Friday, October 31, 2008

Yang Menyebalkan, dan Yang Tidak.


Apa sajakah hal-hal yang lebih menyebalkan daripada terpaksa menunggu tanpa kejelasan tentang kepastian waktu?

Tentu saja, ada!

Dan jawabnya bermacam-macam, bisa jadi antara lain:
(1) Terpaksa menanggung malu akibat kekeliruan – atau kebodohan – yang dilakukan oleh orang lain dan karena satu kondisi khusus, kita ikut kena ‘getah’ –nya; atau
(2) Terpaksa menahan rasa kebelet – entah itu pipis ataupun poop – karena harus mengantri menggunakan toilet umum; atau
(3) Terpaksa menahan rasa emosi yang memuncak karena orang yang menyebabkan timbulnya gejolak instabilitas emosi itu dengan behavior-nya yang sungguh ingin membuatmu menginjaknya sampai gepeng adalah sumber penghasilan kita (atau yang dapat juga dibaca: klien), dan uang yang bisa didapatkan darinya relatif besar jumlahnya; atau bisa juga
(4) Terpaksa bolak-balik mengeluarkan uang gara-gara jatuh sakit padahal sakitnya itu ditularkan oleh orang lain dan hanya karena pekerjaan saja yang menyebabkan kita terpaksa berhubungan / menjalin kontak langsung dengan si pesakitan (sudah macam narapidana di pengadilan saja istilahnya); atau
(5) Terpaksa membatalkan janji kencan dengan pacar karena ada pekerjaan mendadak yang baru masuk dengan deadline yang sangat mepet alias harus di-submit ke klien petang itu juga; serta
(6) Dan lain sebagainya.

Kalau mau dilanjutkan terus, daftar ini bisa akan sangat panjang kali lebar dan pastinya akan lebih panjang daripada daftar belanjaan bulananku di sebuah hypermarket langganan.

Kata teman-temanku, semenjak aku mulai kembali berhubungan asmara (ih, geli sendiri membaca istilah ini), dalam artian ”In a Relationship”, auraku jadi lebih cerah, aku jadi lebih relax dan sudah tidak terlalu negatif lagi dalam menghadapi segala macam hal?

Mungkin ada benarnya, entahlah. Tapi bagus juga kalau Dia bisa memberikan pengaruh sangat positif padaku.

Hanya ada satu keluhan ringan dalam hubungan ini, sejak jalan bersama Dia, aku jadi boros banget. Ha! Ha! Jadilah rencana giat menabung dengan cita-cita untuk bisa beli MacBook berwarna hitam terpaksa dilupakan dulu.

Tapi mohon diperhatikan dan dicatat serta dicamkan baik-baik dalam benak Anda para pembaca terhormat, ini bukanlah sebuah keluhan, lho!

Thursday, October 30, 2008

About Losing


Losing one of my personal stuff will make me peevish for days
Losing my creativity obviously means that I will lose my job
Losing my virginity, I never complained about
Losing money would not worry me more than

Losing a lover,
because it will unquestionably break my heart,
yet

Losing a best friend will definitely shattered me in pieces

Wednesday, October 29, 2008

Bermain Sabun



Selama ini, bisa dikatakan aku memiliki sistem pencernaan yang lancar jaya.
Syukurlah.
Itu berarti, pengeluaran nyaris tidak pernah mampet. Tiap pagi pasti ada setoran.

Tidak perlu sampai menderita seperti seorang rekan di kantor yang terkadang sampai semingguan tidak bisa menjalankan aktivitas yang seharusnya rutin dilakukan setiap hari itu. Malah satu dua kali kejadian dalam dua tiga tahun belakangan ini, saking lamanya dia tidak melakukan ritual harian itu dan karena perutnya semakin membuncit – konsekuensi akibat absennya pengeluaran limbah dalam massa relatif berat, rekan sekantor ini berimajinasi bahwa dirinya sedang hamil lagi, lantas membeli test pack untuk dicobakan atas dirinya. Terasa lucu untuk ditertawakan, sekaligus sedikit ironis karena itu justru merupakan tanda-tanda ketidaksehatan tubuh yang perlu diwaspadai. Bukan begitu, teman-teman?

Kembali lagi pada kondisi diriku. Terkadang kalau tingkat konsumsiku sedang tinggi-tingginya dan volume makananku lagi banyak-banyaknya, seperti kemarin (mengkonsumsi menu berikut: roti kismis Sari Roti empat iris, coklat panas Frisian Flag satu mug, biskuit coklat Ceres sebungkus, raisin oatmeal-nya Famous Amos hampir seratus gram, paket satu nasi dan satu ayam dari McDonald, sepincuk nasi bogana yang enak banget dari Mawar Merah Katering, dan ditutup dengan sepiring bakmi spesial Toko Tiga Jl. Wahid Hasyim plus jeruk panas yang asem-asem segar), tidaklah mengeherankan kalau volume eksresi pagi ini jadi banyak banget.

Namun tak jarang, dalam cukup seringkali kejadian, pengeluaran begitu lancar bisa sampai dua-tiga kali sehari !
Itulah sebabnya sekarang di mejaku di kantor sudah selalu tersedia sabun cair Lifebuoy Deep Clean warna tutup botol hijau pupus dan sekotak tissue Paseo. Kemarin dulu sih belinya Lifebuoy yang warna koneng menjurus oranye gonjreng gitu, jenis aromanya apa ya itu? Lupa euy. Anyway, karena pengen pakai yang wewangiannya lebih lembut daripada itu, jadilah kuganti pakai versi Deep Clean.

Pertama dua kali pakai, ga ada masalah, biasa-biasa aja. Selanjutnya, baru mulai sadar kalau sabun cair ini malah membuat kulit tangan terasa kering dan kasar. Agak mengganggu, karena jari-jemariku sudah terbiasa terasa lembut sehingga bisa berkonsentrasi dalam mengetuk-ngetukkan jari di tuts kibord PC ini dengan lancar.

Belum lagi, warna dan tingkat kekentalan solusi ini tidak setebal dan sekaya rekannya si sabun cair Lifebuoy koneng menjurus oranye menyala, membuat imajinasiku cenderung terbang membubung tinggi melayang setiap kali mempergunakannya. Bisa jadi memang pikiranku saja yang terlalu rajin berotasi di seputar selangkangan, tapi melihat cairan sabun itu meluncur di tangan dengan sedikit tersendat, entah mengapa aku berpikir rasanya seperti habis masturbasi, dan yang sedang melekat di tanganku ...
Kalimat selanjutnya silahkan diteruskan sendiri, pastinya mulai kebayang apa maksudku, ya kan?

Memilih sabun mandi memang gampang-gampang susah.
Jadi teringat pada salah satu kerabat yang waktu masih kecil kukunjungi, dan bikin rada shock (berlebihan ga sih kalau anak kecil dikatakan bisa shock?) karena mereka sekeluarga mandi dengan memakai Sabun Cap Tangan. Padahal di rumah, sabun itu biasa kami pakai untuk memandikan anjing kalau barusan berkotor-kotoran di lumpur.
Dulu banget kami sekeluarga memakai Palmolive, terus waktu di grocery store entah mengapa sabun itu berhenti pasokannya, lantas kami beralih memakai Lux. Waktu itu bintang iklannya masih Ida Iasha. Terasa jaman dulu banget, ya’?
Lompat sekian puluh tahun kemudian ke masa sekarang, biasanya aku pakai Dettol. Entah benar-benar bisa membasmi kuman, entah tidak. Yah, terpaksa percaya saja apa kata iklannya. Selama ga bikin kulit terasa kering dan kalau digaruk jadi putih-putih seakan bersisik (hiiiii ... !!), berarti ga ada masalah dengan merk sabun mandi tersebut.

Ngomong-ngomong soal mandi dan sabunnya, jadi pengen berendam air hangat di bath-tub nih. Rasanya enak, buat mengatasi pegal-pegal sehabis kemarin wiken seharian mallhopping di seputaran Jakarta Selatan. Tapi sayangnya, sedang tidak ada si Dia yang pasti rela dan mau menggosokkan punggungku saat mandi.

Kapan ya Dia balik dari liburannya di Eropa?
Kangen nih.





Tuesday, October 28, 2008

His Pair of Angelic Eyes



We were taking a walk along the pond in the park
David and William and Michael and me
It was such a cloudy Sunday afternoon
The leaves on the trees moved and fell with the breezing wind
The birds were busy chirping on the branches of the trees
Yet we still filled the time with our cheerful chatter
When suddenly my gaze struck upon these two people
Standing face to face across the pond away from us

The moment I saw him again,
The one I used to know too well
I couldn’t stop my mind from the memories flowing back
How they hurt just to remember all the good times
Made me wonder whether he felt the same
Will the memories bring back the pain?

And that afternoon I clearly saw him
Holding hands together with this beautiful young girl
And the way he looked at her ...
Boy, it gave me shiver
Because he used to look at me that way

Probably I should walk right up to them and interrupt their conversation
And tell her, “Be careful, girl. It’s a game he likes to play.”

It was Michael who held my arm
Warned me by saying,
“Just don’t. Please.”
While David imbued,
“You have to get him out of your mind.”
And Michael added to it,
“You have to forget everything.”

I knew they had their point
Because once you set eyes upon his pair of angelic eyes
Just one look and you’re hypnotized
You will think you’re in paradise
But one day when you already went deep and it was all too late
You’ll find out for all those times he wears a very good disguise
While his only intention is to take your heart
In the end it’s you who have to pay the price

Still I managed to whisper to the wind
Hoping the breeze will carry it across the pond and drop it to her ear
And right in time she could hear
What I sincerely hope she would never do

“Girl, for whatever reason, just don’t look too deep into his pair of angelic eyes.”

Friday, October 24, 2008

Hargai Hidup, Nikmati Musik !


Mungkin saja apabila ada pihak-pihak tertentu yang kebetulan sedang mencari contoh dari sesiapa yang layak dikategorikan sebagai Generasi MTV, bisa jadi aku adalah salah satu sampel yang bisa diajukan. Meskipun sebenarnya, aku mengenal MTV baru sekitar akhir dasawarsa ‘80-an dan awal ’90-an, ketika MTV telah melewati usia 5 tahun dan aku sendiri berusia hampir dua kali lipatnya.

Saat itu, menonton MTV menjadi semacam “candu” hiburan yang bisa membuatmu betah duduk terpaku menonton selama berjam-jam. Padahal apabila mencoba kembali mengingat masa-masa itu, sulit rasanya membayangkan betapa aku bisa terpesona melihat penampilan band rock maupun group vocal dengan dandanan baju penuh warna dan kemerilip, pulasan make-up yang untuk standar sekarang hanya mungkin terlihat ketika akan menyambut Halloween, dan yang paling penting ... rambut megar bak surai singa!

Namun aktivitas menikmati musik dan lagu itu benar-benar menyenangkan. Siapa juga yang bisa menyangkalnya? Aku sendiri menjadi semakin teryakinkan tentang hal ini, ketika tadi pagi mengecek koleksi lagu di dalam PC, dan menemukan lebih dari 2600 track audio berupa lagu dan musik dari berbagai genre serta lintas generasi dan setidaknya mempergunakan empat bahasa, yang apabila diputar back-to-back tanpa putus (non-stop), akan membutuhkan waktu lebih dari 190 jam untuk memperdengarkan semuanya.

Barangkali, kesukaanku pada musik kurang lebih sama dan berakar pada manusia purba yang hidup belasan ribu lebih dulu daripada aku. Sebagaimana yang bisa dibuktikan dari temuan-temuan sejarah, musik dan lagu adalah salah satu bentuk kesenian yang paling awal diciptakan oleh manusia, bahkan jauh sebelum mereka mengenal aksara dan sistem perdagangan purba.

Terlepas dari beberapa resistensi yang dilakukan oleh sementara pihak terhadap perkembangan jenis musik dan lagu tertentu di berbagai era – generasi senior yang sekarang berusia di atas 50-an tahun di negeri ini tentu masih bisa mengingat bagaimana almarhum Presiden Soekarno di masa-masa jayanya pernah melarang peredaran dan dimainkannya musik ngak-ngik-ngok semacam The Beatles di seluruh Nusantara – tidak bisa dipungkiri kalau musik selalu berkembang pesat seiring perkembangan kebudayaan umat manusia.
Hingga hari ini, ada begitu banyak jenis ragam genre maupun subgenre yang telah diciptakan manusia, niscaya akan membuat pengkategorian dalam penghargaan musik harus lebih spesifik dan beragam apabila ingin merangkul semua aliran yang ada.

Kembali kepada diriku sendiri, susah rasanya menyebutkan jenis musik apa yang paling kugemari. Biasanya aku akan menjawab yang paling gampang : pop, tanpa bisa menyebut secara spesifik. Padahal kalau melihat koleksi musikku berupa kaset dan CD, bisa jadi akan sedikit membingungkan mereka yang ingin membuktikan pernyataanku ini. Barangkali tidak bisa dipungkiri betapa besar pengaruh MTV dalam menentukan selera musikku, khususnya terkait artis-artis dan musisi-musisi internasional.

Namun bagaimana dengan pengetahuan dan selera tentang artis dan musisi lokal? Bagi mereka yang pernah mengenal masa-masa jayanya TVRI sebagai satu-satunya saluran televisi nasional di era 1980-an, pasti sudah akrab dengan program Album Minggu Kita, Selekta Pop dan Aneka Ria Safari. Kedua program inilah yang bisa dinilai paling bertanggung jawab dalam membentuk selera musik seluruh penduduk nusantara. Sama seperti yang terjadi di keluarga kami. Tiap hari Minggu, kami sekeluarga ketika melakukan aktivitas apapun, cenderung memilih yang bisa dilakukan sembari menonton televisi. Terkadang, kami sekeluarga bahkan tidak melakukan apapun selain semuanya duduk di posisi masing-masing, Bapak dan Ibu di kursi, sedangkan anak-anaknya dalam berbagai pose, mulai dari ikut duduk di sofa sampai menggelesor di atas karpet, semua mata tertuju ke layar kaca, menikmati barisan penyanyi Indonesia yang muncul bergantian untuk berdendang dan bergoyang.

Masih bisa kuingat samar-samar kemunculan grup band yang kini legendaris, Slank, dengan lagu hit pertama mereka, “Suit Suit He He”. Saking terkagum-kagumnya dengan lagu itu, aku dan adikku sampai menulis surat untuk kakak kami yang paling tua yang baru saja masuk kuliah, surat pertama kami untuk anggota keluarga sendiri, dan kami berdua sampai mencantumkan judul lagu Slank itu di bagian akhir surat. Entah untuk tujuan apa, konyol juga rasanya bila diingat sekarang.

Siapa juga yang bisa lupa dengan grup rock asal negeri jiran, Search, dengan hit fenomenal, ”Isabella”? Lagu yang sempat dilarang peredarannya di negeri kita dengan alasan agama. Masih bisa kuingat bagaimana seorang teman sekelas di sekolah dasar, seorang anak perempuan yang tiap kali pelajaran kesenian ketika kami disuruh maju satu demi satu untuk menyanyi, dia akan menyanyikan ”Isabella” dengan penuh penghayatan hingga bercucuran air mata. Sesuatu yang bukan hanya bisa dilakukan oleh Kellie Pickler seorang.

Bagaimana dengan aku sendiri? Malu rasanya bila kini mengingat masa itu, repertoire andalanku ketika giliran menyanyi di depan kelas tiba, adalah lagu-lagunya Julius Sitanggang, mulai dari ”Danau Toba” hingga ”Maria”.

Ada sisi positif juga bertumbuh-kembang di dalam keluarga yang sangat menyukai musik. Keuntungan paling gampang adalah, bisa mendukung pekerjaanku sekarang. Tanpa bermaksud tepuk dada tanya selera (seperti rumah makan padang), aku jadi bisa tahu banyak lagu lintas generasi melebihi yang diketahui oleh atasanku. Bahkan pengetahuan tentang lagu-lagu dan artis-artis musisi yang kumiliki lebih ekstensif daripada petugas talent koordinator kantorku. Terkadang, dia malah jadi repot mencari contact person musisi yang dia belum pernah dengar karena aku yang minta untuk mendukung konsep acara rancanganku. Demikian juga ketika sedang menikmati masa-masa bersantai bersama Dia, entah itu di lounge maupun di nightclub tertentu. Acapkali Dia terkejut dan kagum karena aku tahu lagu apa yang sedang diputar di P.A. atau dimainkan langsung oleh penampil saat itu.

Dan karena selalu ada dua sisi dari setiap cerita, maka tentu saja ada sisi (agak) negatif dari hal ini. Salah satunya yang sempat membuatku malu, adalah ketika jajaran senior management dan direksi salah satu bank terbesar di Indonesia, atas usulan asal-asalan atasanku, memintaku menyanyikan satu-dua bagian dari lagu Dewi Perssik yang rencananya akan mereka jadikan main entertainer dalam acara mereka. Meskipun aku tahu persis lagu apa yang mereka ingin dengar, tapi tidak mungkin rasanya aku memenuhi permintaan yang satu itu. Alhasil saat itu suasana berubah menjadi sangat tidak enak dan kikuk sekali bagiku, ketika para bos itu menatapku menungguku bersuara dan berdendang, sedangkan saat itu dengan ketetapan hati kuputuskan tak akan ada kekuatan apapun di muka bumi ini yang bisa memaksa aku saat itu membuka mulut dan menyanyikan bait demi bait “Mimpi Manis”.

Hidup di dunia bisa jadi belum lengkap tanpa bisa menikmati musik. Namun ternyata, sebagaimana yang dibuktikan sendiri olehku, punya kemampuan yang relatif lebih dalam mengapresiasi musik tidak selamanya berbuah manis. Tapi apakah karena hal itu lantas membuatku kapok dan berhenti mendengarkan musik dan lagu? Jawabannya sudah pasti : tidak mungkin.

Karena bagiku, hidup tanpa musik bagaikan perkawinan tanpa seks.

Thursday, October 23, 2008

Writers Association, for Real


Reality shows may not have the kind of scripts used in conventional TV dramas and comedies, but they do have scripts that plot stories, suggest dialogue, and indicate how the final cut should be framed. Increasingly, those responsible for formulating those scripts in USA’s television businesses are demanding the benefits of the already established TV writers, who formed union under Writers Guild of America.

Well, that’s in the U.S. How about here, in Indonesia?

Jangankan untuk penulis skrip TV program, untuk mewakili SELURUH pekerja industri kreatif di negeri ini saja tidak ada union-nya. Tidak ada organisasi profesi yang mewakili dan menyuarakan hak-hak pekerja industri ini. Cukup memprihatinkan.
Mungkin gara-gara zaman dulu, katanya, Partai Komunis Indonesia mempergunakan berbagai organisasi dan serikat profesi sebagai onderbow pendukung gerakan partai, jadilah sampai beberapa tahun lalu, masih banyak saja yang alergi atau minimal mencurigai, pada upaya-upaya dari sementara pihak yang ingin membentuk serikat pekerja (apapun).
Sekedar gambaran saja, kalau di era Orde Baru dulu, sosok macam Muchtar Pakpahan dan Budiman Sudjatmiko yang aktif memberikan pendidikan organisasi kepada para buruh itulah yang dianggap sebagai simbolisasi bangkitnya kembali kekuatan komunisme di negeri ini (yeah, right! *rolling eyes*).
Lalu bagaimana dengan sekarang? Ternyata mereka sudah berhasil menduduki kursi wakil rakyat di Senayan sana.

Sebagai seorang yang pernah meniti karir di dunia pertelevisian Indonesia, jelas hal-hal semacam ini menjadi perhatianku. Meskipun kini tidak lagi mencari nafkah di dunia tersebut, tapi aku masih punya banyak kenalan yang bertanggung-jawab dalam menciptakan dan memproduksi berbagai program siaran yang menghiasi layar kaca ratusan juta unit televisi negeri ini.
Terkadang kalau bertemu mereka dalam berbagai kesempatan berbeda, biasanya yang sering terucap dari mulut teman-temanku ini adalah berbagai keluhan mengenai pekerjaannya. Yang terlalu menyita waktu lah, yang menguras fisik dan stamina lah, yang bikin stress karena dikejar target rating lah, yang gajinya terasa ga pernah mencukupi lah, dan masih banyak alasan lainnya.

Aku juga punya keluhan sendiri dengan pekerjaanku yang sekarang, tapi setiapkali mendengar curhatan teman-temanku ini, deep down inside aku malah jadi berucap syukur. Masih diingatkan bahwa apa yang kudapatkan sekarang, meski terkadang kurasa tidak memadai, ternyata masih lebih daripada teman-temanku yang lain.

Padahal mulai tahun ini, pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah meminta secara khusus dukungan dari jajaran pembantunya, semacam menteri-menteri dan departemen terkait, untuk mendukung pertumbuhan industri kreatif Indonesia, yang katanya, dan memang ada betulnya juga, sangat potensial sebagai alternatif dalam meningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Tampaknya Bapak kita ini “termakan” dengan fenomena kesuksesan film Ayat-Ayat Cinta, yang katanya secara hitung-hitungan bisnis minimal sudah sekian belas kali melewati BEP-nya.

Namun agak sukar rasanya membayangkan pertumbuhan industri kreatif dengan tingkat yang menggiurkan akan terjadi – dan kalaupun betul kejadian, akan berlangsung secara kontinyu – tanpa adanya keterwakilan dalam bentuk organisasi profesi, seperti pada profesi-profesi lainnya (masa buruh pabrik saja punya asosiasi?).

But for this time being, sepertinya para pekerja industri kreatif (terpaksa) harus berpuas diri dulu untuk terus (dipacu) berkarya demi mengejar Rupiah (bonus kalau target rating terlampaui), demi bisa bertahan hidup (dan berbelanja di mall kelas menengah-atas). Dan mudah-mudahan saja kondisi tanpa keterwakilan ini tidak bertahan lama.
Kabar-kabarnya sih, di Senayan sana sedang ada upaya pembentukan organisasi profesi bagi para pelaku industri kreatif yang dilindungi oleh Undang-undang.

Semoga saja tidak jadi organisasi macan ompong. Karena yang begitu itu sih sudah banyak.

Monday, October 20, 2008

Yang Muda Gemar Bercerita


Setiap kali hasratku memuncak dan membuatku ingin berkencan dengannya, terpaksalah aku harus bersabar menunggu hingga tibanya akhir pekan. Rumah pribadinya yang bergaya etnik kontemporer minimalis (butuh imajinasi berdaya luas untuk bisa membayangkannya hanya dengan deskripsi sesingat ini) berada di luar kota, dan di kota ini ia tinggal di apartemen yang disewakan oleh kantornya. Satu unit beraksen modern minimalis itu ditinggali berdua dengan seorang kolega. “Tak enak kalau bersamamu di apartemen, tak bisa bebas,” itu selalu alasan yang dikemukakannya. Barangkali yang dimaksudkannya dengan bebas adalah ketika berbusana menjadi satu hal opsional. Di rumah pribadinya yang sebenarnya hanyalah berjarak dua setengah jam perjalanan dengan kondisi lalu lintas normal dari pusat kota, tersedia halaman luas dan banyak ditumbuhi oleh semak rerimbunan dan pepohonan berdaun lebat. Merangsang imajinasi kami untuk berfantasi sebagai manusia rimba yang hidup begitu bersahabat dengan alam. Sungguh menciptakan sensasi gairah penuh sensualitas, meskipun selama melakukannya kami harus tetap waspada penuh pada kemungkinan mendapatkan gangguan dari reptilia maupun serangga. Untung saja selama ini tak pernah ada peristiwa buruk terjadi selama kami mencoba melakukannya.

Namun tentu saja, ada satu hal yang sungguh masih sukar untuk kupahami, adalah kenapa kali ini di sini dengan mudahnya aku bercerita.

Saturday, October 18, 2008

At The Section of Forgotten Toys



At the section of forgotten toys
There is a lonely plastic doll in the form of a little girl
Standing alone inside its original wrapping
Still smiling even though its box are covered with dust and its colors gradually fading

It has been abandoned for almost all of its shelf life
Nobody wants any business with it but a little crippled girl
Who once visited the big toy store along with other similar looking children
Has only one arm, or one leg, or simply can not walk and has to be pushed away in wheelchairs

The little crippled girl picked the box with the plastic little girl doll standing alone inside
Her face gleamed with happiness and smile
“Hey, little pretty doll, how are you doing today?”
“My name is Molly and from now on, I want you to be my friend.”

But a grown up woman’s hand picked the box up from Molly’s hands
And return the plastic little girl doll to the shelf along with other plastic toys,
“Not this one, Molly. Because you are allowed to have a more beautiful doll than this.”
And ushered the little crippled girl away

The lonely plastic doll can not remember how long it stays on its shelf
Until one day a big hairy hand grabbed its box and throw it into the small steely cart
Where it stuck on the top and piled up with other deformed boxes of toys
And pushed away into the little dark room where the lights are seldom switched on
And there’s no blowing breeze from the air condition
Where the lonely little plastic girl doll remains untouched
For days, months and eventually, years

At the section of forgotten toys
There is a lonely plastic doll in the form of a little girl
Standing alone and yet it keeps smiling
Because it still remembers Molly,
The little crippled girl who hand-picked and kissed her box
And told her that she wanted to be her friend
Before she was ushered away

Wednesday, October 15, 2008

Ironi Dalam Bungkus "Nasionalisme"

Hari ini seorang teman mem-posting-kan citra berikut di dalam akun Facebook-nya.


Sebagaimana yang bisa Anda baca dan simpulkan sendiri, citra yang di-posting-kan kembali ini merupakan sebuah undangan untuk menghadiri suatu acara sosial pada akhir pekan.

Yang sampai menggelitik perasaan ingin berkomentar, sehingga pada akhirnya menghasilkan tulisan iseng ini, adalah judul acaranya yang mencantumkan ejaan yang lama dan masih belum lagi mengalami penyempurnaan : “SERATOES PERSEN INDONESIA”.

Memberikan kesan bahwa pihak penyelenggara ingin membangkitkan lagi rasa nasionalisme di antara para undangan. Yang harusnya ditanggapi positif, andai saja tampilan dalam undangan tersebut benar-benar sesuai dengan semangat yang ingin diciptakannya.

Namun pada kenyataannya, kesan yang timbul setelah melihat citra tampilan undangan ini adalah sebaliknya. Sebab apabila memang ingin unjuk diri, busung dada, bangga hati, dan ingin memperlihatkan jati diri sebagai orang Indonesia yang 100 persen kadar keasliannya, kenapa body copy undangan ini seluruhnya justru malah mempergunakan bahasa asing ?

Padahal bahasa nasional kita jelas merupakan salah satu identitas bangsa, sebagaimana yang diikrarkan oleh para pemuda dan pemudi bangsa kita 80 tahun lalu dalam Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau yang kemudian lebih dikenal sebagai Kongres Pemuda II.

Kira-kira, apa ya komentar para pemuda dan pemudi Indonesia yang hadir 80 tahun lalu di dalam acara tersebut melihat bahwa kini bangsa yang pembentukannya sangat dicita-citakan itu lebih gemar bertutur dalam bahasa Inggris – dan bukan bahasa Belanda – ketimbang bahasa ibu sendiri?

Tuesday, October 14, 2008

Tapi, ... Tipu !


Jaman dahulu kala, bahkan ketika angka tahun masih ribuan tahun lamanya sebelum Masehi, berdasarkan catatan dalam kitab suci agama-agama Abrahamic, tersebutlah kisah tentang seorang perempuan, istri dari seorang pejabat di kerajaan Mesir, yang memfitnah seorang lelaki gagah nan ganteng yang menolak untuk menghampirinya (bahasa halus untuk tidur bersama / melakukan hubungan badan). Perempuan yang katanya memiliki kecantikan jasmaniah itu ternyata tidak terima “suguhan gula-gulanya” diemohi oleh this hunk, formerly known as her husband’s slave. Merasa terhina dengan penolakan tersebut, dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya, dia melakukan pembalasan nan keji, dengan melaporkan kepada suaminya apa yang menurut dia telah dicoba dilakukan oleh si lelaki: pemerkosaan. Tak perlulah kusebutkan nama sesiapapun di sini, Anda pasti bisa dengan mudah menebak orangnya.

Mari kita fast forward ke sekian millennium kemudian.
What was supposed to be one of the oldest trick in the book(s) – in this case, the books referred to are Torah, Bible and Koran – yaitu pernyataan / kesaksian palsu (alias fitnah) ternyata masih lazim dipraktekkan dalam kehidupan nyata untuk merusak reputasi dan menjatuhkan seseorang, meskipun bisa jadi dengan maksud dan alasan yang berbeda jauh dari contoh di atas. Terkadang, pernyataan palsu ini menimbulkan akibat yang begitu mengerikan, seperti pembantaian massal di Rosewood dan penyerangan pasukan Sekutu pimpinan Amerika Serikat atas Irak.

Apabila kemudian kita mencoba membahas dampak negatif perbuatan hina ini dari sudut pandang ketidaknyataan, alias fiktif, salah satu contoh yang harus disebutkan adalah To Kill a Mockingbird, ketika desakan mayoritas penduduk Maycomb, Alabama, membuat seorang lelaki Afro-Amerika yang dituduh memperkosa seorang gadis kulit putih terpaksa menemui ajal.

Dalam tataran fiktif terkait konteks geografis Indonesia, ada kisah tentang Titian Serambut Dibelah Tujuh, sebuah film klasik dari tahun 1959 karya sutradara Asrul Sani yang di-remake oleh Chaerul Umam di tahun 1982.
Dikisahkan, seorang guru muda yang berupaya mengubah cara berpikir dan sistem pendidikan yang masih kolot (i.e. sangat menekankan aspek agamis) di sebuah desa yang sangat kuat akar keagamaannya, mendapat tentangan sangat kuat dari kalangan yang lebih mapan dan diuntungkan oleh kondisi status quo desa tersebut, salah satunya adalah istri dari si guru tua. Berbagai cara dilakukan untuk menyingkirkan si guru muda, termasuk dengan intrik-intrik keji, yaitu memfitnah si guru muda melakukan perundungan seksual terhadap seorang perempuan. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah si guru muda mencoba memberikan bantuan nafas buatan (CPR) setelah menyelamatkan si perempuan yang nyaris tenggelam. Alhasil, penduduk desa ramai-ramai memusuhi si guru muda dan memintanya angkat kaki dari desa mereka tersebut.

Kita coba fast forward lagi ke sekian dekade kemudian.
Dalam sinetron Cinta Maia yang saat artikel ini ditulis masih ditayangkan di jam prime time salah satu stasiun televisi swasta nasional, dikisahkan seorang perempuan culas yang rela melakukan apa saja agar bisa merebut hati seorang lelaki muda, kaya-raya dan naïf (cliché!), berpura-pura tenggelam agar diselamatkan oleh si lelaki muda, kaya-raya, naïf, DAN pemberani serta jago renang.
Dikarenakan suatu kebetulan yang sangat amat kebetulan sekali, si gadis cantik, baik hati, jujur, pemaaf dan tertindas serta menderita (another cliché, which obviously translated as the protagonist-main role-titular character) yang menaruh hati pada si lelaki, menyaksikan kejadian penyelamatan itu. Dan sesuai harapan si perempuan culas (dan produser, sutradara serta penulis scenario), si gadis cantik lantas mempersepsikan apa yang dilihatnya persis seperti yang dirancang-harapkan oleh sih perempuan culas. Si gadis cantik yang predikatnya harus ditambah dengan ‘bodoh’ itu kemudian menganggap bahwa lelaki muda pujaan hatinya itu bermain air (karena jelas-jelas nyemplung ke kolam renang) dengan perempuan lain. Itu artinya, tipu-tipu si perempuan culas, berhasil gemilang !

Ternyata, ribuan tahun setelah bangsa Israel melepaskan diri dari penjajahan Firaun di tanah Mesir, tipu-muslihat dan fitnah dengan bumbu seks, masih saja menjadi trik yang manjur bin mustajab diterapkan untuk merusak reputasi seseorang (atau subjek plural lain).

Manusia memang paling susah belajar dari pengalaman (dan sejarah).




Bagi para pembaca kritis yang benar-benar mengenal sosok penulis, pasti akan bertanya-tanya, apa yang tidak sedang kulakukan sehingga bisa-bisanya malah membuang waktu dengan menonton sinetron ga penting.

Friday, October 10, 2008

Nobel Peace Prize Winners, Made in Indonesia


Petang itu baru saja aku signed out dari akun surat elektronik Yahoo! –ku, yang akan secara otomatis mengembalikan pengguna ke halaman muka situs Yahoo!, ketika pandanganku tertumbuk pada laman terbarunya yang mencantumkan headline berikut : “Nobel Peace Prize Winner has been announced”. Foto yang menyertai headline itu memperlihatkan seorang pria Kaukasia tua. Unrecognizable. Karena penasaran, segera kuklik link-nya.

Aku diarahkan ke satu laman artikel yang dengan cepat kubaca. Artikel tersebut memberitakan, bahwa baru beberapa jam sebelumnya, Komite Nobel Norwegia mengumumkan siapa sosok peraih penghargaan Nobel Perdamaian untuk tahun ini.

Namanya, Martti Ahtisaari, mantan Presiden Finlandia.
Salah satu alasan Komite memilih Bapak Ahtisaari sebagai pemenang, adalah karena kerja keras beliau yang hasilnya sangat memuaskan dalam mewujudkan kesepakatan perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka dengan pemerintah RI, yang dinilai berhasil dan sukses mengakhiri konflik senjata yang telah berlangsung selama lebih dari tiga dekade.

Selamat untuk Bapak Ahtisaari.

Namun seharusnya, penghargaan bagi Bapak Ahtisaari ini lebih dipandang sebagai tamparan telak bagi bangsa kita. Karena ini menjadi kali kedua nama Indonesia kembali disebut oleh Komite Nobel sebagai alasan yang mendasari penganugerahan penghargaan paling prestisius ini, dan keduanya untuk alasan yang tidak mengenakkan. Baru 12 tahun sebelumnya, Uskup Timor-Timur (dulu) Carlos Felipe Ximenes Belo dan tokoh Fretilin, José Ramos Horta, diumumkan sebagai peraih penghargaan serupa atas upaya-upaya mereka untuk mewujudkan perdamaian di daerah Timor-Timur (sekarang Timor Leste) yang terus bergejolak.

Itu artinya, dalam dua kali kesempatan penghargaan yang berselisih duabelas tahun ini, nama Indonesia disebutkan dalam konteks cenderung negatif dan tidak pantas dibanggakan oleh Komite Nobel. Adalah militer Indonesia yang brutal dan opresif lah yang menjadi “tokoh antagonis” dan penyebab utama ketiga tokoh di atas meraih Nobel Perdamaian.

Andai saja Bapak Pramoedya Ananta Toer yang kabarnya berulang-kali masuk bursa nominasi penghargaan betul-betul berhasil meraih Nobel Sastra sebelum akhirnya dijemput ajal, lengkaplah sudah wajah bengis keantagonisan militer Indonesia. Bagi para penikmat karya-karya Bapak Pram, demikian beliau biasa dipanggil di masa hidupnya, tentu mengerti betul alasannya.

Dan jika saja pemerintah Republik ini, atau elemen-elemen tertentu yang terkait dan memang relatif memiliki power, terus saja melakukan ketidakadilan dan kekerasan di negara ini, bisa jadi di masa yang akan datang kembali lahir peraih penghargaan Nobel berikutnya, made in Indonesia.