Showing posts with label motorcycle. Show all posts
Showing posts with label motorcycle. Show all posts

Wednesday, December 10, 2008

A Father I Have Known



Up on the mountainous northern part of the mineral-rich and fertile island
There laid this little village inhabited by less than one hundred people
It had neither electrical supply, convenient store nor a gas station
The closest ones were forty minutes ride by car from that little village

The small old wooden houses in that little village were spread on the mountain
Going from one house to another to visit the neighbors need extra physical work
Walking minutes to hours on the dirt roads, because there’s no other way than that

So it was not to anyone’s amazement when the little village was bit by bit left crumbling
Witnessed by its natural inhabitants, the underage kids and the elderly who could say nothing

Just like my father who left the little village even before he turned thirteen
Because he had his own dreams, to build his own better future
Riding in shiny motorcycles and living in a brick house with big glass windows
Instead of sweating and straining his muscles cultivating the rice fields
And struggling with low temperature at nights that freezes your breaths into dews once you exhaled

Because back in the time when the Dutch still colonized those fertile lands
Of the mountainous northern part of the mineral-rich and fertile island
Everyone wants to be like the people in the big cities

Just like my father who saw those big cities
From the thirty-five millimeters celluloid projected on large white fabric functioned as screen
Together with his peers and hundred others on that big grassy field
In the little town thirty minutes ride by car from his own village

That’s what people did back then to have some fun
That’s how my father got his inspirations and dreams for a better future
That’s also where and when he saw my mother for the very first time
That’s also why he left his parents in their old wooden house up on the mountain

Because he had his own dreams and he had fought to make them came true

So here I am now standing
Mere couple of years before turning thirty
And recently realized that
Probably, I was one of his many dreams but
Obviously he never told me that in words

He didn’t have to do it so simply because I already knew

Everytime I came home and hugged him
He hugged me back
The mutual feelings shared without any words being exchanged

I know I have to make it right this time to pay him back and make him proud





Note:
The old photograph posted above was taken from a Singaporean's blog.

Tuesday, October 7, 2008

Untukmu, Bayu


Mudik sudah menjadi semacam tradisi yang sangat identik dengan perayaan Idul Fitri di negara ini. Dan setiap tahunnya, saat jelang pekan-pekan terakhir bulan Ramadhan, minggu Eid-al-Fitr hingga kurang-lebih tujuh hari setelahnya, semua stasiun televisi nasional seakan saling berlomba memberikan laporan terbaru dan terkini berkaitan dengan pergerakan massal arus manusia musiman ini.

Sama seperti tengah malam ini, ketika Selasa tanggal tujuh Oktober belum lagi berusia tigapuluh menit. Aku belum lagi terlelap, dan memang disengaja, karena baru saja menghabiskan sepotong muffin rasa coklat. Selain karena ingin memberikan sedikit waktu ekstra bagi pencernaanku untuk bekerja menyesuaikan diri dengan asupan kalori sebanyak itu di waktu yang tidak biasa, adalah juga karena ingin menyaksikan siaran berita. Biasanya tengah malam begini adalah jam-jamnya beberapa stasiun televisi menyiarkan kabar dan peristiwa terkini. Belakangan ini aku memang selalu berusaha agar jangan sampai ketinggalan informasi terkait negeri carut-marut bernama Indonesia ini, meskipun seringkali menonton siaran berita kulakukan sembari mengerjakan aktivitas lainnya (multitasking), mulai dari menggunting kuku sampai membaca buku.

Dan sebagaimana program-program berita yang dipancarteruskan sejak beberapa minggu lalu, malam ini juga ada satu segmen khusus liputan tentang hal-ihwal arus mudik. Salah satu laporannya ketika itu membuatku menghentikan aktivitas menyimak bagian prolog sebuah memoir.

Terpampang penuh di layar kaca, seorang anak lelaki yang tengah menangis sesenggukan, wajahnya di-shoot full close-up. Oleh sang narrator, dikabarkan ke pemirsa bahwa si bocah lelaki bernama Bayu Pramana ini tak bisa berhenti menangis melihat kedua orang-tuanya sudah tergeletak bersimbah darah tak lagi bernyawa di tepi jalan, tepatnya di daerah Jembrana, Bali. Tragisnya, pasangan suami-istri itu tewas di depan mata anak mereka sendiri, dalam perjalanan mereka bertiga kembali ke rumah dari mudik di Banyuwangi.

Saat melintasi jalan raya Gilimanuk-Denpasar, sepeda motor yang dikemudikan oleh si ayah tak sengaja menabrak bagian jalan yang tidak rata, yang kemudian mengakibatkan ia dan istrinya terjatuh ke jalan, sedangkan anaknya Bayu terpental ke rerumputan di pinggir jalan. Malang tak dapat ditolak, maut langsung menyambar nyawa ayah dan ibu Bayu ketika sebuah bis antarkota – yang hingga berita ditayangkan oleh redaksi Kabar Malam tvone belum berhasil diidentifikasikan – yang tengah melaju kencang persis di belakang sepeda motor keluarga tersebut, tak sempat menghindar dan langsung melindas pasangan suami istri tersebut hingga tewas seketika. Si sopir bis segera melarikan diri meninggalkan pasangan tersebut, dan anak mereka, Bayu Pramana yang baru berusia 10 tahun, menangis histeris melihat nasib tragis yang menimpa kedua orangtuanya.

Bisa kubayangkan betapa shock-nya Bayu, melihat dengan mata kepalanya sendiri kedua orang-tuanya meninggal dengan cara yang sedemikian mengerikan. Mungkin di tengah kekalutan pikiran dan perasaannya saat itu, bisa jadi Bayu masih belum memikirkan perubahan drastis dalam hidupnya. Bahwa sejak detik terjadinya kecelakaan itu, dia menjadi sebatang kara di dunia. Yatim piatu. Dan yang lebih menyakitkan lagi, almarhumah ibunya ketika meninggal tengah hamil anak kedua, calon adik Bayu. Libur Lebaran si bocah yang dimulai dengan manis, terpaksa berakhir sedemikian tragis dengan cara paling buruk yang mungkin terjadi, dengan sebuah tragedi yang akan terus dibawa di dalam ingatannya dan meninggalkan jejak trauma di jiwanya.

Untukmu, Bayu Pramana, bocah kecil yang baru berusia sepuluh warsa, yang nasibnya berubah secara tragis pada hari Senin siang tanggal enam Oktober, semoga kamu diberi kekuatan dan ketabahan hati. Akan kupanjatkan doa untukmu malam ini.