Showing posts with label room. Show all posts
Showing posts with label room. Show all posts

Monday, March 29, 2010

Love Gravity



I want to meet you in a place where we won’t feel wrapped underneath

Our skins that bleed and ached but they don’t hurt us like before

Inside our hearts there’s no empty room for sadness nor anguish
Our hands closed, admiring the delicateness of our souls, gravity of our lives

Feeling me, you, caressing the familiarity, adoring you me through all darkness

We are lost to each other now, wanting each other, saving you and me


Do I have to give any reason before kissing your soft lips?

Just come here, and let me show you my love once more.

Monday, August 17, 2009

Lupa, Lalu Teringat



Tadi pagi, sekali lagi aku lupa membawa kacamata, dan baru menyadarinya saat menyalakan komputer di kantor. Awalnya sempat mengalami kebingungan ketika melihat meja kerjaku, dan tidak menemukan kacamata yang biasanya kalau sedang tidak bertengger di pangkal hidung, tentu sedang tergeletak di atas meja di sebelah keyboard atau di atas mousepad. Satu-dua detik kemudian, baru kusadari kalau kacamata itu ketinggalan di atas meja di depan TV di kamar. Darn!

Ini adalah kejadian kedua dalam satu bulan belakangan ini. Tampaknya sudah menjurus ke stadium parah nih tingkat kelupaan yang ku-”derita”. Padahal kacamata kan jelas-jelas penting sekali bagiku untuk menunjang aktivitas kerja. Koq ya, bisa-bisanya ketinggalan? Itu nyaris seperti keluar rumah dan berjalan-jalan ke mall tapi lupa mengenakan celana dalam.

Aneh? Ternyata tidak juga.

Barusan akhir pekan lalu kualami di gym. Setelah membuka locker dan membuka kaos yang kukenakan untuk diganti dengan kaos khusus berolahraga, barulah tiba-tiba seakan bunyi ”tring!” berdenting di dalam batok kepala, dan aku tersadar kalau ketika bersiap-siap paginya, aku lupa memasukkan celana dalam ganti yang masih bersih ke dalam tas gym. Akhirnya, selesai gym aku pulang dengan going commando.

Beneran pulang? Tidak juga.

Aku malah sempat berjalan-jalan dulu ke sebuah trade center untuk mencari kaos-kaos murah untuk dipakai berolahraga atau sekedar santai saat akhir pekan.

Kata orang, jalan-jalan tanpa mengenakan celana dalam akan berasa adem sedikit.

Kataku? Tidak juga. Parno malah. Takut tiba-tiba mengalami kesialan dan celana robek, dan terpampanglah selangkangan ini. Uh, malu-maluin dan mudah-mudahan tidak akan pernah kejadian.

Tapi kalau kelupaan membawa kacamata dan celana dalam tadi sudah bisa disebut parah, lalu bagaimana dengan kejadian yang kualami pada suatu hari, ketika menjelang tengah hari baru aku menyadari bahwa aku lupa menarik risleting celana panjangku, sejak setelah buang air kecil pagi harinya persis sebelum berangkat keluar kamar?

Astaganaga!

Itu artinya, sepanjang kurang lebih satu kilometer perjalananku ke kantor dengan berjalan kaki dan selama sekian jam hingga aku menyadari kealpaan itu, risleting itu menganga terkewer-kewer?!?!

Rasanya panik dan sungguh malu.

Sepertinya memang tidak ada teman kantor yang memperhatikan "kondisi khusus" tersebut, tapi bagaimana dengan mereka pengguna jalan lainnya? Uff. Mudah-mudahan tak ada orang yang kukenal atau mengenaliku tadi saat aku melintas di depan kendaraan mereka dengan risleting celana yang belum terkaitkan. Mau ditransfer kemana mukaku ini nantinya?



*Image was taken from Allie is Wired The Entertainment Blog,
featuring extreme close up of Brad Pitt's unzipped pants
while he was promoting The Curious Case of Benjamin Button in France.

Monday, March 9, 2009

Because I Was



I started the first line of my last short story, "Unlike Others", in August of 2008, in the old given-by-my-boss Toshiba laptop in my old rented room. Don't ask me how I got the initial idea for such controversial opening line, because it just popped up into my mind. I was sitting on my bed in my thinly loosed boxer short, topless and sweating, because that room has no air-con. The only small green desk fan could not repel the sweltering Jakarta heat that seeped through the cracks on the wall and the windowsills. Don't you think it's some kind of mystery that you'd never know who lived in the rented room before you? That room was a bit like a crawl space, almost square-like and narrow. Three sides of its walls were duplex, so you can hear what others said or done in the room next to yours. And obviously, they too can hear yours. That rented room always smelled of dust, cold and itchy. In normal conditions, I would have used this kind of rented room for storage, but at that point in my life when I have to survive living in this vicious metropolis with the cruel unfunny joke called the microscopic scale of monthly salary, I just had no other choice. What kept me sane was a dream that one day my life here will pace up and the condition will eventually improve. I was optimistic, because the hope that lived in me was the sole power that kept me level-headed. I was right. The condition did improve. I don’t have to live in the status quo like the main character in that short story. Because I was unlike others.