Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Wednesday, August 19, 2009

Alfonso, Alfonso.


Untuk ‘merayakan’ hari berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-64, di minggu hari merdeka kuputuskan untuk membaca satu buku yang kunilai cukup mewakili semangat kebangsaan dan nasionalisme. Judulnya Kopi Merah Putih Obrolan Pahit Manis Indonesia, karya sekumpulan orang yang menamakan diri mereka Indonesia Anonymous.

Berhubung judulnya saja sudah ‘obrolan’, isi buku ini ya semacam rangkuman dari perbincangan iseng ngalor-ngidul tentang hal-hal yang (seharusnya) menjadi isu penting di negeri ini. Namun ternyata, selain topik tentang listrik dan pendidikan, mayoritas pembahasan tidak terlalu menarik perhatianku. Yah, namanya saja ‘obrolan’, tidak memberikan lebih daripada saran-saran ideal. Kurang menarik lah kalau ”cuma” begini doang, pikirku.

Lalu tiba-tiba aku tersentak. Kaget! Bukan karena content buku itu, melainkan oleh benakku yang baru saja mengingatkan bahwa tadi sore buku ini diendus-endus dan dijilat-jilat sampai basah oleh Alfonso. Wedew! Langsung poseku yang tadinya santai membaca sambil tengkurap, bangun dan refleks melempar Kopi ke lantai. Meskipun kemudian, ketika aku teringat satu fakta ilmiah bahwa seharusnya mulut Alfonso lebih bersih daripada mulutku sendiri, dengan perlahan kupungut lagi buku itu dan kembali membalik halaman-halamannya untuk mulai kembali melanjutkan membaca.

Pertanyaan sekarang: Siapakah Alfonso?

Jawaban: seekor anjing golden retriever berusia 8 bulan yang bertugas menjaga Oakwood Plaza, bergiliran dengan seekor doberman dan seekor rotweiller.

Si Alfonso ini lucu sekali! Dia selalu tampak diam-diam saja atau sambil mengendus-endus jalan yang dilaluinya saat dibawa oleh petugas keamanan yang memegang talinya. Tapi begitu bagian kepala dan belakang telinganya digaruk-garuk sambil ditepuk-tepuk, dia akan mulai memperlihatkan sifat aslinya yang lucu. Tidak bisa diam dan minta diajak bermain. Pertama kali kuajak dia bermain saat itu, lenganku digigit-gigit sampai basah berlumuran liurnya. Mungkin karena lengan bawahku terlalu kurus, mirip tulang. Saat hendak kutinggalkan, Alfonso tampaknya malah protes dan mencoba melompat ke tubuhku hingga ia berdiri dengan kedua kaki belakangnya. Aduh lucunya! Alangkah menggemaskannya!

Mendadak jadi pengen punya anjing golden retriever milik sendiri yang bisa diajak main kapan saja aku suka. Tapi setelah dipikir-pikir, anjing ras macam ini butuh modal lumayan untuk membuatnya tetap lucu dan menggemaskan. Jangan sampai karena diberi makan nasi padang seperti kesukaan majikannya, lantas bulu-bulunya rontok. Kasihan dia nanti.

Selain Alfonso si golden retriever, aku juga sempat berkenalan dengan si rotweiller. Tapi dia begitu pemalu, selalu mencoba menjauh setiap kali kucoba membelai dan menepuk kepalanya. Entah karena takut, atau ada alasan psikologis keanjingan lainnya? Yang jelas, tidak seru rasanya mengajak seekor anjing bermain, atau minimal bersalaman, apabila semakin didekati dia malah semakin menjauh.

Alfonso dan teman-temannya mulai bertugas menjaga Oakwood Plaza belum terlalu lama. Kalau tidak salah, sekitar 2-3 minggu setelah serangan bom di Ritz-Carlton dan J.W. Mariott Hotel. Berhubung lokasinya yang berdekatan, kurang-lebih hanya 100 meter dari tempat kejadian perkara, pihak management Oakwood Plaza sepertinya tidak mau mengambil resiko, dan memilih untuk meningkatkan pengamanan hingga berlapis-lapis. Bayangkan saja, berdasarkan pengamatan sederhana dan perhitungan kasar, paling tidak selalu ada 12-14 orang security guard yang bertugas menjaga dan mengawasi setiap pintu masuk dari area luar (tidak termasuk petugas keamanan yang berjaga di setiap pintu masuk ke dalam setiap establishments). Masing-masing empat orang petugas di area keluar-masuk kendaraan, dan dua orang untuk setiap area keluar-masuk pejalan kaki.

Terlalu berlebihan? Tidak juga. Ini penting mengingat Oakwood Plaza memiliki Loewy, yang menjadi salah satu tujuan favorit bersenang-senang orang-orang asing / ekspatriat di Ibukota. Dan Loewy ini, jujur saja, tanpa pengamanan ketat dari para security guards, akan terlalu terbuka dan rentan untuk menjadi target serangan para bajingan pengecut yang mimpi masuk surga itu. I love hanging out at this place, not only at Loewy, but in the place as a whole. Oleh karena itulah, selalu kuusahakan untuk tidak merasa keberatan dan terganggu setiap kali harus membuka tas di hadapan para petugas pengamanan itu, dan selalu tersenyum setiap kali mereka selesai memeriksa tasku dan mengucapkan terima kasih. Mereka – dengan menyadari segala resiko pekerjaannya – sedang menjalankan tugasnya untuk menjaga keamanan dan kenyamanan para pengunjung Oakwood Plaza. Dan tentunya, bekerja dengan tekun termasuk ibadah, bukan?

Hhmh, jadi pengen bermain-main dengan Alfonso lagi.

Tuesday, August 11, 2009

Probably The Only Indonesian Ever to Read "The Mysteries of Pittsburgh"



A guy whom I befriended with in goodreads recently sent me an online message. He noticed that I had just finished reading this novel by Michael Chabon, The Mysteries of Pittsburgh. Apparently, this guy works in a local publishing company. He said that his company wants to translate said novel into Bahasa and subsequently publish it in this country. He also asked me whether I have time to read their translated draft and give comment.

Remembering how I keep breaking promises, even the ones I made myself for my own good, I simply refused. But I gave him a very different reason. I told this guy, that I can’t imagine this novel being published in Indonesia. Not because it dealt with certain issues like the Jewish mob organization or homosexuality among young men (hey, we’ve seen and read enough about them already!), but because it’s probably going to be “religion-sensitive” case.

You see, one of the novel’s supporting characters is an Arab guy who happens to be a quite flamboyant homosexual. I don’t care what Mahmoud Ahmadinedjad said, but different sexual preference is not race-exclusive. What I found most unsettling about this character that might wreak havoc and cause storm of protests among many Indonesians, is because this Arab gay guy’s name is Mohammed – quite similar with the name of Islam's highest prophet.

Even though I have to honestly admit, that if readers set the Arab gay guy issue aside, this novel may make a good read. It has romance (though more about confused love interests between male-male-female), a little bit of action (a chasing scene involving a police helicopter), talks about the search for personal identity and coming-of-age, intimate feelings (losing the one you loved most), and tragic death. To make it short, a complete novel.

Somehow, I found it quite a relief that probably, I’m the only Indonesian who ever read this novel.



Images were taken from various sources, depicting scenes in the movie adaptation of "The Mysteries of Pittsburgh".

Wednesday, June 3, 2009

[Unconfirmed] Rumor Has It ...



Kembalinya Manohara Odelia Pinot bersama ibundanya, Daisy F., ke Indonesia berkat bantuan dari staff Kedubes AS di Singapura, Kepolisian Singapura dan staff Kedubes RI di Singapura, menurut kabar-kabur yang belum bisa dikonfirmasikan kebenarannya, membuahkan kegusaran bagi beberapa figur publik, selebriti dan tokoh nasional Tanah Air.

Seorang tokoh teater dan film nasional, aktivis hak-hak wanita dan pemerhati politik yang sempat mencalonkan diri sebagai calon presiden independen, merasa sangat kecewa karena belum satu minggu berlalu sejak dia di depan puluhan wartawan infotainment menyatakan dengan tegas menarik diri dan dukungannya dari advokasi terhadap kasus Manohara O. Pinot, dan secara terbuka menuduh Daisy F. mendramatisir kasus ini serta memberikan keterangan palsu yang manipulatif demi keuntungan pribadi dan menuai simpati.

Setelah menyaksikan wawancara Manohara di salah satu acara infotainment di sebuah stasiun televisi swasta, seorang mantan pemain sinetron kondang (catet, bukan aktris!) yang lebih tersohor dengan koleksi kostumnya yang selalu matching dan fantastis dalam setiap kesempatan tampil di hadapan publik (misalnya dengan berjalan-jalan di sebuah mall elit di kawasan Pondok Indah sambil mengenakan winter coat berbulu-bulu, misalnya), merasa tersinggung dengan pengakuan Manohara yang menyebutkan dia terpaksa meninggalkan lima dari enam buah Birkin miliknya di Kelantan. Selebriti yang kabarnya sebentar lagi akan berkantor di Senayan setelah memenangi pemilu legislatif lalu ini merasa sangat tertampar dengan “keputusan berat” yang terpaksa ditempuh Manohara dengan meninggalkan semua koleksi barang-barang branded miliknya tersebut di tangan keluarga sang suami. Hal ini terkait dengan sebuah “insiden” memalukan yang melibatkan sang selebriti yang terjadi beberapa tahun silam, sekali lagi menurut kabar burung yang susah dikonfirmasikan kebenarannya, ketika dirinya nyaris dicegah masuk ke Prancis oleh pihak Imigrasi setempat karena koper-koper yang dipergunakannya ternyata adalah Louis Vuitton palsu.

Tour de la televisions yang dilakukan oleh Manohara O. Pinot dan ibundanya ke semua stasiun televisi nasional selama dua hari pertama kepulangannya ke tanah air, dikabarkan juga membuat gusar seorang pemain sinetron muda yang baru beberapa tahun terjun ke dunia entertain tanah air (yes, “entertain” is written intentionally) tapi namanya sudah menjadi common household name. Kabar kaburnya, si model dan pemain sinetron yang sempat tersohor akibat “hujyan”, “bechekk” dan “ojhyekk” ini tersinggung karena ketidakmampuan dan ketidakfasihan Manohara dalam bertutur bahasa Indonesia dalam semua wawancara tersebut membuat orang-orang lupa bahwa trademark ketidakbisaan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar menurut standar Bapak J.S. Badudu adalah miliknya dan pertama kali dipopulerkan olehnya. Andai saja si bintang sinetron muda ini tahu teknik berbicaranya akan diterapkan oleh seorang perempuan muda lainnya untuk menciptakan opini publik yang positif sekaligus untuk menerbitkan simpati (Manohara cried on telly, live!, while she never did), pastinya sudah sejak dulu ia dan sang manager (MM, alias Manager Mama) sudah mendaftarkan ‘talenta khusus berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia’ ciptaannya ke Direktorat HAKI.

Wanita terakhir yang patut diduga merasa resah dengan kembalinya Manohara O. Pinot ke Indonesia adalah seorang tokoh nasional yang sedang berjuang untuk merebut kembali tampuk kepemimpinan negara ini dan menduduki kembali kursi empuk RI 1. Munculnya wajah bundar bersinar Manohara di semua headline media cetak maupun elektronik seakan menjadi gerhana yang menutupi sosok Ibu satu ini, sekaligus mengalihkan perhatian rakyat dari jargon anti-neoliberal dan pro-ekonomi kerakyatan yang diusungnya bersama teman barunya. Untungnya, berdasarkan pengalamannya sendiri, si Ibu tahu persis kehebohan (“ga penting”) semacam ini tidak akan bertahan lama. Nothing lasts forever, or for quite long. Sama seperti ‘gerhana’ Manohara.





Disclaimer:
Tulisan ini dibuat sekedar untuk tujuan iseng belaka dan mohon dianggap sebagai guyonan.
Semoga tidak ada pihak-pihak yang mengajukan tuntutan pencemaran nama baik dan menjerat penulis dengan
UU Informasi dan Transaksi Elektronik, sebagaimana yang dialami oleh Ibu Prita Mulyasari.



Friday, April 17, 2009

Sesosok Pria Yang Selalu Tampak Tersenyum



Kalau kita sudah ’terlanjur’ mengakrabi sosok seseorang di masa-masa ketika ia sudah tidak muda usia lagi, tentunya akan terasa sedikit aneh apabila kemudian melihat dari foto atau bentuk dokumentasi lainnya, bagaimana penampakan orang tersebut di masa muda.

Misalnya, sejak pertama kali aku bisa mengingat pun, rasanya Bapak sudah terlihat cukup tua. Mungkin saat itu umurnya sudah lebih dari empatpuluh tahun. Rambutnya sudah mulai memutih karena ubannya sudah tumbuh banyak, tapi dia mengakalinya dengan cat rambut hitam merk tancho.
Masih bisa pula kuingat piring kaleng kecil yang biasanya ia jadikan wadah untuk mengaduk formula tancho itu. Diameternya paling sekitar limabelas sentimeter, dengan ornamen dedaunan hijau dan kembang berwarna merah yang entah apa jenisnya dan telah berubah warna karena berulang-kali terkena tancho. Biasanya, Ibu lah yang mempersiapkan formula tancho itu, lantas menyemirkannya di kepala suaminya sambil mereka berdua asyik mengobrol entah tentang apa saja yang melintas di kepala.

Masih bisa juga kuingat, ketika aku bersama Adik dan Kakak ditemani Ibu berdiri di tepian jalan aspal, berbaris bersama ratusan orang lainnya.
Saat itu aku masih sangat kecil, belum lagi mulai masuk sekolah. Kakak tampak begitu bersemangat siang itu, dan memilih bergabung bersama teman-temannya yang tampak sibuk mengibar-ngibarkan bendera Merah Putih.
Ibu menggenggam tanganku dan Adik. Ibu bilang, kami berdiri di tepi jalan untuk menyambut kedatangan Bapak Presiden. Ibu tampak begitu bersemangat, sama seperti wajah semua orang yang berdiri di tepian jalan aspal itu. Adikku sedikit berbeda, wajahnya sedang cemberut, karena tadi dipaksa mandi dan bersiap-siap oleh Ibu, padahal dia masih ingin bermain dengan tentara-tentaraan plastik hadiah ulang tahun kami. Terkadang Adikku sering bertingkah konyol dan menyebalkan, tapi Ibu jarang memarahinya. Kakakku pernah bilang, itu karena Adik adalah anak bungsu di keluarga kami. Entah apa maksudnya ketika itu berkata demikian, dan baru ketika usiaku semakin bertambah barulah kupahami makna tersiratnya.

Orang-orang mulai ramai berteriak-teriak, dan ratusan tangan, entahlah berapa banyak persisnya, tapi ada terlihat begitu banyak tangan terangkat mengacung ke udara, dan ratusan bendera Merah Putih kecil-kecil terkibar dengan kencang dan bersemangat.
Siang itu rasanya sama seperti siang-siang sebelumnya. Langit masih tetap berwarna biru cerah, dan matahari tetap bersinar terik. Biasanya Ibu suka bawel kalau aku dan Adik serta teman-teman bermain sepak bola di lapangan saat panas terik begini. Ibu tak ingin kami terlihat dekil dan kumal, karena nanti Bapak akan marah dan menganggap Ibu tak becus mengurus anak-anaknya sendiri. Namun siang ini justru Ibu yang terlihat bersemangat meskipun keringatnya terlihat mengalir cukup deras.
Pasti ada yang tidak biasa hari ini, demikian pikirku. Siapapun Bapak Presiden itu, dia pasti penting sekali, sampai-sampai Ibu memakai salah satu baju terusannya yang masih relatif baru yang ia jahit sendiri untuk acara Natal tahun sebelumnya, dan kuperhatikan juga betapa berbedanya wajah Ibu saat itu. Ia mengenakan rias wajah sedikit, sesuatu yang tampak tidak biasa. Dan wajahnya tetap tersenyum, meskipun kulihat bajunya sudah mulai basah karena keringat.

Lalu aku mendengar bunyi sirene kencang mengaung-ngaung. Perhatianku langsung tertuju ke jalan, mencoba menyelip menyelinap untuk bisa melihat lebih jelas.
Ah, aku kesal sekali, terlalu banyak orang dewasa menghalangi pandanganku, padahal aku mau melihat lebih jelas kenapa ada sirene meraung kencang. Tapi Ibu tak mau melepas pegangannya di tanganku, meskipun sudah kutarik-tarik. Akhirnya aku mundur dan kembali merapat ke dekat kaki Ibu. Kesal, karena tak bisa melihat apapun selain orang-orang dewasa. Huh, kalau saja aku sudah lebih besar ..., demikian pikirku.

Tak lama, lewatlah berderet-deret motor tentara dengan sirene berbunyi kencang dan lampunya berwarna terang berkilatan. Gagah sekali rasanya naik motor seperti itu. Seperti para polisi di serial Chips yang biasa ditonton oleh Ibu dan Bapak dari siaran televisi Malaysia. Di belakang motor-motor itu ada mobil jip tentara, dan diikuti pula oleh beberapa sedan gelap berkaca hitam.
Semua orang tampak berteriak-teriak penuh semangat dan semakin histeris melambai-lambaikan bendera Merah Putih kecil yang berada di tangan masing-masing ke arah sedan gelap berkaca hitam itu. Aku tak mengerti, mobil siapa itu sebenarnya? Mana Bapak Presiden yang katanya mau lewat? Aku masih belum lagi melihatnya.
Tampak di belakang sedan gelap berkaca hitam yang melaju dengan sangat kencangnya itu, lewatlah entah berapa mobil lagi yang juga tak jelas siapa yang berada di dalamnya. Semuanya tampak berkaca gelap dan tak terlihat sedikit pun siapa-siapa saja yang duduk di kursi belakang.

Lalu tiba-tiba saja semuanya selesai. Orang-orang mulai membubarkan diri dari barisan, dan Ibu sambil menarik tanganku dan Adik berkata, “Ayo, Nak, kita pulang. Bapak Presiden sudah lewat.”
Wajah Adik langsung berubah cerah, sedangkan aku masih saja tak mengerti. “Bapak Presidennya mana, Bu? Kok aku belum melihatnya dari tadi?”
”Tadi sudah lewat kok, Sayang. Di dalam salah satu sedan gelap berkaca hitam itu. Ibu juga tak tahu dia di mobil yang mana. Tapi Ibu bangga, Bapak Presiden mau berkunjung ke kota kita. Bapak kalian mungkin nanti bisa melihat beliau langsung saat di pabrik nanti. Kita tunggu Bapak kalian pulang saja ya, mungkin nanti dia bisa bercerita banyak tentang Bapak Presiden.”
Malamnya ketika Bapak pulang, seingatku dia tak bercerita apapun tentang kunjungan Bapak Presiden pada hari itu. Atau barangkali ingatanku keliru, dan Bapak sungguh bercerita kepada kami semua, tapi aku saja yang sudah lupa.

Hingga malam kemarin, ketika aku membongkar salah satu kardus tua yang menumpuk di dalam gudang untuk mencari kotak Monopoli yang dibelikan Kakak ketika dia masih kuliah, lebih dari sepuluh tahun lalu, sebagai hadiah kenaikan kelas. Entah mengapa aku mendadak kangen untuk bermain Monopoli lagi, meskipun malam kemarin tak ada seorang pun yang bisa kuajak bermain. Begitu kubuka kardus tua itu, yang pertama kali kulihat adalah sebuah album prangko yang sudah kumal dan sedikit berdebu. Ah, jadi teringat hobi filateli yang kutekuni saat aku masih duduk di sekolah dasar. Malam kemarin, tak bisa kuingat kenapa kemudian aku berhenti mengoleksi prangko. Bisa jadi karena bosan. Kubuka sampul depan album, dan kubalik lembar demi lembar halamannya yang tebal. Tak sengaja, mataku tertuju pada deretan koleksi wajah Bapak Presiden dalam prangko. Seperti sebuah milestone saja, melihat serangkaian memorabilia yang seakan membawamu kembali ke masa lalu. Salah satunya yang kemudian mengingatkanku kembali pada satu siang ketika aku, Adik, dan Ibu berdiri di tepi jalan di bawah cahaya matahari yang panas dan terik, adalah wajah Bapak Presiden sedang mengenakan peci dan setengah tersenyum. Tahun yang tercantum di dalam prangko : 1974. Ah, jadi seperti ini ya wajah beliau ketika masih belum terlalu lanjut usia, demikian batinku berkata. Entah mengapa aku bisa lupa.

Yang masih kuingat sangat jelas, sampai Bapak Presiden meninggal beberapa tahun lalu, belum pernah sekalipun aku melihat sosoknya yang sudah berusia lanjut itu secara langsung dengan mata kepalaku sendiri.
Di dalam bayanganku, beliau hanyalah sesosok pria tua yang selalu tampak tersenyum lebar mirip meringis, yang kukenal lewat tayangan-tayangan di layar kaca. Atau dari koran Suara Karya yang dibagikan gratis dari kantor Bapak. Atau dari harian Kompas yang memang jadi langganan keluarga kami.
Hanya melalui siaran televisi sajalah, bisa kulihat jelas sosok Bapak Presiden. Dari tayangan-tayangan di layar kaca itu, beliau tampak jauh lebih dekat dan lebih akrab daripada hari itu, di siang yang panas terik ketika kami berdiri di tepi jalan dan sedan gelap berkaca hitam melaju kencang di depan kami semua.


Friday, March 20, 2009

Pizza a la Zanzibar


Lagi pengen berbagi cerita iseng di hari Jumat pagi. Berhubung sudah weekend, jadi topiknya yang ringan dan santai aja, seperti nyiur melambai di tepi pantai. Ssaaahhh ...

Kebetulan (again?) tadi sempat menonton program jalan-jalan wisata yang diproduksi oleh sebuah stasiun televisi Inggris. Sepertinya seru sekali. Ceritanya si host yang adalah seorang laki-laki yang tampaknya in his early thirties (and yes, he has English teeth) sedang berkunjung ke benua Afrika.

Diperlihatkan kepada para pemirsa, bahwa si host sedang berada di Zanzibar, dan mengunjungi sebuah pasar tradisional yang katanya khas sana. Waktu kuamati, malah yang kepikiran, kok mirip banget dengan pasar-pasar tradisional nan becek berlumpur dan bau di negara kita ya?

Sambil menatap ke kamera dan nyengir tersungging, si host mengajak para pemirsa, ”Ayo kita makan Pizza Zanzibar!”
Lalu diperlihatkan tayangan close up bagaimana cara mengolah bahan-bahan dan memasaknya menjadi Pizza Zanzibar. Lapisan semacam ’kulit’ seperti pangsit besar dikembangkan melebar lantas digoreng di alas penggorengan rata dengan minyak panas. Di atasnya, dicampur segala macam bahan dan bumbu untuk menyedapkan rasa, lalu ’kulit’ tersebut dilipat sambil terus digoreng.
Aku sempat penasaran melihat proses memasaknya, karena terlihat cukup familiar. ”Kayanya aku bisa kebayang deh bentuk jadinya,” demikian batinku saat itu.

Setelah matang, si host langsung memakan pizza yang dihidangkan di atas piring plastik murahan dengan mempergunakan tangan, tanpa sendok garpu.
”How barbaric!” demikian komentar terlontar bagi mereka yang makan dengan cara tersebut, demikian menurut cerita-cerita dari Inggris Raya era Perang Dunia II karya Enid Blyton.

Yang membuat aku tertawa terbahak-bahak, adalah melihat ekspresi ”maknyus” dan ”ajib” yang terlihat di wajah si host.
Karena ternyata, yang disebutnya Pizza Zanzibar itu ternyata sama persis dengan martabak telor di Indonesia. Ha! Ha! Ha!

Jadi teringat ’kasus’ Indomie yang jadi makanan pokok aseli Nigeria.


Wednesday, December 24, 2008

Menolak Untuk Melupakan Sejarah

Wajah perempuan itu terlihat begitu tua, kulitnya yang berwarna kecoklatan ditandai bintik-bintik hitam dengan guratan keriput pertanda rentang usia yang sudah begitu lama menghirup udara Nusantara. Giginya hanya tinggal beberapa, itu pun seringkali tersembunyi di balik katupan bibir yang dulunya pasti penuh dan merah, namun kini sudah ikut keriput juga. Dengan suara terbata-bata sambil sesekali mengusap air mata yang menggenangi pelupuk mata, perempuan tua itu bertutur tentang pengalamannya mencari suaminya yang sempat menghilang seharian. Suaminya yang kemudian dia temukan menjelang senja dalam kondisi sudah tak lagi bernyawa, tersungkur di sawah yang basah oleh air hujan bercampur darah manusia bersama puluhan mayat lainnya.

Nama perempuan tua itu, Wanti. Malam tadi kulihat dia dalam tayangan ”Nama dan Peristiwa” yang disiarkan oleh tvone. Wanti adalah salah satu janda korban pembantaian Rawa Gede, sebuah desa kecil yang terletak di Karawang, Jawa Barat.

Sekitar 61 tahun yang lalu, saat perundingan Renville terkait penentuan kedaulatan Indonesia baru dimulai satu hari sebelumnya, sepasukan tentara Belanda mengepung desa Rawa Gede, dalam upayanya mencari dan menangkap para tentara pejuang Indonesia yang diperkirakan bersembunyi di desa tersebut. Setiap rumah di Rawa Gede didobrak masuk dan digeladah untuk mencari senjata maupun para pejuang yang barangkali tinggal bersama penduduk.
Seluruh penduduk berjenis kelamin laki-laki di atas usia 15 tahun kemudian dikumpulkan dan digiring ke suatu tempat. Mereka semua dibariskan berjajar dan ditanyai tentang keberadaan para tentara Indonesia. Tak satu lelaki pun mengaku tahu, tak seorang pun bisa menjawab interogasi tentara Belanda itu.
Yang kemudian terjadi adalah, tanpa melalui prosedur pengadilan, tuntutan maupun pembelaan, seluruh lelaki itu diberondong dengan senapan mesin oleh para tentara Belanda. Mereka semua dibantai di tempat. Satu persatu tubuh para lelaki itu roboh ke bumi, meregang nyawa atau mati seketika. Beberapa mayat yang sudah saling menindih bahkan masih ditembaki beberapa kali, untuk meyakinkan bahwa mereka semua sudah mati.
Darah pun mengalir membasahi pertiwi.

Tidak cukup sampai di situ, tentara Belanda masih terus mencari jejak para lelaki yang diduga sempat melarikan diri. Mereka diburu seperti hewan liar, dikejar dengan bantuan anjing pelacak. Setiap lelaki dewasa yang ditemukan, ditembak mati di tempat. Hari itu, 9 Desember 1947, ratusan jiwa penduduk sipil melayang di Rawa Gede.

Malam tadi, menyaksikan penuturan Ibu Wanti tentang hari kelam 61 tahun yang lalu itu, membuat perih hati ini.
Dengan suaranya yang lirih dan semakin terbata-bata sambil terus mengusap air mata, Ibu Wanti bercerita bagaimana seorang tetangganya memberitahu bahwa suaminya tercinta tewas ditembak tentara Belanda. Dalam kondisi tengah hamil 9 bulan, Ibu Wanti ditemani oleh ibunya pergi mencari mayat suaminya. Di bawah derasnya hujan yang dicurahkan langit yang seakan turut menangisi kepergian ratusan lelaki Rawa Gede, Ibu Wanti bersama ibunya terpaksa harus mencari-cari di antara tumpukan mayat lelaki yang saling tumpang tindih di tengah sawah. Dua perempuan ibu dan anak ini, dalam kedukaan yang mendalam, tanpa lelah terus mencari lelaki yang mereka kasihi, bersama dengan puluhan perempuan Rawa Gede lainnya. Setelah mayat suaminya berhasil ditemukan, berdua bersama ibunya, Ibu Wanti harus bersusah payah membawa mayat tersebut kembali ke desa untuk dimakamkan secara Islam. Tak bisa kubayangkan betapa hancurnya hati Ibu Wanti dan ibunya senja itu, karena imam sekaligus pencari nafkah keluarga mereka telah pergi untuk selamanya.

Malam tadi, baru untuk pertama kalinya aku mengetahui ada peristiwa keji semacam ini terjadi di negeriku Indonesia. Tak habis pikir rasanya, mengapa kejahatan perang semacam ini tak pernah masuk dalam catatan peristiwa di buku-buku sejarah yang kupelajari semasa sekolah.
Apakah nyawa ratusan lelaki dari sebuah desa kecil di Karawang yang direnggut paksa tersebut tidak bermakna apapun juga?
Dan mengapa, berdasarkan beberapa wawancara yang ditayangkan dalam program acara malam tadi, Pemerintah kita – termasuk para anggota Dewan terhormat – seakan turut menutup mata dan tidak peduli, tak pernah secara serius memperhatikan nasib mereka dan mendukung upaya advokasi para korban untuk memperkarakan kejahatan perang ini di Mahkamah Internasional?

Apakah sebegitu tidak relevannya bagi bangsa ini, penderitaan yang harus ditanggung oleh para penduduk Rawa Gede yang hidupnya berubah drastis untuk seterusnya, sejak hari naas 9 Desember, 61 tahun yang lalu itu?

Apakah kita ’diharapkan’ lupa pada sejarah perjuangan bangsa ini – serta seluruh pengorbanan yang diserahkan oleh para pendahulu kita – saat berupaya mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Negara Indonesia?

Aku memilih untuk tetap ingat. Setidaknya dengan caraku sendiri.
Itulah sebabnya aku membuat tulisan ini.


Friday, December 19, 2008

Salaam, Saudaraku



Ada yang perlu dicermati secara khusus tentang pelaksanaan kerukunan antarumat beragama di negeri ini, ketika ...

Perusahaan-perusahaan besar berlomba-lomba membuat iklan khusus dan memasangnya dalam jumlah ratusan spot yang bernilai milyaran rupiah di berbagai stasiun televisi, dengan bertemakan toleransi antarumat beragama - yang entah mengapa seringkali memperlihatkan pengadeganan mereka yang menganut agama bukan mayoritas di Nusantara dengan sukarela mengulurkan tangan membantu temannya dari agama mayoritas untuk menunaikan ibadah.

Ini merupakan jenis tema iklan yang sebenarnya akan lebih menyentuh sanubari dan membanggakan lagi, andai saja yang kemudian terjadi adalah ...

Munculnya versi 'balasan', di mana giliran si penganut agama mayoritas yang sebelumnya dibantu dalam melancarkan penunaian ibadahnya oleh si penganut agama minoritas, gantian mengulurkan tangan dengan tulus membantu ketika menjelang dan selama perayaan hari besar agama-agama minoritas lainnya yang berlangsung di lingkungannya.

Dan ketika justru hal ini tidak terjadi, lalu ...

Bagaimana mungkin toleransi tercipta dan kerukunan terjaga, apabila ego yang lebih berkuasa?

Friday, October 24, 2008

Hargai Hidup, Nikmati Musik !


Mungkin saja apabila ada pihak-pihak tertentu yang kebetulan sedang mencari contoh dari sesiapa yang layak dikategorikan sebagai Generasi MTV, bisa jadi aku adalah salah satu sampel yang bisa diajukan. Meskipun sebenarnya, aku mengenal MTV baru sekitar akhir dasawarsa ‘80-an dan awal ’90-an, ketika MTV telah melewati usia 5 tahun dan aku sendiri berusia hampir dua kali lipatnya.

Saat itu, menonton MTV menjadi semacam “candu” hiburan yang bisa membuatmu betah duduk terpaku menonton selama berjam-jam. Padahal apabila mencoba kembali mengingat masa-masa itu, sulit rasanya membayangkan betapa aku bisa terpesona melihat penampilan band rock maupun group vocal dengan dandanan baju penuh warna dan kemerilip, pulasan make-up yang untuk standar sekarang hanya mungkin terlihat ketika akan menyambut Halloween, dan yang paling penting ... rambut megar bak surai singa!

Namun aktivitas menikmati musik dan lagu itu benar-benar menyenangkan. Siapa juga yang bisa menyangkalnya? Aku sendiri menjadi semakin teryakinkan tentang hal ini, ketika tadi pagi mengecek koleksi lagu di dalam PC, dan menemukan lebih dari 2600 track audio berupa lagu dan musik dari berbagai genre serta lintas generasi dan setidaknya mempergunakan empat bahasa, yang apabila diputar back-to-back tanpa putus (non-stop), akan membutuhkan waktu lebih dari 190 jam untuk memperdengarkan semuanya.

Barangkali, kesukaanku pada musik kurang lebih sama dan berakar pada manusia purba yang hidup belasan ribu lebih dulu daripada aku. Sebagaimana yang bisa dibuktikan dari temuan-temuan sejarah, musik dan lagu adalah salah satu bentuk kesenian yang paling awal diciptakan oleh manusia, bahkan jauh sebelum mereka mengenal aksara dan sistem perdagangan purba.

Terlepas dari beberapa resistensi yang dilakukan oleh sementara pihak terhadap perkembangan jenis musik dan lagu tertentu di berbagai era – generasi senior yang sekarang berusia di atas 50-an tahun di negeri ini tentu masih bisa mengingat bagaimana almarhum Presiden Soekarno di masa-masa jayanya pernah melarang peredaran dan dimainkannya musik ngak-ngik-ngok semacam The Beatles di seluruh Nusantara – tidak bisa dipungkiri kalau musik selalu berkembang pesat seiring perkembangan kebudayaan umat manusia.
Hingga hari ini, ada begitu banyak jenis ragam genre maupun subgenre yang telah diciptakan manusia, niscaya akan membuat pengkategorian dalam penghargaan musik harus lebih spesifik dan beragam apabila ingin merangkul semua aliran yang ada.

Kembali kepada diriku sendiri, susah rasanya menyebutkan jenis musik apa yang paling kugemari. Biasanya aku akan menjawab yang paling gampang : pop, tanpa bisa menyebut secara spesifik. Padahal kalau melihat koleksi musikku berupa kaset dan CD, bisa jadi akan sedikit membingungkan mereka yang ingin membuktikan pernyataanku ini. Barangkali tidak bisa dipungkiri betapa besar pengaruh MTV dalam menentukan selera musikku, khususnya terkait artis-artis dan musisi-musisi internasional.

Namun bagaimana dengan pengetahuan dan selera tentang artis dan musisi lokal? Bagi mereka yang pernah mengenal masa-masa jayanya TVRI sebagai satu-satunya saluran televisi nasional di era 1980-an, pasti sudah akrab dengan program Album Minggu Kita, Selekta Pop dan Aneka Ria Safari. Kedua program inilah yang bisa dinilai paling bertanggung jawab dalam membentuk selera musik seluruh penduduk nusantara. Sama seperti yang terjadi di keluarga kami. Tiap hari Minggu, kami sekeluarga ketika melakukan aktivitas apapun, cenderung memilih yang bisa dilakukan sembari menonton televisi. Terkadang, kami sekeluarga bahkan tidak melakukan apapun selain semuanya duduk di posisi masing-masing, Bapak dan Ibu di kursi, sedangkan anak-anaknya dalam berbagai pose, mulai dari ikut duduk di sofa sampai menggelesor di atas karpet, semua mata tertuju ke layar kaca, menikmati barisan penyanyi Indonesia yang muncul bergantian untuk berdendang dan bergoyang.

Masih bisa kuingat samar-samar kemunculan grup band yang kini legendaris, Slank, dengan lagu hit pertama mereka, “Suit Suit He He”. Saking terkagum-kagumnya dengan lagu itu, aku dan adikku sampai menulis surat untuk kakak kami yang paling tua yang baru saja masuk kuliah, surat pertama kami untuk anggota keluarga sendiri, dan kami berdua sampai mencantumkan judul lagu Slank itu di bagian akhir surat. Entah untuk tujuan apa, konyol juga rasanya bila diingat sekarang.

Siapa juga yang bisa lupa dengan grup rock asal negeri jiran, Search, dengan hit fenomenal, ”Isabella”? Lagu yang sempat dilarang peredarannya di negeri kita dengan alasan agama. Masih bisa kuingat bagaimana seorang teman sekelas di sekolah dasar, seorang anak perempuan yang tiap kali pelajaran kesenian ketika kami disuruh maju satu demi satu untuk menyanyi, dia akan menyanyikan ”Isabella” dengan penuh penghayatan hingga bercucuran air mata. Sesuatu yang bukan hanya bisa dilakukan oleh Kellie Pickler seorang.

Bagaimana dengan aku sendiri? Malu rasanya bila kini mengingat masa itu, repertoire andalanku ketika giliran menyanyi di depan kelas tiba, adalah lagu-lagunya Julius Sitanggang, mulai dari ”Danau Toba” hingga ”Maria”.

Ada sisi positif juga bertumbuh-kembang di dalam keluarga yang sangat menyukai musik. Keuntungan paling gampang adalah, bisa mendukung pekerjaanku sekarang. Tanpa bermaksud tepuk dada tanya selera (seperti rumah makan padang), aku jadi bisa tahu banyak lagu lintas generasi melebihi yang diketahui oleh atasanku. Bahkan pengetahuan tentang lagu-lagu dan artis-artis musisi yang kumiliki lebih ekstensif daripada petugas talent koordinator kantorku. Terkadang, dia malah jadi repot mencari contact person musisi yang dia belum pernah dengar karena aku yang minta untuk mendukung konsep acara rancanganku. Demikian juga ketika sedang menikmati masa-masa bersantai bersama Dia, entah itu di lounge maupun di nightclub tertentu. Acapkali Dia terkejut dan kagum karena aku tahu lagu apa yang sedang diputar di P.A. atau dimainkan langsung oleh penampil saat itu.

Dan karena selalu ada dua sisi dari setiap cerita, maka tentu saja ada sisi (agak) negatif dari hal ini. Salah satunya yang sempat membuatku malu, adalah ketika jajaran senior management dan direksi salah satu bank terbesar di Indonesia, atas usulan asal-asalan atasanku, memintaku menyanyikan satu-dua bagian dari lagu Dewi Perssik yang rencananya akan mereka jadikan main entertainer dalam acara mereka. Meskipun aku tahu persis lagu apa yang mereka ingin dengar, tapi tidak mungkin rasanya aku memenuhi permintaan yang satu itu. Alhasil saat itu suasana berubah menjadi sangat tidak enak dan kikuk sekali bagiku, ketika para bos itu menatapku menungguku bersuara dan berdendang, sedangkan saat itu dengan ketetapan hati kuputuskan tak akan ada kekuatan apapun di muka bumi ini yang bisa memaksa aku saat itu membuka mulut dan menyanyikan bait demi bait “Mimpi Manis”.

Hidup di dunia bisa jadi belum lengkap tanpa bisa menikmati musik. Namun ternyata, sebagaimana yang dibuktikan sendiri olehku, punya kemampuan yang relatif lebih dalam mengapresiasi musik tidak selamanya berbuah manis. Tapi apakah karena hal itu lantas membuatku kapok dan berhenti mendengarkan musik dan lagu? Jawabannya sudah pasti : tidak mungkin.

Karena bagiku, hidup tanpa musik bagaikan perkawinan tanpa seks.

Thursday, October 23, 2008

Writers Association, for Real


Reality shows may not have the kind of scripts used in conventional TV dramas and comedies, but they do have scripts that plot stories, suggest dialogue, and indicate how the final cut should be framed. Increasingly, those responsible for formulating those scripts in USA’s television businesses are demanding the benefits of the already established TV writers, who formed union under Writers Guild of America.

Well, that’s in the U.S. How about here, in Indonesia?

Jangankan untuk penulis skrip TV program, untuk mewakili SELURUH pekerja industri kreatif di negeri ini saja tidak ada union-nya. Tidak ada organisasi profesi yang mewakili dan menyuarakan hak-hak pekerja industri ini. Cukup memprihatinkan.
Mungkin gara-gara zaman dulu, katanya, Partai Komunis Indonesia mempergunakan berbagai organisasi dan serikat profesi sebagai onderbow pendukung gerakan partai, jadilah sampai beberapa tahun lalu, masih banyak saja yang alergi atau minimal mencurigai, pada upaya-upaya dari sementara pihak yang ingin membentuk serikat pekerja (apapun).
Sekedar gambaran saja, kalau di era Orde Baru dulu, sosok macam Muchtar Pakpahan dan Budiman Sudjatmiko yang aktif memberikan pendidikan organisasi kepada para buruh itulah yang dianggap sebagai simbolisasi bangkitnya kembali kekuatan komunisme di negeri ini (yeah, right! *rolling eyes*).
Lalu bagaimana dengan sekarang? Ternyata mereka sudah berhasil menduduki kursi wakil rakyat di Senayan sana.

Sebagai seorang yang pernah meniti karir di dunia pertelevisian Indonesia, jelas hal-hal semacam ini menjadi perhatianku. Meskipun kini tidak lagi mencari nafkah di dunia tersebut, tapi aku masih punya banyak kenalan yang bertanggung-jawab dalam menciptakan dan memproduksi berbagai program siaran yang menghiasi layar kaca ratusan juta unit televisi negeri ini.
Terkadang kalau bertemu mereka dalam berbagai kesempatan berbeda, biasanya yang sering terucap dari mulut teman-temanku ini adalah berbagai keluhan mengenai pekerjaannya. Yang terlalu menyita waktu lah, yang menguras fisik dan stamina lah, yang bikin stress karena dikejar target rating lah, yang gajinya terasa ga pernah mencukupi lah, dan masih banyak alasan lainnya.

Aku juga punya keluhan sendiri dengan pekerjaanku yang sekarang, tapi setiapkali mendengar curhatan teman-temanku ini, deep down inside aku malah jadi berucap syukur. Masih diingatkan bahwa apa yang kudapatkan sekarang, meski terkadang kurasa tidak memadai, ternyata masih lebih daripada teman-temanku yang lain.

Padahal mulai tahun ini, pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah meminta secara khusus dukungan dari jajaran pembantunya, semacam menteri-menteri dan departemen terkait, untuk mendukung pertumbuhan industri kreatif Indonesia, yang katanya, dan memang ada betulnya juga, sangat potensial sebagai alternatif dalam meningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Tampaknya Bapak kita ini “termakan” dengan fenomena kesuksesan film Ayat-Ayat Cinta, yang katanya secara hitung-hitungan bisnis minimal sudah sekian belas kali melewati BEP-nya.

Namun agak sukar rasanya membayangkan pertumbuhan industri kreatif dengan tingkat yang menggiurkan akan terjadi – dan kalaupun betul kejadian, akan berlangsung secara kontinyu – tanpa adanya keterwakilan dalam bentuk organisasi profesi, seperti pada profesi-profesi lainnya (masa buruh pabrik saja punya asosiasi?).

But for this time being, sepertinya para pekerja industri kreatif (terpaksa) harus berpuas diri dulu untuk terus (dipacu) berkarya demi mengejar Rupiah (bonus kalau target rating terlampaui), demi bisa bertahan hidup (dan berbelanja di mall kelas menengah-atas). Dan mudah-mudahan saja kondisi tanpa keterwakilan ini tidak bertahan lama.
Kabar-kabarnya sih, di Senayan sana sedang ada upaya pembentukan organisasi profesi bagi para pelaku industri kreatif yang dilindungi oleh Undang-undang.

Semoga saja tidak jadi organisasi macan ompong. Karena yang begitu itu sih sudah banyak.

Tuesday, October 14, 2008

Tapi, ... Tipu !


Jaman dahulu kala, bahkan ketika angka tahun masih ribuan tahun lamanya sebelum Masehi, berdasarkan catatan dalam kitab suci agama-agama Abrahamic, tersebutlah kisah tentang seorang perempuan, istri dari seorang pejabat di kerajaan Mesir, yang memfitnah seorang lelaki gagah nan ganteng yang menolak untuk menghampirinya (bahasa halus untuk tidur bersama / melakukan hubungan badan). Perempuan yang katanya memiliki kecantikan jasmaniah itu ternyata tidak terima “suguhan gula-gulanya” diemohi oleh this hunk, formerly known as her husband’s slave. Merasa terhina dengan penolakan tersebut, dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya, dia melakukan pembalasan nan keji, dengan melaporkan kepada suaminya apa yang menurut dia telah dicoba dilakukan oleh si lelaki: pemerkosaan. Tak perlulah kusebutkan nama sesiapapun di sini, Anda pasti bisa dengan mudah menebak orangnya.

Mari kita fast forward ke sekian millennium kemudian.
What was supposed to be one of the oldest trick in the book(s) – in this case, the books referred to are Torah, Bible and Koran – yaitu pernyataan / kesaksian palsu (alias fitnah) ternyata masih lazim dipraktekkan dalam kehidupan nyata untuk merusak reputasi dan menjatuhkan seseorang, meskipun bisa jadi dengan maksud dan alasan yang berbeda jauh dari contoh di atas. Terkadang, pernyataan palsu ini menimbulkan akibat yang begitu mengerikan, seperti pembantaian massal di Rosewood dan penyerangan pasukan Sekutu pimpinan Amerika Serikat atas Irak.

Apabila kemudian kita mencoba membahas dampak negatif perbuatan hina ini dari sudut pandang ketidaknyataan, alias fiktif, salah satu contoh yang harus disebutkan adalah To Kill a Mockingbird, ketika desakan mayoritas penduduk Maycomb, Alabama, membuat seorang lelaki Afro-Amerika yang dituduh memperkosa seorang gadis kulit putih terpaksa menemui ajal.

Dalam tataran fiktif terkait konteks geografis Indonesia, ada kisah tentang Titian Serambut Dibelah Tujuh, sebuah film klasik dari tahun 1959 karya sutradara Asrul Sani yang di-remake oleh Chaerul Umam di tahun 1982.
Dikisahkan, seorang guru muda yang berupaya mengubah cara berpikir dan sistem pendidikan yang masih kolot (i.e. sangat menekankan aspek agamis) di sebuah desa yang sangat kuat akar keagamaannya, mendapat tentangan sangat kuat dari kalangan yang lebih mapan dan diuntungkan oleh kondisi status quo desa tersebut, salah satunya adalah istri dari si guru tua. Berbagai cara dilakukan untuk menyingkirkan si guru muda, termasuk dengan intrik-intrik keji, yaitu memfitnah si guru muda melakukan perundungan seksual terhadap seorang perempuan. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah si guru muda mencoba memberikan bantuan nafas buatan (CPR) setelah menyelamatkan si perempuan yang nyaris tenggelam. Alhasil, penduduk desa ramai-ramai memusuhi si guru muda dan memintanya angkat kaki dari desa mereka tersebut.

Kita coba fast forward lagi ke sekian dekade kemudian.
Dalam sinetron Cinta Maia yang saat artikel ini ditulis masih ditayangkan di jam prime time salah satu stasiun televisi swasta nasional, dikisahkan seorang perempuan culas yang rela melakukan apa saja agar bisa merebut hati seorang lelaki muda, kaya-raya dan naรฏf (clichรฉ!), berpura-pura tenggelam agar diselamatkan oleh si lelaki muda, kaya-raya, naรฏf, DAN pemberani serta jago renang.
Dikarenakan suatu kebetulan yang sangat amat kebetulan sekali, si gadis cantik, baik hati, jujur, pemaaf dan tertindas serta menderita (another clichรฉ, which obviously translated as the protagonist-main role-titular character) yang menaruh hati pada si lelaki, menyaksikan kejadian penyelamatan itu. Dan sesuai harapan si perempuan culas (dan produser, sutradara serta penulis scenario), si gadis cantik lantas mempersepsikan apa yang dilihatnya persis seperti yang dirancang-harapkan oleh sih perempuan culas. Si gadis cantik yang predikatnya harus ditambah dengan ‘bodoh’ itu kemudian menganggap bahwa lelaki muda pujaan hatinya itu bermain air (karena jelas-jelas nyemplung ke kolam renang) dengan perempuan lain. Itu artinya, tipu-tipu si perempuan culas, berhasil gemilang !

Ternyata, ribuan tahun setelah bangsa Israel melepaskan diri dari penjajahan Firaun di tanah Mesir, tipu-muslihat dan fitnah dengan bumbu seks, masih saja menjadi trik yang manjur bin mustajab diterapkan untuk merusak reputasi seseorang (atau subjek plural lain).

Manusia memang paling susah belajar dari pengalaman (dan sejarah).




Bagi para pembaca kritis yang benar-benar mengenal sosok penulis, pasti akan bertanya-tanya, apa yang tidak sedang kulakukan sehingga bisa-bisanya malah membuang waktu dengan menonton sinetron ga penting.

Friday, October 10, 2008

Nobel Peace Prize Winners, Made in Indonesia


Petang itu baru saja aku signed out dari akun surat elektronik Yahoo! –ku, yang akan secara otomatis mengembalikan pengguna ke halaman muka situs Yahoo!, ketika pandanganku tertumbuk pada laman terbarunya yang mencantumkan headline berikut : “Nobel Peace Prize Winner has been announced”. Foto yang menyertai headline itu memperlihatkan seorang pria Kaukasia tua. Unrecognizable. Karena penasaran, segera kuklik link-nya.

Aku diarahkan ke satu laman artikel yang dengan cepat kubaca. Artikel tersebut memberitakan, bahwa baru beberapa jam sebelumnya, Komite Nobel Norwegia mengumumkan siapa sosok peraih penghargaan Nobel Perdamaian untuk tahun ini.

Namanya, Martti Ahtisaari, mantan Presiden Finlandia.
Salah satu alasan Komite memilih Bapak Ahtisaari sebagai pemenang, adalah karena kerja keras beliau yang hasilnya sangat memuaskan dalam mewujudkan kesepakatan perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka dengan pemerintah RI, yang dinilai berhasil dan sukses mengakhiri konflik senjata yang telah berlangsung selama lebih dari tiga dekade.

Selamat untuk Bapak Ahtisaari.

Namun seharusnya, penghargaan bagi Bapak Ahtisaari ini lebih dipandang sebagai tamparan telak bagi bangsa kita. Karena ini menjadi kali kedua nama Indonesia kembali disebut oleh Komite Nobel sebagai alasan yang mendasari penganugerahan penghargaan paling prestisius ini, dan keduanya untuk alasan yang tidak mengenakkan. Baru 12 tahun sebelumnya, Uskup Timor-Timur (dulu) Carlos Felipe Ximenes Belo dan tokoh Fretilin, Josรฉ Ramos Horta, diumumkan sebagai peraih penghargaan serupa atas upaya-upaya mereka untuk mewujudkan perdamaian di daerah Timor-Timur (sekarang Timor Leste) yang terus bergejolak.

Itu artinya, dalam dua kali kesempatan penghargaan yang berselisih duabelas tahun ini, nama Indonesia disebutkan dalam konteks cenderung negatif dan tidak pantas dibanggakan oleh Komite Nobel. Adalah militer Indonesia yang brutal dan opresif lah yang menjadi “tokoh antagonis” dan penyebab utama ketiga tokoh di atas meraih Nobel Perdamaian.

Andai saja Bapak Pramoedya Ananta Toer yang kabarnya berulang-kali masuk bursa nominasi penghargaan betul-betul berhasil meraih Nobel Sastra sebelum akhirnya dijemput ajal, lengkaplah sudah wajah bengis keantagonisan militer Indonesia. Bagi para penikmat karya-karya Bapak Pram, demikian beliau biasa dipanggil di masa hidupnya, tentu mengerti betul alasannya.

Dan jika saja pemerintah Republik ini, atau elemen-elemen tertentu yang terkait dan memang relatif memiliki power, terus saja melakukan ketidakadilan dan kekerasan di negara ini, bisa jadi di masa yang akan datang kembali lahir peraih penghargaan Nobel berikutnya, made in Indonesia.

Friday, September 26, 2008

Bapak Presiden Yth.,


Aktris dan presenter Rieke Dyah Pitaloka, yang minggu ini aktingnya bisa dilihat dalam film ”Laskar Pelangi” yang baru saja ditayangkan perdana kemarin (25 September 2008), dipanggil oleh penyidik Mabes Polri, juga kemarin. Didampingi oleh pengacaranya, Rieke diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi terkait insiden demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM pertengahan tahun ini yang berakhir anarkhis di seputaran Semanggi.

Seusai diperiksa, masih dengan didampingi pengacaranya, Rieke yang dirubung oleh para kuli tinta memberikan penjelasan alasan mengapa dia ikut turun ke jalan dan berdemonstrasi:

“Saya rasa kita ga butuh pemimpin yang hanya menangis ketika menonton Ayat-Ayat Cinta.”




This is verbatim of the week. Take note, SBY-JK !

Friday, August 8, 2008

Memanjat Pinang di Beijing


Bulan Agustus setiap tahun tentunya selalu terasa istimewa bagi begitu banyak orang di Indonesia. Disebut “begitu banyak”, karena memang kita tidak bisa mengklaim SEMUA.
Sebab sebagaimana mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di masa-masa sekolahan dulu menginformasikan bahwa, belum tentu individu yang menjadi penduduk Indonesia adalah warga negara (here enters that kaleng-krupuk-acting-quality of the so-called actor, Miller, and that one-hit-wonder, Maribeth).

Pertanyaannya sekarang, mengapa bulan ke-8 ini disebut istimewa? Apakah karena angka 8 disebut-sebut sebagai angka pembawa keberuntungan, khususnya bagi etnis Tionghoa? Belum tentu juga, meskipun bisa jadi demikian adanya.

Bulan Agustus, seperti yang umumnya diketahui oleh Dear Devoted Readers, adalah bulan di mana lomba panjat pinang menjadi sangat penting. Entah sejak kapan, siapa pencetusnya, dan bagaimana lomba panjat pinang ini bermula, yang jelas sekarang ini memanjat batang pinang yang dilumuri benda-benda licin – biasanya oli – menjadi semacam agenda wajib Agustusan. Tentu saja dalam rangka merayakan hari jadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang tahun 2008 ini resmi berusia 63 warsa. Masih banyak lomba-lomba lain yang biasanya dikaitkan dengan perayaan kemerdekaan ini, yang penting sifat perlombaan tersebut haruslah meriah dan bisa melibatkan partisipasi sebanyak mungkin orang, tapi rasanya yang paling identik dengan perlombaan tujuhbelasagustusan, ya lomba panjat pinang ini.

Di kampung sekitar kantorku, lomba Agustusan dijadikan justifikasi untuk menutup jalan dan – percaya ga percaya – berjudi. Memanfaatkan jalan umum dengan menutup seluruh aksesnya, karena saking tidak adanya lahan untuk dijadikan venue lomba, dilakukan sebagai solusi bagi pelaksanaan beberapa pertandingan antarwarga masyarakat kampung sini. Jalan umum dijadikan venue berbagai pertandingan, mulai dari venue buat lomba balap karung dan bakiak di pagi hari sampai untuk menggelar meja pingpong di malam hari.
Buat pengguna jalan yang hanya berstatus numpang lewat, misalnya kami para buruh kerah putih yang kantornya kebetulan selama puluhan tahun sudah menempati satu bidang lahan khusus di kampung sini, terpaksa harus berkorban perasaan. Mencari jalan memutar agar mobil dan motor yang dikendarai bisa masuk ke halaman kantor.

Atau dalam kasus khusus seperti diriku yang setia berjalan kaki ke kantor, selama dua tahun lebih sudah memperbabukan diri di pabrik kreativitas ini, terpaksa harus menebalkan kulit sedikit dan menjadi ”bintang tamu yang tak diundang” di tengah kemeriahan acara perlombaan dengan menjadi model sesat (baca: nyasar) sesaat. Rasanya khusus bagian ini, kurasa tidak perlu dijelaskan panjang lebar. Secara ga relevan juga, betul kan?

Nah, berkaitan dengan bidang bisnis yang digeluti, maka jam kerja di kantorku pun agak elastis, sama seperti di kantor kebanyakan pelaku bisnis kreatif lainnya. Pulang jam 6 sore itu terlalu pagi, jam 9 malam itu biasa. Masuk kerja di akhir pekan? Bukan sesuatu yang tidak wajar.
Kendalanya, penduduk kampung sini kebanyakan adalah orang-orang yang kehidupannya normal-normal saja, dalam artian tipe pegawai negeri sipil maupun pekerja semiformal. Saat sinetron Cinta Laura masih ditayangkan atau acara lomba nyanyi amatiran Indosiar baru mengudara, kebanyakan penduduk kampung sini sudah pada nongkrong di depan TV masing-masing. Biasanya setelah selesai nonton TV, baru acara lomba khusus kaum dewasa dimulai. Tentu saja bukan aktivitas seks yang kumaksud di sini, melainkan pertandingan antarwarga berusia dewasa, misalnya, ya pingpong yang sudah disebutkan tadi.
Atau yang khusus diperuntukkan bagi laki-laki dewasa, pertandingan gaple. Entah spirit kemerdekaan apa yang bisa dikaitkan dengan gaple, namun disinyalir pertandingan gaple ini melibatkan pertaruhan uang di dalamnya. Seperti yang pernah diklaim oleh salah seorang rekan, ”Ga seru, jack, kalo ga pake duit!” Ada semacam keseruan dag-dig-dug apabila ada yang dipertaruhkan. Apalagi jika yang dipertaruhkan itu dianggap memiliki nilai strategis yang sangat penting, misalnya reputasi atau nama baik.

Berkaitan dengan reputasi, bagi pemerintah Republik Rakyat Cina, ini adalah sesuatu hal yang tidak bisa ditawar lagi. Pihak manapun yang dianggap bisa dan akan menggunakan momen Olimpiade Beijing 2008 sebagai ajang untuk protes dan menyuarakan pendapat politiknya terhadap posisi super sensitif pemerintah RRC dalam begitu banyak isu: mulai dari pelanggaran HAM, pelaksanaan hukuman mati, hingga yang lebih kekinian lagi, peran Cina dalam konflik Darfur dan penumpasan aksi prodemokrasi di Tibet, tidak akan ditoleransi dan tentunya akan menghadapi resiko berat.
Atau setidaknya khawatir akan terkena resiko tertentu, sebagaimana yang dikhawatirkan oleh atlet-atlet Jerman, mengingat bahwa International Olympic Committee dalam Pasal 51 pun sudah dengan tegas mengatur tentang hal ini.
Meskipun tidak mengaitkannya dengan Pasal 51 tersebut, Beijing sudah menunjukkan ketegasan sikapnya yang tidak bisa ditawar-tawar lagi hanya dalam hitungan hari sebelum dimulainya Olimpiade Beijing, ketika Joey Cheek, atlet, dicabut visanya hanya beberapa jam sebelum ia bertolak ke Beijing. Meskipun keberadaannya di Beijing bukanlah untuk berkompetisi, karena Cheek adalah atlet speedskating – salah satu cabang pertandingan olimpiade musim dingin – melainkan untuk meningkatkan awareness terhadap isu Darfur, maka pemerintah Cina tidak perlu khawatir citranya akan tercoreng terkait kasus Joey Cheek ini.

Bagaimana dengan posisi atlet-atlet Indonesia sendiri? Tampaknya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari mereka. Atlet-atlet kita tentunya tidak akan mengusik-usik pemerintah RRC terkait isu apapun, mengingat bahwa tekanan untuk membawa pulang medali sudah jauh lebih besar. Harapan ratusan juta penduduk negeri ini mesti ditanggung saat memasuki arena pertandingan untuk berlaga. Pastinya berat sekali beban ini. Untuk itu, dukungan moril dalam bentuk apapun, mudah-mudahan bermanfaat.
Siapa sih yang tidak ingin menyaksikan kembali kejayaan anak bangsa di ajang olahraga paling bergengsi di muka bumi? Siapa yang tidak ingin merasakan lagi kebanggaan yang membubung tinggi saat melihat atlet Indonesia berhasil meraih medali emas Olimpiade?


Aku tidak bisa melupakan ekspresi haru di wajah Susi Susanti ketika ia berhasil meraih medali emas pertama dalam sejarah keikutsertaan Indonesia di ajang Olimpiade. Saat itu, aku yakin, ratusan juta rakyat Indonesia tentunya berbagi rasa bangga yang sama ketika mendengarkan lagu “Indonesia Raya” dikumandangkan di Barcelona.

Semoga saja, di Olimpiade Beijing 2008 yang akan resmi dimulai tepat pukul 8 malam waktu setempat nanti, atlet-atlet Indonesia akan kembali berjaya mendulang medali sekaligus menorehkan prestasi gemilang di cabang olahraga manapun yang mereka ikuti.

Selamat bertanding atlet-atlet Indonesia!

Monday, July 28, 2008

"Semuuwa Menjeeeeriiiittt ... !!"


Membicarakan film-film horor Indonesia masa kini tentu harus beda perspektifnya dengan produksi sebelum dekade 1990-an. Dari sisi teknik produksi sinema, masa kini sudah tentu (dan memang seharusnya) jauh lebih canggih. Jadi hantu-hantu yang eksis di layar lebar harusnya juga lebih canggih dan lebih happening lagi dalam menampilkan diri. Tidak lagi mempergunakan teknik ”ting!” lalu hantu menghilang.
Ini trik yang lazim dipakai di film-film nasional waktu masih ada Departemen Penerangan. Biasanya sih aku menyebutnya trik Jinny oh Jinny, mengutip judul sinetron komedi yang dibintangi Sahrul Gunawan dan Diana Pungky yang berperan sebagai Jinny, sesosok jin perempuan pinpinbo (pinter-pinter bodoh) yang hidup di dalam cangkang kerang extra large, yang dalam sepakterjangnya selalu dan always pakai teknik on-off cam buat memunculkan atau menghilangkan barang maupun orang (disertai sound effect "ting!") dalam setiap episode serial ini.
Meskipun tentu saja, penyebutan ini tidak tepat karena teknik efek spesial cara ini telah dipergunakan sejak lamaaa sebelumnya. Bisa jadi malahan sudah dilakukan sejak dalam film Loetoeng Kasaroeng kali ya?

Kembali ke perbincangan seputar era kebangkitan kembali film Indonesia dari liang lahat – untungnya itu liang belum ditimbun jadi masih lebih mudah keluarnya daripada harus susah payah gali-gali sendiri, makin horor deh jadinya! – yang katanya ditandai dengan suksesnya film Petualangan Sherina, ada satu film lain yang kala itu kehadirannya cukup menghentak dunia hiburan negeri ini. Judulnya pun cukup memancing rasa ingin tahu dan kehororan: Jelangkung.
Yang jelas, happening banget deh pokoknya film Jelangkung ini, sampai ada urban legend yang katanya film ini memang beneran ada hantunya (kaya masa kini beli hape dibundel kartu perdana, nah ini film dibundel sama setannya), atau yang terpaksa disensor ulang lah karena terlalu seram sampai bikin orang kerasukan saat nonton, atau isunya bahkan ada satu baris dalam tiap gedung bioskop yang harus dikosongkan setiap pemutaran sebagai ”syarat” dari alam ghaib. Yang terakhir ini malah dijadikan premis untuk membuat sekuelnya, Jelangkung 3. Tapi film yang disebut terakhir ini paling kacau deh, katro abis. Belum lagi dialognya yang bikin ketawa ngakak, masa dua orang anak yang tinggal di rumah mewah dengan pembantu segala sampai bertengkar gara-gara rebutan Pop Mie! (Penting banget yak?!)


Nah, salah satu yang paling diingat dari film Jelangkung besutan Jose Poernomo dan Rizal Mantovani ini adalah diorbitkannya salah satu karakter utama film horor ini ke level legendary superstardom.
Halah! Tentu saja bukan karakter Roni Dozer yang tipikal gendud-bodoh atau Harry Panca yang sok jagoan-reckless-stupid, atau siapalah nama perempuan itu yang teriak-teriak ga penting melulu (minta ditampol!), dan juga bukan Winky Wiryawan yang takut-panik tetap manis-manis jambu air.
Yang paling happening dari film ini justru sosok Suster Ngesot yang entah mengapa tampilannya begitu mengerikan. Padahal kan dia ngesot-ngesot doang ya. Tendang aja kalo mendekat terus kabuuur! Sprint 3 menit juga kayanya sudah cukup, itu suster pasti udah ketinggalan jauh di belakang. Kan dia pasti capek ngesot-ngesot kesana-kemari. By the way sekedar trivia, sosok suster ngesot yang seram di film Jelangkung itu kan sebenarnya diperankan oleh seorang lelaki bernama Arief (Yap! Aku tahu pasti karena waktu itu mantengin sampai credit title saking penasarannya). Nah, jadi ga serem lagi kan pas udah tahu? He! He!
Lalu waktu itu lihat episode perdana Extravaganza yang sketsa terakhirnya ada suster ngesot diperankan oleh Aming, malah si suster tampil kocak dan lucu banget. Masa ngesot dari Terminal Kampung Rambutan sampai Studio 1 Trans TV di Tendean? Ga lecet-lecet dan berdarah-darah tuh bokong sampai betis? (sebagai catatan, kalau naik bis aja waktu tempuhnya bisa satu jam lebih lho! Bayangin aja kalo ngesot ...)
Terus waktu aku lihat episode perdana sinetron cupu Di Sini Ada Setan, eh kok ya hantunya suster ngesot lagi sih? Malah ceritanya di situ mengapa sampai ada suster yang ngesot-ngesot makin ga penting. Demikian seterusnya.

Bahkan kini, hampir satu dekade sejak dirilisnya film Jelangkung, sosok suster ngesot masih saja dieksploitasi. Ga ngerasa bosan apa ya? Segala macam alasan udah dipakai untuk menjustifikasi mengapa sampai tercipta aktivitas ngesot tersebut. Mostly karena seks. Dasar orang-orang Indonesia pikirannya kinky juga. Ternyata banyak yang memiliki fetish terhadap petugas-petugas berseragam.
Nah, sepanjang ingatanku, terakhir ya dengan dirilisnya dalam waktu hampir berdekatan, film Suster Ngesot yang dibintangi oleh Nia Ramadhani dan Suster N: Legenda Suster Ngesot yang antara lain dibintangi Wulan Guritno.
Parahnya waktu itu masih ingat banget, ketika aku bersama Ralph dan Bradley mau nonton 28 Weeks Later di Plaza Senayan, saat sedang berjalan menuju studio tempat akan diputarnya film tersebut, tiba-tiba di tengah-tengah jalan, kami sedikit terhadang kehebohan. Seorang perempuan menangis sesenggukan dengan histeris, dan seorang lelaki yang diduga kuat pacarnya sedang berusaha menenangkan dan membujuk perempuan tersebut. Sementara itu beberapa petugas PS XXI tampak bingung berdiri membego di seputar pasangan tersebut. Brad yang memang hobi gosip dan suka mau tau langsung mengorek-ngorek informasi kepada salah satu satpam yang berada di seputaran tempat kejadian perkara dan diduga mengetahui secara pasti kejadian ini. Ternyata oh ternyata, oleh pihak rumah produksi film itu, biar happening mereka mempergunakan talent suster bohongan dengan make-up putih a la hantu-hantuan buat ngesot dan ngagetin penonton yang sedang menonton film tersebut. Entah cara ini bisa dikatakan terlalu sukses atau malah gagal total – judging from what we saw – yang jelas ada kehebohan besar yang diakibatkannya.
My deepest sympathy to the couple. If I were them, pasti langsung bikin tuntutan dan memperkarakan ke meja hijau. Biar tahu rasa itu yang punya ide bikin suster-susteran ngesot dalam ruangan studio saat pemutaran film. Ide bodoh!

Sama seperti masih bodoh aja – setidaknya menurutku – kalau bikin film horror dengan sosok Suster Ngesot sebagai main horror talent-nya. Blah! Sooo last decade aja gitu! Itu karakter sudah habis dieksploitasi, kalau misalnya dianalogikan dengan sumur minyak ya sudah seharusnya diisi dengan air panas lalu ditutup dan ditinggalkan.
Nah, ini juga kejadian yang kurang lebih sama dengan tokoh pocong; mau pakai embel-embel angka 2 kek, 3 lah, 40 kek atau ditaliin sekalipun, ya tetap aja penampilannya guling pake muka kusut (jadi inget salah satu adegan di film Pocong 2 yang sebenarnya sudah ketebak banget what would happened next). Tapi emang betul sih, muka seram mah memang sudah jadi modal dasar buat jadi setan sukses. Makin rusak dan menjijikkan, makin eksis!


Tapi kalau kita melongok ke belakang, salah satu wujud karakter setan tersukses – dan paling legendaris – dalam sejarah panjang sinema Indonesia, kok ternyata wajahnya tidak ada rusak-rusaknya sama sekali ya? Justru malahan mulus putih (banget!) berkat perawatan teratur (yang mungkin) bak putri keraton. Dan ternyata saking iconic-nya karakter setan ini, tidak ada satu pun aktris – sejak tahun 1980an hingga saat ini – yang mampu mendekati – apalagi menyamai – keseraman akting aktris pemeran karakter hantu tersebut.
Sebagai catatan khusus, berkat salah satu adegan yang diperaninya jugalah, ia berhasil merevolusi cara pandang masyarakat Indonesia terhadap sate, hingga saat ini.

Hayo, buat yang baca dan emang suka film-film nasional, terutama yang lahir sebelum tahun 1990-an, tentu pada tahu dong hantu mana yang kumaksudkan di sini?
Ga perlu sampai penasaran (awas hati-hati nanti jadi arwah P...), karena potongan klip video berikut ini menampilkan jawabannya! Selamat menyaksikan ...




Jayalah Sinema (Horor) Indonesia!

Tuesday, May 27, 2008

Apa Lagi Yang Kau Cari, Samantha?


Akhirnya Kuntilanak 3 datang juga menghampiri para pemirsa (setianya, eh?!).

Diklaim sebagai sekuel pamungkas dari kisah para pemuja kekuatan gelap dan pemelihara arwah perempuan yang mati penasaran ini, Kuntilanak 3 berhasil menakut-nakuti penonton dengan pakem khas film horor.

Benarkah demikian?
Silahkan Anda menilainya sendiri.



Film ini dibuka dengan adegan Stella (diperankan oleh Paramitha Rusady yang terlihat tetap cantik semlohei dan awet muda dengan terapi suntik botox, ehm ..., maksudnya Laudya Cinthya Bella yang entah mengapa di dalam film ini memang terlihat dan terdengar sangat mirip Mitha) bercengkerama mesra dengan tunangannya (yang bahkan di situs 21cineplex tidak mendapat credit) sembari duduk berpelukan erat di depan cahaya api unggun yang berkelebat dalam hutan lebat di tengah kegelapan rimba yang begitu pekat (rhymes! tapi untungnya tidak sedang bertelanjang bulat *wink!*).
Hanya perlu melihat beberapa detik pertama dari opening scene tersebut, penonton film horor pintar (maksud sebenarnya, penontonnya yang pintar) pasti sudah langsung tahu kalau Stella akan mati secara gory bahkan sebelum opening credit muncul.

Cara menebaknya sebenarnya cukup mudah.
Di tengah hutan lebat di daerah antah-berantah alias no man’s land di tengah malam buta yang sangat dingin (diasumsikan demikian karena si pemeran pria memakai kaos dalam, kemeja, vest DAN jaket SEKALIGUS), Stella yang selalu tersenyum manis manja group mengenakan baju terbuka dengan belahan dada terlalu rendah sehingga memamerkan (jadi bukan sekedar memperlihatkan, lho, dicatet!) cleavage-nya yang tampak begitu menggoda. Tapi ternyata tidak cukup hanya dengan tampil seksi like such biatch, Stella JUGA BERANI MELAKUKAN "tipikal kesalahan fatal yang sudah begitu klisenya karena dilakukan oleh karakter-karakter yang ditakdirkan mati mengerikan dalam film-film horor", yaitu dengan bercanda tentang nasib buruk dan kematian. Di depan tunangannya sendiri (dan seluruh pemirsa), Stella berpura-pura diserang oleh sosok tak terlihat yang mencekiknya sampai sesak napas. Detik itu juga kita mengetahui alamat nasib buruk yang mengerikan sudah pasti menanti dirinya.
Pertanyaannya bukan lagi ”mengapa Stella?”, tapi ”kapan dan bagaimana?”. Penonton ternyata memang tidak perlu menunggu terlalu lama ...

Dan tentu saja tidak perlu intelijensia tinggi untuk mencerna alur cerita film yang berdurasi kurang lebih 2 jam lebih sedikit ini. Anda cuma perlu duduk manis dan siap-siaplah untuk dikagetkan – atau lebih ekstrem lagi, sampai menjerit kencang sambil menutup mata! seperti yang dilakukan oleh teman menonton saya. Biar tidak terlalu gengsi karena dianggap penakut, tunggulah cue dari ilustrasi musik garapan Andi Rianto, yang dijamin akan sangat memudahkan para penonton untuk menebak, ”Ayo siap-siap, setannya mau keluar lagi nih!”. Lalu dengan patuhnya si setan perempuan muncul ... duengg ! *kyaa!*

Tapi kalau polanya begitu terus sepanjang film, berputar-putar tanpa logika yang jelas – kecuali untuk satu hal, bahwa jelas-jelas semua tokoh yang berseliweran berebut screen time sambil melakukan / mengatakan hal-hal bodoh (please lihat lagi sample lain untuk "tipikal kesalahan fatal yang sudah begitu klisenya karena dilakukan oleh karakter-karakter yang ditakdirkan mati mengerikan dalam film-film horor") satu-persatu akan menemui ajal secara mengerikan demi memuaskan nafsu para penontonnya akan muncratan darah atau nafsu untuk ditakut-takuti – lama-kelamaan pasti capek juga melihatnya.


Yang kemudian justru menjadi tantangan menarik bagi penonton, setidaknya bagi saya sendiri lah!, adalah untuk menerka-nerka siapa dari keempat anak muda metropolis tersebut yang akan mati duluan, kapan kejadiannya dan bagaimana atau se-gory apa adegan pencabutan nyawa mereka, dan siapa yang akan menyusul mati berikutnya di tengah pekatnya selimut misteri hutan kelam Ujung Sedo. Setidaknya bagiku, sudah ga penting lagi apakah mereka akan berhasil menemukan mayat kedua sahabat mereka yang telah hilang duluan di dalam hutan, atau setidaknya bisa apakah mereka bisa melacak jejak bekas pipis atau pup si Stella dan tunangannya yang bodoh itu (ya iyalah! di dalam hutan seperti itu kan ga ada jamban!).

Dan begitu penonton berhenti mengkhawatirkan takdir mengerikan apa yang mengintai keempat sahabat dari balik rimbunnya pepohonan, rasanya tidak ada alasan lagi untuk juga peduli pada apa lagi yang bakal dialami Samantha (diperankan kembali untuk ketiga kalinya oleh Julie Estelle). Kalau dia bisa menemukan jalannya sendiri menuju hutan Ujung Sedo, dan kalau dia bisa menemukan gua menyeramkan itu hanya dengan mengandalkan intuisi, rasanya akan lebih baik kalau saja Samantha meninggalkan keempat sahabat tersebut dan tidak melibatkan mereka dalam petualangan yang sejak awal sudah kental bau darah ini. Toh begitu dia berhasil melepaskan diri dari keresehan dan kebodohan keempat sahabat itu, Samantha bisa dengan cepatnya menemukan dan lantas berhadapan langsung dengan sumber dari segala sumber rangkaian malapetaka yang bertubi-tubi menimpa dirinya tersebut, which happened in one of the technically best horror scenes ever graced Indonesian cinema.


However, kudos pantas diberikan untuk aspek-aspek teknis Kuntilanak 3 yang sangat berhasil membangun atmosfer ketegangan yang menakutkan, khususnya di beberapa adegan horor klimaks yang kelas dan kualitasnya jelas-jelas sekian tingkat di atas beberapa rilisan film horor Indonesia belakangan ini (am pointing at the legendary comeback of The Indonesia Queen of Horror, Suzanna. Such a shameful return, Ma’am).