Showing posts with label plot. Show all posts
Showing posts with label plot. Show all posts

Tuesday, August 25, 2009

Kebetulan Yang Tak Menyenangkan


Saat semua penonton tercekam oleh kebengisan dan ketidakmanusiawian Esther dalam menghabisi para korbannya dengan sistematis dan penuh presisi, pikiranku justru diliputi oleh kekalutan, karena alam bawah sadarku mengirimkan sinyal-sinyal bahwa aku sesungguhnya tahu jawaban dari misteri di balik sosok gadis kecil yatim piatu tersebut.

Dan betul saja! Ketika terungkap siapa Esther sesungguhnya, hatiku justru melenyos.

Karena plot yang mirip dengan mengandalkan kondisi fisik khusus sang karakter antagonis sebagai trik ”tipuan” sudah pernah kupikirkan sejak beberapa bulan lalu! Bedanya, saat itu aku masih belum menemukan apa istilah kedokteran untuk menjelaskan kondisi fisik khusus tersebut; dan sialnya, kini jawabannya justru kutemukan dalam film Orphan.

Hiks hiks, artinya kerangka cerita thriller yang sempat kukembangkan dalam pikiran dan pernah dipaparkan secara sangat singkat dalam salah satu entry blog-ku, terpaksa disingkirkan jauh-jauh untuk selamanya.

Damn you, Alex Mace!

Wednesday, June 24, 2009

Those Sexy Boots Weren’t Made for Running

"Catch us if you can, Megatron!"


I felt much disappointment watching Transformers: Revenge of The Fallen, which was released in many parts of the world today. High anticipation and enthusiasm were built in the couple of weeks prior to the release, and in the mere first hour of watching they were all shattered into pieces.

Bayangkan saja, selama hampir 70 menit pertama, masih belum jelas apa tujuan cerita film ini. Kesan yang paling terasa adalah : dipanjang-panjangkan. (Meskipun tidak sampai separah pengalaman menonton Pirates of Carribbean: At World’s End yang begitu membosankan sampai terasa seperti film berdurasi seumur hidup)


Masih kuingat dua tahun lalu, saat end credit Transformers muncul bergerak naik, aku bertepuk tangan kencang karena puas melihat suguhan action mendebarkan dan cerita yang kocak namun tetap menegangkan – sampai deg-degan jantung ini ketika menyaksikan perang di dalam kota dan Sam Witwicky harus berlari-larian dan bergelantungan di puncak gedung demi menyelamatkan diri.

Sebenarnya buruknya kualitas penceritaan sekuel ini sudah mulai terasa sejak ... percaya atau tidak ... dimunculkannya karakter dua ekor anjing keluarga Witwicky di limabelas menit pertama.
Pertama kali kulihat keduanya, alam bawah sadarku seakan mengingatkan, ”Oh gosh! Please don’t show me another joke about two different breed of dogs performing sexual intercourse! I am so fed up with that kind of brainless jokes.” Dan kekhawatiranku ternyata terbukti. Di moment munculnya adegan persenggamaan (yang TIDAK lucu) itulah aku langsung menjatuhkan vonis: film ini pasti jelek!

Betul-betul menyedihkan. Semakin lama cerita Revenge of The Fallen ini semakin jelek, sampai-sampai membuatku menguap bosan. Kemana perginya ketegangan aksi dan struktur penceritaan yang lebih cerdas, seperti yang dipamerkan di prekuelnya??

Ada tiga hal tolol yang membuatku kesal setengah mati dengan sekuel ini.

Pertama, adalah kemampuan ujung lidah Alice tetap berbentuk seperti lidah manusia saat tubuhnya menclok di kap mobil. Bisa jadi kapabilitas tersebut menjadi fantasi sensual bagi sementara pihak, sebagaimana mereka juga pertama kali dibuat terpesona oleh robot sexy di Terminator 3: Rise of The Machines. Namun bagiku sendiri, Alice di atas mobil itu tidak lucu sama sekali, tidak terlihat spektakular secara visual, malah menjijikkan dan membuat mual. Tapi ini masalah selera pribadi, jadi sah untuk diperdebatkan.

Kedua, adalah hal yang sama sekali berbeda. Andai saja aku bagian dari pemerintah berkuasa di Mesir, film ini akan kuusulkan untuk dilarang beredar di negeriku. Begini alasannya.
Coba dibayangkan, saat pasukan Amerika Serikat terbang secara ilegal memasuki wilayah kedaulatan negaraku, membawa serta bersama mereka masalah besar dengan membuka front peperangan melawan pihak ketiga di negaraku dan mengakibatkan jatuhnya korban harta benda dan jiwa penduduk yang notabene adalah warga negara di negeriku, dan lebih parah lagi, peperangan ini menghancurkan warisan sejarah budaya leluhurku yang telah berusia ribuan tahun dan menjadi salah satu Warisan Dunia versi UNESCO, yang dilakukan oleh pasukan gabungan Amerika Serikat dan Inggris tersebut adalah meminta bantuan dari Angakatan Udara Yordania!! Apakah karena mereka menganggap enteng kekuatan Angkatan Bersenjata dan kedaulatan negaraku, Mesir?? Ini adalah bentuk penghinaan yang tak termaafkan!! Tarik Duta Besar kita dan putuskan saja hubungan diplomatik dengan Washington!!


Ketiga, sejak ketibaan Mikaela Banes di kampus Princeton untuk menemui kekasihnya, Sam Witwicky, dan adegan salah paham yang disusul kejar-kejaran dengan robot Alice, seingatku tidak ada sekalipun peluang bagi mereka berdua plus Leo Spitz untuk berganti pakaian. Akan tetapi di tengah-tengah kesibukan mereka menyelamatkan diri dengan bantuan Bumblebee di wilayah Amerika dan kemudian oleh Jetfire di Mesir, entah bagaimana caranya, Mikaela bisa mendapatkan kesempatan untuk mengganti sepatu boot-nya agar ketika berlari-lari di gurun pasir Mesir di bawah teriknya sinar matahari, kakinya tidak akan cedera. Probably because she knew that those sexy boots she wore during her Princeton visit were definitely not made for running.

"We want to see more!"

Tambahan: Ingat ketika Jetfire berubah dari pesawat pajangan di dalam hangar museum dan kembali menjadi robot? Salah satu pertanyaan pertama yang dilontarkannya adalah, “What planet am I in?”.
Beberapa menit kemudian, dia mengatakan kepada Sam dan teman-temannya, “I’m taking you to Egypt.”
Dan tak lama setelah itu, Jetfire kembali mengucapkan satu petunjuk bahwa dia sebenarnya tahu lebih daripada yang dia akui, ”... after a millenium, ...”.
Benar-benar robot tua pintar yang tahu banyak! Bisa jadi dia telah menyempatkan diri browsing Google sebelumnya, sama seperti John Connor.

Yes, this sequel is that horrible, you wouldn't believe your eyes!

Monday, February 23, 2009

Learning from Jay Gatsby


It can be said that I was particularly clueless about the plot of F. Scott Fitzgerald's “The Great Gatsby” when I first started reading it a couple of months back. All I ever knew was that this novel always made it to the shortlist of “great American novels of the 20th century”, or "100 best novels of all time”. I also heard from someone or read from somewhere that this novel had perfectly portrayed the lifestyle of the wealthy and famous, the socialites and crème de la crème which formed New York’s upper class in the 1920s. Those two reasons alone were the main reason that aroused my curiosity to this novel.

Little that I knew that its story would end in such a very dramatic way. That was why I felt some kind of sad, awe and shocked by its very tragic ending.

It also made me ask myself for a thousandth time the ever so old yet still mind-bugging question, “If you really love someone so deep, how long will you wait for her (or him) to love you back with the same intensity?”

Jay Gatsby waited persistently for nearly five years to be able to meet his one true love, Daisy Buchanan, once again.

How long will I patiently wait to be able to meet the love of my life, for the very first time?

Tuesday, May 27, 2008

Apa Lagi Yang Kau Cari, Samantha?


Akhirnya Kuntilanak 3 datang juga menghampiri para pemirsa (setianya, eh?!).

Diklaim sebagai sekuel pamungkas dari kisah para pemuja kekuatan gelap dan pemelihara arwah perempuan yang mati penasaran ini, Kuntilanak 3 berhasil menakut-nakuti penonton dengan pakem khas film horor.

Benarkah demikian?
Silahkan Anda menilainya sendiri.



Film ini dibuka dengan adegan Stella (diperankan oleh Paramitha Rusady yang terlihat tetap cantik semlohei dan awet muda dengan terapi suntik botox, ehm ..., maksudnya Laudya Cinthya Bella yang entah mengapa di dalam film ini memang terlihat dan terdengar sangat mirip Mitha) bercengkerama mesra dengan tunangannya (yang bahkan di situs 21cineplex tidak mendapat credit) sembari duduk berpelukan erat di depan cahaya api unggun yang berkelebat dalam hutan lebat di tengah kegelapan rimba yang begitu pekat (rhymes! tapi untungnya tidak sedang bertelanjang bulat *wink!*).
Hanya perlu melihat beberapa detik pertama dari opening scene tersebut, penonton film horor pintar (maksud sebenarnya, penontonnya yang pintar) pasti sudah langsung tahu kalau Stella akan mati secara gory bahkan sebelum opening credit muncul.

Cara menebaknya sebenarnya cukup mudah.
Di tengah hutan lebat di daerah antah-berantah alias no man’s land di tengah malam buta yang sangat dingin (diasumsikan demikian karena si pemeran pria memakai kaos dalam, kemeja, vest DAN jaket SEKALIGUS), Stella yang selalu tersenyum manis manja group mengenakan baju terbuka dengan belahan dada terlalu rendah sehingga memamerkan (jadi bukan sekedar memperlihatkan, lho, dicatet!) cleavage-nya yang tampak begitu menggoda. Tapi ternyata tidak cukup hanya dengan tampil seksi like such biatch, Stella JUGA BERANI MELAKUKAN "tipikal kesalahan fatal yang sudah begitu klisenya karena dilakukan oleh karakter-karakter yang ditakdirkan mati mengerikan dalam film-film horor", yaitu dengan bercanda tentang nasib buruk dan kematian. Di depan tunangannya sendiri (dan seluruh pemirsa), Stella berpura-pura diserang oleh sosok tak terlihat yang mencekiknya sampai sesak napas. Detik itu juga kita mengetahui alamat nasib buruk yang mengerikan sudah pasti menanti dirinya.
Pertanyaannya bukan lagi ”mengapa Stella?”, tapi ”kapan dan bagaimana?”. Penonton ternyata memang tidak perlu menunggu terlalu lama ...

Dan tentu saja tidak perlu intelijensia tinggi untuk mencerna alur cerita film yang berdurasi kurang lebih 2 jam lebih sedikit ini. Anda cuma perlu duduk manis dan siap-siaplah untuk dikagetkan – atau lebih ekstrem lagi, sampai menjerit kencang sambil menutup mata! seperti yang dilakukan oleh teman menonton saya. Biar tidak terlalu gengsi karena dianggap penakut, tunggulah cue dari ilustrasi musik garapan Andi Rianto, yang dijamin akan sangat memudahkan para penonton untuk menebak, ”Ayo siap-siap, setannya mau keluar lagi nih!”. Lalu dengan patuhnya si setan perempuan muncul ... duengg ! *kyaa!*

Tapi kalau polanya begitu terus sepanjang film, berputar-putar tanpa logika yang jelas – kecuali untuk satu hal, bahwa jelas-jelas semua tokoh yang berseliweran berebut screen time sambil melakukan / mengatakan hal-hal bodoh (please lihat lagi sample lain untuk "tipikal kesalahan fatal yang sudah begitu klisenya karena dilakukan oleh karakter-karakter yang ditakdirkan mati mengerikan dalam film-film horor") satu-persatu akan menemui ajal secara mengerikan demi memuaskan nafsu para penontonnya akan muncratan darah atau nafsu untuk ditakut-takuti – lama-kelamaan pasti capek juga melihatnya.


Yang kemudian justru menjadi tantangan menarik bagi penonton, setidaknya bagi saya sendiri lah!, adalah untuk menerka-nerka siapa dari keempat anak muda metropolis tersebut yang akan mati duluan, kapan kejadiannya dan bagaimana atau se-gory apa adegan pencabutan nyawa mereka, dan siapa yang akan menyusul mati berikutnya di tengah pekatnya selimut misteri hutan kelam Ujung Sedo. Setidaknya bagiku, sudah ga penting lagi apakah mereka akan berhasil menemukan mayat kedua sahabat mereka yang telah hilang duluan di dalam hutan, atau setidaknya bisa apakah mereka bisa melacak jejak bekas pipis atau pup si Stella dan tunangannya yang bodoh itu (ya iyalah! di dalam hutan seperti itu kan ga ada jamban!).

Dan begitu penonton berhenti mengkhawatirkan takdir mengerikan apa yang mengintai keempat sahabat dari balik rimbunnya pepohonan, rasanya tidak ada alasan lagi untuk juga peduli pada apa lagi yang bakal dialami Samantha (diperankan kembali untuk ketiga kalinya oleh Julie Estelle). Kalau dia bisa menemukan jalannya sendiri menuju hutan Ujung Sedo, dan kalau dia bisa menemukan gua menyeramkan itu hanya dengan mengandalkan intuisi, rasanya akan lebih baik kalau saja Samantha meninggalkan keempat sahabat tersebut dan tidak melibatkan mereka dalam petualangan yang sejak awal sudah kental bau darah ini. Toh begitu dia berhasil melepaskan diri dari keresehan dan kebodohan keempat sahabat itu, Samantha bisa dengan cepatnya menemukan dan lantas berhadapan langsung dengan sumber dari segala sumber rangkaian malapetaka yang bertubi-tubi menimpa dirinya tersebut, which happened in one of the technically best horror scenes ever graced Indonesian cinema.


However, kudos pantas diberikan untuk aspek-aspek teknis Kuntilanak 3 yang sangat berhasil membangun atmosfer ketegangan yang menakutkan, khususnya di beberapa adegan horor klimaks yang kelas dan kualitasnya jelas-jelas sekian tingkat di atas beberapa rilisan film horor Indonesia belakangan ini (am pointing at the legendary comeback of The Indonesia Queen of Horror, Suzanna. Such a shameful return, Ma’am).