Showing posts with label dream. Show all posts
Showing posts with label dream. Show all posts

Monday, November 29, 2010

Never Enough




You’re the best love I ever had
You’re my companion during the quiet nights
You’ve become the part of my lifetime of dreaming
Thought I could be your lover, your friend, your brother
Oh what a waste, when your love fades so quick like it’s blown away in midsummer storm

Where can you be?
The thief of my heart
Make me feel like a king again
Happy again
Wipe away my tears and ease my pain

Come back, come back, return to this warm embrace
Because I’d never had enough

Thursday, April 1, 2010

Mereka yang Ditaklukkan


Masih kuingat pagi itu udara sedikit berkabut. Jarum panjang jam baru bergerak menuju angka satu. Hampir pukul enam lewat lima. Sekali dua terdengar celotehan ayam dari halaman tetangga sebelah, saat aku melangkahkan kaki keluar pagar bergegas menuju wartel dekat kos. Rencananya, pagi ini aku mau menelepon Ibu.

Ruangan di dalam wartel itu sendiri agak gelap karena lampu-lampunya sudah dimatikan. Barangkali agar menghemat tagihan listrik, pikirku. Si akang yang bertugas jaga pagi itu sedang sibuk menyapu lantai dengan sapu ijuk butut yang sudah terlihat botak. Sejak pertama kali menggunakan jasa wartel ini hampir dua tahun lalu, sepertinya sapu itu tak pernah berganti. Dengan sapu sebutut itu dan lampu yang sudah dimatikan, bagaimana mungkin dia bisa betul membersihkan lantai semen telanjang tanpa tegel di wartel ini? Ah biarlah, dia pasti sudah tahu itu. Mungkin saja tujuannya bukan betul-betul untuk membersihkan, melainkan agar tubuhnya sedikit bergerak dan ada yang bisa dia lakukan. Pasti membosankan sekali pekerjaan menunggu wartel semacam ini setiap hari.

”A dead end job”, demikian istilah yang baru kudengar dari satu film Amerika yang cakram padat digitalnya kami sewa duaribu rupiah perkeping dari persewaan di dekat gerbang kampus. Artinya kurang lebih adalah pekerjaan membosankan yang tak butuh kemampuan intelektualitas mumpuni untuk bisa menyelesaikannya sehingga tak semua orang mau melakoninya, jikalau tidak karena terpaksa. Tapi apalagi yang bisa dilakukan penduduk asli sekitar sini selain ’melayani’ kami, para pendatang yang lebih beruntung dari mereka? Penduduk asli di sini tidak lebih dari sekelompok masyarakat agraris yang sudah lama ditaklukkan. Bidang-bidang tanah yang dulu mereka jadikan sumber pendapatan sudah lama berpindah tangan ke penguasa. Bidang tanah yang harus kuakrabi selama empat tahun agar beroleh selembar surat sakti yang kuharap dapat membukakan lebih banyak pintu peluang, demi bisa makan enak dan naik mobil mahal. Agar aku tidak berakhir sama seperti penduduk asli tempat ini yang cukup mengambil posisi jadi penonton di tepian, hanya bisa melongo melihat kemajuan melaju cepat meninggalkan mereka.

Hanya ada tiga bilik kecil di wartel itu. Bilik pertama dikhususkan untuk panggilan lokal. Pesawat teleponnya tak bisa dipergunakan untuk menelpon keluar kode wilayah nol-dua-dua, apalagi menghubungi telepon selular. Tak kumengerti mengapa diatur demikian. Padahal kalau bilik pertama itu difungsikan sama seperti dua bilik lainnya, tentu akan lebih besar pemasukan yang diterima. Bilik kedua ternyata ada orangnya. Karena pintunya hanya kaca transparan, bisa kulihat jelas seorang perempuan muda sedang menunduk, kepalanya ditumpukan di telapak tangan. Kulihat angka tarif yang terus bergerak bertambah banyak di depan perempuan itu. Wah, sudah lebih dari tigapuluhribu rupiah. Pasti dia sudah lama tersambungkan, paling tidak limabelas menit. Anehnya, tak kudengar perempuan itu berkata sepatahpun. Mungkin dia sedang diminta menunggu oleh lawan bicaranya.

Bilik ketiga kosong, langsung aku masuk dan memutar nomer telepon rumah. Dinding pelapis yang memisahkan setiap bilik dibuat hanya dari selembar triplek menjadikan pembicaraan apapun yang terjadi di bilik sebelah, bisa terdengar jelas. Meskipun begitu, masih tak kudengar suara dari situ. Namun aku memang sedang berkonsentrasi pada nada panggil di teleponku. Lama sekali tak ada jawaban, karenanya kukembalikan gagang telepon itu ke tempatnya.

Baru pada saat itulah aku mendengar suara aneh di bilik sebelah. Suaranya sedikit mendesah. Lamat-lamat seperti orang sedang menangis. Ah, tak mungkin, batinku. Baru jam enam pagi dan sudah menangis sesedih itu? Ada anggota keluarga yang berpulang, barangkali? Pasti hidupnya sepanjang sisa hari itu akan terasa menyesakkan. Kasihan. Tapi sesungguhnya aku tak ikhlas bersimpati. Soalnya tak kukenal perempuan itu. Setidaknya, bagian belakang tubuhnya yang sempat kulihat itu tak kukenali.

Perempuan itu terdengar begitu susah berbicara. Barangkali karena dia harus menelan tangisnya sebelum bisa mengucap kata, itu pun masih ada isakan-isakan menjeda. ”Kamu kok bisa-bisanya begitu sama aku?” ... hiks ... ”Padahal ...” hiks hiks ”padahal kan aku sudah penuhin semua mau kamu ...” hiks sroot terdengar bunyi ingus yang disedot kembali ke liang hidung hiks lagi ... ”Kamu harusnya ngerti posisi aku juga dong. Gak bisa ...” hiks hiks ”gak bisa kayak gini terus.”

Satu tanganku yang sudah kembali menempelkan gagang telepon di telinga dan satu lagi yang sedang memencet-mencet nomor telepon rumah mendadak berhenti. Wah! Pagi-pagi sudah drama! Ini pasti salah satu kisah asmara yang sedang dilanda prahara. Buset, bahasaku tujuhpuluhan banget ya. Karena terlalu berkonsentrasi dengan suara-suara haru-biru di bilik sebelah, sejenak aku lupa kalau nomor telepon yang kutuju belum kugenapi. Artinya, belum selesai kutekan seluruhnya. Sampai tahun jadi tigabelas bulan juga tak bakal panggilan itu tersambungkan.

Kucoba mengulangi urutan nomor telepon Ibu, sambil telingaku yang bebas difokuskan untuk menguping. Lalu tiba-tiba ...

”Halo?”

Ah, Ibu!

”Hai hoi. ... bla bla bla”, langsung aku mencerocos. Kebiasaanku memang seperti itu setiap kali menelepon ke rumah. Tak kuanggap perlu memperkenalkan diri. Tugas orang-tua lah untuk mengenali suara anak-anaknya. Kali itu pembicaraanku dengan Ibu hanya berlangsung sebentar. Saat kuletakkan kembali gagang telepon, tarif panggilan yang harus kubayarkan tak lebih dari sepuluhribu rupiah. Saat keluar dari bilik nomor tiga itu, kulihat bilik sebelah masih diisi sosok perempuan yang sama, masih dengan pose duduk yang sama. Melihatnya, seolah waktu sempat berhenti, atau jalannya pelan sekali. Bedanya, kali ini tarif bicara yang harus dia bayarkan sudah lebih dari limapuluhribu. Buset, cewek ini pasti sedang menghubungi nomor telepon selular. Pemborosan luar biasa, kalau dia justru nyaris tak berbicara, lebih banyak diam dengan selingan isakan yang ditahan.

Usai melunasi kewajiban pada si akang penjaga wartel, kulangkahkan kaki keluar dan melihat ke kiri kanan. Biasanya ada akang penjual bubur ayam yang lewat membawa pikulannya jam segini. Ah, sayang sekali sosoknya belum kelihatan. Barangkali aku kepagian? Kalau begitu aku balik saja dulu ke kamarku dan tidur lagi. Kuliah hari ini baru mulai jam sepuluh, masih ada waktu untuk kembali menodai bantalku dengan tetesan air liur dari mulutku yang membuka kala tidur. Hah! Jorok? Biarin!

Sembari berjalan kembali pikiranku tertuju pada sosok yang kutemui di wartel pagi itu. Bukan, bukan si perempuan. Sejujurnya, aku tak terlalu peduli padanya. Membuka hati agar bisa ditaklukkan cinta, tentu ada akibatnya. Sakit hati, terluka dan patah hati adalah resiko yang harus siap ditanggung kalau berani menjalin hubungan asmara. Istilahnya, kalau takut jatuh dan luka, jangan mencoba naik sepeda. Berjalan kaki saja terus, dan jadilah penonton saat kehidupan melaju cepat meninggalkanmu.

Yang kupikirkan adalah si akang itu. Pikiran yang diselubungi rasa curiga. Bisa jadi, sebenarnya saat sedang menyapu lantai itu, dia sedang berpura-pura sibuk agar tak kentara sedang mencuri dengar pembicaraan perempuan di bilik nomor dua. Bisa jadi, pembicaraan-pembicaraan semacam itu menjadi selingan, memberi warna beda dalam hidupnya yang monokrom kala menjaga wartel. Bisa jadi, setelah menutup wartel malam itu dan kembali bertemu keluarganya, si akang akan punya cerita untuk dituturkan sembari menyeruput kopi tubruk dan mengisap sebatang rokok kretek. Ah, sebuah gambaran hidup yang terlalu klise, tapi sepertinya cocok dengan si akang. Bisa jadi, di usianya yang mungkin hanya bertaut kurang dari satu windu denganku, pintu-pintu peluang sudah lama tertutup rapat baginya. Dan bisa jadi, pintu-pintu yang masih bisa dia buka dengan leluasa hanyalah pintu-pintu wartel yang punya tiga bilik telepon itu. Pintu-pintu yang hanya kami, para mahasiswa pendatang seperti aku, buka kala hendak berbagi cerita pada keluarga dan kerabat, atau ketika menuturkan rencana dan mimpi-mimpi kepada para sahabat. Hanya sisa-sisa napas dan aroma keringat kami saja yang akan bisa dirasakan si akang ketika membuka pintu-pintu itu. Sedangkan semua cerita dan mimpi yang sempat terucap kami bawa pergi bersama langkah-langkah kami kala meninggalkan wartel dengan tiga bilik itu. Sempat tergelitik imajinasiku untuk bertanya pada si akang penjaga wartel, ”Bagaimana rasanya menjalani hidup sebagai penonton mimpi-mimpi orang lain?” Tapi kuyakin dia akan tergeragap, tak akan dia bisa berikan jawaban atas pertanyaanku itu.

Saat berjalan kaki pulang menuju kos, aku berpapasan dengan seorang bapak tua bercaping dan berpakaian lusuh kotor, sedang memikul cangkul yang terlihat sama tuanya dengan keriput di wajahnya. Dengan basa-basi kuanggukkan kepala dan kupajang seulas senyuman di wajah saat berselisih jalan dengan bapak itu. Satu suara kecil namun tajam berkelebat di dalam benak, ”Ini dia satu lagi orang yang sudah ditaklukkan. Bahkan mungkin dia menggunakan cangkul tuanya itu untuk mengubur mimpi-mimpinya satu persatu.”





Illustration image courtesy of Sam Luce

Wednesday, February 17, 2010

Jamie, je t'aime


Dear Jamie,
Let’s meet up by the red telephone booth at the corner of Madison and Grand
From there we can go to our favorite Deli,
where we can eat French fries dipped in lots of ketchup and mayonnaise

“What will you do when you graduate?” ask I.

“Move into Osaka, and watch the Sakura trees blossom.”
“Or enroll to an Ivy League university, so that after I graduate, I can apply to a prestigious company and get handsome salary.”
“Or perhaps I’ll go to Tibet, and becoming a monk.”
“But I’m always curious to try joining the United Nations Volunteers and helping Darfur refugees.”

“But definitely not staying here, because my dreams are too big for this town.”

Oh wait, I hold my breath, why didn’t you tell me that before?

Because Jamie,
I always picture you as someone who I have always wanted to share my life with,
Who will hold my hands and hug me close whenever I needed familiar warmth,
Who will be the first person I see each morning when I wake up.

Can’t you see Jamie,
That’s always the way I feel about you and me.

Thursday, June 18, 2009

Liburan di Bali, Film Indonesia Anyar dan Cerpen Monster Klasik



Hari ini Dia terbang ke Bali. An early weekend getaway, sekalian untuk merayakan hari jadi Sang Bunda, yang katanya sudah lebih dari satu dekade tidak pernah menginjakkan kakinya di Pulau Dewata. Untuk itulah dia sudah merancang secara khusus liburan kali ini. Rencananya, Dia akan menginap di Ayana Resort. Mudah-mudahan dia dan Sang Bunda bisa sangat menikmati kunjungan mereka ke Bali kali ini.

Jadi teringat, bulan lalu aku mengikuti quiz pembaca sebuah majalah khusus pria, yang hadiah utamanya trip dengan akomodasi dua malam di Ayana Resort tersebut. Mudah-mudahan kali ini keberuntungan menghampiriku, dan hadiah utama yang tampaknya begitu menggoda itu bisa kudapatkan. Kalau menang, akan kuajak Dia lagi menghabiskan akhir pekan berdua di sana. Seru!

Nah, itu rencanaku kalau menang. Lebih tepatnya: angan-angan. Namun bagaimana dengan rencana jangka singkatku untuk akhir pekan ini? Secara, lagi temporarily single (though still unavailable, hehe...).

Tadi pagi sudah kuajak Bradley untuk menonton film Indonesia teranyar, baru rilis secara luas hari ini. Judulnya: Garuda Di Dadaku. Menilik dari promo trailer-nya sih, tampak menarik. Sebelnya, Bradley bilang dia harus menghadiri sebuah meeting terlebih dahulu, yang dijadwalkan mulai jam delapan malam di Plaza Senayan. Itu artinya, Bradley baru bisa nonton saat jam pertunjukan terakhir. Ah, terlalu malam!, pikirku. Tapi kita lihat saja nanti, siapatahu aku merubah pikiran dan memutuskan untuk bergabung dengannya.

For this time being, dan sembari menunggu konfirmasi ulang dari Bradley, mungkin akan lebih baik apabila aku menyelesaikan terlebih dahulu bacaanku yang sempat tertunda beberapa hari ini. Sebuah cerpen karangan Ray Bradbury, The Fog Horn, yang menjadi inspirasi cerita film monster The Beast From 20,000 Fathoms.

I enjoyed watching the movie adaptation so much, because The Beast was so huge, scary, crashing cars under its feet and stomped people to death. What’s not to savor about it?? After all, it’s a monster movie.

I wonder if the short story could also give the same delectation. I certainly hope so.



Wednesday, April 15, 2009

Will You ?


Half closed, these dreamy eyes of mine
Hallucinating, I saw you in between the graceful sunflowers
Whirling and dancing like the spinning wheel
Your hearty laughs fill the air with excitement
It feels like you’re just within arms reach, so close I can smell your sweet perfume

If I asked you then would you say yes?

If I tell you now will you ever believe me?

And if I say “I’ll love you forever” will you wait for my return?

Monday, April 6, 2009

Is Now The Time To Move On ?


I need to move on with my life.
I don’t want to be stuck here forever, the place which started to feel like a comfort zone.
Do I have to change my job?
Looking at things which happened these latter days, the answer is probably: Yes.
But the future might be bleak, having no money and living by yourself here in this cruel city that reserve no sympathy for people who has no money or resources.
And I don’t want to beg for job to my friends or relatives, and definitely, NOT money, from anyone.
Do I have guts to follow the path of one of my best friend, who resigned from her promising position in her office, and follow her dreams of becoming a writer?
The answer for this time is probably: No.
Gosh, I am oh so confused now.

Tuesday, December 23, 2008

Of Wishes and Dreams



Within those long nights when everything seems to go wrong
I had these strange dreams that keep recurring
That I hid behind this certain thicket fence
And see the world through different eyes
It rushes and left me alone silently watching

I need someone to help me figure these dreams out
What they mean when they kept rushing right through my life
And let me playing with my tears before they dried in the sun

It seems like years
I don’t think you will ever be coming back for more
At first I was afraid to set you free
Even when I know that’s the way things should be

Now let me kiss away the pain of our old memories
And stop trying to make sense of everything
Just look beyond ourselves so we can survive
Through the dreams and reminiscences

If you still have doubt, let the night decide
Because I still have this one wish,
To kiss you tenderly to sleep

Wednesday, December 10, 2008

A Father I Have Known



Up on the mountainous northern part of the mineral-rich and fertile island
There laid this little village inhabited by less than one hundred people
It had neither electrical supply, convenient store nor a gas station
The closest ones were forty minutes ride by car from that little village

The small old wooden houses in that little village were spread on the mountain
Going from one house to another to visit the neighbors need extra physical work
Walking minutes to hours on the dirt roads, because there’s no other way than that

So it was not to anyone’s amazement when the little village was bit by bit left crumbling
Witnessed by its natural inhabitants, the underage kids and the elderly who could say nothing

Just like my father who left the little village even before he turned thirteen
Because he had his own dreams, to build his own better future
Riding in shiny motorcycles and living in a brick house with big glass windows
Instead of sweating and straining his muscles cultivating the rice fields
And struggling with low temperature at nights that freezes your breaths into dews once you exhaled

Because back in the time when the Dutch still colonized those fertile lands
Of the mountainous northern part of the mineral-rich and fertile island
Everyone wants to be like the people in the big cities

Just like my father who saw those big cities
From the thirty-five millimeters celluloid projected on large white fabric functioned as screen
Together with his peers and hundred others on that big grassy field
In the little town thirty minutes ride by car from his own village

That’s what people did back then to have some fun
That’s how my father got his inspirations and dreams for a better future
That’s also where and when he saw my mother for the very first time
That’s also why he left his parents in their old wooden house up on the mountain

Because he had his own dreams and he had fought to make them came true

So here I am now standing
Mere couple of years before turning thirty
And recently realized that
Probably, I was one of his many dreams but
Obviously he never told me that in words

He didn’t have to do it so simply because I already knew

Everytime I came home and hugged him
He hugged me back
The mutual feelings shared without any words being exchanged

I know I have to make it right this time to pay him back and make him proud





Note:
The old photograph posted above was taken from a Singaporean's blog.

Thursday, November 20, 2008

Yearning For More ...


It is 30 minutes past 1 AM already.
Thursday, November 20th, 2008.

After facing my personal computer in this darn office for over 12 hours, I start to imagining things,
That I’m already sleeping soundly on my comfortable bed and dreaming about electronic sheep and a paradise on earth where I don’t have to work my ass for miniature income until such wee hours.

Sleep, nothing that I crave more than it now.




Friday, November 14, 2008

menggumam pelan

dan ketika kubuka mataku pagi tadi tak lagi kutemukan dirimu terlelap di sampingku membuatku sadar bahwa hari-hari itu telah silam dan harusnya tak lagi kuharap kembali tapi entahlah mungkin aku sudah terlalu terbiasa menatap senyummu yang menghiasi wajah meskipun aku tahu pikiranmu sedang berkelana dan kuyakin sudah lama hal itu kamu ketahui dari caraku menatapmu setiap kali kita bertatap pandang yakinlah bahwa aku masih sayang.

Sunday, June 29, 2008

Kirim Aku Bunga


Yap! Betul banget kalau dugaanmu seperti itu. Yang jadi judul entry kali ini diambil dari judul lagu salah satu group band terkeren negeri ini, Slank. Seperti biasa dengan lagu-lagu band ini, lirik lagu "Kirim Aku Bunga" emang asyik dan bermakna dalam getoh. Terus apa dong hubungannya dengan apa yang mau kutulis sekarang ini? Ga terlalu berkorelasi positif sih, soalnya cuma lagi pengen aja ngambil frase yang catchy gitu yang ada kata "bunga"-nya. Karena menurut petunjuk Bapak Presiden, hehehe ... – maaf ya Pak Harmoko yth., your era has long gone, cuma rada garing-garing kocak aja kalo balik ke masa jadul itu – anyway, sebenarnya yang mau aku sampaikan, menurut saran dari Bapak Stefan, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia-ku di era sekolah menengah dulu, kalau mau tulisannya dibaca harus bisa menarik perhatian (calon) pembaca, dan itu tentunya butuh judul yang okeh. Jadilah kupakai judul semacam di atas itu. Nah, terus sekarang mau ngomongin apaan seh, you may ask. Sebenarnya sih memang mau ngomongin soal bunga. Tapi bukan bunga yang tumbuh-tumbuhan itu, karena tulisan ini ga ada kaitannya dengan tangkai kelopak putik benang sari dan segala macamnya itu, tapi mau ngrasani bunga yang artis itu. Iyaaa, yang juga ngetop dengan nama panggilan BCL. Sudah pada tahu dongs. Nah pertanyaannya sekarang, apa yang mau dibahas dari dara manis-manis manja group ini? (Disclaimer: BCL bukan merupakan salah satu anggota kwartet dangdut era 90-an awal itu) Satu hal yang rada-rada kurang penting juga sih. Masa semalam tuh aku mimpi, mimpi aneh sekali. Apa isinya? Sudah ga terlalu penting, dan emang rada-rada lupa juga apa persisnya, jadi ga perlu juga ditanyain karena ga bakalan dapat jawaban. Cuma garis besarnya doang yang masih bisa direka ulang. Jadi begini ceritanya ... (*dengan mimik serius a la narasumber serial cerita horor yang dulu sempat ngetop di RCTI*) Masa ya dalam mimpi aneh itu, aku ternyata berhubungan cukup dekat dengan si Bunga ini. Kurang lebih ya seperti orang pacaran gitu lah hubungannya, rutin nge-date dan semacamnya. Rada ga penting ya menurut kamu, secara BCL sekarang lagi seru-serunya dikabarkan berpacaran dengan cowok Malaysia itu? Ya terserah. Menurut aku sih jadi patut dipertanyakan saja mengapa bisa sampai demikian, soalnya ini adalah mimpi bersama selebriti-ku yang pertama, setidaknya dalam hitungan 3-4 tahunan belakangan ini. Dan dari sekian banyak artis atau selebritis yang pernah kubersua baik karena urusan pekerjaan maupun akibat pergaulan metropolis, atau yang hanya sekedar pernah lihat lewat layar kaca, masa yang dipilih alam bawah sadarku untuk dimimpikan adalah Bunga? Padahal ketemu BCL di Kemang juga waktu itu hanya karena kebetulan basa-basi belaka. Ngobrol juga engga kejadian. Makanya jadi aneh aja. Nah yang bikin bingung bin heran bin tak kuasa untuk berkata-kata, adalah karena di dalam mimpi itu ya, aku bisa sampai menganggap di antara kami berdua ada hubungan khusus, karena - lupa bagaimana awal mulanya - mendadak saja di dalam sebuah ruangan seperti rumah mewah gitu, si Bunga ini marah-marah kepadaku kaya akting dalam sinetron gitu, awalnya pakai mata melotot-lotot dan suara kenceng, tapi terus dia reduced to tears, nangis sesenggukan gitu. Terus aku jadi merasa sangat bersalah dan buat menenangkan Bunga, kurengkuh tubuhnya dan kupeluklah dia. Ciee ciee ... Jadi kaya adegan di film-film romantis ga penting itu, menangis di dalam pelukan. Abis itu aku terbangun dengan perasaan bingung dan penasaran karena akibat terbangun mendadak itu malahan jadi ga tau lanjutan mimpinya gimana. Adakah kiranya teman-teman yang membaca entry ini yang bisa membantuku mencari-tahu atau bahkan bisa bantu beri jawabannya ga? Mungkin kalau sudah kondisi penasaran kaya gini, bukan Bunga yang kubutuhkan - secara ga mungkin aja kan yaaa ..., plus ntar masuk infotainment pula - tapi berikan saja aku Yusuf. Bukan sembarang Yusuf, apalagi Yusuf anak Dokter Roland Siregar itu, karena aku saat ini justru sedang refer to that prophet yang memiliki kemampuan menafsirkan mimpi. Buat yang beragama Yahudi, Kristen maupun Islam (atau dibesarkan dengan mendapatkan pendidikan salah satu dari ketiga agama tersebut), tentu mengerti Yusuf mana yang aku maksud. Namun untuk bisa mendapatkan akses personal ke kedua sosok yang telah disebut di atas sama-sama impossible, yah minimal siapalah gitu yang punya kemampuan juga untuk tafsir mimpi bisa menolongku? Tapi please jangan suruh aku merujuk pada sumber-sumber literatur karya Sigmund Freud, apalagi mengharap dapat jawaban dari pembaca primbon yang minta sesajen kembang tujuh rupa (jadi teringat Suzanna di film Hantu Ambulance) atau sejenisnya. Karena yang terakhir itu lebih ga mungkin lagi secara emang ga percaya getoh. Tapi kalau bisa sih, jangan Ida juga yang tampil dan menawarkan bantuan sukarela, secara dia lebih sering tidak tepat dalam mengartikan mimpi aneh-aneh yang kualami (maaf ya, da!). Tapi menurut kamu yang baca entry ini, aneh ga sih kalau aku sampai mimpiin Bunga? Mudah-mudahan saja tidak yaa ...

Monday, June 16, 2008

Once Upon a Time, In The Galaxy Far Far Away


First time I heard that George Lucas has planned to release yet another Star Wars installment this summer, I was like, “Whoa?! Dude, can’t you make something else?”

I mean, ... seriously!

In my opinion, orang ini bahkan lebih parah daripada James Cameron yang sesudah menikmati sukses luar biasa – so-called artistic maupun komersil – lewat film legendaris Titanic, lantas tidak pernah menghasilkan satu produk film apapun that is worth to mention, ever since.

Bayangkan saja, sejak Star Wars pertama kali sukses menyerbu layar bioskop di seluruh dunia – yang kemudian entah karena aku yang terlalu bodoh untuk dapat memahaminya atau Lucas yang terlalu pintar (and too greedy?) untuk menggesernya jadi Episode IV: A New Hope – pada tahun 1977, His Excellency Lucas hanya menghasilkan Star Wars dan segala-macam derivatifnya (if you can’t say spin-offs) plus dapat credit untuk pembuatan Indiana Jones (and for this latter, he also did just the same pattern with Star Wars).

Bolehlah dulu banget aku kagum dengan ”kegilaan”-nya sehingga menghasilkan satu sub-culture baru yang sangat fenomenal, that is Star Wars. Tapi sekarang?!?

Di mataku, George Lucas tampaknya tidak lebih daripada seorang teman kakakku saat sekolah menengah yang diberi nilai 9 oleh guru Seni Rupa karena melukis gambar kucing dengan sangat bagusnya, dan sejak saat itu setiap ada tugas membuat lukisan, teman kakakku ini selalu mengulangi gambar kucingnya dengan pose yang sama. Bedanya cuma pada sentuhan warna atau beberapa detail kecil tidak signifikan yang ditambahkan ataupun dikurangi. Tujuannya jelas: biar bisa terus dapat nilai 9 sebagaimana lukisan kucingnya yang pertama.
Meskipun Mr. Lucas melakukannya dalam tataran yang jauh lebih besar dan luas daripada teman kakakku ini sehingga rasanya tidak pantas untuk dikomparasikan, tapi tetap saja mereka tampak sebelas-duabelas, alias mirip-mirip aja tuh.
Perbedaan mendasar palingan adalah karena George Lucas melakukan ini semua karena ketamakan, bayangkan saja berapa puluh (-ratus ?) juta dolar yang dihasilkannya dari lisensi dan franchise Star Wars ini?

Mungkinkah sebenarnya Mr. Lucas ini semacam Evil Genius in the Closet – atau Discreet Evil Genius – karena dengan kepiawaiannya mengolah konflik Star Wars, dia bisa meraup kekayaan sedemikian banyak yang kemudian bisa untuk membangun ranch superluas, perusahaan super besar, dan entah apa lagi.

Awalnya, kupikir hanya diriku saja yang menganggap trilogy Star Wars yang kemudian dijadikan prequel ini bagaikan steak dari daging kualitas jelek dan dimasak dengan cara yang salah lantas ditutupi dengan begitu banyak saos barbeque untuk menyarukan kehancuran rasa aslinya, sehingga lantas menonton film ini bagaikan penyia-nyiaan waktu dan sumberdaya lainnya, until I found this online article maupun dari responses terhadap article ini.
Whoa! That means I am totally not alone in sharing this idea. Ha! Ha! Ha!

Masih belum bisa dilupakan perasaan dongkol dan kesal seusai menonton Star Wars Episode III : Revenge of the Sith sekitar tiga tahun yang lalu. Bayangkan saja, legendary saga selama 3 dekade itu ternyata bermula dari sebuah mimpi atau penglihatan seorang Anakin Skywalker yang sesungguhnya tidak bisa diandalkan !!

Setelah merasa mual melihat adegan mesra-mesraan a la Bollywood di Episode II antara Anakin dan Amidala yang berlari-larian di padang rumput Tatooine dan berguling-gulingan mesra, rasanya sudah seharusnya penonton pintar mempersiapkan diri menyaksikan salah satu kisah cinta paling jelek yang pernah ditampilkan di film-film terbesar Hollywood !

Ada yang perhatikan bahwa ‘penglihatan’ Anakin Skywalker tentang Padme Amidala yang kesakitan pada saat melahirkan itu sebenarnya tidak pernah lengkap ?

Gosh! I mean, if I were him, yang akan kulakukan pertama kali setelah meyakini bahwa penglihatan tersebut bukan hanya sekedar bunga tidur adalah memasukkan Amidala ke dalam semacam perawatan intensif di klinik eksklusif.
Masa sih di galaxy far far away yang sudah mampu membuat robot dan pesawat luar angkasa secanggih itu, angka kematian ibu melahirkan tidak bisa dicegah dan ditekan menjadi nihil ??
Masa mereka tidak mengenal teknologi “jaman dulu” bernama bedah Caesar, yang must be performed jika ternyata proses persalinan normal dianggap akan membahayakan nyawa ibu dan atau bayi yang akan dilahirkannya ?
Jadi, jika saja Anakin berpikir lebih jernih dan bijaksana, maka sebenarnya ia bisa menyelamatkan nyawa istrinya, pujaannya, his center of universe, melalui teknologi bedah tercanggih yang jauh lebih oke dan menjanjikan daripada bedah Caesar yang pastinya telah dikuasai oleh para tenaga medis (robot maupun manusia) di sistem perbintangan yang telah mengenal teknologi yang jauh lebih modern daripada yang dikenal para penghuni galaksi Bimasakti, tanpa perlu terpengaruh bujukan syaitan Chauncellor Palpatine untuk masuk ke dalam pengaruh ‘dark side’ untuk menjadi Darth Vader, tanpa perlu mengakibatkan pemusnahan seluruh Orde Jedi, tanpa perlu memicu tragedi yang mengakibatkan penderitaan puluhan tahun in the galaxy far, far away …

Gosh ! Weren't we all being fooled for all this time by George Lucas ??

As for me now, Cher masih jauh lebih inovatif daripada George Lucas.
Setidaknya, selama kurang lebih empat decade berkarya di bidang entertainment, Cher mencetak paling sedikit satu album no.1 dan single no.1 di chart Billboard setiap 10 tahun, complete with her four different and distinctive looks. Not to mention kemampuan aktingnya yang berbuah Grammy, Oscar, Emmy (you see, politics are not so different than acting).
Perhaps, they should make Cher queen of this so-called galaxy far far away. Toh, selera fashion-nya sudah memadai untuk pergaulan standar intergalactic relations. Seperti yang terlihat di bawah ini.


See?! Cher already has all that!!

Nilai plus lainnya, telah terbukti bahwa Cher bisa mempertahankan eksistensinya (and in some specific moments, even domination!) di arena hiburan pop yang jauh lebih rentan terhadap perubahan mengikuti trend dibandingkan dunia politik.
Bayangkan saja sendiri, eksistensi dan "ketenaran" Cher selayaknya diperbandingkan dengan para 'aktor' dunia politik yang notabene dilabeli dikator, semacam Fidel Castro dan Moammar Khaddafi!

So what else do we have to say, other than ...

"Long live the Queen! Hail Cher!"