Saturday, February 26, 2011

The Moment, and You




Your transparent brown eyes. Beautiful.
The peeled off painting on the wall as your background. Blistered.
The faint smell of steel. Cold and rusty.
Dust, flying aimlessly, visible under bright rays of the sun. Strange.
The birds chirping outside the window. Unidentified.
This black coffee in a blue mug on the table. Getting cold.

Your body. Leaning forward.
Your face. A little drip of sweat. Smiling.
Your trembling fingers. I noticed a ring.

The memories of adventure on the rocky beach.
Flashy images of naked bodies. Lying. Sunbathing.
An unforgettable image of you.

The beads of sweat dripping from your forehead.
The silently mouthed words.

The decision. The shortest prayer I have ever said.
The stillness of the moment.

The silence. You.

Monday, November 29, 2010

Never Enough




You’re the best love I ever had
You’re my companion during the quiet nights
You’ve become the part of my lifetime of dreaming
Thought I could be your lover, your friend, your brother
Oh what a waste, when your love fades so quick like it’s blown away in midsummer storm

Where can you be?
The thief of my heart
Make me feel like a king again
Happy again
Wipe away my tears and ease my pain

Come back, come back, return to this warm embrace
Because I’d never had enough

Thursday, April 1, 2010

Mereka yang Ditaklukkan


Masih kuingat pagi itu udara sedikit berkabut. Jarum panjang jam baru bergerak menuju angka satu. Hampir pukul enam lewat lima. Sekali dua terdengar celotehan ayam dari halaman tetangga sebelah, saat aku melangkahkan kaki keluar pagar bergegas menuju wartel dekat kos. Rencananya, pagi ini aku mau menelepon Ibu.

Ruangan di dalam wartel itu sendiri agak gelap karena lampu-lampunya sudah dimatikan. Barangkali agar menghemat tagihan listrik, pikirku. Si akang yang bertugas jaga pagi itu sedang sibuk menyapu lantai dengan sapu ijuk butut yang sudah terlihat botak. Sejak pertama kali menggunakan jasa wartel ini hampir dua tahun lalu, sepertinya sapu itu tak pernah berganti. Dengan sapu sebutut itu dan lampu yang sudah dimatikan, bagaimana mungkin dia bisa betul membersihkan lantai semen telanjang tanpa tegel di wartel ini? Ah biarlah, dia pasti sudah tahu itu. Mungkin saja tujuannya bukan betul-betul untuk membersihkan, melainkan agar tubuhnya sedikit bergerak dan ada yang bisa dia lakukan. Pasti membosankan sekali pekerjaan menunggu wartel semacam ini setiap hari.

”A dead end job”, demikian istilah yang baru kudengar dari satu film Amerika yang cakram padat digitalnya kami sewa duaribu rupiah perkeping dari persewaan di dekat gerbang kampus. Artinya kurang lebih adalah pekerjaan membosankan yang tak butuh kemampuan intelektualitas mumpuni untuk bisa menyelesaikannya sehingga tak semua orang mau melakoninya, jikalau tidak karena terpaksa. Tapi apalagi yang bisa dilakukan penduduk asli sekitar sini selain ’melayani’ kami, para pendatang yang lebih beruntung dari mereka? Penduduk asli di sini tidak lebih dari sekelompok masyarakat agraris yang sudah lama ditaklukkan. Bidang-bidang tanah yang dulu mereka jadikan sumber pendapatan sudah lama berpindah tangan ke penguasa. Bidang tanah yang harus kuakrabi selama empat tahun agar beroleh selembar surat sakti yang kuharap dapat membukakan lebih banyak pintu peluang, demi bisa makan enak dan naik mobil mahal. Agar aku tidak berakhir sama seperti penduduk asli tempat ini yang cukup mengambil posisi jadi penonton di tepian, hanya bisa melongo melihat kemajuan melaju cepat meninggalkan mereka.

Hanya ada tiga bilik kecil di wartel itu. Bilik pertama dikhususkan untuk panggilan lokal. Pesawat teleponnya tak bisa dipergunakan untuk menelpon keluar kode wilayah nol-dua-dua, apalagi menghubungi telepon selular. Tak kumengerti mengapa diatur demikian. Padahal kalau bilik pertama itu difungsikan sama seperti dua bilik lainnya, tentu akan lebih besar pemasukan yang diterima. Bilik kedua ternyata ada orangnya. Karena pintunya hanya kaca transparan, bisa kulihat jelas seorang perempuan muda sedang menunduk, kepalanya ditumpukan di telapak tangan. Kulihat angka tarif yang terus bergerak bertambah banyak di depan perempuan itu. Wah, sudah lebih dari tigapuluhribu rupiah. Pasti dia sudah lama tersambungkan, paling tidak limabelas menit. Anehnya, tak kudengar perempuan itu berkata sepatahpun. Mungkin dia sedang diminta menunggu oleh lawan bicaranya.

Bilik ketiga kosong, langsung aku masuk dan memutar nomer telepon rumah. Dinding pelapis yang memisahkan setiap bilik dibuat hanya dari selembar triplek menjadikan pembicaraan apapun yang terjadi di bilik sebelah, bisa terdengar jelas. Meskipun begitu, masih tak kudengar suara dari situ. Namun aku memang sedang berkonsentrasi pada nada panggil di teleponku. Lama sekali tak ada jawaban, karenanya kukembalikan gagang telepon itu ke tempatnya.

Baru pada saat itulah aku mendengar suara aneh di bilik sebelah. Suaranya sedikit mendesah. Lamat-lamat seperti orang sedang menangis. Ah, tak mungkin, batinku. Baru jam enam pagi dan sudah menangis sesedih itu? Ada anggota keluarga yang berpulang, barangkali? Pasti hidupnya sepanjang sisa hari itu akan terasa menyesakkan. Kasihan. Tapi sesungguhnya aku tak ikhlas bersimpati. Soalnya tak kukenal perempuan itu. Setidaknya, bagian belakang tubuhnya yang sempat kulihat itu tak kukenali.

Perempuan itu terdengar begitu susah berbicara. Barangkali karena dia harus menelan tangisnya sebelum bisa mengucap kata, itu pun masih ada isakan-isakan menjeda. ”Kamu kok bisa-bisanya begitu sama aku?” ... hiks ... ”Padahal ...” hiks hiks ”padahal kan aku sudah penuhin semua mau kamu ...” hiks sroot terdengar bunyi ingus yang disedot kembali ke liang hidung hiks lagi ... ”Kamu harusnya ngerti posisi aku juga dong. Gak bisa ...” hiks hiks ”gak bisa kayak gini terus.”

Satu tanganku yang sudah kembali menempelkan gagang telepon di telinga dan satu lagi yang sedang memencet-mencet nomor telepon rumah mendadak berhenti. Wah! Pagi-pagi sudah drama! Ini pasti salah satu kisah asmara yang sedang dilanda prahara. Buset, bahasaku tujuhpuluhan banget ya. Karena terlalu berkonsentrasi dengan suara-suara haru-biru di bilik sebelah, sejenak aku lupa kalau nomor telepon yang kutuju belum kugenapi. Artinya, belum selesai kutekan seluruhnya. Sampai tahun jadi tigabelas bulan juga tak bakal panggilan itu tersambungkan.

Kucoba mengulangi urutan nomor telepon Ibu, sambil telingaku yang bebas difokuskan untuk menguping. Lalu tiba-tiba ...

”Halo?”

Ah, Ibu!

”Hai hoi. ... bla bla bla”, langsung aku mencerocos. Kebiasaanku memang seperti itu setiap kali menelepon ke rumah. Tak kuanggap perlu memperkenalkan diri. Tugas orang-tua lah untuk mengenali suara anak-anaknya. Kali itu pembicaraanku dengan Ibu hanya berlangsung sebentar. Saat kuletakkan kembali gagang telepon, tarif panggilan yang harus kubayarkan tak lebih dari sepuluhribu rupiah. Saat keluar dari bilik nomor tiga itu, kulihat bilik sebelah masih diisi sosok perempuan yang sama, masih dengan pose duduk yang sama. Melihatnya, seolah waktu sempat berhenti, atau jalannya pelan sekali. Bedanya, kali ini tarif bicara yang harus dia bayarkan sudah lebih dari limapuluhribu. Buset, cewek ini pasti sedang menghubungi nomor telepon selular. Pemborosan luar biasa, kalau dia justru nyaris tak berbicara, lebih banyak diam dengan selingan isakan yang ditahan.

Usai melunasi kewajiban pada si akang penjaga wartel, kulangkahkan kaki keluar dan melihat ke kiri kanan. Biasanya ada akang penjual bubur ayam yang lewat membawa pikulannya jam segini. Ah, sayang sekali sosoknya belum kelihatan. Barangkali aku kepagian? Kalau begitu aku balik saja dulu ke kamarku dan tidur lagi. Kuliah hari ini baru mulai jam sepuluh, masih ada waktu untuk kembali menodai bantalku dengan tetesan air liur dari mulutku yang membuka kala tidur. Hah! Jorok? Biarin!

Sembari berjalan kembali pikiranku tertuju pada sosok yang kutemui di wartel pagi itu. Bukan, bukan si perempuan. Sejujurnya, aku tak terlalu peduli padanya. Membuka hati agar bisa ditaklukkan cinta, tentu ada akibatnya. Sakit hati, terluka dan patah hati adalah resiko yang harus siap ditanggung kalau berani menjalin hubungan asmara. Istilahnya, kalau takut jatuh dan luka, jangan mencoba naik sepeda. Berjalan kaki saja terus, dan jadilah penonton saat kehidupan melaju cepat meninggalkanmu.

Yang kupikirkan adalah si akang itu. Pikiran yang diselubungi rasa curiga. Bisa jadi, sebenarnya saat sedang menyapu lantai itu, dia sedang berpura-pura sibuk agar tak kentara sedang mencuri dengar pembicaraan perempuan di bilik nomor dua. Bisa jadi, pembicaraan-pembicaraan semacam itu menjadi selingan, memberi warna beda dalam hidupnya yang monokrom kala menjaga wartel. Bisa jadi, setelah menutup wartel malam itu dan kembali bertemu keluarganya, si akang akan punya cerita untuk dituturkan sembari menyeruput kopi tubruk dan mengisap sebatang rokok kretek. Ah, sebuah gambaran hidup yang terlalu klise, tapi sepertinya cocok dengan si akang. Bisa jadi, di usianya yang mungkin hanya bertaut kurang dari satu windu denganku, pintu-pintu peluang sudah lama tertutup rapat baginya. Dan bisa jadi, pintu-pintu yang masih bisa dia buka dengan leluasa hanyalah pintu-pintu wartel yang punya tiga bilik telepon itu. Pintu-pintu yang hanya kami, para mahasiswa pendatang seperti aku, buka kala hendak berbagi cerita pada keluarga dan kerabat, atau ketika menuturkan rencana dan mimpi-mimpi kepada para sahabat. Hanya sisa-sisa napas dan aroma keringat kami saja yang akan bisa dirasakan si akang ketika membuka pintu-pintu itu. Sedangkan semua cerita dan mimpi yang sempat terucap kami bawa pergi bersama langkah-langkah kami kala meninggalkan wartel dengan tiga bilik itu. Sempat tergelitik imajinasiku untuk bertanya pada si akang penjaga wartel, ”Bagaimana rasanya menjalani hidup sebagai penonton mimpi-mimpi orang lain?” Tapi kuyakin dia akan tergeragap, tak akan dia bisa berikan jawaban atas pertanyaanku itu.

Saat berjalan kaki pulang menuju kos, aku berpapasan dengan seorang bapak tua bercaping dan berpakaian lusuh kotor, sedang memikul cangkul yang terlihat sama tuanya dengan keriput di wajahnya. Dengan basa-basi kuanggukkan kepala dan kupajang seulas senyuman di wajah saat berselisih jalan dengan bapak itu. Satu suara kecil namun tajam berkelebat di dalam benak, ”Ini dia satu lagi orang yang sudah ditaklukkan. Bahkan mungkin dia menggunakan cangkul tuanya itu untuk mengubur mimpi-mimpinya satu persatu.”





Illustration image courtesy of Sam Luce

Monday, March 29, 2010

Love Gravity



I want to meet you in a place where we won’t feel wrapped underneath

Our skins that bleed and ached but they don’t hurt us like before

Inside our hearts there’s no empty room for sadness nor anguish
Our hands closed, admiring the delicateness of our souls, gravity of our lives

Feeling me, you, caressing the familiarity, adoring you me through all darkness

We are lost to each other now, wanting each other, saving you and me


Do I have to give any reason before kissing your soft lips?

Just come here, and let me show you my love once more.

Wednesday, February 17, 2010

Jamie, je t'aime


Dear Jamie,
Let’s meet up by the red telephone booth at the corner of Madison and Grand
From there we can go to our favorite Deli,
where we can eat French fries dipped in lots of ketchup and mayonnaise

“What will you do when you graduate?” ask I.

“Move into Osaka, and watch the Sakura trees blossom.”
“Or enroll to an Ivy League university, so that after I graduate, I can apply to a prestigious company and get handsome salary.”
“Or perhaps I’ll go to Tibet, and becoming a monk.”
“But I’m always curious to try joining the United Nations Volunteers and helping Darfur refugees.”

“But definitely not staying here, because my dreams are too big for this town.”

Oh wait, I hold my breath, why didn’t you tell me that before?

Because Jamie,
I always picture you as someone who I have always wanted to share my life with,
Who will hold my hands and hug me close whenever I needed familiar warmth,
Who will be the first person I see each morning when I wake up.

Can’t you see Jamie,
That’s always the way I feel about you and me.

Thursday, January 28, 2010

Those Three Months, I Remember



As I was walking down this narrow lane of Perugia
Stepping slowly on cobblestones that were set centuries ago
When all of the sudden I was almost ran down by this blue Vespa
Shocked and surprised, I screamed out foul words until this old Italian lady yelled, “Silenzio!”

She made gesture as if flicking a lamp’s switch off
Continued with another sign :
Sliding her thumb and forefinger across her lips as if shutting a zipper

I definitely got the message, didn’t need to ask her
That was a simple gesture I learned in kindergarten over 25 years ago
When our teacher wanted us to shut up and sit down quietly
Before starting the ritual of saying Lord’s Prayer

Instead I waved my left hand that wasn’t holding the brown umbrella
“Mi scusi, Signora,” said I, and walked away hurriedly
Surprised by my own ashamed feeling of having no guts to face this stern old Italian lady
Oh, I haven’t told you it was raining drizzly that day, eh?

A little trivia : I turned 30 that year
So I decided to give myself a birthday present
It was a 3 months vacation to Italy
The country that gave birth to a grand man
That millenniums later is known universally as an operation technique he was named after

It was surely the most amazing 3 months of my life
Good time partying with young people, citizen of the world
Strolling down traditional market, pocketful of loose changes with no idea what to buy
Flirting using sign language with a beautiful girl whose sad face framed with auburn locks,
Because she doesn’t speak English, and deaf ever since five

I can guarantee you, what a feat it was
Intellectually challenging, such a test to patience
Yet we could still find ways to communicate and
To share this love that knows no boundaries of races, religions or political views

It was the most amazing 3 months in my life
Because I could forget all my worries back home
Leaving them behind, and only have tomorrows to look upon
It was the time when horizon seems far enough, yet within reach

It was still a jolly good time when the last day finally arrived
As I sat down on Leonardo da Vinci airport’s cold steel bench
These random thoughts passing through my mind like cold wind blown from the sea,
“Hope I can return to this magnificent country, which cities are as old as civilization itself,”
“Hope that when I return, I will fall in love all over again with the beautiful life Italy has to offer ..."

“Oh, shoot! Hope I didn’t impregnate that beautiful deaf girl!”

Ah, questa dolce Vita!






Photo illustration courtesy of C.G. Salon in Fayetteville, Georgia, U.S.A.
Used for non-commercial purpose without permission.

Wednesday, September 2, 2009

You Are What You Read of 2009


I know it’s only September, and the end of 2009 is still 3+ months away. But when a friend tagged me in one of her notes – which I copied and pasted below, but obviously changed her answers with my very own first – I was tempted to give it a shot.

The rules are simple: you have to answer these following questions using only book-titles which you have read in 2009. You are also expected not to repeat the titles.

Piece of cake, right? And now, you can read my answers. Here they go!

* * *

Describe yourself: The Great Gatsby (F. Scott Fitzgerald)

How do you feel: Possible Side Effects (Augusten Burroughs)

Describe where you currently live: Ghost World (Daniel Clowes)

If you could go anywhere, where would it be: The Mysteries of Pittsburgh (Michael Chabon)

Your favorite pastime: Sex After Dugem – Catatan Seorang Copywriter (Budiman Hakim)

Your favorite form of transportation: The White Tiger (Aravind Adiga)

Your best friend is: Spring-Heeled Jack (Philip Pullman)

You and your friends are: The Three Robbers (Tomi Ungerer)

What's the weather like: Silence (Shusaku Endo)

You fear: The Catcher in The Rye (J. D. Salinger)

What is the best advice you have to give: Almost Everything (Joelle Jolivet)

Thought for the day: More About Nothing (Wimar Witoelar)

The most precious thing in your life: Egg in The Hole (Richard Scarry)

How you would like to die: When You Are Engulfed in Flames (David Sedaris)

Your soul's present condition: Dan Damai di Bumi! (Karl May)

* * *

Not only very easy, this is also fun. Don't you think so? So why don’t you give it a try?

Rambut Lego


Semakin panjang rambutku, akan semakin lama waktu yang kubutuhkan di depan cermin setiap pagi, sebelum berangkat keluar rumah. Tujuannya, bukan sekedar kegenitan mematut-matut diri, tapi untuk merapihkan rambut, atau untuk mengaturnya agar tampak sesuai dengan kostum yang dikenakan hari itu. Maksudnya, kalau sekedar pakai t-shirt dan jeans doang, ya dibuat sedikit acak-acakan seperti orang yang baru bangun tidur langsung berganti baju dan keluar rumah, tak mengapa; tapi kalau sedang ada schedule khusus dan musti tampil rapi karena harus bertemu klien atau dinner di tempat-tempat eksklusif bersama pasangan, tentu saja penataannya juga harus disesuaikan.

Namun belakangan ini jarang sekali aku bisa mengatur tatanan rambut sesuai keinginan dengan cepat dan mudah. Masalah utama adalah karena kondisi rambutku yang kering dan kasar, sama sekali bukan tipe yang layak untuk dijadikan model iklan shampoo. Mungkin saja ini akibat pengaruh sejak zaman dahulu kala, selalu berpanas-panas nyaris tak pernah pakai topi ketika sedang melakukan aktivitas di luar ruangan, dan paling malas merawat rambut di salon, karena di kamar mandi pribadi saja benda yang namanya conditioner itu lebih sering tidak ada.

Jadi teringat salah satu foto jaman masih kanak-kanak dulu, rambutku yang ikal (curly & wavy) bila dibiarkan tumbuh panjang akan mengembang sedemikian rupa, sehingga apabila dilihat dari jarak jauh lebih mirip pentul korek api atau seorang anak yang sedang mengenakan helm. Bahkan di awal tahun sembilanpuluhan, ketika sedang berkunjung ke rumah Kakek dan Nenek, salah seorang kerabat jauh mengira bahwa anak kecil yang sedang ribut pukul-pukulan dengan seorang anak lainnya di hadapannya saat itu adalah seorang anak perempuan tomboy, berkat kondisi rambut yang megar mengembang membahana. Padahal anak kecil yang ribut itu aku. Ugh!

Tadi pagi, sebelum akhirnya berangkat menuju kantor, kuputuskan untuk mengatur rambut rapih saja, dengan belahan di samping kanan seperti anak sekolahan atau mereka yang bekerja di sektor formal lainnya, meskipun hari ini sebenarnya aku mengenakan t-shirt dan jeans dan sneakers. Sesungguhnya, a very casual look. Penataan rambut belah samping, sedikit berponi menutupi dahi dan teratur rapih yang seringkali kusebut sebagai model rambut Lego. Dan bila mengingat seperti apa warna aseli rambutku, tentunya gaya rambut seperti ini akan semakin membuatku tampak lebih tua lagi daripada umurku yang sesungguhnya.

Sigh.



Note: image courtesy of squarecircle.

Tuesday, September 1, 2009

"Isn't it ironic? Don't you think?"


"An old man turned ninety-eight
He won the lottery and died the next day"

Pada awalnya kupikir dua baris pertama lirik lagu Ironic, yang diciptakan sekaligus dinyanyikan sendiri oleh Alanis Morissette, semata adalah buah dari kejeniusannya dalam menulis lirik. Hingga lebih dari satu dekade kemudian, ketika dari aktivitas browsing iseng kutemukan kisah tentang Wayne Schenk.

Wayne Schenk adalah seorang pria Amerika yang berdomisili di negara bagian New York. Usia purnawirawan angkatan darat ini ‘baru’ 51 tahun ketika ajal menjemputnya, akibat sakit kanker paru-paru yang tak bisa disembuhkan.

Pada bulan Desember 2006, Wayne yang lima minggu sebelumnya didiagnosis kanker paru-paru stadium akhir dan divonis dokter hanya akan bertahan hidup kurang dari satu tahun lagi, membeli sebuah tiket lotere senilai US $ 5. Tanpa diduga oleh siapapun, apalagi olehnya sendiri, ia berhasil memenangkan hadiah utama lotere senilai US $ 1 juta! Mengetahui nilai kemenangannya, ia pun merencanakan untuk menggunakan hadiah uang tersebut untuk membayar biaya perawatannya di institusi khusus perawatan penderita kanker terbaik di New York.

Namun niat Wayne tersebut tak dapat diwujudkan, karena peraturan lotere menyatakan bahwa pemenang hadiah akan dibayar dalam 20 installment tahunan masing-masing senilai US $ 50.000 (dicicil selama 20 tahun). Sementara itu, penghasilan Wayne dari uang pensiun dan pendapatannya sebagai pemilik kedai minum lokal tak cukup memadai untuk menutupi biaya pengobatan di institusi kanker kelas atas yang ia inginkan. Terlebih lagi, Wayne Schenk ternyata tidak memiliki asuransi jiwa.

Meskipun uang kemenangannya dari lotere Negara Bagian New York tidak bisa ia dapatkan sekaligus sesuai rencana semula, setidaknya Wayne masih sempat mengambil satu langkah yang dianggapnya sangat penting : ia menikahi teman wanitanya sejak lama, Joan DeClerck, pada tanggal 4 April 2008, agar kelak uang hadiah lotere tersebut dapat diwariskan kepada orang yang benar-benar dikasihinya.

Kondisi tubuh Wayne di hari pemberkatan pernikahannya itu sudah sangat lemah, sehingga ia harus mengenakan tabung oksigen agar dapat terus bernapas. Di akhir bulan yang sama, hanya sekitar dua minggu setelah menikah, Wayne Schenk pun menutup mata untuk selamanya, kurang dari empat bulan setelah berhasil memenangkan lotere 1 juta dolar.

"And life has a funny way of helping you out when You think everything's gone wrong and everything blows up in your face

...

Life has a funny, funny way of helping you out
Helping you out"

Friday, August 28, 2009

Of Feelings & Things



As I was walking down the nearly empty city streets
Which were wet again because of the heavy rain
When the skies above this city turned into the usual cloudy and grey
The rainwater pooled on the cracks of the pavement faded into dark

I kept walking searching for some place I can call my comfort zone
A simple place I can call my own, and ours
Where time and space will pass us by when we see eye to eye
Where happiness and love are everywhere, surrounding us
Where you will give me the reasons to live,

And to recognize the whole mutual feelings we share and things we have as love.


Thursday, August 27, 2009

Karena Tidak Semua Hal ...


Petang ini, Dia berangkat ke Singapura bersama sahabatnya, J.

Rencananya, mereka akan menghadiri reuni sekolah menengah atas, untuk merayakan satu dekade kelulusan. Beberapa sahabat Indonesianya yang lain sudah sejak beberapa hari – bahkan minggu – lalu berada di sana.

Sekitar satu jam lalu aku sempat menelpon Dia, yang ternyata masih berada di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta. Tampaknya penerbangannya di-delay, karena sepuluh menit sebelum jadwal keberangkatan, para penumpang masih belum diminta untuk boarding. Dia sedikit kesal, karena belum sempat makan malam dan sepertinya mulai merasakan lapar. Ketika kutanya mengapa Dia tidak makan terlebih dahulu tadi, jawabnya karena Dia sudah berjanji untuk makan malam bersama para sahabat setibanya di Singapura. Hhmm, meskipun sedikit kesal-kesal tak jelas, namun aku tak berkomentar lebih jauh.

Di tengah-tengah perbincangan yang kurang beresensi untuk mengisi waktu sebelum Dia boarding, kembali diutarakannya pertanyaan itu: oleh-oleh apa yang kuinginkan dari sana. Secara sembarangan kujawab saja, minuman keras! Dia langsung menggerutu dan menolak membawakan barang itu. Kukatakan padanya, tak perlu membawakanku buku apapun dari Borders, karena aku masih punya stok buku bacaan untuk dua tahun kedepan! Lalu Dia menawarkan coklat, tapi kutolak. Tetap kuminta: minuman keras! Namun sebenarnya, ini betul-betul permintaan sembarangan. Apabila Dia tak memenuhinya pun, tak apa.

Karena jika Dia pulang dengan selamat ke tanah air hari Senin depan dan bertemu lagi denganku lantas kami bisa kembali berpelukan erat, aku sudah sangat senang dan bersyukur. Karena aku masih percaya, tidak semua hal bisa diukur dengan kepemilikan materi.

Tuesday, August 25, 2009

Kebetulan Yang Tak Menyenangkan


Saat semua penonton tercekam oleh kebengisan dan ketidakmanusiawian Esther dalam menghabisi para korbannya dengan sistematis dan penuh presisi, pikiranku justru diliputi oleh kekalutan, karena alam bawah sadarku mengirimkan sinyal-sinyal bahwa aku sesungguhnya tahu jawaban dari misteri di balik sosok gadis kecil yatim piatu tersebut.

Dan betul saja! Ketika terungkap siapa Esther sesungguhnya, hatiku justru melenyos.

Karena plot yang mirip dengan mengandalkan kondisi fisik khusus sang karakter antagonis sebagai trik ”tipuan” sudah pernah kupikirkan sejak beberapa bulan lalu! Bedanya, saat itu aku masih belum menemukan apa istilah kedokteran untuk menjelaskan kondisi fisik khusus tersebut; dan sialnya, kini jawabannya justru kutemukan dalam film Orphan.

Hiks hiks, artinya kerangka cerita thriller yang sempat kukembangkan dalam pikiran dan pernah dipaparkan secara sangat singkat dalam salah satu entry blog-ku, terpaksa disingkirkan jauh-jauh untuk selamanya.

Damn you, Alex Mace!

Thursday, August 20, 2009

Strength & Beauty, Before Brain


Film G.I. Joe The Rise of Cobra sungguh keren dan bagus banget ... bagi mereka yang tidak lebih pintar dari anak kelas 5 SD.

Bagi mereka yang merasa lebih cerdas, tentu dengan mudah menyadari, betapa konyolnya cerita film ini.

Salah satu contoh kekonyolan itu adalah: ternyata tidak perlu otak cerdas untuk dapat diundang menjadi anggota G.I. Joe. Padahal, sebagaimana yang dikatakan oleh General Hawk kepada Duke dan Ripcord, tidak bisa sembarangan orang masuk dan bergabung ke dalam organisasi elit ini.

Bayangkan saja, pasukan Cobra Commander menyerbu The Pit, markas besar berstatus super rahasia milik G.I. Joe yang berlokasi di bawah gurun pasir di dekat piramida di Mesir. Scarlett terlibat baku-hantam habis-habisan melawan Baroness. Melihat bagaimana keduanya sampai jungkir-balik karena berusaha saling menjatuhkan, bisa dibayangkan all those cuts and bruises they were obviously have to endure afterwards. Sewajarnya, dibutuhkan setidaknya waktu antara dua hingga tiga hari untuk mengobati luka dan menghilangkan bekas memar serta lebam di wajah dan sekujur tubuh.

Ternyata oh ternyata, tidak lama kemudian Scarlett terlihat cantik dan rapi seperti baru saja keluar dari salon ketika dirinya bersama Ripcord sedang berjalan-jalan tanpa tujuan di dalam The Pit. Aku tahu betul bahwa "waktu" itu relatif: sekian tahun dalam kehidupan nyata bisa berlangsung dalam hitungan detik di film. Yang jelas, diperlihatkan bagaimana mereka berhasil menduga siapa pihak yang berada di balik penyerangan The Pit.

Ini berarti, dugaan tentang dalang di balik serangan baru muncul beberapa hari kemudian (meskipun 'waktu" dalam film itu relatif), sehingga segala macam bekas luka dan memar di wajah Scarlett telah hilang dan keelokannya telah pulih seperti sediakala. Secara implisit, ini sama saja dengan menyatakan bahwa orang-orang G.I. Joe begitu bodoh sehingga butuh waktu lama untuk bisa menduga siapa dalang penyerangan sesungguhnya.

Atau, kalaupun dugaan tersebut muncul dalam waktu singkat, misalnya satu hari setelah penyerangan; ini berarti bahwa di The Pit ada fasilitas semacam spa dan salon kelas wahid yang mampu menutupi sempurna bekas-bekas luka memar yang sewajarnya baru muncul sekitar 1x24 jam setelah ditonjok habis-habisan, seperti yang dialami Scarlett.

Jika kemungkinan terakhir ini yang betul, berarti seharusnya waktu itu Rihanna menghubungi spa dan salon The Pit ini untuk menutupi luka-luka yang dideritanya ketika habis berantem dengan Chris Brown, supaya dia bisa tetap tampil di Grammy Award yang diadakan Maret lalu, dan di hadapan para penggemar fanatiknya di Jakarta.

Baroness, Rihanna dan Scarlett.

Wednesday, August 19, 2009

Alfonso, Alfonso.


Untuk ‘merayakan’ hari berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-64, di minggu hari merdeka kuputuskan untuk membaca satu buku yang kunilai cukup mewakili semangat kebangsaan dan nasionalisme. Judulnya Kopi Merah Putih Obrolan Pahit Manis Indonesia, karya sekumpulan orang yang menamakan diri mereka Indonesia Anonymous.

Berhubung judulnya saja sudah ‘obrolan’, isi buku ini ya semacam rangkuman dari perbincangan iseng ngalor-ngidul tentang hal-hal yang (seharusnya) menjadi isu penting di negeri ini. Namun ternyata, selain topik tentang listrik dan pendidikan, mayoritas pembahasan tidak terlalu menarik perhatianku. Yah, namanya saja ‘obrolan’, tidak memberikan lebih daripada saran-saran ideal. Kurang menarik lah kalau ”cuma” begini doang, pikirku.

Lalu tiba-tiba aku tersentak. Kaget! Bukan karena content buku itu, melainkan oleh benakku yang baru saja mengingatkan bahwa tadi sore buku ini diendus-endus dan dijilat-jilat sampai basah oleh Alfonso. Wedew! Langsung poseku yang tadinya santai membaca sambil tengkurap, bangun dan refleks melempar Kopi ke lantai. Meskipun kemudian, ketika aku teringat satu fakta ilmiah bahwa seharusnya mulut Alfonso lebih bersih daripada mulutku sendiri, dengan perlahan kupungut lagi buku itu dan kembali membalik halaman-halamannya untuk mulai kembali melanjutkan membaca.

Pertanyaan sekarang: Siapakah Alfonso?

Jawaban: seekor anjing golden retriever berusia 8 bulan yang bertugas menjaga Oakwood Plaza, bergiliran dengan seekor doberman dan seekor rotweiller.

Si Alfonso ini lucu sekali! Dia selalu tampak diam-diam saja atau sambil mengendus-endus jalan yang dilaluinya saat dibawa oleh petugas keamanan yang memegang talinya. Tapi begitu bagian kepala dan belakang telinganya digaruk-garuk sambil ditepuk-tepuk, dia akan mulai memperlihatkan sifat aslinya yang lucu. Tidak bisa diam dan minta diajak bermain. Pertama kali kuajak dia bermain saat itu, lenganku digigit-gigit sampai basah berlumuran liurnya. Mungkin karena lengan bawahku terlalu kurus, mirip tulang. Saat hendak kutinggalkan, Alfonso tampaknya malah protes dan mencoba melompat ke tubuhku hingga ia berdiri dengan kedua kaki belakangnya. Aduh lucunya! Alangkah menggemaskannya!

Mendadak jadi pengen punya anjing golden retriever milik sendiri yang bisa diajak main kapan saja aku suka. Tapi setelah dipikir-pikir, anjing ras macam ini butuh modal lumayan untuk membuatnya tetap lucu dan menggemaskan. Jangan sampai karena diberi makan nasi padang seperti kesukaan majikannya, lantas bulu-bulunya rontok. Kasihan dia nanti.

Selain Alfonso si golden retriever, aku juga sempat berkenalan dengan si rotweiller. Tapi dia begitu pemalu, selalu mencoba menjauh setiap kali kucoba membelai dan menepuk kepalanya. Entah karena takut, atau ada alasan psikologis keanjingan lainnya? Yang jelas, tidak seru rasanya mengajak seekor anjing bermain, atau minimal bersalaman, apabila semakin didekati dia malah semakin menjauh.

Alfonso dan teman-temannya mulai bertugas menjaga Oakwood Plaza belum terlalu lama. Kalau tidak salah, sekitar 2-3 minggu setelah serangan bom di Ritz-Carlton dan J.W. Mariott Hotel. Berhubung lokasinya yang berdekatan, kurang-lebih hanya 100 meter dari tempat kejadian perkara, pihak management Oakwood Plaza sepertinya tidak mau mengambil resiko, dan memilih untuk meningkatkan pengamanan hingga berlapis-lapis. Bayangkan saja, berdasarkan pengamatan sederhana dan perhitungan kasar, paling tidak selalu ada 12-14 orang security guard yang bertugas menjaga dan mengawasi setiap pintu masuk dari area luar (tidak termasuk petugas keamanan yang berjaga di setiap pintu masuk ke dalam setiap establishments). Masing-masing empat orang petugas di area keluar-masuk kendaraan, dan dua orang untuk setiap area keluar-masuk pejalan kaki.

Terlalu berlebihan? Tidak juga. Ini penting mengingat Oakwood Plaza memiliki Loewy, yang menjadi salah satu tujuan favorit bersenang-senang orang-orang asing / ekspatriat di Ibukota. Dan Loewy ini, jujur saja, tanpa pengamanan ketat dari para security guards, akan terlalu terbuka dan rentan untuk menjadi target serangan para bajingan pengecut yang mimpi masuk surga itu. I love hanging out at this place, not only at Loewy, but in the place as a whole. Oleh karena itulah, selalu kuusahakan untuk tidak merasa keberatan dan terganggu setiap kali harus membuka tas di hadapan para petugas pengamanan itu, dan selalu tersenyum setiap kali mereka selesai memeriksa tasku dan mengucapkan terima kasih. Mereka – dengan menyadari segala resiko pekerjaannya – sedang menjalankan tugasnya untuk menjaga keamanan dan kenyamanan para pengunjung Oakwood Plaza. Dan tentunya, bekerja dengan tekun termasuk ibadah, bukan?

Hhmh, jadi pengen bermain-main dengan Alfonso lagi.

Monday, August 17, 2009

Lupa, Lalu Teringat



Tadi pagi, sekali lagi aku lupa membawa kacamata, dan baru menyadarinya saat menyalakan komputer di kantor. Awalnya sempat mengalami kebingungan ketika melihat meja kerjaku, dan tidak menemukan kacamata yang biasanya kalau sedang tidak bertengger di pangkal hidung, tentu sedang tergeletak di atas meja di sebelah keyboard atau di atas mousepad. Satu-dua detik kemudian, baru kusadari kalau kacamata itu ketinggalan di atas meja di depan TV di kamar. Darn!

Ini adalah kejadian kedua dalam satu bulan belakangan ini. Tampaknya sudah menjurus ke stadium parah nih tingkat kelupaan yang ku-”derita”. Padahal kacamata kan jelas-jelas penting sekali bagiku untuk menunjang aktivitas kerja. Koq ya, bisa-bisanya ketinggalan? Itu nyaris seperti keluar rumah dan berjalan-jalan ke mall tapi lupa mengenakan celana dalam.

Aneh? Ternyata tidak juga.

Barusan akhir pekan lalu kualami di gym. Setelah membuka locker dan membuka kaos yang kukenakan untuk diganti dengan kaos khusus berolahraga, barulah tiba-tiba seakan bunyi ”tring!” berdenting di dalam batok kepala, dan aku tersadar kalau ketika bersiap-siap paginya, aku lupa memasukkan celana dalam ganti yang masih bersih ke dalam tas gym. Akhirnya, selesai gym aku pulang dengan going commando.

Beneran pulang? Tidak juga.

Aku malah sempat berjalan-jalan dulu ke sebuah trade center untuk mencari kaos-kaos murah untuk dipakai berolahraga atau sekedar santai saat akhir pekan.

Kata orang, jalan-jalan tanpa mengenakan celana dalam akan berasa adem sedikit.

Kataku? Tidak juga. Parno malah. Takut tiba-tiba mengalami kesialan dan celana robek, dan terpampanglah selangkangan ini. Uh, malu-maluin dan mudah-mudahan tidak akan pernah kejadian.

Tapi kalau kelupaan membawa kacamata dan celana dalam tadi sudah bisa disebut parah, lalu bagaimana dengan kejadian yang kualami pada suatu hari, ketika menjelang tengah hari baru aku menyadari bahwa aku lupa menarik risleting celana panjangku, sejak setelah buang air kecil pagi harinya persis sebelum berangkat keluar kamar?

Astaganaga!

Itu artinya, sepanjang kurang lebih satu kilometer perjalananku ke kantor dengan berjalan kaki dan selama sekian jam hingga aku menyadari kealpaan itu, risleting itu menganga terkewer-kewer?!?!

Rasanya panik dan sungguh malu.

Sepertinya memang tidak ada teman kantor yang memperhatikan "kondisi khusus" tersebut, tapi bagaimana dengan mereka pengguna jalan lainnya? Uff. Mudah-mudahan tak ada orang yang kukenal atau mengenaliku tadi saat aku melintas di depan kendaraan mereka dengan risleting celana yang belum terkaitkan. Mau ditransfer kemana mukaku ini nantinya?



*Image was taken from Allie is Wired The Entertainment Blog,
featuring extreme close up of Brad Pitt's unzipped pants
while he was promoting The Curious Case of Benjamin Button in France.

Wednesday, August 12, 2009

The Pretty Face in Those Stupid YouTube Videos


I saw and walked past a strange looking guy this morning while walking to the office. He looked awful, uncombed hair, wore worn out clothes, has sunburned skin, and unshaven. Simply put, he’s a total mess. He bent down on the sidewalk and wrote on it with a piece of chalk “Effendy”. I don’t know whether he wanted to tell the passerbys his name or else, but obviously, I don’t want to find out.

I saw a strange video in YouTube this afternoon. There’s a young girl in it. Obviously, she recorded the video and uploaded it herself. She also looked like a mess, all teary and runny nose, awfully looking hair. However, one can see that she used to be pretty, even though her sandy colored hair made her look ugly and silly. She started lip-synching to Christina Aguilera’s “Hurt”, which made her cried even more. I noticed in an instant, who she really is. Her recent broke up with his boyfriend already made small ripples in tabloids and gossip shows.

Now, I don’t feel pity or sympathy to that “Effendy” guy, because my mind is too busy thinking about other things. It’s already cluttered with half-baked creative ideas for a pitch for a provider’s new campaign. And come to think of him again, I’m not even half sure that he’s a nut.

As to the the girl in the video? Why should one feel pity towards her? She knew exactly what would come upon her if public watched her videos, yet she still uploaded them to YouTube. The public love to judge others, especially performers and entertainers. And it certainly won’t help being a former child idol, a has been soap opera megastar like you. The public don’t have pity on your “kind”, who we judged as a has been, a used to be, the failed one. You know how much the public is consisted of harsh critics. So when you acting up all like that, we as the public, laughed hard. Everybody loves laughing at losers, your "kind", because that makes us feel better.

My simple advice to you, pretty face in those stupid YouTube videos: cheer up!

I still remember your - supposedly - killer looks while watching the premiere of Sex and The City The Movie, together with your friend Velove. What you really need to get through all this diminishing stardom and subsequent mental breakdown is Mariah Carey. Everyone knows how she had fallen hard from grace, and surprisingly, bounced and made a solid come back. Look at where she is now.

You see, life’s been treating you very well in your childhood and teenage years. Who knows what has been reserved for you in years to come? Just hang on there.

Oh, and one more thing. Never upload other silly videos like the ones you did before this. They’re plain stupid.



Disclaimer: The image above is not the person I'm referring to in this writing.

Tuesday, August 11, 2009

Probably The Only Indonesian Ever to Read "The Mysteries of Pittsburgh"



A guy whom I befriended with in goodreads recently sent me an online message. He noticed that I had just finished reading this novel by Michael Chabon, The Mysteries of Pittsburgh. Apparently, this guy works in a local publishing company. He said that his company wants to translate said novel into Bahasa and subsequently publish it in this country. He also asked me whether I have time to read their translated draft and give comment.

Remembering how I keep breaking promises, even the ones I made myself for my own good, I simply refused. But I gave him a very different reason. I told this guy, that I can’t imagine this novel being published in Indonesia. Not because it dealt with certain issues like the Jewish mob organization or homosexuality among young men (hey, we’ve seen and read enough about them already!), but because it’s probably going to be “religion-sensitive” case.

You see, one of the novel’s supporting characters is an Arab guy who happens to be a quite flamboyant homosexual. I don’t care what Mahmoud Ahmadinedjad said, but different sexual preference is not race-exclusive. What I found most unsettling about this character that might wreak havoc and cause storm of protests among many Indonesians, is because this Arab gay guy’s name is Mohammed – quite similar with the name of Islam's highest prophet.

Even though I have to honestly admit, that if readers set the Arab gay guy issue aside, this novel may make a good read. It has romance (though more about confused love interests between male-male-female), a little bit of action (a chasing scene involving a police helicopter), talks about the search for personal identity and coming-of-age, intimate feelings (losing the one you loved most), and tragic death. To make it short, a complete novel.

Somehow, I found it quite a relief that probably, I’m the only Indonesian who ever read this novel.



Images were taken from various sources, depicting scenes in the movie adaptation of "The Mysteries of Pittsburgh".

Monday, August 10, 2009

Why Would I ?



And when you said those parting words
I was so stunned,
Could not believe I have to accept this fate
Felt like someone just pulled the rope of the black bell and it tolled
Loudly, deafening, and then it stopped abruptly
And then the world fell in silence all of the sudden

You made me wanted to take myself away, far from this place
To somewhere else, near or far, anywhere but here
Where there were lights, shone brightly forever
Where darkness only be seen in strange forms of shadows
Where the end is predictable and controllable, and comes only if you wish for it
Where I don’t have this feeling of needing you by my side

Because why would I want you to be here, just to lose you again?

Monday, August 3, 2009

Simulakra


Masih kuingat dulu ketika baru mulai masuk sekolah dasar, lewat hobinya mengisi teka-teki silang di Kompas Minggu, Bapak ‘menularkan’ hobinya membaca koran kepada kami anak-anaknya. Namun apabila dicoba mengingat-ingat kembali, sebenarnya ketertarikanku itu secara khusus dimulai dari keisenganku menggambarkan kacamata, kumis dan jenggot, serta memberikan tahi lalat di wajah sosok siapa saja yang menjadi foto utama di bawah headline. Biasanya keisengan ini berbuah omelan panjang lebar dari Ibu sebagai respon terhadap keluhan Bapak, yang terkadang masih pula ditambah dengan cubitan-cubitannya yang tajam menyakitkan, tapi entah mengapa, gagal membuatku jera.

Sekian tahun berlalu, akhirnya minat membaca koran yang sesungguhnya dan sebenar-benarnya bertumbuh, meski tentu saja, tidak bisa dan tidak akan kubaca semua artikel yang dicetak di dalam koran edisi manapun. Biasanya, selain berita utama, perhatianku lebih tertuju pada kolom Apa & Siapa, komik setrip serta Obituary. Terkait dengan yang terakhir itu, mohon jangan ditanya mengapa, karena aku tak bisa menjelaskannya. Yang jelas, Kompas Minggu adalah edisi paling menarik buatku untuk dibaca apabila dibandingkan dengan suratkabar lainnya.

Nyaris satu dekade mengonsumsi harian ini tanpa perlu berbagi dengan Bapak, khususnya di setiap edisi Minggu, lama-lama mulai terbaca ”pola” tulisan-tulisan yang dimuatnya. Para penulis (’reguler’ dan ’langganan’ ?) yang artikel-artikel humaniora dan budayanya seringkali dimuat Kompas, nyaris setiap saat mengutip pendapat para filsuf asing, seperti Nietzsche dan Baudrillard.
Jadi teringat dulu ketika masih duduk di bangku kuliah, nama kedua orang ini memang sering didengung-dengungkan oleh para dosen maupun rekan-rekan aktivis, tapi aku tak pernah bisa ingat dalam konteks apa (barangkali, postmodernisme) dan tak bisa peduli mengapa. Apalagi bila ada yang berbicara tentang Dialektika. Hah, makhluk macam apa pula itu?

Saking begitu seringnya nama kedua tokoh filsafat tersebut muncul dalam beragam tulisan dari para penulis yang berbeda-beda, membuatku sering bertanya-tanya sendiri, sebenarnya beliau-beliau ini dijadikan referensi karena konteksnya memang betul-betul cocok dan memperkuat serta memperkaya tulisan-tulisan tersebut, atau hanya karena si penulis ingin bermegah diri dan dianggap intelektual, atau menjadi sebagai semacam syarat tidak tertulis dari Dewan Redaksi Kompas agar tulisan-tulisan tersebut dianggap kredibel??

Monday, July 27, 2009

Ada Apa Dengan "Anda" ?


Salah satu aspek paling menarik terkait profesi resmiku, adalah tantangan secara simultan terhadap keluasan wawasan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Memang ada sih beberapa tugas penulisan naskah yang terasa datar dan membosankan karena sudah ada pakemnya dan tidak boleh melenceng sedikitpun dari jalur tersebut, tapi banyak juga yang tidak.

Misalnya pernah ada kejadian dalam satu minggu, aku harus memahami setidaknya tiga hal: latar-belakang munculnya fortune cookies dalam dunia kuliner, segmen kisah ”Hanoman Obong” dalam cerita pewayangan Ramayana, dan perkembangan terkini pasar modal di Indonesia. Dijamin pusing, karena sekian banyak informasi harus bisa ditanam dalam memori otak ditambah lagi dengan keharusan meluangkan waktu untuk survey kilat serta membaca, mengakibatkan waktu tidurku berkurang. Meskipun kalau diingat-ingat sekarang, ada manfaatnya juga perluasan wawasan tersebut; misalnya jadi tidak ada lagi rasa penasaran terhadap fortune cookies yang dijual seharga Rp. 2.500,- / buah di rumah makan favorit teman-temanku di Oakwood Plaza.

Namun peristiwa minggu lalu yang kembali membangkitkan rasa penasaranku adalah ketika ternyata ada pihak-pihak yang tidak menyukai penggunaan kata ganti orang kedua, ”Anda”.
Entah karena alasan apa, klien ini yang adalah salah satu group usaha terbesar di negera kita (Presiden Direkturnya tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia), begitu mengharamkan penggunaan kata ”Anda”. Itulah sebabnya, bukan hanya naskah buatanku yang diubek-ubek diberi catatan revisi sampai titik komanya, tapi tulisan yang tercantum dalam kupon seating arrangement pun dikeluhkan sehingga terpaksalah ratusan kupon itu diganti seluruhnya!
Kejadian yang kurang lebih serupa pernah kualami dua tahun lalu, saat itu sedang bekerjasama dengan dengan sebuah anak perusahaan group besar dan ternama. Bagian Corporate Communication perusahaan tersebut meminta penggantian semua kata ”Anda” menjadi ”Bapak-bapak dan Ibu-ibu”, tanpa merinci alasannya secara spesifik.
Untung saja naskahku ditulis dengan menggunakan program Microsoft Word, sehingga tidak susah dan makan waktu untuk mengeditnya. Yang lebih kasihan, adalah teman-temanku bagian Creative Design yang terpaksa mengganti semua kata ”Anda” yang sudah terlanjur dicetak di atas kupon yang jumlahnya ratusan itu secara manual; lalu mencetaknya ulang.

Memangnya ada apa sih dengan kata ganti “Anda” dan maknanya, yang barangkali belum kuketahui? Apakah nilai dan makna kata tersebut sudah tereduksi sedemikian rupa sehingga menjadi tidak pantas lagi untuk dipergunakan dalam berbahasa di media-media maupun forum-forum resmi? Bingung nih!





Betul sekali !
Artikel ini memang tidak memiliki hubungan apapun dengan ilustrasinya.