Showing posts with label fashion. Show all posts
Showing posts with label fashion. Show all posts

Wednesday, September 2, 2009

Rambut Lego


Semakin panjang rambutku, akan semakin lama waktu yang kubutuhkan di depan cermin setiap pagi, sebelum berangkat keluar rumah. Tujuannya, bukan sekedar kegenitan mematut-matut diri, tapi untuk merapihkan rambut, atau untuk mengaturnya agar tampak sesuai dengan kostum yang dikenakan hari itu. Maksudnya, kalau sekedar pakai t-shirt dan jeans doang, ya dibuat sedikit acak-acakan seperti orang yang baru bangun tidur langsung berganti baju dan keluar rumah, tak mengapa; tapi kalau sedang ada schedule khusus dan musti tampil rapi karena harus bertemu klien atau dinner di tempat-tempat eksklusif bersama pasangan, tentu saja penataannya juga harus disesuaikan.

Namun belakangan ini jarang sekali aku bisa mengatur tatanan rambut sesuai keinginan dengan cepat dan mudah. Masalah utama adalah karena kondisi rambutku yang kering dan kasar, sama sekali bukan tipe yang layak untuk dijadikan model iklan shampoo. Mungkin saja ini akibat pengaruh sejak zaman dahulu kala, selalu berpanas-panas nyaris tak pernah pakai topi ketika sedang melakukan aktivitas di luar ruangan, dan paling malas merawat rambut di salon, karena di kamar mandi pribadi saja benda yang namanya conditioner itu lebih sering tidak ada.

Jadi teringat salah satu foto jaman masih kanak-kanak dulu, rambutku yang ikal (curly & wavy) bila dibiarkan tumbuh panjang akan mengembang sedemikian rupa, sehingga apabila dilihat dari jarak jauh lebih mirip pentul korek api atau seorang anak yang sedang mengenakan helm. Bahkan di awal tahun sembilanpuluhan, ketika sedang berkunjung ke rumah Kakek dan Nenek, salah seorang kerabat jauh mengira bahwa anak kecil yang sedang ribut pukul-pukulan dengan seorang anak lainnya di hadapannya saat itu adalah seorang anak perempuan tomboy, berkat kondisi rambut yang megar mengembang membahana. Padahal anak kecil yang ribut itu aku. Ugh!

Tadi pagi, sebelum akhirnya berangkat menuju kantor, kuputuskan untuk mengatur rambut rapih saja, dengan belahan di samping kanan seperti anak sekolahan atau mereka yang bekerja di sektor formal lainnya, meskipun hari ini sebenarnya aku mengenakan t-shirt dan jeans dan sneakers. Sesungguhnya, a very casual look. Penataan rambut belah samping, sedikit berponi menutupi dahi dan teratur rapih yang seringkali kusebut sebagai model rambut Lego. Dan bila mengingat seperti apa warna aseli rambutku, tentunya gaya rambut seperti ini akan semakin membuatku tampak lebih tua lagi daripada umurku yang sesungguhnya.

Sigh.



Note: image courtesy of squarecircle.

Monday, August 17, 2009

Lupa, Lalu Teringat



Tadi pagi, sekali lagi aku lupa membawa kacamata, dan baru menyadarinya saat menyalakan komputer di kantor. Awalnya sempat mengalami kebingungan ketika melihat meja kerjaku, dan tidak menemukan kacamata yang biasanya kalau sedang tidak bertengger di pangkal hidung, tentu sedang tergeletak di atas meja di sebelah keyboard atau di atas mousepad. Satu-dua detik kemudian, baru kusadari kalau kacamata itu ketinggalan di atas meja di depan TV di kamar. Darn!

Ini adalah kejadian kedua dalam satu bulan belakangan ini. Tampaknya sudah menjurus ke stadium parah nih tingkat kelupaan yang ku-”derita”. Padahal kacamata kan jelas-jelas penting sekali bagiku untuk menunjang aktivitas kerja. Koq ya, bisa-bisanya ketinggalan? Itu nyaris seperti keluar rumah dan berjalan-jalan ke mall tapi lupa mengenakan celana dalam.

Aneh? Ternyata tidak juga.

Barusan akhir pekan lalu kualami di gym. Setelah membuka locker dan membuka kaos yang kukenakan untuk diganti dengan kaos khusus berolahraga, barulah tiba-tiba seakan bunyi ”tring!” berdenting di dalam batok kepala, dan aku tersadar kalau ketika bersiap-siap paginya, aku lupa memasukkan celana dalam ganti yang masih bersih ke dalam tas gym. Akhirnya, selesai gym aku pulang dengan going commando.

Beneran pulang? Tidak juga.

Aku malah sempat berjalan-jalan dulu ke sebuah trade center untuk mencari kaos-kaos murah untuk dipakai berolahraga atau sekedar santai saat akhir pekan.

Kata orang, jalan-jalan tanpa mengenakan celana dalam akan berasa adem sedikit.

Kataku? Tidak juga. Parno malah. Takut tiba-tiba mengalami kesialan dan celana robek, dan terpampanglah selangkangan ini. Uh, malu-maluin dan mudah-mudahan tidak akan pernah kejadian.

Tapi kalau kelupaan membawa kacamata dan celana dalam tadi sudah bisa disebut parah, lalu bagaimana dengan kejadian yang kualami pada suatu hari, ketika menjelang tengah hari baru aku menyadari bahwa aku lupa menarik risleting celana panjangku, sejak setelah buang air kecil pagi harinya persis sebelum berangkat keluar kamar?

Astaganaga!

Itu artinya, sepanjang kurang lebih satu kilometer perjalananku ke kantor dengan berjalan kaki dan selama sekian jam hingga aku menyadari kealpaan itu, risleting itu menganga terkewer-kewer?!?!

Rasanya panik dan sungguh malu.

Sepertinya memang tidak ada teman kantor yang memperhatikan "kondisi khusus" tersebut, tapi bagaimana dengan mereka pengguna jalan lainnya? Uff. Mudah-mudahan tak ada orang yang kukenal atau mengenaliku tadi saat aku melintas di depan kendaraan mereka dengan risleting celana yang belum terkaitkan. Mau ditransfer kemana mukaku ini nantinya?



*Image was taken from Allie is Wired The Entertainment Blog,
featuring extreme close up of Brad Pitt's unzipped pants
while he was promoting The Curious Case of Benjamin Button in France.

Tuesday, June 16, 2009

Bingung Karena Kaos Kaki


Entah angin mana yang membuatku memilih untuk memakai kaos kaki sebelum memasang loafers tadi pagi ketika hendak berangkat ke kantor. Iseng saja, atau memang lagi khilaf?

Secara selama ini, loafers-ku yang ini selalu dipakai polos saja tanpa bungkus kaki. Dan karena hari ini lagi beda setelan pemakaian, jadi terasa sakit sedikit di bagian jemari kaki, rasanya seperti digigit. Barangkali karena ukuran biasanya sedikit berubah menjadi agak sempit.

Namun sejujurnya, aku juga tidak terlalu tahu sih dalam tata-aturan fashion, boleh atau tidak ya mengenakan kaos kaki DAN loafers sekaligus?

Mana tadi sesudah makan siang, ketika membeli slippers inceran di Zara, aku sampai terpaksa harus mencopot kaus kaki segala demi untuk dapat mencoba slippers motif kotak-kotak itu. Soalnya, sudah direncanakan untuk dipakai saat tugas ke Bali bulan depan. Hoho!

Oh ya, yang menjadi topik pembicaraan di sini bukanlah loafers formal (dress shoes). Lebih mirip tipe-tipe yang biasa dikenakan saat jalan-jalan santai kala summer. Dan belinya pun waktu itu sedang diskon 50%, jatuhnya jadi lumayan murah untuk sebuah alas kaki.

Balik lagi ke pertanyaan tadi: boleh atau tidak ya mengenakan kaos kaki dan loafers sekaligus?

Bingung, euy!


According to this undated photo from Teen Vogue, you may.

Wednesday, March 4, 2009

“The First Outfit I Tried on Today”


johncmayer Why not wear the first outfit you try on today?
about 2 hours ago from TwitterBerry


Well, it is so true. John has a point there.
(ciee … sok akrab bener manggilnya with his first name)

Terkadang rasanya memang teramat sukar untuk menemukan outfit yang pas untuk dipakai keluar rumah, yang cocok dengan occasion dan kondisi cuaca saat itu.

Pernah suatu ketika, saat kukira di kantor hari itu tidak ada skedul bertatap muka dengan klien jadinya iseng pakai t-shirt belel, celana cargo sedikit di bawah lutut dan flip-flop kumal ke kantor, ternyata salah satu calon klien baru minta bertemu sore harinya. Terpaksa balik to my crib hanya untuk berganti pakaian yang lebih pantas dan tentunya, representatif.

Di kesempatan lain, saat akan menghadiri party di club milik salah seorang sahabat, hampir setengah jam habis kupergunakan untuk membongkar isi lemari hanya untuk menemukan outift yang terlihat pantas rapi dan keren tanpa terlalu menonjolkan ‘kemajuan’ my belly (ha!ha!).
Dan di tengah kesibukan yang diliputi kebingungan itu, si Dia hanya tertawa saja karena menganggap I looked so cute in the middle of my confusion. (Emangnya dahi berkerenyit dan bibir manyun gitu lucu ya?)
Hah! Tentunya aku harus bisa mengimbanginya malam itu agar si Dia tidak terlihat over-dress sementara pacarnya ini sendiri tampak under-dress (meski tentunya, bukan hanya memakai ‘under-garment’ doang !) di tengah party yang dihadiri upper-class people itu.

Pernah kubaca saran bagus dari salah seorang pengamat mode yang mengatakan, “it’s better to look over-dress than under-dress”.
Tapi kalau kemudian munculnya malah seperti seorang pria di butik (x).s.m.l. yang kulihat beberapa bulan lalu – dia memakai trucker cap Guess?, kaos berkerah Burberry, celana jins Versace, belt DSquared, dan sepatu Gucci – kurasa jatuhnya malah jadi sama sekali tidak berselera dan jauh dari keren.
Help! I just saw a walking mannequin!
Kira-kira apa yang ada di dalam benak lelaki itu sebelum dia keluar dari dalam kamarnya hari itu?
“Wow, I looked so phat!”
Prolly that was it.

Jadi teringat pacarnya William yang berprofesi sebagai penyanyi latar itu. Dia paling sering menolak keluar dari apartemen William kalau tidak tampil lengkap.
Versi lengkapnya adalah: rambut ditata spikey dengan gel, cincin dan kalung bling-bling, belt dengan gesper besar, dan sepatu yang bersih cenderung mengkilap.
Padahal, William hanya mau mengajak orang itu makan malam di area food court di kompleks apartemen tersebut.
Alasan pacarnya William adalah (dan ini sumpah bikin ketawa terbahak-bahak), “Aku kan kerjanya di entertain. Kalau nanti ada yang ngeliat aku lagi biasa banget kaya kamu, apa kata mereka?”
I bet he thinks Paris Hilton thinks the same about herself, always put in mind what others may say as her first and utmost concern before deciding what to wear before going out to those trendy-cool-and-hip parties.

Ketika salah seorang teman memberikan questioner profile untuk diisi, dan salah satu pertanyaan dalam questioner itu adalah “How do you define your fashion-style?”, dengan penuh percaya diri aku mencontreng pilihan “preppy-look”.
Menurut penilaianku sendiri, penampilan seperti anak sekolah baik kalem dan polos begitu paling pantas untuk ‘menipu’ orang-orang dengan harapan bisa menyamarkan keculasan hatiku. Ha!Ha!

Dan meskipun hari ini aku tidak terlihat sesuai dengan pilihan style ideal ku yang preppy-look itu, tapi dengan mengenakan kaus berkerah warna marun cream-colored chino sepatu mokasin coklat serta tas selempang biru tua sebagai outfit ke kantor hari ini, aku benar-benar memakai “the first outfit I tried on today”. Just like what John suggested some couple of hours ago.




Tuesday, January 13, 2009

A Dress That Could ...



otherwise buy you an SUV,
or a small yet nice house in some Asian countries (try suburban Jakarta!),
or even ...
feed a whole population of a mid-size village in rural Africa for a whole year.

Ah, life is so full of ironies.



This photograph of Anne Hathaway at The 66th Annual Golden Globe Awards,
wearing Swarovski crystal-encrusted Armani Prive gown,
is courtesy of omg!

Monday, January 5, 2009

Gajah dan Semut (atau: Perhatikan Bajumu Biar Tak Malu !)


Ada yang tahu acara televisi bernama “John Pantau”?

Ini adalah semacam satu program berita ringan yang rutin dipancarluaskan oleh stasiun Trans TV setiap hari Sabtu dan Minggu petang.
Boleh dikatakan, acara ini punya cukup banyak penggemar setia, dan mendapatkan dukungan dari begitu banyak pemirsanya di seluruh kawasan Nusantara.
Setidaknya, itulah yang terekam dari berbagai komentar positif yang terpajang di profile Facebook dan Multiply-nya.
Berdasarkan catatan pada tanggal penulisan artikel ini, 5 Januari 2008, Situs Pantau di Multiply merekam 222 komentar dan 1.539 teman di Facebook.

Konsep acara “John Pantau” sendiri sih, seperti yang dideskripsikan secara singkat dan lugas dalam kolom Info di profile Facebook-nya, menyebut bahwa John Pantau memiliki pandangan politik “memantau penyimpangan dan pelanggaran masyarakat” serta meyakini “jaga perilaku biar ga malu” sebagai agamanya. Aktivitas si John ini adalah “memantau pelanggaran masyrakat Indonesia” (typo sengaja mengikuti apa yang tercantum dalam profile), dan ketika tiba saatnya untuk menjelaskan secara singkat siapa itu John Pantau, inilah yang tercantum:

“John yang suka iseng memantau penyimpangan dan pelanggaran di masyarakat. Ingat-ingat kalau mau melanggar ya, jangan ambil resiko... melanggar aturan bisa bikin bahaya untuk diri sendiri dan orang lain... belum lagi malunya kalau kepergok sama John.. Makanya... Jaga perilaku biar nggak malu !!”
(di-copy persis sama seperti yang tertulis di dalam profile John Pantau, pertanggal 5 Januari 2009)

Dalam episodenya kemarin, sebagaimana biasanya, John dengan gaya hiperaktifnya yang bagai ulat keked (ini bukan celaan) menangkap basah anggota-anggota masyarakat yang melakukan pelanggaran lalu-lintas, mulai dari remaja-remaja dan ibu-ibu pengajian yang menyeberang jalan di tempat yang jelas-jelas memajang rambu Dilarang Menyeberang, hingga mengulik-ulik informasi dari seorang bapak pengelola parkir motor tidak resmi – tapi anehnya mengantongi surat izin resmi (?) dari pemerintah kota Jakarta Selatan (surat tersebut di-laminating dan diperlihatkan kepada pemirsa) – di area seputar ITC Kuningan persis di bawah rambu Dilarang Parkir sebelum mencapai mall tersebut.

Sama seperti mayoritas pemirsa “John Pantau”, aku pun menonton acara ini karena ingin melihat bagaimana reaksi orang-orang yang ‘tertangkap basah’ melakukan pelanggaran tersebut. Syukur-syukur kalau ada bumbu drama berupa ‘keramaian’ (now that’s what I call “guilty pleasures”), seperti episode nge-gap seorang perokok di sebuah stasiun kereta api (tindakan melanggar Perda DKI Jakarta no. 75 Tahun 2005), yang aku lupa tayang tanggal berapa.

Tapi sebenarnya ada satu kelucuan yang terasa ironis pada karakter John Pantau ini. Mengingat betapa dirinya asyik-asyik memantau penyimpangan dan pelanggaran yang dilakukan anggota masyarakat, ternyata bung John ini sendiri melakukan penyimpangan dan pelanggaran yang serius ... dalam bidang fashion. Ayo kita ulik bersama, dimulai dengan memperhatikan foto-foto yang menyertai artikel ini. Lihatlah ‘seragam wajib’ si John: topi fedora, kemeja, jins (*ketat*, euw!), dilengkapi ikat pinggang dan suspender.



Apakah outfit John Pantau terlihat fashionable di mata Anda?
Jika jawaban Anda adalah “Ya”, justru di situlah ‘masalah’-nya.

Bagi mereka yang mengerti Men’s Fashion 101 – atau pengetahuan dasar tentang mode bagi pria, pasti akan tahu bahwa mengenakan ikat pinggang DAN suspender SEKALIGUS merupakan penyimpangan dalam gaya berpakaian yang baik dan benar dan seharusnya, serta merupakan pelanggaran serius terhadap aturan-aturan dasar fashion. Kedua item fashion itu tidak boleh digabungkan penggunaannya: hanya bisa memilih salah satu saja untuk dipergunakan dalam satu kesempatan. Memakai ikat pinggang dan suspender sekaligus sama salahnya dengan jalan-jalan bersama istri dan selingkuhan pada saat yang bersamaan: pebuatan dosa yang tidak dapat dijustifikasikan dengan alasan apapun.

Jadi, saranku untuk John Pantau, produser dan pihak-pihak yang bertanggung-jawab dalam produksi acara ini, sebaiknya benahi dulu karakter (baca: outfit) John Pantau sebelum dia dengan cengiran lebar khasnya itu memergoki anggota-anggota masyarakat yang melakukan pelanggaran. Meskipun tentu saja, memang lebih mudah dan lebih enak sih menunjukkan kesalahan orang lain daripada melihat kekeliruan di diri kita sendiri.
Sama seperti kata pepatah, “Gajah di pelupuk mata tak tampak, Semut di seberang lautan kelihatan”.




Monday, December 15, 2008

Sebentar Lagi, ...



Kebiasaan kalau hari Sabtu siang lagi bengong ga ada kerjaan, dipikir-pikir daripada cuma tiduran berhibernasi di kamarku yang sejuk atau menonton acara gosip ga jelas dan membosankan, mendingan sekalian jalan-jalan 10 ribu langkah sembari menyambangi salah satu tempat perbelanjaan yang isinya macam-macam di area Casablanca. Dan itulah yang kulakukan weekend kemarin, sekalian mau lunch, ceritanya.

Sesampainya di mall kondang tersebut, dan bersyukur karena tidak terjebak kemacetan yang menjadi ‘ritual’ di depan mall ini setiap akhir pekan, dengan bersemangat kucari dulu makanan apa yang rasanya enak dan cocok untuk mengisi perutku yang sudah mulai keruyukan minta diisi. Setelah mondar-mandir cukup lama akhirnya kuputuskan untuk makan menu Manado, apalagi kalau bukan a la rica-rica.

Karena suasana tempat makan ini sama sekali tidak nyaman, pilihan satu-satunya adalah untuk segera menghabiskan makanan lalu buru-buru angkat kaki dari area food court yang berisik itu.

Sebenarnya kalau kondisinya lebih manusiawi dan lebih bersih, beraktivitas menongkrong di area food court sebuah mall merupakan aktivitas killing time yang menyenangkan. Sambil duduk dan pura-puranya menikmati makanan yang dihidangkan di depan tubuh, mata bisa sambil plirak-plirik kiri-kanan dan melihat serbaneka manusia. Terkadang, ada hal-hal menarik yang bisa bikin surprise dan lumayan menghibur bisa disaksikan melintas di depan mata. Seperti kemarin ini, ada seorang pria pakai t-shirt tie-dye dengan warna fantasi seperti kaos reagge gitu, dengan bawahan celana kotak-kotak kecil hitam putih abu-abu. Benar-benar menjadi tantangan buat mata. “Bold choice,” kalau istilah para Condé Nasties. Dan pakaian pria tersebut masih dilengkapi dengan trucker cap butut (bukan yang sengaja dibuat butut kaya Ed Hardy’s, catet!) dan aksesoris tas pinggang hitam yang tampak lusuh. Ehem! ... Seorang teman pasti akan mengatakan aku ga sopan dengan membahas hal-hal remeh serta dangkal semacam ini.

Nah, biar ga makin bertambah saja dosa-dosaku hanya karena duduk di situ, jadi selesai makan aku segera angkat kaki.

Pindah ke mall sebelahnya, dan sempat kepikiran (dan memang tergoda) untuk menyambangi beberapa toko yang biasanya menjual t-shirt dan aksesoris lucu-lucu gitu, biasanya sih barang-barang yang diimpor dari Thailand. Ini sebenarnya dilakukan hanya untuk sekedar iseng, mengecek apakah ada barang baru yang relatif murah dan tak dijual di mall kelas luxe yang biasanya berlokasi di area-area prima. Lumayan kan, buat nambah-nambahin koleksi kalau lagi males rapih pas ke kantor saat hari Jumat (maupun saat terpaksa lembur di akhir pekan).

Tapi niatan ini terpaksa diurungkan, karena saat melintasi beberapa toko, baru teringat kalau masih ada beberapa kemeja yang tempo hari dibeli dan sampai hari ini masih belum sempat dikenakan sekali pun. Daripada jadi pemborosan, mending ditunda dulu saja niatan untuk melihat-lihat (dan yang biasanya sih ujung-ujungnya jadi belanja) ini.

Lagipula, kalau berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang dibentuk oleh tradisi sejak beberapa tahun lalu, biasanya pada saat akhir pekan terakhir sebelum Natal, akan ada satu agenda spesial yang butuh pos pengeluaran khusus, yaitu Diskon Akhir Tahun Kinokuniya. Rata-rata semua buku didiskon 20%, menarik banget kan? Setelah tahun lalu membeli Truman Capote dan David Sedaris, tahun ini rencananya mau mengumpulkan beberapa novel lainnya yang sudah diadaptasi ke layar lebar maupun yang memenangkan penghargaan di berbagai ajang literatur. Misalnya, ”On The Road”-nya Jack Kerouac versi selebrasi 50 tahun, yang katanya lebih lengkap daripada yang telah dikenal luas selama ini (ternyata ada beberapa bagian yang disensor di terbitan-terbitan awal). Interesting, eh?

Jadi sebenarnya kalau ada yang iseng bertanya perihal daftar belanja Natal-ku untuk tahun ini, ya cuma itu jawabannya: borong buku di Kinokuniya.

By the way lagi ngebahas topik ini dan kebetulan pandangan mata secara otomatis bergerak untuk mengecek kalender, baru nyadar kalau ternyata Diskon Akhir Tahun Kinokuniya itu seharusnya akhir pekan ini dong ya kejadiannya? Secara hari Kamis depan kan sudah Natal. Sedikit terlupa karena tidak ada persiapan khusus menyambut perayaan tahun ini, selain gantungan kaos kaki merah dengan daun holly plastik di depan pintu kamar.

Perayaan Natal tahun ini bagiku pribadi tampaknya akan mengambil tema ”Kontemplasi dalam Kesunyian dengan Kerendahan Hati yang Tulus”. Bisakah?

I’ll just wait and see.

Tuesday, October 7, 2008

Singkat Cerita Tentang Belanja


Paling sebel rasanya kalau lagi pas punya duit ekstra buat dibelanjakan– which is tumben-tumbenan terjadi belakangan ini – untuk keperluan kurang penting dan tidak mendesak, terus hepi banget nemu fashion items bagus di toko favorit di mall, ternyata ... ukurannya ga ada yang cocok.

Seperti kemarin waktu nemenin Dia mencari hadiah ulang tahun untuk abangnya di Zara, ga sengaja nemu loafer berwarna putih yang tampak menarik dan enak dipakai. Kuintip bagian dalamnya, ternyata size 42. Itu kan ukuran kakiku saat masih jadi pelajar SMP !! Karena sudah terlanjur suka dengan that loafer’s looks, ditambah lagi dengan approval dari Dia yang bilang bakalan bagus di kakiku, maka kutanyalah kepada shop attendant terdekat apakah mereka memiliki stok dengan ukuranku. Jawabannya sangat mengecewakan, katanya that’s the only pair left. Siyal! Dengan kecewa kukembalikan pasangan loafers itu ke raknya.

Tapi biasanya aku akan lebih sebel lagi kalau sudah berhemat ekstra dan menabung serta menahan keinginan untuk beli ini-itu, pas duitnya sudah terkumpul dengan jumlah yang mencukupi, eh, itu barang yang diidam-idamkan dan menjadi alasan utama menabung, ternyata sudah habis terjual.

Pengalaman pribadi yang tak bisa terlupakan adalah waktu dulu masih kecil, kayanya masih duduk di kelas 3 SD. Kebetulan, orang-tuaku tidak membiasakan anaknya jajan sembarangan di luar, kebutuhan gizi kami 99,99 % dipenuhi di rumah. Implikasinya, aku dan saudara-saudaraku nyaris tak pernah diberi uang saku buat dijajanin. Kalau misalnya kami ingin punya mainan tertentu, biasanya harus minta dibelikan sama orang-tua. Tapi masalahnya, belum tentu permintaan tersebut akan dikabulkan.
Sama seperti suatu hari ketika dibawa orang-tuaku berbelanja di toko kelontong langganan yang lokasinya berada di luar kompleks, aku dan adikku memilih untuk berkeliaran di pojok yang memajang mainan sementara kedua orang-tua kami sibuk berbelanja. Saat sedang asyik melihat-lihat tumpukan mainan, pandangan mataku tertuju pada sebuah mainan bis bertingkat berwarna merah menyala yang dibuat dari bahan logam. Saat pertama melihatnya, aku langsung tahu kalau aku harus memilikinya. Tapi apa daya, ternyata Ibu menolak untuk membelikan. Aku lupa alasan persisnya saat itu. Yang jelas, aku jadi sangat kecewa. Dan selama beberapa minggu berikutnya, mainan bis bertingkat berwarna merah itu terus menggelayuti imajinasiku.
Beberapa bulan berlalu, dan setiap kali aku dibawa ke toko kelontong itu, yang selalu langsung kutuju untuk diperiksa adalah pojok mainan, untuk melihat apakah mainan bis bertingkat berwarna merah itu masih ada. Dan kalau misalnya sedang tidak ada yang memperhatikan, akan kuambil ia dari tumpukan di rak dan kumain-mainkan, sampai kudengar suara Ibu memanggil-manggil mencariku atau ada pembantu toko yang kebetulan lewat lantas melarang aku terus memainkannya.
Hingga suatu hari ada seorang Paman datang berkunjung dari jauh bersama istrinya. Mereka berdua sudah lanjut usia, bahkan mungkin sudah lebih tua daripada kedua orang-tuaku. Mungkin itu sebabnya mereka berdua sangat memperhatikan kami yang masih kanak-kanak, karena di mata mereka, kami sudah dianggap selayaknya cucu sendiri. Setelah menginap selama kurang lebih seminggu di rumah kami, mereka berdua pun pamit hendak pulang. Sebelum berpisah, tidak lupa Bibi menyelipkan salam tempel ke dalam genggaman tanganku. Saat kubuka telapak tangan ini untuk melihat apa isinya, hatiku terlonjak kegirangan melihat selembar Kartini terlipat-lipat di atasnya. Akhirnya aku bisa membeli mainan bis merah itu!
Tak sabar rasanya menunggu tibanya hari kunjungan belanja ke toko kelontong itu lagi. Harus bersama Ibu dan Bapak perginya, karena kami sebenarnya dilarang keluar kompleks tanpa pengawasan orang dewasa. Setidaknya demikianlah peraturan yang dikeluarkan oleh bagian Security kompleks.
Ketika hari berbelanja itu tiba, senang banget rasanya. Jantungku seakan melompat-lompat di dalam dada. Begitu mobil berhenti di halaman parkir toko, aku segera melompat keluar dan berlari kencang menuju rak di pojokan yang selama ini sudah begitu akrab bagiku. Celingukan pandanganku mencari, melongok-longok leherku mencoba meneliti. Aku tak bisa percaya penglihatanku, tapi mainan bis bertingkat berwarna merah menyala itu sudah tidak ada! Dengan rasa kecewa dan tak percaya yang membubung tinggi, kutanyakan perihal keberadaan mainan bis merah itu kepada anak penjaga toko kelontong yang kebetulan melintas di dekatku. Jawaban yang diberikannya membuatku sedih alang-kepalang : itu adalah mainan bis satu-satunya dari jenis dan bahan itu, dan itupun sudah terjual beberapa hari sebelumnya.
Buat seorang anak kecil yang memendam harap sebegitu besar dan lantas dikecewakan, kebayang dong emosinya kaya apa. Memang sih aku ga sampai nangis-nangis gitu, no way lah. Cuma barangkali ini salah satu penyebabnya aku jadi punya obsesi terpendam : ingin berkunjung ke London, hanya agar dapat menaiki bis bertingkatnya yang berwarna merah itu dan berwisata keliling ibukota Inggris.


Masih ada satu kondisi belanja lagi yang belum terbahaskan. Yaitu begini : ada satu barang yang sudah kita taksir sedemikian lama dan kemudian saking pengennya, kita sampai rela mengeluarkan duit ekstra untuk bisa memilikinya, meskipun implikasinya adalah kita harus berhemat ketat untuk sektor-sektor pengeluaran lainnya hingga jangka waktu tertentu. Saat kita lagi senang-senangnya dengan barang baru itu dan dengan bangga menggunakannya ke manapun dan kapanpun memungkinkan, ternyata tak lama kemudian di tokonya itu barang mengalami reduksi harga. Alias didiskon. Pengen marah kan jadinya?

Syukurlah hal yang begini ini belum pernah kualami. Jangan sampai. Kebayang deh betenya. Tetapi dari hasil ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang sahabat dekat, ternyata kejadian semacam ini pernah dialami oleh salah seorang di antara mereka. Sepatu Adidas-nya yang belum lagi sebulan dibeli dan dipakai, tiba-tiba sudah turun harga alias didiskon, dalam jumlah yang relatif besar pula : sekitar 30%. Mengetahui hal tersebut, olehnya sepatu itu langsung dikembalikan ke dalam kotak aslinya dan disimpan di dalam lemari untuk waktu yang cukup lama.

Kembali pada kejadian awal yang menjadi ide tulisan ini, setelah kecewa karena tidak jadi memiliki loafer putih Zara yang lucu itu, aku dan Dia berjalan-jalan keliling gerai-gerai lainnya, keluar masuk toko karena Dia masih merasa belum puas dan teryakinkan dengan hadiah kemeja kantoran yang dibelinya di Zara. Dan karena kami berkeliling-keliling mengukur luasnya mall (yang memang diklaim oleh pengembangnya sebagai salah satu yang terluas di Indonesia), akhirnya dari kunjungan bolak-balik itu aku jadi tergoda juga membeli selembar t-shirt Junk Food bergambarkan karakter-karakter Smurf. Padahal, baru akhir pekan sebelumnya aku membeli empat helai t-shirt impor dari Thailand.

Dasar si pemboros tukang belanja!

Tapi, yaaah, mau bilang apa? … Namanya juga berbelanja barang alternatif untuk sekedar menghibur diri.

Wednesday, August 6, 2008

Orange Suede Shoes


I once read from a fashion magazine that a man is measured by the shoes he’s wearing.

What if that guy is wearing orange suede shoes with synthetic leather-like brownish sidelines and interlacing red and green stripes on the soles?

“Simply gay,” said William, while supporting a big grin on his oval plumpy face.

Being a gay guy himself, whatever judgement William made, we as his friends need to listen. Though this time I don’t think I’d listen and ‘obey’ his suggestion. Because it was me who wore the shoes described above in our monthly get-together. They were gift. And everyone knows how much I love getting gifts. Haha!




*image above is just an illustration to the article

Wednesday, March 26, 2008

Enjoying Simple Things in Life


| Fashionably women in short skirts with beautiful long legs wearing high heels |

| Natural reddish or pinkish wet look smiling lips |

| Sitting on a cozy sofa in a homey café drinking cappuccino eating almond brownies and listening to chilling music while reading a mind-absorbing novel |

| Big warm bear-hugs (the one you feel hard to let go) |

| Anyone singing I Can't Make You Love Me in full emotions from deep inside the heart |

| Everything related to Spongebob Squarepants and his friends |

| Sophie Muller's directed music-videos of Maroon 5 She Will Be Loved and Coldplay Fix You |

| Super-discounted good quality enjoyable readings |

| Classic-style postman bags or other vintage looking sling bags |

| Chocolate, dark chocolate, and more darker chocolate |