Showing posts with label party. Show all posts
Showing posts with label party. Show all posts

Tuesday, March 10, 2009

The Mysteries, Has Yet To Be Exposed


"Men who sleep with men are just big cowards."


That’s what Phlox Lombardi said to Arthur Bechstein, while leaving Arthur Bellwether and his date for that night, a young skinny guy, at their table.

If it’s not because of the party proposal I should submit by tomorrow, I’d spent these nights devouring the many pages of this intriguing novel.

Wednesday, March 4, 2009

“The First Outfit I Tried on Today”


johncmayer Why not wear the first outfit you try on today?
about 2 hours ago from TwitterBerry


Well, it is so true. John has a point there.
(ciee … sok akrab bener manggilnya with his first name)

Terkadang rasanya memang teramat sukar untuk menemukan outfit yang pas untuk dipakai keluar rumah, yang cocok dengan occasion dan kondisi cuaca saat itu.

Pernah suatu ketika, saat kukira di kantor hari itu tidak ada skedul bertatap muka dengan klien jadinya iseng pakai t-shirt belel, celana cargo sedikit di bawah lutut dan flip-flop kumal ke kantor, ternyata salah satu calon klien baru minta bertemu sore harinya. Terpaksa balik to my crib hanya untuk berganti pakaian yang lebih pantas dan tentunya, representatif.

Di kesempatan lain, saat akan menghadiri party di club milik salah seorang sahabat, hampir setengah jam habis kupergunakan untuk membongkar isi lemari hanya untuk menemukan outift yang terlihat pantas rapi dan keren tanpa terlalu menonjolkan ‘kemajuan’ my belly (ha!ha!).
Dan di tengah kesibukan yang diliputi kebingungan itu, si Dia hanya tertawa saja karena menganggap I looked so cute in the middle of my confusion. (Emangnya dahi berkerenyit dan bibir manyun gitu lucu ya?)
Hah! Tentunya aku harus bisa mengimbanginya malam itu agar si Dia tidak terlihat over-dress sementara pacarnya ini sendiri tampak under-dress (meski tentunya, bukan hanya memakai ‘under-garment’ doang !) di tengah party yang dihadiri upper-class people itu.

Pernah kubaca saran bagus dari salah seorang pengamat mode yang mengatakan, “it’s better to look over-dress than under-dress”.
Tapi kalau kemudian munculnya malah seperti seorang pria di butik (x).s.m.l. yang kulihat beberapa bulan lalu – dia memakai trucker cap Guess?, kaos berkerah Burberry, celana jins Versace, belt DSquared, dan sepatu Gucci – kurasa jatuhnya malah jadi sama sekali tidak berselera dan jauh dari keren.
Help! I just saw a walking mannequin!
Kira-kira apa yang ada di dalam benak lelaki itu sebelum dia keluar dari dalam kamarnya hari itu?
“Wow, I looked so phat!”
Prolly that was it.

Jadi teringat pacarnya William yang berprofesi sebagai penyanyi latar itu. Dia paling sering menolak keluar dari apartemen William kalau tidak tampil lengkap.
Versi lengkapnya adalah: rambut ditata spikey dengan gel, cincin dan kalung bling-bling, belt dengan gesper besar, dan sepatu yang bersih cenderung mengkilap.
Padahal, William hanya mau mengajak orang itu makan malam di area food court di kompleks apartemen tersebut.
Alasan pacarnya William adalah (dan ini sumpah bikin ketawa terbahak-bahak), “Aku kan kerjanya di entertain. Kalau nanti ada yang ngeliat aku lagi biasa banget kaya kamu, apa kata mereka?”
I bet he thinks Paris Hilton thinks the same about herself, always put in mind what others may say as her first and utmost concern before deciding what to wear before going out to those trendy-cool-and-hip parties.

Ketika salah seorang teman memberikan questioner profile untuk diisi, dan salah satu pertanyaan dalam questioner itu adalah “How do you define your fashion-style?”, dengan penuh percaya diri aku mencontreng pilihan “preppy-look”.
Menurut penilaianku sendiri, penampilan seperti anak sekolah baik kalem dan polos begitu paling pantas untuk ‘menipu’ orang-orang dengan harapan bisa menyamarkan keculasan hatiku. Ha!Ha!

Dan meskipun hari ini aku tidak terlihat sesuai dengan pilihan style ideal ku yang preppy-look itu, tapi dengan mengenakan kaus berkerah warna marun cream-colored chino sepatu mokasin coklat serta tas selempang biru tua sebagai outfit ke kantor hari ini, aku benar-benar memakai “the first outfit I tried on today”. Just like what John suggested some couple of hours ago.




Wednesday, November 5, 2008

Welcoming "Change"


Like the majority of people in the world and most citizens of the U.S.A., I never really thought I could live to see an African-American person becomes The President of The United States of America, not to mention a winning by landslide.

Your hard works has been paid back in rich dividends, Mr. President Barack Obama.

Congratulations!

Monday, October 6, 2008

Imajinasi Tingkat Tinggi



Bisa jadi masih belum banyak penduduk negeri ini yang tahu dan sadar, bahwa sejak beberapa bulan lalu sampai awal tahun depan, adalah masa kampanye politik jelang Pemilu 2009. Barangkali karena masa kampanye kali ini sangat panjang apabila dibandingkan masa-masa sebelumnya yang hanya dalam hitungan tiga bulanan, jadi masih banyak partai politik yang seolah-olah testing the water dan cenderung mengambil sikap menunggu, menanti partai mana yang akan melakukan start duluan dan dengan cara apa. Mayoritas partai-partai politik ini belum lagi kencang menghambur-hamburkan dana untuk berpromosi, apalagi menggebrak dengan kampanye yang bersifat massive dan sensasional.

Barangkali baru sejak medio Agustus lah mulai ramai bermunculan berbagai spanduk, umbul-umbul, billboard dan bentuk-bentuk media luar ruang lainnya, yang mengusung nama, logo maupun wajah yang mewakili partai politik tertentu, menghiasi (atau mengotori ?) berbagai tempat strategis di seantero Jakarta dan sekitarnya. Sudah jamak memang apabila pesan politik disampaikan lewat berbagai media yang bisa mengakomodasinya, dengan titik-titik sentuh bersifat langsung dengan olahan seefektif mungkin (masih ingat kampanye Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pada Pemilu 2004 dengan slogan ”Moncong Putih” ?).

Salah satu medium penyampaian pesan politik yang paling diminati sejak dulu hingga kini, sudah tentu adalah lewat tayangan iklan di televisi. Belakangan ini, dua muka lama mulai rajin menyambangi layar kaca kita : Prabowo Subianto dari Partai Gerindra, dan Wiranto dari Partai Hanura. Sejujurnya buatku pribadi, agak seram melihat kedua sosok ini bangkit lagi di masa kini, mengingat track record keduanya yang tidak bisa dikatakan bersih dari pelanggaran hak azasi manusia pada masa keduanya masih menjadi pimpinan militer di era Orde Baru.
Namun yang juga menarik untuk dicermati adalah kemunculan dua wajah baru yang berusaha mengimbangi dua muka lama tadi, yaitu Soetrisno Bachir dari Partai Amanat Nasional, serta Rizal Mallaranggeng.
Khusus untuk nama yang disebut terakhir ini cukup memancing rasa penasaranku, karena beliau yang mengaku dalam iklan satu halamannya di harian Kompas, mengklaim dirinya tidak disokong oleh partai politik manapun dalam upayanya memperkenalkan diri ke publik. Plus, kata adik kandung penasihat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini, dirinya juga bukanlah seorang pengusaha. Intinya adalah, beliau menyatakan dirinya sebagai calon presiden independen yang berangkat dari jalur perseorangan.
Hal ini jelas-jelas di kemudian hari menimbulkan tanda tanya besar : darimanakah beliau mendapatkan dana untuk menjalankan kampanye politiknya? Terlebih kalau melihat billboard ekstrabesar dua sisi yang memasang wajahnya di seputaran Jembatan Semanggi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Sekali lihat, pasti langsung terbayang gelontoran dana yang harus dikucurkan untuk mengisi kedua sisi billboard tersebut dengan wajah bapak berkumis tebal ini. Belum lagi, sekian banyak jenis dan versi iklan politik beliau. Perhitungan kasar pun memunculkan angka milyaran rupiah.
Sayangnya, menurut hasil polling yang kulihat bulan lalu di acara politik tvone, berbagai iklan politik beliau masih belum memberikan dampak nyata di tataran political awareness rakyat negeri ini. Barangkali karena rakyat negeri ini masih belum terbiasa dengan kampanya multi-media a la Barack Obama.

Sedangkan menurut pendapatku pribadi, memasang iklan politik di area sepanjang jalan Gatot Soebroto, Sudirman dan Thamrin, itu sudah biasa.
Yang menjadi luar biasa, barangkali apabila memasang iklan di beberapa tempat yang lebih lazim dipergunakan sebagai medium promosi niaga, seperti billboard aktif yang ada di dekat gedung BEI, di depan Pusdiklat Deplu, atau memblok area dinding luar salah satu mall terkenal di kawasan Senayan, yang seingatku pertamakali dilakukan oleh MRA Media untuk mempromosikan majalah Esquire Indonesia edisi perdana kurang-lebih satu tahun lalu, yang terbukti cukup sukses menggoyang pasar majalah khusus pria dewasa di negeri ini.




Setidak-tidaknya, dalam imajinasiku, kalau aku memiliki uang dalam jumlah besar untuk dihambur-hamburkan, aku pun ingin menampilkan wajahku dengan cara yang kurang-lebih serupa.
Apalagi kalau pemotretannya dilakukan oleh fotografer kelas dunia, seperti Annie Leibovitz atau David LaChappelle atau Mario Testino.
Lantas dicetak dalam ukuran raksasa dan dipajang di mall tadi.
Cukuplah memajangnya selama empat minggu, dengan empat versi berbeda yang berganti setiap minggunya; dijamin setidak-tidaknya akan ada beberapa juta pasang mata yang akan melihat poster raksasa itu selama kurun waktu tersebut, yang kemudian diharapkan akan dapat memancing rasa penasaran mereka untuk mencari tahu lebih banyak lagi.
Niscaya langkah ini tentu akan berhasil meningkatkan awareness atas diriku, suatu hal yang kata William sudah relatif berhasil kulakukan di beberapa situs jejaring sosial bersifat pertemanan (i.e. Friendster dan Facebook), berkat foto-foto pribadiku yang (kuharap bisa memberikan kesan) artistik.

Ngayal berlebihan, sekali-sekali boleh dong?





Tuesday, March 18, 2008

C'est la Vie

Last Saturday night, two different girls and another guy who don't know each other, asked me out on a ‘date’.

Diane asked me to accompany her on a 'wedding-date', because she doesn't like the curse of the singles' table ever happen to her. She even insisted on lending her ex-husband's designer's suit when I told her I have nothing decent and classy enough to wear for a wedding ceremony that is going to be celebrities-studded and full of A+ guests in such a plush place.

Simone asked me to escort her on her friend's birthday party in a hip nightclub which will be followed by “only God knows what”.

Chip told me that he's up to whatever things that will please me and make me happy and enjoy the long night as long as I keep him in my company.

Three generous offers.

Which one I decided to go to and who were the less-lucky persons that I gave "NO" as an answer?

Apparently, no one.

Turned them all down by saying that I already made a promise a couple of weeks ago with an old-time friend.

In which, technically, I lied.

The situation was that I asked a girl-friend out for a midnight show of a highly-anticipated action movie but she failed to respond my offer, by not returning my calls nor replied my text messages. Later I found out that she was out of town since Thursday evening for a family-related matter.

Such irony.

By refusing the three offers – and since I don't want to make a fool out of myself by telling any of them three that I decided to change my mind and go with his/her offer instead – the only choice that was left for me to choose from (well, it was actually not an option then) was the least I expected to do over a Saturday night, that was to accompany Eric watching his most favorite TV show, Kontes Dangdut TPI.

Euw...!




- This writing was originally posted on June 22nd, 2005 -