Saturday, October 18, 2008

At The Section of Forgotten Toys



At the section of forgotten toys
There is a lonely plastic doll in the form of a little girl
Standing alone inside its original wrapping
Still smiling even though its box are covered with dust and its colors gradually fading

It has been abandoned for almost all of its shelf life
Nobody wants any business with it but a little crippled girl
Who once visited the big toy store along with other similar looking children
Has only one arm, or one leg, or simply can not walk and has to be pushed away in wheelchairs

The little crippled girl picked the box with the plastic little girl doll standing alone inside
Her face gleamed with happiness and smile
“Hey, little pretty doll, how are you doing today?”
“My name is Molly and from now on, I want you to be my friend.”

But a grown up woman’s hand picked the box up from Molly’s hands
And return the plastic little girl doll to the shelf along with other plastic toys,
“Not this one, Molly. Because you are allowed to have a more beautiful doll than this.”
And ushered the little crippled girl away

The lonely plastic doll can not remember how long it stays on its shelf
Until one day a big hairy hand grabbed its box and throw it into the small steely cart
Where it stuck on the top and piled up with other deformed boxes of toys
And pushed away into the little dark room where the lights are seldom switched on
And there’s no blowing breeze from the air condition
Where the lonely little plastic girl doll remains untouched
For days, months and eventually, years

At the section of forgotten toys
There is a lonely plastic doll in the form of a little girl
Standing alone and yet it keeps smiling
Because it still remembers Molly,
The little crippled girl who hand-picked and kissed her box
And told her that she wanted to be her friend
Before she was ushered away

Wednesday, October 15, 2008

Ironi Dalam Bungkus "Nasionalisme"

Hari ini seorang teman mem-posting-kan citra berikut di dalam akun Facebook-nya.


Sebagaimana yang bisa Anda baca dan simpulkan sendiri, citra yang di-posting-kan kembali ini merupakan sebuah undangan untuk menghadiri suatu acara sosial pada akhir pekan.

Yang sampai menggelitik perasaan ingin berkomentar, sehingga pada akhirnya menghasilkan tulisan iseng ini, adalah judul acaranya yang mencantumkan ejaan yang lama dan masih belum lagi mengalami penyempurnaan : “SERATOES PERSEN INDONESIA”.

Memberikan kesan bahwa pihak penyelenggara ingin membangkitkan lagi rasa nasionalisme di antara para undangan. Yang harusnya ditanggapi positif, andai saja tampilan dalam undangan tersebut benar-benar sesuai dengan semangat yang ingin diciptakannya.

Namun pada kenyataannya, kesan yang timbul setelah melihat citra tampilan undangan ini adalah sebaliknya. Sebab apabila memang ingin unjuk diri, busung dada, bangga hati, dan ingin memperlihatkan jati diri sebagai orang Indonesia yang 100 persen kadar keasliannya, kenapa body copy undangan ini seluruhnya justru malah mempergunakan bahasa asing ?

Padahal bahasa nasional kita jelas merupakan salah satu identitas bangsa, sebagaimana yang diikrarkan oleh para pemuda dan pemudi bangsa kita 80 tahun lalu dalam Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau yang kemudian lebih dikenal sebagai Kongres Pemuda II.

Kira-kira, apa ya komentar para pemuda dan pemudi Indonesia yang hadir 80 tahun lalu di dalam acara tersebut melihat bahwa kini bangsa yang pembentukannya sangat dicita-citakan itu lebih gemar bertutur dalam bahasa Inggris – dan bukan bahasa Belanda – ketimbang bahasa ibu sendiri?

Tuesday, October 14, 2008

Tapi, ... Tipu !


Jaman dahulu kala, bahkan ketika angka tahun masih ribuan tahun lamanya sebelum Masehi, berdasarkan catatan dalam kitab suci agama-agama Abrahamic, tersebutlah kisah tentang seorang perempuan, istri dari seorang pejabat di kerajaan Mesir, yang memfitnah seorang lelaki gagah nan ganteng yang menolak untuk menghampirinya (bahasa halus untuk tidur bersama / melakukan hubungan badan). Perempuan yang katanya memiliki kecantikan jasmaniah itu ternyata tidak terima “suguhan gula-gulanya” diemohi oleh this hunk, formerly known as her husband’s slave. Merasa terhina dengan penolakan tersebut, dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya, dia melakukan pembalasan nan keji, dengan melaporkan kepada suaminya apa yang menurut dia telah dicoba dilakukan oleh si lelaki: pemerkosaan. Tak perlulah kusebutkan nama sesiapapun di sini, Anda pasti bisa dengan mudah menebak orangnya.

Mari kita fast forward ke sekian millennium kemudian.
What was supposed to be one of the oldest trick in the book(s) – in this case, the books referred to are Torah, Bible and Koran – yaitu pernyataan / kesaksian palsu (alias fitnah) ternyata masih lazim dipraktekkan dalam kehidupan nyata untuk merusak reputasi dan menjatuhkan seseorang, meskipun bisa jadi dengan maksud dan alasan yang berbeda jauh dari contoh di atas. Terkadang, pernyataan palsu ini menimbulkan akibat yang begitu mengerikan, seperti pembantaian massal di Rosewood dan penyerangan pasukan Sekutu pimpinan Amerika Serikat atas Irak.

Apabila kemudian kita mencoba membahas dampak negatif perbuatan hina ini dari sudut pandang ketidaknyataan, alias fiktif, salah satu contoh yang harus disebutkan adalah To Kill a Mockingbird, ketika desakan mayoritas penduduk Maycomb, Alabama, membuat seorang lelaki Afro-Amerika yang dituduh memperkosa seorang gadis kulit putih terpaksa menemui ajal.

Dalam tataran fiktif terkait konteks geografis Indonesia, ada kisah tentang Titian Serambut Dibelah Tujuh, sebuah film klasik dari tahun 1959 karya sutradara Asrul Sani yang di-remake oleh Chaerul Umam di tahun 1982.
Dikisahkan, seorang guru muda yang berupaya mengubah cara berpikir dan sistem pendidikan yang masih kolot (i.e. sangat menekankan aspek agamis) di sebuah desa yang sangat kuat akar keagamaannya, mendapat tentangan sangat kuat dari kalangan yang lebih mapan dan diuntungkan oleh kondisi status quo desa tersebut, salah satunya adalah istri dari si guru tua. Berbagai cara dilakukan untuk menyingkirkan si guru muda, termasuk dengan intrik-intrik keji, yaitu memfitnah si guru muda melakukan perundungan seksual terhadap seorang perempuan. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah si guru muda mencoba memberikan bantuan nafas buatan (CPR) setelah menyelamatkan si perempuan yang nyaris tenggelam. Alhasil, penduduk desa ramai-ramai memusuhi si guru muda dan memintanya angkat kaki dari desa mereka tersebut.

Kita coba fast forward lagi ke sekian dekade kemudian.
Dalam sinetron Cinta Maia yang saat artikel ini ditulis masih ditayangkan di jam prime time salah satu stasiun televisi swasta nasional, dikisahkan seorang perempuan culas yang rela melakukan apa saja agar bisa merebut hati seorang lelaki muda, kaya-raya dan naïf (cliché!), berpura-pura tenggelam agar diselamatkan oleh si lelaki muda, kaya-raya, naïf, DAN pemberani serta jago renang.
Dikarenakan suatu kebetulan yang sangat amat kebetulan sekali, si gadis cantik, baik hati, jujur, pemaaf dan tertindas serta menderita (another cliché, which obviously translated as the protagonist-main role-titular character) yang menaruh hati pada si lelaki, menyaksikan kejadian penyelamatan itu. Dan sesuai harapan si perempuan culas (dan produser, sutradara serta penulis scenario), si gadis cantik lantas mempersepsikan apa yang dilihatnya persis seperti yang dirancang-harapkan oleh sih perempuan culas. Si gadis cantik yang predikatnya harus ditambah dengan ‘bodoh’ itu kemudian menganggap bahwa lelaki muda pujaan hatinya itu bermain air (karena jelas-jelas nyemplung ke kolam renang) dengan perempuan lain. Itu artinya, tipu-tipu si perempuan culas, berhasil gemilang !

Ternyata, ribuan tahun setelah bangsa Israel melepaskan diri dari penjajahan Firaun di tanah Mesir, tipu-muslihat dan fitnah dengan bumbu seks, masih saja menjadi trik yang manjur bin mustajab diterapkan untuk merusak reputasi seseorang (atau subjek plural lain).

Manusia memang paling susah belajar dari pengalaman (dan sejarah).




Bagi para pembaca kritis yang benar-benar mengenal sosok penulis, pasti akan bertanya-tanya, apa yang tidak sedang kulakukan sehingga bisa-bisanya malah membuang waktu dengan menonton sinetron ga penting.

Friday, October 10, 2008

Nobel Peace Prize Winners, Made in Indonesia


Petang itu baru saja aku signed out dari akun surat elektronik Yahoo! –ku, yang akan secara otomatis mengembalikan pengguna ke halaman muka situs Yahoo!, ketika pandanganku tertumbuk pada laman terbarunya yang mencantumkan headline berikut : “Nobel Peace Prize Winner has been announced”. Foto yang menyertai headline itu memperlihatkan seorang pria Kaukasia tua. Unrecognizable. Karena penasaran, segera kuklik link-nya.

Aku diarahkan ke satu laman artikel yang dengan cepat kubaca. Artikel tersebut memberitakan, bahwa baru beberapa jam sebelumnya, Komite Nobel Norwegia mengumumkan siapa sosok peraih penghargaan Nobel Perdamaian untuk tahun ini.

Namanya, Martti Ahtisaari, mantan Presiden Finlandia.
Salah satu alasan Komite memilih Bapak Ahtisaari sebagai pemenang, adalah karena kerja keras beliau yang hasilnya sangat memuaskan dalam mewujudkan kesepakatan perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka dengan pemerintah RI, yang dinilai berhasil dan sukses mengakhiri konflik senjata yang telah berlangsung selama lebih dari tiga dekade.

Selamat untuk Bapak Ahtisaari.

Namun seharusnya, penghargaan bagi Bapak Ahtisaari ini lebih dipandang sebagai tamparan telak bagi bangsa kita. Karena ini menjadi kali kedua nama Indonesia kembali disebut oleh Komite Nobel sebagai alasan yang mendasari penganugerahan penghargaan paling prestisius ini, dan keduanya untuk alasan yang tidak mengenakkan. Baru 12 tahun sebelumnya, Uskup Timor-Timur (dulu) Carlos Felipe Ximenes Belo dan tokoh Fretilin, José Ramos Horta, diumumkan sebagai peraih penghargaan serupa atas upaya-upaya mereka untuk mewujudkan perdamaian di daerah Timor-Timur (sekarang Timor Leste) yang terus bergejolak.

Itu artinya, dalam dua kali kesempatan penghargaan yang berselisih duabelas tahun ini, nama Indonesia disebutkan dalam konteks cenderung negatif dan tidak pantas dibanggakan oleh Komite Nobel. Adalah militer Indonesia yang brutal dan opresif lah yang menjadi “tokoh antagonis” dan penyebab utama ketiga tokoh di atas meraih Nobel Perdamaian.

Andai saja Bapak Pramoedya Ananta Toer yang kabarnya berulang-kali masuk bursa nominasi penghargaan betul-betul berhasil meraih Nobel Sastra sebelum akhirnya dijemput ajal, lengkaplah sudah wajah bengis keantagonisan militer Indonesia. Bagi para penikmat karya-karya Bapak Pram, demikian beliau biasa dipanggil di masa hidupnya, tentu mengerti betul alasannya.

Dan jika saja pemerintah Republik ini, atau elemen-elemen tertentu yang terkait dan memang relatif memiliki power, terus saja melakukan ketidakadilan dan kekerasan di negara ini, bisa jadi di masa yang akan datang kembali lahir peraih penghargaan Nobel berikutnya, made in Indonesia.

Thursday, October 9, 2008

Loose Knots


I remember when
Both of us laughed
On the side of the road under the traffic light

Holding hands
You promised me that
You’d always stay the same

When those diamonds shone in your eyes
How could I not trust you?
How could I not believe in you?

Yet things did not go as we’ve planned together

Now all that is left behind is I who keep wondering

What it is that holds together the loose knots of our relationship?

Wednesday, October 8, 2008

The Curious Case of Coincidence


One of my very best and closest friend broke up with his boyfriend.
It happened last night.

I just found out less than ten minutes ago. And it was accidentally, when I discovered that he's not listed in my Facebook. So I asked him what's wrong with his account. And that's when he dropped the unpleasantly surprising news.

Now I guess that explained my nightmare, which troubled me so much when I woke up this morning.
In that dream, my upper lip are bleeding and there was nothing I could do to stop it. When I felt a wave of panic rising from my abdomen, I woke up. Abruptly.

I completely forgot about that incubus because I was so busy catching up with deadlines and two meetings today. After all have set and finished, I logged in into my Facebook to read my friends newsfeed. I did this daily not only to keep up with my friends' updates, but also because I am now a (self-confessed) Facebook addict.

However, some unexplainable feeling made me checked on my best friend's account, of which I failed to find. Curiousity made me texted him for inquiries.

But I was not prepared for that kind of answer from him.

He texted me back, telling me that he deleted his Facebook account. Because he broke up last night. And that (supposedly hard ?) break-up made him feel uneasy towards the outside world. And now he just wants to retract himself from reality. Hopefully, for a very short time.

Guilty - eventhough only for a bit - is what I feel right now.

Because it was me who talked him out to end his rocky relationship with this guy, whom I also know. But I remember I told him that he should do it only in one condition, when he has come to the culmination point of uncertainty on where their relationship is heading.
This happened last Sunday.

Whether he really took my suggestion or not,
Whether I also am the one to blame here,
Whether his decision to call it off had anything to do with my nightmare,
... I really don't know.

My best friend promised he'd tell me the whole story tonight.

Now what I would hear from him, I can promise you, I won't reveal here.

Because I am not the type who kiss and tell.

Tuesday, October 7, 2008

Untukmu, Bayu


Mudik sudah menjadi semacam tradisi yang sangat identik dengan perayaan Idul Fitri di negara ini. Dan setiap tahunnya, saat jelang pekan-pekan terakhir bulan Ramadhan, minggu Eid-al-Fitr hingga kurang-lebih tujuh hari setelahnya, semua stasiun televisi nasional seakan saling berlomba memberikan laporan terbaru dan terkini berkaitan dengan pergerakan massal arus manusia musiman ini.

Sama seperti tengah malam ini, ketika Selasa tanggal tujuh Oktober belum lagi berusia tigapuluh menit. Aku belum lagi terlelap, dan memang disengaja, karena baru saja menghabiskan sepotong muffin rasa coklat. Selain karena ingin memberikan sedikit waktu ekstra bagi pencernaanku untuk bekerja menyesuaikan diri dengan asupan kalori sebanyak itu di waktu yang tidak biasa, adalah juga karena ingin menyaksikan siaran berita. Biasanya tengah malam begini adalah jam-jamnya beberapa stasiun televisi menyiarkan kabar dan peristiwa terkini. Belakangan ini aku memang selalu berusaha agar jangan sampai ketinggalan informasi terkait negeri carut-marut bernama Indonesia ini, meskipun seringkali menonton siaran berita kulakukan sembari mengerjakan aktivitas lainnya (multitasking), mulai dari menggunting kuku sampai membaca buku.

Dan sebagaimana program-program berita yang dipancarteruskan sejak beberapa minggu lalu, malam ini juga ada satu segmen khusus liputan tentang hal-ihwal arus mudik. Salah satu laporannya ketika itu membuatku menghentikan aktivitas menyimak bagian prolog sebuah memoir.

Terpampang penuh di layar kaca, seorang anak lelaki yang tengah menangis sesenggukan, wajahnya di-shoot full close-up. Oleh sang narrator, dikabarkan ke pemirsa bahwa si bocah lelaki bernama Bayu Pramana ini tak bisa berhenti menangis melihat kedua orang-tuanya sudah tergeletak bersimbah darah tak lagi bernyawa di tepi jalan, tepatnya di daerah Jembrana, Bali. Tragisnya, pasangan suami-istri itu tewas di depan mata anak mereka sendiri, dalam perjalanan mereka bertiga kembali ke rumah dari mudik di Banyuwangi.

Saat melintasi jalan raya Gilimanuk-Denpasar, sepeda motor yang dikemudikan oleh si ayah tak sengaja menabrak bagian jalan yang tidak rata, yang kemudian mengakibatkan ia dan istrinya terjatuh ke jalan, sedangkan anaknya Bayu terpental ke rerumputan di pinggir jalan. Malang tak dapat ditolak, maut langsung menyambar nyawa ayah dan ibu Bayu ketika sebuah bis antarkota – yang hingga berita ditayangkan oleh redaksi Kabar Malam tvone belum berhasil diidentifikasikan – yang tengah melaju kencang persis di belakang sepeda motor keluarga tersebut, tak sempat menghindar dan langsung melindas pasangan suami istri tersebut hingga tewas seketika. Si sopir bis segera melarikan diri meninggalkan pasangan tersebut, dan anak mereka, Bayu Pramana yang baru berusia 10 tahun, menangis histeris melihat nasib tragis yang menimpa kedua orangtuanya.

Bisa kubayangkan betapa shock-nya Bayu, melihat dengan mata kepalanya sendiri kedua orang-tuanya meninggal dengan cara yang sedemikian mengerikan. Mungkin di tengah kekalutan pikiran dan perasaannya saat itu, bisa jadi Bayu masih belum memikirkan perubahan drastis dalam hidupnya. Bahwa sejak detik terjadinya kecelakaan itu, dia menjadi sebatang kara di dunia. Yatim piatu. Dan yang lebih menyakitkan lagi, almarhumah ibunya ketika meninggal tengah hamil anak kedua, calon adik Bayu. Libur Lebaran si bocah yang dimulai dengan manis, terpaksa berakhir sedemikian tragis dengan cara paling buruk yang mungkin terjadi, dengan sebuah tragedi yang akan terus dibawa di dalam ingatannya dan meninggalkan jejak trauma di jiwanya.

Untukmu, Bayu Pramana, bocah kecil yang baru berusia sepuluh warsa, yang nasibnya berubah secara tragis pada hari Senin siang tanggal enam Oktober, semoga kamu diberi kekuatan dan ketabahan hati. Akan kupanjatkan doa untukmu malam ini.

Singkat Cerita Tentang Belanja


Paling sebel rasanya kalau lagi pas punya duit ekstra buat dibelanjakan– which is tumben-tumbenan terjadi belakangan ini – untuk keperluan kurang penting dan tidak mendesak, terus hepi banget nemu fashion items bagus di toko favorit di mall, ternyata ... ukurannya ga ada yang cocok.

Seperti kemarin waktu nemenin Dia mencari hadiah ulang tahun untuk abangnya di Zara, ga sengaja nemu loafer berwarna putih yang tampak menarik dan enak dipakai. Kuintip bagian dalamnya, ternyata size 42. Itu kan ukuran kakiku saat masih jadi pelajar SMP !! Karena sudah terlanjur suka dengan that loafer’s looks, ditambah lagi dengan approval dari Dia yang bilang bakalan bagus di kakiku, maka kutanyalah kepada shop attendant terdekat apakah mereka memiliki stok dengan ukuranku. Jawabannya sangat mengecewakan, katanya that’s the only pair left. Siyal! Dengan kecewa kukembalikan pasangan loafers itu ke raknya.

Tapi biasanya aku akan lebih sebel lagi kalau sudah berhemat ekstra dan menabung serta menahan keinginan untuk beli ini-itu, pas duitnya sudah terkumpul dengan jumlah yang mencukupi, eh, itu barang yang diidam-idamkan dan menjadi alasan utama menabung, ternyata sudah habis terjual.

Pengalaman pribadi yang tak bisa terlupakan adalah waktu dulu masih kecil, kayanya masih duduk di kelas 3 SD. Kebetulan, orang-tuaku tidak membiasakan anaknya jajan sembarangan di luar, kebutuhan gizi kami 99,99 % dipenuhi di rumah. Implikasinya, aku dan saudara-saudaraku nyaris tak pernah diberi uang saku buat dijajanin. Kalau misalnya kami ingin punya mainan tertentu, biasanya harus minta dibelikan sama orang-tua. Tapi masalahnya, belum tentu permintaan tersebut akan dikabulkan.
Sama seperti suatu hari ketika dibawa orang-tuaku berbelanja di toko kelontong langganan yang lokasinya berada di luar kompleks, aku dan adikku memilih untuk berkeliaran di pojok yang memajang mainan sementara kedua orang-tua kami sibuk berbelanja. Saat sedang asyik melihat-lihat tumpukan mainan, pandangan mataku tertuju pada sebuah mainan bis bertingkat berwarna merah menyala yang dibuat dari bahan logam. Saat pertama melihatnya, aku langsung tahu kalau aku harus memilikinya. Tapi apa daya, ternyata Ibu menolak untuk membelikan. Aku lupa alasan persisnya saat itu. Yang jelas, aku jadi sangat kecewa. Dan selama beberapa minggu berikutnya, mainan bis bertingkat berwarna merah itu terus menggelayuti imajinasiku.
Beberapa bulan berlalu, dan setiap kali aku dibawa ke toko kelontong itu, yang selalu langsung kutuju untuk diperiksa adalah pojok mainan, untuk melihat apakah mainan bis bertingkat berwarna merah itu masih ada. Dan kalau misalnya sedang tidak ada yang memperhatikan, akan kuambil ia dari tumpukan di rak dan kumain-mainkan, sampai kudengar suara Ibu memanggil-manggil mencariku atau ada pembantu toko yang kebetulan lewat lantas melarang aku terus memainkannya.
Hingga suatu hari ada seorang Paman datang berkunjung dari jauh bersama istrinya. Mereka berdua sudah lanjut usia, bahkan mungkin sudah lebih tua daripada kedua orang-tuaku. Mungkin itu sebabnya mereka berdua sangat memperhatikan kami yang masih kanak-kanak, karena di mata mereka, kami sudah dianggap selayaknya cucu sendiri. Setelah menginap selama kurang lebih seminggu di rumah kami, mereka berdua pun pamit hendak pulang. Sebelum berpisah, tidak lupa Bibi menyelipkan salam tempel ke dalam genggaman tanganku. Saat kubuka telapak tangan ini untuk melihat apa isinya, hatiku terlonjak kegirangan melihat selembar Kartini terlipat-lipat di atasnya. Akhirnya aku bisa membeli mainan bis merah itu!
Tak sabar rasanya menunggu tibanya hari kunjungan belanja ke toko kelontong itu lagi. Harus bersama Ibu dan Bapak perginya, karena kami sebenarnya dilarang keluar kompleks tanpa pengawasan orang dewasa. Setidaknya demikianlah peraturan yang dikeluarkan oleh bagian Security kompleks.
Ketika hari berbelanja itu tiba, senang banget rasanya. Jantungku seakan melompat-lompat di dalam dada. Begitu mobil berhenti di halaman parkir toko, aku segera melompat keluar dan berlari kencang menuju rak di pojokan yang selama ini sudah begitu akrab bagiku. Celingukan pandanganku mencari, melongok-longok leherku mencoba meneliti. Aku tak bisa percaya penglihatanku, tapi mainan bis bertingkat berwarna merah menyala itu sudah tidak ada! Dengan rasa kecewa dan tak percaya yang membubung tinggi, kutanyakan perihal keberadaan mainan bis merah itu kepada anak penjaga toko kelontong yang kebetulan melintas di dekatku. Jawaban yang diberikannya membuatku sedih alang-kepalang : itu adalah mainan bis satu-satunya dari jenis dan bahan itu, dan itupun sudah terjual beberapa hari sebelumnya.
Buat seorang anak kecil yang memendam harap sebegitu besar dan lantas dikecewakan, kebayang dong emosinya kaya apa. Memang sih aku ga sampai nangis-nangis gitu, no way lah. Cuma barangkali ini salah satu penyebabnya aku jadi punya obsesi terpendam : ingin berkunjung ke London, hanya agar dapat menaiki bis bertingkatnya yang berwarna merah itu dan berwisata keliling ibukota Inggris.


Masih ada satu kondisi belanja lagi yang belum terbahaskan. Yaitu begini : ada satu barang yang sudah kita taksir sedemikian lama dan kemudian saking pengennya, kita sampai rela mengeluarkan duit ekstra untuk bisa memilikinya, meskipun implikasinya adalah kita harus berhemat ketat untuk sektor-sektor pengeluaran lainnya hingga jangka waktu tertentu. Saat kita lagi senang-senangnya dengan barang baru itu dan dengan bangga menggunakannya ke manapun dan kapanpun memungkinkan, ternyata tak lama kemudian di tokonya itu barang mengalami reduksi harga. Alias didiskon. Pengen marah kan jadinya?

Syukurlah hal yang begini ini belum pernah kualami. Jangan sampai. Kebayang deh betenya. Tetapi dari hasil ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang sahabat dekat, ternyata kejadian semacam ini pernah dialami oleh salah seorang di antara mereka. Sepatu Adidas-nya yang belum lagi sebulan dibeli dan dipakai, tiba-tiba sudah turun harga alias didiskon, dalam jumlah yang relatif besar pula : sekitar 30%. Mengetahui hal tersebut, olehnya sepatu itu langsung dikembalikan ke dalam kotak aslinya dan disimpan di dalam lemari untuk waktu yang cukup lama.

Kembali pada kejadian awal yang menjadi ide tulisan ini, setelah kecewa karena tidak jadi memiliki loafer putih Zara yang lucu itu, aku dan Dia berjalan-jalan keliling gerai-gerai lainnya, keluar masuk toko karena Dia masih merasa belum puas dan teryakinkan dengan hadiah kemeja kantoran yang dibelinya di Zara. Dan karena kami berkeliling-keliling mengukur luasnya mall (yang memang diklaim oleh pengembangnya sebagai salah satu yang terluas di Indonesia), akhirnya dari kunjungan bolak-balik itu aku jadi tergoda juga membeli selembar t-shirt Junk Food bergambarkan karakter-karakter Smurf. Padahal, baru akhir pekan sebelumnya aku membeli empat helai t-shirt impor dari Thailand.

Dasar si pemboros tukang belanja!

Tapi, yaaah, mau bilang apa? … Namanya juga berbelanja barang alternatif untuk sekedar menghibur diri.

Monday, October 6, 2008

Imajinasi Tingkat Tinggi



Bisa jadi masih belum banyak penduduk negeri ini yang tahu dan sadar, bahwa sejak beberapa bulan lalu sampai awal tahun depan, adalah masa kampanye politik jelang Pemilu 2009. Barangkali karena masa kampanye kali ini sangat panjang apabila dibandingkan masa-masa sebelumnya yang hanya dalam hitungan tiga bulanan, jadi masih banyak partai politik yang seolah-olah testing the water dan cenderung mengambil sikap menunggu, menanti partai mana yang akan melakukan start duluan dan dengan cara apa. Mayoritas partai-partai politik ini belum lagi kencang menghambur-hamburkan dana untuk berpromosi, apalagi menggebrak dengan kampanye yang bersifat massive dan sensasional.

Barangkali baru sejak medio Agustus lah mulai ramai bermunculan berbagai spanduk, umbul-umbul, billboard dan bentuk-bentuk media luar ruang lainnya, yang mengusung nama, logo maupun wajah yang mewakili partai politik tertentu, menghiasi (atau mengotori ?) berbagai tempat strategis di seantero Jakarta dan sekitarnya. Sudah jamak memang apabila pesan politik disampaikan lewat berbagai media yang bisa mengakomodasinya, dengan titik-titik sentuh bersifat langsung dengan olahan seefektif mungkin (masih ingat kampanye Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pada Pemilu 2004 dengan slogan ”Moncong Putih” ?).

Salah satu medium penyampaian pesan politik yang paling diminati sejak dulu hingga kini, sudah tentu adalah lewat tayangan iklan di televisi. Belakangan ini, dua muka lama mulai rajin menyambangi layar kaca kita : Prabowo Subianto dari Partai Gerindra, dan Wiranto dari Partai Hanura. Sejujurnya buatku pribadi, agak seram melihat kedua sosok ini bangkit lagi di masa kini, mengingat track record keduanya yang tidak bisa dikatakan bersih dari pelanggaran hak azasi manusia pada masa keduanya masih menjadi pimpinan militer di era Orde Baru.
Namun yang juga menarik untuk dicermati adalah kemunculan dua wajah baru yang berusaha mengimbangi dua muka lama tadi, yaitu Soetrisno Bachir dari Partai Amanat Nasional, serta Rizal Mallaranggeng.
Khusus untuk nama yang disebut terakhir ini cukup memancing rasa penasaranku, karena beliau yang mengaku dalam iklan satu halamannya di harian Kompas, mengklaim dirinya tidak disokong oleh partai politik manapun dalam upayanya memperkenalkan diri ke publik. Plus, kata adik kandung penasihat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini, dirinya juga bukanlah seorang pengusaha. Intinya adalah, beliau menyatakan dirinya sebagai calon presiden independen yang berangkat dari jalur perseorangan.
Hal ini jelas-jelas di kemudian hari menimbulkan tanda tanya besar : darimanakah beliau mendapatkan dana untuk menjalankan kampanye politiknya? Terlebih kalau melihat billboard ekstrabesar dua sisi yang memasang wajahnya di seputaran Jembatan Semanggi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Sekali lihat, pasti langsung terbayang gelontoran dana yang harus dikucurkan untuk mengisi kedua sisi billboard tersebut dengan wajah bapak berkumis tebal ini. Belum lagi, sekian banyak jenis dan versi iklan politik beliau. Perhitungan kasar pun memunculkan angka milyaran rupiah.
Sayangnya, menurut hasil polling yang kulihat bulan lalu di acara politik tvone, berbagai iklan politik beliau masih belum memberikan dampak nyata di tataran political awareness rakyat negeri ini. Barangkali karena rakyat negeri ini masih belum terbiasa dengan kampanya multi-media a la Barack Obama.

Sedangkan menurut pendapatku pribadi, memasang iklan politik di area sepanjang jalan Gatot Soebroto, Sudirman dan Thamrin, itu sudah biasa.
Yang menjadi luar biasa, barangkali apabila memasang iklan di beberapa tempat yang lebih lazim dipergunakan sebagai medium promosi niaga, seperti billboard aktif yang ada di dekat gedung BEI, di depan Pusdiklat Deplu, atau memblok area dinding luar salah satu mall terkenal di kawasan Senayan, yang seingatku pertamakali dilakukan oleh MRA Media untuk mempromosikan majalah Esquire Indonesia edisi perdana kurang-lebih satu tahun lalu, yang terbukti cukup sukses menggoyang pasar majalah khusus pria dewasa di negeri ini.




Setidak-tidaknya, dalam imajinasiku, kalau aku memiliki uang dalam jumlah besar untuk dihambur-hamburkan, aku pun ingin menampilkan wajahku dengan cara yang kurang-lebih serupa.
Apalagi kalau pemotretannya dilakukan oleh fotografer kelas dunia, seperti Annie Leibovitz atau David LaChappelle atau Mario Testino.
Lantas dicetak dalam ukuran raksasa dan dipajang di mall tadi.
Cukuplah memajangnya selama empat minggu, dengan empat versi berbeda yang berganti setiap minggunya; dijamin setidak-tidaknya akan ada beberapa juta pasang mata yang akan melihat poster raksasa itu selama kurun waktu tersebut, yang kemudian diharapkan akan dapat memancing rasa penasaran mereka untuk mencari tahu lebih banyak lagi.
Niscaya langkah ini tentu akan berhasil meningkatkan awareness atas diriku, suatu hal yang kata William sudah relatif berhasil kulakukan di beberapa situs jejaring sosial bersifat pertemanan (i.e. Friendster dan Facebook), berkat foto-foto pribadiku yang (kuharap bisa memberikan kesan) artistik.

Ngayal berlebihan, sekali-sekali boleh dong?





Sunday, October 5, 2008

Bukan Kekasihku



Hari ini menandai telah 8 bulan kami saling bertemu secara eksklusif. Dan rahasia. Sifat yang disebut terakhir ini paling penting, karena kami memang perlu berupaya keras sedapat mungkin untuk mempertahankan hubungan ini tertutup, hanya diketahui oleh sesedikit mungkin orang.
Dan dari semua jenis orang yang menghirup udara kota ini, subspesies yang paling penting untuk dihindari adalah gerombolan manusia liar dengan tabiat cenderung brutal yang berani menamai diri wartawan infotainment.
“Cis! Berani-beraninya menyebut diri wartawan, padahal mereka tak mengerti apapun tentang kode etik jurnalisme!” demikian desisnya padaku suatu kali, ketika dalam satu kesempatan nyaris terpergok sedang berjalan bersama denganku.
Itulah sebabnya kami sekarang lebih ketat dalam mengatur pertemuan, harus selalu dengan pengaturan-pengaturan khusus. Tidak bisa langsung berjanji bertemu di satu tempat ketika ingin bersua.
Semua karena sosoknya yang terlalu banyak dikenali di kota ini. Padahal ia harus menjaga status sosialnya demi mempertahankan nama baik keluarga yang sudah terkemuka bahkan sejak bangsa ini belum merdeka. Sedangkan aku harus mempertahankan posisiku di perusahaan raksasa ini, yang terlanjur memanjakanku dengan terlalu banyak kenyamanan.
Aku sebenarnya benci bersandiwara, tak pernah kuanggap diriku bisa, tapi demi hubungan kami terjaga, harus kupaksa.
Itulah sebabnya setiap kali mendapatkan undangan untuk menghadiri acara-acara sosialita, harus kubertanya terlebih dulu padanya. Barangkali saja dia akan turut hadir di sana.
Kami sama-sama menyadari, keberadaan kami dalam rentangan jarak yang terlalu dekat bisa jadi berbahaya. Karena kedua tubuh kami bagaikan dua kutub magnet berbeda, yang dengan kekuatan luar biasa akan saling tarik, ingin menyatukan diri bersama. Daripada tertangkap basah sedang bercumbu di sudut-sudut gelap dan tersembunyi yang seringkali susah menemukannya, lebih baik kami saling menghindar, menahan dorongan jasmani.
Itulah sebabnya sekarang kami lebih akrab dengan sudut-sudut tua dan kelam kota ini, yang lebih menjamin reklusifitas bila dibandingkan dengan klab malam manapun di Selatan.
“Sampai kapan sih kita harus begini terus?”, pernah kubertanya saat ia masih dalam pelukanku. Buliran keringat yang tadinya membasahi punggungnya belum kering benar.
“Sampai aku mengatakan, ‘This is it. This is our time.’” sahutnya dengan suara pelan sedikit mendesah.
Aku tahu dia pasti sudah setengah jalan menuju kelelapan tidur. Tak apa, aku suka memeluknya saat ia tidur. Kulitnya lembut dan rambutnya selalu wangi terjaga. Mengantarkanku sendiri kepada nyenyak. Setiap kali usai bercinta dengannya, aku selalu bisa terlelap dengan mudah, dan mendapatkan mimpi indah. Sayang sekali waktu semacam ini tidak pernah bisa kami nikmati lebih lama daripada satu malam dalam setiap pertemuan.
Karena ia harus menjaga status sosialnya, dan aku dengan posisi di perusahaan multinasional itu.
Hidup lebih sering tidak bisa memberikan segala hal yang kamu inginkan.

Hollywood Star, with a Reasonable Doubt


Sejak pertama-kali menyaksikan akting Rachel Weisz di film The Mummy, dari logatnya saja aku sudah tahu kalau dia adalah aktris asal Inggris. Tak perlulah sampai harus browsing online untuk mengkonfirmasikan dugaanku tersebut, yang di kemudian hari memang terbukti benar.

Itulah sebabnya ketika satu brand sabun mandi yang mengklaim produknya sebagai sabun kecantikan para bintang membuat iklan dengan mempergunakan Nona Weisz sebagai bintangnya, yang menjadi perhatianku bukanlah tampilan spesial efek yang memperlihatkan seolah-olah para pria dibuat melayang-layang ketika membaui wanginya aroma varian produk terbaru Lux tersebut, melainkan adalah label yang mengembel-embeli nama Rachel Weisz.

Tertera jelas dalam iklan tersebut : Rachel Weisz – Hollywood Star.

Pertamakali melihatnya, aku sempat tertegun.

Bintang Hollywood?
Sejak kapan?

Adalah betul Rachel Weisz memenangkan penghargaan Oscar untuk kategori Actress in a Supporting Role atas aktingnya yang memukau sebagai aktivis hak-hak asazi manusia yang dibunuh secara sadis dalam film The Constant Gardener. Dan Oscar - meskipun dianugerahkan setiap tahun oleh asosiasi para pekerja sinema Amerika Serikat - disukai maupun tidak, adalah salah satu penghargaan paling prestisius (di dunia sinema) di muka bumi.

Tetapi yang seharusnya dan sebenarnya, sampai kapanpun Nona Weisz tetaplah seorang aktris Inggris, sebagaimana Keira Knightley tidak akan pernah menjadi aktris Amerika.

Klaim berlebihan dan “cenderung menyesatkan” semacam ini sesungguhnya bukanlah sesuatu hal yang sama sekali baru, karena untuk teknik komunikasi menggunakan tipu-tipu halus hingga sampai tahap hiperbola, memang iklannya produk-produk kecantikanlah juaranya.
Salah satu kasus yang terjadi belum lama ini, adalah ketika L’Oreal diprotes akibat mengubah warna kulit Beyoncé Knowles menjadi lebih terang daripada aslinya untuk sebuah versi iklan yang dicetak di majalah Elle.
Sedangkan satu contoh dari dalam negeri yang termasuk menonjol bisa jadi masih dari brand yang sama yang menjadi ide dasar tulisan ini. Beberapa tahun lalu, sabun kecantikan Lux menampilkan kampanye supermahal untuk target pasar Indonesia, dengan mempergunakan para bintang papan atas dunia hiburan negeri ini : Tamara Bleszynski, Luna Maya, Mariana Renata, dan Dian Sastrowardoyo.

Slogannya kala itu: “Beauty Gives You Superpower”

Does it??
You be the judge.