Showing posts with label Hollywood. Show all posts
Showing posts with label Hollywood. Show all posts

Tuesday, July 21, 2009

Di Akhir Usia


Seorang teman memberikan link Catatan Pinggir-nya Bapak Goenawan Mohammad minggu ini, yang mengulas aksi teror peledakan bom di Hotel J.W. Marriott dan Ritz Carlton, Jakarta.

Dari sekilas membaca cepat artikel tersebut, pikiranku justru dibawa melayang pada sebuah adegan klimaks anime Metropolis karya sutradara kondang, Osamu Tezuka. Dalam film tersebut, digambarkan jelas ketika sebuah ledakan mahadahsyat meluluhlantakkan sebagian Metropolis, tak ada efek suara menggelegar memekakkan telinga layaknya yang lazim didengar oleh para penonton sebagaimana biasanya dalam film-film action khas Hollywood.

Sebagai gantinya, visual pengadeganan ledakan tersebut diiringi sebuah tembang lawas lembut memanja gendang telinga, suara mendiang Ray Charles menyanyikan I Can’t Stop Loving You. Anehnya, dampak yang ditimbulkan justru jauh lebih memukau dan menghanyutkan perasaan, jauh lebih efektif dalam menciptakan rasa haru-biru.

Karena barangkali ketika kematian tidak bisa lagi dielakkan, yang memang ingin benak kita ingat menjelang waktu di dunia berakhir, adalah kenangan-kenangan indah tentang tawa, cinta dan bahagia yang pernah kita rasa.

Atau barangkali aku saja yang kebetulan sedang terbawa suasana dan jadi sentimentil? Entahlah.

Wednesday, June 24, 2009

Those Sexy Boots Weren’t Made for Running

"Catch us if you can, Megatron!"


I felt much disappointment watching Transformers: Revenge of The Fallen, which was released in many parts of the world today. High anticipation and enthusiasm were built in the couple of weeks prior to the release, and in the mere first hour of watching they were all shattered into pieces.

Bayangkan saja, selama hampir 70 menit pertama, masih belum jelas apa tujuan cerita film ini. Kesan yang paling terasa adalah : dipanjang-panjangkan. (Meskipun tidak sampai separah pengalaman menonton Pirates of Carribbean: At World’s End yang begitu membosankan sampai terasa seperti film berdurasi seumur hidup)


Masih kuingat dua tahun lalu, saat end credit Transformers muncul bergerak naik, aku bertepuk tangan kencang karena puas melihat suguhan action mendebarkan dan cerita yang kocak namun tetap menegangkan – sampai deg-degan jantung ini ketika menyaksikan perang di dalam kota dan Sam Witwicky harus berlari-larian dan bergelantungan di puncak gedung demi menyelamatkan diri.

Sebenarnya buruknya kualitas penceritaan sekuel ini sudah mulai terasa sejak ... percaya atau tidak ... dimunculkannya karakter dua ekor anjing keluarga Witwicky di limabelas menit pertama.
Pertama kali kulihat keduanya, alam bawah sadarku seakan mengingatkan, ”Oh gosh! Please don’t show me another joke about two different breed of dogs performing sexual intercourse! I am so fed up with that kind of brainless jokes.” Dan kekhawatiranku ternyata terbukti. Di moment munculnya adegan persenggamaan (yang TIDAK lucu) itulah aku langsung menjatuhkan vonis: film ini pasti jelek!

Betul-betul menyedihkan. Semakin lama cerita Revenge of The Fallen ini semakin jelek, sampai-sampai membuatku menguap bosan. Kemana perginya ketegangan aksi dan struktur penceritaan yang lebih cerdas, seperti yang dipamerkan di prekuelnya??

Ada tiga hal tolol yang membuatku kesal setengah mati dengan sekuel ini.

Pertama, adalah kemampuan ujung lidah Alice tetap berbentuk seperti lidah manusia saat tubuhnya menclok di kap mobil. Bisa jadi kapabilitas tersebut menjadi fantasi sensual bagi sementara pihak, sebagaimana mereka juga pertama kali dibuat terpesona oleh robot sexy di Terminator 3: Rise of The Machines. Namun bagiku sendiri, Alice di atas mobil itu tidak lucu sama sekali, tidak terlihat spektakular secara visual, malah menjijikkan dan membuat mual. Tapi ini masalah selera pribadi, jadi sah untuk diperdebatkan.

Kedua, adalah hal yang sama sekali berbeda. Andai saja aku bagian dari pemerintah berkuasa di Mesir, film ini akan kuusulkan untuk dilarang beredar di negeriku. Begini alasannya.
Coba dibayangkan, saat pasukan Amerika Serikat terbang secara ilegal memasuki wilayah kedaulatan negaraku, membawa serta bersama mereka masalah besar dengan membuka front peperangan melawan pihak ketiga di negaraku dan mengakibatkan jatuhnya korban harta benda dan jiwa penduduk yang notabene adalah warga negara di negeriku, dan lebih parah lagi, peperangan ini menghancurkan warisan sejarah budaya leluhurku yang telah berusia ribuan tahun dan menjadi salah satu Warisan Dunia versi UNESCO, yang dilakukan oleh pasukan gabungan Amerika Serikat dan Inggris tersebut adalah meminta bantuan dari Angakatan Udara Yordania!! Apakah karena mereka menganggap enteng kekuatan Angkatan Bersenjata dan kedaulatan negaraku, Mesir?? Ini adalah bentuk penghinaan yang tak termaafkan!! Tarik Duta Besar kita dan putuskan saja hubungan diplomatik dengan Washington!!


Ketiga, sejak ketibaan Mikaela Banes di kampus Princeton untuk menemui kekasihnya, Sam Witwicky, dan adegan salah paham yang disusul kejar-kejaran dengan robot Alice, seingatku tidak ada sekalipun peluang bagi mereka berdua plus Leo Spitz untuk berganti pakaian. Akan tetapi di tengah-tengah kesibukan mereka menyelamatkan diri dengan bantuan Bumblebee di wilayah Amerika dan kemudian oleh Jetfire di Mesir, entah bagaimana caranya, Mikaela bisa mendapatkan kesempatan untuk mengganti sepatu boot-nya agar ketika berlari-lari di gurun pasir Mesir di bawah teriknya sinar matahari, kakinya tidak akan cedera. Probably because she knew that those sexy boots she wore during her Princeton visit were definitely not made for running.

"We want to see more!"

Tambahan: Ingat ketika Jetfire berubah dari pesawat pajangan di dalam hangar museum dan kembali menjadi robot? Salah satu pertanyaan pertama yang dilontarkannya adalah, “What planet am I in?”.
Beberapa menit kemudian, dia mengatakan kepada Sam dan teman-temannya, “I’m taking you to Egypt.”
Dan tak lama setelah itu, Jetfire kembali mengucapkan satu petunjuk bahwa dia sebenarnya tahu lebih daripada yang dia akui, ”... after a millenium, ...”.
Benar-benar robot tua pintar yang tahu banyak! Bisa jadi dia telah menyempatkan diri browsing Google sebelumnya, sama seperti John Connor.

Yes, this sequel is that horrible, you wouldn't believe your eyes!

Sunday, October 5, 2008

Hollywood Star, with a Reasonable Doubt


Sejak pertama-kali menyaksikan akting Rachel Weisz di film The Mummy, dari logatnya saja aku sudah tahu kalau dia adalah aktris asal Inggris. Tak perlulah sampai harus browsing online untuk mengkonfirmasikan dugaanku tersebut, yang di kemudian hari memang terbukti benar.

Itulah sebabnya ketika satu brand sabun mandi yang mengklaim produknya sebagai sabun kecantikan para bintang membuat iklan dengan mempergunakan Nona Weisz sebagai bintangnya, yang menjadi perhatianku bukanlah tampilan spesial efek yang memperlihatkan seolah-olah para pria dibuat melayang-layang ketika membaui wanginya aroma varian produk terbaru Lux tersebut, melainkan adalah label yang mengembel-embeli nama Rachel Weisz.

Tertera jelas dalam iklan tersebut : Rachel Weisz – Hollywood Star.

Pertamakali melihatnya, aku sempat tertegun.

Bintang Hollywood?
Sejak kapan?

Adalah betul Rachel Weisz memenangkan penghargaan Oscar untuk kategori Actress in a Supporting Role atas aktingnya yang memukau sebagai aktivis hak-hak asazi manusia yang dibunuh secara sadis dalam film The Constant Gardener. Dan Oscar - meskipun dianugerahkan setiap tahun oleh asosiasi para pekerja sinema Amerika Serikat - disukai maupun tidak, adalah salah satu penghargaan paling prestisius (di dunia sinema) di muka bumi.

Tetapi yang seharusnya dan sebenarnya, sampai kapanpun Nona Weisz tetaplah seorang aktris Inggris, sebagaimana Keira Knightley tidak akan pernah menjadi aktris Amerika.

Klaim berlebihan dan “cenderung menyesatkan” semacam ini sesungguhnya bukanlah sesuatu hal yang sama sekali baru, karena untuk teknik komunikasi menggunakan tipu-tipu halus hingga sampai tahap hiperbola, memang iklannya produk-produk kecantikanlah juaranya.
Salah satu kasus yang terjadi belum lama ini, adalah ketika L’Oreal diprotes akibat mengubah warna kulit Beyoncé Knowles menjadi lebih terang daripada aslinya untuk sebuah versi iklan yang dicetak di majalah Elle.
Sedangkan satu contoh dari dalam negeri yang termasuk menonjol bisa jadi masih dari brand yang sama yang menjadi ide dasar tulisan ini. Beberapa tahun lalu, sabun kecantikan Lux menampilkan kampanye supermahal untuk target pasar Indonesia, dengan mempergunakan para bintang papan atas dunia hiburan negeri ini : Tamara Bleszynski, Luna Maya, Mariana Renata, dan Dian Sastrowardoyo.

Slogannya kala itu: “Beauty Gives You Superpower”

Does it??
You be the judge.

Monday, August 4, 2008

If The Photographs Worth Millions ...




















People and Hello! Magazine was widely reported has paid US $ 14 million in order to secure a deal for publication rights of first exclusive photographs of Vivienne Marcheline & Knox Léon Jolie-Pitt, the fraternal twins of ‘The Hollywood’s Sexiest Couple’, Brad Pitt and Angelina Jolie.

Those photographs later on were published in People’s first week of August 2008 special double edition issue. Looking at these family pictures which were spread in 19 pages, would give you a sense so sweet and ethereal, ones that definitely make you go Oohs and Aahs.

I’m sure you’ve heard all the buzz following these coveted celebrity babies’ photos before I posted this, but it turned out, before agreeing on giving the rights to People and Hello!, the Jolie-Pitt couple also successfully nailed an agreement with those two magazines to no longer refer to Jolie & Pitt as ‘Brangelina’. Nice move.
Or perhaps this was because Angeline never likes her name comes in second after Brad’s.

If only that amount of money paid by People and Hello! was invested in some businesses, or Angelina & Brad just deposited it all in a bank, Vivienne and Knox each would be worth more than what Paris Hilton will get from her inheritance.

But in reality, it was reported that all payment went for charity under Jolie-Pitt Foundation.
Imagine how many students could get free education from primary level until they graduate from college, if only Jolie-Pitt Foundation use that amount for scholarship in the Third World.
Obviously, I don’t know in what field this Foundation works in, but hopefully they really do use that money for helping others. Just like what their spokesperson said.