Showing posts with label songlyrics. Show all posts
Showing posts with label songlyrics. Show all posts

Tuesday, September 1, 2009

"Isn't it ironic? Don't you think?"


"An old man turned ninety-eight
He won the lottery and died the next day"

Pada awalnya kupikir dua baris pertama lirik lagu Ironic, yang diciptakan sekaligus dinyanyikan sendiri oleh Alanis Morissette, semata adalah buah dari kejeniusannya dalam menulis lirik. Hingga lebih dari satu dekade kemudian, ketika dari aktivitas browsing iseng kutemukan kisah tentang Wayne Schenk.

Wayne Schenk adalah seorang pria Amerika yang berdomisili di negara bagian New York. Usia purnawirawan angkatan darat ini ‘baru’ 51 tahun ketika ajal menjemputnya, akibat sakit kanker paru-paru yang tak bisa disembuhkan.

Pada bulan Desember 2006, Wayne yang lima minggu sebelumnya didiagnosis kanker paru-paru stadium akhir dan divonis dokter hanya akan bertahan hidup kurang dari satu tahun lagi, membeli sebuah tiket lotere senilai US $ 5. Tanpa diduga oleh siapapun, apalagi olehnya sendiri, ia berhasil memenangkan hadiah utama lotere senilai US $ 1 juta! Mengetahui nilai kemenangannya, ia pun merencanakan untuk menggunakan hadiah uang tersebut untuk membayar biaya perawatannya di institusi khusus perawatan penderita kanker terbaik di New York.

Namun niat Wayne tersebut tak dapat diwujudkan, karena peraturan lotere menyatakan bahwa pemenang hadiah akan dibayar dalam 20 installment tahunan masing-masing senilai US $ 50.000 (dicicil selama 20 tahun). Sementara itu, penghasilan Wayne dari uang pensiun dan pendapatannya sebagai pemilik kedai minum lokal tak cukup memadai untuk menutupi biaya pengobatan di institusi kanker kelas atas yang ia inginkan. Terlebih lagi, Wayne Schenk ternyata tidak memiliki asuransi jiwa.

Meskipun uang kemenangannya dari lotere Negara Bagian New York tidak bisa ia dapatkan sekaligus sesuai rencana semula, setidaknya Wayne masih sempat mengambil satu langkah yang dianggapnya sangat penting : ia menikahi teman wanitanya sejak lama, Joan DeClerck, pada tanggal 4 April 2008, agar kelak uang hadiah lotere tersebut dapat diwariskan kepada orang yang benar-benar dikasihinya.

Kondisi tubuh Wayne di hari pemberkatan pernikahannya itu sudah sangat lemah, sehingga ia harus mengenakan tabung oksigen agar dapat terus bernapas. Di akhir bulan yang sama, hanya sekitar dua minggu setelah menikah, Wayne Schenk pun menutup mata untuk selamanya, kurang dari empat bulan setelah berhasil memenangkan lotere 1 juta dolar.

"And life has a funny way of helping you out when You think everything's gone wrong and everything blows up in your face

...

Life has a funny, funny way of helping you out
Helping you out"

Wednesday, June 24, 2009

Those Sexy Boots Weren’t Made for Running

"Catch us if you can, Megatron!"


I felt much disappointment watching Transformers: Revenge of The Fallen, which was released in many parts of the world today. High anticipation and enthusiasm were built in the couple of weeks prior to the release, and in the mere first hour of watching they were all shattered into pieces.

Bayangkan saja, selama hampir 70 menit pertama, masih belum jelas apa tujuan cerita film ini. Kesan yang paling terasa adalah : dipanjang-panjangkan. (Meskipun tidak sampai separah pengalaman menonton Pirates of Carribbean: At World’s End yang begitu membosankan sampai terasa seperti film berdurasi seumur hidup)


Masih kuingat dua tahun lalu, saat end credit Transformers muncul bergerak naik, aku bertepuk tangan kencang karena puas melihat suguhan action mendebarkan dan cerita yang kocak namun tetap menegangkan – sampai deg-degan jantung ini ketika menyaksikan perang di dalam kota dan Sam Witwicky harus berlari-larian dan bergelantungan di puncak gedung demi menyelamatkan diri.

Sebenarnya buruknya kualitas penceritaan sekuel ini sudah mulai terasa sejak ... percaya atau tidak ... dimunculkannya karakter dua ekor anjing keluarga Witwicky di limabelas menit pertama.
Pertama kali kulihat keduanya, alam bawah sadarku seakan mengingatkan, ”Oh gosh! Please don’t show me another joke about two different breed of dogs performing sexual intercourse! I am so fed up with that kind of brainless jokes.” Dan kekhawatiranku ternyata terbukti. Di moment munculnya adegan persenggamaan (yang TIDAK lucu) itulah aku langsung menjatuhkan vonis: film ini pasti jelek!

Betul-betul menyedihkan. Semakin lama cerita Revenge of The Fallen ini semakin jelek, sampai-sampai membuatku menguap bosan. Kemana perginya ketegangan aksi dan struktur penceritaan yang lebih cerdas, seperti yang dipamerkan di prekuelnya??

Ada tiga hal tolol yang membuatku kesal setengah mati dengan sekuel ini.

Pertama, adalah kemampuan ujung lidah Alice tetap berbentuk seperti lidah manusia saat tubuhnya menclok di kap mobil. Bisa jadi kapabilitas tersebut menjadi fantasi sensual bagi sementara pihak, sebagaimana mereka juga pertama kali dibuat terpesona oleh robot sexy di Terminator 3: Rise of The Machines. Namun bagiku sendiri, Alice di atas mobil itu tidak lucu sama sekali, tidak terlihat spektakular secara visual, malah menjijikkan dan membuat mual. Tapi ini masalah selera pribadi, jadi sah untuk diperdebatkan.

Kedua, adalah hal yang sama sekali berbeda. Andai saja aku bagian dari pemerintah berkuasa di Mesir, film ini akan kuusulkan untuk dilarang beredar di negeriku. Begini alasannya.
Coba dibayangkan, saat pasukan Amerika Serikat terbang secara ilegal memasuki wilayah kedaulatan negaraku, membawa serta bersama mereka masalah besar dengan membuka front peperangan melawan pihak ketiga di negaraku dan mengakibatkan jatuhnya korban harta benda dan jiwa penduduk yang notabene adalah warga negara di negeriku, dan lebih parah lagi, peperangan ini menghancurkan warisan sejarah budaya leluhurku yang telah berusia ribuan tahun dan menjadi salah satu Warisan Dunia versi UNESCO, yang dilakukan oleh pasukan gabungan Amerika Serikat dan Inggris tersebut adalah meminta bantuan dari Angakatan Udara Yordania!! Apakah karena mereka menganggap enteng kekuatan Angkatan Bersenjata dan kedaulatan negaraku, Mesir?? Ini adalah bentuk penghinaan yang tak termaafkan!! Tarik Duta Besar kita dan putuskan saja hubungan diplomatik dengan Washington!!


Ketiga, sejak ketibaan Mikaela Banes di kampus Princeton untuk menemui kekasihnya, Sam Witwicky, dan adegan salah paham yang disusul kejar-kejaran dengan robot Alice, seingatku tidak ada sekalipun peluang bagi mereka berdua plus Leo Spitz untuk berganti pakaian. Akan tetapi di tengah-tengah kesibukan mereka menyelamatkan diri dengan bantuan Bumblebee di wilayah Amerika dan kemudian oleh Jetfire di Mesir, entah bagaimana caranya, Mikaela bisa mendapatkan kesempatan untuk mengganti sepatu boot-nya agar ketika berlari-lari di gurun pasir Mesir di bawah teriknya sinar matahari, kakinya tidak akan cedera. Probably because she knew that those sexy boots she wore during her Princeton visit were definitely not made for running.

"We want to see more!"

Tambahan: Ingat ketika Jetfire berubah dari pesawat pajangan di dalam hangar museum dan kembali menjadi robot? Salah satu pertanyaan pertama yang dilontarkannya adalah, “What planet am I in?”.
Beberapa menit kemudian, dia mengatakan kepada Sam dan teman-temannya, “I’m taking you to Egypt.”
Dan tak lama setelah itu, Jetfire kembali mengucapkan satu petunjuk bahwa dia sebenarnya tahu lebih daripada yang dia akui, ”... after a millenium, ...”.
Benar-benar robot tua pintar yang tahu banyak! Bisa jadi dia telah menyempatkan diri browsing Google sebelumnya, sama seperti John Connor.

Yes, this sequel is that horrible, you wouldn't believe your eyes!

Friday, April 3, 2009

Sebelum Sekarang



I get bored quite easily.

Hal ini sudah kusadari sejak empat hingga lima tahun belakangan ini. Itulah sebabnya mengapa sepertinya berganti pekerjaan tiga kali dalam kurun waktu tiga tahun tidaklah menjadi suatu hal yang terlalu membuatku pusing kepala. Kecuali tentu saja, saat-saat tidak ada uang karena tidak punya pemasukan rutin dan stabil. Tapi itu adalah cerita lain.

Kalau mencoba melihat-lihat ke belakang, dalam kurun waktu empat hingga lima tahun ini pun, baru sekarang ini tercipta stabilitas dalam hubunganku.
Eh, hubungan apa dulu nih?
Itu lho, yang kalau dalam situs pergaulan statusnya mestilah dicantumkan, dengan pilihan beragam, mulai dari Single hingga Married atau Open Relationship. Jadi judulnya aku sekarang sudah In a Relationship.
(Hore! Sebentar lagi anniversary pertama lho!)
Boleh saja empat hingga lima tahun lalu aku berganti pasangan setiap melewatkan Ramadhan. Tapi bagaimana dengan sekarang? Time to move on, dude, pindah sajalah ke ’jalur lambat’.

Ya iyalah. Meskipun terkadang masih terngiang ucapan Marcella Zalianty dalam salah satu sinetronnya yang tayang 3 tahunan lalu, ”Cowok setia itu membosankan!”, tapi kalau mau jadi lelaki dewasa dan bertanggung-jawab, pilihannya hanya ada satu dan memang cuma yang satu itu saja: setia!

Sebagaimana yang tersurat dalam lirik puitis sebuah lagu dangdut (Meggy Z., wasn’t it?), “Semut pun kan marah jika diperlakukan begitu” (baca: dikhianati), apalagi seorang manusia ! (untuk lebih spesifik lagi, ego seorang lelaki) Makanya kuputuskan dengan tekad bulat, untuk yang kali ini, aku harus bisa setia.
Sudah cukup lah rasanya merasakan apa itu yang namanya pilihan alternatif (baik menjadikan maupun dijadikan). Saat usia sudah mendekati senja kala dua warsa, tentu saatnya telah tiba untuk menentukan sikap.

Oh, no. Wait a minute.
”It’s Complicated”, katamu? Hah, that was so 2005 ! Masa jaya-jayanya Friendster tuh. Dan maaf saja bung, era itu telah berlalu. Biar saja status tak jelas seperti itu jadi mainan mereka yang usianya lebih muda, ... yNg mSTi bLJr NuliS bNr dL bRu nGmNg sX.

Berbicara soal belajar menulis dengan benar (yap! Itulah maksud sepotong kalimat sandi di atas itu), sekitar empat tahunan lalu aku masih sangat bersemangat untuk meluapkan segala macam campur-adukan bleh ide dan pemikiran yang menumpuk membentuk isi kepala ini untuk menjadi deretan kalimat bermakna. Sampai sempat berniat belajar khusus dengan menodong seorang teman untuk membantu membuatkan dan mengajarkan caranya menulis blog.
Eh, ketika si teman tersebut sekitar satu setengah tahun silam sudah berhasil menelurkan – atau karena dia seorang perempuan, apakah lebih pantas disebut memberanakkan ? tapi ini bukan untuk diperdebatkan – sebuah buku yang sebenarnya adalah kompilasi dari beberapa entry yang dianggap paling ciamik dari blog-nya, aku justru malah merasa mandeg dan bosaaaaann dengan blog kupu-kupu ku ini.
Kalau diandaikan, bisa jadi tiga tahun lalu aku masih merasakan romantisme d’amor sampai termehe’-mehe’ dicampur semangat membara layaknya seorang pejuang kemerdekaan dalam tekad dan niat untuk terus senantiasa memperbarui konten blog, ...

Tapi kalau sekarang?

Jawabannya sebenarnya mudah banget.
Kan sudah diberikan di awal tulisan ini.
Coba di scroll lagi back to the top. Atau pencet tombol Page Up.

Get it ? ;-))

Monday, November 3, 2008

“I Just Wanna Say, ‘You’re Such an Arrogant Biatch!’”


Terkadang sukar rasanya untuk menentukan, apakah pelaku industri kreatif negeri ini terlalu pintar sehingga bisa mendikte pasar, atau mayoritas konsumen di negeri ini yang terlalu sederhana pikiran dan seleranya – untuk tidak mengatakan bodoh dan berselera buruk – sehingga bisa diatur dan dikendalikan oleh para pemilik modal.

Lihat saja kondisinya masa kini (yang sedikit banyak sesungguhnya merupakan warisan masa silam). Tontonan konyol bernama sinetron remaja / keluarga dengan aksesori mata melotot teriakan kencang dan bolak-balik berkenalan antar para tokoh lewat peristiwa ditabrak mobil mewah masih saja menjadi jualan laris dan merajai jam tayang utama di berbagai stasiun televisi. Bioskop semakin dibanjiri film-film dengan ide dan alur cerita yang sepertinya diciptakan sambil menunggu buang air besar di pagi hari (meskipun terkadang tak bisa dipungkiri, inspirasi untuk hal-hal brilliant bagi umat manusia didapatkan ketika melakukan ‘ritual pagi’). Penerbitan buku-buku baru belakangan ini lebih berupa kumpulan curhatan dari blog seseorang ketimbang cerita yang diharapkan lebih bisa mencerahkan dan memperkaya khazanah jiwa seseorang (ini mah, rada beuradth ...!)

Lantas bagaimana dengan industri musik tanah air?
Yang jelas, aku tidak akan memberikan komentar soal pembajakan CD/kaset yang makin susah dikendalikan. Juga tidak tentang fenomena Kangen Band dan gaya bermusik dengan inspirasi irama melayu. Apalagi untuk mengomentari balik komentar seorang juri Indonesian Idol terhormat, yang kebetulan beristrikan seorang diva-yang-bertransformasi-menjadi-dewi (hah?!), yang menilai seorang kontestan Idol jadi layak diragukan kelelakiannya karena menyanyikan lagu masa kini yang menye-menye (secara mayoritas lagu-lagu penyanyi pria masa kini yang ngetop selalu tentang ditinggal kekasih atau jadi korban perselingkuhan ... plus patut diingat, bukankah tempo hari juri ini pernah tampil di hadapan khalayak ramai dengan rambut rebonding a la boyband F4 ??).

Beberapa tahun lalu, ketika Naif merilis lagu “Towal-Towel” yang liriknya hanya terdiri dari kata-kata “towal towel jangan mere-mere”, semua orang menganggap ini adalah satu lagi keunikan band unik asal Bandung ini, dan lagu tersebut dapat diterima dengan cukup baik.




Tapi ketika Potret melakukan come back lewat original soundtrack sebuah film komedi remaja, Chika, dengan lagu berjudul dan berlirik full bahasa Inggris, agak aneh rasanya melihat lagu tersebut bisa ngetop dan diterima mayoritas pendengar dan konsumen musik di Nusantara.
Lagu yang kumaksudkan berjudul “I Just Wanna Say I Love You”. Jika ada yang beralasan liriknya yang full English itu yang membuat lagunya terkenal, well, think again. Dari awal sampai akhir, Melly Goeslaw cuma mengucapkan I Just Wanna Say I Love You dengan bermacam gaya dikali sekian puluh kali until fade. Musiknya pun hanya tang-teng-tong dengan sebaris lirik yang sepertinya paling pantas untuk program indoktrinasi cuci otak di kamp konsentrasi para Hippie.
Aku benar-benar bingung dibuatnya. Apa karena Melly bersama group Potret sebegitu pintarnya membaca selera pasar sehingga bisa menghasilkan lagu sedemikian norak tapi bisa ngetop habis-habisan, atau karena konsumen negeri ini cara berpikirnya ’terlalu sederhana’ ya?

Awalnya kupikir arogan sekali Melly Goeslaw dengan lagunya yang berlirik sederhana itu, tapi ternyata aku keliru. Tidak lama setelah itu, muncullah videoklip terbaru dari group musik Dewa 19 yang punya judul eksotis nan fantastis, ”Perempuan Paling Cantik di Negeriku Indonesia”.
Pada awalnya ketika membaca judul lagu tersebut dalam template tayangan, aku berpikir, dan bisa jadi banyak banget orang lainnya juga berpikiran serupa, bahwa lewat lagu ini Ahmad Dhani wants to pay tribute to Mulan Jameela. Ternyata di kemudian hari dalam salah satu wawancara, kata Dhani lagu ini dipersembahkan bagi perempuan-perempuan negeri ini yang terkenal cantik luar dalam.
Bukan soal 'tribute to ...' -nya yang menarik untuk dikupas, melainkan justru latar-belakang / background dari videoklip ini yang terlihat seperti bendera Merah-Putih tapi ditempeli (dijahit) dengan logo bintangnya Dewa (atau Republik Cinta, aku kurang jelas tapi pokoknya bintang segi delapannya itulah).
Please do correct me if I'm wrong, tapi bukankah tindakan itu bisa dikategorikan sebagai perbuatan desakralisasi dan pelecehan terhadap lambang negara ya? Kenapa juga koq bisa ga ada satu manusia pun di negeri ini yang berkomentar dan protes ya? Bisa jadi besok-besok Dhani akan pasang logo mirip Burung Garuda yang dikreasikan dikit terus ditempel di depan selangkangannya, lalu di-shooting close-up untuk videoklip dari sebuah lagu ciptaannya yang berjudul ”Burung Paling Gagah Perkasa di Negeriku Indonesia”.

Ya ampun, Ahmad Dhani. Dirimu itu memang "luar biasa" dan ada-ada saja, sibuk cari-cari sensasi atas nama kreatifitas. Pantas saja engkau tak menolak ketika sebuah majalah lifestyle lisensi asing terbitan lokal menggelarimu sebagai Makhluk Tuhan Paling Arogan.

Simply because YOU ARE.

Tuesday, September 9, 2008

"The Rainbow Connection"


Why are there so many songs about rainbows and what's on the other side?
Rainbows are visions, but only illusions, and rainbows have nothing to hide.
So we've been told and some choose to believe it.
I know they're wrong, wait and see.
Someday we'll find it, the rainbow connection.
The lovers, the dreamers and me.

Who said that every wish would be heard and answered when wished on the morning star?
Somebody thought of that and someone believed it.
Look what it's done so far.
What's so amazing that keeps us star gazing and what do we think we might see?
Someday we'll find it, the rainbow connection.
The lovers, the dreamers and me.

All of us under its spell. We know that it's probably magic.

Have you been half asleep and have you heard voices?
I've heard them calling my name.
Is this the sweet sound that called the young sailors?
The voice might be one and the same.
I've heard it too many times to ignore it.
It's something that I'm supposed to be.
Someday we'll find it, the rainbow connection.
The lovers, the dreamers and me.





For more information about "The Rainbow Connection", click here.

Friday, August 15, 2008

Semantics ..., or Just Gay?


Apabila kita berbicara tentang kepribadian seorang musisi kondang berinisial A.D., bisa jadi sifat yang seringkali mengemuka tentang dirinya adalah: Arogan. Seorang teman, meski tidak pernah bertatap muka secara langsung dengan beliau ini, ternyata memendam rasa tidak suka yang amat sangat hingga mencapai level kebencian mendalam. Memang kalau dirunut satu-persatu, bisa panjang daftar yang seakan membenarkan sifat arogansi seorang A.D. ini.

Rumor has it, A.D. dalam kapasitasnya sebagai pemimpin dua kelompok musik bentukannya, melarang semua anggota kelompok band T.R. maupun Dw. (yang saat ini entah masih dengan angka tertentu atau bukan, sebenarnya sama saja) untuk tampil enerjetik di mana saja dan kapan saja sejak beberapa bulan terakhir ini, misalnya dengan melompat-lompat saat perform.
Alasannya? Karena A.D. sudah membuncit (atau menggembrot, terserah pilih kata mana yang kamu suka), dan penampilan enerjetik akan menguras tenaganya dan terlalu melelahkan baginya (barangkali adalah juga karena keberatan jenggot). Buat yang berbadan besar karena timbunan lemak, tentu paham benar alasan ini.

Namun sejak beberapa waktu lalu, kasak-kusuk lain yang terdengar di kalangan tertentu justru menyoal apakah musisi kondang ini ternyata selama ini memiliki kecenderungan menikmati aktivitas seksual yang di luar dugaan banyak orang.

Sebagaimana kata pepatah: Tidak ada asap tanpa api.

Semuanya bermula dari lirik lagu dengan judul berinisial ”S.B.M. (S.M.A.)” yang ditulisnya untuk si hidung runcing M.J. dan kelompok vokal D.D., yang sekarang jumlah personilnya sama dengan jumlah gigi nenek yang sudah tua dalam lagu ”Burung Kakatua”.
Tidak cukup bagi seorang A.D. untuk menciptakan melodi lagu yang entah karena ”kebetulan yang tidak disengaja” sangat mengingatkan pendengar pada lagu kelompok Pussycat Dolls berjudul ”Dontcha” yang sekitar dua tahun lalu merajai tangga lagu dunia, A.D. bahkan juga secara khusus menuliskan lirik yang sangat kental beraromakan seks.

Dan bukan hanya seks ”yang lazim”, tapi ... anal seks.

Yap! Lirik lagu yang pada awalnya menggiring pendengar untuk menganggap lagu ini hanya becerita tentang sakitnya mengalami pengkhianatan (baca: perselingkuhan) ”biasa”, bila mendengarkannya berulang-kali niscaya akan menemukan ”keanehan” lain, karena liriknya justru terasa kurang marah-marah dan kurang emosional bagi seseorang yang diselingkuhi.

Di sinilah yang menjadi entry point untuk membuat pendengarnya berpikir lebih jauh lagi, bahwa lagu ini sebenarnya memiliki subtext sendiri, yang setelah ditelaah lebih luas, ternyata seakan lebih pas jika dilihat sebagai curahan hati seseorang tentang pengalaman pribadi yang traumatis: perihnya disodomi.

Tulisan ini jelas merupakan interpretasi bebas, dan very debatable jika Anda yang membacanya tidak suka. Tapi setidaknya, apabila Anda memiliki waktu luang lebih banyak, silahkan menilainya sendiri dari klip berikut ini.

Dan sebagaimana yang lazimnya diucapkan oleh para VJ MTV, ”Check this out!”



Sekarang, setelah Anda menyimak lirik lagu dari videoklip di atas dengan bersungguh-sungguh, ngerti banget dong poin apa yang kumaksudkan dengan posting di atas?

Now, do you think A.D. as the song composer is playing with semantics, or he is actually ... just plain gay?

Thursday, February 14, 2008

Selamat Tinggal ... Selamanya

Ada kalanya cintamu kurasakan

Ku takkan tergoyah, kini tak lagi gairah

Apakah harus usai cerita cinta hanya karena kita merasa jenuh berdua?
Mungkin baiknya aku mencoba untuk menjauh

Adakah dirimu masih inginkan aku?

Andai saja bisa kukatakan bahwa sejujurnya aku masih inginkan sayang

Wajahmu selalu ada dalam benakku,
Dengarkan jerit hatiku
Dengarkan pinta hatiku
Mungkin baiknya aku coba untuk menjauh

Adakah dirimu masih inginkan aku?

Ku tak mungkin membuatmu mencintai aku
Ku tak mungkin memaksa jika sudah tak ada
Ku tak mungkin bertahan bila semua t'lah hampa

Mungkin ini saatnya ucapkan selamat tinggal ...

... selamanya











[ As performed by Shanty; song & lyrics by Dewi Sandra and Boy Syaref -- Dedicated to MasaiLion I once love with all my heart and soul, wishing you'll have a wonderful St. Valentine's Day celebration ]

Wednesday, January 16, 2008

Play It Again, Sam



Ilsa: Play it once, Sam. For old times' sake.
Sam: [lying] I don't know what you mean, Miss Ilsa.
Ilsa: Play it, Sam. Play "As Time Goes By."
Sam: [lying] Oh, I can't remember it, Miss Ilsa. I'm a little rusty on it.
Ilsa: I'll hum it for you.
Da-dy-da-dy-da-dum, da-dy-da-dee-da-dum...
[Sam begins playing]
Ilsa: Sing it, Sam.
Sam: [singing] You must remember this / A kiss is still a kiss / A sigh is just a sigh / The fundamental things apply / As time goes by. / And when two lovers woo, / They still say, "I love you" / On that you can rely / No matter what the future brings-...
Rick: [rushing up] Sam, I thought I told you never to play-...
[Sees Ilsa. Sam closes the piano and rolls it away]

* * *


Most of you, I believe, could instantly recognized the title of this blog-entry and the dialogue excerpts were from Casablanca, a movie claimed by many as (one of) the finest ever made in cinematiqué histoire.

But this piece of writing here would not talk about “Casablanca” as a movie but more likely to explain as why I chose certain quote as the title of my blog. The ‘original’ idea was like to give tribute to one of the most famous and most remembered movie quotes in history, which turned out to be inaccurate.

You’ve read the original lines at the beginning of this writing but somehow throughout these years, people kind of mixed them up into what had now become the title for this blog-entry (even Woody Allen wrote a play and a screenplay based upon it).

Anyway, what I really (wanted and) am trying to convey here from the beginning is that in the said movie, “As Time Goes By” was a very special song for Ilse Lund and Rick Blaine when they were still together as lovers in Paris, before the World War II broke out.

The song that would forever reminded them of how happy they were back then.

The song that would always brought back the bittersweet memories.
The song that they would cherished for as long as they live, so that they could always remember that one particular time when they have Paris.

And that was how I get the idea for this blog-entry.

I am going to post certain song-lyrics that affected or influenced me – either my feelings, views, or even my life as a whole – in one way or another, and also write reason(s) as why those particular song-lyrics have (/had) impact(s) on me.

And by doing so, hopefully that as time goes by, I too, can always have Paris ...