Tuesday, September 9, 2008

"The Rainbow Connection"


Why are there so many songs about rainbows and what's on the other side?
Rainbows are visions, but only illusions, and rainbows have nothing to hide.
So we've been told and some choose to believe it.
I know they're wrong, wait and see.
Someday we'll find it, the rainbow connection.
The lovers, the dreamers and me.

Who said that every wish would be heard and answered when wished on the morning star?
Somebody thought of that and someone believed it.
Look what it's done so far.
What's so amazing that keeps us star gazing and what do we think we might see?
Someday we'll find it, the rainbow connection.
The lovers, the dreamers and me.

All of us under its spell. We know that it's probably magic.

Have you been half asleep and have you heard voices?
I've heard them calling my name.
Is this the sweet sound that called the young sailors?
The voice might be one and the same.
I've heard it too many times to ignore it.
It's something that I'm supposed to be.
Someday we'll find it, the rainbow connection.
The lovers, the dreamers and me.





For more information about "The Rainbow Connection", click here.

Monday, September 8, 2008

Where Art Thou, Angela?



Minggu sore kemarin aku dan Dia bertemu untuk makan malam bersama. Pilihan lokasinya adalah salah satu mall di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, karena Dia berencana exercise di gym terlebih dahulu sebelum kami bertemu.
Sebenarnya menurutku agak lucu saja, membakar kalori di pusat kebugaran, dilanjutkan setelahnya dengan makan malam dengan sama sekali mengabaikan perhitungan kalori. Bisa jadi, kalori yang masuk lebih besar daripada yang dibakar beberapa waktu sebelumnya. Ah, tapi Dia tentu sudah sangat tahu dan menyadari hal ini serta tidak membutuhkan aku untuk mengingatkannya.

Malam itu kita memutuskan makan malam dengan menu Italia.
Aku memesan spaghetti dengan saus pesto, sedangkan dia memilih pizza dengan banyak jalapeño serta saus pesto. Sebelumnya kita berbagi salad nicoise bersama, tapi Dia sempat sebal karena hanya ada satu anchovy di dalam salad itu dan aku yang kebetulan mendapatkannya. Tentu saja, Dia tidak sebal padaku, tapi pada tempat makan ini yang ”These guys are sooo cheapo!”, klaimnya.

Seusai santap malam, Dia bilang ingin cari makanan sehat dan mengajakku makan yoghurt di Sour Sally.
Aku tidak suka rasa susu dibasikan ini, dari brand apapun, jadi aku bilang saja, ”No thanks, but of course I will accompany you. It’s just I won’t order anything.”
Sebenarnya Dia sudah tahu ini, tapi dia pantang menyerah mengajakku makan makanan yang aku sama sekali tidak tertarik untuk mencobanya, antara lain sushi dan sasimi. Yang jelas-jelas kutahu, Dia bisa menghabiskan ratusan ribu rupiah dalam sekali makan di restoran Jepang.

Anyway, jadilah kami masuk ke Sour Sally.
Busyet, penuh banget! Orang-orang sampai membentuk antrian sangat panjang hanya untuk memesan yoghurt. Apa sih keistimewaannya?, batinku. Waktu itu Dia pernah memintaku mencoba mencicipi salah satu Sally’s specialty, dan hueks!, aku tak suka. Jadilah saat itu Dia mengantri sementara aku menikmati suasana ruangan.

Ada beberapa wajah yang cukup familiar sedang menikmati yoghurt-nya Sally. Dari spesies model yang wajah-wajahnya sering terpampang di berbagai majalah mode dan gaya hidup nasional.
Tapi saat itu aku lebih disibukkan dengan pemikiran, kenapa ya orang-orang jadi seperti mengantri sembako hanya untuk mendapatkan seporsi yoghurt? Lalu aku mencoba mengabadikan antrian tersebut dengan kamera telepon genggamku.
Dekorasi toko ini quite nice, didominasi warna putih dan hijau muda, memberikan kesan cerah dan bersemangat. Kalau saja tercium bau karbol di udara, aku pasti berpikir sedang berada di salah satu sudut di sebuah rumah sakit bertaraf internasional. Dindingnya yang sengaja dibuat beraksen tembok batu-bata yang tidak diplester cukup unik, termasuk deretan kata yang huruf-hurufnya ditempelkan timbul di tembok, jadi aksen menarik untuk desain interior sebuah toko di mall.
Desain karakter Sally yang berkepala seperti kentang gepeng juga sebenarnya cukup lucu dan menarik. Iseng kuraih salah satu selebaran dengan gambar Sally di counter, ternyata di baliknya terdapat kuesioner untuk feedback bagi para konsumer. Tak ada kerjaan, kuisi saja kuesioner itu buat mencari kesibukan sembari menunggu antrian yang mengingsut seperti siput. Toh, Dia masih di tengah-tengah antrian.

Selesai mengisi kuesioner baru kuperhatikan ternyata Sour Sally ini dibawa masuk ke Indonesia oleh group Mitra Adi Perkasa juga. Wow! Bisa jadi Sour Sally ini akan menjadi salah satu kisah sukses lagi bagi food and beverage franchise yang dikelola oleh MAP setelah Starbucks, Cold Stone Creamery, dan tentu saja, Burger King.

Kulihat Dia sudah akan mendapatkan giliran memesan, jadi kusiapkan lagi kamera telepon genggamku untuk merekam momen-momen ketika Dia sedang asyik memilih pesanan yoghurt-nya.
Saat sedang asyik memotret, kulihat gadis muda ini sedang memperhatikan keasyikanku memotret ke arah dirinya. Tapi aku tidak terlalu memperdulikannya, sampai beberapa detik kemudian kudengar dia dengan nada ketus berkata pada temannya, ”Yuk kita nungguin di luar aja. Males gue di sini.”
Dengan ekor mataku kulihat cewek itu menarik tangan temannya dan mereka bergegas keluar ruangan. Sempat tercetus dalam pikiranku, jangan-jangan cewek itu mengira aku sedang memotret dia diam-diam, lantas jadi bete atau marah (kenapa ya??) pada ketidaksopananku (ah, masa sih??) dan bergegas berlalu.
Karena merasa tidak melakukan hal apapun yang salah, aku sih tidak terlalu memedulikannya.
Lalu Dia yang sudah selesai bertransaksi menghampiriku, ”Hey, what’s up?” tanyanya. "Nothing,” jawabku.
Lalu kami menempati salah satu meja sambil menunggu yoghurt pesanan Dia selesai dibuat.

Tak lama kemudian salah satu pelayan di balik pick-up counter berteriak, ”Angela!” Jadi makin mirip suasana di apotik saat menebus obat, pikirku. Untung tidak ada bau karbol.
Lalu si pelayan berteriak lagi memanggil nama itu. Masih tidak ada yang menyahut.
Setelah panggilan keempat atau kelima, dengan heran si pelayan bertanya pada temannya, ”Ini yang mesan kemana?” Temannya yang sedang sibuk dengan cash register machine, menjawab dengan sambil lalu, ”Ga tau. Lagi keluar sebentar kali?”

Lalu nama Dia dipanggil. Kami melanjutkan obrolan sambil Dia menyantap yoghurt-nya yang tandas ludes dalam sekejap, barangkali hanya dalam waktu kurang dari 5 menit.
Saat kami beranjak meninggalkan Sour Sally, sempat kuperhatikan antrian pelanggan masih sepanjang seperti saat kami baru tiba tadi.
Lalu mataku tertuju pada pick-up counter dan kulihat satu papercup berisi yoghurt yang terlihat seperti sudah mulai mencair karena sudah terbiarkan cukup lama di udara terbuka.

Pasti punya cewek tadi, terdengar bisikan di dalam kepalaku. Dan karena dia merasa kau memotret dirinya tanpa izin maka dia memutuskan untuk pergi sebagai bentuk protes ketidaksukaan atas tindakanmu, demikian lanjut bisikan itu.
Hah? This doesn’t make any sense aja.

Orang-orang di Jakarta ini memang aneh-aneh, kadang tingkahnya sejuta dan yakin benar sendiri tanpa alasan logis yang jelas.
Well, in this case, let her be. By not picking up her order, that means it was her loss. Sudah bayar ini. Tapi heran saja, kok bisa ya dia pergi menghilang tanpa mengambil yoghurt-nya?

Sally must’ve been wondered ever since, where Angela went that evening after paying her order, leaving her yoghurt turned sourer on the pick up counter.


Friday, September 5, 2008

The Strangest Christmas Present Ever



“Have you read that book I gave you as Christmas present?”

He suddenly popped up in a Messenger window that afternoon and asked me that question.

Having procrastinating since that morning, I very much welcomed this chance to busy myself.
My hands hurriedly typed answer:
“Nope. Haven’t even started yet. Am quite busy these days.” An easy automatic lie.
“Besides, I’m still on the first chapters of Midnight Children. Which I think is far more interesting.”
I knew exactly this excuse would hurt his feeling a bit, knowing how sensitive he is.

“Oh, okay.”
“But, tell me, why? Don’t you like that book?”
It was so him. Stubborn and tends to keep on insisting others to do things like the way he told them to do. Probably because of his upbringing as the last kid in his family.

“It’s not like that. It’s just that I already started reading Midnight Children before you gave me that Persian novel.”
My fingers just couldn’t stop typing letters. “Oh and furthermore ...” Then I stopped.

I was curious.
What if I told him that I found it very silly to give someone a novel – written by some author who was hardly familiar in literary world – which story was set in the earliest stage of Iran’s Islamic revolution, as a CHRISTMAS present?
Would he be mad at me?

Hmm, I didn’t think so.

“Yes? What’re you’re trying to say?”

Oh, be careful in responding this tricky situation, my mind warned me. Otherwise, he’d keep on asking you whether you already read that novel or not for these coming months. Each and everytime he sees you online in Messenger.

“Furthermore, I have these books which I already bought years before and until today still sit in my bookshelf, in their original wrapping.”
“I think it’s fair enough if I finished them all first, and then read yours.” Another lie.

I don’t know whether these books have feelings and care which one amongst them would get the chance to be read first. I just hoped he’d buy this rationale.

“Oh, ok. I see.”
“Just let me know when you finally read it, and whether you like it or not. Will you?”

Hah?! I couldn’t believe it! He trusted that answer. Thankfully, so I could stop lying to him, at least for that moment.

“Of course. I will.” This was, of course, not a lie.

* * *

What you’ve just read was a reenactment of a chat that happened one afternoon, almost three years ago.

And from that said afternoon until this very moment, I bought dozens other titles. Most of them are, obviously, fictions, and was written by European or American author. I did make some exceptions, though.
They are Marjane Satrapi’s “Persepolis” and “Embroideries”, some kind of semi-autobiographies that dealt mostly with women’s rights, (Western/liberal) democracy vs. sharia/Islamic rules, and Iran vs. the rest of the world; Arundhati Roy’s first and only novel, “The Gods of Small Things” that shocked me with it’s brutal honesty; also Khaled Hosseini’s “The Kite Runner” which touched my soft spots.

Because honestly, before these, I never really had the slightest interest in reading stories about Persian and Arab countries. They’re just not written for me. (Note: Roy, as I believe you all know, is an Indian author).

As for now, if you’re still curious what I have done to that strangest Christmas present ever, well, it is now buried deep behind other thick novels in my bookshelves, its pages became yellowish and dusty. Perhaps I should just pass it on to others years ago, as a gift. Don’t you think?

Wednesday, September 3, 2008

Gatsby de la crème



Memasuki bulan September ini, berhubung adalah juga bulan Ramadhan di mana mayoritas penduduk negeri ini sedang menunaikan ibadah puasa, berkaitan langsung dengan ritme pekerjaan yang lazimnya cenderung menurun. Oleh karena itu terbukalah peluang luas untuk kembali melakukan hobiku yang sudah lama terabaikan, yaitu membaca buku (berkualitas).

Itu artinya, program One Book One Month –ku mudah-mudahan bisa berlanjut setelah sempat vakum beberapa bulan belakangan ini akibat kesibukan pekerjaan yang sangat menyita konsentrasi, waktu dan energi. Mengenai program O.B.O.M. itu akan kujelaskan kemudian dalam tulisan lain (mudah-mudahan ingat dan sempat).

Kebetulan sekali momen sekarang ini cukup pas, dikarenakan pada akhir pekan kemarin ketika dibingungkan oleh keperluan mencari-cari hadiah ulang-tahun apa yang paling cocok untuk Lindsay – yang jelas ga bakalan aku berani memberikan pakaian maupun aksesoris padanya, si ratu belanja itu, yang jangan-jangan sudah memiliki segala model yang ada di Zara maupun Mango untuk memenuh-menuhi lemari pakaiannya – secara kebetulan sekali kutemukan sebuah buku dari koleksi klasik Wordsworth. Cerita lebih lengkapnya adalah sebagai berikut.

Kuingat saat itu akhirnya kuputuskan untuk lebih baik “bermain aman” dalam tantangan kali ini. Either belikan Lindsay kado berupa CD atau buku. Tidak akan semahal produk-produk fashion tapi bisa lebih bersifat last longer. Lalu kuingat bahwa dia sudah beli CD Leona Lewis dua hari sebelumnya, itu juga gara-gara aku menolak membelikan untuknya. Setelah itu dia ga pernah menyebutkan artis penyanyi siapa lagi yang dia lagi ingin. Album terbaru Jason Mraz bisa jadi pilihan, tapi jangan-jangan dia sudah beli duluan?

Akhirnya meskipun masih diliputi ketidakpastian, kulangkahkan kaki memasuki Kinokuniya. Sepertinya buku, lebih tepatnya novel fiksi, adalah pilihan yang paling aman dan tepat. Demikian pikirku. It can never go wrong, kalau sudah tahu karakter bakal calon penerima hadiah.

Pertama-tama dan tentu saja yang kulihat adalah buku-buku pajangan di Best Seller section. Ah, ada The Last Lecture ! Seharusnya menarik, tapi aku tak terlalu yakin. Jangan-jangan Lindsay akan menganggap aku sedang menyindir dia dengan hadiah buku ini, berhubung belakangan ini dia cukup sering mengeluhkan pekerjaannya. Sebaiknya bukan buku ini yang kupilih. Tapi beberapa pilihan lain di section ini, aku tak yakin dia akan begitu antusias ketika mendapatkannya.
Lalu kuputuskan untuk mencoba peruntunganku di bagian literature. Barangkali hampir setengah jam waktu yang kuhabiskan untuk memeriksa seluruh isi rak, sampai leherku terasa sedikit pegal karena harus memiring-miringkan leher naik-turun untuk bisa membaca semua judul buku yang ada. Setelah mengalami kebingungan cukup lama, akhirnya kuputuskan untuk memberikan koleksi the complete and unabridged novels of Jane Austen.

Sampul muka buku dengan ketebalan hampir sepuluh sentimeter ini sama sekali tidak menarik, tapi faktor terpenting dari sebuah buku kan sebenarnya adalah isi buku itu sendiri. Apabila kemudian Lindsay bertanya mengapa buku ini yang kupilihkan untuknya, sudah kusiapkan sebuah jawaban pamungkas yang melibatkan tiga nama wanita-wanita cantik: Keira Knightley, Gwyneth Paltrow dan Dominique Diyose. Keira membintangi versi adaptasi layar lebar Pride and Prejudice, Gwyneth membintangi Emma, dan Dominique senang membaca novel-novel Jane Austen di sela-sela show.
Mudah-mudahan alasan ini akan cukup memuaskan baginya.

Setelah menetapkan pilihan pada Jane Austen, dengan perasaan sedikit lega akupun memutuskan untuk beranjak pergi. Tapi kemudian mataku tertumbuk pada koleksi literature klasik Wordsworth. Ada beberapa judul yang aku sudah punya atau sudah baca, seperti karya-karyanya Charles Dickens dan H.G. Wells dan Jules Verne, tapi ada juga yang aku bahkan tidak memiliki any faintest idea of what the whole story was all about. Salah satunya adalah novel yang kemudian kubeli bersamaan dengan novel Jane Austen itu, The Great Gatsby yang ditulis oleh F. Scott Fitzgerald.

Jika ingatanku tidak mengelabui, sepertinya among my brother and sisters, hanya aku sendiri yang belum pernah membaca buku ini. Ibuku yang tidak terlalu lancar berbahasa Inggris bahkan sudah menonton versi adaptasi filmnya. Kuambil novel tersebut dari rak tempat ia dipajang untuk melihat harganya. Ah! Sungguh sebuah kebetulan yang menyenangkan, karena harganya lebih murah daripada seporsi Frappucino. Bertambah satu alasan untuk membeli novel ini.

Kubalik untuk membaca sinopsis cerita di sampul belakang, hhmm ... Sepertinya bercerita tentang kehidupan para sosialita di New York. Menarik, mungkin bisa dibandingkan dengan kehidupan para pemuda dan pemudi di serial Gossip Girl.
Tapi alasan paling kuat untuk membaca buku ini justru karena jumlah halamannya yang terbilang tipis, hanya sekitar 120 halaman sejak bab pertama hingga penutup ! Dengan perhitungan kasar dan kira-kira, bisa jadi maksimal hanya butuh satu bulan untuk menyelesaikan membaca buku ini. Tidak menyita waktu, tidak membutuhkan ekstra energi maupun konsentrasi, dan karena tipis dan berukuran kecil membuatnya sangat praktis untuk dibawa-bawa. Jadi tidak ada lagi alasan yang mungkin membuatku urung membelinya. Akhirnya dengan ketetapan hati dan kebulatan tekad, akupun melangkahkan kaki menuju kasir untuk membayar kedua novel ini.

Rencananya, novel Jane Austen akan kuberikan nanti ketika bertemu Lindsay akhir pekan ini, karena kami biasanya bertemu selama beberapa jam setidaknya satu kali dalam sebulan. Sedangkan kisah Gatsby yang luar biasa hebat ini, mungkin akan mulai kubaca besok. Malam ini aku ingin mencoba sekali lagi mencari tahu sampai seberapa jauh aku sanggup menghadapi kedua pembunuh berdarah dingin dalam In Cold Blood.

Semoga saja, kisah tentang Gatsby yang hebat ini bisa memuaskan kebutuhanku akan cita rasa istimewa yang hanya bisa dipuaskan oleh bacaan-bacaan bermutu.


Friday, August 29, 2008

Your Last Goodbye



Somewhere in time we both know,
This is going to be the last time of the last times,
For you.

“No more”, you said,
“This is the end.”

You told us that once you were still not sure,
But I think you would feel just the same,
If you stay here longer,
It just has no point for you to remain here.





“I just don’t want this no more”.
Those were the last words you wrote on the pad you left on your desk.




So long, Adriani.
Wishing you all the best in your new workplace.

Wednesday, August 27, 2008

That Infamous Publicity Stunt ...


... will now always be remembered as the kiss of Judas.
But one burning question remains : who's betraying who?

Tuesday, August 26, 2008

Dear Pumpkin


Dear Pumpkin,
I really gotta know
Please tell me now
Should I stay or should I go?

Pumpkin, if you say
That I am yours
And you are mine
I will be here until the end of time

So Pumpkin, you gotta let me know
Should I stay or should I go?

If I stay you said there’ll be trouble
But if I go the trouble will double

Dear Pumpkin, please stop teasing me
Just come on and let me know
Should I stay or should I go?

Monday, August 25, 2008

A Good Reason to Support Same-Sex Marriage



Quite a smart way in communicating a gay rights movement's message, indeed.

Friday, August 15, 2008

Semantics ..., or Just Gay?


Apabila kita berbicara tentang kepribadian seorang musisi kondang berinisial A.D., bisa jadi sifat yang seringkali mengemuka tentang dirinya adalah: Arogan. Seorang teman, meski tidak pernah bertatap muka secara langsung dengan beliau ini, ternyata memendam rasa tidak suka yang amat sangat hingga mencapai level kebencian mendalam. Memang kalau dirunut satu-persatu, bisa panjang daftar yang seakan membenarkan sifat arogansi seorang A.D. ini.

Rumor has it, A.D. dalam kapasitasnya sebagai pemimpin dua kelompok musik bentukannya, melarang semua anggota kelompok band T.R. maupun Dw. (yang saat ini entah masih dengan angka tertentu atau bukan, sebenarnya sama saja) untuk tampil enerjetik di mana saja dan kapan saja sejak beberapa bulan terakhir ini, misalnya dengan melompat-lompat saat perform.
Alasannya? Karena A.D. sudah membuncit (atau menggembrot, terserah pilih kata mana yang kamu suka), dan penampilan enerjetik akan menguras tenaganya dan terlalu melelahkan baginya (barangkali adalah juga karena keberatan jenggot). Buat yang berbadan besar karena timbunan lemak, tentu paham benar alasan ini.

Namun sejak beberapa waktu lalu, kasak-kusuk lain yang terdengar di kalangan tertentu justru menyoal apakah musisi kondang ini ternyata selama ini memiliki kecenderungan menikmati aktivitas seksual yang di luar dugaan banyak orang.

Sebagaimana kata pepatah: Tidak ada asap tanpa api.

Semuanya bermula dari lirik lagu dengan judul berinisial ”S.B.M. (S.M.A.)” yang ditulisnya untuk si hidung runcing M.J. dan kelompok vokal D.D., yang sekarang jumlah personilnya sama dengan jumlah gigi nenek yang sudah tua dalam lagu ”Burung Kakatua”.
Tidak cukup bagi seorang A.D. untuk menciptakan melodi lagu yang entah karena ”kebetulan yang tidak disengaja” sangat mengingatkan pendengar pada lagu kelompok Pussycat Dolls berjudul ”Dontcha” yang sekitar dua tahun lalu merajai tangga lagu dunia, A.D. bahkan juga secara khusus menuliskan lirik yang sangat kental beraromakan seks.

Dan bukan hanya seks ”yang lazim”, tapi ... anal seks.

Yap! Lirik lagu yang pada awalnya menggiring pendengar untuk menganggap lagu ini hanya becerita tentang sakitnya mengalami pengkhianatan (baca: perselingkuhan) ”biasa”, bila mendengarkannya berulang-kali niscaya akan menemukan ”keanehan” lain, karena liriknya justru terasa kurang marah-marah dan kurang emosional bagi seseorang yang diselingkuhi.

Di sinilah yang menjadi entry point untuk membuat pendengarnya berpikir lebih jauh lagi, bahwa lagu ini sebenarnya memiliki subtext sendiri, yang setelah ditelaah lebih luas, ternyata seakan lebih pas jika dilihat sebagai curahan hati seseorang tentang pengalaman pribadi yang traumatis: perihnya disodomi.

Tulisan ini jelas merupakan interpretasi bebas, dan very debatable jika Anda yang membacanya tidak suka. Tapi setidaknya, apabila Anda memiliki waktu luang lebih banyak, silahkan menilainya sendiri dari klip berikut ini.

Dan sebagaimana yang lazimnya diucapkan oleh para VJ MTV, ”Check this out!”



Sekarang, setelah Anda menyimak lirik lagu dari videoklip di atas dengan bersungguh-sungguh, ngerti banget dong poin apa yang kumaksudkan dengan posting di atas?

Now, do you think A.D. as the song composer is playing with semantics, or he is actually ... just plain gay?

Wednesday, August 13, 2008

Tapi Buka Dulu Topengmu


Lagi malas banget buka account Facebook-ku belakangan ini.
Padahal biasanya setiap pagi pas baru online, salah satu webpage yang langsung diakses selain e-mail, ya situs buku muka itu.

Sebenarnya sih kegiatan rutin pagi-pagi ini dilakukan lebih karena alasan iseng, pengen liat hal-hal baru (catching updates) dari teman-teman.
Seperti pagi ini, pas liat di Newsfeed, ternyata Ilpo went from being ’In Relationship’ into ’Single’, suatu kondisi status yang dulu berasosiasi dengan privasi tapi sekarang mulai merambah ranah publik, yang merupakan salah satu dampak ”Facebook effect”; bahwa Farrel baru saja balik ke Indonesia setelah hampir dua minggu pelesiran di Amerika Selatan; dan bahwa Dia ternyata masih memiliki hubungan dengan salah satu anggota keluarga dinasti Moran. Hmm ..., the latter is new to me.

But anyway, malasnya lebih karena hal lain.
Jadi begini, kebiasaanku kalau baru log in ke account Facebook, adalah membiarkannya tetap terbuka, as in still logged in, sampai nanti memutuskan sudah cukup waktu dihabiskan untuk kerja dan online hari itu, lalu sign out dan mematikan computer. Praktis bisa dikatakan, sepanjang hari selalu online di Facebook, seperti orang tidak punya kegiatan lain yang lebih penting untuk dikerjakan.
Nah, masalah mulai muncul karena belakangan ini, orang ini selalu menyapa lewat chat. Buat yang belum tahu, setiap user Facebook yang terkoneksi sebagai 1st degree friend bisa menyapa temannya seperti layaknya dalam chat, apabila temannya tersebut sedang online atau mengakses account Facebook-nya.
Tidak akan menjadi masalah jika saja orang ini dulunya tidak membuat masalah denganku. In terms of, dia yang mencari gara-gara duluan dengan melakukan perbuatan buruk di belakangku, yang mengakibatkan sampai saat ini aku memutuskan untuk lebih baik tidak berkomunikasi lagi dengan dirinya. Atau kalaupun ada komunikasi, kubatasi sampai seminimal mungkin. Kurang-lebih, hanya saat momen Eid-al-Fitr saja, itupun kalau dia ingat mengirimkan template SMS massal memohon maaf lahir dan bathin secara basa-basi.
Ya iyalah, secara kalau dilakukan tulus, pasti akan lebih personal sifat SMS-nya. Minimal mencantumkan namaku di body text. Tapi mengingat kelakuannya tempo doeloe yang membuat hubungan kami renggang, kelakuan basa-basi ini tidaklah sampai mengherankanku.

Kembali ke maksud dan tujuan semula posting ini, adalah sungguh amat disayangkan bahwa sampai saat ini aku masih belum tahu bagaimana bisa mengaktifkan ”stealth setting” di Facebook chat ini sebagaimana opsi yang ditawarkan Yahoo! Messenger. Jadinya setiap kali aku terlihat online, siapapun yang ada di dalam list teman-temanku pasti akan tahu, termasuk orang ini. Mungkin apabila ada teman-teman yang membaca posting ini bisa membantu dengan informasi, please do let me know ya. Thank you in advance!

Untuk menjawab di muka pertanyaan yang mungkin muncul di dalam benak Anda yang membaca posting ini, perlu kiranya diketahui bahwa aku bukanlah tipe yang men-delete seseorang dari daftar online teman-teman (friendlist) hanya karena kesalahan yang telah dilakukan (oleh pihak manapun).
Dengan bangga bisa kukatakan sambil menepuk dada, “Aku bukan seperti ‘Perempuan Itu yang Tidak Perlu Disebutkan Namanya’”, yang menghapus aku dan beberapa orang lainnya dari daftar online teman-temannya hanya karena kami memergoki bahwa selama ini ‘Perempuan Itu’ gemar membual dan menyebarkan berita tidak benar yang sampai pernah merusak reputasi orang lain (and one of her victim was: Me!). Barangkali saking malunya tertangkap basah, ‘Perempuan Itu’ memilih untuk berpura-pura tidak mengenal kami yang dulu merupakan teman-teman jalannya, hingga sekarang.
Tipe orang seperti ini memang lebih baik dienyahkan saja dari pergaulan, tapi jangan sampai terlupakan, karena penting dalam hidup ini untuk selalu mengingat pengkhianatan, agar lebih berhati-hati lagi dalam berteman.

Dan this person yang lagi bikin aku malas buka account Facebook-ku adalah juga orang yang seperti ‘Perempuan Itu’, melakukan pengkhianatan, dan ketahuan.
Alih-alih meminta maaf atau sekedar mengakui kesalahannya, dia malah berakting seolah-olah never did anything wrong to me.
Terus tiba-tiba saja di awal minggu ini say “Hi!” lagi lewat Facebook chat. Masih ingat tempo doeloe ketika dia yang jelas-jelas sudah mapan dan stabil secara ekonomi, kalau pengen ngobrol denganku selalu SMS minta ditelpon, atau nge-buzz via Y!M. Kasihan sekali dia ... (baca dengan nada penuh sarkasme).

Padahal yang mungkin waktu itu perlu dikasihani adalah aku, yang mau-maunya saja dibodohi, menghabiskan pulsa untuk menelpon dia dan mendengarkan curhatnya.
I was sooo bego saat itu, ha ha! Mungkin memang karena masih muda (masa-masa brondong jaya!), masih terlalu naïf, dan (entah mengapa koq bisa) percaya bahwa ini orang baik kepribadiannya. If only I knew the reality back then, ... pasti itu telpon sudah kututup dengan kasar dan meludah, cuih!

Mudah-mudahan sore ini pas aku mengakses account Facebook-ku, dia tidak sedang online. Jadi aku tidak perlu berbasa-basi untuk merespon sapaannya.
Susah sendiri juga sih sebenarnya, kalau jadi orang yang paling susah untuk berpura-pura di hadapan orang lain, tidak bisa acting basa-basi ga penting gitu ke orang yang dimaksud.
Kalau saja ada yang menjual topeng wajah dengan senyum penuh (kepalsuan) tersungging lebar yang praktis bisa terpasang otomatis di wajah ini anytime I need it, hidup tentu akan lebih mudah. Tidak perlu menjauhi orang yang tidak disukai, blend in aja, berbuat sama seperti orang itu, berpura-pura seperti tidak ada negative things happened.

Sayang sekali, topeng semacam itu barangkali hanya available dengan cara khusus, such as given and emotionally attached to one’s personality at the moment one was born into this world.
Now this is one condition that I am lack of, but never really consider as my loss.

I am a proud Real Personae!




Catatan khusus:
Judul posting ini diinspirasikan oleh lirik lagu Peterpan berjudul "Topeng".

Tuesday, August 12, 2008

This is You & I Now



Sitting here together for the first time in years
I can not understand why
It’s hard to remember how it felt before
How we felt before

Now I found the one that I love
Everything passes more comfortably
Life seems much easier to enjoy
Smiles show up easily

Things are getting right
For us both
This time

After all the obstacles we’ve tried to overcome
It’s good to see you now
With someone else
Loving
If not learning to love
Sharing things together with him
Holding hands while walking
Looking at each others eyes
Deep and meaningful glances exchange
Mutually understanding without changing any single word
Just like what we did back then

Back then we used to think “now” was hardly possible
But “now” all our worries gone untraced
Memories seem like so long ago
Shared sadness feels like non-existent
Time surely kills the pain

Do you remember the white beaches and the splashing waves
And the seagulls screaming above us under the bright cloudless sky?
The dreaming days were gone
Look at how we became
We have changed but we’re still the same

And now we’re hanging out with your new boyfriend
So far from where we have been
To me it’s such a miracle that
You and me are still good friends

After all that we’ve been through
Now, we are cool