLTN mendadak memadamkan listrik, kayanya ’kentang’ banget kalau foreplay-nya diberhentikan. Perintah yang dikirimkan sistem syaraf ke seluruh sensor tubuh biasanya cuma satu: ”Lanjutkan!”.

Seperti itu jugalah yang dilakukan Paige. Penonton hanya diperlihatkan close-up unit telepon genggam yang dipakai Paige. Dan inilah yang membuatku kaget, excited. Jenisnya sama seperti yang kupakai saat itu!! Bedanya, Paige memakai yang warna hijau, aku memakai yang warna merah.

Dengan sedikit norak, aku sempat nyeletuk agak kencang di dalam bioskop yang gelap dan duapertiga kursinya diisi penonton: “Eh! Henponnya sama dengan punya gue!!”, yang langsung direspon oleh teman menontonku dengan gerakan refleks menepuk lengan atasku, “Hush!”.

Hampir empat tahun kemudian, ketika film horror ini kembali ditayangkan-ulang di salah satu stasiun televisi nasional, seakan menjadi pengingat bahwa pada suatu hari yang mendung dan diikuti hujan deras di bulan Ramadhan tahun 2005 Masehi, ketika aku mencoba berpetualang sendiri menuju Bogor menaiki kereta listrik kelas ekonomi yang penuh sesak dari ujung ke ujung sehingga nyaris tidak ada celah sedikitpun karena setiap tubuh sudah saling lekat erat dan rapat, seorang pencopet dengan lihainya sukses mengambil telepon gengamku tersebut yang disimpan di dalam saku ransel yang kucantolkan di depan badan. Inilah salah satu hari tersial sepanjang hidup yang rasanya tak akan mungkin bisa kulupa.

Demikianlah ceritanya, sebab-musabab kenapa setiap kali House of Wax ditayangkan-ulang di televisi, aku jadi teringat lagi satu adegan yang buatku terasa istimewa itu. Meskipun hingga kini, hanya sekali itu saja, di bioskop, aku menonton film horror remaja tersebut sampai selesai. Dan hingga kini pula, hanya sekali itu sajalah aku pernah bepergian seorang diri menaiki kereta listrik kelas ekonomi menuju Bogor, tak ingin lagi mengulanginya.

Peristiwa kehilangan telepon genggam karena kecopetan itu jugalah yang sedikit banyak mengubah cara pandangku hingga kini. Sekarang, aku tak pernah lagi merasa kasihan pada para pencopet yang tertangkap massa lantas digebuki beramai-ramai hingga babak belur. Biar tahu rasa dia, sudah merugikan orang lain!

Bagaimana, penting ga’ penting kan tulisanku kali ini? Haha!




Friday, April 17, 2009

Sesosok Pria Yang Selalu Tampak Tersenyum



Kalau kita sudah ’terlanjur’ mengakrabi sosok seseorang di masa-masa ketika ia sudah tidak muda usia lagi, tentunya akan terasa sedikit aneh apabila kemudian melihat dari foto atau bentuk dokumentasi lainnya, bagaimana penampakan orang tersebut di masa muda.

Misalnya, sejak pertama kali aku bisa mengingat pun, rasanya Bapak sudah terlihat cukup tua. Mungkin saat itu umurnya sudah lebih dari empatpuluh tahun. Rambutnya sudah mulai memutih karena ubannya sudah tumbuh banyak, tapi dia mengakalinya dengan cat rambut hitam merk tancho.
Masih bisa pula kuingat piring kaleng kecil yang biasanya ia jadikan wadah untuk mengaduk formula tancho itu. Diameternya paling sekitar limabelas sentimeter, dengan ornamen dedaunan hijau dan kembang berwarna merah yang entah apa jenisnya dan telah berubah warna karena berulang-kali terkena tancho. Biasanya, Ibu lah yang mempersiapkan formula tancho itu, lantas menyemirkannya di kepala suaminya sambil mereka berdua asyik mengobrol entah tentang apa saja yang melintas di kepala.

Masih bisa juga kuingat, ketika aku bersama Adik dan Kakak ditemani Ibu berdiri di tepian jalan aspal, berbaris bersama ratusan orang lainnya.
Saat itu aku masih sangat kecil, belum lagi mulai masuk sekolah. Kakak tampak begitu bersemangat siang itu, dan memilih bergabung bersama teman-temannya yang tampak sibuk mengibar-ngibarkan bendera Merah Putih.
Ibu menggenggam tanganku dan Adik. Ibu bilang, kami berdiri di tepi jalan untuk menyambut kedatangan Bapak Presiden. Ibu tampak begitu bersemangat, sama seperti wajah semua orang yang berdiri di tepian jalan aspal itu. Adikku sedikit berbeda, wajahnya sedang cemberut, karena tadi dipaksa mandi dan bersiap-siap oleh Ibu, padahal dia masih ingin bermain dengan tentara-tentaraan plastik hadiah ulang tahun kami. Terkadang Adikku sering bertingkah konyol dan menyebalkan, tapi Ibu jarang memarahinya. Kakakku pernah bilang, itu karena Adik adalah anak bungsu di keluarga kami. Entah apa maksudnya ketika itu berkata demikian, dan baru ketika usiaku semakin bertambah barulah kupahami makna tersiratnya.

Orang-orang mulai ramai berteriak-teriak, dan ratusan tangan, entahlah berapa banyak persisnya, tapi ada terlihat begitu banyak tangan terangkat mengacung ke udara, dan ratusan bendera Merah Putih kecil-kecil terkibar dengan kencang dan bersemangat.
Siang itu rasanya sama seperti siang-siang sebelumnya. Langit masih tetap berwarna biru cerah, dan matahari tetap bersinar terik. Biasanya Ibu suka bawel kalau aku dan Adik serta teman-teman bermain sepak bola di lapangan saat panas terik begini. Ibu tak ingin kami terlihat dekil dan kumal, karena nanti Bapak akan marah dan menganggap Ibu tak becus mengurus anak-anaknya sendiri. Namun siang ini justru Ibu yang terlihat bersemangat meskipun keringatnya terlihat mengalir cukup deras.
Pasti ada yang tidak biasa hari ini, demikian pikirku. Siapapun Bapak Presiden itu, dia pasti penting sekali, sampai-sampai Ibu memakai salah satu baju terusannya yang masih relatif baru yang ia jahit sendiri untuk acara Natal tahun sebelumnya, dan kuperhatikan juga betapa berbedanya wajah Ibu saat itu. Ia mengenakan rias wajah sedikit, sesuatu yang tampak tidak biasa. Dan wajahnya tetap tersenyum, meskipun kulihat bajunya sudah mulai basah karena keringat.

Lalu aku mendengar bunyi sirene kencang mengaung-ngaung. Perhatianku langsung tertuju ke jalan, mencoba menyelip menyelinap untuk bisa melihat lebih jelas.
Ah, aku kesal sekali, terlalu banyak orang dewasa menghalangi pandanganku, padahal aku mau melihat lebih jelas kenapa ada sirene meraung kencang. Tapi Ibu tak mau melepas pegangannya di tanganku, meskipun sudah kutarik-tarik. Akhirnya aku mundur dan kembali merapat ke dekat kaki Ibu. Kesal, karena tak bisa melihat apapun selain orang-orang dewasa. Huh, kalau saja aku sudah lebih besar ..., demikian pikirku.

Tak lama, lewatlah berderet-deret motor tentara dengan sirene berbunyi kencang dan lampunya berwarna terang berkilatan. Gagah sekali rasanya naik motor seperti itu. Seperti para polisi di serial Chips yang biasa ditonton oleh Ibu dan Bapak dari siaran televisi Malaysia. Di belakang motor-motor itu ada mobil jip tentara, dan diikuti pula oleh beberapa sedan gelap berkaca hitam.
Semua orang tampak berteriak-teriak penuh semangat dan semakin histeris melambai-lambaikan bendera Merah Putih kecil yang berada di tangan masing-masing ke arah sedan gelap berkaca hitam itu. Aku tak mengerti, mobil siapa itu sebenarnya? Mana Bapak Presiden yang katanya mau lewat? Aku masih belum lagi melihatnya.
Tampak di belakang sedan gelap berkaca hitam yang melaju dengan sangat kencangnya itu, lewatlah entah berapa mobil lagi yang juga tak jelas siapa yang berada di dalamnya. Semuanya tampak berkaca gelap dan tak terlihat sedikit pun siapa-siapa saja yang duduk di kursi belakang.

Lalu tiba-tiba saja semuanya selesai. Orang-orang mulai membubarkan diri dari barisan, dan Ibu sambil menarik tanganku dan Adik berkata, “Ayo, Nak, kita pulang. Bapak Presiden sudah lewat.”
Wajah Adik langsung berubah cerah, sedangkan aku masih saja tak mengerti. “Bapak Presidennya mana, Bu? Kok aku belum melihatnya dari tadi?”
”Tadi sudah lewat kok, Sayang. Di dalam salah satu sedan gelap berkaca hitam itu. Ibu juga tak tahu dia di mobil yang mana. Tapi Ibu bangga, Bapak Presiden mau berkunjung ke kota kita. Bapak kalian mungkin nanti bisa melihat beliau langsung saat di pabrik nanti. Kita tunggu Bapak kalian pulang saja ya, mungkin nanti dia bisa bercerita banyak tentang Bapak Presiden.”
Malamnya ketika Bapak pulang, seingatku dia tak bercerita apapun tentang kunjungan Bapak Presiden pada hari itu. Atau barangkali ingatanku keliru, dan Bapak sungguh bercerita kepada kami semua, tapi aku saja yang sudah lupa.

Hingga malam kemarin, ketika aku membongkar salah satu kardus tua yang menumpuk di dalam gudang untuk mencari kotak Monopoli yang dibelikan Kakak ketika dia masih kuliah, lebih dari sepuluh tahun lalu, sebagai hadiah kenaikan kelas. Entah mengapa aku mendadak kangen untuk bermain Monopoli lagi, meskipun malam kemarin tak ada seorang pun yang bisa kuajak bermain. Begitu kubuka kardus tua itu, yang pertama kali kulihat adalah sebuah album prangko yang sudah kumal dan sedikit berdebu. Ah, jadi teringat hobi filateli yang kutekuni saat aku masih duduk di sekolah dasar. Malam kemarin, tak bisa kuingat kenapa kemudian aku berhenti mengoleksi prangko. Bisa jadi karena bosan. Kubuka sampul depan album, dan kubalik lembar demi lembar halamannya yang tebal. Tak sengaja, mataku tertuju pada deretan koleksi wajah Bapak Presiden dalam prangko. Seperti sebuah milestone saja, melihat serangkaian memorabilia yang seakan membawamu kembali ke masa lalu. Salah satunya yang kemudian mengingatkanku kembali pada satu siang ketika aku, Adik, dan Ibu berdiri di tepi jalan di bawah cahaya matahari yang panas dan terik, adalah wajah Bapak Presiden sedang mengenakan peci dan setengah tersenyum. Tahun yang tercantum di dalam prangko : 1974. Ah, jadi seperti ini ya wajah beliau ketika masih belum terlalu lanjut usia, demikian batinku berkata. Entah mengapa aku bisa lupa.

Yang masih kuingat sangat jelas, sampai Bapak Presiden meninggal beberapa tahun lalu, belum pernah sekalipun aku melihat sosoknya yang sudah berusia lanjut itu secara langsung dengan mata kepalaku sendiri.
Di dalam bayanganku, beliau hanyalah sesosok pria tua yang selalu tampak tersenyum lebar mirip meringis, yang kukenal lewat tayangan-tayangan di layar kaca. Atau dari koran Suara Karya yang dibagikan gratis dari kantor Bapak. Atau dari harian Kompas yang memang jadi langganan keluarga kami.
Hanya melalui siaran televisi sajalah, bisa kulihat jelas sosok Bapak Presiden. Dari tayangan-tayangan di layar kaca itu, beliau tampak jauh lebih dekat dan lebih akrab daripada hari itu, di siang yang panas terik ketika kami berdiri di tepi jalan dan sedan gelap berkaca hitam melaju kencang di depan kami semua.


Tuesday, January 27, 2009

Disco Will Not Be Here to Stay (Neither Will You)


This is where we’ve come to
After all these things we’ve gone through

This time I’m taking it away
It is you who have got a problem

I see you are lost in so many different ways
When the problems getting in the way

You told me they made you feel like being left out in darkness
Alone, by yourself
Where no one is around to help you
While in fact I was actually standing next to you, yet
Invisible
To your eyes

Do you know that love can easily come and pass you by ?
Do you realize that it can hit you hard and then you realize,
that it’s already slipping through your fingers out of your hands ?

But you just don’t understand

So this time I’m taking it away
So you won’t have to see the elevating pain,
As the hurt turns into hating

My mind’s done with you and everything about us

But still I have this one question burning inside,
“Since I’m here to stay, can I just throw you away?”

Saturday, October 18, 2008

At The Section of Forgotten Toys



At the section of forgotten toys
There is a lonely plastic doll in the form of a little girl
Standing alone inside its original wrapping
Still smiling even though its box are covered with dust and its colors gradually fading

It has been abandoned for almost all of its shelf life
Nobody wants any business with it but a little crippled girl
Who once visited the big toy store along with other similar looking children
Has only one arm, or one leg, or simply can not walk and has to be pushed away in wheelchairs

The little crippled girl picked the box with the plastic little girl doll standing alone inside
Her face gleamed with happiness and smile
“Hey, little pretty doll, how are you doing today?”
“My name is Molly and from now on, I want you to be my friend.”

But a grown up woman’s hand picked the box up from Molly’s hands
And return the plastic little girl doll to the shelf along with other plastic toys,
“Not this one, Molly. Because you are allowed to have a more beautiful doll than this.”
And ushered the little crippled girl away

The lonely plastic doll can not remember how long it stays on its shelf
Until one day a big hairy hand grabbed its box and throw it into the small steely cart
Where it stuck on the top and piled up with other deformed boxes of toys
And pushed away into the little dark room where the lights are seldom switched on
And there’s no blowing breeze from the air condition
Where the lonely little plastic girl doll remains untouched
For days, months and eventually, years

At the section of forgotten toys
There is a lonely plastic doll in the form of a little girl
Standing alone and yet it keeps smiling
Because it still remembers Molly,
The little crippled girl who hand-picked and kissed her box
And told her that she wanted to be her friend
Before she was ushered away

Monday, September 22, 2008

In The Darkness, You Stay


Words are never enough for me to say how much I miss you
Because you flew away from here too soon
It made me feel alone now without you

Yet every night when I close my eyes
I hear your voice so sweet and melancholy, just like an angel

Your words, they sing through me
Your voice, it brings you back
Here in the darkness of the starless nights
Back to where you belong

You are here even though you are gone
And I know that
Inside
You will always stay

Wednesday, January 16, 2008

Under The Darkly Night Sky




I have been walking lonely down this empty street tonight
I don’t know what is wrong with me
I have sung Fix You for myself to hear
But this voice trembled harder long before the end
The clouds cover up this darkly starless night sky
I don’t know what is left of me
Somehow I just don’t know what is right with me

Tried to keep my distance
That is what I have done lately
I have besmirched all our memories
But there will always be a trace of you inside me

I still remember some ups we had
You and me laughing at Spongebob and Patrick and the peculiar inhabitants of Bikini Bottom
You tried impersonating their quirky voices just to make me laughed harder
But the ones that tickled me much were your innocent childish smile
And those deep wells on both sides of your cheeks shown each time

And I fell in love with your calm assuasive clear eyes
How they led my battered and bruised self found the serenity within your soul
I will never forget how you pulled me towards you hugged me closely saved me from walking carelessly too close to the edge of sanity
And catered me security
And made me confessed indirectly that it was with you that I fell so much in love of this kind for the very first time

And then you whispered in your sweet husky voice,
“Don’t leave now. Because I need you just as polar bears need Arctic’s ice.”
“Let me in. Because I want to share this warmth within me so that you’ll never again feel that winter in your soul.”
“Hold my hand. Because you’re too precious to ever let go.”
“Stay with me. Because I love you as the night loves being accompanied by the stars and the moon.”
And each time I cried inside, you just knew
“Hush now. I don’t want you shed your precious little diamonds.”

I believe God sent you all the way from His beautiful Garden
As a true sign that He loves me that much
And how I felt so much blessed

But maybe those darkly starless night skies were changing you
Nights before we could ever met for the first time
And even though they put radiant diamonds in your eyes for me to admire at nights before I fall asleep
I will never understand why the same darkly starless night skies gradually changed your heart
To be as cold as those stones on the bank of the solitude lake we visited last monsoon

And I always thought we were going to make this through
You love me love you what else do we need?
“Nothing, just the two of us,” that was your answer the first and also the last time I asked

Yet still I wonder naively,
What things will hold together the loose knots of our relationship?
How I wanted to hear if first from you before holding my hand and lead us walking our life
If in the end you me go,
How many days am I going to regret you?
How many tears am I going to shed for you?

And how vast those darkly starless night skies I am going to look up to and not thinking of you?