Showing posts with label shadow. Show all posts
Showing posts with label shadow. Show all posts

Monday, August 10, 2009

Why Would I ?



And when you said those parting words
I was so stunned,
Could not believe I have to accept this fate
Felt like someone just pulled the rope of the black bell and it tolled
Loudly, deafening, and then it stopped abruptly
And then the world fell in silence all of the sudden

You made me wanted to take myself away, far from this place
To somewhere else, near or far, anywhere but here
Where there were lights, shone brightly forever
Where darkness only be seen in strange forms of shadows
Where the end is predictable and controllable, and comes only if you wish for it
Where I don’t have this feeling of needing you by my side

Because why would I want you to be here, just to lose you again?

Monday, July 27, 2009

Ada Apa Dengan "Anda" ?


Salah satu aspek paling menarik terkait profesi resmiku, adalah tantangan secara simultan terhadap keluasan wawasan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Memang ada sih beberapa tugas penulisan naskah yang terasa datar dan membosankan karena sudah ada pakemnya dan tidak boleh melenceng sedikitpun dari jalur tersebut, tapi banyak juga yang tidak.

Misalnya pernah ada kejadian dalam satu minggu, aku harus memahami setidaknya tiga hal: latar-belakang munculnya fortune cookies dalam dunia kuliner, segmen kisah ”Hanoman Obong” dalam cerita pewayangan Ramayana, dan perkembangan terkini pasar modal di Indonesia. Dijamin pusing, karena sekian banyak informasi harus bisa ditanam dalam memori otak ditambah lagi dengan keharusan meluangkan waktu untuk survey kilat serta membaca, mengakibatkan waktu tidurku berkurang. Meskipun kalau diingat-ingat sekarang, ada manfaatnya juga perluasan wawasan tersebut; misalnya jadi tidak ada lagi rasa penasaran terhadap fortune cookies yang dijual seharga Rp. 2.500,- / buah di rumah makan favorit teman-temanku di Oakwood Plaza.

Namun peristiwa minggu lalu yang kembali membangkitkan rasa penasaranku adalah ketika ternyata ada pihak-pihak yang tidak menyukai penggunaan kata ganti orang kedua, ”Anda”.
Entah karena alasan apa, klien ini yang adalah salah satu group usaha terbesar di negera kita (Presiden Direkturnya tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia), begitu mengharamkan penggunaan kata ”Anda”. Itulah sebabnya, bukan hanya naskah buatanku yang diubek-ubek diberi catatan revisi sampai titik komanya, tapi tulisan yang tercantum dalam kupon seating arrangement pun dikeluhkan sehingga terpaksalah ratusan kupon itu diganti seluruhnya!
Kejadian yang kurang lebih serupa pernah kualami dua tahun lalu, saat itu sedang bekerjasama dengan dengan sebuah anak perusahaan group besar dan ternama. Bagian Corporate Communication perusahaan tersebut meminta penggantian semua kata ”Anda” menjadi ”Bapak-bapak dan Ibu-ibu”, tanpa merinci alasannya secara spesifik.
Untung saja naskahku ditulis dengan menggunakan program Microsoft Word, sehingga tidak susah dan makan waktu untuk mengeditnya. Yang lebih kasihan, adalah teman-temanku bagian Creative Design yang terpaksa mengganti semua kata ”Anda” yang sudah terlanjur dicetak di atas kupon yang jumlahnya ratusan itu secara manual; lalu mencetaknya ulang.

Memangnya ada apa sih dengan kata ganti “Anda” dan maknanya, yang barangkali belum kuketahui? Apakah nilai dan makna kata tersebut sudah tereduksi sedemikian rupa sehingga menjadi tidak pantas lagi untuk dipergunakan dalam berbahasa di media-media maupun forum-forum resmi? Bingung nih!





Betul sekali !
Artikel ini memang tidak memiliki hubungan apapun dengan ilustrasinya.


Thursday, November 27, 2008

Duka Bagi Mumbai


ketika teror mengintai dari balik gelapnya bayangan
menantikan saat-saat kelengahan menjelang
lalu pada masanya
teror pun menyergap dengan tiba-tiba



kebuasan yang meradang dan menerjang
bangkit menyerang dari relung jiwa yang paling kelam
kini tak lagi ia pedulikan identitasmu
tak lagi ia perhatikan siapa dirimu



dalam kebuasan teror yang memberontak
meluncur kencang dari hati yang membusuk karena dendam
kini yang dicari dan dimintanya dari dunia hanyalah



kerusakan
penderitaan
kehancuran
kematian


empati dan duka mendalam bagi para korban aksi terorisme di Mumbai
semoga jiwa-jiwa yang tercerabut mendapatkan ketenangan dan kedamaian di lain dunia