Showing posts with label cars. Show all posts
Showing posts with label cars. Show all posts

Monday, August 17, 2009

Lupa, Lalu Teringat



Tadi pagi, sekali lagi aku lupa membawa kacamata, dan baru menyadarinya saat menyalakan komputer di kantor. Awalnya sempat mengalami kebingungan ketika melihat meja kerjaku, dan tidak menemukan kacamata yang biasanya kalau sedang tidak bertengger di pangkal hidung, tentu sedang tergeletak di atas meja di sebelah keyboard atau di atas mousepad. Satu-dua detik kemudian, baru kusadari kalau kacamata itu ketinggalan di atas meja di depan TV di kamar. Darn!

Ini adalah kejadian kedua dalam satu bulan belakangan ini. Tampaknya sudah menjurus ke stadium parah nih tingkat kelupaan yang ku-”derita”. Padahal kacamata kan jelas-jelas penting sekali bagiku untuk menunjang aktivitas kerja. Koq ya, bisa-bisanya ketinggalan? Itu nyaris seperti keluar rumah dan berjalan-jalan ke mall tapi lupa mengenakan celana dalam.

Aneh? Ternyata tidak juga.

Barusan akhir pekan lalu kualami di gym. Setelah membuka locker dan membuka kaos yang kukenakan untuk diganti dengan kaos khusus berolahraga, barulah tiba-tiba seakan bunyi ”tring!” berdenting di dalam batok kepala, dan aku tersadar kalau ketika bersiap-siap paginya, aku lupa memasukkan celana dalam ganti yang masih bersih ke dalam tas gym. Akhirnya, selesai gym aku pulang dengan going commando.

Beneran pulang? Tidak juga.

Aku malah sempat berjalan-jalan dulu ke sebuah trade center untuk mencari kaos-kaos murah untuk dipakai berolahraga atau sekedar santai saat akhir pekan.

Kata orang, jalan-jalan tanpa mengenakan celana dalam akan berasa adem sedikit.

Kataku? Tidak juga. Parno malah. Takut tiba-tiba mengalami kesialan dan celana robek, dan terpampanglah selangkangan ini. Uh, malu-maluin dan mudah-mudahan tidak akan pernah kejadian.

Tapi kalau kelupaan membawa kacamata dan celana dalam tadi sudah bisa disebut parah, lalu bagaimana dengan kejadian yang kualami pada suatu hari, ketika menjelang tengah hari baru aku menyadari bahwa aku lupa menarik risleting celana panjangku, sejak setelah buang air kecil pagi harinya persis sebelum berangkat keluar kamar?

Astaganaga!

Itu artinya, sepanjang kurang lebih satu kilometer perjalananku ke kantor dengan berjalan kaki dan selama sekian jam hingga aku menyadari kealpaan itu, risleting itu menganga terkewer-kewer?!?!

Rasanya panik dan sungguh malu.

Sepertinya memang tidak ada teman kantor yang memperhatikan "kondisi khusus" tersebut, tapi bagaimana dengan mereka pengguna jalan lainnya? Uff. Mudah-mudahan tak ada orang yang kukenal atau mengenaliku tadi saat aku melintas di depan kendaraan mereka dengan risleting celana yang belum terkaitkan. Mau ditransfer kemana mukaku ini nantinya?



*Image was taken from Allie is Wired The Entertainment Blog,
featuring extreme close up of Brad Pitt's unzipped pants
while he was promoting The Curious Case of Benjamin Button in France.

Friday, April 17, 2009

Sesosok Pria Yang Selalu Tampak Tersenyum



Kalau kita sudah ’terlanjur’ mengakrabi sosok seseorang di masa-masa ketika ia sudah tidak muda usia lagi, tentunya akan terasa sedikit aneh apabila kemudian melihat dari foto atau bentuk dokumentasi lainnya, bagaimana penampakan orang tersebut di masa muda.

Misalnya, sejak pertama kali aku bisa mengingat pun, rasanya Bapak sudah terlihat cukup tua. Mungkin saat itu umurnya sudah lebih dari empatpuluh tahun. Rambutnya sudah mulai memutih karena ubannya sudah tumbuh banyak, tapi dia mengakalinya dengan cat rambut hitam merk tancho.
Masih bisa pula kuingat piring kaleng kecil yang biasanya ia jadikan wadah untuk mengaduk formula tancho itu. Diameternya paling sekitar limabelas sentimeter, dengan ornamen dedaunan hijau dan kembang berwarna merah yang entah apa jenisnya dan telah berubah warna karena berulang-kali terkena tancho. Biasanya, Ibu lah yang mempersiapkan formula tancho itu, lantas menyemirkannya di kepala suaminya sambil mereka berdua asyik mengobrol entah tentang apa saja yang melintas di kepala.

Masih bisa juga kuingat, ketika aku bersama Adik dan Kakak ditemani Ibu berdiri di tepian jalan aspal, berbaris bersama ratusan orang lainnya.
Saat itu aku masih sangat kecil, belum lagi mulai masuk sekolah. Kakak tampak begitu bersemangat siang itu, dan memilih bergabung bersama teman-temannya yang tampak sibuk mengibar-ngibarkan bendera Merah Putih.
Ibu menggenggam tanganku dan Adik. Ibu bilang, kami berdiri di tepi jalan untuk menyambut kedatangan Bapak Presiden. Ibu tampak begitu bersemangat, sama seperti wajah semua orang yang berdiri di tepian jalan aspal itu. Adikku sedikit berbeda, wajahnya sedang cemberut, karena tadi dipaksa mandi dan bersiap-siap oleh Ibu, padahal dia masih ingin bermain dengan tentara-tentaraan plastik hadiah ulang tahun kami. Terkadang Adikku sering bertingkah konyol dan menyebalkan, tapi Ibu jarang memarahinya. Kakakku pernah bilang, itu karena Adik adalah anak bungsu di keluarga kami. Entah apa maksudnya ketika itu berkata demikian, dan baru ketika usiaku semakin bertambah barulah kupahami makna tersiratnya.

Orang-orang mulai ramai berteriak-teriak, dan ratusan tangan, entahlah berapa banyak persisnya, tapi ada terlihat begitu banyak tangan terangkat mengacung ke udara, dan ratusan bendera Merah Putih kecil-kecil terkibar dengan kencang dan bersemangat.
Siang itu rasanya sama seperti siang-siang sebelumnya. Langit masih tetap berwarna biru cerah, dan matahari tetap bersinar terik. Biasanya Ibu suka bawel kalau aku dan Adik serta teman-teman bermain sepak bola di lapangan saat panas terik begini. Ibu tak ingin kami terlihat dekil dan kumal, karena nanti Bapak akan marah dan menganggap Ibu tak becus mengurus anak-anaknya sendiri. Namun siang ini justru Ibu yang terlihat bersemangat meskipun keringatnya terlihat mengalir cukup deras.
Pasti ada yang tidak biasa hari ini, demikian pikirku. Siapapun Bapak Presiden itu, dia pasti penting sekali, sampai-sampai Ibu memakai salah satu baju terusannya yang masih relatif baru yang ia jahit sendiri untuk acara Natal tahun sebelumnya, dan kuperhatikan juga betapa berbedanya wajah Ibu saat itu. Ia mengenakan rias wajah sedikit, sesuatu yang tampak tidak biasa. Dan wajahnya tetap tersenyum, meskipun kulihat bajunya sudah mulai basah karena keringat.

Lalu aku mendengar bunyi sirene kencang mengaung-ngaung. Perhatianku langsung tertuju ke jalan, mencoba menyelip menyelinap untuk bisa melihat lebih jelas.
Ah, aku kesal sekali, terlalu banyak orang dewasa menghalangi pandanganku, padahal aku mau melihat lebih jelas kenapa ada sirene meraung kencang. Tapi Ibu tak mau melepas pegangannya di tanganku, meskipun sudah kutarik-tarik. Akhirnya aku mundur dan kembali merapat ke dekat kaki Ibu. Kesal, karena tak bisa melihat apapun selain orang-orang dewasa. Huh, kalau saja aku sudah lebih besar ..., demikian pikirku.

Tak lama, lewatlah berderet-deret motor tentara dengan sirene berbunyi kencang dan lampunya berwarna terang berkilatan. Gagah sekali rasanya naik motor seperti itu. Seperti para polisi di serial Chips yang biasa ditonton oleh Ibu dan Bapak dari siaran televisi Malaysia. Di belakang motor-motor itu ada mobil jip tentara, dan diikuti pula oleh beberapa sedan gelap berkaca hitam.
Semua orang tampak berteriak-teriak penuh semangat dan semakin histeris melambai-lambaikan bendera Merah Putih kecil yang berada di tangan masing-masing ke arah sedan gelap berkaca hitam itu. Aku tak mengerti, mobil siapa itu sebenarnya? Mana Bapak Presiden yang katanya mau lewat? Aku masih belum lagi melihatnya.
Tampak di belakang sedan gelap berkaca hitam yang melaju dengan sangat kencangnya itu, lewatlah entah berapa mobil lagi yang juga tak jelas siapa yang berada di dalamnya. Semuanya tampak berkaca gelap dan tak terlihat sedikit pun siapa-siapa saja yang duduk di kursi belakang.

Lalu tiba-tiba saja semuanya selesai. Orang-orang mulai membubarkan diri dari barisan, dan Ibu sambil menarik tanganku dan Adik berkata, “Ayo, Nak, kita pulang. Bapak Presiden sudah lewat.”
Wajah Adik langsung berubah cerah, sedangkan aku masih saja tak mengerti. “Bapak Presidennya mana, Bu? Kok aku belum melihatnya dari tadi?”
”Tadi sudah lewat kok, Sayang. Di dalam salah satu sedan gelap berkaca hitam itu. Ibu juga tak tahu dia di mobil yang mana. Tapi Ibu bangga, Bapak Presiden mau berkunjung ke kota kita. Bapak kalian mungkin nanti bisa melihat beliau langsung saat di pabrik nanti. Kita tunggu Bapak kalian pulang saja ya, mungkin nanti dia bisa bercerita banyak tentang Bapak Presiden.”
Malamnya ketika Bapak pulang, seingatku dia tak bercerita apapun tentang kunjungan Bapak Presiden pada hari itu. Atau barangkali ingatanku keliru, dan Bapak sungguh bercerita kepada kami semua, tapi aku saja yang sudah lupa.

Hingga malam kemarin, ketika aku membongkar salah satu kardus tua yang menumpuk di dalam gudang untuk mencari kotak Monopoli yang dibelikan Kakak ketika dia masih kuliah, lebih dari sepuluh tahun lalu, sebagai hadiah kenaikan kelas. Entah mengapa aku mendadak kangen untuk bermain Monopoli lagi, meskipun malam kemarin tak ada seorang pun yang bisa kuajak bermain. Begitu kubuka kardus tua itu, yang pertama kali kulihat adalah sebuah album prangko yang sudah kumal dan sedikit berdebu. Ah, jadi teringat hobi filateli yang kutekuni saat aku masih duduk di sekolah dasar. Malam kemarin, tak bisa kuingat kenapa kemudian aku berhenti mengoleksi prangko. Bisa jadi karena bosan. Kubuka sampul depan album, dan kubalik lembar demi lembar halamannya yang tebal. Tak sengaja, mataku tertuju pada deretan koleksi wajah Bapak Presiden dalam prangko. Seperti sebuah milestone saja, melihat serangkaian memorabilia yang seakan membawamu kembali ke masa lalu. Salah satunya yang kemudian mengingatkanku kembali pada satu siang ketika aku, Adik, dan Ibu berdiri di tepi jalan di bawah cahaya matahari yang panas dan terik, adalah wajah Bapak Presiden sedang mengenakan peci dan setengah tersenyum. Tahun yang tercantum di dalam prangko : 1974. Ah, jadi seperti ini ya wajah beliau ketika masih belum terlalu lanjut usia, demikian batinku berkata. Entah mengapa aku bisa lupa.

Yang masih kuingat sangat jelas, sampai Bapak Presiden meninggal beberapa tahun lalu, belum pernah sekalipun aku melihat sosoknya yang sudah berusia lanjut itu secara langsung dengan mata kepalaku sendiri.
Di dalam bayanganku, beliau hanyalah sesosok pria tua yang selalu tampak tersenyum lebar mirip meringis, yang kukenal lewat tayangan-tayangan di layar kaca. Atau dari koran Suara Karya yang dibagikan gratis dari kantor Bapak. Atau dari harian Kompas yang memang jadi langganan keluarga kami.
Hanya melalui siaran televisi sajalah, bisa kulihat jelas sosok Bapak Presiden. Dari tayangan-tayangan di layar kaca itu, beliau tampak jauh lebih dekat dan lebih akrab daripada hari itu, di siang yang panas terik ketika kami berdiri di tepi jalan dan sedan gelap berkaca hitam melaju kencang di depan kami semua.


Tuesday, January 13, 2009

A Dress That Could ...



otherwise buy you an SUV,
or a small yet nice house in some Asian countries (try suburban Jakarta!),
or even ...
feed a whole population of a mid-size village in rural Africa for a whole year.

Ah, life is so full of ironies.



This photograph of Anne Hathaway at The 66th Annual Golden Globe Awards,
wearing Swarovski crystal-encrusted Armani Prive gown,
is courtesy of omg!

Wednesday, December 10, 2008

A Father I Have Known



Up on the mountainous northern part of the mineral-rich and fertile island
There laid this little village inhabited by less than one hundred people
It had neither electrical supply, convenient store nor a gas station
The closest ones were forty minutes ride by car from that little village

The small old wooden houses in that little village were spread on the mountain
Going from one house to another to visit the neighbors need extra physical work
Walking minutes to hours on the dirt roads, because there’s no other way than that

So it was not to anyone’s amazement when the little village was bit by bit left crumbling
Witnessed by its natural inhabitants, the underage kids and the elderly who could say nothing

Just like my father who left the little village even before he turned thirteen
Because he had his own dreams, to build his own better future
Riding in shiny motorcycles and living in a brick house with big glass windows
Instead of sweating and straining his muscles cultivating the rice fields
And struggling with low temperature at nights that freezes your breaths into dews once you exhaled

Because back in the time when the Dutch still colonized those fertile lands
Of the mountainous northern part of the mineral-rich and fertile island
Everyone wants to be like the people in the big cities

Just like my father who saw those big cities
From the thirty-five millimeters celluloid projected on large white fabric functioned as screen
Together with his peers and hundred others on that big grassy field
In the little town thirty minutes ride by car from his own village

That’s what people did back then to have some fun
That’s how my father got his inspirations and dreams for a better future
That’s also where and when he saw my mother for the very first time
That’s also why he left his parents in their old wooden house up on the mountain

Because he had his own dreams and he had fought to make them came true

So here I am now standing
Mere couple of years before turning thirty
And recently realized that
Probably, I was one of his many dreams but
Obviously he never told me that in words

He didn’t have to do it so simply because I already knew

Everytime I came home and hugged him
He hugged me back
The mutual feelings shared without any words being exchanged

I know I have to make it right this time to pay him back and make him proud





Note:
The old photograph posted above was taken from a Singaporean's blog.

Monday, March 31, 2008

It’s The Heart That Matters Most



"Oh, take a look around you can see that it's true
It's like a river flowing inside of you

Everyone needs love, you need it too

So here's what you have got to do"



Rasanya sudah menjadi pengetahuan khalayak ramai bahwa akhir pekan di Bandung belakangan ini sudah tidak lagi menyenangkan, dalam artian lalu-lintasnya – khususnya di jalan-jalan protokol seperti di Dago dan sekitarnya – cenderung mengalami kemacetan total. Perpindahan dari satu titik ke titik lainnya yang biasanya dalam kondisi lalu-lintas hari biasa hanya memakan waktu maksimal 10 menit, di akhir pekan bisa berubah menjadi 1 jam. Terkadang bahkan lebih! Gila!

Apalagi sejak menjamurnya factory outlet di kota ini, semakin banyak wisatawan asal Jakarta maupun dari daerah lainnya, yang datang hanya untuk menghabiskan uang dengan shopping, shopping and more shopping.

Meskipun selalu bikin orang-orang yang lewat jadi sakit hati dan sakit kaki (khusus dialami oleh mereka yang menyetir), agak sedikit susah juga jika harus menuding para wisatawan pembelanja ini sebagai biang segala macam kerepotan yang ditimbulkan oleh kemacetan. Serba salah, karena bahkan dengan berhitung kasar dan rada asal-asalan pun, diperkirakan setiap akhir pekan terjadi transaksi senilai minimal ratusan rupiah hingga miliaran rupiah, itu hanya dari belanja fashion. Belum termasuk jajan makanan dan oleh-oleh serta tol.

Menurutmu hal ini bagus buat perekonomian Bandung? Tidak juga. Biaya ekonominya tinggi! Hitung saja pemborosan waktu dan bahan bakarnya. Belum lagi ‘sakit jiwa’ yang ditimbulkan akibat stress menghadapi kemacetan.

Oleh karena itu, apapun jenis hiburan yang bisa ditemukan sepanjang jalan saat tengah bete terkena macet, pastilah akan sangat menyenangkan dan membantu mengatasi kepenatan yang mendera.

Sebagaimana hari Sabtu terakhir di bulan Agustus lalu. Aku bersama dengan tiga orang teman lainnya sedang ‘rusuh’ karena terjebak kemacetan seusai menghadiri penyelenggaraan wisuda di universitas negeri dengan jumlah mahasiswa terbanyak di Jawa Barat. Saat itu, jalan-jalan benar-benar padat, sehingga jarak yang hanya kurang lebih 100 meter terpaksa ditempuh dalam waktu nyaris satu jam!

Macet akibat acara wisuda di kampus ini yang masih terletak di seputaran area Dago, ditambah macet akibat tumpukan kendaraan para wisatawan yang ingin berbelanja, menimbulkan neraka lalu-lintas kemacetan pangkat dua. Menyebalkan!

Untuk mengantisipasi rasa kesal yang mulai menumpuk dan sembari menantikan kemacetan ini mulai terurai, kami berempat ribut bercanda. Mulai dari gossip-gosip tidak penting sampai main tebak-tebakan yang juga sama tidak pentingnya.

Saat itulah aku melihat satu momen yang – setidaknya buatku pribadi – indah dan mengesankan.

Di antara deretan mobil berbagai jenis dan merk serta tahun produksi yang saling merapat nyaris bumper to bumper, di antara sekian banyak orang yang lebih memilih untuk turun dari angkutan kota dan berjalan kaki meski berisiko terpapar kepulan asap knalpot melewati barisan mobil yang entah sampai kapan baru akan bisa melepaskan diri dari neraka kemacetan ini, kami berpapasan dengan dua orang ibu yang sedang menaiki sebuah vespa.

Rasanya tidak akan ada yang istimewa pada dua sosok ibu tersebut, jika kita tidak memperhatikan pakaian yang mereka kenakan. Si ibu yang mengemudikan vespa memakai busana muslimah, jilbab yang tampak serasi dengan bajunya. Duduk membonceng di belakangnya, adalah seorang biarawati tua yang mengenakan kalung salib yang terlihat jelas menggantung di dadanya. Mereka berdua tampak mengobrol akrab sambil tersenyum-senyum, barangkali sedang membicarakan sesuatu hal yang lucu sekali bagi mereka.


"Spread a little hope, make the spirits rise
Do you see the wonder in their eyes

Time to speak of love, hold each other close

Cause it's the heart that matters most"



“Hey! Coba deh liatin kedua ibu itu!” kataku pada ketiga orang temanku yang saat itu tengah seru-serunya tertawa. Tawa mereka segera berhenti saat melihat kedua orang ibu tersebut, dan mereka bertiga terdiam sejenak.

Lalu kudengar Fitra menggumam pelan, “Wah, indah banget ya ...”

Saat itulah sempat kuperhatikan ketiga orang temanku sedang tersenyum ke arah kedua orang ibu tersebut, meskipun aku yakin mereka berdua tidak akan dapat melihat senyuman kami yang terhalang oleh lapisan film kaca mobil.

Karena masih belum bisa melewati deretan mobil yang seakan-akan tidak bergerak sama sekali, tampak si ibu biarawati kemudian turun dari jok belakang dan berjalan agak lambat ke depan untuk melihat situasi arus lalu lintas. Tangannya memberikan tanda kepada setiap pengemudi mobil yang ia lewati, seakan-akan meminta izin agar ia dan temannya diberikan kesempatan untuk lewat. Sedangkan si ibu berjilbab mencoba mendorong maju vespanya menyelip di celah antara mobil-mobil, berusaha mengikuti gerak langkah si ibu biarawati.

Sayang sekali, kami tidak sempat mengikuti dengan pandangan mata apakah mereka berdua berhasil melewati kemacetan tersebut, karena tiba-tiba saja mobil yang berada di depan kami mulai bergerak maju. Langsung saja Aryo ikut menjalankan kembali mobilnya mengikuti pergerakan lalu-lintas.

Saat itu kusadari bahwa kami berempat masih terdiam sejenak. Barangkali kami semua masih memikirkan kedua orang ibu tadi. Lalu kudengar Helen berkomentar pelan, “Coba ya kalau kita semua bisa begitu ...”

Aku tersenyum.
Bukankah kami sudah mencobanya?

Kami berempat berteman dekat. Tanpa memandang latar-belakang yang berbeda. Salah satu dari kami asli keturunan Jawa dengan silsilah keturunan ningrat. Satu lagi keturunan Palembang-Arab, meskipun dibesarkan di luar Indonesia. Yang lain keturunan Jawa-Sunda, sejak lahir hingga lulus sekolah menengah tinggal di Jakarta, jadilah salah satu impiannya adalah berjalan telanjang kaki di pematang sawah. Dan satu lagi adalah keturunan raja-raja Tapanuli bercampur sedikit darah Eropah, namun dilahirkan di ranah Melayu. Salah satu dari kami telah menunaikan rukun Islam kelima dengan naik haji ke Makkah. Dan yang lain memeluk agama Kristen.

Sebagai sekumpulan teman dekat, kami tentu pernah merasakan pahit-manisnya persahabatan. Namun kami tidak pernah menjadikan perbedaan di antara kami sebagai sumber perselisihan. Bisa jadi kami sesungguhnya memiliki persamaan pandangan dengan kedua orang ibu tadi.

Andai saja kita semua bisa mengikuti keteladanan persahabatan kedua orang ibu di atas vespa itu tadi, dengan menerima segara perbedaan yang ada di antara setiap individu, dan tidak menjadikannya sebagai satu masalah yang terkadang cenderung dibesar-besarkan, bukankah hidup ini akan jadi lebih baik?


"In time we come to learn
It's the heart that matters most"




- Ide penulisan It’s The Heart That Matters Most didapat ketika sedang terjebak kemacetan seusai upacara wisuda Universitas Padjadjaran, 30 Agustus 2003. Judul tulisan dan kutipan pendukung di dalamnya berasal dari lirik lagu Charlotte Church dengan judul yang sama -