Showing posts with label Republik Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Republik Indonesia. Show all posts

Friday, July 17, 2009

United We Stand


Kami tidak takut menghadapi serangan teroris.
Indonesia Unite !

Thursday, June 18, 2009

Come again, Sir?

President Susilo Bambang Yudhoyono (courtesy of The Sydney Morning Herald)


Bapak Susilo Bambang Yudhoyono just said in a presidential debate which is currently - at the time of this writing - being broadcasted live: "... oleh Lapindo, perusahaan penyebab semburan lumpur itu...".

Excuse me, Mr. President, but was that a *positive* confirmation?

Did you just imply in your statement that you KNEW what was the real cause of the Lapindo mudflow case all this time?

The disaster happened over three years ago, yet many - if not most - victims are still struggling to rebuild their lives. Where have you been all this time, Mr. President?

What's your say now, Sir?


Original image was taken from here. I don't own the right to it.

Tuesday, March 24, 2009

Kok Bisa Yaaa ... ?


Kebetulan saja lagi tinggi hasrat bergosipnya hari ini.

Kebetulan kemarin abis bangun pagi instead of mandi, aku leyeh-leyeh dulu di kasur sambil nonton TV. No particular channel or program sih yang dilihat. Just flipping through channels.

Nah, kebetulan saja pas di salah satu kanal, sedang ada gossip selebriti a.k.a. acara infotainment. Sebenarnya pas baru liat orang yang dijadikan pembahasan, sempat males ngelanjutin nontonnya. Tapi entah kenapa saat itu I stay put. Dan kabar yang kemudian kudengar, membuatku sangat terkejut (alias shocking news!).

Ternyata si selebriti mediocre (untuk tidak menyebut dirinya artis, karena ya emang menurutku ga pantes aja, sebab sepanjang pengetahuanku yang bersangkutan ga ada kemampuan art-nya sama sekali) yang sedang dikerubutin wartawan ini lagi diinterview untuk sebuah prestasinya (tumben banget). Biasanya sih, si selebriti mediocre ini kan dirubung wartawan gossip kalau ada kasus (negatif) baru yang menyeret maupun membawa-bawa namanya.
Masih pada ingat dong, sebelumnya si selebriti mediocre ini sempat ”kondang” lagi namanya di infotainment lewat skandal tersebarnya foto-foto yang bersangkutan di bawah shower sedang telanjang bul-bul bersama her sister (sempat dikomentari oleh seorang ”pakar” telematika berinisial R.S. sebagai foto aseli bukan rekayasa) sambil berpose sensual dan terbuka. Persisnya bagaimana, silahkan googling sendiri saja ya.

Ternyata untuk kali ini aku keliru sungguh.
Si selebriti ini kembali masuk radar pemberitaan infotainment, karena dia baru saja diwisuda dan resmi memegang gelar Sarjana Ilmu Politik dari Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Paramadina.
Tak tanggung-tanggung, skripsinya yang mengulas hubungan diplomatik Republik Indonesia dengan Timor Leste terkait kerjasama perbatasan, berhasil mengantarkan sang selebriti lulus dengan nilai akhir tiga koma empat tujuh.
Yap, betul sekali. Kamu tidak salah baca. IPK-nya benar 3.47. Artinya, nyaris mendekati limit minimal untuk lulus dengan pujian (cum laude).

Sempat aku bertanya-tanya, apakah selama ini aku terlalu memandang rendah si selebriti terkait tingkat intelektualitasnya?
Berhubung aku pernah bekerjasama dengan si selebriti ini, dan dari hasil perbincanganku dengan salah satu teman dekat yang adalah juga saudara sepupunya si selebriti, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya dia relatif kurang tanggap dalam soal keilmuan (ini adalah eufemisme). Mungkin karena dia susah atau kurang berkonsentrasi saja selama ini (sekali lagi, eufemisme). Itulah sebabnya, mendengar kabar infotainment kalau yang bersangkutan lulus nyaris cum laude, bagiku benar-benar menjadi surprise yang shocking.

Wow! Masih bisa kuingat, beberapa orang teman yang aku tahu persis otaknya berlabirin banyak alias pintar banget, sempat dibuat jungkir balik di almamater untuk bisa meraih IPK tiga koma empatpuluhan.
Aku sendiri juga sempat dibuat tidak bisa tidur demi nilai rata-rata tiga koma empat sekian itu. Dan mendengar si selebriti yang bisa meraih indeks prestasi kumulatif lebih tinggi daripada yang kudapatkan ketika lulus, rasanya hati ini dibakar rasa iri dan tak bisa menerima keampuhan otak orang lain. Huh! Kok bisa-bisanya ya dia?

Dari awalnya rasa iri, kemudian malah jadi timbul kecurigaan (namanya juga lagi niat berghibah yang kebetulan bisa diakomodir habis-habisan di sini), sebenarnya bagaimanakah standar penilaian mahasiswa di Universitas Paramadina, apabila dibandingkan dengan almamater teman-teman?
Rasanya pertanyaan ini harus kuajukan kepada seorang teman yang pernah menjadi staff pengajar di perguruan tinggi tersebut, dan kebetulan merupakan jurusan yang sama seperti yang diambil sang selebriti.

Korek-korek info dulu aaahh ...

Monday, October 6, 2008

Imajinasi Tingkat Tinggi



Bisa jadi masih belum banyak penduduk negeri ini yang tahu dan sadar, bahwa sejak beberapa bulan lalu sampai awal tahun depan, adalah masa kampanye politik jelang Pemilu 2009. Barangkali karena masa kampanye kali ini sangat panjang apabila dibandingkan masa-masa sebelumnya yang hanya dalam hitungan tiga bulanan, jadi masih banyak partai politik yang seolah-olah testing the water dan cenderung mengambil sikap menunggu, menanti partai mana yang akan melakukan start duluan dan dengan cara apa. Mayoritas partai-partai politik ini belum lagi kencang menghambur-hamburkan dana untuk berpromosi, apalagi menggebrak dengan kampanye yang bersifat massive dan sensasional.

Barangkali baru sejak medio Agustus lah mulai ramai bermunculan berbagai spanduk, umbul-umbul, billboard dan bentuk-bentuk media luar ruang lainnya, yang mengusung nama, logo maupun wajah yang mewakili partai politik tertentu, menghiasi (atau mengotori ?) berbagai tempat strategis di seantero Jakarta dan sekitarnya. Sudah jamak memang apabila pesan politik disampaikan lewat berbagai media yang bisa mengakomodasinya, dengan titik-titik sentuh bersifat langsung dengan olahan seefektif mungkin (masih ingat kampanye Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pada Pemilu 2004 dengan slogan ”Moncong Putih” ?).

Salah satu medium penyampaian pesan politik yang paling diminati sejak dulu hingga kini, sudah tentu adalah lewat tayangan iklan di televisi. Belakangan ini, dua muka lama mulai rajin menyambangi layar kaca kita : Prabowo Subianto dari Partai Gerindra, dan Wiranto dari Partai Hanura. Sejujurnya buatku pribadi, agak seram melihat kedua sosok ini bangkit lagi di masa kini, mengingat track record keduanya yang tidak bisa dikatakan bersih dari pelanggaran hak azasi manusia pada masa keduanya masih menjadi pimpinan militer di era Orde Baru.
Namun yang juga menarik untuk dicermati adalah kemunculan dua wajah baru yang berusaha mengimbangi dua muka lama tadi, yaitu Soetrisno Bachir dari Partai Amanat Nasional, serta Rizal Mallaranggeng.
Khusus untuk nama yang disebut terakhir ini cukup memancing rasa penasaranku, karena beliau yang mengaku dalam iklan satu halamannya di harian Kompas, mengklaim dirinya tidak disokong oleh partai politik manapun dalam upayanya memperkenalkan diri ke publik. Plus, kata adik kandung penasihat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini, dirinya juga bukanlah seorang pengusaha. Intinya adalah, beliau menyatakan dirinya sebagai calon presiden independen yang berangkat dari jalur perseorangan.
Hal ini jelas-jelas di kemudian hari menimbulkan tanda tanya besar : darimanakah beliau mendapatkan dana untuk menjalankan kampanye politiknya? Terlebih kalau melihat billboard ekstrabesar dua sisi yang memasang wajahnya di seputaran Jembatan Semanggi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Sekali lihat, pasti langsung terbayang gelontoran dana yang harus dikucurkan untuk mengisi kedua sisi billboard tersebut dengan wajah bapak berkumis tebal ini. Belum lagi, sekian banyak jenis dan versi iklan politik beliau. Perhitungan kasar pun memunculkan angka milyaran rupiah.
Sayangnya, menurut hasil polling yang kulihat bulan lalu di acara politik tvone, berbagai iklan politik beliau masih belum memberikan dampak nyata di tataran political awareness rakyat negeri ini. Barangkali karena rakyat negeri ini masih belum terbiasa dengan kampanya multi-media a la Barack Obama.

Sedangkan menurut pendapatku pribadi, memasang iklan politik di area sepanjang jalan Gatot Soebroto, Sudirman dan Thamrin, itu sudah biasa.
Yang menjadi luar biasa, barangkali apabila memasang iklan di beberapa tempat yang lebih lazim dipergunakan sebagai medium promosi niaga, seperti billboard aktif yang ada di dekat gedung BEI, di depan Pusdiklat Deplu, atau memblok area dinding luar salah satu mall terkenal di kawasan Senayan, yang seingatku pertamakali dilakukan oleh MRA Media untuk mempromosikan majalah Esquire Indonesia edisi perdana kurang-lebih satu tahun lalu, yang terbukti cukup sukses menggoyang pasar majalah khusus pria dewasa di negeri ini.




Setidak-tidaknya, dalam imajinasiku, kalau aku memiliki uang dalam jumlah besar untuk dihambur-hamburkan, aku pun ingin menampilkan wajahku dengan cara yang kurang-lebih serupa.
Apalagi kalau pemotretannya dilakukan oleh fotografer kelas dunia, seperti Annie Leibovitz atau David LaChappelle atau Mario Testino.
Lantas dicetak dalam ukuran raksasa dan dipajang di mall tadi.
Cukuplah memajangnya selama empat minggu, dengan empat versi berbeda yang berganti setiap minggunya; dijamin setidak-tidaknya akan ada beberapa juta pasang mata yang akan melihat poster raksasa itu selama kurun waktu tersebut, yang kemudian diharapkan akan dapat memancing rasa penasaran mereka untuk mencari tahu lebih banyak lagi.
Niscaya langkah ini tentu akan berhasil meningkatkan awareness atas diriku, suatu hal yang kata William sudah relatif berhasil kulakukan di beberapa situs jejaring sosial bersifat pertemanan (i.e. Friendster dan Facebook), berkat foto-foto pribadiku yang (kuharap bisa memberikan kesan) artistik.

Ngayal berlebihan, sekali-sekali boleh dong?





Thursday, June 5, 2008

"Bangkit Itu Malu ..."


"Bangkit itu malu. Malu melakukan kekerasan terhadap para perempuan dan orang-orang tua dengan mengatasnamakan Tuhan dan agama."


Andai saja pesan layanan masyarakat Mengenang 100 Tahun Kebangkitan Nasional yang disampaikan oleh Bapak H. Deddy Mizwar yang seringkali ditayangkan di semua stasiun TV nasional tersebut bisa ditambahkan, saya akan mengusulkan penambahan satu baris kalimat lagi sebagaimana yang dapat dibaca di atas.

Atas nama pribadi, saya mengecam keras segala bentuk dan tindak kekerasan terhadap individu lain, serta mendukung permintaan Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang meminta Kepolisian Republik Indonesia untuk menindak tegas sesuai aturan hukum yang berlaku para pelaku kekerasan di lapangan Monas pada hari Minggu, 1 Juni 2008 yang lalu.

Bangsa Indonesia bukanlah gerombolan orang haus darah dan senang berlaku brutal.
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara hukum.

Stop kekerasan!