Showing posts with label bookstore. Show all posts
Showing posts with label bookstore. Show all posts

Thursday, August 27, 2009

Karena Tidak Semua Hal ...


Petang ini, Dia berangkat ke Singapura bersama sahabatnya, J.

Rencananya, mereka akan menghadiri reuni sekolah menengah atas, untuk merayakan satu dekade kelulusan. Beberapa sahabat Indonesianya yang lain sudah sejak beberapa hari – bahkan minggu – lalu berada di sana.

Sekitar satu jam lalu aku sempat menelpon Dia, yang ternyata masih berada di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta. Tampaknya penerbangannya di-delay, karena sepuluh menit sebelum jadwal keberangkatan, para penumpang masih belum diminta untuk boarding. Dia sedikit kesal, karena belum sempat makan malam dan sepertinya mulai merasakan lapar. Ketika kutanya mengapa Dia tidak makan terlebih dahulu tadi, jawabnya karena Dia sudah berjanji untuk makan malam bersama para sahabat setibanya di Singapura. Hhmm, meskipun sedikit kesal-kesal tak jelas, namun aku tak berkomentar lebih jauh.

Di tengah-tengah perbincangan yang kurang beresensi untuk mengisi waktu sebelum Dia boarding, kembali diutarakannya pertanyaan itu: oleh-oleh apa yang kuinginkan dari sana. Secara sembarangan kujawab saja, minuman keras! Dia langsung menggerutu dan menolak membawakan barang itu. Kukatakan padanya, tak perlu membawakanku buku apapun dari Borders, karena aku masih punya stok buku bacaan untuk dua tahun kedepan! Lalu Dia menawarkan coklat, tapi kutolak. Tetap kuminta: minuman keras! Namun sebenarnya, ini betul-betul permintaan sembarangan. Apabila Dia tak memenuhinya pun, tak apa.

Karena jika Dia pulang dengan selamat ke tanah air hari Senin depan dan bertemu lagi denganku lantas kami bisa kembali berpelukan erat, aku sudah sangat senang dan bersyukur. Karena aku masih percaya, tidak semua hal bisa diukur dengan kepemilikan materi.

Monday, June 1, 2009

This Summer's Good Reader


It’s June already!
Don’t you think its quite funny how time flies?

I woke up lazily this morning, June 1st, and clicked on the TV to find a talkshow segment in tvone about the Pussycat Dolls concert in Jakarta, scheduled for tomorrow night. These sexy cats and dolls arrived last night straight from Down Under. Even though I won’t watch PCD live on stage, somehow watching them smile and all to the cameras made me feel a bit relaxed and strangely relieved. So I guess Indonesia is now officially out and off of the travel warning list by the U.S. of A.!

On the sidelines, June also marks the beginning of the sunny months. It’s summer, people! Welcome the warm and more often than not, hot days!

Summer is also the time to attach myself with one of my favorite activity: reading of as many books as possible, before the monsoon begins and then it’s much more tempting to sleep under my thick blanket than reading any (good) books.

I’ve already finished my first novel of this summer; it’s “The Catcher in The Rye” by J.D. Salinger. I believe you know what it was all about, so I’d rather not say anything. Looking at my short bookshelf this morning that is now over-occupied by too many books, somehow I really get excited about months to come.

I plan to finish “More About Nothing” by Wimar Witoelar tonight. He’s my best friend’s father in law. I saw in his Facebook profile this morning that he’s going to be a guest at Pagi Jakarta next Thursday. Mark the calendar. I’m curious whether he can beat Erwin Parengkuan again this time at his own show, just like the last one when they talked about Citizen Journalism.

There are also some children’s books I just bought from a sale in Grand Indonesia yesterday; ranging from “Spring-Heeled Jack” by Philip Pullman, to some Astrid Lindgren’s. These books are going to be my summer reads, obviously. Summers are intended for pop and leisure and fun, aren’t they?

What about you, friends? What books are going to be on your bedside table? How about in your beach bag? And what about the one(s) you’re going to bring with you on vacation? How many books do you think you can finish before the monsoon begin?

Let’s challenge ourselves! Be one of this summer’s avid book readers!



Monday, January 26, 2009

2 5 6 0


sepanjang pengetahuanku, yang tergolong relatif pendek ini, hujan deras yang turun setiap perayaan sin cia merupakan pertanda bagus. kurang lebih sama seperti salah satu lagu dalam tata ibadah kristiani yang mendendangkan "hujan berkat 'kan tercurah". semakin deras hujan yang turun pada saat hari pertama tahun baru cina, tandanya akan semakin besar rejeki yang dilimpahkan pada tahun itu.

nah, kalau melihat kondisi cuaca hari ini, harusnya sih semua pada deg-degan. soalnya cuma mendung tebal yang menggantung, membuat warna langit jadi kelabu dan menyebalkan. was-was juga sih, secara hari ini aku pengennya jalan-jalan cari dvd (bajakan, tentunya!) di ambassador. gimana kalau hujan, coba? padahal kan lanjutannya pengen ke aksara kemang.

soalnya dari info semacam tenaga pi-ar -nya si aksara, dia bilang kalau aksara lagi ngadain clearance sale. banyak banget buku yang diskon besar, dijual cuma 50ribu perak perbuah !!! meskipun, yah, sebenarnya kan kamis (22 januari) kemarin kan aku sudah beli 6 judul, tapi kan siapatau nemu buku lainnya yang lumayan menantang. seperti salman rushdie, misalnya? kalau "midnight children" -nya dijual murah juga, i'll definitely gonna buy it !

ngomong-ngomong soal beli dvd film yang bajakan, jadi agak bimbang. kalau nemu "slumdog millionaire", beli ga ya? tapi kenny bilang film itu bakal tayang pada minggu pertama februari di blitz. itu artinya kurang lebih cuma 2 minggu lagi !! kayanya lebih tepat menunggu. biar nontonnya bareng si gembul.

eniwei, si gembul pasti lagi makan banyak-banyaknya hari ini. itu sebabnya dia kupanggil gembul. kalau kami lagi makan bareng, waw ! terkadang aku terkagum-kagum dengan semua makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya, tapi selalu saja aku yang lebih ndud dibanding dia. jangan-jangan, seperti 'tuduhan' yang kulontarkan saat dinner bareng natasha, vonny, ronny dan jason di kiyadon senayan city hari sabtu (24 januari) lalu, usus si gembul terhubung ke dimensi lain. jadi apapun yang dia makan, it doesn't matter.

dan entah mengapa, tiba-tiba aku terpikir mooncake ! harusnya sih, imlek begini pasti banyak dihidangkan ya? pesan satu ah sama si gembul, minta dibawain yang diameter 10 cm besok kalau ketemuan. hahaha! nyam-nyam.

oh ya sekalian mau ngucapin: gong xi fat choi! bagi teman-teman yang merayakan. happy chinese new year 2560.

Friday, January 23, 2009

"Maaf, Pak. Ada kartu lain?"



Ini adalah kejadian memalukan pertama, dan mudah-mudahan juga menjadi yang terakhir, yang kualami kemarin ketika mencoba berbelanja dengan menggunakan kartu debit “yang itu” (tidak menyebutkan nama bank yang mengeluarkan, karena rasanya tidak perlu dan memang kurang relevan dengan cerita yang ini).

Jadi ceritanya, kartu debit “yang itu” sebenarnya mengandalkan isi rekening tempat gajiku ditransfer setiap bulannya. Dan lazimnya yang kulakukan pada akhir bulan adalah, begitu gaji bulan berjalan ditransfer, isinya langsung didistribusikan lagi ke rekening bank milikku yang lain.

The problem is, sejak awal bulan ini aku sudah agak-agak mulai menyadari, sepertinya terjadi kesalahan pendistribusian gaji dan bonus bulan Desember 2008 lalu. Meskipun kesadaran ini datangnya relatif terlambat. Ada beberapa pos pengeluaran ekstra yang tidak kuperhitungkan sebelum mendistribusikan ke rekening yang lain. Akhirnya bisalah dikatakan, saldo yang disisakan di dalam rekening “yang itu” kurang memadai untuk men-support kehidupan bujangan metropolis pencinta mall ini.

Sebenarnya, kalau mengingat resolusi awal tahun ini untuk hidup lebih sederhana lagi, well, masih bisa aja sih survive dengan duit sekedarnya, mengikuti jumlah yang tersisa di dalam rekening. Namun seperti kata pepatah, manusia boleh berencana, tapi yang menentukan sih, lain lagi pihaknya. Inilah penuturan tentang pencobaan itu, yang menghantamku dengan keras kemarin banget, ketika lagi iseng-iseng selesai kerja malah kelayapan di Ritz Carlton Pacific Place.

Saat itu, sambil menunggu si Dia datang buat penuhi janji dinner bareng, aku memilih untuk keluyuran di aksara bookstore. Sebenarnya sih saat masuk ke dalam toko itu, tak ada niat sedikit pun buat beli buku apapun, sekali lagi, karena ingat pada isi dompet yang sangat terbatas.

Akan tetapi memang namanya nasib sering berkata lain, ya. Saking kelamaannya menunggu si Dia tiba di mall extra mahal ini, aku mulai melangkah ke rak-rak literature dan fiksi. Saat itulah aku dikejutkan ketika melihat label merah kecil menempel di cover belakang begitu banyak novel popular, maupun yang menang atau sekedar dinominasikan buat penghargaan literature bergengsi. Dan yang membuatku terkaget-kaget itu adalah, angka yang tertera di label merah kecil itu : 50.000. Hah?!?!

Dengan perasaan skeptis dan tak percaya, kutanyakan pada salah satu penjaga toko buku yang sedang asyik memindah-mindahkan setumpuk buku hard cover dari meja pajangan (pasti berat, siah!), apakah memang benar label harga merah itu bukan sebuah kekeliruan?

Dan coba tebak, si penjaga toko itu bilang bahwa harganya memang betul diturunkan jadi cuma 50.000 saja !! Mendapatkan jawaban afirmatif ini, langsung dengan penuh kesigapan, semua buku yang memang tampak menarik kutarik dari raknya untuk sekedar mengecek label harganya.

Saat aku mulai dijangkiti euphoria setelah menemukan banyak buku menarik seharga masing-masing hanya 50.000, tiba-tiba saja si Dia menepuk pundakku dari belakang. Quite a perfect timing, secara kalau tidak, bisa jadi akan ada setumpuk novel berbagai ukuran memenuhi pelukanku saat itu. Jadi teringat waktu QB World Bookstore closing sale, langsung saja membuatku mendadak kalap! Yaiyalah, secara semua buku didiskon 70%. Yabiiessh ... !!

Anyway, berkat petunjuk dan arahan dari si Dia (agar tidak boros dan malah membeli buku lebih banyak daripada yang bisa aku baca – ini hal yang sudah lazim banget terjadi padaku, a true bibliophiliae), akhirnya kuputuskan untuk memilih judul-judul berikut : “The Virgin Suicides”, “Ghost World”, “The Mysteries of Pittsburgh”, “Everything is Illuminated”, “Darkmans”, “Memories of My Melancholy Whores”, dan “My Mistress’s Sparrow is Dead”. Khusus untuk judul terakhir, berhubung cetakan hardcover jadi harganya lebih mahal daripada yang enam judul lainnya (IDR 100.000), tapi itu pun sebenarnya masih relatif murah dibandingkan harga aselinya (± IDR 275.000).

Lantas dengan penuh percaya diri aku berjalan menuju kasir dan menyerahkan setumpuk tebal buku-buku pilihanku tersebut berikut kartu debit “yang itu”. Sambil menunggu proses pembayaran, aku ngobrol dengan Dia. Saat tengah asyik berbincang-bincang, lelaki yang bertugas di kasir menyela percakapan kami dengan suara agak pelan dan terdengar sedikit ragu, “Maaf, Pak. Kartunya ada yang lain, ga? Yang ini di reject, katanya insufficient fund.”

Dan langit mendadak terasa runtuh menimpa kepalaku. Apaaaa … ?!?!?!

Saldo di rekening “yang itu” tidak mencukupi untuk belanja buku senilai IDR 400 ribu ?!?! Hastaga, malu banget rasanya. Apalagi kejadiannya di depan pacar sendiri. Si Dia sih dengan sigap langsung mengeluarkan dompet dan mencoba mengangsurkan salah satu kartu kredit gold-nya untuk melunasi pembayaran.

Meskipun aku tahu persis kalau si Dia tak akan pernah mempermasalahkan pembayaran yang cuma beberapa ratus ribu ini di kemudian hari, apalagi karena pengeluaran tersebut buat pacarnya sendiri. Tapi tetap dong, aku harus bisa menjaga gengsi pribadi. Apalagi kalau bukan persoalan ego dan harga diri seorang lelaki. Hehehe ... (*yang berkomentar nyinyir siap-siap ditonjok!*)

Tentu saja, sambil mengambil kembali kartu debit ”yang itu” dan mencegah si petugas menerima kartu kredit si Dia, dengan tegas kujawab, ”Oh, ga apa-apa. Bayarnya cash aja.” Dan untung bangetlah, saat itu uang tunai yang terselip di dalam dompetku yang mulai robek karena mulai uzur itu masih lebih dari mencukupi untuk melunasi transaksi semua buku tersebut (dan masih ada lebihannya untuk makan malam bareng Dia).

Setelah melunasi pembayaran, kami berdua pun melangkahkan kaki keluar dari aksara, dan aku setengah menulikan telinga dari beberapa pertanyaan bernada khawatir dari Dia terkait kondisi keuanganku sat itu.

Walk with pride, boy! Biarkan masalah hari ini menjadi masalah hari ini, dan yang besok pun demikian. Kurang lebih itulah salah satu kalimat bijak yang pernah kubaca di dalam kitab suci.

Pesan moral dari pengalaman memalukan ini adalah : ”Woy !! Ingat-ingat tuh Resolusi 2009 –mu !! Baru juga 3 minggu berlalu sejak Resolusi itu dibuat. Jangan sampai bikin malu lagi, ah !”



Friday, January 2, 2009

Beli-beli & Baca-baca



Lebih dari satu dekade lalu, seorang Menteri Pendidikan di era Orde Baru pernah menolak mentah-mentah permintaan dari banyak penerbit, agar pajak atas kertas diturunkan atau kalau perlu dihapuskan saja, sehingga tidak memberatkan para penerbit dan bisnis percetakan.
Diharapkan, dengan diturunkannya pajak kertas, akan berdampak pada kebangkitan kembali bisnis perbukuan (dan majalah serta perkoranan, pokoknya media cetak lah) yang telah lama lesu akibat harga kertas yang tinggi. Dengan berkurang/dihapuskannya pajak kertas, otomatis akan berpengaruh pada turunnya harga buku-buku (bermutu) dan berbagai media cetak lainnya, sehingga akan memudahkan pencapaian tujuan untuk meningkatkan minat baca bangsa ini, yang tentunya berimplikasi pada upaya-upaya mencerdaskan bangsa. Langkah ini sesuai dengan amanat yang termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Masih kuingat kala itu, sempat aku kaget saat membaca respon Bapak Menteri yang terhormat atas pertanyaan wartawan terkait permintaan penurunan pajak kertas. Beliau malah menganalogikan buku dengan kaset (jaman itu CD lagu masih mahal banget, dan lagu-lagu format .mp3 masih berupa mimpi masa depan yang bahkan banyak orang tak bisa membayangkan), bahwa orang-orang yang suka musik dan menggemari artis tertentu, semahal apapun albumnya tetap akan dibeli. Jadi dengan pe-de-nya si Bapak Menteri meminta orang-orang maklum dan nrimo saja harga kertas (dan buku serta majalah) yang tinggi itu.
Perhaps, in other words, secara ekstrem ini sama saja dengan mengatakan kepada orang banyak, “Jangan bawel deh elo-elo semua, beli aja kalo emang pengen baca buku! Kalo emang ga sanggup beli, ya jangan berisik!” (minta ditonjok nih kayanya).

Melompat kita ke masa kini, sekitar belasan tahun berlalu sejak Bapak itu tidak lagi menjadi seorang Menteri Kabinet Pembangunan. Aku sudah tidak mengikuti lagi kabar soal pajak-pajakan, jadi tidak tau persis apakah harga kertas sudah benar-benar turun signifikan atau tidak.
Yang jelas, belakangan ini, setidaknya berdasarkan pengamatan sudut pandang seorang awam, dunia penerbitan dan perbukuan di negeriku ini sudah mengalami peningkatan positif. Semakin banyak orang yang gemar membaca, meskipun tentu saja, kondisinya masih bisa lebih baik lagi daripada yang sekarang.
Ada banyak buku, baik yang isinya serius maupun tidak, yang mengalami cetak ulang hingga puluhan kali dan terjual ratusan ribu bahkan jutaan kopi, dan bahkan begitu populernya sampai-sampai diangkat ke layar lebar, dan mencetak rekor fantastis untuk jumlah penonton film nasional (semua pasti tahu, film “Ayat-Ayat Cinta” dan “Laskar Pelangi” yang sukses bikin Bapak Presiden SBY dan Wapres JK menangis).
Yang lebih menggembirakan lagi, aktivitas membaca buku bermutu mulai mendapatkan porsi yang relatif lebih besar di media televisi, seperti yang bisa kita lihat dalam program Kick Andy di Metro TV.

Tapi sebenarnya, betul sudah semakin baikkah tingkat minat baca bangsa kita? Bagi mereka yang hadir di Pesta Diskon Gramedia untuk menandai pembukaan Toko Buku Gramedia terbesar di Indonesia, yang berlokasi di West Mall Grand Indonesia, jawabannya sudah pasti: YA.
Sebagai gambaran, dapat kuceritakan apa yang kualami sendiri pada saat aku mencoba mencari Kamus Indonesia-Inggris kondang karya John Echols dan Hassan Shadilly, pada hari Sabtu tanggal 20 Desember.
Suasana hari itu sudah seperti lautan manusia yang nyaris chaos! Bisa jadi dalam satu kurun waktu tertentu saat itu, ada ratusan orang berjubel di kedua lantai toko tersebut. Semua berdesak-desakan, bolak-balik aku harus menyenggol dan menyikut orang lain saat melewati tumpukan ataupun rak buku tertentu. Belum lagi anak-anak kecil yang kehilangan orang-tuanya, maupun ibu-ibu yang berteriak-teriak memanggil-manggil nama anaknya yang hilang dari pandangan (tertutup padatnya manusia). Dan penyejuk ruangan di Grand Indonesia yang biasanya dingin menggigit, saat itu sama sekali tidak terasa saking berjubelnya pengunjung. Hanya setengah jam lebih sedikit aku menghabiskan waktu di dalam toko, tapi ketika keluar, sudah dalam kondisi lecek seperti habis keluar-masuk pasar tradisional. Tentu saja, minus lumpur dan becek dan bau amis ikan dan daging.
Menurut dugaan kasarku saja, setidaknya dalam satu hari ketika aku berkunjung itu saja, transaksi pembelian yang dicatatkan Gramedia Grand Indonesia mencapai ratusan juta rupiah. Dan ini adalah angka perkiraan yang pesimistis.
Jadi ternyata, bukan hanya tingkat minat baca orang-orang Indonesia saja yang meningkat, melainkan juga daya belinya, khususnya untuk memenuhi kebutuhan non-primer. Ini sungguh merupakan sebuah kabar baik bagi semua pihak, bukan?




Monday, December 15, 2008

Sebentar Lagi, ...



Kebiasaan kalau hari Sabtu siang lagi bengong ga ada kerjaan, dipikir-pikir daripada cuma tiduran berhibernasi di kamarku yang sejuk atau menonton acara gosip ga jelas dan membosankan, mendingan sekalian jalan-jalan 10 ribu langkah sembari menyambangi salah satu tempat perbelanjaan yang isinya macam-macam di area Casablanca. Dan itulah yang kulakukan weekend kemarin, sekalian mau lunch, ceritanya.

Sesampainya di mall kondang tersebut, dan bersyukur karena tidak terjebak kemacetan yang menjadi ‘ritual’ di depan mall ini setiap akhir pekan, dengan bersemangat kucari dulu makanan apa yang rasanya enak dan cocok untuk mengisi perutku yang sudah mulai keruyukan minta diisi. Setelah mondar-mandir cukup lama akhirnya kuputuskan untuk makan menu Manado, apalagi kalau bukan a la rica-rica.

Karena suasana tempat makan ini sama sekali tidak nyaman, pilihan satu-satunya adalah untuk segera menghabiskan makanan lalu buru-buru angkat kaki dari area food court yang berisik itu.

Sebenarnya kalau kondisinya lebih manusiawi dan lebih bersih, beraktivitas menongkrong di area food court sebuah mall merupakan aktivitas killing time yang menyenangkan. Sambil duduk dan pura-puranya menikmati makanan yang dihidangkan di depan tubuh, mata bisa sambil plirak-plirik kiri-kanan dan melihat serbaneka manusia. Terkadang, ada hal-hal menarik yang bisa bikin surprise dan lumayan menghibur bisa disaksikan melintas di depan mata. Seperti kemarin ini, ada seorang pria pakai t-shirt tie-dye dengan warna fantasi seperti kaos reagge gitu, dengan bawahan celana kotak-kotak kecil hitam putih abu-abu. Benar-benar menjadi tantangan buat mata. “Bold choice,” kalau istilah para Condé Nasties. Dan pakaian pria tersebut masih dilengkapi dengan trucker cap butut (bukan yang sengaja dibuat butut kaya Ed Hardy’s, catet!) dan aksesoris tas pinggang hitam yang tampak lusuh. Ehem! ... Seorang teman pasti akan mengatakan aku ga sopan dengan membahas hal-hal remeh serta dangkal semacam ini.

Nah, biar ga makin bertambah saja dosa-dosaku hanya karena duduk di situ, jadi selesai makan aku segera angkat kaki.

Pindah ke mall sebelahnya, dan sempat kepikiran (dan memang tergoda) untuk menyambangi beberapa toko yang biasanya menjual t-shirt dan aksesoris lucu-lucu gitu, biasanya sih barang-barang yang diimpor dari Thailand. Ini sebenarnya dilakukan hanya untuk sekedar iseng, mengecek apakah ada barang baru yang relatif murah dan tak dijual di mall kelas luxe yang biasanya berlokasi di area-area prima. Lumayan kan, buat nambah-nambahin koleksi kalau lagi males rapih pas ke kantor saat hari Jumat (maupun saat terpaksa lembur di akhir pekan).

Tapi niatan ini terpaksa diurungkan, karena saat melintasi beberapa toko, baru teringat kalau masih ada beberapa kemeja yang tempo hari dibeli dan sampai hari ini masih belum sempat dikenakan sekali pun. Daripada jadi pemborosan, mending ditunda dulu saja niatan untuk melihat-lihat (dan yang biasanya sih ujung-ujungnya jadi belanja) ini.

Lagipula, kalau berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang dibentuk oleh tradisi sejak beberapa tahun lalu, biasanya pada saat akhir pekan terakhir sebelum Natal, akan ada satu agenda spesial yang butuh pos pengeluaran khusus, yaitu Diskon Akhir Tahun Kinokuniya. Rata-rata semua buku didiskon 20%, menarik banget kan? Setelah tahun lalu membeli Truman Capote dan David Sedaris, tahun ini rencananya mau mengumpulkan beberapa novel lainnya yang sudah diadaptasi ke layar lebar maupun yang memenangkan penghargaan di berbagai ajang literatur. Misalnya, ”On The Road”-nya Jack Kerouac versi selebrasi 50 tahun, yang katanya lebih lengkap daripada yang telah dikenal luas selama ini (ternyata ada beberapa bagian yang disensor di terbitan-terbitan awal). Interesting, eh?

Jadi sebenarnya kalau ada yang iseng bertanya perihal daftar belanja Natal-ku untuk tahun ini, ya cuma itu jawabannya: borong buku di Kinokuniya.

By the way lagi ngebahas topik ini dan kebetulan pandangan mata secara otomatis bergerak untuk mengecek kalender, baru nyadar kalau ternyata Diskon Akhir Tahun Kinokuniya itu seharusnya akhir pekan ini dong ya kejadiannya? Secara hari Kamis depan kan sudah Natal. Sedikit terlupa karena tidak ada persiapan khusus menyambut perayaan tahun ini, selain gantungan kaos kaki merah dengan daun holly plastik di depan pintu kamar.

Perayaan Natal tahun ini bagiku pribadi tampaknya akan mengambil tema ”Kontemplasi dalam Kesunyian dengan Kerendahan Hati yang Tulus”. Bisakah?

I’ll just wait and see.

Tuesday, November 4, 2008

OH @ a Local Branch of an International Bookstore



Pada suatu petang di sebuah akhir pekan, dalam sebuah mall kelas menengah-atas di kawasan selatan Jakarta, aku dan Dia lebih memilih untuk masuk ke dalam sebuah toko buku cabang lokal dari sebuah jaringan toko buku internasional. Kami sedang sibuk membuka-buka lembaran majalah asing terbitan terkini, the latest editions. Aku lebih memilih browsing majalah Vanity Fair dan Dia memilih GQ. We’re such loyal Condé Nasties. Apabila ditambah dengan Natalie, Rick dan Vic, makin kompletlah rombongan Condé Nast enthusiasts tersebut.

Saat itu kami berdua sama-sama sedang berdiri menghadapi rak-rak majalah impor yang membuat posisi kami jadi membelakangi pintu masuk, tapi telingaku yang relatif sensitif apabila difungsikan untuk menguping, kebetulan menangkap suara-suara dari seorang pria yang bertutur dalam bahasa Inggris, sedang terlibat dalam dialog bersama salah satu penjaga toko buku tersebut. Potongan dialog yang di-reenact berikut ini sukses luar biasa dalam mengalihkan perhatianku dari lembaran-lembaran Vanity Fair, dan ‘memaksa’-ku untuk secara khusus menoleh untuk melihat kedua lelaki yang terlibat dalam pembicaraan tidak nyambung tersebut.

Pria Asing: Excuse me, do you have books on Flores?
Penjaga Toko Buku: Wait a minute, Sir. (dan beberapa saat kemudian menyerahkan buku kepada si Pria Asing)
Pria Asing: Oh, no. Not this. I’m asking for a book about Flores. The city. Not a book about floors.
Penjaga Toko Buku: Oh, wait. I’ll go check. (dan tak lama kemudian kembali menyerahkan sebuah buku lain kepada si Pria Asing)
Pria Asing: This book is about Nusa Tenggara Timur, right? (katanya sambil melihat judul sampul depan buku)
Penjaga Toko Buku: No, it’s about N.T.T. (sambil melafalkan akronim tersebut dalam Bahasa Inggris)

Sepertinya, dalam upaya keras untuk bisa melayani calon pembeli, yaitu si Pria Asing, si Penjaga Toko Buku malah justru jadi bolak-balik melakukan kesalahan-kesalahan tolol. Apakah para petugas di jaringan toko ini tidak dilatih dengan baik sebelumnya?



Twitterer lazim menyebut pengutipan semacam ini
– dalam versi yang lebih singkat – dengan akronim OH.

Friday, July 18, 2008

What If?


What about having some nice espresso brownies and vanilla latte or decaf cappuccino at Starbucks? What if you opened your papercup lid to cool your cappuccino faster, so when you drink it its froth stayed on your upper lip forming a white mustache? You still look cute with that silly soup-strainer and you made me laugh by making faces until my eyes watered.

What about kissing your tender lips inside the car while we’re in the parking lot? I was whistling “Young Folks” when you whispered my nickname in such husky voice I turned around and stopped, lips still mouthing O. Your sexy thoughts flashed in your eyes I can see you burning inside. What if I told you that only by looking at your wet cherry lips I knew that all I want to do was kissing you right there at that moment?

What about lying together side by side on this white beach sands eyes gazing at the blue cloudless sky? The sun just rose the wind brought the salty taste of ocean air. Turning my head looking at you, sleeping soundlessly your smile widened. What if it was not me who was running around in your dream would you tell me that honestly when you wake later on?

What about your promise to be back here by my side to celebrate your birthday privately, just the two of us? You knew too well I can not cook anything but instant noodles, yet I tried hard to prepare your favorite pasta just to make you happy, to see you smile cheerfully. Because no matter what others may say about it being tacky, all I want to do in this world is to make you feel happiness with me.

What if I never let you go to your office that day?
What about staying in bed and cuddling for a little bit longer that day?
What if I made love to you in the shower which would definitely make you to arrive late to your meeting?
What about taking alternative routes just like what you usually did everyday so you wouldn’t be stuck in the daily traffic on that highway?
What if you forgot to bring your cellular phone which you left on the coffee table, and then you return just to pick it up?

You would still be here beside me.
I would never felt this kind of shocked watching that news.
You would still call me at noon just to make sure whether I already had lunch or not.
I would still find you in our place waiting for me to return home after working way until late.
You would still need me to go with you to bookstores and coffeehouses on weekends; “Just for the atmosphere,” like you always said.

I would still have you, you would still love me, I would hugged and kissed you a lot, you would still demanding more.

We would still have – and love – each other.