Showing posts with label crying. Show all posts
Showing posts with label crying. Show all posts

Thursday, April 1, 2010

Mereka yang Ditaklukkan


Masih kuingat pagi itu udara sedikit berkabut. Jarum panjang jam baru bergerak menuju angka satu. Hampir pukul enam lewat lima. Sekali dua terdengar celotehan ayam dari halaman tetangga sebelah, saat aku melangkahkan kaki keluar pagar bergegas menuju wartel dekat kos. Rencananya, pagi ini aku mau menelepon Ibu.

Ruangan di dalam wartel itu sendiri agak gelap karena lampu-lampunya sudah dimatikan. Barangkali agar menghemat tagihan listrik, pikirku. Si akang yang bertugas jaga pagi itu sedang sibuk menyapu lantai dengan sapu ijuk butut yang sudah terlihat botak. Sejak pertama kali menggunakan jasa wartel ini hampir dua tahun lalu, sepertinya sapu itu tak pernah berganti. Dengan sapu sebutut itu dan lampu yang sudah dimatikan, bagaimana mungkin dia bisa betul membersihkan lantai semen telanjang tanpa tegel di wartel ini? Ah biarlah, dia pasti sudah tahu itu. Mungkin saja tujuannya bukan betul-betul untuk membersihkan, melainkan agar tubuhnya sedikit bergerak dan ada yang bisa dia lakukan. Pasti membosankan sekali pekerjaan menunggu wartel semacam ini setiap hari.

”A dead end job”, demikian istilah yang baru kudengar dari satu film Amerika yang cakram padat digitalnya kami sewa duaribu rupiah perkeping dari persewaan di dekat gerbang kampus. Artinya kurang lebih adalah pekerjaan membosankan yang tak butuh kemampuan intelektualitas mumpuni untuk bisa menyelesaikannya sehingga tak semua orang mau melakoninya, jikalau tidak karena terpaksa. Tapi apalagi yang bisa dilakukan penduduk asli sekitar sini selain ’melayani’ kami, para pendatang yang lebih beruntung dari mereka? Penduduk asli di sini tidak lebih dari sekelompok masyarakat agraris yang sudah lama ditaklukkan. Bidang-bidang tanah yang dulu mereka jadikan sumber pendapatan sudah lama berpindah tangan ke penguasa. Bidang tanah yang harus kuakrabi selama empat tahun agar beroleh selembar surat sakti yang kuharap dapat membukakan lebih banyak pintu peluang, demi bisa makan enak dan naik mobil mahal. Agar aku tidak berakhir sama seperti penduduk asli tempat ini yang cukup mengambil posisi jadi penonton di tepian, hanya bisa melongo melihat kemajuan melaju cepat meninggalkan mereka.

Hanya ada tiga bilik kecil di wartel itu. Bilik pertama dikhususkan untuk panggilan lokal. Pesawat teleponnya tak bisa dipergunakan untuk menelpon keluar kode wilayah nol-dua-dua, apalagi menghubungi telepon selular. Tak kumengerti mengapa diatur demikian. Padahal kalau bilik pertama itu difungsikan sama seperti dua bilik lainnya, tentu akan lebih besar pemasukan yang diterima. Bilik kedua ternyata ada orangnya. Karena pintunya hanya kaca transparan, bisa kulihat jelas seorang perempuan muda sedang menunduk, kepalanya ditumpukan di telapak tangan. Kulihat angka tarif yang terus bergerak bertambah banyak di depan perempuan itu. Wah, sudah lebih dari tigapuluhribu rupiah. Pasti dia sudah lama tersambungkan, paling tidak limabelas menit. Anehnya, tak kudengar perempuan itu berkata sepatahpun. Mungkin dia sedang diminta menunggu oleh lawan bicaranya.

Bilik ketiga kosong, langsung aku masuk dan memutar nomer telepon rumah. Dinding pelapis yang memisahkan setiap bilik dibuat hanya dari selembar triplek menjadikan pembicaraan apapun yang terjadi di bilik sebelah, bisa terdengar jelas. Meskipun begitu, masih tak kudengar suara dari situ. Namun aku memang sedang berkonsentrasi pada nada panggil di teleponku. Lama sekali tak ada jawaban, karenanya kukembalikan gagang telepon itu ke tempatnya.

Baru pada saat itulah aku mendengar suara aneh di bilik sebelah. Suaranya sedikit mendesah. Lamat-lamat seperti orang sedang menangis. Ah, tak mungkin, batinku. Baru jam enam pagi dan sudah menangis sesedih itu? Ada anggota keluarga yang berpulang, barangkali? Pasti hidupnya sepanjang sisa hari itu akan terasa menyesakkan. Kasihan. Tapi sesungguhnya aku tak ikhlas bersimpati. Soalnya tak kukenal perempuan itu. Setidaknya, bagian belakang tubuhnya yang sempat kulihat itu tak kukenali.

Perempuan itu terdengar begitu susah berbicara. Barangkali karena dia harus menelan tangisnya sebelum bisa mengucap kata, itu pun masih ada isakan-isakan menjeda. ”Kamu kok bisa-bisanya begitu sama aku?” ... hiks ... ”Padahal ...” hiks hiks ”padahal kan aku sudah penuhin semua mau kamu ...” hiks sroot terdengar bunyi ingus yang disedot kembali ke liang hidung hiks lagi ... ”Kamu harusnya ngerti posisi aku juga dong. Gak bisa ...” hiks hiks ”gak bisa kayak gini terus.”

Satu tanganku yang sudah kembali menempelkan gagang telepon di telinga dan satu lagi yang sedang memencet-mencet nomor telepon rumah mendadak berhenti. Wah! Pagi-pagi sudah drama! Ini pasti salah satu kisah asmara yang sedang dilanda prahara. Buset, bahasaku tujuhpuluhan banget ya. Karena terlalu berkonsentrasi dengan suara-suara haru-biru di bilik sebelah, sejenak aku lupa kalau nomor telepon yang kutuju belum kugenapi. Artinya, belum selesai kutekan seluruhnya. Sampai tahun jadi tigabelas bulan juga tak bakal panggilan itu tersambungkan.

Kucoba mengulangi urutan nomor telepon Ibu, sambil telingaku yang bebas difokuskan untuk menguping. Lalu tiba-tiba ...

”Halo?”

Ah, Ibu!

”Hai hoi. ... bla bla bla”, langsung aku mencerocos. Kebiasaanku memang seperti itu setiap kali menelepon ke rumah. Tak kuanggap perlu memperkenalkan diri. Tugas orang-tua lah untuk mengenali suara anak-anaknya. Kali itu pembicaraanku dengan Ibu hanya berlangsung sebentar. Saat kuletakkan kembali gagang telepon, tarif panggilan yang harus kubayarkan tak lebih dari sepuluhribu rupiah. Saat keluar dari bilik nomor tiga itu, kulihat bilik sebelah masih diisi sosok perempuan yang sama, masih dengan pose duduk yang sama. Melihatnya, seolah waktu sempat berhenti, atau jalannya pelan sekali. Bedanya, kali ini tarif bicara yang harus dia bayarkan sudah lebih dari limapuluhribu. Buset, cewek ini pasti sedang menghubungi nomor telepon selular. Pemborosan luar biasa, kalau dia justru nyaris tak berbicara, lebih banyak diam dengan selingan isakan yang ditahan.

Usai melunasi kewajiban pada si akang penjaga wartel, kulangkahkan kaki keluar dan melihat ke kiri kanan. Biasanya ada akang penjual bubur ayam yang lewat membawa pikulannya jam segini. Ah, sayang sekali sosoknya belum kelihatan. Barangkali aku kepagian? Kalau begitu aku balik saja dulu ke kamarku dan tidur lagi. Kuliah hari ini baru mulai jam sepuluh, masih ada waktu untuk kembali menodai bantalku dengan tetesan air liur dari mulutku yang membuka kala tidur. Hah! Jorok? Biarin!

Sembari berjalan kembali pikiranku tertuju pada sosok yang kutemui di wartel pagi itu. Bukan, bukan si perempuan. Sejujurnya, aku tak terlalu peduli padanya. Membuka hati agar bisa ditaklukkan cinta, tentu ada akibatnya. Sakit hati, terluka dan patah hati adalah resiko yang harus siap ditanggung kalau berani menjalin hubungan asmara. Istilahnya, kalau takut jatuh dan luka, jangan mencoba naik sepeda. Berjalan kaki saja terus, dan jadilah penonton saat kehidupan melaju cepat meninggalkanmu.

Yang kupikirkan adalah si akang itu. Pikiran yang diselubungi rasa curiga. Bisa jadi, sebenarnya saat sedang menyapu lantai itu, dia sedang berpura-pura sibuk agar tak kentara sedang mencuri dengar pembicaraan perempuan di bilik nomor dua. Bisa jadi, pembicaraan-pembicaraan semacam itu menjadi selingan, memberi warna beda dalam hidupnya yang monokrom kala menjaga wartel. Bisa jadi, setelah menutup wartel malam itu dan kembali bertemu keluarganya, si akang akan punya cerita untuk dituturkan sembari menyeruput kopi tubruk dan mengisap sebatang rokok kretek. Ah, sebuah gambaran hidup yang terlalu klise, tapi sepertinya cocok dengan si akang. Bisa jadi, di usianya yang mungkin hanya bertaut kurang dari satu windu denganku, pintu-pintu peluang sudah lama tertutup rapat baginya. Dan bisa jadi, pintu-pintu yang masih bisa dia buka dengan leluasa hanyalah pintu-pintu wartel yang punya tiga bilik telepon itu. Pintu-pintu yang hanya kami, para mahasiswa pendatang seperti aku, buka kala hendak berbagi cerita pada keluarga dan kerabat, atau ketika menuturkan rencana dan mimpi-mimpi kepada para sahabat. Hanya sisa-sisa napas dan aroma keringat kami saja yang akan bisa dirasakan si akang ketika membuka pintu-pintu itu. Sedangkan semua cerita dan mimpi yang sempat terucap kami bawa pergi bersama langkah-langkah kami kala meninggalkan wartel dengan tiga bilik itu. Sempat tergelitik imajinasiku untuk bertanya pada si akang penjaga wartel, ”Bagaimana rasanya menjalani hidup sebagai penonton mimpi-mimpi orang lain?” Tapi kuyakin dia akan tergeragap, tak akan dia bisa berikan jawaban atas pertanyaanku itu.

Saat berjalan kaki pulang menuju kos, aku berpapasan dengan seorang bapak tua bercaping dan berpakaian lusuh kotor, sedang memikul cangkul yang terlihat sama tuanya dengan keriput di wajahnya. Dengan basa-basi kuanggukkan kepala dan kupajang seulas senyuman di wajah saat berselisih jalan dengan bapak itu. Satu suara kecil namun tajam berkelebat di dalam benak, ”Ini dia satu lagi orang yang sudah ditaklukkan. Bahkan mungkin dia menggunakan cangkul tuanya itu untuk mengubur mimpi-mimpinya satu persatu.”





Illustration image courtesy of Sam Luce

Tuesday, February 3, 2009

dengan sederhana


aku ingin bisa mencintaimu seutuhnya dengan caraku yang begitu sederhana
ingin kubisa membuatmu tertawa menangis berteriak bercinta dalam satu nafas kita yang sama
sehingga ketika jemariku bertaut kau berada dalam sentuhannya
dan ketika kupejamkan kelopak mata aku melihat sosokmu seutuhnya
dan ketika aku berbicara ada kehangatan jiwamu memancar lewat setiap suku kata
karena aku sungguh ingin bisa mencintaimu seutuhnya dengan caraku yang amat sederhana



- sedikit banyak diinspirasikan oleh salah satu puisi Sapardi Djoko Damono

Tuesday, September 16, 2008

Gone


Sometimes,
My mind still wandered
Thinking about how our relationship used to be
Before our love is gone

We were so entwined in our lies,
Surrounded by this make believes

I should have known the road we chose would run out on us

Can you tell me now what are we supposed to do?
After all that you and I have been through,
When everything that once felt so right now turns wrong,
Now that our love is gone

Our relationships last for years, but
I didn’t really know what to call you,
And to me,
You didn’t know me at all

I know you feel so hurt inside,
As I do feel just the same,
But if you still want to go on,
We need to find another reason

We have got to find another reason to hold:

Is it ...
Love?

You always seem to know where to find me
Yet I’ll never really learn how to love you

There is nothing left between us to prove,
Don’t see any reason to deny this simple truth.
I can’t find any reasons to keep holding on,
Now that our love is gone

So I need you tell me,
How many ways can we stand there in playback?
How did we end up standing here,
While I stared at you crying underneath the clear blue sky?

There’s nothing left for us to say

It’s time to move and go separate way,
Now that our love is gone.


Friday, May 16, 2008

"Kueh Nastar Paling Enak di Kampung Sini"



"Terimakasih, sudah kenyang!", "Terimakasih, sudah kenyang!", demikianlah ucapan tersebut terdengar berulang-ulang dalam iklan margarin Blue Band versi Lebaran tahun ini. Adegannya memperlihatkan satu keluarga kecil yang terdiri dari ayah-ibu dan seorang anak lelaki kecil yang setiap kali ditawari makanan ringan dalam kunjungan silaturahmi Lebaran mereka selalu menolak dengan halus.

Kenapa eh kenapa, mereka selalu menolak tawaran makanan ringan itu? batinku memprotes.

Sebel banget, sementara tahun ini aku kan ga bisa berlebaran ke rumah siapapun, jadi ga bisa makan ketupat dan opor ayam, apalagi makan kueh-kueh kering berkalori tinggi favoritku!

Menu sehari-hariku saat libur Lebaran ini ya hanya berupa camilan ringan biskuit atau menu khas a la mahasiswa ngekost. Don't bother to tell, I know you can easily guess :-p

Eh, pas lagi pencet-pencet remote TV, kebetulan pas lagi ada Bajaj Bajuri. Episode spesial Lebaran.

Momennya pas banget kali ya. Jadinya malah teringat waktu menghabiskan tiga akhir pekan pertama bulan Ramadhan bersama Billy. Kita selalu berbuka bersama – meskipun aku tidak berpuasa – dengan makan kolak pisang buatannya sendiri sambil tertawa bersama melihat tingkah polah kocak dan kekonyolan khas sinetron Bajuri.
Sebenarnya kolak buatan Billy tidak pernah stabil rasanya. Kadang kala terlalu manis, terkadang nyaris hambar, karena saat mengolahnya, Billy selalu meminta aku yang mencicipinya. Semua masakannya saat aku di situ memang disesuaikan dengan seleraku. Dan “masalah”-nya, aku sendiri tidak pernah bisa yakin 100% dengan kemampuan indra pengecapku. Ha!
Yang pasti, rasa masakan Billy tidak boleh terlalu asin karena nanti bisa membuat aku minum terus sampai kembung untuk hilangkan rasa kering di lidah yang kemudian bisa mengakibatkan aku bolak-balik ke toilet dan mungkin akan mengganggu tidurnya pada malam harinya.
Tidak boleh juga terlalu manis karena sesudah menyantapnya aku akan menjadi hiperaktif, atau yang lebih parah, membuatku mengantuk dan tertidur hanya setengah jam setelah makan.
Apapun masakannya, tidak boleh terasa pedas, karena memang Billy tidak tahan rasa pedas (yang sebenarnya membuatku heran bagaimana cara dia waktu itu bisa bertahan hidup di India selama setahun dan kemudian di Meksiko selama nyaris 6 bulan).

Namun karena aku sudah hampir setahun ini selalu menghindari konsumsi gula, lidahku pun sudah beradaptasi untuk mengecap semua makanan bergula sebagai 'terlalu manis'.
Jadi ketika aku melihat perubahan ekspresi wajah Billy setelah menyuapkan sendok pertama kolak tersebut ke dalam mulutnya, saat itu juga aku sadar ada yang keliru dengan rasanya.
Kumasukkan suapan pertama ke dalam mulutku. Hmmm, memang tidak manis, kolak tanpa jejak rasa gula.
Aku langsung merasa malu dan meminta maaf, tapi dengan tersenyum manis Billy menghiburku, ga apa-apa kok, katanya, emang ga baik juga kalau mengkonsumsi terlalu banyak gula. Toh aku juga sudah siapkan teh manis untuk kita, katanya untuk menghiburku.
Lalu dia berjalan ke meja dapur dan mengambil dua buah mug berisikan teh dilmah yang masih mengepulkan asap, dan memberikan satu padaku.

Sudah pas kan manisnya rasa teh ini? tanya Billy. Sudah kok, jawabku. Sudah pas manisnya semanis senyum kamu.
Kulihat Billy jadi tersenyum malu. Kamu itu ya, suka banget menggoda aku, protesnya.
Melihat ekspresi malu-malu di wajahnya, aku cuma tertawa ha ha ha … namun saat itu pikiranku melayang pada Bradley yang pernah beberapa kali 'menuduhku' sebagai seorang "lelaki penggoda profesional". Atau bahkan, terkadang tanpa menyadarinya, sinyal-sinyal yang dipancarkan oleh gerakan tubuh dan ekspresi wajahku seakan menggoda lawan bicaraku. Tapi itu kata Bradley, yang meskipun merupakan salah satu sahabatku, terkadang ucapannya tidak bisa diandalkan.

Kembali ke cerita Bajaj Bajuri episode spesial Lebaran, Said dan Ucup yang ingin wisata boga selama Lebaran memutuskan mendatangi rumah Mpok Minah terlebih dahulu dalam rangkaian 'tur' mereka. Alasan utama mereka berdua sangatlah sederhana.
Lo kan tau sendiri, Cup, demikian Said, kalo kue nastarnya mpok Minah itu udah terkenal paling enak di kampung sini!
Lalu pergilah mereka berdua untuk berlebaran ke rumah Mpok Minah, dan kekocakan pun terjadi saat Said dan Ucup rebutan menghabiskan isi stoples kue nastar, sembari berpura-pura bersalaman dengan Mpok Minah untuk meminta maaf.

Kamu lg dmn &ngaps? Aku lg nontn Bajuri, crtny Said&Ucup rbutan nastar. Jd pengen nastar jg, tp lg ga ada yg bisa kukunjungi skrg. Kangen. [Message sent to Billy. Message delivered to Billy]

Mudah-mudahan KartuHalo-nya diaktifkan untuk roaming internasional, pikirku.
Semoga SMS-ku diterima Billy yang tentunya saat ini sedang berkumpul bersama keluarga besarnya di Penang, kepulangannya ke rumah orangtuanya untuk pertamakalinya setelah ayahnya meninggal empat tahun lalu.

[1 new message received]
Me 2. Ada nastar kok d rmh. Nxt wiken kamu datang yah. Hugz.

Aku tersenyum lebar. Billy juga tidak terlalu menggemari makanan ringan yang manis-manis. Merusak gigi, katanya. Selain itu dia berusaha untuk tidak menambah besar lingkar pinggangnya, dan itu artinya cuma satu: diet. Plus dia selalu senang jika melihat aku makan dengan lahap. Itu artinya, dia pasti akan membiarkan aku menghabiskan nastar miliknya. Hehehe …

"Terimakasih, sudah kenyang!" Ah, iklan itu lagi. Namun kali ini perhatianku tertuju pada bentuk-bentuk lucu kue kering yang terpampang di layar kaca. Ada yang berbentuk bintang, ada yang menyerupai bulan sabit.
Tapi tidak ada kue ulat, batinku sambil kembali tersenyum lebar.

Biasanya kue ulat favoritku dan saudaraku Matt baru tersedia di rumah dua minggu menjelang Natal. Ketika masih duduk di sekolah dasar, kami berdua selalu tidak sabar menanti datangnya Natal dan Tahun Baru, karena itu artinya datangnya masa-masa istimewa, bisa makan enak dan banyak.

Bolu sarang lebah. Lontong sayur. Agar-agar pelangi. Bolu pandan. Ayam kampung panggang.
Makanan yang sepertinya kini tampak sederhana namun di kala itu terasa begitu istimewa, karena memang hanya dihidangkan pada saat-saat istimewa bersama seluruh anggota keluarga.

Waktu itu menjelang akhir dekade 1980-an. Saat itu anggota keluarga kami masih lengkap dan punya tradisi untuk selalu berkumpul bersama di rumah menjelang Natal. Biasanya aku dan Matt dibiarkan Ibu bermain-main apa saja yang sedang kami ingin mainkan, dan biasanya kami bermain perang-perangan bersama anak-anak sekompleks. Sesekali ketika mulai merasa haus, aku atau Matt menyelinap masuk ke dapur untuk minum, sembari mata kami sibuk mencari-cari benda apa saja yang bisa dimakan.
Jika kami sedang beruntung, di atas meja di dalam loyang masih tersusun kueh-kueh kering yang baru selesai dipanggang. Biasanya kalau sudah melihat pajangan itu, aku dan Matt akan mencoba mengambil kueh-kueh tersebut langsung dari loyangnya, yang seringkali masih panas karena baru saja dikeluarkan dari dalam oven. Saat itu rasanya risiko jari melepuh sebanding dengan kenikmatan sepotong kueh kering.

Dan seperti biasanya salah-satu kakak atau malah Ibuku akan mengusir kami keluar dari dapur, memukul pelan tangan kami yang terulur meraup setumpuk kueh jika sempat, atau jika sedang tidak terlalu repot karena semua adonan kueh hari itu sudah selesai atau sedang dipanggang dan apabila sedang berbaik hati, kami akan diberi masing-masing dua potong kueh kering.
Bentuknya macam-macam dan lucu-lucu, tapi favoritku saat itu adalah kueh yang bentuknya memanjang dan seperti berbuku-buku, persis seperti keluarga ulat-ulatan yang pernah kami lihat dari siaran dokumenter TV2 Malaysia. Ulat putih yang lucu dan merayap di atas daun.

Aku tidak ingat lagi siapa di antara kami berdua yang memiliki ide cemerlang dan membaptiskan kueh berbentuk panjang berbuku-buku itu dengan nama yang tidak lazim, namun sejak saat itu kueh kering tersebut di keluarga kami dikenal sebagai kueh ulat.

Biasanya pada minggu-minggu awal bulan Januari ketika hendak memulai pelajaran agama, aku dan Matt berangkat ke sekolah sambil membawa bekal kueh-kueh dari rumah. Karena Ibuku memang gemar memasak dan saat itu beliau masih memiliki banyak "tenaga ahli" (yaitu, kakak-kakakku) yang siap membantunya di dapur, kami berdualah yang biasanya membawa kueh paling banyak dan paling beragam ke sekolah.
Sebelum pelajaran agama dimulai dengan menyanyikan lagu pujian dan doa pembuka, kami melakukan pertukaran kueh-kueh yang dibawa dengan sesama teman. Saling mencicipi dan mengomentari. Jika ada teman yang membawa kueh kering yang ternyata dibeli dari pasar swalayan dan bukan dibuat sendiri oleh keluarganya, biasanya kueh bawaannyalah yang paling terakhir habis.

Dengan sedikit senang dan bangga aku mengeluarkan sebungkus kueh kering dengan bentuk-bentuk lucu. Malam sebelumnya aku sudah berpesan kepada kakakku yang membantu membungkuskan kueh-kueh itu agar memasukkan lebih sedikit kueh ulat daripada kueh-kueh bentuk lainnya.
Ah, ini semua kan sama saja, demikian kata kakakku saat itu. Tapi aku tidak percaya dan bersikeras bahwa beda bentuknya berarti beda pula rasanya. Lalu bungkusan kueh kering bawaanku mulai kuedarkan berkeliling.

Ah, kebanyakan kue semprit, protes Robin sambil tangannya merogoh kantung kuehku dan mengambil kueh ananas.

Iya nih, semprit semua, sambung Jim, namun tangannya tetap masuk ke kantung dan meraup segenggam kueh kering plus dua potong bolu.

Kok kalian menyebutnya kueh semprit? tanyaku polos.

Iya, soalnya biarpun bentuknya macam-macam, kan semuanya dibuat dari satu adonan yang sama saja, jawab Jim si gembul sambil mulutnya sibuk mengunyah-ngunyah.

Sebenarnya bukan jawaban yang sesuai untuk pertanyaan yang aku ajukan, namun pada saat itu pikiranku tertuju pada potongan informasi yang baru saja kudapatkan.
Satu adonan yang sama? Ah, masa sih?

Sorenya sepulang sekolah, aku mencari Ibuku yang saat itu sedang berada di dapur sibuk menyiapkan makan malam.
Masih kuingat saat itu kulihat matanya tampak merah seperti habis menangis, namun aku menyangka matanya perih karena terkena asap dari wajan penggorengan.

Tadi temanku bilang kueh ulat dan kueh-kueh lainnya itu sebenarnya namanya kueh semprit. Masa bentuknya macam-macam tapi namanya sama? Kok bisa? tanyaku.

Dengan tersenyum manis, jenis senyuman yang di kemudian hari secara otomatis cenderung akan kita tiru dari orang-orang yang telah lebih dulu dewasa daripada kita, yang kemudian pada gilirannya terbiasa kita perlihatkan jika mendapatkan pertanyaan polos dan lucu dari seorang anak kecil, ibuku menjelaskan bahwa semua kueh yang berbeda-beda bentuknya itu sebenarnya memang hanya dari satu jenis adonan, karena memang bahan pembuatnya sama saja.

Jadi meskipun kamu lebih menyukai kueh ulat karena bentuknya yang lucu dan lebih menarik daripada bentuk kueh kering lainnya, tapi sebenarnya mereka semua sama saja karena memang terbuat dari bahan yang sama, jadilah mereka sama-sama kueh semprit. Tapi bukan namanya yang menjadi masalah sekarang, karena yang paling penting, rasa kuehnya enak dan kamu suka memakannya, demikian Ibuku mencoba memberikan penjelasan paling sederhana yang paling gampang dipahami oleh seorang bocah berusia tujuh tahun.

Lalu lanjutnya, Itu kurang-lebih sama seperti kamu dan Matt. Kalian berdua sama-sama anak lelakiku. Wajah kalian berbeda dan nama kalian pun berbeda. Tapi kalian berdua sama-sama dibuat Tuhan dari bahan yang sama dan diberikan kepada aku dan Bapakmu beberapa tahun lalu untuk dibesarkan dengan penuh kasih-sayang dan cinta.

Saat menjelaskan hal tersebut, Ibuku telah berlutut di hadapanku dan sambil menatapku melanjutkan penjelasannya, Dan karena kalian berdua sebenarnya sama, tidak ada satupun yang lebih disukai daripada yang lain. Kalian berdua sama-sama anak lelaki yang sangat aku sayangi, lalu ibuku meraih tubuhku dan membawanya ke dalam pelukannya yang selalu terasa hangat, nyaman dan menentramkan, dan diapun menangis.

Aku tidak pernah menyangka pertanyaan sepele tentang kueh kering bisa membuat seseorang begitu terharu hingga menitikkan air mata, namun saat itu aku merasa sangat menyesal mengajukan pertanyaan bodoh yang ternyata mampu melukai perasaan seseorang yang sangat aku kasihi, terlebih orang itu adalah Ibuku sendiri.

Namun sama seperti kesalahpahamanku tentang kueh kering itu, ternyata aku sudah keliru mengartikan tangisan Ibu.

Sore itu Bapak pulang dari kantor lebih cepat dari biasanya. Awalnya aku dan Matt merasa senang melihatnya sudah ada di rumah bahkan sebelum berita sore tayang di TV. Namun melihat ekspresi wajahnya, ditambah dengan semua gerakannya yang serba tergesa-gesa, belum lagi nada bicaranya yang jadi jauh lebih cepat daripada biasa, kami berdua tahu ada sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Aku dan Matt sempat merasa resah. Jangan-jangan ada kesalahan yang tanpa kami sadari telah kami perbuat. Tapi kok ya, kami belum juga dipanggil dan disuruh berdiri di hadapan Bapak dan Ibu? Ini benar-benar sesuatu yang tidak biasa.

Yang terjadi malah aku dan Matt disuruh menonton TV saja dan bukannya mengerjakan pe-er seperti kebiasaan kami setelah bangun dari tidur siang, sambil ditemani oleh salah seorang kakakku.

Malam harinya barulah kuketahui alasan sebenarnya, setelah salah satu Tante kami datang ke rumah untuk mengawasi aku dan Matt. Betul sekali, aku menolak menyebutnya sebagai baby sitter karena implikasi kata bayi padaku yang sudah berumur tujuh tahun terasa merendahkan dan memalukan.
Tante memberitahu kami berdua saat kamu sudah berada di dalam kamar dan bersiap untuk tidur, bahwa ibu dari Ibuku, yaitu nenekku yang tidak pernah aku kenal dan rasanya memang tidak pernah kutemui sebelumnya, telah meninggal dunia pagi itu.
Dan keberadaan si Tante yang baru tiba itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena dia akan bertugas sebagai pengawas dan wali kami selama kepergian kedua orangtuaku.
Sementara itu Bapak dan Ibu harus bergegas mengejar bis antarpropinsi yang berangkat malam itu menuju kota kecil tempat kelahiran Ibu, karena memang dari kota kami ke sana butuh waktu dua malam perjalanan dengan bis. Mereka akan pergi selama kurang-lebih seminggu. Sepanjang ingatanku, inilah kali pertama mereka berdua pergi meninggalkan kami anak-anaknya untuk waktu yang cukup lama.
Saat itu, begitu mengetahui kondisi yang akan kami hadapi selama satu minggu yang akan datang tersebut, aku mulai menangis, sedemikian keras sehingga harus dibujuk oleh Ibu. Dengan kata-kata lembut dia coba yakinkan kami berdua bahwa kepergian mereka kali ini bukanlah untuk bersenang-senang, namun situasilah yang mengkondisikannya menjadi demikian. Dan bahwa kami berdua tidak diajak serta dalam perjalanan ini karena kami harus bersekolah dan musim ujian sudah menjelang.

Hingga belasan tahun kemudian, kini ketika aku sendiri sudah hampir dua tahun tidak pernah lagi bertemu Ibu, aku masih tidak bisa melupakan saat itu ketika untuk pertama-kalinya aku melihat Ibu menangis di hadapanku.

Dan aku kira penyebabnya adalah karena pertanyaanku yang sepele tentang kueh kering berbentuk ulat.









* * *
"Kueh Nastar Paling Enak di Kampung Sini" pertama kali dipublikasikan online pada tanggal 10 November 2005. Tulisan di atas telah mengalami beberapa perubahan minor - khususnya pada pemenggalan paragraf dan penggunaan tanda baca - dari format original. Beberapa nama yang dicantumkan di atas juga telah mengalami perubahan untuk menghindari hal-hal tertentu di kemudian hari.

Tuesday, November 6, 2007

Alone Again, Naturally

In a little while from now
If I'm not feeling any less sour
I promise myself to treat myself
And visit a nearby tower
And climbing to the top will throw myself off
In an effort to make it clear to whoever
What it's like when you're shattered


Left standing in the lurch at a church
Where people saying:
"My God, that's tough"
"He stood him up"
"No point in us remaining"
"We may as well go home"
As I did on my own

Alone again, naturally


To think that only yesterday
I was cheerful, bright and gay
Looking forward to, who wouldn't do,
The role I was about to play?

But as if to knock me down
Reality came around
And without so much as a mere touch
Cut me into little pieces
Leaving me to doubt


Talk about God in His mercy
Who, if He really does exist,
Why did He desert me?

In my hour of need
I truly am indeed
Alone again, naturally


It seems to me that there are more hearts
Broken in the world that can't be mended
Left unattended
What do we do?
What do we do?


Alone again, naturally


I cried and cried all day
Alone again, naturally






{ Explanatory Statement: certain parts from the original lyrics were altered to fit in with the intended mood }