Wednesday, August 6, 2008

Orange Suede Shoes


I once read from a fashion magazine that a man is measured by the shoes he’s wearing.

What if that guy is wearing orange suede shoes with synthetic leather-like brownish sidelines and interlacing red and green stripes on the soles?

“Simply gay,” said William, while supporting a big grin on his oval plumpy face.

Being a gay guy himself, whatever judgement William made, we as his friends need to listen. Though this time I don’t think I’d listen and ‘obey’ his suggestion. Because it was me who wore the shoes described above in our monthly get-together. They were gift. And everyone knows how much I love getting gifts. Haha!




*image above is just an illustration to the article

Tuesday, August 5, 2008

Like a Lion Sleeping


“Seekor Singa Masai tidur hingga 20 jam sehari setelah makan. Begitu juga dengan manusia bila kekenyangan ...”

Inilah klaim yang diajukan gerai penjual makanan cepat saji, McDonald’s, ketika menawarkan menu terbarunya, Gourmet Wrap. Iklannya yang seringkali ditayangkan di berbagai saluran televisi memperlihatkan imej seekor singa jantan – yang entah benar dari spesies Masai-mara atau bukan – sedang berbaring telentang dengan mata setengah terpejam dan ekspresinya seperti sangat menikmati hidup (mirip kucing yang kekenyangan lalu digaruk-garuk perutnya sampai mengeluarkan bunyi dengkuran). Seakan si singa jantan hendak menegaskan pernyataan: ”If you know how, you can always live your life to the fullest!”

Quite a catchy McDonald’s ad, at least for me, because this one is way funnier than the usual ones featuring Ronald McDonald and his peers. But then I found out that not only me, but that masai-mara lion ad also attracted the attention of R.
R told me once, that he has such a peculiar diet. Entah bagaimana caranya, R bisa bertahan hidup dan beraktivitas seharian dengan hanya mengkonsumsi quacker oats dicampur potongan stroberi dan susu skim untuk sarapan pagi, lalu dia makan siang hanya kalau sempat. Atau terkadang menu sarapan paginya itu dikombinasikan dengan energen rasa coklat.
Padahal R kan bekerja di lapangan – and when I say field, I mean it literally, as in dirt road and in the middle of thick jungle – dengan kondisi lingkungan yang cukup keras, yang jelas membutuhkan asupan kalori kelas berat (istilahnya: porsi kuli).

I tried that kind of diet once, and it surely brought me to the brink of starvation. Hahaha … Itulah sebabnya setiap kali R told me that he had quaker oats for breakfast, I was always worried. Cemas kalau-kalau kebutuhan kalorinya tidak bisa tercukupi, mengingat tanggungjawab profesinya yang sedemikian berat.

“You should eat more,” that was what I always told R. Apalagi kalau mengingat badannya yang tinggi besar dan berotot, tidak lucu rasanya to watch him standing in his birthday suit in front of me dengan tubuh kurus tanpa isi.
Kerempeng, mana keren? Demikian klaim salah satu produk susu diet khusus pria. Lagipula, dimana enaknya memeluk seseorang yang kurus kering? Justru terasa tidak nyaman dan agak sakit, karena akan langsung terantuk dengan tulang belulangnya.

Hingga suatu ketika aku mendesak R untuk makan lebih banyak lagi.
”I enjoy chubbs!”, demikian alasanku kala itu.
Saat itulah baru dia mengakui bahwa selama ini quacker oat for breakfast-nya ternyata berlangsung lebih dari satu ronde. Artinya, dia hampir selalu menambah porsinya dari ukuran diet 2000 kalori.
”Amazing!” that’s what I thought. Maksudku, sepertinya sudah cukuplah penderitaan harus sarapan pagi dengan makanan yang rasanya seperti baby-food, bubur lembek tanpa rasa, dan itu dilakukannya hampir setiap hari. Tapi dengan menambah porsinya? Wow?! Kok dia bisa menghabiskannya, ya?

Apalagi meskipun R makan sedemikian banyak, ternyata dia masih bisa mengatur kondisi fisik tubuhnya tetap bagus, tidak seperti diriku yang dalam waktu kurang lebih dua tahun, ”berhasil” menambah berat badan 10 kg. But that’s another story.
Buktinya, masih ada aja yang mengajak R berkenalan. Apalagi kalau dia sedang berenang atau berolahraga di gym. Pasti tergoda oleh penampakan fisiknya R.
Terlebih belum lama ini, sebelum iklan Gourmet Wrap ditayangkan, R dengan isengnya meng-upload fotonya sedang berbaring telentang di atas pasir pantai Sanur, tangan di belakang kepala, senyum merekah, pose terlihat medium close-up. Mirip banget dengan pose singa masai di iklan McDonald’s itu.
Yah, mau dibilang apa? Seperti yang dikatakan oleh William, melihat R sedang beraktivitas seperti melihat gerak-gerik Aslan, kontraksi otot-ototnya terlihat jelas. Bikin those muscle worshippers ileran. Ha! Ha!

Tapi Aslan itu sebenarnya singa dari spesies apa ya? Kalau melihat gambaran bulu-bulunya yang keemasan dan tampak megah, jadi ragu sendiri, jenis Masai-mara bukan?

Sepertinya, ... bukan.

Monday, August 4, 2008

If The Photographs Worth Millions ...




















People and Hello! Magazine was widely reported has paid US $ 14 million in order to secure a deal for publication rights of first exclusive photographs of Vivienne Marcheline & Knox Léon Jolie-Pitt, the fraternal twins of ‘The Hollywood’s Sexiest Couple’, Brad Pitt and Angelina Jolie.

Those photographs later on were published in People’s first week of August 2008 special double edition issue. Looking at these family pictures which were spread in 19 pages, would give you a sense so sweet and ethereal, ones that definitely make you go Oohs and Aahs.

I’m sure you’ve heard all the buzz following these coveted celebrity babies’ photos before I posted this, but it turned out, before agreeing on giving the rights to People and Hello!, the Jolie-Pitt couple also successfully nailed an agreement with those two magazines to no longer refer to Jolie & Pitt as ‘Brangelina’. Nice move.
Or perhaps this was because Angeline never likes her name comes in second after Brad’s.

If only that amount of money paid by People and Hello! was invested in some businesses, or Angelina & Brad just deposited it all in a bank, Vivienne and Knox each would be worth more than what Paris Hilton will get from her inheritance.

But in reality, it was reported that all payment went for charity under Jolie-Pitt Foundation.
Imagine how many students could get free education from primary level until they graduate from college, if only Jolie-Pitt Foundation use that amount for scholarship in the Third World.
Obviously, I don’t know in what field this Foundation works in, but hopefully they really do use that money for helping others. Just like what their spokesperson said.

Friday, August 1, 2008

Surmounting The Blanks, Here Comes The Parodies


Kalau sedang tidak ada entry baru di blog ini dalam waktu yang relatif lama, belum tentu juga berarti kreatifitasku sedang jalan di tempat. Bisa jadi saat-saat tersebut aku sedang tidak ada akses bagus dan suasana kondusif yang mampu membangkitkan mood untuk menulis blog, misalnya ketika sedang berlibur di rumah orangtuaku. Ketika sedang berada di sana, rasanya malas banget buka laptop. Pengennya bermain-main sama anjing-anjing yang begitu banyak, atau makan homemade cooking sebanyak-banyaknya yang memang khusus dipersiapkan Ibuku.

Meskipun pada kenyataannya, dalam banyak kesempatan, memang ketiadaan entry baru di Life in The Time of Butterflies lebih dikarenakan alasan yang pertama kali disebutkan di atas, haha!
Atau ..., nah ini adalah penjustifikasian lain, ketiadaan entry baru merupakan akibat kesibukan yang amat sangat terkait tanggungjawab pekerjaan, yang memang 99,99% melibatkan aktivitas menulis kreatif. Jadi energi untuk berpikir kreatifnya sudah disedot banyak untuk menyelesaikan pekerjaan utama.

Misalnya sebagai contoh adalah naskah berikut. Pengerjaan naskah ini sempat menghantui kesejahteraan liburan akhir pekanku karena harus disubmit first thing on the following Monday morning. Kebayang dong bagaimana bingungnya, karena sejak assignment ini diberikan pada hari Kamis pagi, di Minggu siangnya aku masih blank points – Punkt Punkt Punkt – ga ada ide apapun mau menulis apa.

Tapi memang ide kreatif suka datang seperti maling, atau dalam analogi yang lebih ekstrem, seperti maut. Mendadak pada Senin remang-remang tanah sudah ada gambaran apa yang mau kutulis, dan ketika jemari ini menari di atas tuts keyboard, idenya semakin lama semakin jelas dan, ... voila!

Tidak perlu berkomentar lebih panjang kali lebar kali tinggi di sini, lebih baik Anda baca – dan nilai se-”kreatif” apa – sendiri.

Happy reading!


* * *


Sketsa: Launching Product Canister
Tema: Parodi film Ghost
Durasi: max. 10’ (incl. video produk)


Bcaksound: intro. LeAnn Rymes – "Unchained Melody".

Pria: Wah, sebentar lagi calon mertua ulang tahun nih. Bawa kado apa ya? Hhmm, biar terasa lebih spesial dan bisa merebut hati mertua, kadonya kubikin sendiri saja ah. Kebetulan banget nih, calon mertuaku kan suka kerajinan tangan gitu, jadi aku mau bikinin vas bunga sajalah. Pasti dia makin suka padaku, terus si Demi pacarku itu akan disuruh buru-buru kawin sama aku. Hehehe ... (menggosok-gosok tangan lalu berjalan mendekati meja dengan vas)

Lagu ”Unchained Melody” versi LeAnn Rymes masih terus terdengar di background.

Pria (ambil ancang-ancang): Eh tapi tunggu dulu! Lagunya masih salah nih! (backsound mendadak stop dengan bunyi screeching) Harusnya kan lagunya yang ini nih! Muusik! (cue to ”Unchained Melody” versi The Righteous Brothers, OST ”Ghost”).

Backsound: The Righteous Brothers - "Unchained Melody".

Pria mulai bergerak-gerak jenaka/lebay sedang membentuk vas tanah liat, mengikuti alunan lagu ”Unchained Melody”. Seorang perempuan (mengenakan wig rambut pendek sebahu) muncul on stage dan mendekati pria dari belakang, lalu kedua tangannya ikut memegang vas dengan lembut (benchmark scene film “Ghost”), durasi lagu ± 30”

Pria (menoleh ke belakang): Lho?! (kaget; backsound berhenti) Siapa kamu?! Kamu bukan pacarku, Demi Mor! Kamu kok lebih mirip Dora The Explorer!!

Wanita (logat British a la Cinta Laura): Aduuuh, honey, ini memang aku, pacarmu, Demi Mor. Cuma tadi pas kesini, tiba-tiba di tengah jalan turun hujan, jalan becheck, terus ga ada ojhek. Jadinya aku terpaksa jalan kaki dech. Badanku jadi basah, dan rambutku jadi lephek. (sambil memegang-megang rambutnya) Uugh, bete!

Pria: Wah, kamu kehujanan ya sayang? Aduh kasihan, pasti sekarang kamu kedinginan. Ayo sini, Bang Petrik peluk biar jadi hangat. (sambil mencoba memeluk Demi Mor)

Wanita: Aduuuh, Bang Petrik jangan kecentilan dong ach! Kan bukan muhrimnya. Lagian malu lho, banyak Ibu-ibu di sini ngeliatin kita semua …

Pria (ekspresi malu tersipu-sipu): Oh iya ya, kamu benar juga. Maaf ya Ibu-ibu. Saya lupa kalo Demi Mor ini masih belum jadi istri saya. Sudah ga ku-ku nih, jadi bawaannya pengen ngejoss aja!

Wanita: Eh, ngomong-ngomong, honey, kamyu lagi bikhin apa? Kok kayanya busy busy banget gitchu?

Pria: Iya nih sayang. Aku kan mau coba bikin vas bunga. Ceritanya sih biar jadi kado bikinan sendiri buat Mama kamu pas ulangtahunnya nanti. Siapatau dengan kado spesial dariku ini, Mama kamu jadi luluh hatinya, dan segera merestui hubungan kita. Terus kita bisa cepat-cepat menikah deh.

Wanita: Ooh, honey, kamu itu care banget dech. Tapi, my Mom itu lebih suka yang praktis-praktis ajha. Buktinya, sejak Demi masih kechil, pergi kemana-mana my Mom always bawa Tupperware. Waktu kita holiday ke Jerman buat ketemu keluarga Papa, my Mom juga bawain oleh-oleh rendang yang disimpan dalam wadah Tupperware.

Pria: Ondeh mandeh, Demi. Ternyata kamu keturunan Padang juga ya? Sampai bawa oleh-oleh rendang segala waktu bertandang ke Jerman.

Wanita: Iya dong. Soalnya keluarga Papa di Jerman, meskipun boule-boule, tapi suka makanan spicy khas Indonesia. Demi kasitau ya, kalau disimpan di dalam canister Tupperware, rasa dan aroma rendangnya tetap terjaga lho, meskipun disimpan lumayan lama. Itu sebabnya my family selalu pilih Tupperware. Pokoknya, ogah pindah ke yang lain. No way, dude!

Pria: Pantes saja waktu kemarin ke sini, kamu bawain aku makan malam di dalam canister Tupperware. (berjalan ke meja untuk ambil Canister Baseline) Ini dia, canister Tupperware-nya. Eh, tapi apa ya tipe canister ini? Aku kok lupa.

Wanita: Duh, honey. Kamu kok pelupa banget sich orangnya. Itu namanya Canister Baseline. Selain buat bawain makanan untuk kamu, Canister Baseline ini punya banyak manfaat lho. Kalau kamu, juga Ibu-ibu yang ada di sini mau tahu apa saja kegunaan dan keunggulan Canister Baseline ini, yiuk kita lihat tayangan berikut ini. (cue to penayangan klip video produk Canister Baseline)

Penayangan klip video produk Canister Baseline; durasi to be confirmed.

Pria (sambil applause): Waah, bagus banget ya Canister Baseline ini. Kalau gitu, aku ga jadi bikinin vas bunga buat Mama kamu ah. Aku ganti saja hadiahnya dengan Canister Baseline. Pasti Mama kamu langsung jatuh hati sama hadiah pilihanku ini. Terus Mama kamu langsung setujui deh hubungan kita untuk ke jenjang yang lebih serius lagi. Kita langsung nikah deh!

Wanita (bergaya manja): Naah, gitu dong. My boyfriend harus smart, kaya akyu!

Pria: Eh, tapi ngomong-ngomong. Gaya bicara kamu kok seperti artis sinetron kondang itu sih. Siapa namanya? Cincha-cincha gitu deech …

Wanita (bergaya merajuk): Aach, honey. Kok kamu ngomongnya gitu sich.

Pria (nada membujuk): Hehehe … Maaf deh, sayang. Aku kan cuma becanda. Kamu jauh lebih cantik kok daripada dia. (masuk bridging part instrumental The Changcuters - ”I Love You, Bibeh”; lagu jelang 1’ terakhir) Bahkan waktu lagi cemberut kaya gini, kamu juga tetap cantik lho. Itulah makanya aku cinta kamu, Demi. Pokoknya, I love you, Bibeh deh ... (langsung masuk ”I Love You, Bibeh”; part ± 1’ terakhir dengan lirik repetitive until fade)

Pria dan wanita silam sambil bergandengan tangan.

MC muncul, beri komentar seputar klip video Canister Baseline dan sketsa parodi Ghost. MC announce bahwa Canister Baseline akan menjadi attendance gift bagi seluruh Manager yang hadir malam itu.



* * *


Sketsa: Launching & Canister Baseline + Extra Conference Gift (Cool Cube Baseline)
Tema: Parodi Batman & Robin
Durasi: max. 15’ (incl. video produk)

Intro. Opening Theme serial Batman versi 1960-an.
Batman berlari masuk ke stage lalu ngedance disko jadul mengikuti irama lagu opening theme Batman.


Batman (ketika musik berhenti): Ah, gila juga ya itu si Joker. Malam-malam kaya gini bikin ulah. Padahal gue sudah ada janji dugem sama Catwoman. Jadinya batal deh. Mudah-mudahan aja Catwoman ngerti dan bisa terima jadi nomer dua. Kalo ga, ntar ribut lagi. Apes deh gue! (berjalan menuju meja) Sebelum mulai dinas, ngemil dulu ah, biar ada tenaga buat kejar Joker.


Batman (celingukan di dekat meja): Lho?! ... Lho?! Aneh. Perasaan si Alfred biasanya nyiapin camilan di sini. Sengaja disimpan dalam canister baseline, katanya biar camilanku tetap enak dan tahan lama. Tapi jangankan camilanku, canisternya juga hilang? Ah, Alfred pasti lupa nih. Sudah pikun. Maklum, faktor U. Tapiii … kalau kelaparan kaya gini, gimana bisa nanti ngejar Joker ya? Bete nih!


Insert backsound: Jikustik – "Selamat Malam Dunia".

Robin muncul on stage sambil ngedance. Batman melihat aksi Robin sambil terbengong-bengong.


Batman (buru-buru menghampiri Robin): Astaganaga, Robin! Kenapa lo? (menggoncang-goncang badan Robin) Sadar, nak, sadar!


Robin (berhenti ngedance): Aah, payah lo sob! Gitu aja kok ga’ tau sih? Eh, Batman, ... Si Polan sibuk nyangkul ...


Batman: Apa tuh artinya?


Robin: Jadi Batman kok ga gaul?! Ha! Ha! Ha! ... Eh, sob, gue kan tadi lagi ngedance tuh. You know lah, malam ini kita kan mau party! Woohoo !!


Batman: Ah, reseh lo! Gue kirain tadi itu lo kesurupan. Sudah ah, ga usah ingetin gue lagi soal party-party itu. Bete nih gue, gara-gara ulah Joker, bisa-bisa Catwoman ntar pundung lagi sama gue. Eh, ngomong-ngomong, lo liat canister baseline gue ga? Biasanya sih Alfred letakinnya di sini. Tapi barusan kok ga ada ya?


Robin: Ooh, canister ya? (sambil melangkah menjauh perlahan) Yang warnanya hijau muda gitu ya? Yang ada diisi Alfred keripik jengkol ya? Ehem ... (melangkah mundur hingga jarak dengan Batman ± 2m lalu merogoh tas yang dipegangnya dari tadi) Sori ya sob. Tapi tadi canister lo gue ambil, abis lucu sih. Terus kripik jengkolnya sudah gue habisin tadi waktu nonton kontes nyanyi “Mamalia”. Ini nih canisternya ... (Robin ambil canister baseline dari dalam ransel)


Batman: Apaaa?! Kripik jengkol favorit gue lo abisin? Canister baseline gue juga mau lo embat?! Sini, balikin!!


Robin (menyerahkan canister ke Batman): Aduuuh, sori dori mori deh, sob. Abis canister lo keren-keren semua sih. Gue sampai jadi klepto gitu deh pas ngeliatnya. Pengen punya juga sih ... Tapi, Batman, lo kan sudah punya banyak canister Tupperware. Kalo gue, kan baru mau mulai koleksi. Bagi gue dong, satuuu aja. Ntar abis lo balik nih dinas malam, gue pijitin deh. Mau kan yaaa, pleaaseee ... (Robin mulai memijit pundak Batman)


Batman (nada seperti orang keenakan): Aaah, ya ya, disitu, bener, aaah ... enak! (Batman geliat-geliat, lalu tersadar tiba-tiba lantas bergerak menjauhi Robin) Eh, enak aja ya! Canister yang lo ambil tadi kan sebenarnya ada pasangannya, satu set penuh gitu. (sambil meletakkan canisternya ke meja bersama set baseline lainnya) Jadi kalau satu aja yang ilang, jadi ga lengkap dong koleksi gue!


Robin: Uh, Batman, pelit banget sih lo. Ya sudah, gue ga mau temenin lo kejar Joker malam ini. Biar aja lo ntar minta bantuan sama hansip-hansip sini. Gue mo balik aja deh, pengen nonton ”Mamalia”. (berjalan menjauh)


Batman: Eh, nanti dulu, Robin! Bukan begitu maksud gue. (menghampiri Robin) Gini aja deh, gimana kalau gue minta lo nonton dulu yang satu ini, barengan seluruh Manager Tupperware di sini. Nanti lo bisa ngerti kenapa canister baseline ini begitu spesial buat gue.


Robin: Yawdah. Mana dia yang harus gue tonton?


Batman: Ini nih! (cue to penayangan video canister baseline)


Penayangan klip video Canister Baseline; durasi to be confirmed.


Robin (usai video): Wow! Keren banget nih Canister Baseline!


Batman: Ya iyalah! Masa ya iya dong. Tupperware gitu loooh ... Semua Ibu-ibu di sini juga pasti sudah pada hapal kalau Tupperware itu ga ada saingannya.


Robin: Tapi, sob, teteup aja kan gue cuma bisa ngiler doang, cuma bisa ngeliatin doang. Uh! (merajuk)


Batman: Ga gitu, man! Justru sekarang karena lo udah ngeliat gimana kerennya Canister Baseline tadi, pastinya lo sekarang udah tau dong betapa besarnya manfaat canister ini buat seorang Batman. (sambil berjalan menghampiri meja) Tapi berhubung gue ngerti banget kalau lo juga pengen punya Tupperware, ini nih, gue berikan set Canister Baseline gue. Tapi ingat! Lain kali lo harus beli sendiri ya, kan Catwoman sering tuh bikin party Tupperware di rumahnya.


Robin: Wah! Beneran, sob? Lo beri gue Canister Baseline punya lo? Ini beneran ikhlas kan?


Batman: Udah deh, saking ikhlasnya nih ya, gue juga berikan tambahan Cool Cube Baseline yang imut-imut ini. Biar koleksi Tupperware lo yang pertama komplet plet plet!


Robin: Waah! Tengkyu banget, sob! Lo emang sobat sejati gue deh! Eh, tapi masa sih Ibu-ibu Manager yang ada di sini ga kebagian?


Batman: Nah, ini nih buktinya lo belum kenal sama Tupperware! Malam ini, seluruh hadirin yang ada di sini juga akan mendapatkan Canister Baseline buat ngelengkapin koleksinya, dan ... tentu saja masih ditambah lagi dengan Cool Cube Baseline!


Backsound: intro instrumental The Changcuters – ”Racun Dunia” (atau yang berirama upbeat sejenis)


Robin: Cihuuy! Keren banget! ... Eh, Batman ...?


Batman: Ada apa lagi sih?


Robin: Achmad Dhani perlu dijewer ...


Batman: Hah? Maksudnya??


Robin: ... Yang bisa begini, cuma Tupperware !!


Batman (jeda sesaat): Ha! Ha! Bisa aja lo, sob! Udah ah, yuk kita mulai dinas malam ini. Si Joker pasti udah bertanya-tanya, kenapa kita berdua masih belum keliatan batang hidungnya jam segini ...


Robin: Iya ya. Yuk ah!


Batman dan Robin berjalan berdampingan meninggalkan panggung.


Backsound: ”Racun Dunia” fade out (before Tria’s vocal)
.


End Note from writer:
Corny? You bet! Ha! Ha! But wait until
you read the other two parodies, which
are even cornier. Ha! Ha! Haha! *LOL-ing*

Thursday, July 31, 2008

One Evening at The Bistro



Inside the spacious Loewy
Looking outside to the streets beyond
They do look so undemanding
In these kind of hot summer evenings

I walk in from one of the terrace’s tables
Into the crowd chatty and cheerful
No sad faces in this place
Where they get their coffees and teas, cocktails and wines
From the coolest place in town

Walking by the promenade you can see
From the center tables to the corners to its bar
How people there dressed up
Just so beauty and unavoidable
Showing off glistening smiles
One hand holds a cigarette while the other cocktail glass
Everywhere you turn it’s there

While now I sit and wonder what am I doing here?

In Loewy all the people got modern looks
The self-labeled cosmopolites, young trendsetters, and who’s who-s.
And they have modern bodies too

Somehow sometimes they make me feel
So lonely and so out of place
Makes me want anything more than this
Makes me think that in other time other places
I am anything I want to be
I am any age I want to be
I have the great look that I dreamed to have
And you wouldn’t know the difference

Or would you?

Tuesday, July 29, 2008

The Most Beautiful Little Girl in The World

“You may find her look weird, but for me, she is the most beautiful little girl in the world.”



I was waiting for Gary at Plaza Senayan last Sunday evening because we want to catch up with one another latest details, i.e. sharing juicy gossips about people we know. Having no idea as where to go while waiting for him to arrive from his home at Wijaya, I decided to go browsing some new books at Kinokuniya.

Saat melewati salah satu rak yang khusus memajang buku-buku photography, pandangan mataku tertumbuk pada sebuah buku which boasting such a grand title: 100 Days in Photographs: Pivotal Events That Changed The World.
Berhubung sejak zaman masih berstatus anak sekolahan, mata pelajaran sejarah dunia entah mengapa seakan memiliki magnet tersendiri buatku, langsung saja buku tersebut kuambil dari rak dan kubuka.
Untungnya, buku tersebut tidak disegel dalam plastik kedap udara. Meskipun para pegawai Kinokuniya tidak pernah keberatan untuk membukakan segel plastik yang membungkus salah satu buku jualan mereka, tapi ada sekelumit rasa segan meminta tolong mereka membukakannya karena aku hanya iseng pengen lihat-lihat buku ini dan sudah pasti hampir pasti 99.99% tidak akan membelinya.

Paragraf pembuka di jaket buku bertutur tentang kekuatan foto yang mampu berbicara ketika mendokumentasikan sejarah manusia pertama yang mencoba berjalan menyeberangi Niagara Falls di atas seutas tambang – dan berhasil. Menarik sekali. Apalagi mengingat konteks sejarah terjadinya peristiwa mendebarkan ini yang lebih dari satu abad lalu.
Mulailah konsentrasiku terfokus untuk menyimak isi buku ini. Beragam banget entry-nya, semua disusun kronologis, mulai dari pembangunan Eiffel Tower, pembunuhan Abraham Lincoln, hijrah Gandhi demi mendobrak monopoli atas garam, korban bom atom Hiroshima, ... hingga satu halaman besar hitam-putih foto seorang pria yang sedang mendekap seorang anak kecil di dadanya.
Kalimat keterangan yang menyertai foto menyebutkan bahwa pria tersebut – dengan nama khas Rusia yang aku tidak bisa ingat lagi – adalah ayah dari seorang anak perempuan kecil yang dalam foto sedang dipeluknya dengan erat. Anak perempuan kecil itu lahir lebih dari satu dekade setelah bencana meledaknya reaktor nuklir Chernobyl.
Membaca kutipan ucapan pria tersebut ketika diwawancarai untuk artikel orisinil yang menyertai publikasi foto tersebut – yang kucoba tulis ulang berdasarkan kemampuan ingatanku di bagian pembuka tulisan ini – membuat seakan-akan jantungku naik ke tenggorokan dan hatiku terasa nyeri karena sakit.

Bayangkan saja, anaknya mengalami cacat permanent akibat terpapar efek radiasi nuklir sejak dalam kandungan, sehingga tidak akan pernah bisa duduk sendiri seumur hidupnya, let alone standing and walking. Tengkorak kepalanya membesar seperti anak-anak penderita hydrocephalus – yang beberapa kali menghiasi pemberitaan media nasional yang disebut-sebut sebagai dampak kelaparan akut negeri ini – dan tubuhnya tampak ringkih seakan-akan tidak bisa ia gerakkan sendiri. Dan terlepas dari segala kekurangan kondisi tubuh si anak perempuan kecil, kedua orang-tuanya, dengan kasih-sayang mereka yang begitu besar, benar-benar mencurahkan segalanya untuk merawat anak mereka itu.

Aku harus mencubit tanganku sendiri untuk mengalihkan terpaan gelombang kesedihan dan rasa haru ketika membaca tulisan tersebut.
You call me oversensitive? I am.

Karena sampai kini aku tidak bisa mengerti mengapa ada orang-tua yang tega melakukan kekerasan kepada anak kandung mereka, darah-dagingnya sendiri.
Waktu kecil, aku juga pernah sekali-dua dipukul oleh Bapak ataupun Ibu. Tapi itu juga karena memang diakibatkan oleh kenakalanku sendiri, misalnya menggunting gorden baru di ruang keluarga sehingga bolong-bolong, memecahkan kaca jendela karena terlalu seru bermain, atau karena ketahuan mencuri uang dari dompet Ibu karena lagi pengen belanja permen. Luapan emosi sesaat orang-tua, sesuatu yang aku anggap wajar saja. They’re no angels. Neither I am. Toh hanya sekali dua saja tangannya mendarat di tubuhku, tidak lebih. Besoknya juga sudah biasa lagi, dan tidak ada juga ’bekas gambar tangan’-nya di badan. Tidak sampai seperti yang belakangan sering diekspos oleh media massa, dimana ada anak yang disundut rokok atau tulangnya patah akibat hal-hal sesepele keisengan anak-anak. Dan syukurlah, apa yang aku alami ketika masih kecil sangat jauh bila dibandingkan dengan kesadisan seperti yang dialami almarhum Arie Hanggara.
All I can say, even when some shortcomings occurred once in awhile, that my childhood was very happy and pretty much content.

Dan mungkin bagi anak perempuan kecil yang berada di dalam dekapan ayahnya di dalam foto itu, hidup masa kecilnya barangkali adalah sebuah kehidupan yang berbahagia dan tidak berkekurangan.
Karena ada cinta dan kasih-sayang kedua orang-tuanya yang tercurah baginya.

If she is not the most beautiful little girl in the world by our “normal” standard, I sincerely hope she’s one of the happiest. By any standard.




Note from writer:
Images shown in this piece of writing are different
from the one which became the base of this writing

that was published in the 100 Days in Photographs book.

Monday, July 28, 2008

"Semuuwa Menjeeeeriiiittt ... !!"


Membicarakan film-film horor Indonesia masa kini tentu harus beda perspektifnya dengan produksi sebelum dekade 1990-an. Dari sisi teknik produksi sinema, masa kini sudah tentu (dan memang seharusnya) jauh lebih canggih. Jadi hantu-hantu yang eksis di layar lebar harusnya juga lebih canggih dan lebih happening lagi dalam menampilkan diri. Tidak lagi mempergunakan teknik ”ting!” lalu hantu menghilang.
Ini trik yang lazim dipakai di film-film nasional waktu masih ada Departemen Penerangan. Biasanya sih aku menyebutnya trik Jinny oh Jinny, mengutip judul sinetron komedi yang dibintangi Sahrul Gunawan dan Diana Pungky yang berperan sebagai Jinny, sesosok jin perempuan pinpinbo (pinter-pinter bodoh) yang hidup di dalam cangkang kerang extra large, yang dalam sepakterjangnya selalu dan always pakai teknik on-off cam buat memunculkan atau menghilangkan barang maupun orang (disertai sound effect "ting!") dalam setiap episode serial ini.
Meskipun tentu saja, penyebutan ini tidak tepat karena teknik efek spesial cara ini telah dipergunakan sejak lamaaa sebelumnya. Bisa jadi malahan sudah dilakukan sejak dalam film Loetoeng Kasaroeng kali ya?

Kembali ke perbincangan seputar era kebangkitan kembali film Indonesia dari liang lahat – untungnya itu liang belum ditimbun jadi masih lebih mudah keluarnya daripada harus susah payah gali-gali sendiri, makin horor deh jadinya! – yang katanya ditandai dengan suksesnya film Petualangan Sherina, ada satu film lain yang kala itu kehadirannya cukup menghentak dunia hiburan negeri ini. Judulnya pun cukup memancing rasa ingin tahu dan kehororan: Jelangkung.
Yang jelas, happening banget deh pokoknya film Jelangkung ini, sampai ada urban legend yang katanya film ini memang beneran ada hantunya (kaya masa kini beli hape dibundel kartu perdana, nah ini film dibundel sama setannya), atau yang terpaksa disensor ulang lah karena terlalu seram sampai bikin orang kerasukan saat nonton, atau isunya bahkan ada satu baris dalam tiap gedung bioskop yang harus dikosongkan setiap pemutaran sebagai ”syarat” dari alam ghaib. Yang terakhir ini malah dijadikan premis untuk membuat sekuelnya, Jelangkung 3. Tapi film yang disebut terakhir ini paling kacau deh, katro abis. Belum lagi dialognya yang bikin ketawa ngakak, masa dua orang anak yang tinggal di rumah mewah dengan pembantu segala sampai bertengkar gara-gara rebutan Pop Mie! (Penting banget yak?!)


Nah, salah satu yang paling diingat dari film Jelangkung besutan Jose Poernomo dan Rizal Mantovani ini adalah diorbitkannya salah satu karakter utama film horor ini ke level legendary superstardom.
Halah! Tentu saja bukan karakter Roni Dozer yang tipikal gendud-bodoh atau Harry Panca yang sok jagoan-reckless-stupid, atau siapalah nama perempuan itu yang teriak-teriak ga penting melulu (minta ditampol!), dan juga bukan Winky Wiryawan yang takut-panik tetap manis-manis jambu air.
Yang paling happening dari film ini justru sosok Suster Ngesot yang entah mengapa tampilannya begitu mengerikan. Padahal kan dia ngesot-ngesot doang ya. Tendang aja kalo mendekat terus kabuuur! Sprint 3 menit juga kayanya sudah cukup, itu suster pasti udah ketinggalan jauh di belakang. Kan dia pasti capek ngesot-ngesot kesana-kemari. By the way sekedar trivia, sosok suster ngesot yang seram di film Jelangkung itu kan sebenarnya diperankan oleh seorang lelaki bernama Arief (Yap! Aku tahu pasti karena waktu itu mantengin sampai credit title saking penasarannya). Nah, jadi ga serem lagi kan pas udah tahu? He! He!
Lalu waktu itu lihat episode perdana Extravaganza yang sketsa terakhirnya ada suster ngesot diperankan oleh Aming, malah si suster tampil kocak dan lucu banget. Masa ngesot dari Terminal Kampung Rambutan sampai Studio 1 Trans TV di Tendean? Ga lecet-lecet dan berdarah-darah tuh bokong sampai betis? (sebagai catatan, kalau naik bis aja waktu tempuhnya bisa satu jam lebih lho! Bayangin aja kalo ngesot ...)
Terus waktu aku lihat episode perdana sinetron cupu Di Sini Ada Setan, eh kok ya hantunya suster ngesot lagi sih? Malah ceritanya di situ mengapa sampai ada suster yang ngesot-ngesot makin ga penting. Demikian seterusnya.

Bahkan kini, hampir satu dekade sejak dirilisnya film Jelangkung, sosok suster ngesot masih saja dieksploitasi. Ga ngerasa bosan apa ya? Segala macam alasan udah dipakai untuk menjustifikasi mengapa sampai tercipta aktivitas ngesot tersebut. Mostly karena seks. Dasar orang-orang Indonesia pikirannya kinky juga. Ternyata banyak yang memiliki fetish terhadap petugas-petugas berseragam.
Nah, sepanjang ingatanku, terakhir ya dengan dirilisnya dalam waktu hampir berdekatan, film Suster Ngesot yang dibintangi oleh Nia Ramadhani dan Suster N: Legenda Suster Ngesot yang antara lain dibintangi Wulan Guritno.
Parahnya waktu itu masih ingat banget, ketika aku bersama Ralph dan Bradley mau nonton 28 Weeks Later di Plaza Senayan, saat sedang berjalan menuju studio tempat akan diputarnya film tersebut, tiba-tiba di tengah-tengah jalan, kami sedikit terhadang kehebohan. Seorang perempuan menangis sesenggukan dengan histeris, dan seorang lelaki yang diduga kuat pacarnya sedang berusaha menenangkan dan membujuk perempuan tersebut. Sementara itu beberapa petugas PS XXI tampak bingung berdiri membego di seputar pasangan tersebut. Brad yang memang hobi gosip dan suka mau tau langsung mengorek-ngorek informasi kepada salah satu satpam yang berada di seputaran tempat kejadian perkara dan diduga mengetahui secara pasti kejadian ini. Ternyata oh ternyata, oleh pihak rumah produksi film itu, biar happening mereka mempergunakan talent suster bohongan dengan make-up putih a la hantu-hantuan buat ngesot dan ngagetin penonton yang sedang menonton film tersebut. Entah cara ini bisa dikatakan terlalu sukses atau malah gagal total – judging from what we saw – yang jelas ada kehebohan besar yang diakibatkannya.
My deepest sympathy to the couple. If I were them, pasti langsung bikin tuntutan dan memperkarakan ke meja hijau. Biar tahu rasa itu yang punya ide bikin suster-susteran ngesot dalam ruangan studio saat pemutaran film. Ide bodoh!

Sama seperti masih bodoh aja – setidaknya menurutku – kalau bikin film horror dengan sosok Suster Ngesot sebagai main horror talent-nya. Blah! Sooo last decade aja gitu! Itu karakter sudah habis dieksploitasi, kalau misalnya dianalogikan dengan sumur minyak ya sudah seharusnya diisi dengan air panas lalu ditutup dan ditinggalkan.
Nah, ini juga kejadian yang kurang lebih sama dengan tokoh pocong; mau pakai embel-embel angka 2 kek, 3 lah, 40 kek atau ditaliin sekalipun, ya tetap aja penampilannya guling pake muka kusut (jadi inget salah satu adegan di film Pocong 2 yang sebenarnya sudah ketebak banget what would happened next). Tapi emang betul sih, muka seram mah memang sudah jadi modal dasar buat jadi setan sukses. Makin rusak dan menjijikkan, makin eksis!


Tapi kalau kita melongok ke belakang, salah satu wujud karakter setan tersukses – dan paling legendaris – dalam sejarah panjang sinema Indonesia, kok ternyata wajahnya tidak ada rusak-rusaknya sama sekali ya? Justru malahan mulus putih (banget!) berkat perawatan teratur (yang mungkin) bak putri keraton. Dan ternyata saking iconic-nya karakter setan ini, tidak ada satu pun aktris – sejak tahun 1980an hingga saat ini – yang mampu mendekati – apalagi menyamai – keseraman akting aktris pemeran karakter hantu tersebut.
Sebagai catatan khusus, berkat salah satu adegan yang diperaninya jugalah, ia berhasil merevolusi cara pandang masyarakat Indonesia terhadap sate, hingga saat ini.

Hayo, buat yang baca dan emang suka film-film nasional, terutama yang lahir sebelum tahun 1990-an, tentu pada tahu dong hantu mana yang kumaksudkan di sini?
Ga perlu sampai penasaran (awas hati-hati nanti jadi arwah P...), karena potongan klip video berikut ini menampilkan jawabannya! Selamat menyaksikan ...




Jayalah Sinema (Horor) Indonesia!

Friday, July 25, 2008

Dinda Bakrie or Daughtry? That's The Question.

Dua hari lalu resepsionis kantor mengantarkan sebentuk segi empat kertas karton warna merah ke mejaku.
”Apaan nih?” pikirku yang sedikit merasa terganggu karena sejenak konsentrasi dalam menulis skrip untuk Frida dialihpaksakan untuk benda kecil ini.

Quickview: perhatianku otomatis langsung tertuju pada alamat pengirim dan tulisan INVITATION yang tertera dalam cetak bold. Plus ada logo Sony Ericsson yang membentuk tanda semacam ‘heart’ itu: “I ‘Sony Ericsson logo’ jamming with Daughtry”.

Hasil penelaahan kilat menunjukkan bahwa lembar karton merah ini adalah invitation buat nonton show Daughtry. Wow!
Dari ngeliat alamat pengirimnya yang sebuah publication group, aku langsung tau siapa yang bertanggung-jawab.
(Thanks ya Ruli, semoga kau berbahagia hingga akhir hayat dengan pria ndud-mu ... hehehe ...)

Tanggal acaranya yang tertera: 25 Juli 2008, pukul 18.00 WIB.
Tema acaranya: Sony Ericsson Traffic Jam Street Party.

Langsung kuambil telepon genggamku – which is Nokia, which becomes an irony for the main sponsor, ha! – dan menelpon sang pacar. Secara pacar gitu ya, pasti dia yang ada dalam top of mind kalo buat bersenang-senang.
Plus, minggu sebelumnya saat kita berdua pulang abis nonton The Dark Knight yang mantap gila itu di blitzmegaplex Grand Indonesia, aku sempat bertanya apa dia akan nonton Alicia Keys concert. Terus dia bilang lebih berminat nonton Daughtry. Tapi waktu itu aku masih ga gitu ngeh kalo ternyata show-nya Daughtry itu akan terjadi minggu berikutnya.

Tapi ga sampai 30 detik ngobrol, aku langsung kecewa.
Pacarku ga bisa menemani nonton Daughtry – meskipun dia sempat tereak gembira waktu aku ajukan pertanyaan “How do you like watching Daughtry with me?” – karena dia harus hadir di acara lain.
Acara lain yang glamour dan extravagant yang jadi salah satu hottest rumor ot this past couple of months: The Wedding of The Year (or what Jakarta Social Blog labeled as The Splendid Wedding Plan)
Dia harus datang bukan karena dia kenal keluarga mempelai wanita, tapi justru karena keluarganya kenal dengan keluarga mempelai pria. Jadilah dia harus datang bersama ibu dan bibinya.

Hhmm, aku tahu kalau pacarku memang lahirnya di Singapura, dan pendidikan dasar serta menengahnya juga dilewatkan di negeri singa itu, tapi aku baru tahu kalau keluarganya kenal dengan salah satu keluarga terkaya di negara tetangga – yang oleh Bapak Presiden (then) Habibie once called as “little red dot” – itu.
Ugh, hopefully I don’t sound like ... ehm, well, you know ... gossipy folks ... or even worse, a ‘mountaineering’ (referring to Mira Nair’s Vanity Fair). Which is very untrue in my case.

Anyway, pacarku bertanya apakah Daughtry akan perform malam around 10ish or 11ish. Alasannya, kalau sekitar jam segituan, dia bisa datang after attending that so-called The Wedding of The Year. Yah, meneketehe?! (terj. bebas: how should I know?)

Jadilah seusai perbincangan itu aku kelimpungan nyari temen asik buat nemenin nonton. Yang kira-kira bisa apresiasi musik rock juga.
First name that popped up in mind: Richard. Secara dia akan jadi teman sekantorku bulan depan. Plus dia sangat apresiatif dengan pertunjukan musik. Buktinya, mau keluarin duit jutaan buat nonton Java Jazz tahun ini. Kalo ada yang gratisan, masa sih dia nolak. Eh ga taunya dia lagi kambuh bengekannya. Dengan menangis-nangis bombay gitu terpaksa melepaskan kesempatan ini.

Ya sudah ku-pithcing-in saja tiket ini. Tapi teteup, ke siapa ya?
Ronald is certainly out of question. Bocah manja yang paling males jalan-jalan di luar area jajahannya, Pondok Indah, yang katanya already has everything to offer to satisfy his needs. Mana mau dia main ke area Senayan on Friday evening – unless dijemput. Pakai bajaj, mau?

Pacarku sih menganjurkan untuk ajak William. Tapi sebelum aku bertanya kepadanya, somehow I already know he couldn’t make it. Eh beneran dong. Dia ga bisa. Aku curiga jangan-jangan sebenarnya mau ewes-ewesan sama pacarnya yang penyanyi itu, bukan karena harus menemani Mama di rumah seperti alasan dia.
Mengelebat pikiran iseng: eh kalo seorang penyanyi pas mengalami orgasme, apakah suara desah/teriakannya juga akan terdengar indah dan merdu?

Jadilah kutanya Bradley. Eh itu orang ditelpon jam 11 siang kok ya masih di apartemen aja? Mentang-mentang bos divisi public affairs sebuah rumah produksi raksasa. Asyik bener hidupmu, bro’!
“Eh lo malam ini mo ngapain? Mau jalan sama Tisha atau mau nemenin gue nonton Daughtry nanti malam?”
Respon pertamanya: ”Heh?! Emang lagi ada Daughtry di Jakarta?”
Yaelah! Kalo ga ada, ngapain juga aku ngajakin. Aya-aya wae ni orang.
Setelah menjelaskan duduk perkara agak panjang lebar, akhirnya we made a deal. Sepakat buat nonton bareng but I have to come to his office around 5ish so we can go together. His driver will drop us at the venue. Deal yang sebenarnya rada ngerepotin bagiku, secara kantornya di area Rasuna Said sisi Kedubes Australia yang jam orang pulang kantor berubah jadi neraka kemacetan.

Phew! Untung dapat teman nonton yang kupercaya bakalan bisa dibawa asyik buat seru-seruan (hey, Brad, if you read this, jangan langsung tepuk dada besar kepala dulu!).
Otherwise, these tickets would be definitely wasted. Padahal pas barusan dapat tiket ini, to make sure the schedule – and that I’m not dreaming – aku sampai ngecek situs resmi Daughtry, lho.
Eh yang ketemu under Jakarta’s date malah hysteria, kepanikan, caci-maki - you name it - dari orang-orang yang mengaku fans berat Daughtry yang tidak bisa ngedapetin tiket nonton karena mereka ga mau membeli handphone Sony Ericsson seri Walkman sebagai satu-satunya syarat untuk dapat 2 lembar tiket nonton. Such irony, because I got mine for free. Having friends who have accesses is so much fun, right?

Tapi emang ya, seseru-serunya jalan sama sobat sendiri, lebih seru kalo having fun sama pacar tersayang.

Setuju kan, mai prenz?! (which Bradley would definitely amen-ed loudly to that)

Too bad pacarku harus datang ke resepsi supermewah itu. Otherwise, we’re definitely gonna have F-U-N tonight !!

Friday, July 18, 2008

What If?


What about having some nice espresso brownies and vanilla latte or decaf cappuccino at Starbucks? What if you opened your papercup lid to cool your cappuccino faster, so when you drink it its froth stayed on your upper lip forming a white mustache? You still look cute with that silly soup-strainer and you made me laugh by making faces until my eyes watered.

What about kissing your tender lips inside the car while we’re in the parking lot? I was whistling “Young Folks” when you whispered my nickname in such husky voice I turned around and stopped, lips still mouthing O. Your sexy thoughts flashed in your eyes I can see you burning inside. What if I told you that only by looking at your wet cherry lips I knew that all I want to do was kissing you right there at that moment?

What about lying together side by side on this white beach sands eyes gazing at the blue cloudless sky? The sun just rose the wind brought the salty taste of ocean air. Turning my head looking at you, sleeping soundlessly your smile widened. What if it was not me who was running around in your dream would you tell me that honestly when you wake later on?

What about your promise to be back here by my side to celebrate your birthday privately, just the two of us? You knew too well I can not cook anything but instant noodles, yet I tried hard to prepare your favorite pasta just to make you happy, to see you smile cheerfully. Because no matter what others may say about it being tacky, all I want to do in this world is to make you feel happiness with me.

What if I never let you go to your office that day?
What about staying in bed and cuddling for a little bit longer that day?
What if I made love to you in the shower which would definitely make you to arrive late to your meeting?
What about taking alternative routes just like what you usually did everyday so you wouldn’t be stuck in the daily traffic on that highway?
What if you forgot to bring your cellular phone which you left on the coffee table, and then you return just to pick it up?

You would still be here beside me.
I would never felt this kind of shocked watching that news.
You would still call me at noon just to make sure whether I already had lunch or not.
I would still find you in our place waiting for me to return home after working way until late.
You would still need me to go with you to bookstores and coffeehouses on weekends; “Just for the atmosphere,” like you always said.

I would still have you, you would still love me, I would hugged and kissed you a lot, you would still demanding more.

We would still have – and love – each other.

Tuesday, July 15, 2008

Unyil: Il fantoccio da Italia


Kemarin, ketika sedang menikmati santap siang sembari menyaksikan program Laptop Si Unyil yang membahas proses produksi Teh Botol Sosro, di bagian closing tiba-tiba perhatianku terfokus pada gerakan tangan si Unyil yang sangat eksesif padahal dialognya dengan Meylan saat itu hanya seputar informasi kepada pemirsa bahwa sudah tiba saatnya mereka berdua pulang setelah usai berkeliling pabrik Sosro.

Menarik memang menyaksikan episode Laptop Si Unyil kali ini, barangkali karena topiknya membahas proses pembuatan produk salah satu brand ternama di Indonesia yang sangat dekat dengan keseharian para penduduk negara ini. Istilah kerennya dalam marketing: household name.

Orang Indonesia mana sih yang ga kenal sama Teh Botol Sosro?
Dan orang Indonesia mana juga sih yang ga kenal Unyil?
(Disclaimer: kecuali barangkali bagi generasi yang lahir pasca 1993, karena serial asli Unyil terakhir diproduksi pada tahun tersebut)

Nah, kalau di Indonesia, sepertinya puluhan – jika tidak bisa disebut ratusan – juta orang tentunya sepakat kalau Unyil itu sudah melegenda dan melekat abadi dalam ingatan, menjadi salah satu ikon budaya popular negeri ini.
Bahkan idiom-idiom yang sering dipergunakan dalam serial puppet show – ngalahin popularitas Sesame Street lho! – ini sesekali masih muncul dalam pergaulan, meski ada juga yang disesuaikan dengan perkembangan zaman, termasuk dengan memperhatikan kondisi perekonomian.
Kan ga lucu aja rasanya hari gini ada yang minta “Cepek dulu dong”. Secara kerupuk putih kalengan itu aja di warung sudah ga dapat dengan dengan duit cepek doang.


Tapi kalau misalnya Unyil dipandang sebagai icon budaya Indonesia, yang mengusik pikiranku justru adalah bahasa tubuh Unyil. Pernah merhatiin ga, setiap kali berbicara, gerak-gerik Unyil jadi mirip orang-orang Italia. Bahkan kalau sedang sangat bersemangat, seperti yang kulihat di episode Laptop Si Unyil kemarin, gerakan tangannya saat berbicara sudah nyaris seperti orang-orang Sicilia, dimana kedua tangannya bergerak melambai kesana-kemari. Mengingatkan kita pada dirigen yang sedang conducting orkestra.

Ya iyalah!
Kalau ga, gimana lagi dong Unyil dan boneka-boneka sejenisnya itu mengaksentuasikan tuturannya? Secara ekspresi wajahnya sudah pasti terbatas banget. Namanya aja clay puppet. Kalau mau dibikin sebagus Wallace & Gromit, bisa jadi untuk menyelesaikan satu episode doang butuh waktu 1 tahun!

Anyway, membahas ekspresi Unyil kaya gini membuatku ingat salah satu joke lama.
Sebuah kapal yang sarat penumpang mengalami kecelakaan di tengah-tengah Samudra Atlantik dan tenggelam bersama seluruh awak, penumpang dan muatannya. Kecuali dua orang Italia yang kemudian berhasil ditemukan tengah mengapung-apung lantas diselamatkan oleh salah satu kapal penyelamat. Saat kedua orang Italia ini telah berhasil diangkat ke geladak kapal, mereka ditanya bagaimana caranya bisa berenang menyelamatkan diri dari kapal naas itu sedangkan para penumpang lainnya gagal dan tewas. Mendengarkan pertanyaan ini, salah satu orang Italia itu dengan ekspresi kebingungan bertanya balik, ”Berenang bagaimana maksudmu? Kami berdua dari tadi sedang asyik mengobrol.”

Tuesday, July 8, 2008

Hey! Jangan B%*@K Sembarangan!

Jadi ceritanya waktu itu aku baru selesai meeting di Balai Kartini yang berlokasi di Jl. Gatot Soebroto, Jakarta. Biasalah, selesai meeting macam ini selalu terada ada urusan yang perlu diselesaikan sebelum beranjak meninggalkan gedung. Daripada nanti terjebak macet saat balik menuju kantor dan tersiksa karena harus buang air, mending urusan yang semacam ini diselesaikan saat itu juga di tempat itu. Kebetulan sarana sudah disediakan, dan seharusnya karena jarang dipergunakan jadinya sudah seharusnya terjaga kebersihannya, ya kan?

Melangkah masuk ke dalam salah satu bilik kloset duduk, awalnya semua tampak biasa aja dan memang ga merhatiin ada yang aneh atau apalah. Fokus pikirannya saat itu adalah sesegera mungkin menyelesaikan hajat yang satu itu. Hingga tibalah waktunya buat mge-flush itu toilet, barulah pandangan mataku tertuju pada signage pengumuman kecil (kurang lebih berukuran kertas A4 dibagi tiga) yang ditempelkan di tembok di atas tangki toilet, yang artinya ditempelkan oleh pengelola kebersihan toilet Balai Kartini di tembok yang langsung menghadap pengguna saat baru masuk ke dalam bilik.

Awalnya sih memang terlihat biasa saja dan apa adanya, sebagaimana pengumuman serupa himbauan maupun larangan yang ditempelkan di merata tempat lainnya.

Saat melihat secara acuh tak acuh pada signage tersebut sebelum berbalik badan dan beranjak keluar dari bilik itulah baru aku merasakan ada sesuatu hal yang aneh dengan signage tersebut. Namun ternyata masih butuh waktu beberapa saat lagi sebelum mata dan otakku menemukan sinkronisasi sensorik yang tepat sehingga berhasil menerjemahkan rangsangan dengan tepat, atau dalam bahasa yang less complicated adalah dengan berhasil menemukan kejanggalan yang tertera pada signage tersebut.

Hayo, coba kamu baca sendiri ... Kira-kira bisakah kamu menemukannya?

Ha! Ha!
Coba lihat poin himbauan terakhir: "Tidak membuang sesuatu ke dalam toilet"

Sekarang marilah kita iseng pikir-pikir sejenak.
Kalau misalnya kita sebagai (calon) pengguna kloset duduk tersebut dilarang membuang sesuatu apapun ke dalam toilet, artinya itu toilet tidak bisa dipergunakan dong??
Karena secara implisit bisa dimaknai bahwa toilet itu ga bisa dipergunakan sebagai wadah untuk menampung buangan air kecil maupun besar, meskipun ekskresi manusia itu kan memang harus dibuang pada tempatnya, yaitu ke dalam kloset duduk tersebut.

Terus kalau memang dilarang oleh pengelola Balai Kartini sebagaimana yang diterakan dalam pengumuman mereka, lantas kira-kira di mana ya di lokasi itu kita diizinkan untuk pup?




Entry penting-ga-penting ini
dituliskan saat aku lagi suntuk
dengan script berbahasa Inggris.