Friday, October 5, 2007

Titi Nginung dan Nostalgia Piala Dunia

Bermula ketika aku menyaksikan partai perdelapan final antara Italia melawan Korea Selatan di putaran final Piala Dunia 2002. Kagum rasanya melihat permainan cantik tim Italia yang berusaha tanpa henti menggedor pertahanan tim Korea Selatan yang stamina para pemainnya pantas diacungi jempol. Meskipun ada sedikit rasa kecewa melihat kasarnya performance para pemain Korea Selatan, yang bisa jadi disebabkan oleh tekanan mental dari para supporternya plus tekanan sebagai tim tuan rumah. Wasit yang memimpin permainan pun rasa-rasanya ikut bertindak kurang adil dengan cenderung memihak pada tim tuan rumah.

Saat menyaksikan papan elektronik pergantian pemain yang diacungkan oleh salah satu ofisial untuk memberitahukan kepada wasit ketua bahwa Del Piero ditarik keluar dari lapangan, tiba-tiba terlintas dalam benakku sederet angka : 22-1-19. Kira-kira deretan angka apa ya?

Yap! Aku ingat sekarang.
Bukan, deretan angka itu tidak ada kaitannya dengan judi togel yang angka kemujurannya ditentukan dari Singapura.

Deretan angka itu mengingatkanku pada sebuah novel olahraga yang sangat menarik karya seorang penulis bernama unik, Titi Nginung. Novel yang kupinjam dari perpustakaan distrik dan kubaca ulang hingga lima kali (!!!) selama 3 tahun masa SMP. Novel yang membuatku sangat penasaran untuk mencari tahu karya lainnya dari mba’ Titi. Sayangnya, saat itu tak kutemukan satupun karyanya yang lain di deretan buku kategori bacaan anak dan remaja.
Tapi aku ingat novel Opera Jakarta yang pernah diterbitkan secara berseri oleh harian Kompas, dan resensi adaptasi filmnya sempat kubaca dari majalah Hai zaman baheula, saat isi Hai masih lebih berbobot dan jauh lebih ilmiah daripada yang sekarang.

22-1-19.
Saat aku membacanya untuk pertama kali, entah mengapa aku merasa ’terguncang’. Dan sempat sampai sangat mempercayai isi novel itu sungguh-sungguh terjadi. Bahwa semua hal yang disebut di dalam novel tersebut dapat (atau bahkan sudah pernah) terjadi dalam dunia olahraga Indonesia. Novel ini sungguh-sungguh mengaduk-aduk perasaanku.

Namun pada saat itu aku belum diizinkan membaca Opera Jakarta karena kata kakak-kakakku yang hobi membaca dan kemudian ’menghasut’ ibuku agar melarangku untuk membacanya, isi cerita yang terkandung di dalam Opera Jakarta itu tidak layak kubaca sebelum dewasa. Sebelum aku mencapai 17 plus.
Jadilah aku cuma bisa membaca 22-1-19: lagi dan lagi dan lagi.
Dan semakin pula aku terpesona pada gaya bahasanya, caranya bertutur, dan ’kejujuran’-nya (atau barangkali lebih tepat: ”keliaran” imajinasinya).

Rasa penasaranku diperberat oleh kemisteriusan sosok seorang Titi Nginung, yang di dalam pengantar novel terbitan Gramedia tersebut, identitasnya dirahasiakan. Menjadi sangat samar.

Hingga di awal dekade 1990-an, aku mendengar selentingan kabar mengecewakan dari kakakku bahwa Titi Nginung di-’breidel’. Katanya karena ada permintaan tidak resmi dari salah satu institusi pemerintah negeri ini. Titi dilarang berkarya lagi. Buku-bukunya tidak lagi diberi izin untuk dicetak, meskipun tidak berarti lantas harus ditarik oleh Gramedia dari pasar.

Aku masih ingat bahwa saat itu merasa sangat kecewa, karena hanya sempat membaca 22-1-19.

Hingga kemudian satu hari aku menemukan Opera Bulutangkis di salah satu rak di perpustakaan SMU-ku, tertumpuk di antara deretan buku menguning dan berdebu dalam rak di pojokan yang mendapat status tidak resmi: ”buku tidak laku”. Novel tersebut di-display bersama sejumlah buku yang saat itu (hingga kini) menjadi bagian dari sejarah terlupakan dalam khazanah sastra Indonesia.
Mungkin sekarang kalau diingat-ingat lagi, rasanya berlebihan. Tapi saat aku menemukan buku itu, rasanya begitu penuh semangat yang meluap-luap.
Saat itu juga buku itu kubawa ke counter untuk dicap. Dipinjam. Pertama kalinya setelah hampir lima tahun! Demikian yang sempat kuperhatikan dari stempel penanggalannya.

Setibanya di kamar siang itu, buku itu langsung kubaca dengan penuh perhatian. Nikmat rasanya. Kedengarannya aneh? Memang.
Seluruh perhatianku benar-benar tertumpah pada buku itu sejak kubaca baris pertama. Konsentrasiku tersedot. Dan jantungku terus berdebar membaca petualangan si tokoh utama yang orang Jawa dengan nama yang tidak kalah uniknya dari nama si pengarang: Bajang Kirek. Nama yang eksotis. Meski sebenarnya dikisahkan pemberian nama unik tersebut berkaitan erat dengan latar belakangnya sebagai seorang putra Jawa yang dibuang oleh keluarganya.

Imajinasiku melayang, mencoba mempersonifikasikan seperti apa kiranya sosok Bajang Kirek dalam kehidupan nyata.
Ah, barangkali dia seperti Icuk Sugiarto di tahun delapanpuluhan. Atau Joko Suprianto. Karena saat itu, tahun 1995, mas Joko sedang berjaya sebagai pemain top Indonesia. Dan di tingkat dunia.
Di mataku, sosoknya tampak begitu sesuai dengan karakterisasi fisik si jagoan bulutangkis dalam Opera Bulutangkis. Orang Jawa dengan prinsip hidup yang kuat. Dan sama sekali tidak ganteng :-P

Berdebar sungguh jantungku (swear! ini beneran!) membaca pertarungan antara ”Mas Joko” melawan si Super Robot yang diciptakan dan didesain agar menjadi jago bulutangkis nomor satu dunia.
Yang di kemudian hari membuatku berpikir bahwa Titi Nginung justru seakan-akan telah meramalkan pertarungan serupa antara Deep Blue melawan Garry Kasparov. Sekian tahun sebelum peristiwa bersejarah itu benar-benar terjadi di dunia olahraga catur.
Kagum, begitu maju dan ’liar’-nya imajinasi seorang Titi.

Sekian tahun berselang dan kini, di tahun 2002, kembali nama Titi Nginung mencuat dalam memoriku. Diiringi serangkaian pertanyaan mengganggu :
Siapakah sebenarnya Titi Nginung?
Mengapa hanya sedikit novel yang ditulisnya?
Benarkah isu bahwa dia di-’breidel’?
Mengapa karya tulisnya tidak pernah diterbitkan lagi?
Di manakah bisa kudapatkan novel Opera Jakarta?

Dan ...
Apakah dia masih hidup?




{ Artikel orisinil Titi Nginung dan Nostalgia Piala Dunia pertamakali dipublikasikan online pada tanggal 24 Oktober 2002 di situs Penerbit yang kini sudah tidak aktif. Setelah artikel tersebut ’terbit’, barulah beberapa penggemar buku menginformasikan kepadaku bahwa sebenarnya Titi Nginung adalah nama pena dari Arswendo Atmowiloto }

4 comments:

lely said...

hi
penggemar Titi Nginung juga?
sama dong. Aku sdh baca novel2 nya sejak aku SD. Sayang ya sekarang dia sudah ga aktif nulis, aku kangen sama novel2nya. Kalau ada kabar terbaru, kontak2 ya.
salam.

Ma'R'kO RoM4n3K said...

hi lely.
karya2 titi nginung tidak akan muncul lagi, lebih baik menunggu gebrakan lain mas arswendo. anyway, thanks sudah mau drop in komentar dan baca blog ku yang sederhana ini.
cheers.

abdul malik said...

Titi Nginung kalau tak salah merupakan nama samaran dari Arswendo Atmowiloto.
Ternyata kita sama-sama penggemar Titi Nginung dan majalah Hai.
Novel Titi Nginung tentang sepak bola menarik kalau dicetak ulang, apalagi ada momen piala dunia.Salam hangat.

Andi said...

halo salam kenal...
Iya Titi Nginung memang mas Wendo..
Btw saya memiliki dua buah novel opera bulu tangkis 1985, dan Opera Jakarta 2002 (keluar lagi).. hanya belum membaca 22-1-19, Si Daniel dan Tipi ya?.. dulu sempet baca di Hai taun 83an.. jaman SD. Tapi belum pernah liat novelnya.. ada yang bisa bantu?.. bisa email ke sitraefoe@yahoo.com
THX!