Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

Thursday, August 20, 2009

Strength & Beauty, Before Brain


Film G.I. Joe The Rise of Cobra sungguh keren dan bagus banget ... bagi mereka yang tidak lebih pintar dari anak kelas 5 SD.

Bagi mereka yang merasa lebih cerdas, tentu dengan mudah menyadari, betapa konyolnya cerita film ini.

Salah satu contoh kekonyolan itu adalah: ternyata tidak perlu otak cerdas untuk dapat diundang menjadi anggota G.I. Joe. Padahal, sebagaimana yang dikatakan oleh General Hawk kepada Duke dan Ripcord, tidak bisa sembarangan orang masuk dan bergabung ke dalam organisasi elit ini.

Bayangkan saja, pasukan Cobra Commander menyerbu The Pit, markas besar berstatus super rahasia milik G.I. Joe yang berlokasi di bawah gurun pasir di dekat piramida di Mesir. Scarlett terlibat baku-hantam habis-habisan melawan Baroness. Melihat bagaimana keduanya sampai jungkir-balik karena berusaha saling menjatuhkan, bisa dibayangkan all those cuts and bruises they were obviously have to endure afterwards. Sewajarnya, dibutuhkan setidaknya waktu antara dua hingga tiga hari untuk mengobati luka dan menghilangkan bekas memar serta lebam di wajah dan sekujur tubuh.

Ternyata oh ternyata, tidak lama kemudian Scarlett terlihat cantik dan rapi seperti baru saja keluar dari salon ketika dirinya bersama Ripcord sedang berjalan-jalan tanpa tujuan di dalam The Pit. Aku tahu betul bahwa "waktu" itu relatif: sekian tahun dalam kehidupan nyata bisa berlangsung dalam hitungan detik di film. Yang jelas, diperlihatkan bagaimana mereka berhasil menduga siapa pihak yang berada di balik penyerangan The Pit.

Ini berarti, dugaan tentang dalang di balik serangan baru muncul beberapa hari kemudian (meskipun 'waktu" dalam film itu relatif), sehingga segala macam bekas luka dan memar di wajah Scarlett telah hilang dan keelokannya telah pulih seperti sediakala. Secara implisit, ini sama saja dengan menyatakan bahwa orang-orang G.I. Joe begitu bodoh sehingga butuh waktu lama untuk bisa menduga siapa dalang penyerangan sesungguhnya.

Atau, kalaupun dugaan tersebut muncul dalam waktu singkat, misalnya satu hari setelah penyerangan; ini berarti bahwa di The Pit ada fasilitas semacam spa dan salon kelas wahid yang mampu menutupi sempurna bekas-bekas luka memar yang sewajarnya baru muncul sekitar 1x24 jam setelah ditonjok habis-habisan, seperti yang dialami Scarlett.

Jika kemungkinan terakhir ini yang betul, berarti seharusnya waktu itu Rihanna menghubungi spa dan salon The Pit ini untuk menutupi luka-luka yang dideritanya ketika habis berantem dengan Chris Brown, supaya dia bisa tetap tampil di Grammy Award yang diadakan Maret lalu, dan di hadapan para penggemar fanatiknya di Jakarta.

Baroness, Rihanna dan Scarlett.

Friday, April 3, 2009

Sebelum Sekarang



I get bored quite easily.

Hal ini sudah kusadari sejak empat hingga lima tahun belakangan ini. Itulah sebabnya mengapa sepertinya berganti pekerjaan tiga kali dalam kurun waktu tiga tahun tidaklah menjadi suatu hal yang terlalu membuatku pusing kepala. Kecuali tentu saja, saat-saat tidak ada uang karena tidak punya pemasukan rutin dan stabil. Tapi itu adalah cerita lain.

Kalau mencoba melihat-lihat ke belakang, dalam kurun waktu empat hingga lima tahun ini pun, baru sekarang ini tercipta stabilitas dalam hubunganku.
Eh, hubungan apa dulu nih?
Itu lho, yang kalau dalam situs pergaulan statusnya mestilah dicantumkan, dengan pilihan beragam, mulai dari Single hingga Married atau Open Relationship. Jadi judulnya aku sekarang sudah In a Relationship.
(Hore! Sebentar lagi anniversary pertama lho!)
Boleh saja empat hingga lima tahun lalu aku berganti pasangan setiap melewatkan Ramadhan. Tapi bagaimana dengan sekarang? Time to move on, dude, pindah sajalah ke ’jalur lambat’.

Ya iyalah. Meskipun terkadang masih terngiang ucapan Marcella Zalianty dalam salah satu sinetronnya yang tayang 3 tahunan lalu, ”Cowok setia itu membosankan!”, tapi kalau mau jadi lelaki dewasa dan bertanggung-jawab, pilihannya hanya ada satu dan memang cuma yang satu itu saja: setia!

Sebagaimana yang tersurat dalam lirik puitis sebuah lagu dangdut (Meggy Z., wasn’t it?), “Semut pun kan marah jika diperlakukan begitu” (baca: dikhianati), apalagi seorang manusia ! (untuk lebih spesifik lagi, ego seorang lelaki) Makanya kuputuskan dengan tekad bulat, untuk yang kali ini, aku harus bisa setia.
Sudah cukup lah rasanya merasakan apa itu yang namanya pilihan alternatif (baik menjadikan maupun dijadikan). Saat usia sudah mendekati senja kala dua warsa, tentu saatnya telah tiba untuk menentukan sikap.

Oh, no. Wait a minute.
”It’s Complicated”, katamu? Hah, that was so 2005 ! Masa jaya-jayanya Friendster tuh. Dan maaf saja bung, era itu telah berlalu. Biar saja status tak jelas seperti itu jadi mainan mereka yang usianya lebih muda, ... yNg mSTi bLJr NuliS bNr dL bRu nGmNg sX.

Berbicara soal belajar menulis dengan benar (yap! Itulah maksud sepotong kalimat sandi di atas itu), sekitar empat tahunan lalu aku masih sangat bersemangat untuk meluapkan segala macam campur-adukan bleh ide dan pemikiran yang menumpuk membentuk isi kepala ini untuk menjadi deretan kalimat bermakna. Sampai sempat berniat belajar khusus dengan menodong seorang teman untuk membantu membuatkan dan mengajarkan caranya menulis blog.
Eh, ketika si teman tersebut sekitar satu setengah tahun silam sudah berhasil menelurkan – atau karena dia seorang perempuan, apakah lebih pantas disebut memberanakkan ? tapi ini bukan untuk diperdebatkan – sebuah buku yang sebenarnya adalah kompilasi dari beberapa entry yang dianggap paling ciamik dari blog-nya, aku justru malah merasa mandeg dan bosaaaaann dengan blog kupu-kupu ku ini.
Kalau diandaikan, bisa jadi tiga tahun lalu aku masih merasakan romantisme d’amor sampai termehe’-mehe’ dicampur semangat membara layaknya seorang pejuang kemerdekaan dalam tekad dan niat untuk terus senantiasa memperbarui konten blog, ...

Tapi kalau sekarang?

Jawabannya sebenarnya mudah banget.
Kan sudah diberikan di awal tulisan ini.
Coba di scroll lagi back to the top. Atau pencet tombol Page Up.

Get it ? ;-))

Monday, March 9, 2009

Because I Was



I started the first line of my last short story, "Unlike Others", in August of 2008, in the old given-by-my-boss Toshiba laptop in my old rented room. Don't ask me how I got the initial idea for such controversial opening line, because it just popped up into my mind. I was sitting on my bed in my thinly loosed boxer short, topless and sweating, because that room has no air-con. The only small green desk fan could not repel the sweltering Jakarta heat that seeped through the cracks on the wall and the windowsills. Don't you think it's some kind of mystery that you'd never know who lived in the rented room before you? That room was a bit like a crawl space, almost square-like and narrow. Three sides of its walls were duplex, so you can hear what others said or done in the room next to yours. And obviously, they too can hear yours. That rented room always smelled of dust, cold and itchy. In normal conditions, I would have used this kind of rented room for storage, but at that point in my life when I have to survive living in this vicious metropolis with the cruel unfunny joke called the microscopic scale of monthly salary, I just had no other choice. What kept me sane was a dream that one day my life here will pace up and the condition will eventually improve. I was optimistic, because the hope that lived in me was the sole power that kept me level-headed. I was right. The condition did improve. I don’t have to live in the status quo like the main character in that short story. Because I was unlike others.

Tuesday, March 3, 2009

Nanti, di April


Sebagaimana yang sudah diajarkan oleh orang-orang tuwa sejak jaman dahulu kala, alangkah baiknya untuk jangan menggantung harapan terlalu tinggi karena kalau nantinya tidak jadi terwujud malah akan bikin hati yang empunya harapan hancur berkeping-keping. Dan sakitnya itu lho, wuidiiiih ...

Nah, mungkin orang-orang tuwa yang hidup di jaman dulu itu sudah bolak-balik mengalami kekecewaan, dalam kadar dan kesempatan serta sebab yang berbeda-beda pula, jadinya ya begitu deh, beliau-beliau ini menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi hidup, karena memang kondisinya “memaksa” demikian. 

Meskipun tulisan ini tidak akan setajam sebuah artikel sebelumnya di masa silam yang menyindir seorang ‘aktris’ (disebut peraga adegan kayanya lebih pantes) sinetron yang menjabarkan secara spesifik karakter suami ideal yang diharapkannya, tapi setidaknya ada kemiripan tema pembahasan. Yaitu tentang harapan. Hope. Meskipun kalau dibandingkan dengan salah satu tema kampanyenya tim Barrack Hussein Obama tahun lalu, ‘harapan’ yang ini sih cetek banget. Trivialities lah.

Jadi ceritanya tadi saat makan siang bersama teman-teman kantor, salah seorang teman menginformasikan kepada kami semua dengan ekspresi mata berbinar-binar dan mimik muka penuh semangat, kalau Jamiroquai akan tampil di Jakarta bulan April mendatang. Wah, mendengar kabar ini, pastinya aku langsung semangat dong. 

Karena masih teringat betapa kerennya aksi panggung Jay Kay dalam potongan klip live performance mereka yang pernah kulihat di YouTube. Dan yang bikin lebih semangat lagi, si teman ini mengatakan kalau harga tiketnya hanya 500 ribu saja! Kalau “cuma” segitu doing sih, aku tak akan berpikir sampai dua kali untuk membelinya.

Sekembalinya dari makan siang tadi, aku kembali duduk menghadap laptop, dan mulai grusah-grusuh cari info kebenaran berita dari temanku tersebut. Hasil dari browsing kilat ku menunjukkan, ternyata betul adanya dan sudah dikonfirmasikan pula oleh pihak promotor di sini dan manajemen sang artis di Eropa sana, bahwa Jamiroquai akan tour ke Indonesia pada tanggal 8 April setelah tiga hari sebelumnya menggoyang Kuala Lumpur terkait pelaksanaan lomba balap Formula 1 Sepang.

Tapi kemudian ada bel berbunyi di alam bawah sadarku. Tanggal 8 April? Itu kan cuma satu hari sebelum pelaksanaan Pemilihan Umum Legislatif? Memangnya pihak kepolisian akan mengeluarkan izin keramaian di hari se-kritis dan sepenting itu? Jangan-jangan nanti ditunggangi oleh partai politik tertentu. Atau dimanfaatkan oleh provokator untuk bikin rusuh. Nah, ini sisi negatif dari kepribadianku yang mulai berbicara. Sebaiknya, untuk saat ini langkah terbaik adalah mengabaikannya dulu.

Anyway, jadi ceritanya nih saat aku lagi semangat-semangatnya memelototi poster biru bertuliskan kalimat berukuran besar “YES IT’S TRUE” dengan logo Jamiroquai manusia bertopi aneh yang tersohor itu, antusiasme ini langsung padam setelah melihat daftar harga karcisnya dicetak dalam angka-angka relatif kecil di bagian bawah. Buset dah, dua koma lima juta untuk kursi yang persis menghadap panggung ?! Dan harga karcis paling murah untuk kursi yang jaraknya sekian ratus meter dari panggung untuk kondisi normal price adalah tujuh ratus limapuluh ribu ? Harga ini bahkan lebih mahal daripada karcis kelas festival Bjork yang tidak pakai sesi penjualan early bird (dan saat itu harga kelas festival adalah yang paling mahal). Mulailah hati ini terperciki rasa kesal. Huh ! Kenapa sih pertunjukan musik yang seharusnya ditujukan untuk menghibur, seringkali malah bikin emosi karena harga-harga tiketnya seringkali seperti “cari perkara” ??

Actually, I can afford the ticket price, but somehow I just rather opted not to buy. 

Lebih baik uang sejumlah minimal lima ratus ribu dan maksimal dua koma lima juta rupiah itu disimpan dalam rekening buat nambah-nambahin bujet liburan merayakan ulang tahun si Dia sekaligus our anniversary di salah satu destinasi favorit dunia.

Jadinya, harapan yang sebelumnya sempat berantakan jadi kembali utuh, bahkan membuatku lebih bersemangat.

Can hardly wait for April !

Tuesday, January 13, 2009

A Dress That Could ...



otherwise buy you an SUV,
or a small yet nice house in some Asian countries (try suburban Jakarta!),
or even ...
feed a whole population of a mid-size village in rural Africa for a whole year.

Ah, life is so full of ironies.



This photograph of Anne Hathaway at The 66th Annual Golden Globe Awards,
wearing Swarovski crystal-encrusted Armani Prive gown,
is courtesy of omg!

Friday, November 7, 2008

Cerita Jakarta : Antara Bis Kota dan Taksi


Setelah lebih dari 1 tahun lamanya masa-masa itu kubiarkan berlalu, akhirnya tadi pagi aku mencobanya lagi ...

Naik Metromini !
Nomer 75, rute Blok M – Pasar Minggu.

Dan cara sopir metromini tadi mengemudikan bis ukuran setengah ini, ya ampun bikin aku mendadak merasa uzur karena terpaksa harus berpegangan erat pada sandaran kursi di depanku karena khawatir terjatuh dan karena tubuhku terdoyong-doyong. Jantung pun berdegup keras, takut terjadi apa-apa dan malah berakhir celaka sebagaimana yang biasa kulihat di berita tengah malam. Syukurlah, tadi aku selamat sampai di tujuan hingga bisa turun di halte dekat pom bensin Shell.

Dan kini tentu saja, merasa tidak sabar untuk menuangkannya dalam deret kalimat.

Jadilah sekarang kuteringat pengalaman-pengalaman awal mencoba ”bertualang” naik bis ukuran setengah bernama Metromini maupun Kopaja. Kepanasan, berdesak-desakan, keringatan atau terpaksa mengaromai keringat orang lain (hueks!), belum lagi harus kudu musti wajib waspada tingkat tinggi, jangan-jangan ada pelaku kriminal yang mencoba mencopet barang berharga yang sedang kubawa, atau mencoba merampok seluruh penumpang bis. Seperti yang biasa kubaca di koran-koran. Seram dan mudah-mudahan tidak akan sampai kejadian atasku.

Sejak adanya TransJakarta yang rutenya hampir menjangkau sebagian besar wilayah Ibukota, dan saat itu didukung oleh kondisi perekonomian personal yang – Alhamdulillah – meningkat jadi lebih sejahtera, mulailah kutinggalkan bis kota (besar maupun kecil) dan beralih menjadi pengguna setia kombinasi antara TransJakarta dengan taksi. Atau terkadang, penggunaannya dikombinasikan, terutama apabila terpaksa harus melewati ruas jalan yang sudah hampir pasti selalu macet. Bila kondisinya semacam ini, TransJakarta menjadi pilihan. Setelah melewati deretan titik-titik kemacetan dan kebetulan apabila tujuan akhir belum dilewati oleh busway, barulah kusambung dengan menggunakan taksi. So that I can still arrive at the designated place with style, dan tentu saja, tanpa keringat dan bau asap knalpot!

Kembali ke cerita pengalaman naik Metromini pagi ini, untungnya ada kesempatan untuk bisa memilih Metromini yang tidak padat. Jadi bisa mendapatkan tempat duduk yang diharapkan setidaknya bisa memberikan kenyamanan: tak perlu berdiri!

Ada satu keanehan perasaan yang sebenarnya sangat kuperhatikan. Bayangkan saja, aku jauh lebih takut mengalami kecelakaan lal-lintas dan menjadi korban saat menumpang Metromini dan sejenisnya. Padahal ukurannya yang besar, setidaknya menurutku, seharusnya bisa memberikan – meskipun hanya suatu ilusi – rasa nyaman. Coba dibandingkan dengan naik taksi yang ‘hanya’ berupa sedan kecil. Kalau misalnya ketabrak bis, kan bisa terpelanting tuh mobil?! Yang otomatis akibatnya jelas bisa lebih fatal, bagi si pengemudi apalagi penumpang taksi.

Ada satu hal lagi yang kuperhatikan ketika naik Metromini pagi ini. Aku baru tahu kalau ternyata tarifnya sekarang jauh-dekat Rp 2.500. Padahal perasaanku, terakhir kali naik Metromini dan/atau Kopaja, tarifnya masih Rp. 1.500. Berarti itu kejadian tahun kapan ya? Dan apabila nanti setelah 1 Desember 2008 di mana Pemerintah resmi menurunkan harga bahan bakar minyak jenis Premium sebesar Rp 500 / liter, bakal berpengaruh juga tidak ya ke tarif taksi? Secara bis kan jelas-jelas mengkonsumsi solar.

Siapatau kan nantinya tarif taksi ada penyesuaian, dalam arti berkurang beberapa ratus rupiah. Setidaknya, flagfall (tarif buka pintu) dan perkilometernya bisa disesuaikan. Ini sih kata teman-temanku, adalah ”harapan babu”. Jauh panggang daripada api. Harapan yang nyaris mustahil terwujud.
Tapi kalau misalnya kejadian, yang jelas makin rajinlah aku naik taksi dan akan mengucapkan ’selamat tinggal!’ pada bis-bis segala macam ukuran di Ibukota ini yang kondisi lebih sering tidak aman-nyaman, apalagi manusiawi.

Friday, September 26, 2008

Bapak Presiden Yth.,


Aktris dan presenter Rieke Dyah Pitaloka, yang minggu ini aktingnya bisa dilihat dalam film ”Laskar Pelangi” yang baru saja ditayangkan perdana kemarin (25 September 2008), dipanggil oleh penyidik Mabes Polri, juga kemarin. Didampingi oleh pengacaranya, Rieke diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi terkait insiden demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM pertengahan tahun ini yang berakhir anarkhis di seputaran Semanggi.

Seusai diperiksa, masih dengan didampingi pengacaranya, Rieke yang dirubung oleh para kuli tinta memberikan penjelasan alasan mengapa dia ikut turun ke jalan dan berdemonstrasi:

“Saya rasa kita ga butuh pemimpin yang hanya menangis ketika menonton Ayat-Ayat Cinta.”




This is verbatim of the week. Take note, SBY-JK !

Friday, July 25, 2008

Dinda Bakrie or Daughtry? That's The Question.

Dua hari lalu resepsionis kantor mengantarkan sebentuk segi empat kertas karton warna merah ke mejaku.
”Apaan nih?” pikirku yang sedikit merasa terganggu karena sejenak konsentrasi dalam menulis skrip untuk Frida dialihpaksakan untuk benda kecil ini.

Quickview: perhatianku otomatis langsung tertuju pada alamat pengirim dan tulisan INVITATION yang tertera dalam cetak bold. Plus ada logo Sony Ericsson yang membentuk tanda semacam ‘heart’ itu: “I ‘Sony Ericsson logo’ jamming with Daughtry”.

Hasil penelaahan kilat menunjukkan bahwa lembar karton merah ini adalah invitation buat nonton show Daughtry. Wow!
Dari ngeliat alamat pengirimnya yang sebuah publication group, aku langsung tau siapa yang bertanggung-jawab.
(Thanks ya Ruli, semoga kau berbahagia hingga akhir hayat dengan pria ndud-mu ... hehehe ...)

Tanggal acaranya yang tertera: 25 Juli 2008, pukul 18.00 WIB.
Tema acaranya: Sony Ericsson Traffic Jam Street Party.

Langsung kuambil telepon genggamku – which is Nokia, which becomes an irony for the main sponsor, ha! – dan menelpon sang pacar. Secara pacar gitu ya, pasti dia yang ada dalam top of mind kalo buat bersenang-senang.
Plus, minggu sebelumnya saat kita berdua pulang abis nonton The Dark Knight yang mantap gila itu di blitzmegaplex Grand Indonesia, aku sempat bertanya apa dia akan nonton Alicia Keys concert. Terus dia bilang lebih berminat nonton Daughtry. Tapi waktu itu aku masih ga gitu ngeh kalo ternyata show-nya Daughtry itu akan terjadi minggu berikutnya.

Tapi ga sampai 30 detik ngobrol, aku langsung kecewa.
Pacarku ga bisa menemani nonton Daughtry – meskipun dia sempat tereak gembira waktu aku ajukan pertanyaan “How do you like watching Daughtry with me?” – karena dia harus hadir di acara lain.
Acara lain yang glamour dan extravagant yang jadi salah satu hottest rumor ot this past couple of months: The Wedding of The Year (or what Jakarta Social Blog labeled as The Splendid Wedding Plan)
Dia harus datang bukan karena dia kenal keluarga mempelai wanita, tapi justru karena keluarganya kenal dengan keluarga mempelai pria. Jadilah dia harus datang bersama ibu dan bibinya.

Hhmm, aku tahu kalau pacarku memang lahirnya di Singapura, dan pendidikan dasar serta menengahnya juga dilewatkan di negeri singa itu, tapi aku baru tahu kalau keluarganya kenal dengan salah satu keluarga terkaya di negara tetangga – yang oleh Bapak Presiden (then) Habibie once called as “little red dot” – itu.
Ugh, hopefully I don’t sound like ... ehm, well, you know ... gossipy folks ... or even worse, a ‘mountaineering’ (referring to Mira Nair’s Vanity Fair). Which is very untrue in my case.

Anyway, pacarku bertanya apakah Daughtry akan perform malam around 10ish or 11ish. Alasannya, kalau sekitar jam segituan, dia bisa datang after attending that so-called The Wedding of The Year. Yah, meneketehe?! (terj. bebas: how should I know?)

Jadilah seusai perbincangan itu aku kelimpungan nyari temen asik buat nemenin nonton. Yang kira-kira bisa apresiasi musik rock juga.
First name that popped up in mind: Richard. Secara dia akan jadi teman sekantorku bulan depan. Plus dia sangat apresiatif dengan pertunjukan musik. Buktinya, mau keluarin duit jutaan buat nonton Java Jazz tahun ini. Kalo ada yang gratisan, masa sih dia nolak. Eh ga taunya dia lagi kambuh bengekannya. Dengan menangis-nangis bombay gitu terpaksa melepaskan kesempatan ini.

Ya sudah ku-pithcing-in saja tiket ini. Tapi teteup, ke siapa ya?
Ronald is certainly out of question. Bocah manja yang paling males jalan-jalan di luar area jajahannya, Pondok Indah, yang katanya already has everything to offer to satisfy his needs. Mana mau dia main ke area Senayan on Friday evening – unless dijemput. Pakai bajaj, mau?

Pacarku sih menganjurkan untuk ajak William. Tapi sebelum aku bertanya kepadanya, somehow I already know he couldn’t make it. Eh beneran dong. Dia ga bisa. Aku curiga jangan-jangan sebenarnya mau ewes-ewesan sama pacarnya yang penyanyi itu, bukan karena harus menemani Mama di rumah seperti alasan dia.
Mengelebat pikiran iseng: eh kalo seorang penyanyi pas mengalami orgasme, apakah suara desah/teriakannya juga akan terdengar indah dan merdu?

Jadilah kutanya Bradley. Eh itu orang ditelpon jam 11 siang kok ya masih di apartemen aja? Mentang-mentang bos divisi public affairs sebuah rumah produksi raksasa. Asyik bener hidupmu, bro’!
“Eh lo malam ini mo ngapain? Mau jalan sama Tisha atau mau nemenin gue nonton Daughtry nanti malam?”
Respon pertamanya: ”Heh?! Emang lagi ada Daughtry di Jakarta?”
Yaelah! Kalo ga ada, ngapain juga aku ngajakin. Aya-aya wae ni orang.
Setelah menjelaskan duduk perkara agak panjang lebar, akhirnya we made a deal. Sepakat buat nonton bareng but I have to come to his office around 5ish so we can go together. His driver will drop us at the venue. Deal yang sebenarnya rada ngerepotin bagiku, secara kantornya di area Rasuna Said sisi Kedubes Australia yang jam orang pulang kantor berubah jadi neraka kemacetan.

Phew! Untung dapat teman nonton yang kupercaya bakalan bisa dibawa asyik buat seru-seruan (hey, Brad, if you read this, jangan langsung tepuk dada besar kepala dulu!).
Otherwise, these tickets would be definitely wasted. Padahal pas barusan dapat tiket ini, to make sure the schedule – and that I’m not dreaming – aku sampai ngecek situs resmi Daughtry, lho.
Eh yang ketemu under Jakarta’s date malah hysteria, kepanikan, caci-maki - you name it - dari orang-orang yang mengaku fans berat Daughtry yang tidak bisa ngedapetin tiket nonton karena mereka ga mau membeli handphone Sony Ericsson seri Walkman sebagai satu-satunya syarat untuk dapat 2 lembar tiket nonton. Such irony, because I got mine for free. Having friends who have accesses is so much fun, right?

Tapi emang ya, seseru-serunya jalan sama sobat sendiri, lebih seru kalo having fun sama pacar tersayang.

Setuju kan, mai prenz?! (which Bradley would definitely amen-ed loudly to that)

Too bad pacarku harus datang ke resepsi supermewah itu. Otherwise, we’re definitely gonna have F-U-N tonight !!

Wednesday, May 14, 2008

By the Power of Schopenhauer


First thing first, I don't really know whether I spell the name mentioned above in the title of this writing correctly or not, or whether the name really does exist in psychology.
Noticed the name while watching the impressive La Vita é Bella, when Ferruccio explained to Guido about the power of one’s will of mind, by referring to a state of mind when a certain person can make other person do what the first person tell the other one to do (hopefully you won’t be confused with this statement, eh?).
At first I just thought Roberto Benigni made that up for his movie, but somehow it looks fun if I have the ability to do so, just like what he told his friend in such a believable way, therefore the Schopenhauer method somehow successfully clung in my mind for so long.

And so that was how I tested it by applying the so-called Schopenhauer method to the course of events that occurred over this month of June.

About a couple of weekends ago, somehow I kept thinking of my loverboy Marc Miguel Morales. He's not a real loverboy as you think he is (or was). He's just someone I befriended with for almost four years now, virtually. Oh, not the four years that's been virtual, but the friendship is.
Marc and I, we shared secrets and thoughts, even the forbidden ones. He kind of helped me with good advices on my relations with girls back then at university's years, and I helped him with problems with the guys he fell in love with. We talked about sex much, but of course with different preferences and point of interest. Or views. That depends.
Anyway, our communications were so intense but suddenly cut out the moment I started working at a TV station earlier last year. He still dropped messages once in a while but I just don't have time to reply as much as I usually did, so it made sense that the last time I heard from him was in April 2004.
Back to this story and to the early point of my writing, couple of weekends ago he suddenly burst into my mind again, and somehow it made me feel sick. Of myself by ignoring him back then. Missed him so much I decided the first thing I want to do at the office next Monday morning was to drop him a line or two.
So, it's the Monday morning and I arrived early for that matter, around 8 a.m., an hour earlier than the usual office-hours. Prepared a cup of hot chocolate and a strawberry toast beside my computer. Logged in.
And there I found in my mailbox, the sweetest name that came up into my mind the day before, Marc. My loverboy. It's like a coincidence. Smiled sheepishly and happily, suddenly I realized that it was this much how I missed him.
Boy, he desperately needs updates on my life, since he asked me whether I still meet Tora Sudiro on regular basis. He must've been thinking that I still worked in that TV station, hahaha ... Kinda feel guilt, though.
So I replied his e-mail and promised him that I'll send him a very long one that will keep him updated with my current situation.
In which I haven't done up until this moment. Maybe later.
But I feel thankful to find my loverboy again. Told me he has graduated from uni earlier this year and now searching for a job. Said he visits gym regularly and now he's starting to have six-packs. Said he's now looking for a boyfriend. Well, if he stands in front of me now, I would really like to say to him, "I'm your boyfriend! You have me all this time!" (oh, I know this kind of statement will shocked some of my friends, but I believe a few of them won't *wink!*)

Almost the same thing happened with Kiki.
While vacationing over the long weekend in Bandung which I extended until Tuesday, I suddenly thought about her and regretted myself by accidentally erased her cell number. Decided that coming Wednesday, I will launch an e-mail calling every HIlander98 to search and find any news about friends that we haven't heard of over the year before.
And there the Schopenhauer effect happened again !
While watching Mr. & Mrs. Smith at CiWalk 21 together with my nephew, suddenly my cell vibrated in my pocket. A missed-call.
I hate it when people do that. It's bugging me.
But about five minutes later my cell vibrated again and this one was a text message. Didn't recognize the number but surprised to read the sender's name. It's from Kiki !
She asked me how I am doing and where I worked now. Yes, I do miss her, because she was a friend I got quite close with back in university's years.
She was one of the Las Mujeres de Los Bordillos (free translation : the carefree girls of Los Bordillos :-D) I have mentioned in my Friendster's profile that I would like to meet, again. Glad to know that she's doing fine in Palembang.

Now, what I regretted from the Schopenhauer method is that it doesn't happened over me and Greg (with a little significant similarities with the one in Dharma & Greg), eventhough I missed the first night spent with him, talking almost about everything (well, I'm not into his admiration of Punjabi's soap operas' stars and his unfinished grumbling on how I ruined his diet by making him drink a glass of iced chocolate after 9 p.m.), looking eagerly forward for repetitions.
Nor with "the SexxxY BeasT" (I have to drop a message before he give me a call, that selfish prick!) who can easily make my heart (and meat :-D) throbbed.
Nor with Charlie whom reminds me of a Chinese version of Jason Tedjasukmana. What is he doing Down Under while he has many guys who love him so much back here in J-town ?
Was it because somehow in which I did not really understand the rationale, the nature – and therefore, my will of mind – forbid me in getting in touch again with those guys?

Or perhaps, I must try harder to concentrate on the Schopenhauer thing ...

Come again, what was Guido's friend advised him to do to Schopenhauer-ing easier?
Was it by flapping fingers? Or mumbling the name? Hmm ...

Let me try : Schopenhauer, Schopenhauer, Schopenhauer, ...














Note from writer:
The original version of By The Power of Schopenhauer was posted online in my first blog, LoveHateDreamsLifeWorkPlayFriendshipSex, on June 22nd, 2005.
Hardly I had known back then that Arthur Schopenhauer and his metaphysical theory really did exist in history as a critique to Immanuel Kant’s theory.
This version you just finished reading is mostly based on the original version with some minor alterations, notably dictions and inter-paragraphs fragmentations.

Monday, January 28, 2008

In The Land of Lego


Reminiscing of the things past as a kid who loved constructing things just to tear it down with much satisfaction, and then rebuild another - usually buildings or the whole town blocks - and brought them down again with quite much planned details as much as a preschool kid could have imagined (like an attack of a vicious gargantuan lizard i.e. Gojira, stormed by a foreign troops invading LEGOLand, or struck by a deadly natural disaster), it seemed very much appropriate when our parents gave me and my younger brother a LEGO set to played with.

It was only a small set designed to be built as a 2-storey house. Perhaps it was the least complicated set, and maybe also the cheapest. But as little kids with broad imaginations, we rarely took it as barriers. Instead, we made it into many variations of sets to support our story-telling powerhouse.
Other than the aforementioned stories, we did a 'play' on our version of soap-opera kind of Dynasty, or as a murder-mystery crime scene that was Murder She Wrote, or as background for a micro-sized reconstruction of last night Amazing Stories.

And when we finally fed up using it as a mere house just like it was intended to be on the first place, we challenged ourselves and constructed many other things instead. It became a thing like trailer-home towed by a plastic 'Made in Taiwan' truck, an exotic shrine for some kind of ancient occult built deep in a dark-mysterious jungle (which translated from our unmowned lawn), or a spaceship created to explore the inscrutable Mars (i.e. my sisters' room).

Oh, boy!

Even when I'm recollecting these years old, previously forgotten memories, I still recalled the fun and cheerful moments we had back then.

That was why I spent almost an hour at Senayan City's atrium last December when LEGO made a new national record in building the biggest miniature city super-blocks ever, complete with skyscrapers, suburbans, a port and an airport (ships and a miniature jumbo jet included).

Admiring the displayed details very much, I was rather more impressed when an older guy looked happily toying with a bajaj LEGO! It seemed that without my knowledge, LEGO has gone local. Wow, that's amazing!

I wonder what other localized models it had produced in the past decades and are already available in stores.

And then I smiled to myself seeing this guy's wide grin as he proudly exhibited the orange three-wheels vehicle - miniature model of the silent witness of the old Jakarta - to his son.

Now I believe that I'm not the only mature guy who still loves playing around with his childhood toys once in a while ("Am looking at you, Eri!"). And certainly, I'm not alone in wanting to congratulate LEGO on it's 50th Anniversary.



"Happy fiftieth anniversary, LEGO! I'll heart you always!"

Friday, October 5, 2007

Titi Nginung dan Nostalgia Piala Dunia

Bermula ketika aku menyaksikan partai perdelapan final antara Italia melawan Korea Selatan di putaran final Piala Dunia 2002. Kagum rasanya melihat permainan cantik tim Italia yang berusaha tanpa henti menggedor pertahanan tim Korea Selatan yang stamina para pemainnya pantas diacungi jempol. Meskipun ada sedikit rasa kecewa melihat kasarnya performance para pemain Korea Selatan, yang bisa jadi disebabkan oleh tekanan mental dari para supporternya plus tekanan sebagai tim tuan rumah. Wasit yang memimpin permainan pun rasa-rasanya ikut bertindak kurang adil dengan cenderung memihak pada tim tuan rumah.

Saat menyaksikan papan elektronik pergantian pemain yang diacungkan oleh salah satu ofisial untuk memberitahukan kepada wasit ketua bahwa Del Piero ditarik keluar dari lapangan, tiba-tiba terlintas dalam benakku sederet angka : 22-1-19. Kira-kira deretan angka apa ya?

Yap! Aku ingat sekarang.
Bukan, deretan angka itu tidak ada kaitannya dengan judi togel yang angka kemujurannya ditentukan dari Singapura.

Deretan angka itu mengingatkanku pada sebuah novel olahraga yang sangat menarik karya seorang penulis bernama unik, Titi Nginung. Novel yang kupinjam dari perpustakaan distrik dan kubaca ulang hingga lima kali (!!!) selama 3 tahun masa SMP. Novel yang membuatku sangat penasaran untuk mencari tahu karya lainnya dari mba’ Titi. Sayangnya, saat itu tak kutemukan satupun karyanya yang lain di deretan buku kategori bacaan anak dan remaja.
Tapi aku ingat novel Opera Jakarta yang pernah diterbitkan secara berseri oleh harian Kompas, dan resensi adaptasi filmnya sempat kubaca dari majalah Hai zaman baheula, saat isi Hai masih lebih berbobot dan jauh lebih ilmiah daripada yang sekarang.

22-1-19.
Saat aku membacanya untuk pertama kali, entah mengapa aku merasa ’terguncang’. Dan sempat sampai sangat mempercayai isi novel itu sungguh-sungguh terjadi. Bahwa semua hal yang disebut di dalam novel tersebut dapat (atau bahkan sudah pernah) terjadi dalam dunia olahraga Indonesia. Novel ini sungguh-sungguh mengaduk-aduk perasaanku.

Namun pada saat itu aku belum diizinkan membaca Opera Jakarta karena kata kakak-kakakku yang hobi membaca dan kemudian ’menghasut’ ibuku agar melarangku untuk membacanya, isi cerita yang terkandung di dalam Opera Jakarta itu tidak layak kubaca sebelum dewasa. Sebelum aku mencapai 17 plus.
Jadilah aku cuma bisa membaca 22-1-19: lagi dan lagi dan lagi.
Dan semakin pula aku terpesona pada gaya bahasanya, caranya bertutur, dan ’kejujuran’-nya (atau barangkali lebih tepat: ”keliaran” imajinasinya).

Rasa penasaranku diperberat oleh kemisteriusan sosok seorang Titi Nginung, yang di dalam pengantar novel terbitan Gramedia tersebut, identitasnya dirahasiakan. Menjadi sangat samar.

Hingga di awal dekade 1990-an, aku mendengar selentingan kabar mengecewakan dari kakakku bahwa Titi Nginung di-’breidel’. Katanya karena ada permintaan tidak resmi dari salah satu institusi pemerintah negeri ini. Titi dilarang berkarya lagi. Buku-bukunya tidak lagi diberi izin untuk dicetak, meskipun tidak berarti lantas harus ditarik oleh Gramedia dari pasar.

Aku masih ingat bahwa saat itu merasa sangat kecewa, karena hanya sempat membaca 22-1-19.

Hingga kemudian satu hari aku menemukan Opera Bulutangkis di salah satu rak di perpustakaan SMU-ku, tertumpuk di antara deretan buku menguning dan berdebu dalam rak di pojokan yang mendapat status tidak resmi: ”buku tidak laku”. Novel tersebut di-display bersama sejumlah buku yang saat itu (hingga kini) menjadi bagian dari sejarah terlupakan dalam khazanah sastra Indonesia.
Mungkin sekarang kalau diingat-ingat lagi, rasanya berlebihan. Tapi saat aku menemukan buku itu, rasanya begitu penuh semangat yang meluap-luap.
Saat itu juga buku itu kubawa ke counter untuk dicap. Dipinjam. Pertama kalinya setelah hampir lima tahun! Demikian yang sempat kuperhatikan dari stempel penanggalannya.

Setibanya di kamar siang itu, buku itu langsung kubaca dengan penuh perhatian. Nikmat rasanya. Kedengarannya aneh? Memang.
Seluruh perhatianku benar-benar tertumpah pada buku itu sejak kubaca baris pertama. Konsentrasiku tersedot. Dan jantungku terus berdebar membaca petualangan si tokoh utama yang orang Jawa dengan nama yang tidak kalah uniknya dari nama si pengarang: Bajang Kirek. Nama yang eksotis. Meski sebenarnya dikisahkan pemberian nama unik tersebut berkaitan erat dengan latar belakangnya sebagai seorang putra Jawa yang dibuang oleh keluarganya.

Imajinasiku melayang, mencoba mempersonifikasikan seperti apa kiranya sosok Bajang Kirek dalam kehidupan nyata.
Ah, barangkali dia seperti Icuk Sugiarto di tahun delapanpuluhan. Atau Joko Suprianto. Karena saat itu, tahun 1995, mas Joko sedang berjaya sebagai pemain top Indonesia. Dan di tingkat dunia.
Di mataku, sosoknya tampak begitu sesuai dengan karakterisasi fisik si jagoan bulutangkis dalam Opera Bulutangkis. Orang Jawa dengan prinsip hidup yang kuat. Dan sama sekali tidak ganteng :-P

Berdebar sungguh jantungku (swear! ini beneran!) membaca pertarungan antara ”Mas Joko” melawan si Super Robot yang diciptakan dan didesain agar menjadi jago bulutangkis nomor satu dunia.
Yang di kemudian hari membuatku berpikir bahwa Titi Nginung justru seakan-akan telah meramalkan pertarungan serupa antara Deep Blue melawan Garry Kasparov. Sekian tahun sebelum peristiwa bersejarah itu benar-benar terjadi di dunia olahraga catur.
Kagum, begitu maju dan ’liar’-nya imajinasi seorang Titi.

Sekian tahun berselang dan kini, di tahun 2002, kembali nama Titi Nginung mencuat dalam memoriku. Diiringi serangkaian pertanyaan mengganggu :
Siapakah sebenarnya Titi Nginung?
Mengapa hanya sedikit novel yang ditulisnya?
Benarkah isu bahwa dia di-’breidel’?
Mengapa karya tulisnya tidak pernah diterbitkan lagi?
Di manakah bisa kudapatkan novel Opera Jakarta?

Dan ...
Apakah dia masih hidup?




{ Artikel orisinil Titi Nginung dan Nostalgia Piala Dunia pertamakali dipublikasikan online pada tanggal 24 Oktober 2002 di situs Penerbit yang kini sudah tidak aktif. Setelah artikel tersebut ’terbit’, barulah beberapa penggemar buku menginformasikan kepadaku bahwa sebenarnya Titi Nginung adalah nama pena dari Arswendo Atmowiloto }