Showing posts with label body odor. Show all posts
Showing posts with label body odor. Show all posts

Sunday, October 5, 2008

Bukan Kekasihku



Hari ini menandai telah 8 bulan kami saling bertemu secara eksklusif. Dan rahasia. Sifat yang disebut terakhir ini paling penting, karena kami memang perlu berupaya keras sedapat mungkin untuk mempertahankan hubungan ini tertutup, hanya diketahui oleh sesedikit mungkin orang.
Dan dari semua jenis orang yang menghirup udara kota ini, subspesies yang paling penting untuk dihindari adalah gerombolan manusia liar dengan tabiat cenderung brutal yang berani menamai diri wartawan infotainment.
“Cis! Berani-beraninya menyebut diri wartawan, padahal mereka tak mengerti apapun tentang kode etik jurnalisme!” demikian desisnya padaku suatu kali, ketika dalam satu kesempatan nyaris terpergok sedang berjalan bersama denganku.
Itulah sebabnya kami sekarang lebih ketat dalam mengatur pertemuan, harus selalu dengan pengaturan-pengaturan khusus. Tidak bisa langsung berjanji bertemu di satu tempat ketika ingin bersua.
Semua karena sosoknya yang terlalu banyak dikenali di kota ini. Padahal ia harus menjaga status sosialnya demi mempertahankan nama baik keluarga yang sudah terkemuka bahkan sejak bangsa ini belum merdeka. Sedangkan aku harus mempertahankan posisiku di perusahaan raksasa ini, yang terlanjur memanjakanku dengan terlalu banyak kenyamanan.
Aku sebenarnya benci bersandiwara, tak pernah kuanggap diriku bisa, tapi demi hubungan kami terjaga, harus kupaksa.
Itulah sebabnya setiap kali mendapatkan undangan untuk menghadiri acara-acara sosialita, harus kubertanya terlebih dulu padanya. Barangkali saja dia akan turut hadir di sana.
Kami sama-sama menyadari, keberadaan kami dalam rentangan jarak yang terlalu dekat bisa jadi berbahaya. Karena kedua tubuh kami bagaikan dua kutub magnet berbeda, yang dengan kekuatan luar biasa akan saling tarik, ingin menyatukan diri bersama. Daripada tertangkap basah sedang bercumbu di sudut-sudut gelap dan tersembunyi yang seringkali susah menemukannya, lebih baik kami saling menghindar, menahan dorongan jasmani.
Itulah sebabnya sekarang kami lebih akrab dengan sudut-sudut tua dan kelam kota ini, yang lebih menjamin reklusifitas bila dibandingkan dengan klab malam manapun di Selatan.
“Sampai kapan sih kita harus begini terus?”, pernah kubertanya saat ia masih dalam pelukanku. Buliran keringat yang tadinya membasahi punggungnya belum kering benar.
“Sampai aku mengatakan, ‘This is it. This is our time.’” sahutnya dengan suara pelan sedikit mendesah.
Aku tahu dia pasti sudah setengah jalan menuju kelelapan tidur. Tak apa, aku suka memeluknya saat ia tidur. Kulitnya lembut dan rambutnya selalu wangi terjaga. Mengantarkanku sendiri kepada nyenyak. Setiap kali usai bercinta dengannya, aku selalu bisa terlelap dengan mudah, dan mendapatkan mimpi indah. Sayang sekali waktu semacam ini tidak pernah bisa kami nikmati lebih lama daripada satu malam dalam setiap pertemuan.
Karena ia harus menjaga status sosialnya, dan aku dengan posisi di perusahaan multinasional itu.
Hidup lebih sering tidak bisa memberikan segala hal yang kamu inginkan.

Tuesday, March 18, 2008

A Very Brief History on Many Attacks of The Blood-Thirsty Creatures


Berbeda dengan lagu kanak-kanak yang populer sekian dekade yang lalu, Bangun pagi kuterus mandi tidak lupa menggosok gigi ..., dst., pagi itu begitu kubuka kelopak mata, kepalaku langsung merasakan pusing yang amat sangat. Pasti akibat efek samping baru tidur jam 5 pagi dengan durasi yang hanya kurang dari tiga jam. Ditambah pula, sinar matahari yang masuk dari jendela langsung mengenai mataku. Memang sebetulnya pengaturan posisi ranjangku disengaja demikian sebagai trick untuk memaksa siapapun yang berbaring di atasnya tidak bermalas-malasan di tempat tidur begitu pagi tiba.

Setelah merasakan mataku mulai beradaptasi dengan tingkat kesilauan cahaya pagi itu, kubuka lagi kelopak mataku. Aah, this is much better. Kugapai handphone yang dini hari tadi sebelum tidur kuletakkan di sebelah kepala untuk mengecek pesan masuk. Sebenarnya, bisa jadi inilah salah satu penyebab kepalaku sering pusing ketika baru bangun pagi: radiasi yang dipancarkan oleh handphone selalu terpapar langsung ke otakku yang, menurut si cerewet kutilubis, hanya tinggal seperempat ukuran normal, dan itupun berupa attachment belaka dalam tempurung kepala. Thank goodness this time si frantic-hysterical caller yang biasa menghubungi di jam-jam ajaib ketika hanya para petugas kemananan shift tiga dan clubbers yang baru pulang dugem saja yang masih terjaga, kali ini absen mengontak. Tapi ada pesan singkat dari Dewi dan Sakti. Hmm, I can reply them later, pikirku.

Beranjak bangun dari atas kasur, aku mengambil teko melamin dari bedside table dan menenggak isinya sebanyak-banyaknya. Old habits die hard. Minum air putih banyak-banyak begitu bangun pagi, dan minum air yang langsung dituangkan ke mulut dari bibir teko. Pacarku pasti akan marah melihat kebiasaan burukku yang satu ini, sedangkan ayahku yang memberikan contoh buruk itu ketika aku masih kecil pasti akan murka melihat pacarku yang sekarang.

Selesai minum, mataku mencari-cari dan pikiranku mencoba mengingat di mana kuletakkan Vanity Fair edisi November yang aku baca tadi subuh sebelum ketiduran. Ah, ternyata aku tidak meletakkannya, melainkan menjatuhkannya ke celah di antara ranjang dan bedside table. Mari melanjutkan lagi aktivitas membaca artikel perihal ke-antics-an pemimpin paling kampungan masa kini, George Walker Bush, yang tadi subuh sebelum ketiduran belum sempat kuselesaikan. Kuambil posisi favoritku jika sedang membaca, yaitu sembari tidur terlentang (sedangkan posisi favorit kedua: sembari duduk di atas dudukan kloset).

Uhm, tapi tunggu dulu! Masih ada satu hal lagi yang kurang. Satu hal yang penting banget bagiku setiap pagi selain sarapan pagi dan musik sebelum memulai aktivitas sehari-hari, yaitu sirkulasi udara segar. Aku kembali bangun dari ranjang dan membuka kedua jendela lebar-lebar dan disusul dengan pintu kamar yang semalam tidak aku kunci. Salah satu kebiasaan ‘buruk’-ku yang lain.

Angin segar segera berhembus masuk dari jendela yang terbuka dan kedua lubang hidungku dengan rakus langsung mengembang-kempis untuk menghirupnya sebanyak-banyaknya. Sayangnya, seiring dengan masuknya udara segar yang sangat kubutuhkan itu, masuk pula beberapa parasit paling menyebalkan yang pernah terlahir di dunia ini, nyamuk. Tidak butuh waktu lama bagi mereka, barangkali bahkan kurang dari dua menit, untuk meninggalkan lima bentolan kecil gatal di kedua kakiku.

Mengapa sih Tuhan mesti menciptakan nyamuk?, protesku dalam hati sembari menggaruk-garuk bentol-bentol kecil tersebut yang perlahan memerah dan membesar.
Sebetulnya kejadian seperti ini sudah terjadi sejak lama sekali. Barangkali sejak aku mulai bisa mengingat. Sejak kecil aku seringkali menjadi sasaran serangan minivampires tersebut. Dulu sekali sebelum mencapai usia pubertas sehingga kaki dan tanganku ditumbuhi banyak rambut pertanda kedewasaan, seringkali terlihat jelas bekas-bekas gigitan nyamuk jahanam itu.

Salah satu kejadian paling parah yang masih kuingat adalah ketika aku sempat berlibur di rumah seorang bibi di wilayah timur area suburban Jakarta ketika masih duduk di grade 6, mereka (para nyamuk, bukan bibiku dan keluarganya) meninggalkan banyak sekali tanda-mata berupa bentol-bentol hitam yang jelek seperti bekas-bekas penyakit kulit yang belum sembuh benar, yang baru hilang perlahan selama tiga bulan dengan bantuan olesan salep khusus dua kali sehari setiap habis mandi.

Misterius sekali, substansi racun macam apakah yang disuntikkan para nyamuk itu ke balik lapisan epidermisku sehingga dalam waktu dua malam saja mampu mentransformasi penampakan sejahtera seorang bocah yang sehat-ceria-ribut-manja dan berpipi gembul menjadi seorang bocah yang selalu bersungut-sungut cemberut dan kedua tangannya selalu sibuk menggaruk sekujur kaki dan tangan bagaikan anak kampung yang menderita serbuan sekoloni parasit kutu?

Kejadian aneh lainnya terjadi ketika aku masih lebih muda lagi, sekira masih duduk di grade 3. Saat itu bersama dengan beberapa teman lain, untuk pertama kalinya aku diikutkan orang-tuaku les pelajaran matematika. Jadi pergilah kami semua, sekitar tujuh orang anak kecil lucu ceria dan ribut, bergembira naik sepeda menuju kompleks tempat tinggal si guru les, Bapak Syamsul. Sebenarnya beliau adalah juga guru kami di sekolah, dan belakangan kuketahui bahwa apabila pihak pengelola sekolah mengetahui beliau memberikan pelajaran ekstra di luar sekolah kepada murid-muridnya sendiri dengan menerima pembayaran khusus, ia akan langsung dipecat. Tapi ini cerita lain.

Sesampainya di rumah Bapak Syamsul – yang ternyata bukan rumahnya sendiri melainkan ia menumpang di rumah kakaknya yang bekerja sebagai polisi – dan selama les berlangsung, nyaris tidak ada satupun materi les hari itu yang berhasil aku serap. Mind you, bukan karena otakku yang cuma berukuran seperempat seperti tuduhan si kutilubis (I hope she read this! Haha!) sehingga daya penyerapan ilmunya jadi terbatas, melainkan karena aku lebih sibuk mempergunakan kedua tanganku menepuk nyamuk-nyamuk yang bermunculan entah darimana untuk merubungi kulitku. Alih-alih mengonsentrasikan otakku untuk mengerjakan soal-soal hitung-hitungan di buku latihan, aku malah lebih berkonsentrasi dalam tugas pengkoordinasian otak-mata-tangan untuk berburu nyamuk yang berseliweran berdengung-dengung dan menggigiti bagian-bagian tubuhku yang terbuka.

Barangkali karena kasihan melihatku menderita dan dengan mempertimbangkan gangguan yang kutimbulkan bagi teman-teman lainnya akibat perburuanku yang sepertinya tidak akan berakhir sebelum aku sendiri yang beranjak meninggalkan rumahnya, akhirnya Bapak Syamsul pun menghentikan pelajaran hari itu lebih cepat, menghidangkan sirop dan kueh-kueh untuk sedikit mengurangi kesedihan perasaanku menghadapi kenyataan menyakitkan sebagai satu-satunya korban kebuasan dan kebiadaban para nyamuk di antara tujuh orang anak didiknya sore itu, lalu membiarkan kami bermain petak umpet di halaman rumahnya sebelum mengizinkan kami pulang sesuai jadwal bubaran les yang seharusnya. Itulah kesempatan pertama sekaligus terakhir kalinya aku mengikuti les di rumah beliau, namun aku curiga mungkin Bapak Syamsul pun sedikit bersyukur tidak perlu lagi berurusan dengan si bocah pemikat nyamuk yang merepotkan ini.

Beranjak dewasa, seiring melebatnya rambut di kakiku (yang jadi poin plus-plus dalam memikat pacarku yang sekarang *wink!*), serangan nyamuk mulai terbatas hanya di wilayah mulai dari mata kaki hingga ke telapaknya yang (memang) tidak (mungkin) ditumbuhi rambut. Namun daerah tidak terlindungi ini justru kemudian menjadi wilayah paling potensial bagi para nyamuk tersebut untuk unjuk sungut penyengat.

Sama seperti yang kualami beberapa hari belakangan ini, dan khususnya di pagi ini. Yang paling menyebalkan adalah jika nyamuk-nyamuk sialan itu mengigit di kulit telapak kaki. Menggaruknya tidak pernah "menyenangkan", karena perbedaan ketebalan lapisan kulit dengan bagian kaki yang lain.

Sesungguhnya, menggaruk bekas gigitan serangga apapun di kulitku sangat tidak dianjurkan, lebih karena kemampuan diriku yang didukung oleh mantapnya kekuatan kuku-kuku jemari tanganku untuk terus menggaruk sampai kulitku tergerus membuka dan dari bentol-bentol itu mulai muncul setitik darah. Yap, kebiasaan mengerikan!

Seringkali aku menggaruk kulit begitu dahsyatnya dan baru berhenti setelah bentolan berubah menjadi luka-luka kecil. Luka-luka kecil yang butuh waktu relatif lama untuk mengering dan, mengingat kondisi diriku sebagai keturunan pengidap diabetes dari pihak Ibu meskipun thank God sampai saat ini aku masih bebas dari penyakit itu, butuh waktu lebih lama lagi agar bekas-bekasnya menghilang.

Sebelum William melihat sendiri aku melakukan aksi 'berdarah-darah' ini di hadapannya di sebuah café yang ajaibnya memiliki sarang nyamuk entah di sebelah mana, hingga kini Grace adalah manusia terakhir yang berkomentar standar soal kebiasaan tidak sehat ini (dan ini terjadi di bulan Januari 2004 ketika aku mengunjungi boarding house-nya).

Entah mengapa, semua orang yang melihatku menggaruk-garuk kaki dan tangan pasti akan mencetuskan komentar serupa, "Pasti karena lo belum mandi ya, hahaha...." Basi banget, dan sangat menyebalkan.

Berhubung seminggu sebelumnya aku baru saja membaca artikel kecil di bagian iptek harian Kompas berisi laporan temuan hasil satu riset di Inggris, bahwa kaki pria adalah bagian tubuh manusia yang paling sering diserang oleh nyamuk, karena terlepas dari soal apakah sudah mandi atau belum pada kenyataannya kaki pria terbukti memancarkan panas dan menguarkan aroma khas yang merangsang indra penciuman nyamuk, yang kemudian berfungsi semacam pengumuman dan undangan bagi mereka untuk berpesta pora penuh darah (hal pertama yang terpikirkan olehku adalah, kasihan sekali para lelaki yang menjadi sample percobaan itu; hal kedua yang terpikirkan adalah, kasihan sekali diriku terpaksa menderita gatal-gatal secara cuma-cuma, sedangkan mereka yang menjadi sample masih bisa mendapatkan bayaran atas penderitaan mereka). Jadi bisa dikatakan bahwa seolah-olah panas dan aroma khas kaki pria itu memancarkan sinyal gelombang mikro yang tinggal ditangkap oleh radar nyamuk-nyamuk yang kebetulan melintas. Perhaps it’s like the effect of flame to moth, without the certainty on the deadly exposure caused by heat.

Oleh karena itu, begitu Grace melontarkan komentar standar yang sudah kuantisipasi sebelumnya, meluncurlah fakta-fakta hasil riset tersebut dari mulutku dengan fasih karena sudah kuhapalkan sebelumnya. Begitu berapi-apinya penjelasan dan pembelaan yang kulontarkan sehingga berhasil membungkam Grace untuk sementara waktu (bagi mereka yang mengenal Grace secara pribadi, berhasil membuat mulutnya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun selama satu jam atau lebih adalah satu prestasi yang patut dibanggakan dan barangkali diusulkan untuk dicatatkan dalam rekor MURI, tetapi saat itu aku hanya berhasil melakukannya selama 10 menit).

Namun laporan hasil riset yang kubaca itu sama sekali tidak menginformasikan solusi apa yang paling baik untuk mengatasi gangguan serbuan nyamuk-nyamuk sialan itu. Tidak ada info perihal apakah aku harus melakukan diet dengan tidak mengkonsumsi unsur dan bahan makanan tertentu, atau apakah aku harus pakai salep kulit tertentu, atau apakah aku harus pindah ke daerah tertentu yang tidak memungkinkan bagi kehidupan dan perkembangbiakan nyamuk, serta tidak juga perihal kemungkinan bagiku agar berusaha menumbuhkan rambut-rambut selebat mungkin di sekujur kakiku sehingga tidak ada peluang bagi makhluk-makhluk ganas ini untuk menembusnya mencapai permukaan kulitku.

Jadilah hingga saat ini aku masih belum berhasil menemukan satu hal pun yang mampu hentikan perburuan tanpa akhir para nyamuk tersebut akan darahku: tidak dengan mempergunakan obat nyamuk bakar maupun obat semprot yang hanya mengakibatkan sesak napas dan mata perih maupun pengolesan lotion anti nyamuk yang hanya mengakibatkan iritasi pada kulitku yang sensitif.

As if nothing could ever satisfied those mosquitoes' neverending hunger for the taste of my sweet red blood, they always hunted me wherever and whenever they can. Sounds eerie and gory like a teen horror slasher movie at the same time, doesn't it?!




- This writing was originally titled Mosquitos: The Hunt for The Red-Blooded Man which was posted online on November 14th, 2005 -

Wednesday, February 27, 2008

“Anjrit!”

Setelah lebih dari satu bulan sebuah iklan deterjen yang mengklaim produknya memiliki aroma harum mewangi yang "kagak nahaan…" dipancarteruskan oleh berbagai stasiun televisi nasional, barulah kuperhatikan bahwa content iklan-nya sendiri sebenarnya lumayan lucu.
Iklan tersebut memperlihatkan bagaimana kusutnya penampilan seorang remaja cowok yang masih bermuka bantal seperti orang baru bangun tidur, yang ditinggal ibunya pergi berbelanja ke pasar. Namun sebelum berangkat, si ibu masih sempat-sempatnya berpesan agar anak remajanya tersebut tidak lupa untuk membantu ibu mencuci baju seember penuh (!). Beda banget dengan lagu anak-anak itu, “... habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku”, yang dari keceriaan iramanya secara implisit mengisyaratkan kesukarelaan membantu orang-tua. Ha!

Balik ke iklan tadi, tentu saja sebagaimana lazimnya remaja, well at least bagi seorang remaja yang tumbuh-besar lumayan dimanja seperti aku, pekerjaan fisik apapun yang diminta oleh orangtuanya – atau siapapun – untuk dilaksanakan, tentunya dikerjakan dengan malas-malasan dan setengah hati (itu pun kalau memang beneran dikerjakan, hehe!)

Awalnya sih seperti yang bisa ditebak, si remaja cowok ini bersungut-sungut ketika baru mulai mencuci. Ternyata eh ternyata, setelah dia membaui aroma wanginya deterjen tersebut, mendadak sikapnya berubah.
Dia jadi bersemangat mencuci, malahan tampak sangat menikmati aktivitas (yang buatku membosankan) tersebut, yang diperlihatkan dengan adegan freestyle dance mengikuti irama backsound musk genjreng-genjreng rock.
Sebenarnya, aku juga senang bermain air dan berendam lama di bathtub berisi air hangat. Apalagi kalau ada aromatherapy-nya, relaxing and soothing. Dan tentunya, lebih senang lagi kalau sambil berendam ditemani oleh seseorang yang kusukai (no, am not looking at you, O.).
Tapi bermain-main dengan busa deterjen? Ehm, tidak, terimakasih. Apa asyiknya merusak kehalusan kulit sendiri dengan bahan kimiawi seperti itu? Meski aku juga tidak terlalu menjaga kelembutan dan kelembapan kulit sih.

Anyway, back to our topic about this particular ad, versi berbeda dari iklan yang sama keluar menjelang Lebaran. Iklan yang penayangannya selalu direndengkan dengan satu brand mi instan yang sudah ngetop sejak jaman dilakukannya embargo minyak bumi oleh OPEC, dan kabarnya menjadi makanan pokok favorit penduduk Nigeria (artikel dapat ditemukan di sini, di sana, dan di situ juga lho!).
Kali ini diperlihatkan bagaimana si ABG yang sama tampak asyik melonjak-lonjak sembari mencuci baju, sampai tiba-tiba ketika mengangkat salah satu baju yang dicucinya, dia dikejutkan oleh bau keti(-ak)nya sendiri yang sepertinya mengendap di kaos yang sedang dikenakannya.

"Anjrit!" cetusnya, dengan ekspresi mengernyit yang sangat meyakinkan bahwa bau badan sendiri yang diendusnya saat itu barangkali sama sengitnya dengan napas naga (atau barangkali seperti makian Elliot ke saudaranya, “penis breath!”, ha! ha!).
Lantas ia membuka kaos rumah yang sedang dikenakannya saat itu dan menjebloskannya ke dalam ember penuh berisi busa deterjen dan kembali mencuci dengan gaya asyik.
Iklan yang lucu, dan dengan caranya yang unik mengingatkanku pada satu peristiwa ketika aku masih kecil.


* dengan nuansa flashback ke dekade 1980-an *

Di salah satu liburan kenaikan kelas sekolah dasar di akhir bulan Juni yang panas di sebuah kota kecil yang mirip daerah suburban Amerika yang terletak tidak jauh dari garis khatulistiwa, seperti biasanya orangtua kami membiarkan aku dan adikku mencari kesibukannya sendiri.
Sepanjang ingatanku, kedua orangtua kami terlalu sibuk untuk mengajak anak-anaknya berlibur keluar kota. Tak mengapa, karena pada saat itu banyak juga teman kami tidak pergi berwisata dengan alasan yang sama, orangtua yang selalu sibuk, entah itu karena bekerja atau karena urusan lainnya.

Jadi kami anak-anak satu kompleks seringkali mengisi liburan dengan bermain sepanjang hari. Mulai dari sepakbola hingga bola kasti, bermain combattant dengan tentara-tentaraan plastik – kalau yang ini biasanya dengan tema favoritku: pembajakan pesawat terbang milik maskapai Garuda Indonesia yang diinspirasikan oleh kasus Woyla - hingga bermain perang-perangan dengan senjata ketapel di pinggiran hutan dekat rumah yang katanya masih dihuni oleh monyet-monyet, gajah-gajah dan harimau (dan jika orangtua kami tahu kami bermain sedekat itu dengan sumber bahaya, pasti kami semua akan dikurung di dalam kamar masing-masing, yang dalam film-film keluarga Amerika disebut ”grounded”).

Hampir setiap hari kami sibuk bermain-main di luar rumah sejak pagi hingga sore sehingga perlahan-lahan kami bermetamorfosis menjadi segerombolan anak-anak keling berbau matahari (‘keling’ not as racially operative word). Begitu pulang ke rumah setiap orang dari kelompok bermain kami biasanya selalu dihadang salah satu anggota keluarganya untuk kemudian menyuruh kami mandi sebelum diizinkan untuk makan malam. Hingga di satu pagi ketika kami semua berkumpul di rumah Ferdy dengan niat semula untuk merancang permainan hari itu, Steve muncul dengan penampakan yang tidak berbeda sejak kami berpisah sore sebelumnya.

Setelah diselidiki, ternyata memang benar. Steve belum mandi sejak kemarin pagi. Ayahnya sedang on-call duty ke distrik lain sedangkan ibunya sedang sibuk mengurus lokakarya pemberdayaan kaum perempuan lokal. Meskipun diserahi tanggungjawab untuk mengawasi dan mengurus Steve, abangnya yang baru naik ke kelas 12 pasti lebih sibuk melakukan bermacam aktivitas lain dengan pacarnya, musim panas terakhir mereka sebelum dipulangkan kembali ke Amerika untuk kuliah.
Yups, Steve memang anak bule ekspatriat. Dan kemunculannya pagi itu dengan muka yang tampak tidak dicuci hanya menguatkan kecurigaan samar-samar kami bahwa para bule memang punya kebiasaan jorok untuk merasa tidak perlu mandi jika tubuhnya masih dirasa bersih. *euw!*

Hari itu akhirnya kami memutuskan untuk tidak bermain di luar rumah seperti biasa karena memilih untuk berkumpul di kamar Ferdy, saling berebut menguasai konsol game Atari yang baru dibelikan orangtuanya kemarin.
Saat Ferdy sebagai host sedang berkompetisi dengan Tommy, beberapa anak lainnya yang sedang menanti giliran bergulat untuk mengisi waktu. Nico yang dapat kesempatan mengadu fisik melawan Steve tampak mengernyit ketika sukses memiting Steve.
Busyet! Kau tak mandi yah? tuduh Nico sambil melepaskan pitingannya. Dengan ekspresi malu Steve mengakui bahwa sejak pagi sebelumnya ia tidak mandi dan tidak menyikat gigi. Bahkan pagi itu setelah bangun tidur, tanpa mencuci muka dan menyikat gigi ia langsung sarapan dan kemudian berangkat ke rumah Ferdy, tanpa sepengetahuan housekeeper-nya.

Kami mulai mencemoohnya sebagai bule jorok ketika Ferdy yang menghentikan permainannya sementara lalu melontarkan ide taruhan, bahwa ia akan meminjamkan Steve konsol Atari-nya untuk dibawa pulang seharian penuh jika Steve sukses mengelabui orang-orang di rumahnya untuk tidak mandi dan tidak sikat gigi sampai besok.
Awalnya Steve tampak enggan karena setelah keringatan sehabis bergelut dengan Nico dia mulai merasa sedikit gatal dan mulai menggaruk dakinya, namun setelah kami semua turun tangan menghasut membujuk Steve, dengan keyakinan kuat dalam hati bahwa dia tidak akan berhasil karena kami akan diam-diam memberitahukan housekeeper-nya yang galak, maka Steve pun menyepakati taruhan itu.
Jadilah sore itu sebelum berpisah kami mengingatkan Steve kembali soal taruhan itu. Tampak jelas ia sudah terpengaruh bujukan kami semua.

Keesokan paginya, jam dinding masih memperlihatkan pukul 8 lewat beberapa menit, namun kami semua sudah berkumpul di kamar Ferdy. Beberapa saat kemudian, housekeeper Ferdy muncul mengantarkan Steve kepada kami dengan muka sedikit mengernyit, mungkin dia bisa mencium bau yang menguar dari tubuh Steve secara jelas.
Melihat kami semua tersenyum-senyum, dia memelototkan matanya kepada Ferdy. Steve sendiri tampak sangat ceria meskipun rambut dan wajahnya terlihat masih acak-acakan dan bermuka bantal, guratan bekas motif sarung bantal masih terlihat samar di salah satu sisi wajahnya.
Kami semua tertawa terbahak-bahak melihat wajah Steve, lalu dengan enggan dan berwajah cemberut Ferdy menyerahkan konsol Atari-nya.
”Ugh! Kau bau!”, teriak Ferdy sembari menutup hidung dan bergegas menjauh. Setelah serah-terima Atari dari tangan Ferdy, Steve bergegas pulang sambil mengayuh BMX-nya.

Akhirnya pagi itu kami memutuskan untuk bermain bajak laut melawan misi dagang Spanyol. Permainan berlangsung seru ketika menjelang tengah hari Steve muncul kembali, kali ini didampingi oleh ibunya. Dibandingkan kemunculannya pagi tadi yang terlihat bagaikan contoh kasus anak hilang yang baru saja ditemukan oleh orang yang melihat fotonya dicetak di sisi kotak susu, kali ini Steve tampak nyaris berkilat seperti habis disemir. Rambutnya tertata rapi seperti fotonya di buku tahunan, dan bajunya kelihatan jelas habis disetrika.

Ternyata ketika Steve tiba di rumah, ibunya sudah menantikan dirinya di ruang tengah. Tampaknya housekeeper-nya yang galak itu melapor kepada majikannya bahwa sudah dua hari tidak ada baju kotor bekas pakai Steve dalam keranjang cucian kotor. Mencurigai bahwa anak majikannya tersebut melakukan kenakalan dengan menumpuk baju kotor bekas pakai di sudut kamar, mengadulah ia pada sang nyonya.
Selanjutnya merupakan misteri, karena Steve menolak bercerita. Taruhan itulah yang menjadi alasan mengapa Mrs. Ellis ada di rumah Ferdy siang itu bersama-sama dengan Steve. Untuk mengembalikan Atari milik Ferdy dan membicarakan masalah itu dengan ibu Ferdy.
Kami sempat menguping sebentar sebelum Ferdy dipanggil oleh ibunya, lalu housekeeper keluarga Ferdy muncul di ruangan bermain dengan tugas mengirim kami semua pulang ke rumah masing-masing. Kami masih duduk-duduk di tepi trotoar, bergerombol sekitar tiga rumah dari rumah Ferdy ketika melihat Steve bersama ibunya keluar dari rumah tersebut dan menuju Convertible mereka. Steve berjalan dengan kepala menunduk dan wajah ibunya tampak kaku.

Barulah di hari Jumat sore di final kompetisi baseball Little League kami bisa bertemu lagi dengan Ferdy dan Steve yang saat itu sedang duduk bersebelahan di bangku cadangan. Tampaknya keduanya sama-sama dihukum grounded selama dua hari, namun saat kami melihat mereka sore itu, keduanya sudah tampak asyik bercanda-gurau seolah-olah tidak pernah ada satu masalah pun di antara mereka. Sepertinya kedua sahabat itu sudah sama-sama melupakan bau Steve yang tidak mandi dan tidak sikat gigi selama 48 jam, dan tampaknya tidak peduli ketika salah satu dari kami menanyakan hal tersebut.

Lucu juga rasanya ketika saat ini mengenang kembali masa kanak-kanak yang kocak itu.
Dan ingatan itu kembali hanya karena mendengar cetusan si cowok remaja berketi bau di iklan deterjen.

"Anjrit!"



<>