Sunday, June 29, 2008

Kirim Aku Bunga



Yap! Betul sekali. Yang jadi judul entry kali ini diambil dari judul lagu salah satu group band terkeren negeri ini, Slank. Seperti biasa, liriknya yang asyik dan bermakna dalam getoh. Terus apa dong hubungannya sama apa yang mau kutulis sekarang ini. Ga terlalu berkorelasi positif sih, soalnya cuma lagi pengen aja ngambil kalimat yang catchy gitu yang ada kata "bunga"-nya. Karena menurut petunjuk Bapak Presiden, hehehe ..., maaf ya Pak Harmoko, your era has long gone, cuma rada garing-garing kocak aja kalo balik ke masa jadul itu; anyway, yang mau aku sampaikan, menurut saran dari Bapak Stefan, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia-ku di era sekolah menengah dulu, kalau mau tulisannya dibaca harus bisa menarik perhatian (calon) pembaca, dan itu tentunya butuh judul yang okeh. Jadilah kupakai judul semacam itu. Nah terus sekarang mau ngomongin apaan seh, you may ask. Sebenarnya sih mau ngomongin soal bunga. Bukan bunga yang tumbuh-tumbuhan itu, ini ga ada kaitannya dengan tangkai kelopak putik benang sari dan segala macamnya itu, tapi mau ngrasani bunga yang artis itu. Iyaaa, yang juga ngetop dengan nama panggilan BCL. Sudah pada tahu dong. Nah sekarang apa yang mau dibahas dari dara manis-manis manja group ini? Satu hal yang rada-rada kurang penting juga sih. Masa semalam tuh aku mimpi, mimpi aneh sekali. Apa isinya? Sudah ga terlalu penting, dan emang rada-rada lupa juga apa persisnya, jadi ga perlu juga ditanyain karena ga bakalan dapat jawaban. Masa ya dalam mimpi aneh itu, aku ternyata berhubungan cukup dekat dengan si Bunga ini. Kurang lebih ya seperti orang pacaran gitu lah hubungannya. Rada ga penting ya menurut kamu? Ya terserah. Menurut aku sih jadi patut dipertanyakan saja, soalnya ini adalah mimpi selebriti ku yang pertama, setidaknya dalam hitungan 3-4 tahunan belakangan ini. Dan dari sekian banyak artis atau selebritis yang pernah kubersua, atau yang hanya sekedar pernah lihat di layar kaca, masa yang dipilih alam bawah sadarku untuk dimimpikan adalah Bunga? Dan dalam mimpi itu ya sampai aku bisa menganggap kami ada hubungan khusus, karena - lupa bagaimana awal mulanya - mendadak saja si Bunga ini marah-marah kaya akting dalam sinetron gitu, awalnya pakai mata melotot-lotot, tapi terus dia reduced to tears, nangis mewek gitu. Terus buat menenangkan Bunga, kupeluklah dia. Jadi kaya adegan di film-film romantis ga penting itu, menangis di dalam pelukan. Abis itu aku terbangun. Jadi penasaran dan ga tau lanjutannya gimana. Ada yang tahu dan bisa beri jawabannya ga? Mungkin kalau sudah kondisi penasaran kaya gini, bukan Bunga yang kubutuhkan - secara ga mungkin aja kan yaaa ... - tapi berikan aku Yusuf. Bukan sembarang Yusuf, karena aku sedang refer to that prophet yang memiliki kemampuan menafsirkan mimpi. Karena sama-sama impossible, yah minimal siapalah gitu yang punya kemampuan juga untuk tafsir mimpi. Jangan Ida juga, secara dia lebih sering tidak tepat dalam mengartikan mimpi aneh-aneh. Tapi menurut kamu yang baca entry blog ini, aneh-aneh ga sih isinya? Mudah-mudahan saja tidak yaa ...

Friday, June 27, 2008

One More Time, One More Chance




I'm always searching for your figure to appear somewhere
On the opposite platform, in the windows off the street,
Even though I know you couldn't be at such a place
If my wish were to come true, I would go to your side right now
There would be nothing I couldn't do
I would put everything on the line and hold you tight

If I just wanted to avoid loneliness, anybody would have been enough
Because the night looks like the stars will fall, I cannot lie to myself
One more time, oh seasons, fade not
One more time, when we were messing around

I'm always searching for your figure to appear somewhere
At a street crossing, or in the midst of dreams
Even though I know you couldn't be at such a place
If a miracle were to happen here, I would show you right away
The new morning who I'll be from now on
And the words I never said: "I love you"

The memories of summer are revolving
The throbbing which suddenly disappeared

I'm always searching for your figure to appear somewhere
In the town at dawn, at Sakuragi-cho
Even though I know you wouldn't come to such place

If my wish were to come true, I would go to your side right now
There would be nothing I couldn't do
I would put everything on the line and hold you tight

I'm always searching for fragments of you to appear somewhere
In a stone during my travels, in the corner of a newspaper
Even though I know you couldn't be at such a place
If a miracle were to happen here, I would show you right away
The new morning who I'll be from now on
And the words I never said "I love you"

I always end up looking for your smile to appear somewhere
At the railroad crossing waiting for the express to pass
Even though I know you couldn't be at such a place
If our lives could be repeated, I would be at your side everytime
I would want nothing else
Nothing matters except for you




Thursday, June 26, 2008

Pesan untuk Si Gembul


Si Gembul akan berlibur bersama sahabat-sahabatnya akhir pekan ini di Bali, sekaligus untuk merayakan bulan madu bersama pasangan sahabatnya yang akan menikah besok di Hotel Mulia, Senayan.

Mudah-mudahan saat menikmati liburan selama 4 hari 3 malam di Pulau Dewata tersebut, dia bisa mewujudkan cita-citanya, memiliki kulit berwarna tan, meskipun belum tentu akan bertahan lama di tubuhnya. Barangkali sesungguhnya memang sudah menjadi takdirnya untuk tetap berkulit putih.
Ha! Ha!

Selamat berlibur, Gembul!


P.S.: Jangan sampai lupa membawakan oleh-oleh seru yang spesial untukku.

Wednesday, June 25, 2008

A Little Extra Attention is Very O.K. !

Menjelang ulang-tahunku yang ke … - hmm, sebaiknya tidak perlu disebutkan di sini biar tetap (berkesan sok) misterius – di awal tahun ini, beberapa orang menyempatkan diri untuk bertanya apa yang kuinginkan sebagai hadiah.

Secara bercanda kukatakan bahwa sayang sekali aku bukanlah anggota keluarga kerajaan Inggris Raya, karena kalau iya, aku tentu akan memberikan mereka daftar hadiah-hadiah yang diinginkan untuk merayakan ulang-tahunku, sort of my wishlist.
Waktu didesak lebih lanjut, kukatakan pada mereka bahwa aku menerima hadiah apa saja. Seikhlas orang yang mau memberi.

Kecuali pada R. Waktu dia menelpon untuk bertanya hadiah ulang tahun macam apa yang kuinginkan kali ini, secara jujur terbuka dan apa adanya kuceritakan padanya bahwa waktu lagi mengantarkan teman-teman perempuan berburu baju-baju murah meriah di ITC beberapa waktu lalu, aku sempat melihat boneka beruang lucu. Bentuknya sangat sederhana dan dibuat dari bahan kain berwarna coklat susu, dengan motif daun dan bunga yang seakan memberikan aksen pada kulitnya. Tangan dan kakinya bisa digerakkan 360° karena dihubungkan ke tubuh boneka dengan semacam engsel yang dibuat dari benda yang mirip potongan batok kelapa berukuran sebesar koin 100 rupiah lama. Untuk boneka beruang berukuran sedang, harganya hanya 80 ribu perak dan itupun kemungkinan besar masih bisa ditawar.
Waktu itu meskipun kepengen banget, tapi aku malu membelinya untuk diri sendiri. Sebab perempuan-perempuan itu pastinya akan bertanya-tanya untuk siapa boneka beruang lucu itu kubelikan. Karena mereka tahu saat itu aku sedang tidak berhubungan asmara dengan siapapun yang rasanya pantas diberi hadiah selucu dan menggemaskan itu.
Jadilah hanya kepada R aku mengadu. Loh, kok kedengarannya jadi seperti lirik lagu cengeng ya? Anyway, dia berjanji akan mencoba melakukan apapun yang dia bisa. Maklumlah, dia kan tidak tinggal di negara ini.

Haha! Aku pasti terdengar sangat konyol ya, menceritakan hal sesepele itu kepada orang lain.
Sebenarnya aku pengennya ada orang yang begitu baiknya kepadaku lalu memberikan hadiah laptop canggih dan keren, serta harus enteng sehingga bisa gampang masuk tas dan dibawa kemana-mana. Seperti yang diterima Sarah Sechan sebagai hadiah ulang-tahun. Tapi itu tentu tidak bisa dicontoh apalagi diharapkan. Soalnya yang memberikan hadiah itu kepadanya adalah ... suaminya sendiri! Hehehe ...

Lalu seorang kolega bertanya, hadiah macam apa yang kumau untuk ulang-tahunku kali ini. Mungkin dia masih merasa tidak enak karena beberapa waktu sebelumnya aku memberikan hadiah buku ensiklopedi untuk anaknya yang masih kecil. Harganya sih memang beberapa ratus ribu. Waktu itu kupikir harga hadiah dariku barangkali tidak akan semahal hadiah dari orang-orang lain. Sampai waktu acara ulang tahun si bocah, ternyata ... well. Ya gitu deh.
Bukannya mau sombong sih di sini, dan memang tidak pada tempatnya juga mengungkit-ungkit harga hadiah yang kita berikan untuk orang lain. Itu tidak pada tempatnya, dan artinya ga ikhlas juga memberi. Setidaknya itulah pendapatku pribadi.
Kembali ke cerita, akhirnya si ibu ini bercerita, sehari sebelumnya saat dia sedang berada di aksara Kemang, dia teringat untuk membelikan hadiah buku untukku. Biar lebih gampang aja, katanya. Namun kemudian saat keluar toko, ternyata dia batal membeli apapun.
Karena saat melihat deretan rak penuh berisi buku, dia malah jadi bingung sendiri dan takut malah membelikan buku yang aku tidak suka atau malah sudah punya atau sudah baca.
Lalu kukatakan padanya, harusnya lihat dari account goodreads-ku saja. Di situ aku membuat satu shelf – istilah mereka untuk pengklasifikasian buku sesuka hati menurut selera si pemilik akun – khusus berjudul ”wishlist”.




Tinggal buka section itu dan, voila! Terbukalah di hadapannya alternatif hadiah yang kuinginkan. tinggal pilih apa judulnya. Karena memang semuanya buku.
Tapi tentu saja buat kolegaku ini, usulanku itu sama sekali tidak praktis.
Lantas yang dilakukannya adalah menggratiskan celana panjang khaki yang tempo hari dia jahitkan untukku. Lumayan banget, secara waktu itu dia bilang harganya, termasuk bahan, kurang-lebih 175 ribu. Padahal itu celana sudah jadi dan kupakai sejak sekitar 3 bulan sebelumnya. Aku sih hepi-hepi saja diberi celana panjang gratis dan bagus pula. Ha! Ha! Orang yang ga mau rugi banget ya.

Tapi sebenarnya untuk yang beginian aku paling sering merasa parno sendiri. Seringkali merasa ga enakan. Dan takut kalau sampai dicap matre gara-gara pengennya dapat hadiah-hadiah mahal.
Padahal, kenyataannya aku paling jarang menilai hadiah dari price tag nya. Hampir selalu memberikan perhatian lebih besar pada keunikan dan manfaat hadiah tersebut. Serta niat yang memberi. Semakin tulus dan tanpa dikaitkan dengan maksud-maksud terselubung, semakin baik. Karena siapa sih orang yang tidak senang mendapatkan perhatian dari orang lain?
Seperti hadiah tote bag bergambar spaniard dari Indra yang dibelinya di Bangkok. Dia cuma bilang harganya murah tanpa menjadi lebih spesifik. Dan kuingat waktu itu dia agak malu dan sedikit ragu pas memberikannya. Barangkali dia pikir aku akan kecewa diberi oleh-oleh seperti itu. Tapi dia salah besar, karena aku suka. Simpel dan unik. Just like me. *wink!*

Friday, June 20, 2008

It's Very Hard Out There for Refugee


Is there a time for keeping your distance
A time to turn your eyes away
Is there a time for keeping your head down
For getting on with your day


Setiap tanggal 20 Juni, kita diajak mengingat nasib para pengungsi. Hal ini karena Perserikatan Bangsa-Bangsa, melalui Resolusi Majelis Umum pada tahun 2000, menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Pengungsi Sedunia - World Refugee Day. Menurut Wikipedia, tanggal 20 Juni sebelumnya diperingati sebagai Hari Pengungsi Afrika di sejumlah negara di benua tersebut. Dan masih menurut sumber yang sama, penduduk Inggris Raya memperingati World Refugee Day ini sebagai bagian dari Minggu Pengungsi – Refugee Week, yaitu sebuah festival berskala nasional yang ditujukan untuk meningkatkan pemahaman terhadap dan merayakan kontribusi budaya dari para pengungsi. Menarik.

Barangkali bagi banyak orang di sekitarku, persoalan pengungsi adalah satu masalah yang tidak nyata. Karena para pengungsi dipersepsikan sebagai sekumpulan orang bernasib sial yang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka yang entah bagaimana kondisi sebelumnya – karena memang tidak pernah didatangi secara langsung oleh ‘pihak pengamat’ – menuju tempat lain yang juga tidak begitu jelas kondisinya (bagi ‘pengamat’ ybs.). Or perhaps, we’re simply being ignorant.
Atau barangkali media massa yang seringkali mengekspos penderitaan para pengungsi ini juga bisa jadi penyebabnya. Mengingatkanku pada penggambaran dalam salah satu cerpen Jhumpa Lahiri di dalam bukunya yang meraih penghargaan Pulitzer, The Interpreter of Maladies. Penderitaan para korban perang India melawan Pakistan di daerah pengungsian pada awalnya menjadi topik utama berita malam, yang disaksikan oleh satu keluarga imigran India ini di layar televisi saat menikmati makan malam. Seiring perjalanan waktu, porsi berita tersebut makin bergeser ke segmen berikutnya, hingga akhirnya menghilang sama sekali dari berita malam karena dimasukkan ke dalam berita larut malam yang penontonnya tidak banyak. Alasannya gampang, pemirsa yang sebelumnya memiliki interest tinggi mulai bosan disuguhi berita konflik yang itu-itu saja.
Keadaan yang mirip juga terjadi dulu ketika TVRI adalah satu-satunya stasiun televisi negeri ini yang berhak memproduksi siaran berita. Masih kuingat ketika itu aku masih duduk di sekolah dasar, dan berita TVRI dari international desk mereka baru dipancarluaskan pukul 21.00 WIB. Waktu itu beberapa kali tugas dari sekolah adalah menonton berita malam untuk kemudian dilaporkan ulang dalam pelajaran bahasa. Berhubung aku masihlah seorang anak kecil dan selalu makan makanan dengan teratur dan sehat – tidak mengandung banyak gula yang membuat orang cenderung hiperaktif akibat “overdosis” gula (sugar high) – jadinya jam 9 malam sudah terkantuk-kantuk saja. Meskipun demikian, tetap dipaksakan untuk menonton berita malam dengan ditemani Bapak yang asyik membaca koran, semata-mata agar keesokan harinya tidak dihukum berdiri di depan kelas karena tidak mengerjakan tugas laporan.
Masa itu adalah ketika Republik Yugoslavia bentukan mendiang Tito pecah menjadi negara-negara kecil yang sepertinya – kalau ingatanku tidak keliru – kebanyakan dibentuk berdasarkan basis mayoritas etnisitas penghuni kawasan geografis tertentu. Pokoknya masa itu peta seluruh dunia mendadBosnia-ak kedaluarsa, seiring terbentuknya negara-negara baru seperti Serbia, Bosnia-Herzegovina, Montenegro, Macedonia dan entah apalagi. Lalu di antara negara-negara ini mulai sibuk saling memerangi satu dengan yang lain. Yang masih kuingat, sepanjang tahun, mas-mas dan mbak-mbak pembaca berita TVRI (say hello to the legendary Tengku Malinda !) mengakrabkan pemirsa dengan nama-nama Balkan, serta tragedi kemanusiaan yang membuatku ngeri sendiri untuk membayangkannya. Setiap malam, yang terlihat selalu tentara berbaris, deretan tank, senjata yang meletus, gedung-gedung hancur tak berbentuk atau habis dilalap api dengan asap membubung tinggi. Juga orang-orang tua, ibu-ibu dan anak-anak bermuka cemong berbaju rombeng sedang menangis. Menyedihkan, tapi entah mengapa, saat itu bagiku mereka terasa kurang nyata. Mungkin karena semuanya terjadi di belahan bumi yang berbeda, atau bisa jadi karena warna kulit kami yang tidak sama.
Kesan yang kurang-lebih mirip juga masih kudapatkan saat “berkenalan” untuk pertama kalinya dengan Christianne Amanpour, jurnalis CNN yang melaporkan langsung dari Goma. Dengan logat bahasa Inggrisnya yang kental, mungkin aksen Mediterania, setiap hari layar televisi keluarga kami disesaki oleh gerombolan manusia berkulit hitam, para pengungsi etnis Hutu yang melarikan diri dari ancaman genosida di Rwanda. Sepanjang jalan, yang diperlihatkan kepada kami adalah ribuan manusia berbaris berjalan kaki dengan memanggul barang apapun semampu mereka, atau puluhan tentara yang sedang menyandang senjata dengan muka bengis dan tatapan beringas, atau gelimpangan mayat yang berserakan di mana saja seperti ratusan lalat yang menemui ajalnya akibat disemprot insektisida lantas bangkai-bangkainya dibiarkan begitu saja di tempat mereka jatuh dari langit. Tidak beraturan. Mengerikan, karena sepertinya tidak ada seorangpun yang merasa berkepentingan untuk membereskan semuanya hingga menguburkan seluruh mayat tersebut. Saat itulah, dan barangkali seiring pertambahan usia juga, aku mulai mengerti seutuhnya betapa sangat tidak enaknya hidup sebagai pengungsi. Dan sepertinya sejak saat itu respon otakku adalah secara otomatis memblokade pemikiran-pemikiran tentang penderitaan para pengungsi, sehingga rasa simpati terhadap penderitaan manusia lainnya itu menghilang entah ke mana.

Hingga satu ketika, saat aku masih di tahun ketiga universitas. Hari itu aku kebetulan mengunjungi sebuah pameran buku, dan mataku tertuju pada salah satu buku fotografi yang didiskon, kompilasi foto-foto pemenang penghargaan World Press Photo tahun 1990-an. Di dalamnya, untuk bagian foto berita – yaitu serangkaian foto dari satu topik yang sama – mataku kembali melihat mereka, para pengungsi Rwanda. Salah satu foto yang kemudian sukar kulupakan memperlihatkan orang-orang dewasa yang berlarian dan dua orang bocah hitam yang meringkuk menangis dengan wajah sangat ketakutan. Teks yang menyertai foto tersebut menjelaskan bahwa foto diambil ketika tentara Tutsi menyerbu masuk kamp pengungsi dan menembaki mereka secara membabi-buta. Usai membaca teks tersebut mataku kembali terpaku pada ekspresi kedua bocah tersebut. Entah bagaimana persis terjadinya, tapi kuingat saat itu mataku berkaca-kaca, dan aku harus buru-buru mendongak sambil mengerjapkan kelopak mata beberapa kali, berpura-pura seolah mataku perih akibat kebanyakan membaca, padahal sebenarnya ingin mencegah agar jangan sampai orang-orang tahu aku sangat tersentuh melihat foto itu. So as not to let my softer side shows.

Akan tetapi, foto-foto peraih penghargaan tersebut bisa jadi mewakili perasaan kebanyakan orang mengapa mereka – dan aku juga – mengalihkan pandangan dan pikiran dari penderitaan para pengungsi. Karena foto-foto tersebut seakan mengingatkan kita pada betapa rapuhnya hidup ini. Karena foto-foto tersebut bisa membuat kita merasa tidak nyaman akan kenikmatan hidup yang sedang kita rayakan, sementara kita tahu dan sadar sepenuhnya bahwa pada saat yang sama, di belahan bumi yang lain, ada orang-orang yang bahkan belum tentu bisa makan tiga kali sehari karena mereka tidak memiliki apapun selain pakaian yang melekat di badanm karena mereka terpaksa menjadi pengungsi, dan karena terbuang dari tempat tinggal mereka sendiri.


Is there a time for kohl and lipstick
A time for curling hair
Is there a time for high street shopping
To find the right dress to wear


Hidup sebagai pengungsi sudah pasti tidak enak. Barangkali itu menjadi sebab mengapa – mungkin – banyak orang di sekitar kita, dan barangkali diri kita sendiri, masih ‘bersyukur’ bahwa para pengungsi tersebut hadir dalam kehidupan kita melalui medium perantara.
Para pengungsi ini hanyalah sekumpulan orang-orang bernasib sangat sial yang tampil di foto-foto di koran dan majalah, atau terlihat lebih hidup lewat tayangan siaran berita. Kalau tidak suka melihat mereka, lempar saja korannya jauh-jauh, tutup dan singkirkan majalahnya, atau ganti channel televisinya. Begitu mudahnya untuk menyingkirkan mereka dari hidup kita. Para pengungsi ini menjadi tidak nyata karena kita tidak bisa lagi melihat mereka.


Is there a time to run for cover
A time for kiss and tell
Is there a time for different colours
Different names you find it hard to spell


Dulu saat masih kuliah dan sedang berkutat dengan ide-ide untuk diajukan sebagai topik penelitian skripsi, masih kuingat salah-satu topik yang kuajukan adalah mengenai masalah pengungsi Afghanistan.
Saat itu rejim Taliban masih berkuasa, dan mereka baru saja menghancurleburkan patung-patung raksasa Buddha tanpa menghiraukan imbauan masyarakat internasional untuk membiarkan keberadaan warisan budaya dunia tersebut sebagaimana adanya. Ketika itu, sesiapapun yang berbicara tentang serbuan pasukan gabungan Amerika Serikat dan sekutunya masuk ke Afghanistan pasti akan dipandang sebagai seruan nabi palsu di tengah gersangnya padang gurun.
Alasan personal-ku memilih topik tersebut adalah karena kupikir seharusnya ini akan menjadi topik penelitian yang tidak terlalu sulit, cukup dengan membaca sumber-sumber sekunder: media massa. Memang saat itu aku sedang ingin mencari yang gampangnya saja, yang penting bisa tulis skripsi cepat agar bisa cepat sidang sehingga bisa cepat meraih gelar sarjana, yang artinya sukses memenuhi salah satu amanat orang tua.

Entah mengapa, saat itu aku benar-benar lupa bahwa dulu sekali, ketika aku masih kecil dan duduk di bangku sekolah dasar, keluargaku pernah menerima satu keluarga utuh, dalam artian kedua orang-tua berikut seluruh anaknya, untuk tinggal bersama kami. Keluarga ini sesungguhnya merupakan kerabat jauh. Mereka terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka akibat kerusuhan berbau agama yang merembet ke antarsuku, dan kabarnya saat itu sudah sampai memakan korban jiwa.
Malam sebelum menerima mereka, Bapak dan Ibu mengumpulkan kami semua di ruang tengah lantas memberikan wejangan-wejangan singkat yang intinya adalah melarang kami untuk menyebut mereka menumpang hidup di rumah kami, semata demi menjaga perasaan mereka. Meskipun kenyataannya, ya memang demikian keadaannya: mereka menumpang.
Aku tidak melihat bagaimana riuhnya saat mereka tiba, karena kejadiannya waktu aku masih di sekolah. Yang kuingat, sepulangnya dari sekolah dan saat baru turun dari bis sekolah, terlihat ada beberapa barang yang tergeletak di halaman rumah kami yang paginya saat aku berangkat sekolah, semua barang itu masih belum ada di sana. Mulai dari sepeda motor hingga antenna parabola!
Masuk ke dalam rumah, ada banyak orang tak kukenal. Lalu aku diperkenalkan kepada mereka. Entah siapalah, sekarang aku bahkan tidak bisa ingat wajah-wajah mereka, apalagi jika diminta menyebutkan namanya. Ada satu keluarga sedang duduk-duduk di ruang makan keluarga kami, lalu saat aku beranjak ke ruang tengah, ada juga dua orang anak kecil sedang menonton televisi. Katanya sih mereka berdua masih terhitung saudara sepupu jauhku. Membosankan, karena mereka tampak bukan jenis yang bisa asyik diajak main, sebab mereka berkulit gelap akibat terbakar matahari, dan seakan untuk menegaskan ‘kecurigaan’-ku itu, mereka memang berbau matahari.

Tidak butuh seminggu untuk membuatku kesal pada keberadaan mereka di antara kami.
Si Ayah doyan bersendawa di meja makan. Membuatku kesal karena justru Bapak sangat melarang keras kami membuat bebunyian ketika makan malam bersama, ya, bahkan sedapat mungkin harus meminimalisir bunyi sendok dan garpu yang beradu dengan piring keramik. Tapi dengan kerabat ini, Bapak diam saja melihat tingkah polahnya. Anak-anak mereka makan sambil berdecap dengan berisik, seolah tidak bisa makan sambil menutup mulut ketika mengunyah, ditambah kegemaran mereka mengaduk-aduk dan bermain dengan makanan di dalam piring di hadapan mereka.
Belum lagi saat menonton televisi, anak-anak ini akan berkeras untuk menonton program kesenangan mereka, sama sekali tidak mau mengalah pada anak tuan rumah. Menyebalkan. Mentang-mentang ”hosting tamu” masa otomatis harus menerima semua dengan lapang dada? Nonsense!
Lantas ada pula anaknya yang tertua, saat itu kira-kira seusia SMA tapi terpaksa tidak bersekolah dulu untuk sementara waktu karena sekolahnya ditutup akibat kerusuhan, mengomentari dengan nada negatif layar televisi kami yang kecil dan tidak memuaskan pandangan matanya, karena dia terbiasa menonton acara televisi di layar lebih lebar seperti yang ada di rumahnya. Semakin menyebalkan saja!
Aku tidak mengerti kenapa kedua orangtua ku bisa bersabar menghadapi tingkah-polah keluarga ini, karena aku tidak. Barangkali pertimbangan kedua orangtuaku saat itu adalah faktor kemanusiaan, karena sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk menolong orang lain yang sedang mengalami kesusahan. Terlebih lagi karena kami masih memiliki hubungan kekerabatan.

Namun bagi seorang anak kecil seperti diriku saat itu, mau ada hubungan saudara atau bukan, kalau sudah dipandang mengganggu dan masuk tahap menyebalkan yang perlu diberi pelajaran, ya ajak berantem aja sekalian! Tak memikirkan masalah kepekaan sama sekali. Biarlah itu menjadi urusan orang-orang dewasa saja.
Seingatku saat itu kurang lebih baru lewat satu minggu sejak mereka menjadi penghuni baru di rumah kami ketika akhirnya aku mulai bertengkar dengan anak-anak mereka yang kecil. Tidak sampai adu pukul berdarah-darah dan lebam-lebam, tapi sangat jelas memperlihatkan bibit konflik yang berpeluang meledak dalam skala lebih besar lagi.

Untung saja saat itu tanpa sepengetahuanku, kondisi keamanan mulai berangsur pulih sehingga tak lama kemudian keluarga ini bisa kembali ke rumah mereka dengan membawa serta tumpukan harta-benda mereka yang sempat memenuhi rumah dan halaman kami. Aku bisa bebas untuk kembali bermain dengan semua mainanku seperti sediakala tanpa diharuskan membaginya dengan para sepupu jauhku itu (such a spoiled egoistical little kid, ha! ha!) maupun mengajak mereka bermain bersama. Habisnya cara mereka bermain ga asyik dan ga imajinatif sih, masa main perang-perangan dengan tentara-tentaraan plastik tanpa disertai cerita asal-muasal latar-belakang penyebab terjadinya konflik bersenjata itu sendiri?
Waktu mereka masih tinggal di rumah kami, satu saat ketika ketidaksukaanku sudah nyaris mencapai titik kulminasi, aku bahkan sempat berharap ada orang Samaria yang baik hati kebetulan lewat di depan rumah kami dan lantas memutuskan bersedia menampung keluarga menyebalkan ini berikut segala kebawelan dan tingkah-laku ajaib setiap anggota keluarganya yang menjengkelkan itu. Biar sajalah aku menjadi orang Farisi yang terus berjalan lewat dan pura-pura tidak melihat. Untuk hal yang satu ini, aku yakin sanggup melakukannya dan jelas-jelas rela menanggung risikonya nanti, ketika dijadikan contoh tingkahlaku tidak baik.


Is there a time for first communion
A time for East Seventeen
Is there a time to turn to Mecca
Is there time to be a beauty queen


But now, everything has changed.
Even though I don’t know what changed me and when it happened exactly, but am pretty sure I’ve changed my position and opinion about this refugee issue. Barangkali terjadinya seiring pertambahan usia dan peningkatan kedewasaan jiwa. Atau karena melihat beberapa contoh orang-orang sukses dan ternama yang berprestasi, yang dalam perjalanan hidupnya sempat menjadi pengungsi.
Yang jelas, sekarang kalau lihat laporan berita tentang penderitaan para pengungsi, jadi sedih.
Meskipun jelas kalau sekedar sedih doang, tidak akan membantu mengurangi penderitaan para pengungsi tersebut. Sama seperti pesan layanan masyarakat yang dibintangi Angelina Jolie berikut ini.





Salah satu pengguna YouTube meninggalkan komentar menyindir, yang memang tepat dialamatkan untuk PSA ini. Kurang lebih katanya, “... just thinking of them won’t change anything.”; buat menanggapi closing statement dari Ms. Jolie. Well, I couldn’t agree more.
Yang dibutuhkan dalam situasi semacam ini adalah tindakan nyata, dan segera.
Namun terkadang, dalam kondisi tertentu, justru kesulitan memberikan bantuan itu dikondisikan sendiri secara sengaja oleh sekelompok manusia berjudul pemerintah. Ingat saja para korban badai Nargis di Myanmar, atau yang baru-baru ini kubaca dari laporan majalah Time, bahwa Presiden Zimbabwe sengaja membiarkan rakyatnya menderita dan mati perlahan namun pasti – sedangkan bagi mereka yang bernasib lebih baik akan eksodus ke negara-negara tetangga seperti Afrika Selatan. Membuatku tidak habis pikir, kok ada ya pemerintah yang setega itu? Tapi bisa jadi hal ini tidak ada kait-mengait dengan masalah perasaan tega. Barangkali justru karena masalah politik semata. Mengerikan memang manusia bisa tega kepada sesamanya justru karena dia punya akal pikiran untuk melakukannya.


Is there a time for tying ribbons
A time for Christmas trees
Is there a time for laying tables
And the night is set to freeze

Story Behind The Creation

Couples of years ago, from various sources of international online news services, I read that writing blog is the new trend in IT sphere. It was said that blogging regularly have many advantages. By blogging, you can improve your writing ability (of course!), make more friends, and in more recent cases, even helping out your career!

Well, at least I personally know someone who told me that he landed on his first job in Jakarta with such an unexpected help from his own blog. Even some big companies in U.S. of A. already admitted that blogging improved their brand image and boasted up sales, while at the same time they can get in touch personally with their consumers.
That was why all top executives in those companies go blogging, responding to every comment posted by their customers and people who visited their blog. Even Bill Gates, one of the very richest persons in the world, writes his own blog!

That’s why I started blogging in 2005, using then recently launched blog service from Friendster. Since I thought I have deep passion for creative writing, I didn’t see any damage could be done by posting my writings online. At least, I found a new medium to justify my narcissist-self. Ha! Ha!

Blogging was fun, until later in June of the same year, someone told me that some of my postings has stirred some gossips around The Neighborhood. People started talking, asking questions behind my back.

“Does he …?”
“But I thought …”
“Is he …?”
“That means for all this time he was …”

Even a friend from the buzzing Neighborhood felt some kind of obligation to ask me about the real meaning behind my writings posted on my blog.

“People are talking, you know. About you and what you’ve posted. They asked me whether I could confirm any of them. They’re curious. Because they thought for all this time you and I were into something.” (yeah, right! *rolling eyes*)

“Oh really? That’s good. That’s the reason I blogged. Even though at first I don’t think anyone would ever read them. But you know what? I feel quite happy now you’ve told me that. I mean, my writings are ‘that good’, right? That’s actually my intention posting them online. They were written and posted for one’s reading,” replied I (*compiled answers*). However I thought I just sounded defensive, didn’t I?

Munching the Mexican-style spicy grilled chicken breast, I tried to keep an emotionless face even though my mind was thinking hard. “That means I have to write more, but in a calmer tone. Gosh, I can’t wait!”

But then what was really happened back then was that I spent doing everything I could but write new materials and posted them online. Until one time near midnight when I was hanging around The Neighborhood with Bradley.

“I read your blog,” he said. “And I was wondering, why on earth you could be so open about you and still relax. I mean, you seem don’t have any hesitation revealing everything about you online. Because if I were you, I won’t be able to do things like that. I mean, with all those folks around this Neighborhood. I just won’t feel comfortable after posting things like the ones you wrote.”

He kept talking about me and my blog, trying hard to convince me that I’m that obvious, unlike his discreet personality; but all he said failed to catch my attention. My mind seemed automatically shut itself off of this topic.
“You’re not listening”, he protested. I just laughed, which made him stood and left me.

About a week later, Mr. Talent Guy of The Neighborhood, on a lunch gathering, suddenly asked me about my blog’s content. Since I don’t expect him as someone who’ll read my blog, it was like setting off an alarm to me.

“That’s it. They’re circulating some stories about me among them. Somehow, it makes me feel uneasy. Maybe I should quit writing anything that’ll bring up some issues on me.”

That was why I stopped blogging, and even went further by deleting the whole blog, yanked it off online.

Until Bradley brought it up again. “Why did you stop writing? I thought you enjoyed it. Thought we shared the same passion, that is writing.”

And others, I thought, but hey, that’s another story!

And he surely made me think: “I shouldn’t let anyone stop me from writing. I shouldn’t listen to them, to whatever they said about me. I love writing creatively. If I let anyone ever stand in my way like I did these past months, I won’t be able to enjoy the rest of my life.”

Which led to the creating of Life in The Time of Butterflies. This blog, that is.

Monday, June 16, 2008

Once Upon a Time, In The Galaxy Far Far Away


First time I heard that George Lucas has planned to release yet another Star Wars installment this summer, I was like, “Whoa?! Dude, can’t you make something else?”

I mean, ... seriously!

In my opinion, orang ini bahkan lebih parah daripada James Cameron yang sesudah menikmati sukses luar biasa – so-called artistic maupun komersil – lewat film legendaris Titanic, lantas tidak pernah menghasilkan satu produk film apapun that is worth to mention, ever since.

Bayangkan saja, sejak Star Wars pertama kali sukses menyerbu layar bioskop di seluruh dunia – yang kemudian entah karena aku yang terlalu bodoh untuk dapat memahaminya atau Lucas yang terlalu pintar (and too greedy?) untuk menggesernya jadi Episode IV: A New Hope – pada tahun 1977, His Excellency Lucas hanya menghasilkan Star Wars dan segala-macam derivatifnya (if you can’t say spin-offs) plus dapat credit untuk pembuatan Indiana Jones (and for this latter, he also did just the same pattern with Star Wars).

Bolehlah dulu banget aku kagum dengan ”kegilaan”-nya sehingga menghasilkan satu sub-culture baru yang sangat fenomenal, that is Star Wars. Tapi sekarang?!?

Di mataku, George Lucas tampaknya tidak lebih daripada seorang teman kakakku saat sekolah menengah yang diberi nilai 9 oleh guru Seni Rupa karena melukis gambar kucing dengan sangat bagusnya, dan sejak saat itu setiap ada tugas membuat lukisan, teman kakakku ini selalu mengulangi gambar kucingnya dengan pose yang sama. Bedanya cuma pada sentuhan warna atau beberapa detail kecil tidak signifikan yang ditambahkan ataupun dikurangi. Tujuannya jelas: biar bisa terus dapat nilai 9 sebagaimana lukisan kucingnya yang pertama.
Meskipun Mr. Lucas melakukannya dalam tataran yang jauh lebih besar dan luas daripada teman kakakku ini sehingga rasanya tidak pantas untuk dikomparasikan, tapi tetap saja mereka tampak sebelas-duabelas, alias mirip-mirip aja tuh.
Perbedaan mendasar palingan adalah karena George Lucas melakukan ini semua karena ketamakan, bayangkan saja berapa puluh (-ratus ?) juta dolar yang dihasilkannya dari lisensi dan franchise Star Wars ini?

Mungkinkah sebenarnya Mr. Lucas ini semacam Evil Genius in the Closet – atau Discreet Evil Genius – karena dengan kepiawaiannya mengolah konflik Star Wars, dia bisa meraup kekayaan sedemikian banyak yang kemudian bisa untuk membangun ranch superluas, perusahaan super besar, dan entah apa lagi.

Awalnya, kupikir hanya diriku saja yang menganggap trilogy Star Wars yang kemudian dijadikan prequel ini bagaikan steak dari daging kualitas jelek dan dimasak dengan cara yang salah lantas ditutupi dengan begitu banyak saos barbeque untuk menyarukan kehancuran rasa aslinya, sehingga lantas menonton film ini bagaikan penyia-nyiaan waktu dan sumberdaya lainnya, until I found this online article maupun dari responses terhadap article ini.
Whoa! That means I am totally not alone in sharing this idea. Ha! Ha! Ha!

Masih belum bisa dilupakan perasaan dongkol dan kesal seusai menonton Star Wars Episode III : Revenge of the Sith sekitar tiga tahun yang lalu. Bayangkan saja, legendary saga selama 3 dekade itu ternyata bermula dari sebuah mimpi atau penglihatan seorang Anakin Skywalker yang sesungguhnya tidak bisa diandalkan !!

Setelah merasa mual melihat adegan mesra-mesraan a la Bollywood di Episode II antara Anakin dan Amidala yang berlari-larian di padang rumput Tatooine dan berguling-gulingan mesra, rasanya sudah seharusnya penonton pintar mempersiapkan diri menyaksikan salah satu kisah cinta paling jelek yang pernah ditampilkan di film-film terbesar Hollywood !

Ada yang perhatikan bahwa ‘penglihatan’ Anakin Skywalker tentang Padme Amidala yang kesakitan pada saat melahirkan itu sebenarnya tidak pernah lengkap ?

Gosh! I mean, if I were him, yang akan kulakukan pertama kali setelah meyakini bahwa penglihatan tersebut bukan hanya sekedar bunga tidur adalah memasukkan Amidala ke dalam semacam perawatan intensif di klinik eksklusif.
Masa sih di galaxy far far away yang sudah mampu membuat robot dan pesawat luar angkasa secanggih itu, angka kematian ibu melahirkan tidak bisa dicegah dan ditekan menjadi nihil ??
Masa mereka tidak mengenal teknologi “jaman dulu” bernama bedah Caesar, yang must be performed jika ternyata proses persalinan normal dianggap akan membahayakan nyawa ibu dan atau bayi yang akan dilahirkannya ?
Jadi, jika saja Anakin berpikir lebih jernih dan bijaksana, maka sebenarnya ia bisa menyelamatkan nyawa istrinya, pujaannya, his center of universe, melalui teknologi bedah tercanggih yang jauh lebih oke dan menjanjikan daripada bedah Caesar yang pastinya telah dikuasai oleh para tenaga medis (robot maupun manusia) di sistem perbintangan yang telah mengenal teknologi yang jauh lebih modern daripada yang dikenal para penghuni galaksi Bimasakti, tanpa perlu terpengaruh bujukan syaitan Chauncellor Palpatine untuk masuk ke dalam pengaruh ‘dark side’ untuk menjadi Darth Vader, tanpa perlu mengakibatkan pemusnahan seluruh Orde Jedi, tanpa perlu memicu tragedi yang mengakibatkan penderitaan puluhan tahun in the galaxy far, far away …

Gosh ! Weren't we all being fooled for all this time by George Lucas ??

As for me now, Cher masih jauh lebih inovatif daripada George Lucas.
Setidaknya, selama kurang lebih empat decade berkarya di bidang entertainment, Cher mencetak paling sedikit satu album no.1 dan single no.1 di chart Billboard setiap 10 tahun, complete with her four different and distinctive looks. Not to mention kemampuan aktingnya yang berbuah Grammy, Oscar, Emmy (you see, politics are not so different than acting).
Perhaps, they should make Cher queen of this so-called galaxy far far away. Toh, selera fashion-nya sudah memadai untuk pergaulan standar intergalactic relations. Seperti yang terlihat di bawah ini.


See?! Cher already has all that!!

Nilai plus lainnya, telah terbukti bahwa Cher bisa mempertahankan eksistensinya (and in some specific moments, even domination!) di arena hiburan pop yang jauh lebih rentan terhadap perubahan mengikuti trend dibandingkan dunia politik.
Bayangkan saja sendiri, eksistensi dan "ketenaran" Cher selayaknya diperbandingkan dengan para 'aktor' dunia politik yang notabene dilabeli dikator, semacam Fidel Castro dan Moammar Khaddafi!

So what else do we have to say, other than ...

"Long live the Queen! Hail Cher!"

Friday, June 13, 2008

And I’ll Just ... (Walk Away)



I don’t know for how long I have felt that
There’s a deep river of tears inside I need to cry
Been holding back for years and perhaps will always be
But that was when I think there’s no future without you

There’s a high mountain so great its altitude I need to climb
To encourage me wipe away the hidden fears
And on its top I feel like home because
Solitude and loneliness has been the only true friend of mine
Even when there were you to fill my days

Who knows where I am going, or
Does tomorrow belong to me?

But that was then and
This is me now
As I’m turning my back on sadness and emptiness
I decide that it is now to leave them all behind

Strength will be by my side
Even though I feel afraid but
I know it’s already too late to say goodbye
We know there’s nothing left to say to each other

I will walk this path
This time with my head up high
I will walk away with pride, just me and myself

I have nothing left neither to regret nor to hide
No tender moment to hold because we had none
And those tears you once saw flowing down from my eyes
They won’t be there ever again

And I’ll just walk away from us

Thursday, June 5, 2008

"Bangkit Itu Malu ..."


"Bangkit itu malu. Malu melakukan kekerasan terhadap para perempuan dan orang-orang tua dengan mengatasnamakan Tuhan dan agama."


Andai saja pesan layanan masyarakat Mengenang 100 Tahun Kebangkitan Nasional yang disampaikan oleh Bapak H. Deddy Mizwar yang seringkali ditayangkan di semua stasiun TV nasional tersebut bisa ditambahkan, saya akan mengusulkan penambahan satu baris kalimat lagi sebagaimana yang dapat dibaca di atas.

Atas nama pribadi, saya mengecam keras segala bentuk dan tindak kekerasan terhadap individu lain, serta mendukung permintaan Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang meminta Kepolisian Republik Indonesia untuk menindak tegas sesuai aturan hukum yang berlaku para pelaku kekerasan di lapangan Monas pada hari Minggu, 1 Juni 2008 yang lalu.

Bangsa Indonesia bukanlah gerombolan orang haus darah dan senang berlaku brutal.
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara hukum.

Stop kekerasan!

Thursday, May 29, 2008

I Wish I Knew When I’m Gonna Have Mood to Watch You

Never before in my life, as a self-acclaimed movie-buff, had I intentionally skipped a motion picture that had won many awards and rave reviews from critics and moviegoers alike.
Until the arrival of Brokeback Mountain, hitting huge on big screens worldwide.
But I can assure you, it has nothing to do with its gay-themed issue.



Pertama kali aku menyaksikan trailer film ini di akhir tahun 2005, yang berdekatan waktunya dengan premiere-nya di Festival Film Venesia, deep in my heart langsung kuputuskan bahwa ini film pastinya sangat bagus, dan tidak boleh sampai terlewatkan olehku.

But I tell you what. It was years ago. Because until this very second, aku masih juga belum menontonnya. Even though practically everybody I know already did, even the straight ones.

Why? You may ask. Apa yang sebenarnya terjadi?

Okay, penyebab awal mulanya adalah seperti ini.
Bisakah kamu membayangkan ada satu orang tertentu, yang setiap bertemu dirinya, topik perbincangan dengan dirinya selalu tentang Britney Spears begini dan Britney Spears begitu, Britney Spears peed in the loo.
Yah, ga gitu banget sih sebenarnya maksudku …

It’s just, am not in the position of comparing Britney with Brokeback, though they were both cultural phenomena, at least in North America. Hanya ingin menganalogikan bagaimana rasanya kalau orang yang kebetulan intensitas frekwensi pertemuannya denganmu lumayan kerap, terus ngomongnya ituuuu melulu. Pengen nampar itu orang, ga lo?!

Jadi si orang ini ya, setiap kali bertemu dengannya dalam meeting di sebuah kantor BUMN yang berkantor pusat di Jl. Jenderal Sudirman, akan sempat-sempatnya menggeser kursinya sejenak menghampiri tempat dudukku, atau kalau misalnya ada waktu luang sebelum atau sesudah meeting dia akan secara khusus menghampiriku, lalu mengajak bicara tentang satu hal : “Gimana, Mas, sudah nonton Brokeback Mountain?”

Dan setiap kali jawabanku akan selalu sama: “Tidak, Pak. Belum sempat aja.”

Meskipun aku sudah berusaha menghindari beliau satu ini, dia akan tetap dengan gigihnya mencari peluang untuk menanyakan hal serupa yang itu-lagi itu-lagi. Yah seperti yang kutuliskan itu tadi di atas. Bahkan di tengah-tengah meeting dia sempat-sempatnya menghampiri cuma buat nanya satu hal itu doang. Penting banget ya?, batinku.
Dan kalau jawabanku masih saja negatif, dia akan terus mempromosikan dengan gencarnya. ”Saya nonton terus lho film ini tiap wiken sama istri di EX. Pokoknya saya akan nonton selama masih diputar di XXI” (istrinya ga bosen mampus apa ya?!). Bahkan ia sempat-sempatnya menawarkan untuk membelikan tiket buat nonton. Heh?!?! WTF?!

Andai saja Focus Feature tahu bagaimana gigihnya Bapak satu ini dalam menjualkan salah satu film rilisannya, pastilah mereka akan memberikan insentif sebagai ucapan terimakasih. Mungkin insentif yang pantas ya ketemu sama abang Jack dan mas Ennis.

Tapi terkadang ya, promosinya itu sampai di tahap gengges aja gitu buatku. Bahkan sepertinya rekan-rekan sekantornya, dan supervisorku juga, sampai took notice akan kelakuan si kucing garong ... bukan, maksudku, ya si Bapak itu.
Gila aja! Masa di kemudian hari ya, teman satu tim ku sambil senyum-senyum misterius begitu, mengusulkan diriku untuk secara khusus dihadapkan ke si Bapak ini kalau ingin mendapatkan project approval dari dirinya.

Ih, emangnya lo pikir gue apaan?!
Emang sih si Bapak itu judulnya adalah klien, tapi bukan berarti lantas situ bisa seenaknya nyodorin gue?!
And just for your information ya, gue itu selektif.
Plus, tarif gue tinggi!! (Ha! Ha! Ha! Teteubh!)

Anyway, mari kita kembali ke pokok inti perbincangan dari maksud tujuan utama disusunnya tulisan ini (belibet ngomongnya khas Pu-Ja).

Meskipun kemudian sekitar 1 tahun sudah berlalu sejak terakhir bertemu Bapak itu untuk urusan kerjaan, alias around year 2006, akhirnya aku tergoda juga buat beli DVD Brokeback Mountain (bajakan cap Ambassador, tentu saja!).
Tapi ternyata baru juga mulai nonton sedikit, ekspresi wajah berbinar si Bapak itu kembali terpampang jelas inside this picture of mind. Cengirannya yang khas sambil ngomong, ”Gimana, Mas, sudah nonton Brokeback Mountain?”
Langsung tombol Stop kutekan, lalu keping DVD di-eject dari player.
Am done with this. (And, perhaps) For good.

Bahkan ketika berita mengejutkan tentang kematian mendadak Heath Ledger tersiar ke seluruh dunia, dan semua penggemar film langsung mengenang kembali penampilan dramatis Heath di film ini, aku sama sekali tidak merasa tergelitik / terpancing buat menuntaskan menonton film western pertama Ang Lee ini.

Oho, jangan salah sangka. Am not homophobic at all. Hanya ya kembali ke soal itu tadi.
Kalau ngomongin soal Brokeback Mountain, jadi teringat lagi sama tingkah polah si Bapak itu, dan bagaimana begitu antusiasnya dia ‘berjualan’.

Barangkali, Bapak itu termasuk salah satu orang yang sangat berduka dan terpukul dengan kepergian Heath Ledger. Can’t blame him, sih. Namanya juga penggemar berat. Ya ga sih?

Eh, kebetulan malam ini lagi kosong.
Batal ketemuan dengan Bradley di Starbucks karena dia mau latihan choir dulu di St. Catherine (terus aku disuruh nunggu aja gitu? Whodoyouthinkyouwho?!).
Lagi males juga hang-out dengan Renata, Lesley, dan Fanny di Alessandro’s karena pasti nanti perbincangannya seputar le marriage, konsep yang masih jauuuuuuuhh aja gitu buatku.

Kayanya malam ini bisa nge-date dengan Michael nih? Sudah lama kubiarkan dia menunggu di kamar tanpa tersentuh sedikitpun.
Dan kalau pun mendadak malam ini masih teteup ga ada mood buat dia, ya nikmati saja penggantinya, Ian.

Yang jelas sih, I still could only wish the right time will eventually come when I really have the right mood to watch you, Jack and Ennis!


Tuesday, May 27, 2008

Apa Lagi Yang Kau Cari, Samantha?


Akhirnya Kuntilanak 3 datang juga menghampiri para pemirsa (setianya, eh?!).

Diklaim sebagai sekuel pamungkas dari kisah para pemuja kekuatan gelap dan pemelihara arwah perempuan yang mati penasaran ini, Kuntilanak 3 berhasil menakut-nakuti penonton dengan pakem khas film horor.

Benarkah demikian?
Silahkan Anda menilainya sendiri.



Film ini dibuka dengan adegan Stella (diperankan oleh Paramitha Rusady yang terlihat tetap cantik semlohei dan awet muda dengan terapi suntik botox, ehm ..., maksudnya Laudya Cinthya Bella yang entah mengapa di dalam film ini memang terlihat dan terdengar sangat mirip Mitha) bercengkerama mesra dengan tunangannya (yang bahkan di situs 21cineplex tidak mendapat credit) sembari duduk berpelukan erat di depan cahaya api unggun yang berkelebat dalam hutan lebat di tengah kegelapan rimba yang begitu pekat (rhymes! tapi untungnya tidak sedang bertelanjang bulat *wink!*).
Hanya perlu melihat beberapa detik pertama dari opening scene tersebut, penonton film horor pintar (maksud sebenarnya, penontonnya yang pintar) pasti sudah langsung tahu kalau Stella akan mati secara gory bahkan sebelum opening credit muncul.

Cara menebaknya sebenarnya cukup mudah.
Di tengah hutan lebat di daerah antah-berantah alias no man’s land di tengah malam buta yang sangat dingin (diasumsikan demikian karena si pemeran pria memakai kaos dalam, kemeja, vest DAN jaket SEKALIGUS), Stella yang selalu tersenyum manis manja group mengenakan baju terbuka dengan belahan dada terlalu rendah sehingga memamerkan (jadi bukan sekedar memperlihatkan, lho, dicatet!) cleavage-nya yang tampak begitu menggoda. Tapi ternyata tidak cukup hanya dengan tampil seksi like such biatch, Stella JUGA BERANI MELAKUKAN "tipikal kesalahan fatal yang sudah begitu klisenya karena dilakukan oleh karakter-karakter yang ditakdirkan mati mengerikan dalam film-film horor", yaitu dengan bercanda tentang nasib buruk dan kematian. Di depan tunangannya sendiri (dan seluruh pemirsa), Stella berpura-pura diserang oleh sosok tak terlihat yang mencekiknya sampai sesak napas. Detik itu juga kita mengetahui alamat nasib buruk yang mengerikan sudah pasti menanti dirinya.
Pertanyaannya bukan lagi ”mengapa Stella?”, tapi ”kapan dan bagaimana?”. Penonton ternyata memang tidak perlu menunggu terlalu lama ...

Dan tentu saja tidak perlu intelijensia tinggi untuk mencerna alur cerita film yang berdurasi kurang lebih 2 jam lebih sedikit ini. Anda cuma perlu duduk manis dan siap-siaplah untuk dikagetkan – atau lebih ekstrem lagi, sampai menjerit kencang sambil menutup mata! seperti yang dilakukan oleh teman menonton saya. Biar tidak terlalu gengsi karena dianggap penakut, tunggulah cue dari ilustrasi musik garapan Andi Rianto, yang dijamin akan sangat memudahkan para penonton untuk menebak, ”Ayo siap-siap, setannya mau keluar lagi nih!”. Lalu dengan patuhnya si setan perempuan muncul ... duengg ! *kyaa!*

Tapi kalau polanya begitu terus sepanjang film, berputar-putar tanpa logika yang jelas – kecuali untuk satu hal, bahwa jelas-jelas semua tokoh yang berseliweran berebut screen time sambil melakukan / mengatakan hal-hal bodoh (please lihat lagi sample lain untuk "tipikal kesalahan fatal yang sudah begitu klisenya karena dilakukan oleh karakter-karakter yang ditakdirkan mati mengerikan dalam film-film horor") satu-persatu akan menemui ajal secara mengerikan demi memuaskan nafsu para penontonnya akan muncratan darah atau nafsu untuk ditakut-takuti – lama-kelamaan pasti capek juga melihatnya.


Yang kemudian justru menjadi tantangan menarik bagi penonton, setidaknya bagi saya sendiri lah!, adalah untuk menerka-nerka siapa dari keempat anak muda metropolis tersebut yang akan mati duluan, kapan kejadiannya dan bagaimana atau se-gory apa adegan pencabutan nyawa mereka, dan siapa yang akan menyusul mati berikutnya di tengah pekatnya selimut misteri hutan kelam Ujung Sedo. Setidaknya bagiku, sudah ga penting lagi apakah mereka akan berhasil menemukan mayat kedua sahabat mereka yang telah hilang duluan di dalam hutan, atau setidaknya bisa apakah mereka bisa melacak jejak bekas pipis atau pup si Stella dan tunangannya yang bodoh itu (ya iyalah! di dalam hutan seperti itu kan ga ada jamban!).

Dan begitu penonton berhenti mengkhawatirkan takdir mengerikan apa yang mengintai keempat sahabat dari balik rimbunnya pepohonan, rasanya tidak ada alasan lagi untuk juga peduli pada apa lagi yang bakal dialami Samantha (diperankan kembali untuk ketiga kalinya oleh Julie Estelle). Kalau dia bisa menemukan jalannya sendiri menuju hutan Ujung Sedo, dan kalau dia bisa menemukan gua menyeramkan itu hanya dengan mengandalkan intuisi, rasanya akan lebih baik kalau saja Samantha meninggalkan keempat sahabat tersebut dan tidak melibatkan mereka dalam petualangan yang sejak awal sudah kental bau darah ini. Toh begitu dia berhasil melepaskan diri dari keresehan dan kebodohan keempat sahabat itu, Samantha bisa dengan cepatnya menemukan dan lantas berhadapan langsung dengan sumber dari segala sumber rangkaian malapetaka yang bertubi-tubi menimpa dirinya tersebut, which happened in one of the technically best horror scenes ever graced Indonesian cinema.


However, kudos pantas diberikan untuk aspek-aspek teknis Kuntilanak 3 yang sangat berhasil membangun atmosfer ketegangan yang menakutkan, khususnya di beberapa adegan horor klimaks yang kelas dan kualitasnya jelas-jelas sekian tingkat di atas beberapa rilisan film horor Indonesia belakangan ini (am pointing at the legendary comeback of The Indonesia Queen of Horror, Suzanna. Such a shameful return, Ma’am).