Wednesday, December 17, 2008

Menikmati Secangkir Teh Prancis



“I can’t understand any French movies. Probably, they’re just not my cup of tea ...”


Sahabatku Bradley pernah bersumpah bahwa dia tak akan pernah lagi mau membuang waktunya untuk menonton film Prancis manapun. Aku tak tahu apakah Francophone movies termasuk dalam kategori sumpahnya itu, yang jelas sepanjang pengetahuanku sejak dia mengucap sumpah itu usai menonton salah satu film produksi Prancis dalam ajang Festival Sinema Prancis tiga tahun silam, tak pernah sekalipun dia menonton lagi film dari negara mode itu.

Sumpah Bradley terujar bukan karena kala itu dia dipaksa – dan setengah diseret menuju bioskop – oleh salah satu teman dekatnya yang kebetulan juga kukenal untuk menemaninya menonton, tapi lebih karena menurutnya menonton film Prancis merupakan pengalaman traumatis yang menyiksa. Dia tak bisa mengerti dimana bagusnya film Prancis manapun yang pernah dia lihat, dan dia tidak terlalu terkesan dengan kenyataan betapa mudahnya aktor-aktris Prancis tampil polos tanpa malu seperti bayi baru dilahirkan di layar lebar untuk dipelototi dan dikonsumsi dengan rakus oleh mata para penonton. Padahal bagiku dulu waktu baru mulai memasuki usia puber, justru inilah alasan satu-satunya aku bertahan dan membetahkan diri menonton TV5 Monde.

Pada masa-masa awal ketika aku tahu tentang sumpah Bradley ini, entah mengapa aku berusaha membuat Bradley mengubah pikirannya. Alasanku waktu itu, it’s going to be his loss kalau menolak menonton film-film yang bagus dan bermutu dari negara moyangnya sinema dunia itu. Ketika dia bertanya balik setengah mendesak, apakah aku bisa menyebutkan film Prancis apa yang telah dia lewatkan sehingga akan membuat dia menyesali keputusannya itu, giliran aku yang terdiam.

Aku nyaris menyebut “Léon The Professional”, lalu aku teringat bahwa Jean Reno memang aktor Prancis dan Luc Besson adalah sutradara kondang Prancis, tapi film itu diproduksi oleh Sony Pictures dan juga dibintangi oleh Natalie Portman dan Gary Oldman yang notabene berstempel “Made in Hollywood”. So it is not a pure French movie, in a ‘traditional’ sense. (By the way while I’m still on this subject, can someone tell me why oh why Monsieur Reno agreed to act in such a stupid monster movie, “Godzilla”?)

Ada “Belphegor La Phantom de Louvre”, tapi film itu standar horor a la Hollywood, ga bisa juga disebut bagus. Yang lebih buruk lagi adalah film komedi slapstick “Taxi” dan semua sekuelnya yang garing bin boring itu. Sedangkan menonton film kelas festival semacam “Baise Moi” terasa lebih seperti menonton orgy of sex (obviously!) and violence, dan “Irreversible” malah membuatku sempat beberapa kali memalingkan wajah karena ngeri saat adegan-adegan kekerasan yang (bagiku) tampak sangat nyata dan vulgar dijembreng di depan mata (adegan pemerkosaan di underground tunnel itu membuat aku mual-mual seharian).

Ada juga ”Bleu”, yang diikuti oleh sekuelnya ”Bialy” dan ”Rouge”, tapi aku belum menontonnya, jadi ga bisa juga kupakai judul-judul itu sebagai argument untuk meyakinkan Bradley mengubah pikirannya. Dari hasilku meng-googling sembari menulis this ramblings, ada beberapa judul film yang disutradarai Francois Truffaut dan Jean Luc Goddard yang sepertinya pantas disebut, tapi kasusnya sama seperti trilogi tiga warnanya Krzystof Kieslowski (yes, I have to google in order to spell his name correctly), aku ga pernah menontonnya.

Sekian tahun kemudian, ada satu film Prancis yang ketika kusaksikan di salah satu bioskop di daerah Jakarta Pusat, masih dalam ajang Festival Sinema Prancis, nyaris bikin aku tersedak kaget – dan bagi beberapa penonton perempuan membuat mereka tertawa terkikik-kikik serta penonton laki-laki mendadak gelisah dan tak nyaman – karena memperlihatkan adegan di mana sepasang pria homoseksual sedang bercinta. Ya, betul. Dalam keadaan telanjang bugil bulat. And you can see some very visibly hard cocks (I was about to say, erected penises, but opted for a less formal term instead) on the big screen. Tapi film yang tak akan kusebutkan di sini judulnya, menurut hematku bukanlah film yang bagus-bagus amat, karena plotnya yang sangat tipikal: homosexual charater(s) are doomed to meet horrible death or ugly fate in the end of the movie. Euch!

Masih dari ajang yang sama, meskipun beda tahun pelaksanaan, aku sempat menonton “Cache” dan “L’enfant” serta “La Marche de l’empereur”. Tapi dua judul pertama membuat aku menyesal membuang waktu masing-masing lebih dari dua jam untuk menontonnya, karena kembali menurut hematku pribadi, kedua judul ini ga ada bagus-bagusnya !
“Cache” berakhir dengan kebingungan dan tanda tanya besar yang sangat menyebalkan dan mengganggu (daripada jadi spoiler dengan membeberkan akhir ceritanya di sini jadi sengaja tidak diungkap), sedangkan “L’enfant” – yang sebenarnya adalah film Belgia tapi karena mereka juga bertutur dalam bahasa Prancis jadi bisalah dimasukkan dalam pembahasan kali ini – membuatku pengen melompat dari kursi dan memukuli si aktor utama saking kesalnya (I even posted a specific blog entry for this ugly feature). Sedangkan judul ketiga yang kusebutkan, adalah film documenter yang lucu dan mengharukan, rasa-rasanya malah jadi ineligible to ‘compete’ dalam kategori yang sama dengan judul-judul lainnya yang sudah kusebutkan di muka.

Dan di sinilah aku mulai kehabisan ‘amunisi’ untuk mendebat Bradley dan meminta dia mengubah pikiran serta untuk menarik / membatalkan sumpah anti-film Prancisnya. Secara film Prancis terakhir yang kutonton, “De battre mon coeur s'est arrêté”, sama sekali tidak bisa membantuku berargumentasi positif, karena aku sendiri merasa tersiksa waktu menonton film tentang perselingkuhan ini. Ugh!

Akhirnya apabila kamu yang membaca tulisan ini bertanya, what is my standpoint now on the issue of watching French movies after all those experiences, well, sadly to say, aku jadi cenderung mengikuti dan mengamini sumpah Bradley (walau tidak sampai bibir ini mengucap seperti yang ia lakukan beberapa tahun lalu).
Meskipun tentu saja, dalam beberapa kondisi khusus dan untuk beberapa judul aku mencoba membuat perkecualian, misalnya untuk film animasi hitam putih “Renaissance” yang lumayan mendebarkan, film musikal "Les choristes" yang lumayan menyentuh, the feel good romantic comedy "Le fabuleux destin d'Amélie Poulain", serta biopic “La Môme” yang membuat mata ini berkaca-kaca karena terharu (and yes, I do believe Marianne Cotillard deserved her Oscar).

Kita lihat saja apakah dalam waktu dekat aku kembali akan membuat perkecualian lainnya (termasuk untuk other Francophone titles), yang dalam istilah Bradley, “Now that’s what I call my cup of tea”.